10 Jajanan Favorit (plus Resepnya!)

Musim hujan begini biasanya nafsu makan bertambah. Bawaannya pengen nyemil atau makan terus, hehehe… Entah karena efek dingin yang bikin lapar atau memang suka makan. Nah, kali ini saya mau berbagi 10 jajanan favorit saya.

1. Cilok

Di urutan pertama ada Cilok alias ‘Aci Dicolok’. Saya suka makanan ini sejak kuliah. Jadi, di ujung jalan keluar dari Stasiun UI itu ada tukang cilok yang biasa mangkal. Awalnya saya nggak pernah tertarik beli cilok. Eh, pas nyobain cilok di situ langsung ketagihan. Jadilah, saya sering jajan cilok di situ.

Ciloknya enak, ukurannya nggak terlalu besar, jadi satu bulatan sekali suap bisa masuk. Aci-nya berasa, nggak hambar, tingkat kekenyalannya juga pas. Terus di dalam cilok itu ada isinya, seperti tetelan daging ukuran mini. Nama di gerobaknya sih, Cilok Bryan.

Selain di jalan Stasiun UI, gerobak Cilok Bryan juga pernah saya lihat di belakang Depok Town Square. Kalau sekarang, saya kurang tahu apakah penjualnya masih ada karena sudah jarang pergi ke sana. Sampai saat ini saya sering beli cilok di berbagai tempat, tapi belum ada yang rasanya seenak cilok di ujung jalan kampus itu.

2. Cakwe

Kalau yang ini sih jajanan favorit sejak kecil. Nggak tahu pastinya sejak kapan, mengingat ibu saya suka banget sama cakwe. Saya dan adik-adik jadi ikutan suka juga. Walaupun enggak terlalu sering beli cakwe, sih. Biasanya beli cakwe kalau ada momen tertentu seperti baru gajian, wkwkwk. Karena satu keluarga suka cakwe, jadi beli cakwe nggak bisa sedikit, dan berpengaruh ke kondisi dompet juga, hahahaha. Jadi, kalau pas beli cakwe itu terasa istimewa banget.

Setelah nikah, saya mengenalkan jajanan cakwe ke suami. Ternyata dia belum pernah makan cakwe, dan pas nyobain nggak terlalu suka. Saya sampai heran sendiri, kok, bisa sih ada yang nggak suka cakwe.

3. Otak-Otak Bakar

Ini juga salah satu jajanan istimewa. Yang suka beliin ini budhe saya, belinya di Stasiun Jakarta Kota atau di Depok Lama. Entah tepatnya di mana saya kurang tahu. Yang jelas, kalau saya suka beli di Stasiun Pondok Cina atau dekat jembatan penyebrangan di Terminal Depok.

Otak-otak bakar juga salah satu jajanan yang suami saya baru cobain, lho (Duh, ke mana aja nih si bapak -___- )

Saya sih udah suka jajanan ini dari jaman baheula. Nikmat banget otak-otak dicocol ke sambel kacang. Apalagi kalau masih hangat.

4. Batagor

Dulu saya suka beli batagor saat masa sekolah. Enak, kenyang, dan murah. Saya suka banget sama kulit batagor yang garing kriuk itu. Namun, entah kenapa, sekarang jarang beli. Padahal banyak tukang batagor berkeliaran.

5. Siomay

 

 

Sebenernya siomay bukan makanan yang favorit banget sih (terus kenapa dimasukin ke list ini woiii!), Cuma di depan kantor ada tukang siomay yang rasa siomaynya enak banget. Dan karena nggak ada tukang jualan lagi selain dia, mau nggak mau saya sering beli siomay enak tapi mahal ini. Tukang siomaynya jualan pakai motor dan pajang banner bertulis ‘Siomay Gondrong’.

