Stay Focus and Positive Thinking

stay-focus-positive-thinking.jpg

Assalamualaikum, apa kabar?

Alhamdulillah, sudah masuk pertengahan bulan Januari. Bagaimana dengan target dan rencana-rencana yang dibuat di awal tahun? Apakah ada yang sudah tercapai atau masih on progress?

Mudah-mudahan urusan dan rencana-rencana kebaikan kita dilancarkan oleh Allah SWT.

Setelah lima belas hari berlalu, ternyata menyenangkan juga tidak memiliki target atau resolusi yang ambisius seperti tahun-tahun lalu. Saya mencoba menjalani hari-hari dengan rileks, meski kadang nggak nyantai juga, sih. Terutama kalau ada jadwal harian yang terganggu karena urusan mendadak. Ya, tetapi mau bagaimana lagi, hanya berusaha untuk mendamaikan pikiran dan menjadwal ulang hal-hal yang tertunda.

Untuk bulan-bulan pertama tahun ini, Insya Allah, saya ingin fokus ke pekerjaan dulu. Dan itu berimbas pada blog (terutama blog buku) yang sepertinya akan jarang tayang. Tahun lalu, saya merasa bersalah karena jarang posting resensi buku. Padahal punya target, minimal seminggu sekali posting. Sekarang, saya menargetkan minimal sebulan sekali posting. Mudah-mudahan itu tidak terlalu memberatkan dan tidak membuat saya merasa bersalah.

Selain itu, saya juga mengganti kebiasaan membaca buku. Jika dulu membaca buku, di waktu-waktu nyempil, seperti di bus, saat istirahat kantor, atau saat menunggu mesin cuci menggiling, hehehe. Sekarang saya sengaja mengalokasikan waktu khusus untuk membaca buku, yaitu sore akhir pekan.

reading-book-thought-catalog.jpg

Saya pikir, daripada membaca sedikit-sedikit, sering nggak konsen pula, karena membaca di sela-sela mengerjakan sesuatu, lebih baik sengaja meluangkan waktu untuk membaca. Sejam tapi fokus. Membaca buku saja. Alhamdulillah, sudah mempraktikkan, dan hasilnya dua minggu ini saya berhasil membaca tiga buku. Satu buku di minggu pertama, dua buku di minggu kedua.

Ternyata, membuat dan menjaga diri kita tetap fokus itu enak juga. Lumayan mengurangi kecemasan, kepusingan, dan perasaan bersalah karena nggak bisa melakukan banyak hal.

Minggu ini juga, saya belajar tentang positive thinking dari seorang pengemudi ojek online. Kebetulan, istri si pengemudi ini mengalami hal yang sama dengan saya. Malah dibilang dokternya mandul. Kalau saya sih nggak sampai dibilang begitu, cuma kurang subur, hehehe. Tetapi, suaminya (si pengemudi ojek online ini) selalu mengingatkannya untuk positive thinking dan yakin kalau dia bisa hamil. Alhamdulillah, dengan pengobatan dan terus positive thinking akhirnya mereka dikaruniai anak. Sekarang malah sudah dua.

Tentang positive thinking ini, bukan hanya diterapkan untuk ikhtiar memiliki momongan saja. Tetapi pada semua hal yang kita jalani, terutama hal-hal yang baik, ya. Bukan yang nggak bener. Meskipun positive thinking nggak menjamin apa yang kita inginkan terkabul (karena itu ada di tangan Allah SWT), setidaknya mengurangi kecemasan, stress, dan hal-hal yang merepotkan diri kita. Positive thinking juga mencegah kita jadi orang rese dan nyebelin, karena pikiran kita dipenuhi hal-hal baik.

Mudah-mudahan kita semua bisa menerapkan positive thinking di kehidupan sehari-hari.

Bagaimana dengan hari-harimu? Apakah selalu diwarnai dengan positive thinking juga?

Advertisements

Stop Feeling Guilty about Yourself

stop-feeling-guilty-about-yourself

Di akhir tahun 2017 kemarin, saya mulai belajar untuk tidak selalu merasa bersalah atas apa yang tidak bisa saya lakukan. Setidaknya, hal-hal yang tidak bisa saya lakukan dalam satu waktu.

Akhir pekan panjang pada bulan Desember kemarin, kami gunakan untuk mencoba staycation di The Sahira Hotel Bogor. Saya sempat terpikir (dan merasa bersalah), apakah staycation ini termasuk aktivitas buang-buang uang atau bukan. Mengingat harga menginap semalam di hotel tersebut lumayan mahal bagi kantong kami. Namun, kami (suami sih lebih tepatnya, hehe) memang sudah menyisihkan uang dari gaji bulanan untuk liburan akhir tahun. Jadi, memang sudah ada budgetnya.

