Melawan Rasa Takut Saat Menulis

hello october (3)

Ada saja ‘gangguan’ saat hendak menulis. Tidak ada ide, tidak ada waktu, tidak ada kemauan (alias malas atau merasa nggak mood), bahkan tidak ada keberanian.

Saat ini saya sedang mengalami apa yang saya sebut sebagai rasa takut saat menulis. Bukan berarti sebelumnya tidak pernah, tetapi kali ini perasaan takut itu jauh lebih besar sehingga membuat saya enggan menulis. Dan saya pun bertanya-tanya, kenapa rasa takut ini muncul di saat tulisan saya punya deadline yang pasti?

Yah, sebelumnya saya memang tidak tegas membuat tenggat waktu untuk diri sendiri. Hanya punya target; selesai menulis ini bulan ini, selesai menulis itu bulan itu.

Realitanya, itu hanya menjadi target yang disilang alias tidak terlaksana. Karena tidak tegas pada diri sendiri, pada target sendiri, deadline-deadline itu bisa molor sampai waktu yang tidak ditentukan.

Kali ini berbeda. Saya harus menyelesai sebuah novel dalam tenggat waktu yang sudah ditentukan. Kalau tidak, entahlah, saya belum tahu.

Berkaca dari apa yang pernah saya alami sebagai orang yang berurusan langsung dengan freelancer, sungguh menyebalkan jika pihak yang saya ajak kerja sama telat mengumpulkan pekerjaannya. Saya tidak mau menjadi freelancer yang seperti itu. Oleh karena itu, saya harus berusaha mengerjakan dan menyelesaikannya tepat waktu.

Masalahnya, rasa takut yang merajalela ini membuat saya kesulitan. Saya pun mencoba merenungkan (mencari tahu) apa yang menjadi penyebab rasa takut itu muncul dan apa yang bisa saya lakukan untuk mengatasinya.

Ternyata, penyebab rasa takut itu muncul karena saya tahu kali ini tulisan saya dicek langsung oleh editor beneran. Selama ini, tulisan-tulisan saya hanya dibaca oleh teman-teman terdekat saya, yang suka dan cukup kompeten di bidang penulisan. Karena mereka teman terdekat saya, tentu saja kritik dan saran yang mereka sampaikan sudah ‘disesuaikan’ dengan karakter saya.

Berbeda dengan editor sungguhan yang mengedepankan profesionalitas dan memiliki atar belakang ilmu editing yang mumpuni, bisa jadi naskah saya di matanya jelek sekali dan seharusnya tidak pernah ada, wkwk.

Atau, kalaupun naskah saya masih bisa diterima oleh editor, dengan berbagai perbaikan tentu saja, ternyata tidak banyak yang membaca cerita saya di website. Malah, pembaca merasa menyesal karena telah membuang waktu mereka untuk membaca tulisan saya yang nggak menarik.

Dua hal tersebutlah yang selalu menghantui saya dan membuat saya takut untuk menulis. Membuat saya merasa, ‘apa saya nggak usah menulis saja, ya?

Kenyataannya, itu baru pemikiran buruk. Negative thinking. Belum tentu terjadi, tetapi sudah merusak dengan membuat saya enggan menulis.

Padahal, siapa tahu tulisan saya cukup disukai. Siapa tahu tulisan saya menggambarkan perasaan seseorang sehingga dia merasa tidak sendiri lagi setelah membaca cerita saya. Siapa tahu ada yang terhibur dengan tulisan tersebut. Kemungkinan itu juga bisa terjadi, kan?

Akhirnya, saya  melakukan apa yang seharusnya saya lakukan. MENULIS.

Ya, tulis saja. Meskipun tulisan itu jelek dan terasa seperti sampah. Tuangkan seluruh kata-kata yang ada di kepala. Gerakkan jemari. Setiap rasa takut itu muncul, coba menulis lagi. Terus menulis sampai cerita itu selesai.

First draft is suck, but you can always edit it later.

