Author's Note

Refleksi Tahun 2022 dan Memasuki Tahun 2023

Ternyata rajin nge-blog masih menjadi wacana di tahun 2022. Padahal, udah bikin rencana yang kayaknya mudah banget dikerjain. Tiap bulan nulis update kehidupan sehari-hari. Tapi, tetep aja nggak full 12 bulan.

Baiklah, memasuki tahun baru, aku selalu mengawalinya dengan pertanyaan, “Apa yang sudah kulakukan di tahun sebelumnya?”

Jadi, apa yang kulakukan di tahun 2022?

Continue reading “Refleksi Tahun 2022 dan Memasuki Tahun 2023”
Advertisement
Author's Note

Diary Juni-Juli 2022


Aku baru ngeh kalau post diary bulanan terhenti di bulan Maret saat menulis kesanku menonton ulang Hanakimi.

Yah, kuakui 3 bulan ke belakang aku memang nggak ngeblog sama sekali. Baik di blog ini maupun di blog buku.

Gara-gara itu, aku jadi ingat untuk menulis diary bulanan. Niatku membuat post khusus tentang rekapan kehidupan selama sebulan sebenarnya agar aku tetap tergerak untuk ngeblog meskipun nggak tahu mau menulis apa.

Selain itu, aku juga ingin tetap mengingat hari-hariku (yang biasa-biasa saja) dan menjadikan catatan tersebut sebagai bahan evaluasi.

Nah, sudah cukup pemberitahuannya. Lanjut ke poin utama. Walaupun judulnya diary Juni-Juli, aku tetap menyertakan sedikit tentang kehidupanku selama bulan April-Mei 2022.

Diary April 2022

Bulan April tahun ini adalah bulan Ramadhan full. Ramadhan kedua yang aku jalani setelah menjadi ibu.

Ramadhan tahun lalu, anakku masih 2 bulan, dan aku masih begadang hampir setiap hari. Jadi rasanya berat banget.

Tahun ini, alhamdulillah dia sudah setahun. Sedang aktif dan eksploratif. Tapi sudah bisa diajak bekerja sama dalam hal tidur, jadi aku nggak perlu ngerasain tidur beberapa menit sebelum sahur.

Oiya, Ramadhan tahun ini lumayan sepi karena ada peraturan baru tentang membangunkan sahur. Yah, buatku sih itu lumayan menolong, karena aku memang nggak terlalu suka dengan segala sesuatu yang terlalu ribut.

Btw, sebenarnya hal ini pernah ingin aku bahas di blog. Tapi akhirnya aku urungkan karena aku merasa, ah yasudahlah. Pokoknya nggak jadi aja, hehehe.

Bulan April aku nggak baca buku fisik atau ebook di Ipusnas, melainkan membaca buku di aplikasi Cabaca. Lumayan okelah, aku berhasil menamatkan 4 buku dan beberapa bagian awal buku yg menurutku cukup menarik.

Diary Mei 2022

Akhir April, H-2 sebelum Lebaran, aku dan keluarga suamiku ke Lampung. Kebetulan ibu mertua berasal dari Lampung Barat, dan masih ada nenek suamiku di sana.

Aku menghabiskan seminggu penuh di kampung orang. Lalu dengan penuh sukacita kembali lagi ke rumahku. Tepat di saat baterai interaksi sosialku sudah mau habis. Bisa dibilang tinggal 5% lagi.

Seminggu berikutnya aku lalui dengan cukup berat karena anakku diare plus susah makan. Sebenernya selama di kampung orang pun dia susah makan dan ngiler terus.

Setelah tiba di rumah dan datang ke posyandu, menurut ibu-ibu posyandu, anakku susah makan karena sedang tumbuh gigi. Yah, memang ada beberapa gigi baru di mulutnya. Dan itu juga yang menyebabkan dia ngiler terus.

Oiya, seminggu sebelum Lebaran pun anakku sakit. Jadi, awalnya jidat dia benjol karena kejedot, terus luka. Lama-lama luka itu malah bertambah ke mana-mana, mirip seperti cacar.

