Monthly Journal; Februari 2020

ina-soulis-227094

Assalamualaikum, apa kabar? Semoga selau dalam keadaan baik, ya.

Telat banget sih sebenarnya baru posting monthly journal sekarang. Biasanya kan awal bulan. Tetapi, karena laptop baru balik dan baru sempat juga buat menulis, ya sudah lanjut aja. Tadinya malah kepikiran untuk hiatus blogging dulu. Waduh, baru awal tahun sudah mau hiatus. Memang kenapa, sih?

Well, karena laptop sempat dipinjam, saya jadi agak malas untuk menulis apa pun, khususnya untuk blog, meskipun bisa dilakukan di tempat lain.

Bukankah WordPress punya aplikasi di Android yang memungkinkan penggunanya posting dari handphone?

Iya, tetapi saya bukan termasuk orang yang biasa menulis langsung di handphone. Pasti menulis di laptop dulu, kondisi offline. Setelah selesai, dibaca ulang, kadang diperam sehari (untuk tulisan blog, kalau tulisan fiksi bisa lebih lama), baru diposting di blog.

Dengan kondisi sambil jualan pula, saya tidak bisa menulis di sela-sela menunggu pelanggan. Sudah dicoba, tetapi ternyata nggak bisa. Saya tipikal orang yang kalau menulis itu (khususnya menulis di laptop) harus duduk rapi di meja belajar dan kondisi sekeliling sepi. Jadi, ya selama bulan Januari nggak menghasilkan tulisan apa pun, kecuali corat-coret di buku tulis.

Selama bulan Januari, saya menghabiskan waktu menunggu pelanggan sambil membaca buku. Lumayan banyak juga, total ada 22 buku yang saya. Namun, satu pun belum ada yang saya tulis resensinya. Begitulah.

Nah, bulan Februari ini sepertinya saya harus lebih memaksakan diri untuk menulis. Pertama, karena sudah tidak bisa pakai alasan laptop dipinjam. Kedua, saya sedang mengikuti pelatihan menulis novel dari Storial.co. Mohon doanya mudah-mudahan saya bisa menggarap novel tersebut dengan baik dan tepat waktu.

Selain itu apa lagi? Hmmm… bulan Februari ini banyak yang menikah, ya?

Sejak akhir Januari sampai pertengahan Februari nanti, jadwal akhir pekan saya sudah full untuk menghadiri undangan pernikahan. Apalagi tanggal 2 Februari kemarin bertepatan dengan tanggal cantik, 02-02-2020. Orang-orang berbondong-bondong mengadakan momen penting, khususnya pernikahan pada hari tersebut sampai para penghulu pun full booked. Padahal, pada tanggal secantik apa pun, yang ingat tanggal pernikahan mereka ya cuma pasangan itu saja. Iya, nggak? Hehehe….

Baiklah, postingan kali ini singkat saja dan mungkin tidak ada faedahnya sama sekali. Saya Cuma kangen ngeblog aja. Mudah-mudahan pada kesempatan berikutnya bisa memposting tulisan yang bermanfaat.
Selamat menikmati bulan Februari.

Heartsong Journal

Assalamualaikum, apa kabar?

Alhamdulillah, bisa blogging lagi. Kali ini saya ingin sharing tentang Heartsong Journal. Apa itu Heartsong Journal?

Saya mengetahui istilah ini secara tidak sengaja saat scrolling di Instagram, melihat postingan akun Goodful yang mengunggah tentang Heartsong Journal.

Karena tidak mendapat penjelasan yang lebih lengkap dari Instagram, saya langsung googling dan menemukan satu artikel Buzzfeed tentang Heartsong Journal. Sepertinya itu artikel yang menjadi sumber utama, karena selain itu saya belum menemukan tulisan lainnya terkait Heartsong Journal.

The best way I can explain a heartsong journal is that it’s basically an “encyclopedia of you.” It’s a special notebook, separate from your day-to-day journal/diary/notebook, where you can write the meaningful things that are really close to your heart, and that you want to reference again and again.

Mudahnya, Heartsong Journal tuh semacam jurnal khusus tentang diri kita. Bukan jurnal yang berisi rencana atau kegiatan harian. Pokoknya, all about ourselves.