Itu motto saya sekarang. Tulisan pertama pasti payah, tetapi lebih baik tulisan yang payah daripada tidak ada tulisan sama sekali. Kalau tidak ada tulisan sama sekali, apa yang bisa diperbaiki?

Akan ada masanya kita mengedit tulisan kita sendiri; mengecek saltik, tanda baca, dan ejaan; mengecek apakah kalimat itu efektif atau tidak; mengecek apakah adegan itu logis atau tidak; mengejek dialog itu terasa nyata atau tidak; mengecek deskripsi itu membosankan atau tidak.

Namun, sebelum cerita kita selesai, tulislah dulu semuanya sampai kita merasa itulah akhir cerita kita. Setelah itu, ambil napas sejenak, tenangkan diri beberapa waktu, lalu lihat kembali tulisan kita dengan mata yang lebih jeli.

Saat itu kita akan bersyukur karena kita telah menyelesaikan sebuah tulisan, sebuah cerita, sebuah novel, yang meskipun memalukan, tetapi kita memiliki kesempatan untuk memperbaikinya sebelum dilempar ke khalayak pembaca.

Selamat menulis!

Monthly Journal: Maret 2020

Assalamualaikum, apa kabar?

It’s March already. Cepet banget, ya? (Kalimat pembuka blog yang amat sangat klise)

beverage-computer-cup-1011327

Seperti biasa, kembali lagi ke postingan Monthly Journal yang selalu terbit tiap awal bulan demi mengisi kekosongan blog yang kadang nggak tahu mau diisi apaan, ujung-ujungnya curhat lageee.

Jadi, dua hari yang lalu sebenarnya saya sudah bikin post monthly journal, tetapi setelah dibaca lagi, hmm… kayaknya personal banget, deh. Ya sudah, simpan buat diri sendiri dan sekarang menulis lagi yang tetap personal, tetapi bisa dibaca teman-teman online, hahaha.

Oke, saya review dulu apa yang telah terjadi selama bulan Februari yang bertambah satu hari di tahun ini.

(Mengingat-ingat hal yang terjadi selama bulan Februari)

(Eh, ternyata nggak banyak yang terjadi)

Yah, ternyata memang nggak banyak hal ‘menakjubkan’ yang terjadi bulan kemarin, kecuali pelatihan menulis dari Storial yang sudah saya bahas di dua postingan sebelumnya.

Saya benar-benar bersyukur atas kesempatan tersebut. Selain mendapat ilmu baru, pengalaman baru, saya juga mendapat teman-teman baru sesama penulis yang tentunya lebih keren daripada saya. Selama ini, kan, saya kadang suka merasa sendirian di jalan penulis ini, apa lagi masih amatir dan orangnya minderan, jadi sering merasa inferior gitu.

Setelah pelatihan selama empat hari (yang dibagi menjadi seminggu sekali selama sebulan), tugas terakhir dan paling utama adalah menyelesaikan sebuah novel sampai akhir Maret. Jadi, kemungkinan besar, blog ini bakalan sepi lagi (entah kalau tiba-tiba kepikiran sebuah ide yang bisa menjadi blogpost, ya). Yang jelas, saya akan berusaha sekuat tenaga untuk menyelesaikan novel tersebut. Mohon doanya, ya. Kalau sudah selesai, akan tayang di website Storial.

IMG-20200225-WA0033

Bersama teman-teman peserta Storial Writer’s Bootcamp, editor, dan ‘petinggi’ Storial 😀

Tentang Perasaan ‘Tersesat’

Di bulan Februari juga saya lagi-lagi merasa ‘tersesat’ alias merasa nggak tahu mau ngapain, nggak tahu apa yang mau dituju, padahal jelas-jelas ada kerjaan. Entah kenapa ya, akhir-akhir ini kok sering merasa begitu? Rasanya kayak,

“I don’t know what I am doing now and I don’t know what I want!”

Kira-kira kenapa ya bisa muncul perasaan seperti itu? Ada yang tahukah?