Awalnya, aku dan suamiku masih memberi perawatan rumah seperti bedak dan sering-sering dibersihkan. Tapi karena nggak kunjung membaik, akhirnya kami ke dokter anak dan ternyata luka di jidat itu sudah terinfeksi bakteri.

Huft, punya anak itu memang benar-benar sesuatu banget yah. Intinya, selama seminggu sebelum Lebaran dan seminggu setelah Lebaran, fokusku cuma ngurus anak sakit aja.

Barulah setelah pertengahan Mei, kehidupanku kembali normal. Aku bisa membaca buku dengan tenang dan menamatkan trilogi yang kusukai, yaitu Gideon Trilogy karya Linda Buckley Archer. Mudah-mudahan bisa segera menulis dan memublikasikannya di blog buku.

Diary Juni 2022

Bulan Juni adalah bulan terbanyak aku membaca buku sejauh ini. Total buku yang kubaca sebanyak 22. Benar-benar angka yang sangat kontras dibandingkan bulan-bulan sebelumnya, hanya berkisar 4-6 buku sebulan. Salah satunya mungkin karena ponselku rusak.

Jadi, pada akhir Mei, ponselku jatuh dan membuatnya nggak bisa menerima daya walaupun dicharger. Aku bawa ke tempat servis dengan harapan umur ponselku masih bisa diperpanjang alih-alih beli ponsel baru.

Aku cukup optimis ponselku bisa bener lagi karena merasa masalahnya nggak terlalu berat. Dan awalnya si mas tukang servis pun bilang begitu. Cukup diganti IC apa gitu.

Eh, setelah aku balik lagi ke sana, dia malah bilang LCD ponselku rusak dan nggak bisa nyala. Padahal, sebelumnya LCD nggak kenapa-kenapa. Memang agak gremet-gremet dikit, tapi bukan yang parah banget. Karena kesal merasa diakal-akalin sama tukang servis, akhirnya kurelakan saja ponsel itu dengan harga 100ribu.

Pelajaran (pahit) yang kudapat tentang ponsel rusak. Daripada diperbaiki, lebih baik langsung jual saja. Kecuali kamu kenal baik dengan orang yang memperbaiki. Tapi, beneran deh, lebih baik lem biru aja 😅

Nah, efek ponsel rusak itu jadi ke mana-mana. Aku merasa hidupku lebih tenang sih, di beberapa sisi. Tapi di sisi lain, ada ribetnya juga, terutama komunikasi dengan suami & orang tua. Urusan titip beli barang/makanan sebelum pulang kerja dan semacamnya.

Jadi lebih tenang karena aku nggak buka media sosial termasuk Whatsapp. Aku juga nggak buka blog. Aku jadi bisa fokus membaca buku-buku fisik yang ada di rumah.

Pertengahan Juni, akhirnya dibelikan ponsel baru oleh suami. Alhamdulillah. Yah, walau bagaimanapun, ponsel sudah menjadi kebutuhan sekunder pada masa sekarang.

Bagiku pribadi, selain untuk komunikasi dan media sosial, ponsel itu sudah seperti mini laptop. Sekarang aku membaca dan menulis di ponsel. Karena semakin susah menggunakan laptop ketika punya balita. Yang ada baru nyalain sebentar, sudah pengen dipencet-pencet sama bocil.

Kalau ponsel lebih fleksibel. Menulis dan membaca bisa dikerjakan di sela-sela rutinitas sehari-hari tanpa waktu booting yang lama dan bisa dilakukan dalam posisi apa saja.

Setelah punya ponsel baru, aku pasang kembali aplikasi ipusnas, dan itu jadi salah satu sebab aku bisa membaca banyak buku bulan ini. Sepanjang Januari-Mei aku memang nggak pasang Ipusnas, karena mau fokus membabat timbunan buku fisik di rumah.

Diary Juli 2022

Masih pertengahan Juli sih, tapi nggak apa-apa deh ditulis duluan. Nanti kalau ada hal menarik yang terjadi setelah tulisan ini dipost, akan ditulis di diary bulanan berikutnya.

