What’s So Tempting to Do in 2018

Assalamualaikum. Apa kabar?

Setelah kemarin menulis tentang apa saja yang ingin dilakukan di bulan Desember, saya jadi ingin menulis tentang hal-hal yang sering menghantui pikiran saya akhir-akhir ini. Yaitu hal-hal yang sangat menggoda untuk dilakukan di tahun 2018. Apa saja itu?

1. Punya Akun di Website/Platform Menulis

Saya kepikiran untuk punya akun di platform menulis semacam Wattpad, agar mendapat feedback dari tulisan yang saya posting di sana. Saya sadar, saya bukan blogger yang amat sangat terkenal dan belum tentu ada yang membaca cerita-cerita fiksi yang saya post di blog ini. Oleh karena itu, saya terpikir untuk memposting cerita-cerita itu di platform menulis yang sekarang cukup banyak pilihan.

Dengan memposting cerita fiksi di platform menulis, saya berharap dapat penggemar, feedback, masukan, kritik, dan saran. Juga bisa melihat dan belajar dari karya-karya lain yang diposting di sana dan mendapat teman baru yang sama-sama punya minat di bidang menulis cerita fiksi.

Satu hal yang masih mengganjal saya dalam melakukan hal ini adalah, apakah saya akan sempat mengurus akun saya di platform itu? Apakah saya mampu memposting cerita saya secara reguler di sana? Saya nggak mau cuma semangat di awal-awal setelah itu menghilang. Mengingat sampai sekarang saya masih ngos-ngosan mengurus dua blog, saya kurang yakin apakah saya bisa konsisten di platform itu. Begitulah.

coffee-2242212_1280.jpg

Dulu waktu kuliah saya sempat membuat akun di Wattpad. Waktu itu saya cuma ikut-ikutan kakak kelas yang menyarankan saya mempunyai akun di Wattpad. Jauh sebelum ada Wattpad, saya cukup aktif menulis di Kemudian.com. Namun, sekarang saya tidak aktif di platform menulis mana pun kecuali dua blog ini.

Untuk saat ini, saya tertarik bergabung di Storial.co. Entah mengapa, saya merasa cerita-cerita saya lebih cocok diletakkan di sana. Saya harus mempertimbangkan banyak hal sebelum membuat akun di platform menulis. Karena saya ingin serius dan konsisten jika sudah melakukan sesuatu.

2. Gabung Komunitas Blogger

Bergabung dengan komunitas blogger ini sebenarnya harapan tahun 2017. Namun, sampai bulan Desember, saya belum melaksanakannya. Mengapa? Saya merasa blog ini belum mempunyai tema khusus dan bahasan yang fokus, sehingga saya merasa belum layak untuk didaftarkan ke komunitas blogger. Padahal sih setahu saya, syarat menjadi anggota komunitas blogger itu nggak terlalu susah. Nggak ada penilaian postingan juga. Itu sih saya saja yang suka meribetkan diri sendiri dengan menetapkan standar yang terlalu tinggi.

Kalaupun nanti saya akhirnya bergabung dengan komunitas blogger, saya tertarik dengan dua komunitas blogger yang tentu sudah tak asing di telinga, Kumpulan Emak Blogger dan Blogger Perempuan.

3. Membuat Blog Khusus tentang Buku dan Sastra Anak

Tadi bilang mengurus dua blog saja ngos-ngosan. Sekarang mau menambah satu blog lagi. Ckckck.

Iya, entah mengapa saya ingin sekali mempunyai satu blog lagi, blog khusus membahas buku dan sastra anak. Jadi, nanti isinya akan mirip dengan blog buku saya, tetapi yang diresensi khusus buku-buku anak. Selain itu, juga ada postingan-postingan lain yang berhubungan dengan dunia literasi anak.

Sejak dulu, saya tertarik banget dengan dunia literasi anak. Bahkan sempat kepikiran ingin melanjutkan pendidikan tinggi di jurusan sastra anak (kalau ada, hehehe). Mungkin dengan membuat satu blog lagi yang khusus tentang sastra anak, bisa menjadi satu langkah kecil mencapai impian saya.

entrepreneur-593378_1280.jpg

4. Menulis Buku Anak

Ya, ini hal kesekian yang menggoda untuk dilakukan karena selama dua tahun terakhir menjadi editor buku anak. Kadang tangan terasa gatal untuk ikutan menulis buku anak. Sayangnya (atau anehnya), yang sering berada di kepala saya malah cerita-cerita romansa sejenis dengan yang sering saya posting di blog ini. Jadi, ya sampai saat ini saya juga belum tahu bakal menulis apa kalau memang benar saya ingin menulis buku anak.

