Luluh (Part 11)

luluh

Pelajaran Bahasa Indonesia sedang berlangsung, saat Milly mendapat surat berupa kertas buku tulis yang dilipat empat. Isinya, Hai cantik, hari ini kamu pulang nggak? –Mario-. Milly menahan tawa saat membacanya. Dibalasnya segera, Iya, memangnya kenapa?

Milly kembali membaca balasan dari Mario. Ketemuan yuk malam ini. Aku jemput di depan rumah kamu ya. Ps : tidak menerima jawaban ‘tidak’.

Meski sudah ditahan, tetap saja Milly tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya saat membaca kertas lecek itu. Untung, Bu Sandra sedang sibuk dengan bukunya. Tapi Ila melihatnya.

“Kenapa sih senyum-senyum sendiri?” tanya Ila heran.

Milly menunjukkan sobekan kertas dari Mario. Ila ikut tersenyum membacanya.

“Cieee, yang diajakin malam mingguan. Selamat ya, yang udah baikan lagi,” ujar Ila mencoba terlihat senang. Di dalam hatinya, ia berharap Indra juga melakukan hal sama. Tapi bahkan sepanjang sekolah, Indra tidak menyapanya sama sekali. Lelaki itu sibuk mengobrol dengan Nicky. Entah apa yang mereka bicarakan.

________________________________________

Ila mengantarkan Milly pulang hingga gerbang depan. Ia sendiri tidak berniat untuk pulang karena ada beberapa kegiatan yang harus diikuti esok hari. Sebagai sekolah asrama, Permata Bangsa memberikan kesempatan kepada murid-muridnya untuk pulang ke rumah masih-masing sebulan sekali. Dari Sabtu sore hingga Minggu sore.

Gerbang depan ramai dipenuhi para siswa dan orang tua yang menjemput. Dalam hati, Ila merasa iri dan berharap ia bisa pulang juga. Syukurlah, tidak lama ibu Milly datang dan membawa Milly pulang. Saat ia berjalan kembali ke asrama, ia berpapasan dengan cowok jangkung yang telah menjadi pacarnya selama setahun lebih.

“Ila! Nggak pulang?” tanya Indra. Terlihat terkejut melihat Ila.

Ila tersenyum tipis kemudian menggeleng, “Enggak.”

“Tadinya aku juga nggak pengen pulang. Tapi Nicky minta temenin aku untuk nyari baju, besok,” cerita Indra tanpa diminta. Ia terdiam sebentar, lalu berkata lagi, “Hmm, ada sesuatu yang kamu inginkan nggak?”

Ila dengan cepat menggeleng. Apalagi saat dilihatnya Nicky muncul dengan tas ransel di pundak, siap menghampiri Indra. “Nggak, nggak ada. Hati-hati ya Ndra,” pesan Ila. Indra mengangguk singkat dan langsung menyambut Nicky. Ila tidak ingin berlama-lama di sana dan langsung berbalik pergi. Jalannya menunduk seolah tidak mau melihat keadaan sekitar.

Buuk!

“Aduh!” seru seseorang.

“Maaf,” ujar Ila cepat saat sadar ia menabrak seseorang. Ternyata Ninis. Gadis itu hanya mengusap bahunya lalu tersenyum.

“Hai Nis, mau pulang?” tanya Ila sambil melirik tas yang dicangklong Ninis.

Ninis mengangguk. “Iya kak. Duluan yaa!” pamit Ninis dan langsung bergega pergi, seperti sedang terburu-buru. Ila hanya membalasnya dengan senyuman hambar, yang ia sendiri tak yakin apakah Ninis sempat melihatnya. Lagipula, ia tidak memikirkan itu. Ia memikirkan Indra. Dan juga Ninis.
________________________________________

Di kamar, Ila bermalas-malasan di atas tempat tidurnya. Tidak tahu harus melakukan apa. Ia memikirkan banyak hal. Ia ingat perkataan Milly tentang pertengkaran Mario dan Indra. Ia ingat tentang kedekatan Indra dan Nicky. Tapi yang paling meresahkan hatinya adalah Ninis dan Indra yang sama-sama pulang.