Karena sejak resign (hiks), saya sering banget merasa begitu. Saya merasa bersalah karena merasakan hal itu (tentang merasa ‘tersesat’ dan nggak tahu mau ngapain), tetapi saya juga nggak tahu kenapa saya merasakan hal itu sehingga saya bingung bagaimana mengatasinya.

Alhasil… saya berusaha menenangkan diri dan buka-buka artikel di blog yang suka saya simpan. Sejak dulu saya, kan, banget nyimpen artikel-artikel hasil blogwalking yang saya sukai, tentang wellness, mindfulness, blogging, macam-macam.

Saya baca lagi artikel-artikel itu dan saya ‘nyangkut’ pada sebuah post tentang dreams alias mimpi. Setelah membaca artikel tersebut, saya merasa cukup tercerahkan. Dan saya mengambil kesimpulan sederhana tentang perasaan yang saya rasakan.

vil-son-35490

Tentang Mimpi

Saya mengizinkan diri saya untuk bermimpi. Saya mengizinkan diri saya untuk memikirkan segala hal yang saya inginkan dengan kepala dingin dan hati yang lebih tenang.

Saya bertanya kepada diri saya sendiri dengan baik-baik, “Apa sih yang sebenernya kamu inginkan? Sebenar-benarnya hal yang kamu inginkan, terlepas dari keinginan orang-orang di sekitar kamu?”

Tahu, kan, kadang apa yang kita inginkan itu suka tercampur baur dengan keinginan orang-orang terdekat kita (significant others), seperti orang tua, pasangan, sahabat, saudara, dll atau mungkin keinginan lingkungan dan gaya hidup di sekitar kita.

Kadang kita merasa sesuatu itu keinginan kita, padahal sebenarnya itu keinginan orang lain kepada diri kita, dan karena sudah telanjur tercampur, kita nggak tahu mana yang benar-benar keinginan kita, mana yang keinginan orang lain. Dan hal itu, bisa membuat kita merasa, “Apa yang sebenarnya aku kejar?”

Yah, ini sih kesimpulan dan analisa pribadi saya, ya. Saya merasa apa yang ada di dalam diri saya itu sudah banyak banget percampuran antara keinginan orang lain dan tuntutan lingkungan sehingga saya bahkan nggak bisa melihat dengan jelas mana yang keinginan murni dari saya sendiri.

Nah, pada momen tersebut, saya benar-benar berhati-hati bertanya kepada diri sendiri, “Apa yang kamu mau? Apa yang bikin kamu bekerja keras?”

Dan… jawabannya harus ditulis, ya.

Mungkin saya pernah bertanya hal seperti ini kepada diri sendiri, tetapi jawabannya cuma dipikirin di otak, nggak dicatat. Jadi lupa. Terus tercampur dengan punya orang lain.

Nah, seharusnya dicatat. Karena setelah menulis lalu membacanya lagi, saya merasakan sesuatu yang berbeda. “Oh, jadi ini yang sebenarnya saya inginkan!”

Saya mengizinkan diri saya untuk menginginkan hal-hal yang saya tulis, lalu saya meminta izin kepada Allah untuk mengabulkan apa yang saya inginkan. Rasanya jauh lebih lega.

Dan kalau saya lupa atau merasa ‘tersesat’ lagi (karena hal itu sangat mungkin terjadi), saya bisa membaca tulisan tersebut berulang-ulang sampai saya merasa yakin lagi dengan diri sendiri dan mimpi-mimpi saya.

gaelle-marcel-680430-unsplash

Tentang Buku Bacaan dan Menulis Resensi

Bulan Februari jumlah bacaan saya menurun dari bulan Januari. Itu pun lebih banyak baca buku puisi yang tipis-tipis dan cepat selesai. Dan genap dua bulan sudah, blog buku saya nggak diisi dengan resensi buku apa pun.

Hiks, mungkin efek dari merasa ‘tersesat’ itu atau memang malas aja, saya benar-benar nggak selera menulis resensi. Padahal, ada beberapa buku bagus yang rasanya sayang banget kalau nggak diresensi.