Oleh karena itu, saya merasa tertantang sekali untuk menulis buku anak. Sebenarnya saya bisa nggak sih menulis buku anak? Itu pertanyaan yang sering terlontar di kepala saya dan sampai sekarang belum ada jawabannya. Tahun 2018 saya ingin menjawab pertanyaan itu.

5. Quit My Job and Being a Full Time Blogger and Writer

Yang terakhir adalah keputusan besar yang harus dipertimbangkan secara matang. Karena hal tersebut tidak hanya berhubungan dengan saya pribadi, tetapi juga dengan orang lain di sekitar saya.

Mengapa sih saya bisa tergoda untuk meninggalkan pekerjaan kantoran dan beralih ke pekerjaan yang belum tentu jelas penghasilannya?

Sebelumnya, saya bukan menganggap pekerjaan kantoran atau freelance lebih baik satu dengan yang lainnya, ya. Bukan juga karena saya merasa tidak nyaman atau tidak suka dengan pekerjaan saya saat ini. Suka banget malah. Ya, tetapi seperti judul postingan ini, menjadi full time blogger and writer adalah hal yang paling menggoda buat saya untuk saat ini.

Saya ingin mencoba hal baru. Saya ingin melakukan hal-hal yang selama ini cuma ada di kepala saya dan belum sempat saya lakukan karena keterbatasan waktu dan tenaga. Yaitu, serius mengurus blog dan menulis.

brooke-lark-194253.jpg

Untuk poin ini, sebenarnya masih banyak banget sih yang bisa dibahas dan dipertimbangkan. Tetapi saya cukupkan sampai di sini saja daripada melantur ke mana-mana. Mungkin kapan-kapan saya akan membuat tulisan yang membahas tentang pekerjaan kantoran dan freelance.

Yup, mungkin segitu dulu curhat-curhatnya terkait hal-hal yang menggoda untuk dilakukan di tahun 2018. Rencana dan target 2018 masih dalam proses pemikiran dan pertimbangan. Ada banyak ha; yang ingin dilakukan tapi saya harus realistis juga. Harus bikin resolusi yang rinci, terukur, dan dapat dicapai. Eaaaa…..

Bagaimana dengan kamu? Sudah membuat rencana apa yang ingin dilakukan di tahun 2018 nanti?

Advertisements

Kuro: Kisah tentang Kucing yang Membawa Kebahagiaan

Awal yang Baru

Saya masih ingat pagi itu. Awal Agustus, pagi setelah saya shalat Shubuh, suami saya keluar membuang sampah. Kemudian ia kembali, mengambil kardus sambil mengendap-ngendap. Dia pikir saya masih shalat. Bagai orang yang kepergok, dia kaget saat saya tanya, “Mau ngapain ambil kardus? Buat kucing, ya?”

Dia hanya tersenyum sambil bilang, “Iya, habis kasian tuh kucingnya. Masih kecil. Tadi dia jalan di deket tempat sampah.”

Saya melihat kucing yang dipungutnya. Memang masih kecil. Jalannya juga masih mengangkang.

“Aku males ngurusin kucing. Nanti dia eek dan pipis sembarangan,” kata saya waktu itu.

“Iya, nanti aku yang bersihin kotorannya. Nggak apa-apa, ya? Kasian soalnya…”

“Ya sudah, deh…” kata saya akhirnya, lebih merasa kasihan kepada suami saya daripada ke kucingnya. Kenapa? Saya tahu, suami saya sangat menyukai kucing. Setiap kali ada anak kucing liar, dia selalu ingin memungutnya, tetapi selalu saya tolak dengan alasan saya malas mengurusnya. Namun, kali ini saya pikir tidak apa-apa memelihara seekor kucing. Mungkin dia butuh sesuatu untuk dirawat dan disayanginya.

Sejak pagi itu, resmilah kucing kecil berbelang tiga itu sebagai kucing peliharaan kami. Kami memberinya nama Kuro. Awalnya, ada beberapa pilihan nama. Kuro, Zorro, Naruto. Yang paling terakhir nggak banget deh, apalagi kucingnya betina, masa mau dikasih nama Naruto. Saya bilang, namanya Kuro saja.