Memasuki bulan Juli, aku merasa bosan membaca buku. Rasanya benar-benar nggak ingin membaca buku apa pun, bahkan buku yang tadinya pengen banget aku baca.

Aku pikir, mungkin itu karena bulan Juni aku benar-benar tergila-gila membaca sehingga aku mencapai titik burn out. Dan aku merasa nggak masalah juga sih, toh nanti juga aku bakal baca lagi.

Jadilah aku mencari selingan dengan menonton ulang Hanakimi dan Power Rangers di Youtube. Selain itu, aku juga menonton beberapa video di Youtube. Salah satunya yang sedang aku gemari adalah channel Nebokgom. Channel tersebut berisi video pembuatan kue dan kegiatan menyiapkan makanan dan minuman di kafe Nebokgom.

Aku juga menonton potongan-potongan film di Facebook dari akun Netflix Indonesia dan akun-akun ringkasan film. You know-lah 😄

Pada bulan Juni-Juli juga aku mengunjungi beberapa tempat baru yang Insya Allah akan kuceritakan di postingan terpisah.

Baiklah, sudah sepanjang ini. Aku penasaran adakah yang membaca sampai kalimat ini. Jika ada, terima kasih ya. Mudah-mudahan mendapat sedikit manfaat dari cerita ngalor-ngidulku ini. Sampai jumpa di post berikutnya.

Author's Note

Menonton Ulang Drama Jepang ‘Hanakimi’

Bulan Juni kemarin aku cukup banyak membaca buku (thanks to Ipusnas, again) dan tiba-tiba saja aku jadi malas membaca apa pun. Yah, mungkin perlu rehat sejenak atau selingan.

Kemudian, aku teringat dengan drama Jepang yang pernah kutonton saat kelas 2 SMA yang berjudul Hanazakari no Kimitachi e yang biasa disingkat Hanakimi.

Dulu aku menonton drama itu dengan teman-teman sekelas IPS 2. Guru sejarahku yang memperkenalkan drama itu. Beliau membawa laptop dan proyektor, lalu kami menonton film itu di sela-sela pelajaran Sejarah.

Drama Hanakimi nggak ada hubungannya dengan pelajaran sejarah sama sekali. Memang guruku saja yang inisiatif membawakan film itu ke kelas. Dan beliau memang jadi guru favorit anak IPS karena asyik, santai, dan nggak terlalu memikirkan pelajaran.

Hanazakari no Kimitachi e bercerita tentang seorang gadis bernama Ashiya Mizuki yang berpura-pura sebagai remaja lelaki dan masuk ke sekolah asrama khusus putra demi membuat Sano Izumi lompat indah dan tersenyum lagi.

Diceritakan Sano Izumi adalah atlet lompat indah yang berhenti berkompetisi karena kecelakaan yang menimpa dirinya. Tanpa diketahui banyak orang, Ashiya Mizuki-lah yang menyebabkan kecelakaan itu. Itu sebabnya Ashiya bertekad untuk membuat Sano melompat lagi.

Menonton ulang drama ini memberikan rasa nostalgia yang besar kepadaku. Apalagi latar ceritanya adalah sekolah asrama, mirip dengan yang aku alami juga. Yah, walaupun ada banyak bedanya juga sih.

Ohsaka Gakuen adalah sekolah asrama khusus cowok yang terdiri dari tiga asrama. Asrama Satu adalah asrama para martial art atau siswa yang suka bela diri. Dipimpin oleh Tennouji. Asrama Dua adalah asrama atletik, dipimpin oleh Nanba Minami. Dan Asrama Tiga adalah asrama para pecinta seni, dipimpin oleh Oscar Himejima.

Ashiya masuk ke Asrama Dua setelah mengetahui kalau Sano ada di asrama tersebut. Bahkan, ia sekamar dengan Sano karena selama ini Sano memakai satu kamar untuk dirinya sendiri.

Bisa dibilang ini adalah drama komedi banget. Perilaku, tingkah, dan mimik wajah aktor-aktornya bener-bener komikal banget, kecuali Sano yang jadi cowok cool.