Nah, pas banget saya menemukan artikel Heartsong Journal saat sedang galau dengan kegiatan journaling tahun 2020. Seperti yang pernah saya ceritakan di post ini, jurnal harian saya adalah buku tulis bergaris dengan cover tebal dan dari dulu selalu yang jenisnya seperti itu (beneran deh, saya bingung jenis buku itu namanya apa). Pernah mencoba ganti, tetapi merasa nggak sreg, akhirnya balik lagi pakai buku tulis yang ‘itu’ lagi.

heartsong-journal (1)

Saya nggak pakai jurnal atau agenda seperti orang-orang yang umumnya, ukurannya kecil, kertas polos atau berbintik-bintik sehingga mudah untuk digambari. Saya sudah merasa nyaman dengan halaman bergaris dengan ukuran seperti buku tulis.

Dan saya punya kebiasaan menghabiskan buku itu sehabisnya, jadi bukan setiap tahun ganti. Kadang di dalam satu buku itu memuat dua sampai tiga tahun. Misalnya, jurnal akhir 2016, lalu jurnal sepanjang tahun 2017, dan jurnal awal tahun 2018. Setelah bukunya habis, baru ganti buku baru, entah itu terjadi pada bulan apa.

heartsong-journal (2)

Karena sekarang tahun 2020, tahun baru, dekade baru, saya ingin ganti suasana dan ganti jurnal. Jurnal tahun 2019 saya masih sisa lumayan banyak karena mulainya pun awal Maret 2019. Tetapi nggak saya lanjutkan dan malah membeli jurnal baru khusus untuk mengawali dekade baru ini. Sekaligus saya ingin mencoba sekali lagi, apakah bisa memakai jenis buku lain untuk jurnal harian saya.

Ternyata tidak bisa, Kawan-Kawan. Baru beberapa lembar, terus merasa nggak sreg, merasa nggak nyaman, akhirnya balik lagi ke jurnal lama yang masih sisa sekian halaman. (Memang anaknya susah move on, wkwk) Terus saya bingung, yah, sayang banget jurnal yang baru saya beli, mau dipakai untuk apa. Sudah ada beberapa halaman yang ditulisi, target dan rencana tahun 2020.

heartsong-journal (3)

Eh, saya menemukan tulisan Heartsong Journal. Langsung deh terinspirasi untuk membuat Heartsong Journal juga. Walaupun beberapa halaman awal sudah ditulisi target dan rencana, nggak apa-apa. Anggap saja itu juga termasuk bagian dari diri saya (ya, iyalah).

heartsong-journal (4)

Rencana 10 Tahun yang belum diisi, wkwk

Heartsong Journal ini isinya bebas, ya. Istilahnya diganti pun juga boleh (sepertinya). Saya nggak tahu kenapa penulis menyebutnya dengan Heartsong Journal. Tetapi, bagi saya kedengarannya cukup bagus, jadi saya tetap memakai istilah itu.

heartsong-journal (5)

Heartsong Journal saya masih sedikit, tetapi saya sudah punya daftar yang akan ditambahkan nanti.

heartsong-journal (6)

Beberapa ide untuk mengisi Heartsong Journal, selain yang sudah disebutkan di situs Buzzfeed.

1. Biodata diri

Ini standar banget, sih, tetapi bisa lho bikin biodata yang nggak standar. Yang bukan cuma; nama lengkap, nama panggilan, TTL, alamat, dll.

2. Hal-hal yang disukai

Lagu favorit, film favorit, buku favorit, makanan favorit, momen favorit

3. Tempat-tempat yang ingin dikunjungi atau orang-orang yang ingin ditemui (boleh nyata, boleh fiksi)

4. Foto kita bersama orang-orang spesial

5. Apa pun yang membuat kita merasa bahagia, terinpirasi, dan termotivasi saat menuliskan, menempelkan, dan meletakkannya ke dalam jurnal.

heartsong-journal (7)

Sudah siap bikin Heartsong Journal versimu sendiri? 🙂

Ini post pertama pada tahun baru, dekade baru, yang seharusnya diunggah dua minggu lalu.

Assalamualaikum, apa kabar?

Semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat dan baik, ya, pada tahun dan dekade yang baru ini.