Jangan-jangan, mereka berdua mau ketemuan? pikir Ila mulai curiga. Jangan-jangan Nicky hanya alasan untuk menutupi hal yang sebenarnya. Ila menutup wajahnya. Merasa tidak percaya dengan pikirannya sendiri. Tidak mungkin Indra seperti itu. Indra tidak mungkin sejahat itu. Bagaimanapun, Ila tahu, Indra orang yang jujur. Indra nggak mungkin bohong, gumam Ila, sambil meraba kalung hati pemberian kekasihnya.
________________________________________

Milly berdebar-debar menunggu kehadiran Mario di rumah. Rasanya seperti sudah lama sekali sejak terakhir kali ia merasakan hal ini.

“Hai!” sapa Mario ketika akhirnya muncul di depan pintu gerbang. Milly yang sudah lama duduk di teras, tersenyum dan mempersilakan Mario masuk.

“Kamu udah lama nunggu?” tanya Mario.

Milly menggeleng, masih gengsi mengakui kalau ia begitu bersemangat dengan hal ini. Setelah mengajak Mario bertemu orangtuanya sebentar untuk pamit, mereka meluncur dengan mobil yang dikendarai Mario.

“Kita mau ke mana?” tanya Milly penasaran. Mario hanya tersenyum simpul sambil memegang kemudi mobil.

“Bukan tempat yang luar biasa, tapi aku harap kamu suka,” jawab Mario. Milly mengangguk sambil membasahi bibirnya karena saking gugupnya. Ia tidak bisa menebak ke mana Mario akan membawanya.

Tapi saat melihat jalanan yang mereka lewati, lama kelamaan Milly mulai bisa mengira ke mana mereka akan pergi. Dan saat Mario menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah, Milly hanya bisa berkata, “kita ke rumah kamu?”

Mario mengangguk dan langsung menarik Milly menuju sebuah jalan kecil di samping rumahnya. Di sana ada tangga, menuju ke bagian atas rumah Mario. Rumah Mario tidak bertingkat. Hanya saja, di bagian atasnya ada bagian datar untuk menjemur pakaian. Milly masih ingat hal itu. Ia pernah berkunjung ke rumah Mario dua kali.

Milly terkejut saat mendapati apa yang dilihatnya tidak sesuai dengan apa yang ia bayangkan. Ia pikir, ia akan berada di lantai peluran dengan tali jemuran yang menggantung di mana-mana. Tapi kini tali jemuran itu sudah beralih fungsi menjadi rangkaian lampu-lampu kecil yang bersinar temaram.

Di setiap sudut lantai, ada hiasan pohon dan bunga-bunga. Tiruan memang, tapi terlihat begitu indah dan sempurna ditempatkan di sana. Di tengahnya ada sebuah meja dengan lilin yang menyala, dilindungi tabung kaca. Piring dan gelas berisi makanan dan minuman sudah tersaji di meja itu, untuk berdua. Milly hanya bisa tersenyum takjub melihatnya.

“Candle light dinner. Itu kan yang selalu kamu inginkan? Maaf aku nggak bisa membawamu ke restoran mahal. Lagipula, aku pikir, makan di udara terbuka lebih bagus. Gimana? Kamu suka?” tanya Mario meminta pendapat Milly. Milly membalasnya dengan sebuah pelukan.

“Aku suka banget! Aku nggak pernah nyangka kamu bisa melakukan ini!” seru Milly riang.

“Jadi, siapa bilang cuma Indra yang bisa romantis!” sahut Mario. Tapi itu membuat Milly tertegun sesaat. Ia teringat dengan niatnya untuk bertanya pada Mario apa yang terjadi antara dia dan Indra. Namun, Milly pikir, mungkin ini bukan saat yang tepat. Lagipula, ini waktu khusus untuk mereka berdua, kenapa dia harus membahas orang lain. Jadi, Milly melupakan sejenak pertanyaan tentang Indra.
________________________________________

“Makasih kamu mau jemput aku,” ujar Nicky sambil tersenyum saat melihat Indra dengan motornya ada di depan rumah.

“Santai aja,” jawab Indra, agak sedikit terganggu dengan panggilan ‘kamu’ yang diucapkan Nicky, tapi tidak ingin menggubrisnya juga.

Ada yang berbeda saat Nicky duduk di belakangnya dan melingkarkan tangannya di perut Indra. Suatu perasaan yang aneh. Seperti campuran antara kaget, senang, risih, dan entah apa. Sesuatu yang bahkan tidak pernah ia rasakan ketika bersama Ila. Tapi saat Indra ingat-ingat, ia memang belum pernah membonceng Ila.