Hari pertama Kuro di rumah

hari-hari pertama Kuro

Melatih Kuro Buang Air di Tempatnya

Di hari-hari pertama Kuro tinggal di rumah kami, kami menaruhnya di dalam rumah. Menurut kami, usianya belum cukup jika ditaruh di luar rumah. Apalagi jika harus kami tinggal bekerja seharian. Kami meninggalkannya di rumah bersama makanan yang sudah disiapkan.

Setiap kami pulang, dia selalu muncul dari kolong kulkas. Ternyata itu tempat favorit Kuro selama sendirian di rumah. Ia suka sekali duduk di kolong kulkas dekat mesin kulkas. Mungkin di sana terasa hangat. Saat itu Kuro belum pintar buang kotoran. Ia masih buang air di pojokan ruang tamu. Jadi, setiap pulang kerja, suami saya (seperti janjinya) membersihkan kotoran Kuro.

Hari-hari berlalu, Kuro sudah cukup besar untuk tinggal di teras. Selama itu, kami berusaha mengajarkan Kuro untuk buang air di kamar mandi. Ketika dia terlihat menggaruk-garuk di pojokan, selalu buru-buru dibawa suami ke kamar mandi. Bukannya buang air, dia malah main-main di sana. Akhirnya suami membawanya ke kebun dekat rumah. Setiap kali dia buang kotoran, selalu dibuang oleh suami saya di kebun. Setiap kali dia menggaruk-garuk kaki depannya, suami selalu buru-buru membawanya ke kebun.

Awalnya, Kuro masih belum terbiasa buang air di kebun. Ia buang air di teras. Setiap pagi, kami selalu disambut dengan kotoran Kuro. Syukurlah dia buang air di teras tanah, bukan teras keramik, sehingga membersihkannya juga tidak terlalu susah. Setiap kali buang air di sana, kami selalu membersihkan dengan sebersih-bersihnya sampai bau kotorannya tidak tercium lagi.

Hari-hari berlalu dan Kuro pun jadi terbiasa buang air di kebun. Kadang kami suka memperhatikannya saat dia buang air. Lucu sekali melihat Kuro.

Exif_JPEG_420

Kuro ngintip dari pintu

Hari-Hari Bersama Kuro

Semenjak kehadiran Kuro, ada yang beda di rumah kami. Rasanya rumah jadi jauh lebih menyenangkan dan membahagiakan. Bukan berarti sebelumnya tidak menyenangkan, tetapi sejak ada Kuro, benar-benar terasa jauuuuuh lebih membahagiakan.

Kuro selalu menghibur kami dengan tingkah lucunya. Dia suka sekali menggigit tangan atau kaki suami saya. Sedangkan kepada saya, dia jauh lebih anteng. Entah, mungkin karena saya selalu menjauh setiap kali ia hendak menggigit.

Alih-alih membiarkan digigit Kuro, saya malah menggendongnya, memeluknya, dan mengelus-elusnya. Kalau Kuro habis makan, setiap kali digendong dan dielus-elus, pasti dia tidur. Kadang, tanpa dipanggil pun, Kuro suka datang ke pangkuan saya dan tidur di sana.

IMG_20170910_183351.jpg

WhatsApp Image 2017-10-06 at 10.09.26.jpeg

Kuro main di plastik

Kuro Makan Nasi Kebuli

Sebagai orang yang awam masalah kucing, saat itu saya tidak tahu apa yang boleh dan tidak boleh dikasih kepada kucing, terutama anak kucing. Saat itu saya baru tahu kalau anak kucing nggak boleh minum susu manusia.

Sewaktu kerja, teman saya Intan, membawa bekal nasi kebuli yang tidak terlalu disukainya. Karena masih bersisa dan saya ingat di rumah belum ada nasi, saya pun meminta nasi itu untuk diberikan kepada Kuro. Saya pikir Kuro akan doyan karena ada rasa daging dan cuilan-cuilan daging di dalamnya.

Kuro memang doyan dengan nasi kebuli. Dia makan lahap sekali, dan karena nasi itu cukup banyak, dia makan berkali-kali.

Saya perhatikan, setiap kali habis main, dia pasti kembali untuk makan nasi kebuli. Begitu terus sampai saat suami saya pulang dan melihat Kuro tersedak kacang (saya lupa kaca almond atau apa yang ada di dalam nasi itu). Sisa nasi kebuli masih banyak, tetapi akhirnya kami ambil supaya tidak dimakan Kuro lagi.

