Nostalgia di Perpustakaan Pusat UI

Setelah tertunda sekian tahun lamanya, akhirnya saya mampir juga ke tempat kesayangan saya selama kuliah. Apa lagi kalau bukan Perpustakaan Pusat UI. Hehehe…

Dulu, waktu kuliah, nggak afdhal rasanya kalau seminggu aja nggak minjem buku perpus. Nggak afdhal rasanya kalau dalam seminggu nggak ke perpus. Rasanya kayak ada yang hilang gitu…

Namun, setelah lulus kuliah, susaaaaah sekali menyisakan waktu untuk menyambangi perpus lagi. Kalau pulang kerja, merasa kesorean. Di akhir pekan, kadang malas ke Depok. Ya, kan setiap hari bolak-balik ke Depok, masa akhir pekan ke Depok juga.

Hari Sabtu kemarin, akhirnya saya berhasil juga melangkahkan kaki ke Perpustakaam UI. Tiga tahun nggak dikunjungi, ternyata cukup banyak yang berubah. Banyak tempat yang dikasih garis polisi. Sepertinya tempat-tempat yang perlu direnovasi. Memang sangat disayangkan, perpustakaan sebesar itu ada beberapa bagian yang kurang layak, seperti atap bocor, dan lain-lain (saya lupa, hehehe.)

Saya dan suami pergi ke sana sebagai pengunjung umum. (Nggak ada pilihan pengunjung alumni apa yaa…). Pengunjung umum harus mendaftar dulu dan membayar biaya masuk sebesar lima ribu rupiah per orang. Nanti akan diberi stiker yang seharusnya ditempel di sekitar pundak biar ketauan bukan anak UI. Tetapi banyak yang nggak pakai, jadi saya juga nggak pakai, hehehe…

Seperti biasa, setelah daftar lalu menitipkan tas di bagian loker. Karena bukan anak UI, jadi untuk dapet kunci loker mesti minjemin KTP dulu. Kalau anak UI, tinggal sodorin KTM. Setelah itu kami langsung naik ke lantai dua, ke ruang koleksi buku.

perpustakaan-ui-1

Di sana kami langsung menuju rak favorit saya nomor 800. Ada yang tahu itu rak bagian apa? Hehehe… Tetapi kami nggak lama-lama di sana, apalagi sampai ngeliatin judul bukunya satu-satu sampai kepala miring-miring kayak dulu. Ya, takutnya pengen baca padahal nggak bisa minjem. Jadi, cuma lihat-lihat sekilas sambil diam-diam ambil foto.

perpustakaan-ui

Abaikan baju yang memberikan efek gendut. 😀

Setelah dari rak 800, kami duduk di meja baca. Suami penasaran pengen baca buku psikologi. Akhirnya saya carikan buku psikologi di rak 100. Kami pun kembali duduk di meja baca. Ternyata di meja baca kami, saya menemukan buku yang menarik. Temanya masih tentang psikologi juga. Tertarik akan tema dan judulnya, saya pun mengintip daftar isinya. Seru!

perpustakaan-ui-3

buku Positive Psychology yang nggak sengaja saya temukan

Kami berdua pun akhirnya duduk hening sambil membaca buku masing-masing. Tidak terasa waktu satu jam berlalu. Ah, memang kalau di perpus itu waktu bergerak begitu cepat. Padahal saya masih ingin berlama-lama di sana. Kami melihat beberapa buku psikologi lagi. Setelah itu keluar perpus. Nah, mumpung di kampus, kami sempet-sempetin swafoto di depan gedung perpus. Dilanjut shalat Ashar di MUI sebelum kembali ke rumah.

perpustakaan-ui-4

ada yang serius baca buku 😛

perpustakaan-ui-5

buku yang udah lama banget pengen dibaca

Rasanya senang banget bisa ke perpustakaan lagi. Setelah dari perpus, rasa ingin menuntut ilmu dalam diri saya seperti meluap-luap lagi. Jadi pengen kuliah lagi. Jadi pengen belajar lagi. Saya juga jadi tertarik dengan ilmu psikologi, khususnya positive psychology seperti buku yang saya baca sekilas itu.

Alhamdulillah, kami berdua merasa senang dan bersemangat setelah dari Perpustakaan UI. Setelah ini, saya merencanakan kami mengunjungi Perpusnas baru yang 27 lantai itu. Ada yang sudah pernah ke sana? Perpustakaan apa lagi ya yang menarik untuk dikunjungi? 😀

Advertisements

Calm My Mind

toa-heftiba-177828.jpg

Assalamualaikum, apa kabar?

Sepertinya saya masih belum terlalu bisa move on dari peristiwa September lalu. Saya masih sering dihantui perasaan cemas, rendah diri, dan sebagainya. Saya juga cukup sering merasa otak saya penuh dengan berbagai macam pikiran. Rasanya ingin sekali menghentikan itu semua. Entahlah…

Saya mencoba membuat semacam daftar afirmasi atau entahlah namanya apa, hehehe… Yang jelas, dengan kalimat-kalimat itu, saya berusaha menenangkan pikiran saya yang sibuk dan berisik ini.

1. Selalu bersyukur dengan apa yang ada. Berusaha menahan diri dari mengeluh atau mengandaikan sesuatu yang nggak ada.

2. Tidak memaksakan kehendak atau kemampuan diri. Kalau nggak bisa, nggak apa-apa minta tolong orang lain yang dapat dipercaya.

3. Memilih satu hal untuk dikerjakan atau dipikirkan dalam satu waktu.

4. Realistis dalam membuat target atau rencana. Tapi, jangan terlalu pesimisi juga, yaa…

5. Tidak terlalu mengekang keinginan diri, yang penting nggak kebablasan atau keseringan.

6. Lebih memilih kesehatan jiwa dan raga dibanding apa pun.

7. Setiap kali merasa cemas, tarik napas dalam-dalam, embuskan pelan-pelan sambil bilang, “Ada Allah… Ada Allah… Ada Allah….”

8. Setiap kali merasa rendah diri dan nggak berguna, ingat, “Aku orang baik, ceria, cerdas, dan menyenangkan. Aku punya banyak kelebihan.”

9. Selalu meniatkan semuanya karena Allah dan untuk Allah.

Menuliskannya saja membuat saya merasa lebih lega dan nyaman. Kalau ada teman-teman yang sering merasa cemas atau rendah diri seperti saya, mungkin membuat daftar seperti ini bisa dicoba. Atau bikin daftar kelebihan/kemampuan yang kita miliki, daftar hal menyenangkan dan patut kita syukuri. Mudah-mudahan ini bisa mengganti pikiran-pikiran nggak baik di kepala kita.

Oiya, saya baru sadar kalau kemarin, 10 Oktober, adalah Hari Kesehatan Mental Sedunia. Semoga kita semua semakin peduli dengan kesehatan jiwa dan raga, ya!