Awalnya Indra ingin menyuruh Nicky meletakkan tangan di pundaknya saja. Seperti jika ia membonceng teman laki-lakinya yang lain. Namun, entah kenapa Indra tidak melakukannya. Ia membiarkan tangan Nicky melingkar di perutnya sepanjang perjalanan.

Sesampai di mall, Indra dan Nicky langsung menuju ke bagian baju laki-laki. Nicky langsung memilih-milih beberapa kaos yang tampak menarik. Sesekali ia bertanya pada Indra, mana yang lebih bagus.

“Aku suka warna hijau muda,” kata Nicky sambil mengambil sebuah kaos bermotif garis-garis dengan tersebut.

“Aku juga. Kamu cocok pakai itu,” ujar Indra. Nicky menatap Indra dengan pandangan antusias.

“Oh ya?” tanya Nicky meyakinkan. Indra mengangguk sambil tersenyum.

“Habis ini mau ke mana?” tanya Nicky sambil menggenggam tangan Indra. Nicky telah selesai membeli baju dengan dua kantong belanja di tangannya. Indra kaget dengan gerakan tiba-tiba dari Nicky, apalagi di saat ia sedang memikirkan Ila. Dengan perlahan, Indra melepaskan tangannya dari genggaman Nicky.

“Gue pengen ke toko buku. Ada buku yang pengen gue cari,” jawab Indra. Nicky mengangguk.

Ketika berada di toko buku, Indra sedikit menjauhi Nicky. Tidak seperti tadi di toko baju, kali ini, Indra lebih pendiam dan bersikap dingin pada Nicky. Setiap kali Nicky bertanya atau berkomentar tentang sebuah buku, Indra hanya menanggapinya dengan komentar singkat dan pelan. lalu berjalan menuju rak lain, meninggalkan Nicky.

Indra sendiri tidak tahu mengapa ia seperti itu. Ia hanya tahu, kalau ia sangat merindukan Ila sekarang. Setiap kali melihat sebuah buku, terngiang kembali suara Ila yang berkomentar tentang buku tersebut di kepalanya. Dia dan Ila sama-sama menyukai buku. Itulah yang membuat ia menyukai Ila. Karena Indra tahu, gadis itu tidak hanya cantik, tapi cerdas, berbeda dengan gadis-gadis cantik lainnya yang pernah ia kenal.

Indra merasa sedikit bersalah pada Ila. Harusnya ia mengajak Ila ke tempat ini. Harusnya Ila berada di tempat ini bersamanya. Harusnya ia mengajak Ila supaya pulang, seperti Mario membujuk Milly untuk pulang. Dia tidak tahu apa yang direncanakan Mario untuk Milly. Ia hanya menebak-nebak, sepertinya mereka berbaikan lagi.

“Indra,” ujar sebuah suara, pelan, tapi begitu dekat di telinganya. Indra tersentak saat disadarinya, Nicky sudah berada tepat di belakangnya. Jarak mereka mungkin hanya satu senti saking dekatnya.

“Eh!” hanya itu balasan dari Indra, sambil mengambil langkah mundur sedikit dari Nicky.

“Cari buku apa sih? Kok dari tadi aku lihat, kamu bengong aja,” ujar Nicky polos. Indra hanya tersenyum kecil.

“Cari buku untuk Ila,” jawab Indra singkat, dan matanya kembali beralih ke rak buku di sampingnya. Tapi ia sempat menangkap kekecewaan terpampang di wajah Nicky.

Saat mereka keluar dari toko buku, Nicky kembali menggenggam tangannya lagi. Tapi kali ini Indra membiarkannya. Seperti saat ia membiarkan tangan Nicky melingkar di perutnya.

“Kamu kelihatan lemes, kita makan dulu yuk?” ajak Nicky. Indra mengangguk tanpa semangat.

Setelah meminum kopi hangatnya, Indra merasa agak baikan. Ia bahkan tertawa pada lelucon-lelucon yang dilontarkan Nicky. Indra merasa sedikit lebih baik dan melupakan rasa bersalahnya pada Ila.

“Terima kasih ya Indra,” ujar Nicky tiba-tiba di tengah tawa mereka. Indra berhenti tertawa dan tertegun.

“Untuk apa?” tanya Indra.

“Untuk semuanya. Untuk jemput aku, untuk nemenin aku ke sini, dan terutama, untuk jadi temen aku selama di asrama. Kamu tahu, itu hal yang berat untuk aku. Menjadi anak baru di sekolah asrama, dan yah…” Nicky tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Tiba-tiba ia teringat dengan hal-hal menyebalkan yang dilakukan Mario terhadapnya.