Esoknya, saya memperhatikan ada yang aneh dengan kotoran Kuro. Seperti ada bercak darahnya. Itu berlangsung selama beberapa hari. Kami mulai khawatir dengan kesehatan Kuro. Apakah mungkin dia sakit karena terlalu banyak makan nasi kebuli. Apalagi sebelumnya dia belum pernah makan nasi berasa seperti itu. Kami selalu memberinya makan dengan nasi putih dan suwiran ikan tongkol.

Saya sempat berpikir untuk memeriksakan kondisi Kuro ke dokter hewan. Namun, melihat Kuro yang tetap lincah bermain, kami menunda rencana itu. Sampai akhirnya, suami saya menemukan Kuro terkapar lemah dengan ceceran darah dan kotoran di wajah dan kardusnya.

FB_IMG_1506235384796.jpg

Kuro abis dimandiin

Kuro Diinjak Orang

Hari itu, hari Sabtu. Setelah mengantar saya ke kantor, suami pulang dan bersepeda ke rumah orang tuanya. Siang hari, dia pulang dan menemukan Kuro dengan kondisi mengenaskan seperti itu, padahal sebelumnya Kuro tampak sehat-sehat saja.

Begitu mendengar Kuro berdarah, saya langsung merasa resah. Ingin rasanya segera kembali ke rumah. Sayangnya, hari itu hari pertama pelatihan digital marketing yang membuat saya baru bisa pulang dari kantor setelah maghrib.

Saat pulang, saya langsung melongok ke kardus Kuro. Ia tampak lemah dan tidak bertenaga. Saya langsung menggendong dan mengelus-elusnya. Saya sempat berpikir untuk segera membawanya ke dokter hewan, tetapi saya sendirian. Suami saya belum pulang dari pengajian.

Saya terus mendekap dan mengelus-elus Kuro hingga akhirnya dia bergerak turun. Dia bersembunyi di kolong kulkas seperti biasa. Saya membiarkannya. Mungkin di sana dia merasa lebih hangat dan nyaman.

Keesokan harinya, kami langsung membawa Kuro ke dokter hewan. Kami menceritakan kalau beberapa hari terakhir ada bercak merah di kotoran Kuro, dan kemarin Kuro tampak sangat lemas dan tidak nafsu makan. Dokter memberinya suntikan dan obat cacing, juga menyuruh kami menebus antibiotik di apotek. Dalam waktu dua hari, keadaan Kuro sudah membaik. Dia sudah kembali makan dengan lahap dan lincah bermain.

Seminggu kemudian, tepat hari Minggu pagi, ketika saya sedang menjemur pakaian di depan rumah dan Kuro sibuk menggigiti sandal di samping saya, tetangga saya lewat dan berkata, “Eh, kucingnya udah sembuh?”

“Iya,” jawab saya sambil tersenyum, sambil bertanya-tanya dalam hati, tahu dari mana dia si Kuro sakit.

“Waktu itu kan hidungnya berdarah-darah abis keinjek Sumi,” katanya lagi yang membuat saya melongo.

Apa? Terinjak?

“Waktu itu ibu-ibu lagi pada ngobrol, terus kucingnya jalan-jalan deket kaki si Sumi. Eh, keinjek. Berdarah-darah gitu, sama ibunya langsung dimasukkin ke kardus,” selorohnya, yang membuat saya makin kaget.

Jadi, waktu suami saya menemukan Kuro lemas dengan ceceran darah dan kotoran di kardus dan di tubuh Kuro, itu karena habis terinjak orang. Bukan semata-mata karena sakit perut karena makan nasi kebuli, meskipun itu bisa jadi faktor penambah juga.

“Iya, saya bawa ke dokter.” Saya hanya bisa menjawab seperti itu karena masih kaget dengan fakta terbaru.

“Oh, Alhamdulillah kalau sudah sehat. Kucingnya jadi bersih dan lucu,” katanya sambil melihat Kuro yang masih asyik menggigiti sandal.

Setelah tetangga saya berlalu, saya langsung masuk ke dalam dan menceritakan fakta menarik ini ke suami saya.

“Tahu nggak sih, ternyata Kuro…….”

Terpecahkanlah sudah misteri kenapa Kuro tiba-tiba lemas dan tak nafsu makan, sedangkan sesaat sebelumnya dia tampak baik-baik saja. Kami cuma bisa tersenyum setiap mengingat hal itu.

Kami tidak sampai terpikir kalau Kuro terinjak. Suami saya memang sempat berpikir mungkin Kuro terlindas motor, tetapi rasanya nggak mungkin mengingat jalan depan rumah kami itu kecil sekali sehingga motor yang lewat pun tidak bisa mengebut.