Akhirnya, selama bulan Januari dan Februari, saya hanya bikin daftar buku yang saya baca dan kesan saya terhadap buku tersebut. Ternyata, hasilnya di luar perkiraan. Saya malah lebih jujur dan terbuka tentang perasaan saya terhadap sebuah buku ketimbang menuliskannya dalam bentuk resensi yang siap diposting di blog.

Saya merasa lebih lepas, lebih bebas, lebih leluasa menulis apa pun yang saya pikirkan dan saya rasakan selama dan setelah membaca buku tersebut

Entah ya, apa mungkin karena selama ini ketika saya menulis resensi memakai mindset, tulisan ini bakal dipost di blog yang bisa dibaca oleh banyak orang termasuk penulisnya, saya selalu berusaha membuat resensi yang menarik dan tidak terlalu ‘jahat’ supaya tidak bikin penulisnya tersinggung atau malah ‘ngambek’ karena resensi tersebut.

Walaupun belum pernah mengalami langsung penulis yang ‘ngambek’ gara-gara resensi buku yang saya tulis, saya pernah membaca beberapa curhatan blogger buku yang mengalami hal tersebut. Biasanya sih ini terjadi kepada penulis yang sengaja memberikan bukunya kepada si blogger untuk diulas dengan harapan mendapat respon dan resensi positif. Walaupun para blogger juga menyebutkan kalau tidak semua penulis seperti itu.

Ya, tetapi, kan, kadang saya suka nggak enak sendiri. Lagi pula, siapa sih saya, bisa-bisanya menulis ‘kritik’ untuk novel, sedangkan saya nggak punya satu novel pun yang diterbitkan oleh penerbit mayor?

Jadi, ya, kalau ada hal-hal yang saya kurang suka, biasanya saya sampaikan dengan kalimat yang ‘halus’ atau kalau bukunya saya nggak suka sama sekali, mending saya nggak review daripada mencak-mencak di blog.

Balik lagi ke hiatus menulis resensi dua bulan, ternyata enak juga menulis lepas tanpa beban atau tanpa khawatir tulisan itu akan menyinggung pihak-pihak tertentu selama tulisan tersebut nggak dipublikasikan. Mungkin seharusnya saya lebih sering menulis dengan mode seperti ini untuk sekadar mengurai benang kusut di kepala, bukan demi konten blog. hahaha.

Kira-kira seperti itulah.

(Ternyata curhat saya panjang juga, padahal bilangnya nggak ada apa-apa di bulan Februari.)

Dan untuk bulan Maret, saya berharap semoga lebih banyak kebaikan yang terjadi di bulan ini. Bulan yang tepat untuk melakukan ‘pemanasan’ menjelang bulan Ramadhan yang tinggal menghitung hari lagi. Semoga kita semua disampaikan kepada bulan Ramadhan tahun ini. Aamiin.

Proses Menulis

hello october (3)

Assalamualaikum, apa kabar?

Terakhir kali posting awal Februari, sekarang sudah menjelang akhir Februari, dan blog saya masih sepi-sepi saja. Saya belum posting apa pun lagi karena saat ini sedang fokus menulis novel, tsaaah…

Karena kangen ngeblog, tetapi nggak tahu mau posting apa, saya mau berbagi tentang proses menulis yang selama ini saya jalani.

Remember, I’m not professional. Belum ada buku saya yang diterbitkan penerbit major atau dibaca jutaan kali di Wattpad (atau Storial karena saya menaruh tulisan-tulisan saya di situ). Ini sekadar sharing aja, siapa tahu ada yang masih bingung mau mulai menulis dari mana.

Langkah Pertama: Ketika Sebuah Ide Datang

Ide datang dari mana saja. Kadang dia muncul begitu saja tanpa diminta, kadang kita yang harus mencarinya. Seringkali, memang kita yang harus mencarinya. Saya pernah sharing tentang sumber ide cerita di sini.