Bagaimana judulnya? Masih kurang panjangkah? Hahaha.

Jadi, saya sudah menyiapkan tulisan panjang untuk diunggah pada pergantian tahun kemarin. Namun, apa daya, karena berbagai kondisi yang terjadi, post itu tidak jadi diunggah.

Seperti yang lainnya, saya membuat tulisan tentang refleksi sepuluh tahun ke belakang dan resolusi atau rencana tahun ini. Tetapi, setelah dibaca lagi sekarang, ah, kayaknya sudah nggak relevan, deh, pikir saya. Jadilah tulisan itu masih tersimpan di dalam laptop.

Terus post ini tentang apa? Curhat kabar terbaru saya aja, ya. Wkwkwk. Oiya, sepertinya tulisan ini akan panjang, jadi siap-siap saja, hehehe.

What Happens in Desember 2019

Pada bulan Desember, rutinitas saya sedikit berganti. Sekarang saya sudah tidak pengangguran lagi, yeay!

Alhamdulillah, awal Desember saya dan suami resmi membuka kios minuman dekat rumah seperti yang pernah saya ceritakan November lalu. Produk yang kami jual adalah produk franchise tanpa royalti. Jadi, kami membeli booth, produk, dan segala macamnya ke merk tersebut, tanpa harus bagi hasil.

pasco-1

Karena suami saya bekerja dan kami belum mendapat karyawan yang biasa menjaga kios tersebut, akhirnya saya yang menjaga kios tersebut sehari-hari, kecuali hari Sabtu-Minggu, kami menjaga berdua atau bergantian.

pasco-2

Cerita tentang kios minuman dan usaha yang kami jalankan sebenarnya panjang dan saya berniat membuat post khusus tentang hal itu, setelah tiga bulan atau lebih berjalan. Untuk sekarang mohon doanya saja supaya usaha kami lancar, laris, dan berkah. Aamiin.

Selanjutnya, pada pertengahan Desember, hape saya yang sudah sekarat akhirnya mati juga, dan sayalah yang mempercepat kematiannya. Saya menjatuhkan hp tersebut (tanpa sengaja) ke lantai berbatu yang keras sekali, padahal jarak jatuhnya pendek, tetapi sanggup meretakkan sebagian besar layar hp. Memang saya sudah berencana untuk membeli hp baru pada akhir tahun, tetapi bukan berarti harus dipercepat rencananya karena uangnya belum ada. Hiks.

Karena hp tersebut sudah nggak bisa diapa-apain, mau diganti layarnya pun sayang, lebih baik beli baru, akhirnya saya kembali memakai hp jadul saya yang saya beli setelah mendapat gaji pertama sebagai editor.

Waktu itu saya beli Nokia Lumia yang sekarang hampir nggak dipakai lagi dan memang sudah nggak mendukung berbagai aplikasi yang ada sekarang. Saya pun memakainya asal bisa WA, SMS, telepon, foto, dan dengar lagu. Otomatis, nggak bisa blogwalking lewat aplikasi WordPress, nggak bisa buka Instagram, dll.

Ditambah lagi, laptop saya dipinjam adik untuk kuliah. Dia butuh laptop dengan RAM yang cukup besar seperti yang punya saya. Ya sudah, sehari-hari saya kembali memakai laptop kecil (netbook) yang telah menemani saya sepanjang masa kuliah dulu, yang sekarang layarnya dipenuhi garis berwarna-warni dan ada noda hitam di ujungnya.

Dan yang bikin lebih sedih, netbook saya itu sudah tidak bisa menangkap sinya WIFI. Jadi, nggak bisa internetan dan blogging di laptop. Bhaiqlah.

Dengan kondisi seperti itu, tanpa hp dan laptop yang mendukung, saya mencoba tetap optimis dan mengganti rencana akhir tahun saya menjadi fokus menulis cerita yang telah saya mulai dari bulan Oktober lalu.

Namun, apalah daya, rencana tinggal rencana, mood lebih berkuasa, dengan alasan masih adaptasi dengan rutinitas baru, niat menulis cerita itu pun buyar sudah.