“Maaf untuk hal-hal yang tidak menyenangkan. Aku juga nggak nyangka Mario akan seperti itu. Yah, biasanya dia memang seperti itu. Tapi tidak lama dan tidak separah yang ia lakukan terhadap kamu.”

Nicky tersenyum. “Nggak apa-apa. Meski begitu, aku seneng karena masih ada yang baik dan perhatian sama aku.”

“Oh ya? siapa?” tanya Indra heran. Tidak paham dengan maksud ucapan Nicky.

“Kamu,” jawab Nicky singkat. Mata Nicky menatap langsung ke mata Indra. Ada denyar aneh yang Indra rasakan saat itu. Sesuatu yang membuat Indra merasa ingin berpaling dari tatapan Nicky. lalu Nicky tersenyum.

“Terima kasih,” ujar Nicky lagi. Tangannya meraih tangan Indra yang terpaku di atas meja. Ada getar asing yang menyebar ke seluruh tangan Indra, membuatnya kaku. Tapi diusahakannya juga sebentuk senyum untuk Nicky.
________________________________________

Di asrama, Ila menghabiskan waktunya dengan membaca satu novel lagi. Sayangnya, kali ini kemampuannya membaca seolah terserap habis untuk memikirkan Indra. Novel The Kite Runner di pangkuannya terbuka di halaman yang itu-itu saja. Pikiran Ila ada pada Indra, dan entah siapa yang mungkin berada di samping Indra saat itu. Mungkin saja Ninis, mungkin saja bukan. Mungkin Indra sedang sendirian. Dengan siapapun itu, Ila hanya berharap, Indra tidak melupakannya dan jatuh hati dengan gadis lain.
________________________________________

… bersambung …

Luluh (Part 10)

luluh

Indra dibawa ke klinik sekolah. Setelah diperiksa dokter, ia dinyatakan tidak mengalami luka serius. Hanya saja, butuh waktu lama untuk membuatnya sadar kembali.

Nicky duduk di samping ranjang Indra. Menanti temannya untuk membuka mata. Sementara itu, Mario menunggu di ambang pintu kamar perawatan. Tangannya terlipat di dada dan wajahnya menyiratkan percampuran antara penyesalan dan kecemasan.

Tidak lama, Zilfan datang. “Yo, lo dipanggil ke ruang kesiswaan. Pak Yoga nunggu,” ujarnya. Mario mengangguk. Mengerti apa yang akan diterimanya setelah ini.

Sebelum Mario meninggalkan kamar perawatan, dia menyempatkan diri menghampiri ranjang Indra. Agak ragu, tangannya bergerak mendekati wajah Indra yang membiru bekas tonjokannya. Namun, Mario menghentikan gerakannya sebelum mengenai wajah Indra.

“Indra, gue tahu, lo pasti marah sama gue. Tapi lo harus percaya, kalau gue sama sekali nggak bermaksud nyakitin lo,” kata Mario, lalu pergi.

Tak sedikit pun Mario menatap Nicky. Nicky pun seolah tak sudi menatap Mario, dan lebih memilih memandang ke arah lain.
________________________________________

Esoknya, satu angkatan tahu kalau kemarin malam, Indra dan Mario bertengkar. Dua orang yang mereka tahu telah bersahabat akrab sejak lama. Milly dan Ila merasa sangat kaget mendengar berita ini. Begitu juga dengan Ninis.

Pada jam istirahat pertama, Milly dan Ila bergegas menjenguk Indra di klinik. Ketika mereka datang, Indra sedang menghabiskan sarapannya ditemani Nicky.

“Indra, kamu nggak apa-apa kan?” tanya Ila khawatir. Indra menggeleng pelan sambil menyunggingkan senyum. Senyum manis yang sangat dirindukan Ila.

“Aku nggak apa-apa La. Setelah ini juga bakal balik ke kamar kok. Terus, masuk sekolah seperti biasa,” jawab Indra.

“Lo nggak usah maksain kalau masih sakit Ndra,” sela Milly. Indra hanya tersenyum. Lalu terbatuk. Nicky dan Ila sama-sama hendak mengambil gelas untuk Indra. Melihat hal itu, Nicky mengalah dan membiarkan Ila menyodorkan gelas kepada Indra.