Dulu ataupun sekarang, menonton drama ini tetap membuatku tertawa di berbagai adegan lucu. Walaupun pada saat yang sama, aku juga menyadari beberapa hal yang sepertinya tidak kepikiran olehku pada tahun 2008.

Misalnya saja tentang Ashiya Mizuki yang pindah ke sekolah khusus cowok dengan mudah. Bahkan, kakak dan orangtuanya nggak tahu kalau sekolah yang dimasuki putrinya itu sekolah cowok. Lah kok bisa?

Terus, yang curiga kalau Ashiya cewek itu cuma dokter sekolah aja. Ya, di drama ini, Horikita Maki cukup baik memerankan karakter (yang pura-pura jadi) cowok walau tubuhnya jauh lebih mungil ketimbang aktor-aktor lain. Sedangkan murid-murid lain nggak ada yang curiga sama sekali.

Selain itu, selama 12 episode drama ini, gambaran aktivitas akademik alias belajar di kelas itu sedikit banget. Bahkan, guru yang kelihatan pun cuma satu. Perwakilan orang dewasa yang lebih sering muncul adalah Wakil Kepala Sekolah dan Dokter Umeda.

Selebihnya,kegiatan-kegiatan non akademik seperti lomba mencari harta karun, penampilan asrama, festival, dan lain sebagainya. Yah, bisa dibilang memang bagian itu sih yang seru.

Selama menonton juga aku teringat dengan berbagai kegiatan yang kulakukan bersama teman-temanku di asrama dulu. Ngobrol tanpa peduli volume suara, persaingan antar asrama, dan hal-hal menyenangkan lainnya.

Aku juga baru sadar kalau di Ohsaka Gakuen ini sepertinya nggak ada tingkatan kelasnya. Maksudnya, kemungkinan Ohsaka Gakuen ini setingkat SMA kalau di Indonesia, yang tentunya ada kelas 1, 2, dan 3. Nah, di drama ini, yang disorot cuma satu kelas yang isinya adalah gabungan murid-murid dari tiga asrama tadi.

Oiya, satu asrama itu isinya nggak banyak, sekitar sepuluh sampai belasan. Jadi, kalau digabung sekelas, ya satu kelas isinya tiga puluhan lebih lah.

Entah memang sistem sekolah di Jepang seperti itu atau murni memang untuk kepentingan drama yah. Yang jelas, aku baru sadar sekarang dengan beberapa hal ‘ganjil’ tersebut.

Dan satu lagi sih, kok ya bisa-bisanya dulu aku melewatkan kegantengan Shun Oguri? Hahahaha, beneran deh. Kok bisa baru sadar sekarang kalau dia ganteng. Dulu pas nonton aku lihat dia nggak sih?

Padahal dulu masih muda lho. Sekarang sudah tua (yaiyalah). Maksudnya, why why why, aku bisa melewatkannya sebegitu rupa? Apa dulu aku terlalu fokus kepada yang pergi meninggalkanku tanpa sempat kuucapkan sepatah kata pun?

Well, apa pun itu, aku tetep suka drama ini. Dan bagi siapa pun yang butuh menertawakan hal konyol, menonton drama ini bisa jadi pilihan.

Satu hal lagi, aku nggak tahu ya apakah berbeda antara sekolah asrama dan sekolah biasa (karena sepanjang SMP dan SMA aku di asrama) mengenai persahabatan. Yang jelas, yang kurasakan adalah persahabatan yang terjalin di asrama itu bener-bener kuat dan raw.

Kamu tahu bagus-jeleknya temen kamu, kamu berantem sama mereka, tapi kamu juga berbagi banyak hal sama mereka. Sedih, susah, galau, pusing, bahagia, senang, kamu rasain bareng mereka. Dan bertahun-tahun kemudian, saat jarak memisahkan kalian, kalian tetep deket, tetep akrab sama seperti dulu.

