Angkot oh… Angkot

angkot_1.jpg

Baiklah, hari ini saya cerita lagi, ya. Kali ini tentang angkot, transportasi umum yang sangat mudah ditemukan di daerah perkotaan atau pinggir kota seperti di tempat tinggal saya.

Hari ini, seperti biasa, saya berangkat kerja pukul setengah tujuh pagi. Karena suami masuk pagi, saya pun hanya ikut sampai pertigaan jalan raya untuk melanjutkan perjalanan dengan bus jurusan Depok-Bogor. Sambil menunggu, saya iseng buka Facebook dan melihat status terbaru teman saya yang sama-sama tinggal di Cibinong.

Teman saya bilang, angkot 08 (angkot yang beroperasi di daerah Cibinong-Bogor) mogok. Saya pikir, ah paling hanya angkot saja. Saya, kan, naik bus. Jadilah saya masih dengan sabar menunggu kedatangan bus. Oiya, tepat hari kemarin, saya mendengar kabar, angkot di daerah Bogor Kota juga melakukan aksi mogok.

Setelah cukup lama menunggu, saya baru sadar, kalau tak ada satu pun bus yang lewat. Baik dari arah Depok/Jakarta atau dari arah Bogor. Saya juga menyadari kalau ternyata tidak jauh dari tempat saya berdiri, banyak orang-orang yang sedang menunggu angkutan. Akhirnya saya pun bertanya ke bapak-bapak yang biasa menyetop angkot dan membantu orang menyebrang.

“Wah, bis juga nggak boleh lewat, Neng. Terakhir saya lihat tadi habis shubuh ada yang lewat. Habis itu nggak ada lagi,” ujar si bapak.

Waduh, saya langsung pusing. Saya coba cek aplikasi ojek online. Ternyata nggak bisa. Nggak ada driver. Saya langsung putar otak, mencari cara agar bisa tetap berangkat ke kantor. Sempet kepikiran mau pulang lagi, sih, tapi kok ya ngerasa culun amat. Lagian kayaknya Depok nggak kenapa-kenapa, deh. Jadi, yang penting harus sampai daerah Depok dulu, nih, begitu pikir saya.

Sedang mikir begitu, ada tukang ojek menghampiri kerumunan orang. “Yuk, yang mau ojek, yuk!”

Akhirnya saya putuskan untuk naik ojek sampai fly over Cibinong. Niatnya, saya mau lanjut naik angkot 41 jurusan Depok.

Ketika sampai di fly over, jalanan ramai dengan bus-bus dan angkot yang dipaksa berhenti. Para penumpang (kebanyakan anak sekolah) bertumpuk di pinggir jalan. Mungkin bingung harus naik apa.

Tidak lama turun dari ojek, ada angkot 41 yang menawari saya naik. Naiklah saya bersama seorang perempuan muda (sepertinya hendak bekerja juga). Lalu disusul dengan gerombolan ibu-ibu dari pasar. Baru sebentar jalan, angkot kami diberhentikan oleh sekumpulan orang. Katanya si pak sopir harus berpartisipasi dengan gerakan mogok ini sehingga tidak boleh membawa penumpang. Terpaksa kami pun turun.

Saya yang bingung harus bagaimana, memutuskan untuk lanjut berjalan kaki. Sampai tiba-tiba ada sopir angkot yang menawari saya naik lagi.

“Ayo, Mbak, naik!”

“Nggak mau, ah! Nanti disuruh turun lagi,” jawab saya.

“Enggak Mbak, ayo cepet naik!” seru sopir itu sedikit memaksa. Saya pun akhirnya naik angkot itu karena berpikir, yah, daripada jalan kaki ke Depok. Gila aja kali!

Baru sebentar berjalan, sudah ada orang-orang yang menyetop lagi. Tapi, si sopir dengan berani melajukan angkotnya, tak peduli dengan teriakan-teriakan orang. Bahkan dia mengajak beberapa penumpang naik, hingga angkot tersebut penuh.

“Cepet Bang, jalannya! Itu ada yang ngejar-ngejar tuh pakai kayu!” seru seorang penumpang.

“Tadi gue diikutin orang gara-gara bawa sewa,” ujar seorang sopir 41 yang lain, saat angkot kami berhenti sebentar menaikkan penumpang.

Setelah semua naik, angkot pun melaju kencang di jalan. Jalanan mulai cukup aman ketika berada di daerah Simpangan Depok. Jadi, tadi dari Cibinong, Cilangkap, Cilodong, semua angkutan umum yang masih membawa penumpang diberhentikan dan penumpangnya disuruh turun.