Kuro (3)

Kondisi Kuro yang lemes abis diinjek orang

Kuro Dicukur Kumis

Selain pernah terinjak orang, Kuro juga pernah diisengin orang. Kejadiannya hari Minggu juga. Saat itu saya sedang tidur siang dan Kuro saya biarkan main di luar. Saya sempat mendengar suara anak kecil tertawa-tawa. Saya pikir mereka cuma bermain-main saja di dekat rumah saya.

Sorenya, ketika saya hendak memberi makan Kuro, saya melihat ada yang aneh di wajahnya. Kumis Kuro yang tadinya panjang dan awut-awutan itu jadi pendek sekali. Sedih sekali melihatnya. Meskipun saya tidak terlalu mengerti fungsi kumis pada kucing, tetapi saya yakin Allah memberikan kumis pada kucing ada maksudnya.

Kumis Kuro tumbuh cukup lama. Saat kumisnya sudah panjang lagi, kami berdua senang sekali. Akhirnya, ia tampak seperti kucing normal pada umumnya.

Exif_JPEG_420

Kuro kumisnya pendek

Kehilangan Kuro

Dua bulan setengah kami merawat Kuro. Pagi saat suami saya menemukan Kuro adalah pagi di awal Agustus, dan kami kehilangannya di hari Jumat, 20 Oktober 2017.
Pagi hari, saya masih memberi makan Kuro. Setelah makan dia langsung berlari keluar untuk main. Saya tidak mencarinya karena sudah biasa Kuro bermain-main di luar. Toh, nanti dia juga balik lagi.

Saya pun berangkat kerja diantar suami. Di motor, saya memang sempat merasa heran. Saya bilang ke suami, “Tumben ih, si Kuro pas kita berangkat dia nggak ada.”

Iya, biasanya Kuro selalu ada setiap kami pergi. Dia selalu mengikuti kami dan memperhatikan kami di ujung gang. Dia juga suka menggigiti rok atau sepatu saya setiap kali saya hendak meninggalkan rumah. Bahkan ketika dia di dalam rumah, dia sering tidak mau dibawa keluar saat kami hendak pergi. Dia malah bersembunyi di kolong lemari, tempat di mana kami susah meraihnya. Seolah-olah tidak ingin berhenti bermain-main dengan kami.

Malam hari, setelah saya menjemput adik saya untuk menginap, saya menyadari Kuro tidak ada di sekitar rumah. Saya memanggil-manggilnya, tetapi Kuro tidak muncul juga. Waktu itu, saya berpikir Kuro sedang main. Akhir-akhir ini, Kuro memang suka main jauh, tetapi dia selalu balik lagi. Saya pikir, nanti juga saat suami saya pulang, dia sudah ada di kardusnya seperti biasa.

Dini hari, pukul setengah tiga, suami saya pulang dan kami berdua sadar Kuro belum juga pulang. Dan yang bikin saya kaget, ternyata Kuro sudah tidak ada sejak suami saya pulang setelah mengantar saya ke kantor.

“Tadi pagi pas aku pulang sampai aku berangkat, Kuro nggak balik-balik. Aku pikir, nanti dia juga balik lagi. Aku taruh aja makanan di kardusnya. Aku pikir tadi dia di dalem sama kamu,” kata suami saya.

Saya menggeleng, “Enggak, aku pikir dia bakal pulang pas denger suara motor kamu.”
Kami mulai khawatir, tetapi masih berharap esok hari Kuro pulang.

Pagi-pagi, setelah shalat Shubuh di masjid, suami saya mulai mencari-cari Kuro. Sekitar jam enam pagi, saya juga ikut keluar mencarinya. Akan tetapi, Kuro tidak juga ditemukan. Padahal selama pencarian itu, kami melihat kucing-kucing yang juga suka bermain dengan Kuro.

kuro gigit pager 2

Kuro gigit-gigit pagar

Mulai Menyelidiki

Awalnya, kami berpikir Kuro mengikuti kucing lain sampai jauh atau ada yang memungut Kuro karena melihatnya lucu. Pikiran pertama langsung kami coret, karena bagaimanapun, seharusnya Kuro balik lagi karena ia pasti lapar dan ia akan selalu pulang ke rumah jika lapar.

Pemikiran kedua rasanya cukup mungkin. Mengingat beberapa kali, saya melihat anak-anak kecil yang suka lewat depan rumah sering berseru, “Ih, kucingnya lucu! Kucingnya lucu!”