Ya, sedikit banyak, hal tersebut tergambar jugalah di drama ini. Intinya, nonton ajalah bagi yang belum nonton. Kalau sudah, nonton lagi seperti aku.

Author's Note

Diary Maret 2022

Setelah kupikir-pikir, sepertinya aku memang perlu menulis jurnal bulanan di blog ini supaya ketahuan aku ngapain aja di bulan tersebut.

Dulu, waktu masih kerja, aku rajin bikin post bulanan dengan judul Monthly Journal. Tetapi, setelah resign dan terjadi hal-hal yang membuatku ingin menghilang dari dunia (baik nyata maupun maya), post Monthly Journal pun aku hapus dari blog ini, berikut tag-nya.

Apakah aku akan pakai frasa Monthly Journal lagi atau ganti menjadi Diary seperti post ini, dan apakah tulisan- tulisan itu akan kuhapus seperti dulu atau tidak, itu urusan nanti. Yang penting sekarang tulis dulu dan aku punya back-up-nya.

Lanjut ya, bulan Maret ini aku hanya sedikit membaca buku. Itu pun buku bergambar yang halamannya tipis. Judul-judulnya bisa kamu lihat di blog bukuku, ratihcahaya.blogspot.com.

Bulan ini aku agak malas membaca buku setelah anakku sakit campak. Bubar jalan sudah rencana untuk rutin membaca setiap hari. Setelah anakku sembuh, jadi malas baca buku. Kalaupun baca, gonta-ganti dan nggak ada yang selesai.

Gantinya, aku blogwalking. Baca-baca tulisan orang lain. Resensi buku, resensi film, curhat, dan sejenisnya. Aku menemukan sebuah blog yang pemiliknya membaca dua ratus buku dalam setahun. Dua ratus!!

Dan bukan hanya membaca buku, dia juga menonton puluhan film. Aku sampai berpikir, ini orang kecepatan membacanya berapa ya? Dan bagaimana dia membagi waktu dengan aktivitas dia yang lain?

Kalau yang dia tampilkan di blog, dia seorang pendaki gunung dan punya kegiatan-kegiatan lain (yang tidak disebutkan secara jelas dan detail). Yang jelas, sepertinya bukan yang hanya duduk di rumah membaca buku atau editor yang pekerjaannya memang membaca buku.

Hmm…, entahlah. Waktu aku jadi pengangguran saja, jumlah buku yang kubaca nggak sampai dua ratus dalam setahun. Padahal, aku di rumah saja. Jadi malu.

Aku juga masih nonton Youtube bertema journaling. Walaupun belum banyak praktek. Tapi aku suka melihat orang-orang mengisi jurnal mereka.

Aku juga mulai rajin menulis resensi buku lagi. Aku ingin kembali aktif mengisi blog bukuku seperti dulu. Aku juga mengecek tulisan-tulisan lamaku, memperbaiki dan memperbarui apa yang perlu. Semoga semangat ini tidak redup, ya.

Bulan ini nggak menonton film apa-apa. Seperti yang kubilang, aku sudah bosan nonton drama Korea. Mau nonton film romcom lagi, tapi tak ada akses juga. Yasudah, terima nasib.

Sabtu kemarin aku habis vaksin booster Astra Zeneca dan aku tepar. Demam tinggi, seluruh badan nyeri, mual, sakit kepala. Rasanya jauh lebih sakit ketimbang waktu aku sakit Covid beneran. Huh.

Salahku yang kegeeran, merasa bisa menghadapi vaksin booster ini. Ternyata tepar juga. Sabtu siang vaksin, sore dan magrib masih baik-baik saja, sempat jalan-jalan ke hypermart juga. Malam setelah Isya tubuh mendadak pegal-pegal, suhu tubuh perlahan naik.

Sampai Senin aku masih rutin minum paracetamol. Hari Selasa baru keadaan badanku kembali fit. Dan sekarang hari Rabu, aku bisa menuliskannya di sini.




Sebagai penutup, aku melampirkan foto-foto yang kuambil di hypermart, yang membuatku ingin belajar mengambil foto dan video yang baik dan menarik.