6. Kue Pancong

Kue pancong biasanya dijual di pasar atau di dekat pasar. Saya suka karena adonan kelapanya terasa gurih di lidah. Apalagi dimakan pagi-pagi pas masih hangat. Duh, enak banget!

7. Kue Ape

Ini juga biasanya ada di dekat pasar. Kue ape itu enak dimakan kalau nggak laper-laper banget tapi pengen nyemil makanan, karena nggak terlalu bikin kenyang. Saya sih suka banget sama pinggirannya yang garing. Kue ape harus dimakan cepet-cepet. Kalau kelamaan, biasanya pinggirannya jadi nggak garing lagi.

8. Lumpia Basah

Saya baru tahu jajanan ini pas kuliah. Pas iseng-iseng main ke Bogor, melihat gerobak bertuliskan Lumpia Basah. Saya hanya tahu lumpia biasa yang digoreng. Nah, bedanya lumpia basah dengan lumpia yang lain adalah kulit lumpianya nggak digoreng. Jadi, masih empuk-empuk gitu. Isiannya sih hampir sama dengan lumpia biasa.

Sejak pertama kali nyobain lumpia basah, saya jadi naksir dengan makanan ini. Sayang, di tempat saya jarang ada penjualnya. Oya, cara makan lumpia basah juga unik, yaitu dengan sumpit.

9. Kue Rangi

Ini jajanan masa kanak-kanak, sih. Dulu waktu tinggal di Depok sering ada tukang kue rangi lewat, dan Mbah saya suka beliin. Sekilas kue rangi mirip dengan kue pancong, tapi kue rangi lebih kasar teksturnya. Terus yang bikin makin mantap adalah taburang gula merah cair di atasnya. Enaaaak banget. Kue rangi juga lebih enak dimakan selagi hangat.

10. Pastel

Makanan ini biasanya muncul di arisan, pengajian, atau di tukang nasi uduk, hehehe. Saya senang banget kalau nemuin pastel di antara gorengan-gorengan lainnya. Apalagi kalau sambalnya sambal kacang. Lezaaat banget. Apalagi kalau isi pastelnya telur. Makin lezaaat….

Walaupun saya suka pastel, tapi saya nggak terlalu suka dengan pinggiran pastel yang garing dan meliuk-liuk itu, lho.

Nah, itulah 10 jajanan favorit saya. Sebenarnya masih banyak, sih. Saya suka martabak telur, risol, sate padang (eh, ini masuk jajanan nggak sih? Atau lauk?), bubur ayam, dll. Tapi kalau semua dicantumin takut bikin tambah laper. Jadi, 10 aja, deh.

Oiya, di setiap source pic yang saya cantumkan, itu menuju web pemilik foto sekaligus resep makanannya. Jadi, bisa sekalian dilihat, siapa tahu tertarik untuk bikin. Saya sendiri belum pernah mencoba membuat satu pun, hahahaha….

*postingan ini untuk blogging challenge ’10 favorite foods’ *

Merindu Dataran Tinggi Dieng

Pada Januari empat tahun lalu, saya berkesempatan untuk mengunjungi Dataran Tinggi Dieng bersama teman-teman kampus saya. Kami berada di Dieng selama dua hari satu malam, menginap di rumah saudara teman yang tinggal di sana. Saya lupa di daerah mana tepatnya rumah saudara teman saya itu. Pokoknya di daerah Wonosbo (ya, iyalah!)

Kami berangkat dari Depok sekitar pukul 5 sore. Tiba di Wonosobo sebelum Shubuh (sekitar pukul setengah 3 kalau nggak salah ingat, karena yang saya ingat adalah saya sempat tidur sambil menanti Shubuh, hehehe).

Setelah sarapan, kami memulai perjalanan menuju Danau Telaga Warna. Karena saat itu bulan Januari, perjalanan kami sering dihiasi dengan mendung dan hujan rintik-rintik.

img_8407

Kami lalu melanjutkan perjalanan ke Dieng Plateau Theater tempat kami menonton video tentang sejarah Dieng dan kekayaan alamnya.

img_8167
Setelah puas berfoto dan menikmati keindahan danau, kami melanjutkan perjalanan ke Candi Dieng.