Akhir bulan, akhir tahun, ditutup dengan hujan yang turun tiada henti. Alhamdulillah, saya tinggal di Bogor dan di tempat yang cukup aman dari banjir. Jadi, selama hari pergantian tahun itu saya di rumah saja, berkemul di balik selimut, membaca buku, meminum cokelat panas, dan makan mie rebus. Nikmat Tuhan mana yang kau dustakan???

Itulah sekelumit kehidupan saya, yang amat sangat nggak penting untuk dietahui orang lain, tetapi tetap saja saya tulis di blog, just because I want it. Hahaha.

Refleksi dan Resolusi

Pada awal tahun, saya mendapat kabar duka. Ayah teman saya dan adik Kakek saya meninggal dunia. Berita itu membuat saya berpikir kembali tentang hidup dan mati. Apalagi setelah sebelumnya panjang menulis refleksi dan panjang angan-angan menulis resolusi.

Saya berpikir, sambil melihat resolusi yang sudah saya susun, “Kenapa saya selalu sibuk bikin resolusi untuk dunia ini, tetapi nggak serius merencanakan bagaimana saya mati?”

Maksud dari ‘Bagaimana saya mati’ bukan mau menjemput maut dengan tangan sendiri, ya, tetapi maksudnya, “Kenapa saya kok nggak sibuk merencanakan amal-amal yang bisa menjadi bekal untuk kehidupan setelah mati, yang tentu saja lebih panjang, bahkan abadi, ketimbang kehidupan dunia yang singkat ini?

Pemikiran itu membuat saya melihat lagi dan lagi resolusi yang saya buat, mempertimbangkan kembali dengan masak-masak, apakah yang sebenarnya saya inginkan dari tujuan ini, tujuan anu, tujuan itu. Apakah tujuan itu membuat saya dekat dengan Allah dan disayang oleh-Nya? Apakah tujuan itu memperbanyak bekal saya untuk akhirat?

Waduh, menjawab pertanyaan yang saya bikin sendiri aja, saya bingung.

This is why we need “FINDING OUR WHY”

Menemukan alasan ‘kenapa‘ untuk setiap hal yang kita rencanakan. Agar apa pun yang kita lakukan bernilai abadi, agar semangat melakukannya pun terus terpatri, karena alasan yang kita miliki benar-benar kita ketahui. Bukan hanya ikut-ikutan, latah, demi gengsi, atau untuk menyenangkan orang lain.

Jadilah, resolusi yang sudah saya susun, saya revisi kembali, dan sampai sekarang belum selesai. Hehehe. Ya, tetapi, inti-intinya sudah dapat, sih, dan Insya Allah tidak akan berubah. Tinggal melengkapi dengan penjelasan, kenapa saya ingin meraih ini-itu, dan sebagainya.

Membaca, Merenung, dan Menulis

Dengan kegiatan baru sebagai penjaga kios minuman dan mood menulis yang belum datang, saya mengisi waktu kosong selama menjaga kios dengan membaca buku. (Yah, sebenarnya waktu jadi pengangguran juga kerjaannya mbaca, doang, wkwk)

Namun, pada akhir tahun ini, buku-buku yang saya baca membuat saya merenung dan akhirnya menuangkan pemikiran tersebut ke dalam tulisan.

Selama pergantian tahun (dari 30 Des – 5 Januari) saya membaca dua buku Mbak Sinta Yudisia yang bagi saya bagus banget, yaitu Polaris Fukuoka dan Reem. Kedua buku ini berhasil bikin saya memikirkan kembali mimpi-mimpi lama ingin berkeliling dunia, ingin menuntut ilmu ke jenjang yang lebih tinggi, dan ingin menulis buku yang memberi manfaat kepada orang, seperti saya mendapat manfaat dari buku yang saya baca.

polaris-fukuoka

Rasanya senaaaang sekali membaca dua buku itu (walaupun isi bukunya tidak sepenuh mengangkat tema kebahagiaan), tetapi saya mendapat banyak pemikiran baru setelah membaca dua buku tersebut.

reem

Mudah-mudahan saya bisa segera meresensi dua buku itu, ya, di blog buku saya. Kepada Mbak Sinta, terima kasih banyak telah menulis novel-novel itu dan semoga akan terbit lagi buku-buku bagus lainnya dari Mbak Sinta.