Mungkin, ada yang amat sangat menyukai Kuro dan mengira Kuro kucing liar (kami tidak memakaikan kalung kepada Kuro) sehingga langsung memungutnya. Kami berpikir begitu dan berusaha mengikhlaskan Kuro.

Jam demi jam, saya terus berpikir, dan tercetuslah sebuah kemungkinan baru. “Bagaimana kalau ternyata Kuro bukan dipungut orang melainkan dibuang orang?”
Pertanyaan itu berlanjut ke pertanyaan selanjutnya, “Tetapi siapa yang membuang Kuro? Dan yang lebih penting, KENAPA???”

Tetangga terdekat kami, enam rumah lain di sekitar kami, tahu kalau Kuro adalah kucing peliharaan kami. Kucing yang sering dipuji-puji sebagai kucing lucu dan pintar karena selalu berlari pulang setiap kali mendengar saya atau suami pulang ke rumah. Mereka juga sering memberi makan Kuro saat kami tidak ada.

Pemikiran itu merujuk ke satu orang yang kami kira cukup layak menjadi tersangka. Semata-mata karena saya pernah mendengar dia berbicara seperti ini kepada Kuro, “Bolak-balik mulu lo! Gue siram pakai air panas nih!”

Yang mengatakan itu adalah bapak tetangga yang rumahnya tepat di samping kami. Kami merasa dialah yang paling cocok membuang Kuro karena mungkin nggak suka dengan kehadiran Kuro. Kuro memang suka mondar-mandir masuk ke rumah-rumah tetangga kami. Dan khusus tetangga sebelah rumah, setiap kali pintu pagar rumah itu berbunyi, kuping Kuro langsung tegak dan ia berlari ke rumah tersebut.

Akhir-akhir ini memang Kuro senang sekali main ke rumah itu. Istri bapak itu sangat suka dengan Kuro. Setiap kali Kuro main ke sana, ia selalu memberi makan. Beberapa kali, saat saya pulang dan memanggil-manggil Kuro, ibu itu muncul di depan rumah sambil membuka pintu pagar. Dari situ Kuro muncul dan berlari mengikuti saya.

“Kucingnya pinter ya, dia tahu kalau yang punya udah pulang. Dia tadi di dalem, lagi tidur, denger suara kamu langsung lari ke pager minta dibukain,” kata si ibu.
Saya cuma bisa tersenyum, “Makasih ya Bu, udah jagain Kuro.”

IMG_20170929_111927.jpg

Kuro tidur siang

Sebuah Pengakuan

Selama hari Sabtu, kami terus mencari-cari Kuro hingga malam hari. Selama itu pula, kami bersuudzon kepada si bapak tetangga sebelah. Saya sengaja bertanya kepada istrinya, menanyakan apakah melihat kucing saya.

“Lah, saya pikir situ tau. Saya juga nyariin,” katanya.

“Iya, Bu. Dari kemarin kucing saya nggak pulang,” jawab saya.

“Yahhh…. Saya sedih jadinya. Saya juga nyariin, tumben kok nggak keliatan,” katanya dengan wajah sedih.

“Bu, kalau Kuro lagi di dalem rumah, apa suka bandel? Suka nyolong makanan atau pipis sembarangan?” tanya saya.

Saya pikir, kalau Kuro bandel, mungkin itu alasan kenapa Kuro dibuang. Meski saya sama sekali nggak percaya kalau Kuro bandel.

“Enggak, enggak sama sekali. Kucingnya pinter. Nggak, nggak pernah sama sekali,” katanya dengan sangat yakin. Dan perkataan itu membuat saya lepas kendali.
Belum sampai rumah, saya langsung menangis. Suami saya langsung memeluk dan menyabarkan saya, menyuruh saya masuk.

“Itu si Ibu liat kamu nangis tau. Orang pas kamu nangis dia masih ada di depan rumah,” kata suami saya ketika kami sudah berada di dalam rumah.

Saya masih terus menangis di kamar. Merindukan Kuro yang amat saya sayangi. Saya menulis status di Whatsapp dengan foto Kuro. Tiba-tiba muncul pesan Whatsapp yang tidak terduga sama sekali.

“Ratih, kucingnya dibuang.” Bunyi pesan itu. Itu dari tetangga saya yang lain, yang rumahnya beda satu rumah dengan saya, tepat di samping rumah si ibu tadi.

“Sama siapa, Bu?” Balas saya.