“Aku sedih mendengar kamu berantem. Apalagi sama temen deket kamu sendiri,” ujar Ila lirih. Namun didengar oleh Milly dan Nicky. Indra lagi-lagi hanya tersenyum sambil mengelus rambut Ila.

“Kemarin aku nggak bisa menahan kemarahanku. Tapi aku janji, aku akan membereskannya,” sahut Indra, berusaha menenangkan Ila. Tidak sedikitpun di antara mereka yang menyinggung nama Mario atau Nicky.

“Kak Indra!” seru sebuah suara membuyarkan keheningan yang sempat tercipta. Ninis muncul di ambang pintu dengan wajah cemasnya.

“Hai Nis!” sambut Indra ramah. Merasa diberi izin, Ninis pun masuk meski ia tahu ada Ila dan Milly di sana.

“Kakak udah baikan?” tanya Ninis sambil berdiri di samping ranjang Indra. Indra mengangguk sambil tersenyum.

“Iya. Alhamdulillah.”

“Syukurlah. Aku bawa pudding untuk Kakak. Dimakan ya,” ujar Ninis sambil mengeluarkan dua pudding kemasan dari dalam tasnya. Indra tersenyum lebar melihat hal itu.

“Ya ampun Nis, kamu repot-repot banget,” sahut Indra.

“Nggak repot kok Kak. Ya sudah, aku duluan ya,” pamit Ninis, lalu menoleh ke arah Milly dan Ila sambil tersenyum, “aku duluan ya kak Milly, Kak Ila.”

Milly dan Ila sama-sama mengangguk. Ila tersenyum tulus, sedangkan Milly tersenyum kecut.

“Ngapain sih tuh anak! Kecentilan banget!” seru Milly kesal. Ila langsung meremas tangannya.

“Indra, aku sama Milly juga pamit ya. Istirahat yang cukup, nggak usah maksain untuk sekolah. Nggak apa-apa kok,” pesan Ila sambil menepuk pundak Indra. Indra mengangguk sambil menatap mata Ila.

“Makasih ya La,” ujar Indra tulus. Ila tersenyum, haru melingkupi hatinya. Tanpa berpikir panjang, ia memeluk Indra erat. “Aku sayang kamu,” bisik Ila. Indra balas merangkulnya, sambil mengelus rambut panjang Ila, seperti yang sering ia lakukan. Milly tersenyum senang melihat keduanya, berbeda dengan Nicky yang diam tanpa ekspresi.
________________________________________

Setelah pertengkaran itu, Mario dan Indra tak pernah saling bicara lagi. Di kelas, Indra pindah tempat duduk ke sebelah Nicky di sudut kelas. Membiarkan Mario duduk sendiri di depan. Di manapun mereka berpapasan, tak ada dari keduanya sudi melihat wajah yang lainnya. Hal yang meresahkan orang-orang terdekat Mario dan Indra, khususnya Milly dan Ila.

“La, kayaknya mereka berdua lagi perang dingin deh! Kita mesti gimana ya? Sebenernya gue nggak betah sama keadaan kayak gini,” ujar Milly dari atas kasurnya. Ila yang sedang mengerjakan tugas hanya melirik Milly sekilas.

“Ya nggak perlu gimana-gimana. Itu kan urusan mereka. Kita nggak usah ikut campur,” sahut Ila.

“Tapi masa lo seneng sih kalau mereka berantem terus kayak gini. Nggak enak tahu! Ayo dong La, lakuin sesuatu yuk,” rajuk Milly sambil menarik-narik baju tidur Ila. Ila yang duduk di lantai, tepat di samping ranjang Milly, mengibaskan tangan anak itu.

“Terus kita mau ngapain? Bujuk mereka supaya baikan?” tanya Ila. Milly mengangguk setuju. “Oke! Kalau gitu lo bujuk Mario, gue bujuk Indra. Gimana?” Milly melengos, teringat pertengkarannya dengan Mario.

“Yah Ila. Gue kan lagi gencatan senjata sama Mario. Uhhh…” keluh Milly sambil meraih bantal untuk dipeluk. Kali ini giliran Ila yang melengos.

“Ya terus mau gimana? Masa gue yang bujuk Mario. Enggak ah!” tolak Ila. “Kalau lo nggak mau, ya nggak apa-apa.”

“Iya deh!” sahut Milly terpaksa setuju.

Dia hanya tidak suka melihat Mario dan Indra bertengkar. Ya ampun, mereka berdua kan berteman akrab dulu, kenapa sekarang malah adu jotos gitu sih, pikir Milly. Ia menduga semua ini berawal dari Nicky.