IMG_8257.JPG

Karena nggak ada pemandu wisata atau orang yang paham dengan candi-candi, kami di sana lebih sibuk foto-foto. Terus dilanjut dengan makan siang.

IMG_8335.JPG

Setelah itu kami berkunjung ke danau lagi. Apa yah namanya, saya lupa. Hehehe…
Setelah puas jalan-jalan, kami kembali pulang. Malamnya, kami ramah-tamah dengan keluarga teman yang memberi kami penginapan.

IMG_8485.JPG

Hari kedua, kami pergi pagi-pagi sekali. Habis Shubuh langsung jalan demi melihat matahari terbit di gardu pandang. Rasanya menyenangkan sekaligus menyejukkan menikmati suasana pegunungan sebelum matahari muncul. Gelap, dingin, berangin, sepi.

IMG_8496.JPG
Setelah matahari terbit, kami melanjutkan petualangan kami ke kebun teh.

IMG_9129.JPG

Sebelum sibuk berlari-lari di antara semak-semak teh, kami mengunjungi pabrik teh untuk melihat proses pembuatan teh.

IMG_3053.JPG

IMG_9017.JPG

Setelah itu, bermain-main di Alun-Alun Wonosobo. Acara bermain-mainnya cukup lama, karena di sana kami mengadakan games dan kumpul-kumpul.

img_9176

img_9282

Lalu pulang ke tempat menginap, makan siang sekaligus ramah tamah, dan akhirnya bersiap untuk kembali ke Depok.

Sungguh 48 jam yang berlalu dengan begitu cepat dan menyenangkan. Rasanya belum puas dua hari di Dieng. Saya sendiri masih ingin menikmati dinginnya udara Dieng yang menggigit kulit.

Perjalanan ke Dieng ini merupakan salah satu perjalanan favorit saya. Mengingat saya bukan tipe orang yang suka pergi beramai-ramai, perjalanan ini adalah pengecualian. Mungkin karena saya pergi bersama teman-teman yang sudah lama saya kenal, dan sehari-hari di kampus saya berinteraksi dengan mereka. Jadi, perjalanan jauh seperti itu pun terasa nyaman bagi saya.

Dieng sendiri merupakan tempat yang sudah lama saya idamkan dikunjungi. Namun, keinginan itu sempat terlupa, hingga tiba-tiba menjelang akhir tahun 2012, teman saya mengusulkan untuk pergi ke Dieng. Rasanya nggak menyangka, akhirnya bisa menapak di Dataran Tinggi Dieng.

Kadang-kadang, saya merindukan perjalanan saya ke Dieng bersama teman-teman. Betapa saya ingin kembali ke sana lagi. Meskipun pasti tidaklah sama perjalanan pertama dan kedua.

Omong-omong, saat itu kami pergi ke Dieng bukan pada musim liburan. Jadi, puas banget rasanya pergi ke mana-mana, enggak banyak wisatawan lain.

Kadang, ketika saya merasa sedih, saya mengingat kembali perjalanan ke Dieng waktu itu. Kenangan itu, sedikit banyak menyemangati saya, bahwa apa pun yang terjadi, saya memiliki sesuatu yang indah, sebuah perjalanan yang begitu menyenangkan, yang tak akan terganti dengan apa pun. Dan pasti, saya akan memiliki banyak perjalanan yang indah dan menyenangkan seperti perjalanan ke Dieng yang sering saya rindukan.

img_9097

*Posting ini untuk blogging challenge – Best Trip*
** Mohon maaf fotonya kebanyakan muka kami-kami yang doyan narsis dan bukan pemandangan Dieng. Ada yang bisa menebak saya yang mana? Hehehe 😉 **