Ketika sebuah ide datang, biasanya saya langsung menuliskannya di atas kertas. Kertas apa saja yang ada di depan mata. Lebih bagus lagi kalau memang pas di situ ada buku ide saya.

Kalaupun tidak ada kertas yang bisa ditulisi, saya mencatatatnya di notes handphone. Kalau nggak ada juga, ya sudah diingat-ingat terus sampai ketemu kertas, berharap nggak tiba-tiba lupa.

Ide yang datang biasanya masih ‘kasar’ sekali. Misalnya, ide cerita tentang perempuan yang patah hati karena ditinggal kekasihnya mati. Terus, habis itu apa? Nggak tahu. Pokoknya begitu aja yang kepikiran. Nah, dari sini lanjut ke langkah kedua.

Langkah Kedua: Mengkhayal

Saya sudah mendapat seorang tokoh, si perempuan patah hati itu. Tetapi, masih belum jelas, dia siapa, pekerjaannya apa, umurnya berapa, pertama kali ketemu kekasihnya kapan dan bagaimana, bagaimana si kekasih mati, dan lain-lain. Nah, dari situlah saya mulai mengkhayal.

Pilihan kata mengkhayal mungkin terdengar nggak serius, tetapi buat saya begitu. Kalau versi seriusnya, menyusun karakter tokoh. Membuat tokoh yang akan saya ceritakan menjadi tokoh yang unik, menarik, tetapi tetap believable, dan membuat pembaca peduli dengannya.

Di sinilah tantangannya, tetapi bagian ini juga yang paling menarik. Rasanya seperti melahirkan sosok baru dengan segala atribut yang kita tentukan sendiri.

Masih dalam proses mengkhayal, setelah tahu seperti apa tokoh yang akan menjadi penggerak cerita kita, berlanjut mengkhayalkan apa yang terjadi dengan si tokoh.

Apa yang berubah dari kehidupan si tokoh? Apa yang dia rasakan? Apa yang dia inginkan?

Apa yang menghalangi si tokoh untuk mendapatkan keinginannya? Bagaimana dia terus berusaha meraih apa yang dia inginkan? Apakah ada pihak-pihak lain yang membantu atau menghalangi usaha si tokoh?

Bagaimana akhirnya? Apakah dia berhasil mendapatkan apa keinginannya atau tidak?

Jika bisa menjawab semua pertanyaan itu dengan runut dan logis, Alhamdulillah, berarti saya sudah mendapat sebuah kerangka cerita, yang berarti bisa lanjut ke proses selanjutnya.

Bagaimana kalau belum? Tergantung mood sih, hahaha. Kadang saya nekat lanjut ke proses ketiga sambil dipikirin, kadang tetap bertahan di langkah kedua sampai merasa mantap.

entrepreneur-593378_1280

Langkah Ketiga: Mula Menulis

Sudah ada tokoh, sudah ada kerangka cerita atau plot, ya tinggal tulis. Kadang kalimat pertama terasa sulit. Kadang kalimat pertama terasa mudah, tetapi di tengah-tengah terengah-engah, nggak tahu mau menulis apa.

Proses ini adalah proses yang paling panjang, paling berat, dan paling banyak godaan. Seringkali buntu, seringkali nggak mau lanjut lagi karena merasa payah.

Saya pernah cerita tentang tantangan dalam menulis noveldan apa yang bisa dilakukan saat merasa buntu atau stuck atau istilah kerennya, writer’s block.

Apa pun yang terjadi, harus tetap menulis. Karena memang seperti itulah kalau ingin menjadi penulis, ya harus menulis.

Langkah Keempat: Swasunting

Swasunting alias self-editing alias revisi sendiri. Proses ini hanya boleh dilakukan jika cerita sudah benar-benar selesai. Kalau belum selesai sudah melakukan swasunting, bisa-bisa tulisan nggak selesai-selesai. Yah, tapi itu kembali lagi ke masing-masing penulis, sih.

