Author's Note

Diary Maret 2022

Setelah kupikir-pikir, sepertinya aku memang perlu menulis jurnal bulanan di blog ini supaya ketahuan aku ngapain aja di bulan tersebut.

Dulu, waktu masih kerja, aku rajin bikin post bulanan dengan judul Monthly Journal. Tetapi, setelah resign dan terjadi hal-hal yang membuatku ingin menghilang dari dunia (baik nyata maupun maya), post Monthly Journal pun aku hapus dari blog ini, berikut tag-nya.

Apakah aku akan pakai frasa Monthly Journal lagi atau ganti menjadi Diary seperti post ini, dan apakah tulisan- tulisan itu akan kuhapus seperti dulu atau tidak, itu urusan nanti. Yang penting sekarang tulis dulu dan aku punya back-up-nya.

Lanjut ya, bulan Maret ini aku hanya sedikit membaca buku. Itu pun buku bergambar yang halamannya tipis. Judul-judulnya bisa kamu lihat di blog bukuku, ratihcahaya.blogspot.com.

Bulan ini aku agak malas membaca buku setelah anakku sakit campak. Bubar jalan sudah rencana untuk rutin membaca setiap hari. Setelah anakku sembuh, jadi malas baca buku. Kalaupun baca, gonta-ganti dan nggak ada yang selesai.

Gantinya, aku blogwalking. Baca-baca tulisan orang lain. Resensi buku, resensi film, curhat, dan sejenisnya. Aku menemukan sebuah blog yang pemiliknya membaca dua ratus buku dalam setahun. Dua ratus!!

Dan bukan hanya membaca buku, dia juga menonton puluhan film. Aku sampai berpikir, ini orang kecepatan membacanya berapa ya? Dan bagaimana dia membagi waktu dengan aktivitas dia yang lain?

Kalau yang dia tampilkan di blog, dia seorang pendaki gunung dan punya kegiatan-kegiatan lain (yang tidak disebutkan secara jelas dan detail). Yang jelas, sepertinya bukan yang hanya duduk di rumah membaca buku atau editor yang pekerjaannya memang membaca buku.

Hmm…, entahlah. Waktu aku jadi pengangguran saja, jumlah buku yang kubaca nggak sampai dua ratus dalam setahun. Padahal, aku di rumah saja. Jadi malu.

Aku juga masih nonton Youtube bertema journaling. Walaupun belum banyak praktek. Tapi aku suka melihat orang-orang mengisi jurnal mereka.

Aku juga mulai rajin menulis resensi buku lagi. Aku ingin kembali aktif mengisi blog bukuku seperti dulu. Aku juga mengecek tulisan-tulisan lamaku, memperbaiki dan memperbarui apa yang perlu. Semoga semangat ini tidak redup, ya.

Bulan ini nggak menonton film apa-apa. Seperti yang kubilang, aku sudah bosan nonton drama Korea. Mau nonton film romcom lagi, tapi tak ada akses juga. Yasudah, terima nasib.

Sabtu kemarin aku habis vaksin booster Astra Zeneca dan aku tepar. Demam tinggi, seluruh badan nyeri, mual, sakit kepala. Rasanya jauh lebih sakit ketimbang waktu aku sakit Covid beneran. Huh.

Salahku yang kegeeran, merasa bisa menghadapi vaksin booster ini. Ternyata tepar juga. Sabtu siang vaksin, sore dan magrib masih baik-baik saja, sempat jalan-jalan ke hypermart juga. Malam setelah Isya tubuh mendadak pegal-pegal, suhu tubuh perlahan naik.

Sampai Senin aku masih rutin minum paracetamol. Hari Selasa baru keadaan badanku kembali fit. Dan sekarang hari Rabu, aku bisa menuliskannya di sini.




Sebagai penutup, aku melampirkan foto-foto yang kuambil di hypermart, yang membuatku ingin belajar mengambil foto dan video yang baik dan menarik.

Author's Note

To all the books I’ll never read

Jadi, tadi aku habis buka folder Book Wish List. Isinya adalah foto-foto buku yang mau aku baca dan/atau aku miliki. Asal fotonya bisa dari berbagai sumber.

Aku dapet ‘racun’ buku itu dari Instagram karena sepertiga orang yang aku follow itu akun bookstagram, sisanya teman dekat, beberapa akun penerbit, dll. Selain itu, aku juga punya second account yang isinya khusus follow akun bookstagram luar neger. Wkwkw. Makin banyak aja kan, dapet racun bukunya. 😅

Biasanya kalau ada post buku yang menarik tuh langsung aku skrinsyut. Terus habis itu (pas lagi rajin, maksudnya) aku pindahin ke folder book wish list.

Selain Instagram, aku juga dapat racun buku dari hasil blogwalking dan Goodreads. Sama aja sih, kalau ada buku yang menarik pasti buru-buru aku skrinsyut. Makanya folder skrinsyut aku tuh penuh banget. (Eh, kapan-kapan mau bahas khusus tentang skrinsyut ah, 😁).