Pelajaran dari Tahun 2019

Tahun 2019 adalah tahun yang… ehm, entahlah…, susah bagi saya menjelaskannya. Tahun pertama saya menganggur (lagi) dengan kondisi yang amat berbeda dengan kondisi menganggur setelah lulus kuliah dulu. Tentu saja banyak pelajaran yang saya dapatkan sepanjang tahun ini, tetapi ada dua hal yang ingin saya bagi di blog ini.

Yang pertama adalah, kita adalah apa yang ada di sekeliling kita.

Ini bukan hanya tentang orang-orang terdekat kita, orang tua, pasangan, saudara, teman, tetangga, dll. Ini juga tentang apa yang kita lihat, kita dengar, kita baca, kita ikuti (di dunia maya dan di dunia nyata).

Apa pun yang kita baca, kita lihat, dan kita ikuti, ternyata ikut membentuk pemikiran dan perbuatan kita. Saya menyadari hal ini setelah membuka kios minuman.

Saya pikir, apa yang membuat kami akhirnya berani melakukan hal yang sama sekali baru tahun ini (berbisnis/membuka usaha) salah satunya diawali dari membaca buku Aku Bukan Budak Gaji. Kemudian, berlanjut ke hal-hal lain, yang akhirnya membawa kami sampai pada titik, “Ya, ayo, kita lakukan ini.”

Saya tidak tahu, jika saya tidak membaca buku itu, apakah saya akan pernah berpikir untuk berbisnis, atau kalaupun terlintas pikiran untuk berbisnis, apakah saya akan benar-benar melakukannya. Entahlah.

Jadi, bagi saya amat penting mengelilingi diri kita dengan sesuatu yang membawa dampak baik untuk kita. Buku yang kita baca, akun media sosial yang kita ikuti, komunitas atau acara yang kita datangi, teman atau kerabat yang kita kunjungi, pasti ada bagian-bagian dari mereka yang ikut mempengaruhi keputusan-keputusan yang kita ambil. Ingin melakukan apa, ingin mencapai apa.

Satu lagi, jangan pernah menunda-nunda. Jangan!

Sederhana saja, saya menunda menulis beberapa draft tulisan untuk diposting di blog dan menunda memposting beberapa tulisan yang sudah rapi saat laptop belum dipinjam dan hp belum rusak. Saat segalanya sudah terjadi, duh, menyesal banget. Itu baru hal-hal sederhana nan remeh temeh, sekadar urusan blogging.

Dari dulu saya berupaya keras untuk memusnahkan rasa malas dan kebiasaan menunda-nunda, masih belum berhasil juga. Tetapi, sejak kejadian pergantian tahun yang membuat proyek akhir tahun saya lumayan buyar, saya bertekad akan berusaha lebih keras lagi untuk memusnahkan dua sifat buruk tersebut.

Mungkin itu dulu curhat dari saya di post pertama, pada tahun baru dan dekade baru. Terima kasih kepada yang telah membaca tulisan ini sampai akhir. Mudah-mudahan ada manfaat yang didapat. Kalau nggak ada, maafkan saya, hehehe.

Mudah-mudahan tahun ini bisa tetap setia menulis dan berinteraksi dengan kawan-kawan di blog.

My Journals through the Years

Assalamualaikum, apa kabar? Semoga selalu dalam keadaan sehat dan baik, ya.

Kali ini saya mau sharing lagi tentang jurnal. Mumpung menjelang akhir tahun juga, siapa tahu ada di antara teman-teman pembaca yang ingin memulai kebiasaan menulis jurnal karena banyak manfaat yang bisa didapatkan dari kebiasaan tersebut.

Continue reading

Monthly Journal; Desember 2019

magda-fou-421485-unsplash

Assalamualaikum, apa kabar? Semoga selalu sehat dan dalam keadaan baik, ya.

Akhirnya kita sampai pada pengujung tahun 2019 dan kembali lagi pada postingan Monthly Journal. Sebenarnya dari kemarin sudah ingin posting, tetapi karena satu dan lain hal, jadi baru bisa posting hari ini.

Bagi teman-teman yang baru melihat/membaca post Monthly Journal di blog ini, saya akan jelaskan lagi secara singkat apa sih Monthly Journal itu.

Continue reading