“Nggak enak, Rat. Nanti dibilang adu domba lagi. Nanti juga tahu sendiri orangnya.”
Saya nggak puas, saya langsung menelepon si ibu. Namun, saat sudah menelepon, saya kembali tidak bisa mengendalikan diri hingga akhirnya telepon saya serahkan ke suami saya, sementara saya menangis tersedu-sedu.

IMG_20170929_070515.jpg

Kuro main petak umpet di balik bantal

Kami Salah Orang

Ternyata kami salah orang. Orang yang kami sangka membuang Kuro juga mencari-cari Kuro. Ternyata orang yang membuang Kuro adalah tetangga depan rumah kami sendiri. Si Ibu yang ditelepon melihatnya membawa kucing kesayangan kami. Meskipun sudah diingatkan, si tetangga itu tetap membuang Kuro.

Hal yang paling menyesakkan adalah saat kami diberi tahu kalau ternyata Kuro sudah pernah berkali-kali dibuang olehnya, tetapi Kuro selalu berhasil balik lagi. Kali ini, dia membuangnya lebih jauh dari biasanya. Ibu tetangga yang tahu kejadian itu, tidak berani langsung mengatakan kepada kami karena takut menimbulkan keributan antartetangga. Namun, akhirnya nggak tega juga karena mendengar saya memanggil-manggil nama Kuro dan menulis status sedih seperti itu.

Saat kami tahu siapa pelakunya, kami tidak memerlukan alasan lagi. Tetangga itu memang terkenal suka berulah, dan sejak kami pindah ke situ, kami sudah sering mendengar tetangga-tetangga lain memarahinya. Saya juga pernah memergokinya mengambil air keran saya tanpa izin.

Kami merasa bersalah kepada si bapak tetangga sebelah rumah karena sudah berprasangka buruk kepadanya. Ternyata mereka berdua, sepasang suami istri di sebelah rumah kami, juga mencari-cari Kuro. Mereka juga menyayangi Kuro. Hampir seluruh tetangga di dekat rumah kami menyayangi Kuro. Mereka sering memuji-muji Kuro sebagai kucing yang lucu dan pintar. Kecuali satu orang, satu orang yang nggak suka dengan Kuro, atau mungkin nggak suka dengan kami, atau mungkin juga nggak suka orang-orang lain senang melihat tingkah lucu Kuro.

Sepanjang hari Minggu, kami terus mencari Kuro. Dari mulai mencari ke tempat-tempat terjauh dengan mengendarai motor hingga gang-gang kecil di sekitar rumah yang belum pernah kami lalui. Kuro belum juga ditemukan.

Sore hari, ketika kaki ini sudah pegal-pegal dan harapan menemukan Kuro semakin menipis, kami pulang ke rumah dengan hati berat dan sedih.

FB_IMG_1506235367120.jpg

Kuro bergaya di jendela

Mengenang Kuro

Kuro sudah menjadi bagian dari kehidupan kami. Aneh rasanya pulang ke rumah tanpa ada Kuro di dalamnya. Kuro telah meninggalkan jejaknya di seluruh sudut rumah kami. Apa-apa yang saya lakukan, selalu ada Kuro di dalamnya.

Ketika saya menyapu dan mengepel, saya ingat Kuro selalu mengganggu saya dengan menggigiti rambut sapu atau mengejar-ngejar kain pel yang bergerak-gerak. Ketika saya menyiangi sayuran, saya ingat Kuro suka mengerecoki saya dengan menggigit-gigit atau mencium sayuran. Ketika saya mencuci, Kuro selalu duduk di atas keset, memperhatikan saya dan mesin cuci yang berputar, menghasilkan suara berderak-derak.

Di kamar, di dapur, di ruang tamu, di kamar mandi, di teras. Semua pernah ada Kuro. Saya bahkan lupa seperti apa hari-hari sebelum kedatangan Kuro. Padahal kalau dipikir-pikir, Kuro baru dua setengah bulan tinggal di rumah kami. Sedangkan kami sudah tinggal di rumah itu setahun lebih. Tetapi kami merasa aneh saat Kuro kembali nggak ada di rumah. Seolah-olah ada yang hilang, kami merasa hampa.

Sampai saat saya menulis tulisan super panjang ini, saya masih suka menitikkan air mata setiap kali mengingat Kuro. Mungkin orang lain menganggap Kuro hanya kucing biasa, yang bisa diganti dengan kucing-kucing lain. Tetapi bagi kami, Kuro lebih dari sekadar kucing.