Lebih baik lagi jika proses swasunting dikerjakan beberapa lama setelah menyelesaikan tulisan. Biar ada jeda dan kita bisa melihat tulisan kita dengan lebih ‘jernih’. Bisa juga setelah first reader kita membaca dan memberi masukan. First reader bisa siapa saja yang kita percaya, teman, saudara, pasangan, dll.

Setelah keempat proses terjadi, langkah terakhir tergantung seperti apa kita menginginkan nasib cerita tersebut.

Kalau yang sering terjadi pada saya, ya paling cuma diunggah di blog (dulu), diunggah di platform menulis online, atau tersimpan begitu saja di laptop. Sebaiknya dan sewajarnya memang dikirimkan ke penerbit atau semacam itu, tetapi saya sering nggak percaya diri dan akhirnya cerita saya tersimpan saja di laptop (kalau yang ini sebaiknya jangan ditiru).

Nah, kira-kira seperti itulah hal-hal saya lakukan saat menulis novel (untuk diri saya sendiri). Semoga bermanfaat. Happy writing!

Monthly Journal; Februari 2020

ina-soulis-227094

Assalamualaikum, apa kabar? Semoga selau dalam keadaan baik, ya.

Telat banget sih sebenarnya baru posting monthly journal sekarang. Biasanya kan awal bulan. Tetapi, karena laptop baru balik dan baru sempat juga buat menulis, ya sudah lanjut aja. Tadinya malah kepikiran untuk hiatus blogging dulu. Waduh, baru awal tahun sudah mau hiatus. Memang kenapa, sih?

Well, karena laptop sempat dipinjam, saya jadi agak malas untuk menulis apa pun, khususnya untuk blog, meskipun bisa dilakukan di tempat lain.

Bukankah WordPress punya aplikasi di Android yang memungkinkan penggunanya posting dari handphone?

Iya, tetapi saya bukan termasuk orang yang biasa menulis langsung di handphone. Pasti menulis di laptop dulu, kondisi offline. Setelah selesai, dibaca ulang, kadang diperam sehari (untuk tulisan blog, kalau tulisan fiksi bisa lebih lama), baru diposting di blog.

Dengan kondisi sambil jualan pula, saya tidak bisa menulis di sela-sela menunggu pelanggan. Sudah dicoba, tetapi ternyata nggak bisa. Saya tipikal orang yang kalau menulis itu (khususnya menulis di laptop) harus duduk rapi di meja belajar dan kondisi sekeliling sepi. Jadi, ya selama bulan Januari nggak menghasilkan tulisan apa pun, kecuali corat-coret di buku tulis.

Selama bulan Januari, saya menghabiskan waktu menunggu pelanggan sambil membaca buku. Lumayan banyak juga, total ada 22 buku yang saya. Namun, satu pun belum ada yang saya tulis resensinya. Begitulah.

Nah, bulan Februari ini sepertinya saya harus lebih memaksakan diri untuk menulis. Pertama, karena sudah tidak bisa pakai alasan laptop dipinjam. Kedua, saya sedang mengikuti pelatihan menulis novel dari Storial.co. Mohon doanya mudah-mudahan saya bisa menggarap novel tersebut dengan baik dan tepat waktu.

Selain itu apa lagi? Hmmm… bulan Februari ini banyak yang menikah, ya?

Sejak akhir Januari sampai pertengahan Februari nanti, jadwal akhir pekan saya sudah full untuk menghadiri undangan pernikahan. Apalagi tanggal 2 Februari kemarin bertepatan dengan tanggal cantik, 02-02-2020. Orang-orang berbondong-bondong mengadakan momen penting, khususnya pernikahan pada hari tersebut sampai para penghulu pun full booked. Padahal, pada tanggal secantik apa pun, yang ingat tanggal pernikahan mereka ya cuma pasangan itu saja. Iya, nggak? Hehehe….

Baiklah, postingan kali ini singkat saja dan mungkin tidak ada faedahnya sama sekali. Saya Cuma kangen ngeblog aja. Mudah-mudahan pada kesempatan berikutnya bisa memposting tulisan yang bermanfaat.
Selamat menikmati bulan Februari.