Baiklah, itu saja drama pagi ini. Selebihnya, saya, Alhamdulillah, selamat sampai kantor. Namun, kepala ini isinya masih tentang angkot, angkot, dan angkot.

Sejak kembali lagi dari Kuningan sekitar tujuh tahun silam, hampir ke mana-mana saya menggunakan angkot sebagai transportasi andalan. Dulu, kuliah PP Cibinong-Depok, sehari-hari saya ngangkot hingga tiga kali ganti jurusan angkot. Lumayan jauh soalnya.

Saya sudah kenyang dengan pengalaman berangkot ria, dan percayalah, itu bukan pengalaman yang menyenangkan.

Tidak jarang, sopir angkot mengemudikan mobilnya dengan ugal-ugalan. Ngebut nggak kira-kira terus ngerem mendadak. Sering juga berjalan leletnya seperti siput, padahal di dalam, penumpang nggak sepi-sepi amat. Belum lagi kalau ngetem, aduh, habis waktu buat kegiatan yang satu itu. Intinya, naik angkot itu ngeselin.

Waktu saya kecil, angkot nggak gitu-gitu amat. Mengingat waktu SD saya juga PP naik angkot setiap hari. Nah, tahu-tahu ketika saya balik lagi, tingkah angkot kok makin menyebalkan, ya?

Menurut pengamatan saya, tingkah angkot yang menyebalkan seperti itu karena semakin berkurangnya penumpang. Kenapa bisa berkurang? Karena sekarang, hampir setiap rumah punya motor. Bahkan tidak jarang lebih dari satu motor. Orang-orang jadi lebih senang ke mana-mana menggunakan motor pribadi. Lebih irit dan lebih cepat. Apalagi di tempat saya itu, jarak dekat saja bisa sampai ganti angkot 2-3 kali karena beda trayek. Gimana orang nggak males, coba? Ditambah dengan adanya kenaikan BBM yang membuat ongkos semakin mahal. Ya, mendingan uangnya buat nyicil motor, kan? Iya, enggak?

Nah, sekarang, angkot yang sudah sepi tapi menyebalkan itu, nambah saingan, yakni ojek/transportasi online. Orang-orang yang (mungkin) belum mampu beli motor pribadi, atau nggak berani mengendarai motor jarak jauh, lebih memilih angkutan online.
Kenapa? Yah, itu sih nggak usah tanya lah, ya. Selain mudah, murah, harganya pasti, dan pelayanannya cukup bagus. Menurut saya, wajar saja angkot semakin hari semakin tersingkir.

Nah, yang menyebalkan adalah, sudahlah tahu nambah saingan, sepertinya tidak ada perbaikan kualitas dari angkot-angkot itu. Sopir-sopir makin seenaknya ngetem, bahkan bisa setengah jam lebih. Bawa mobil ugal-ugalan, dan seabrek hal kurang menyenangkan lainnya, yang akhirnya makin membuat penumpang ogah naik angkot.

Sekarang, angkot mengadakan mogok masal. Saya sebenarnya kurang tahu apakah karena keberadaan angkutan online atau ada alasan lain. Saya sempat cari-cari di situs berita, tetapi tidak lengkap. Mendengar percakapan para penumpang dan sopir angkot pun rasanya kurang meyakinkan.

Yang jelas, menurut saya pribadi, keberadaan angkot sudah pada tahap harus segera dibenahi. Terutama kalau mereka tidak mau kalah saing dengan para lawan. Baik pemilik motor pribadi maupun angkutan online.

Jujur, ya, saya sih nggak masalah naik angkot, asal nggak ngetem, nggak ugal-ugalan, atau malah lelet kayak siput. Selain itu, mungkin harus ada perbaikan rute (kalau di Bogor Kota sudah ada rerouting) untuk meminimalisasi penumpang jarak dekat yang harus gonta-ganti angkot karena trayek. Bahkan mungkin, kalau pemerintah sanggup, ada baiknya angkot-angkot itu diganti dengan bus atau angkutan lain yang lebih besar dan sanggup mengangkut penumpang lebih banyak. Sehingga di jalan itu nggak banyak angkot-angkot ngetem dan berseliweran.

Beneran, deh, bukannya saya nggak ada empati dengan para sopir angkot yang juga sama-sama mencari nafkah. Saya hanya berpikir, bahwa dunia ini memang penuh persaingan. Kalau mau bertahan, kalau mau berada di atas, ya harus terus memperbaiki kualitas. Kalau enggak, kalau cuma mogok-mogok doang, ya nggak terlalu berpengaruh.

Setelah kejadian tadi pagi, apakah saya merasa kehilangan angkot? Apakah saya merasa kehilangan ojek online? Tidak. Sama sekali tidak. Saya malah berpikir, oke, mungkin memang sudah waktunya saya berani belajar mengendarai motor. Karena angkutan umum di daerah saya sudah tidak bisa lagi diharapkan.