Oiya, baru inget, aplikasi Ipusnas dan Google Play Book juga turut menambah panjang daftar book wish list aku. Belum lagi buku-buku yang sudah kubaca yang bikin aku penasaran dengan buku lainnya. (Buku dari penulis yang sama atau buku yang disebutkan di buku yang baru dibaca tadi.)

Terus, pas tadi aku lihat-lihat folder book wishlist, dari sekian banyak buku yang menarik itu, baru segelintir aja yang sudah kubaca. Padahal, setiap hari, rasanya buku yang menarik untuk dibaca itu semakin banyak.

Aku jadi berpikir, nggak mungkin aku baca semua buku-buku ini. Apalagi tanggung jawab dan tugas aku bertambah setelah menjadi ibu. Rasanya bisa membaca dengan tenang (apalagi sambil menyeruput teh hangat dan mengudap camilan manis) itu sebuah kemewahan banget.

Memang, sejak tahun 2021, aku sudah memutuskan untuk lebih selektif lagi dalam membaca buku. Aku nggak lagi memaksakan diri untuk menamatkan suatu buku kalau menurutku buku itu nggak seru.

Aku juga merasa harus memaksakan diri aku untuk membaca sesuatu yang benar-benar bermanfaat buat aku atau sesuatu yang benar-benar aku nikmati. Kalau enggak, ya mending baca buku lain, karena masih banyak banget pilihannya.

Jadilah, aku mulai memilih dan memilah, foto-foto buku yang sepertinya nggak akan sempat kubaca. Lalu aku hapus. Agak sedih sih, tapi aku ingat, masih ada begitu banyak buku. Aku mau folder book wish list nggak terlalu banyak, biar aku fokus mau baca yang mana dan benar-benar aku baca bukunya. (Nggak sekadar nimbun foto.)

So, to all the books I’ll never read, I’m very sorry, dear. You maybe interesting, but I just have a little time in this short life. I wish you met someone who loves you so much and treat you like a treasure. Because, I believe every book has its own reader. 😊





Author's Note

Film Romantis Favorit

Dulu, di blog yang satu lagi, aku pernah bikin post tentang film romantis favoritku. Post tersebut aku hapus karena blognya ingin diubah khusus jadi blog buku. Itu syarat dari Blogger Buku Indonesia (BBI) yang sekarang entah bagaimana kabarnya (entah mati suri atau mati selamanya).

Aku lupa apakah aku memindahkan post tersebut ke blog ini atau tidak. Atau mungkin pernah tapi sudah dihapus. Entahlah.

Continue reading “Film Romantis Favorit”
Author's Note

Diary February 2022

Ya, sekarang sudah bulan Maret, sih. Tetapi aku bingung mau bikin judul apa. Karena memang belum jelas juga mau bicara tentang apa.

Banyak sekali hal yang terjadi di bulan Februari yang ingin aku komentari. Mulai dari angka positif Covid yang merangkak naik (keluargaku positif Covid semua pertengajan Februari, alhamdulillah sekarang sudah sembuh).

Lalu ada kelangkaan minyak, ada ucapan menteri agama yang mengundang kontroversi, dari mancanegara ada Ukraina vs Rusia, balik lagi ke lokal, yang baru-baru ini terjadi, Puncak Bogor macet belasan jam.

Antara jari dan mulut, aku tak tahu siapa duluan yang ingin bergerak. Pokoknya di kepala ramai. “Harusnya begini… Masa sih begitu… Makanya kalau… Aku sih setuju aja asal…. “

Pada akhirnya, aku nggak melakukan apa pun. Bicara enggak, menulis (per tema yang aku sebutkan tadi) pun enggak. Entahlah. Antara apatis atau merasa nggak mumpuni di bidangnya, beda tipis.

Aku balik lagi ke diri sendiri. Aku mau lebih serius mendalami art journal. Selain membaca buku-buku tentang journaling, akujuga menonton Youtube tentang hal tersebut.

Belum mahir-mahir amat bikin halaman journal yang estetik nan memanjakan mata.

Aku masih mencoba mengasah kreativitasku yang tumpul ini dengan bikin kolase ala-ala art journal atau bikin kolase di Graphionica.

Yah, begitulah kira-kira bulan Februariku.

Author's Note

Aku Bertahan untuk Hal-Hal Kecil

Karena hal-hal besar bisa berjalan terus tanpaku.

Anakku bisa hidup tanpaku.

Pasanganku bisa hidup tanpaku.

Keluargaku bisa hidup tanpaku.

Jika aku pergi lebih dahulu, aku yakin mereka akan baik-baik saja.

Sebut aku egois, tetapi aku memang bertahan untuk diriku sendiri. Karena masih ada banyak hal yang ingin dan bisa kulakukan. Aku akan tetap bertahan sampai takdir itu sendiri yang menjemputku.

Dan sampai itu terjadi, aku tidak akan berhenti berharap. Suatu hari nanti kita akan bertemu lagi.

Aku tidak akan berhenti berharap, kita akan berpapasan di suatu tempat atau jalan.

Aku tidak akan berhenti berharap, kita akan bertukar sapa dan kabar lagi.

Aku tidak akan berhenti berharap, meski harapan sudah mati bosan kepadaku. Aku akan bertahan.