Terlalu banyak cerita tentang Kuro yang mungkin tidak sempat saya sampaikan di tulisan ini. Yang jelas, Kuro datang membawa kebahagiaan ke rumah kami. Saat-saat senggang, kami selalu bercanda dengan Kuro. Saat sedang sibuk sekalipun, Kuro selalu muncul dan membuat kami tersenyum. Kuro seperti pelengkap kehidupan kami.

Kami tidak habis pikir mengapa ada orang sejahat itu yang tega membuang Kuro padahal Kuro bukan kucing bandel. Kami tidak habis pikir mengapa ada orang yang tidak menghormati tetangganya, tidak menghormati apa-apa yang dimiliki tetangganya.

Kami sangat menyayangi Kuro. Kami berusaha untuk tidak berlaku buruk kepadanya. Ketika dia sakit, kami membawanya ke dokter. Kami juga tidak pernah memberi makanan sisa kepada Kuro. Satu-satunya makanan sisa yang pernah dimakan Kuro adalah nasi kebuli itu. Meskipun Kuro pernah bandel dengan buang air di dalam rumah, kami hanya menyentil-nyentil kepalanya, itu pun sentilan pelan, sambil mengatakan kepadanya agar buang air di kebun.

Kami senang mengajak bicara Kuro, meskipun mungkin ia tidak mengerti apa yang kami ucapkan. Meskipun ia juga tidak akan pernah membalas ucapan-ucapan kami. Tetapi kami mengajaknya bicara seperti dia bisa menangkap maksudnya dan mengatakan balasannya.

Kami menyayangi Kuro dengan sepenuh hati kami. Kami merawat Kuro dengan seluruh kesanggupan yang kami miliki. Meskipun pada awalnya, saya tidak terlalu menyukai ide memelihara kucing, hati saya luluh oleh Kuro.

Kami sangat menyayangi Kuro. Kini kami sangat kehilangan Kuro. Terlebih cara kehilangannya dengan begitu menyakitkan, dibuang oleh tetangga sendiri! Semata-mata dia nggak suka karena Kuro suka masuk ke rumahnya.

Kalau hanya nggak suka masuk ke rumah, kenapa nggak diusir saja tiap Kuro masuk. Toh, lama-lama juga dia akan tahu kalau dia tidak diinginkan di sana. Selama ini Kuro sering masuk-masuk rumah orang, karena tidak ada yang pernah mengusirnya.

Saya hendak berandai-andai, tetapi berandai-andai tidak disukai Allah. Saya hanya mampu mendoakan Kuro. Semoga Kuro baik-baik saja dan bisa pulang ke rumah kami dengan selamat. Kalaupun ia tidak kembali lagi pada kami, semoga ia dirawat oleh orang yang sangat menyayanginya dan mampu menjaganya sepenuh hati. Allah tentu lebih mengetahui apa yang terbaik bagi kami dan bagi Kuro.

IMG20170924180812.jpg

Kuro mainin mukena yang digantung

Sebuah Pelajaran Berharga

Banyak pelajaran berharga setelah kami memelihara Kuro. Kami jadi tahu seperti apa rasanya memiliki hewan peliharaan. Kami diajarkan Allah tentang berempati kepada orang-orang yang juga penyayang hewan. Dulu-dulu, saya nggak habis pikir mengapa ada orang yang rela mengeluarkan uang begitu banyak hanya demi hewan peliharaan.

Sekarang kami tahu rasanya berada di posisi seperti itu. Kami amat sangat tahu rasanya memelihara hewan, menganggapnya sebagai teman, bukan hanya sekadar hewan peliharaan. Kami tahu seperti apa rasanya merawat makhluk mungil, kecil, manja, lucu, dan pintar.

Kami bersyukur kepada Allah, telah memberikan banyak kebahagiaan ke rumah kami lewat seekor kucing. Dua setengah bulan adalah waktu yang singkat tetapi juga terasa lama. Seolah hari-hari sebelum ada Kuro tidak pernah ada. Seolah-olah Kuro telah bersama kami selama bertahun-tahun, dan di saat yang sama, rasanya baru sebentar.

Kuro, di mana pun kamu berada, semoga Allah selalu memberi rasa aman kepadamu, semoga kamu selalu berada di tempat orang yang baik, dan semoga kamu mengingat kami. Dua orang yang sangat menyayangimu.

IMG_20171007_091949.jpg

Kuro bobo siang (lagi)

Kuro-2.jpg

Kuro waktu kumisnya pendek

IMG20171018002505.jpg

dua hari sebelum Kuro dibuang orang