Tertanda
Saya yang pernah ngangkot setiap hari Cibinong-Depok

Tragedi Kepiting

Sebenarnya, ini hanya sebuah kisah sederhana, tapi cukup membekas dalam ingatan saya (lebay!). Baru saja terjadi kemarin malam, dan sampai hari ini kejadian tersebut masih terngiang-ngiang. Sebelum saya lanjutkan, saya ingatkan sekali lagi, kalau ini hanya kisah sederhana , ya. Yang berekspektasi ini adalah kisah amazing, bombastis, wow, mengharukan, dan lain-lain, mungkin bisa disimpan dulu harapannya.

Jadi, hari Minggu kemarin, saya tiba-tiba kepengen makan seafood, lebih spesifiknya, makan kerang dara. Kebetulan suami juga mau ngajak saya jalan (cieeee) sebagai ganti hari Minggu-nya yang habis dengan pertandingan futsal. Jadilah kami berdua, sesudah shalat Isya pergi mencari tempat makan seafood.

Beberapa waktu lalu, kami pernah makan pecel lele dan pecel ayam di sekitar daerah Pemda Cibinong. Di tempat itu, ada seafoodnya juga. Kami berencana untuk pergi ke sana. Eh, pas ke tempat itu, ternyata tendanya sudah beganti menjadi tenda mie Aceh. Yah, karena maunya makan seafood, bukan mie Aceh, akhirnya kami memutuskan untuk balik lagi.

Nah, sebelumnya kami melewati tempat makan (lebih besar dari warung tenda) yang menyediakan aneka makanan seafood. Tadinya sudah mau mampir ke sana, tapi karena tempatnya sepi pengunjung, saya ragu. Karena tempat incaran kami sudah nggak ada, kami berniat balik ke tempat seafood yang tadi.

Di perjalanan balik, kami melewati deretan café yang salah satunya memasang banner dengan kata-kata seafood. Saya pun tertarik untuk mampir saja ke sana. Eh, tapi suami nggak mau. Akhirnya kita lanjut jalan. Belum sampai ke tempat seafood yang besar tadi, suami bilang baliknya kejauhan dan mending ke café yang tadi.

Akhirnya kami pun ke café seafood tersebut. Di sana tempatnya lumayan nyaman. Bisa duduk di meja atau lesehan di lapak-lapak bambu gitu. Setelah duduk dan membuka buku menu, ternyata makanan seafood yang disediakan tidak seperti yang kami bayangkan. Yang ada hanya cumi dan udang dengan berbagai macam saus siram dan bumbu lain. Selain itu, variasi menu seafood hanya mie dan nasi goreng, yang bisa dipastikan seafoodnya juga nggak jauh-jauh dari cumi dan udang.

Setelah lama memikirkan menu yang ingin dipesan, kami pun memesan makanan. Saya pesan udang saus tiram. Eh, ternyata kata pelayannya semua menu seafood habis. Yah, kecewa banget deh. Saya pikir, ya sudahlah nggak apa-apa, menu yang lain saja. Sedangkan suami, tetep keukeuh mau seafood. Kalau nggak ada, pesan minum saja. Padahal saat itu kondisinya kami sama-sama belum makan malam.

Sempat terjadi drama kecil nih di sini, yah biasa deh, namanya juga pasangan, nggak seru kalau nggak ada drama, kan? Hehehe…. Akhirnya saya memutuskan untuk membatalkan pesanan dan pulang. Eh, tapi suami mau tetep cari seafood. Ya sudahlah, akhirnya kami menuju tempat makan seafood yang besar tadi.

Sesampai di sana, karena pengalaman dengan café tadi, kami langsung menanyakan apa menu seafoodnya ada. Kata mereka ada. Ada kerang dara nggak? Ada. Ada kepiting? Ada.
Fine, kita pun memesan makanan di situ. Saya pesan kerang dara saus tiram, suami pesan kepiting bakar. Sisanya kami pesan nasi dan teh manis dua porsi.

Setelah menunggu sekitar 5 menit, teh manis dan kerang dara saya datang. Kami pun mulai memakan. Rasanya lumayan enak, meskipun agak keasinan. Kami menunggu cukup lama untuk pesanan kepiting bakar. Mungkin sekitar 20 menitan kali, ya. Saya sebenernya udah nggak sabar, karena malam semakin larut.

Setelah kepiting datang, lengkap dengan nasi dan lalap, kami pun tertegun. Waah, kepitingnya banyak banget. Mungkin yang dibakar itu sekitar dua kepiting. Tapi entah kenapa, buat kami berdua terlihat banyak banget. Pas dicoba, hmmm…. Enak.