Tadinya, budget itu mau digunakan untuk berlibur ke luar kota, karena saya memang ingin sekali ‘escape’ ke suatu tempat yang jauh. Sayangnya, jadwal libur dari kantor masing-masing tidak sejalan. Sementara suami libur panjang seminggu penuh, saya hanya libur di akhir pekan. Selain itu, mempertimbangkan kondisi jalan dan tempat-tempat wisata yang kemungkinan besar penuh, kami mengurungkan niat berlibur ke luar kota atau ke tempat-tempat wisata dalam kota. Terpikirlah ide staycation itu.

Alhamdulilah, suami mendukung ide staycation tersebut. Saya pun segera mencari-cari info hotel dekat Bogor yang bagus tetapi tetap ramah kantong. Menemukan review bagus tentang The Sahira Hotel dan tanpa pikir panjang langsung booking di sana.

Kembali ke topik ‘feeling guilty’ alias merasa bersalah, awalnya saya tidak terlalu yakin dengan ide staycation ini. Saya takut kami melakukan hal sia-sia. Kalau dipikir-pikir, ngapain sih pakai nginep di hotel segala. Wong nggak ke mana-mana juga, nggak pergi ke luar kota yang memang butuh tempat untuk bermalam. Toh, di sana juga cuma diam di kamar, sesekali jalan-jalan keluar, dan makan di restorannya.

Tetapi, setelah menjalaninya, staycation yang kami jalani tidak sekadar pindah tempat tidur. Ternyata ganti suasana memang bisa menyegarkan pikiran. Meskipun fasilitas dan pemandangan di hotel tidak se-wow hotel bintang lima, tetapi untuk sekadar penyegaran lumayanlah. We had a great quality time there. Pulang dari staycation, kami membawa oleh-oleh semangat baru dan rencana-rencana untuk tahun 2018 dan tahun-tahun ke depan.

tumblr_ot0rdcFGGq1v7z7sqo1_540.jpg.png

Pada akhir pekan selanjutnya, yakni libur tahun baru, saya hanya libur dua hari. Waktu yang singkat itu saya gunakan untuk melakukan hal yang sudah lama saya ingin lakukan tetapi selalu tertunda, yaitu decluttering.

Dua hari itu, saya habiskan dengan merapikan barang-barang di rumah, memilah dan memilih barang yang layak disimpan dan bisa dibuang. Intinya, mempratekkan Metode Konmari. Padahal di saat yang sama, ada acara keluarga yang berlangsung. Di hari pertama liburan, ada acara keluarga dari keluarga ibu saya. Sementara di hari kedua, adik ipar saya pindah rumah.

Awalnya, saya merasa bersalah karena tidak bisa menghadiri dua acara tersebut. Tetapi setelah saya pikir-pikir lagi, kalau begitu terus, kapan saya melakukan decluttering yang selalu saya tunda ini? Saya tidak bisa melakukannya di hari bekerja. Di akhir pekan biasa pun (bukan akhir pekan panjang) sering tidak terlaksana.

Pada saat itulah, saya akhirnya menerima kalau saya tidak bisa melakukan semuanya dalam satu waktu. Saya harus memilih dan saya tidak perlu merasa bersalah atas pilihan saya.

Dulu, apa pun pilihan saya, selalu saja saya merasa bersalah. Kalau saya memilih keluar rumah, saya merasa bersalah karena meninggalkan pekerjaan rumah yang menanti. Begitu juga sebaliknya, kalau saya memilih tetap di rumah dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan itu, saya tetap merasa bersalah karena tidak bisa menghadiri suatu acara atau pertemuan.

Saya ingin menyetop kebiasaan itu. Alhamdulillah, momen libur panjang akhir pekan itu adalah permulaan saya.

Mulai saat ini saya berjanji dalam hati untuk tidak selalu merasa bersalah atas apa yang tidak bisa saya lakukan. Mulai saat ini saya berjanji untuk tidak merasa bersalah atas pilihan saya yang telah putuskan melalui pertimbangan panjang. Karena bagaimanapun, kita memang wajib berusaha keras, tetapi perlu diingat juga, kita memiliki keterbatasan. Yang penting adalah mengusahakan yang terbaik yang kita mampu.

Bagaimana denganmu? Apakah sering merasa bersalah juga seperti saya? Bagaimana cara mengatasinya?