Sebelum Nicky datang, Indra dan Mario baik-baik saja. Sebelum Nicky datang, ia dan Mario juga baik-baik saja. Jadi semua ini pasti karena Nicky, pikirnya. Milly bertekad untuk mencari tahu hal itu lebih dalam. Tapi ia gengsi kalau harus berbicara lebih dulu kepada Mario.
________________________________________

Milly menemui Mario di ruang dapur, tempat makanan untuk seluruh siswa dimasak oleh para pegawai. Dia sedang mencuci alat-alat dapur yang baru selesai digunakan. Itu adalah hukuman yang harus dijalani Mario karena dinyatakan bersalah telah memukul dua siswa. Sebuah hukuman yang dianggap memalukan oleh murid Pemata Bangsa. Tapi Mario menerimanya dengan lapang dada.

“Mario,” sapa Milly pelan. Mario menoleh.

“Mau ngapain lo ke sini?” tanya Mario ketus.

“Aku cuma pengen tahu keadaan kamu,” jawab Milly lagi, masih sama pelannya. Sebuah hal yang sangat sulit dilakukan Milly, mengingat dia tidak terbiasa berbicara pelan-pelan kepada teman sebayanya.

“Lihat! Gue baik-baik aja kan?” sahut Mario sambil berkacak pinggang. Milly berusaha untuk tidak memanyunkan bibirnya, meski di dalam hati ia merasa sangat ingin sekali.

“Oke,” jawab Milly, lalu berbalik pergi. Langkahnya perlahan, berharap Mario berubah pikiran dan mengejarnya. Namun, sampai dia keluar dari ruang dapur, ia tak mendengar Mario mengejarnya, atau memanggil namanya.

Milly keluar sambil menendang kerikil di depan kakinya. Ia kesal sekali pada Mario. Harusnya Mario senang, karena masih ada yang peduli padanya. Apalagi, sebelumnya Milly tidak mau berbicara dengan Mario. Merasa gagal, Milly tidak ingin buru-buru kembali ke kamarnya. Ia malah duduk di bangku kayu yang ada di depan ruang dapur. Mengamati para petugas menyiapkan makan malam para siswa.

“Kamu masih di sini?” tanya Mario tiba-tiba. Milly menoleh. Mario sedang berdiri di sampingnya, wajahnya tidak semenyebalkan tadi.

“Iya. Sebenarnya ada yang mau aku bicarain sama kamu,” jawab Milly.

“Apa?” tanya Mario sambil mengambil tempat duduk di samping Milly.

“Aku mau minta maaf kalau aku punya salah sama kamu.”

“Nggak apa-apa,” jawab Mario. Wajah ketusnya menghilang.

“Yang ngajak makan es krim itu aku. Yang usul untuk duduk dan ngobrol di taman juga aku. Tapi bukan berarti aku suka sama Nicky,” ujar Milly tanpa diminta.

Mario mengangguk. “Iya, aku ngerti.”

“Dan aku sedih ngeliat kamu berantem sama Indra. Aku harap kalian akan berbaikan lagi,” sahut Milly.

Mario menghela nafas. “Itu yang aku nggak ngerti Mil. Aku ngerasa Indra berubah. Begitu juga dengan kamu. Dan entah kenapa, aku ngerasa takut dengan perubahan kalian. Mungkin ini aneh, tapi aku takut kehilangan kalian.”

Milly tertawa kecil. “Berubah?” tanyanya. “Waktu itu, aku cuma ngerasa iri sama Ila, yang punya pacar seromantis Indra. Tapi setelah dipikir-pikir, harusnya aku nggak perlu terlalu egois kayak gitu. Mungkin, kamu memang nggak akan pernah seromantis Indra.”

Mario langsung menoleh ke wajah Milly, membuat perempuan itu terkejut.
“Kamu marah lagi?” tanya Milly.

Mario menggeleng. “Enggak. Tapi apa yang kamu bilang mungkin benar. Tapi mungkin juga nggak.”

Milly mengernyit, “Maksudnya?”

Mario tersenyum, “Lihat aja nanti!” serunya sambil berdiri. Kini wajahnya berbinar dan senyumnya lebar. Milly menganggap itu adalah pertanda baik. Saking senangnya, Milly lupa dengan tujuan awal membujuk Mario agar mau berbaikan dengan Indra.
________________________________________

… bersambung …