Saat mulai makan, pikiran pun langsung mengelana ke dompet. Duh, tadi nggak nanya dulu harga kepitingnya berapa. Berapa ya harganya, pikir saya dalam hati. Masalahnya kami berdua bawa uang pas-pasan.

Walaupun makanannya lumayan enak, tapi hati kebat-kebit karena nggak tahu uang yang kami bawa cukup atau engga. Teruusssss… setelah kami selesai makan, suami ke kasir, dan takjub lihat harganya. Mau tahu berapa???

Kepiting bakar 200 ribu, kerang dara 25 ribu, teh manis 10 ribu, nasi 10 ribu. Total 245 ribu!!!!

mr krabs 4.png

Bayangkan, saya cuma bawa uang 50 ribu dan beberapa receh. Pun sama dengan suami. Karena tadinya kami makan di warung tenda biasa. Kami benar-benar kaget, harga sepiring kepiting itu 200 ribu?!!! Ya salam, rasanya pengen nggak jadi beli aja. Eh, masalahnya kan udah dimakan, walaupun sisa makan kami berdua masih banyak banget.

Terus… terus… gimana dong?

Ya terpaksa suami keluar dulu cari ATM. Sementara saya jadi sandera di rumah makan, wkwkwk….

mr krabs 2

Setelah membayar dan membawa pulang kepiting mahal tadi (iya, sisanya masih banyak, jadi kami minta bungkus saja), kami berdua masih kepikiran tentang harga kepiting tadi. Duilee… nggak salah nih, harganya segitu. Waktu ditanyain ke kasir, katanya sekilo kepiting mentah aja mahal.

Hmmm… emang sih, waktu itu ibu pernah bilang, kalau kepiting harganya mahal. Saya lupa-lupa inget tuh berapa pastinya. Saya sih waktu itu mikirnya, yah paling mahal 100 ribu lah buat seporsi kepiting bakar. Ehhhhhh… kok ya sampai dua kali lipat begitu.

Di rumah, saya hanya bisa ketawa-tawa aja mengingat kejadian tadi. Sudah muter-muter nyari seafood. Sekalinya dapat, harganya nggak ketulungan. Saya nggak tahu sih, itu harga bener atau kami ditembak. Karena di daftar menu memang tidak ada harganya.

Ada semacam rasa nggak rela mengingat uang 200 ribu melayang begitu saja. Duuh, itu kalau dibeliin buku bisa dapet 3-4 buku. Kalau dibeliin baju bisa dapet 2-3, kalau buat jatah belanja, bisa buat dua mingguan lah. Lha ini, 245 ribu habis dalam semalam!

mr krabs 1

Buat kami uang segitu besar, ya. Entah kalau horang kayah mah, mungkin uang segitu nggak ada apa-apanya. Yang jelas, kejadian itu membawa banyak pelajaran bagi kami.

1. Kalau mau makan di tempat makan, dan kita sudah tahu mau pesan apa, sebaiknya langsung ditanyakan saja, ada atau tidak. Jika tidak, bisa cari tempat makan lain atau ganti menu.

2. Kalau makan di tempat makan yang tidak mencantumkan harga di daftar menunya, langsung tanyakan saja harganya. Bukan hanya menu utamanya saja, tapi juga menu tambahan lainnya, seperti teh manis, kopi, nasi, dll. Ini untuk mengantisipasi harga yang dinaikkan dengan semena-mena oleh pemilik rumah makan.

3. Sebaiknya cari tempat makan yang ramai. Kecuali kalau kita memang sudah mengetahui sepak terjang tempat makan tersebut. Karena menurut saya, tempat makan sepi itu alasannya ada dua, harganya mahal atau rasanya kurang enak.

4. Sebelum berniat pergi makan ke luar, sebaiknya sudah menentukan ingin makan di mana. Ini untuk meminimalisir waktu terbuang karena nyari-nyari tempat makan. Tapi kalau memang sedang ingin jalan-jalan dan cari-cari tempat baru, yah, bolehlah….

5. Ikhlas ternyata tidak semudah mengucapkannya. Walaupun itu buat makan kami sendiri, kalau bisa mengulang lagi, saya nggak akan, deh, maksa beli kepiting. Sayang, beneran, sayang banget uang segitu cuma buat ke perut doang.

Nah, itulah kira-kira secuplik kisah sederhana saya. Mungkin bisa jadi pelajaran buat orang-orang yang kondisinya sama dengan saya. Ingin makan di luar, tapi kondisi keuangan pas-pasan. Hehehehe….

mr krabs 3