Menikmati Masa Kini dengan Mindfulness

Sehari-hari, pernahkah kita terbayang-bayang masa lalu? Misalnya berpikir begini, “Enak ya, dulu, waktu masih sekolah. Nggak mikir ini, nggak mikir itu. Persoalan paling berat mungkin cuma soal Matematika atau Fisika.” Atau mungkin juga terbayang masa kuliah, yang bebas ke sana kemari. Lalu merasa semakin ke sini, hidup semakin rumit saja.

Saya sering merasa begitu. Ketika sedang stress atau merasa nggak nyaman dengan kondisi sekarang, saya sering terbayang masa lalu. Masa yang nggak akan pernah kembali meskipun kita mengenangnya ribuan kali.

Saya juga termasuk orang yang cukup sering mengkhawatirkan masa depan. Nanti kalau begini, gimana. Nanti kalau begitu, gimana. Rasanya hidup nggak tenang banget. Melakukan ini-itu karena ingin esok hari terjamin. Padahal tidak ada yang bisa menjamin kita masih hidup di hari esok kecuali atas kehendak-Nya.

Sebenarnya mempersiapkan hari esok atau masa depan tidak ada salahnya juga, sih. Hanya saja, kalau terlalu mengkhawatirkan hingga tidak bisa menikmati masa kini, rasanya sayang juga. Hari-hari berlalu untuk merindukan hal yang tak mungkin terulang dan meresahkan hari-hari yang belum pasti terjadi.

Lalu saya membaca buku karya Adjie Silarus berjudul Sadar Penuh Hadir Utuh. Dari buku tersebutlah saya tergerak untuk menikmati masa kini. Adjie sendiri menggunakan istilah mindfulness di dalam bukunya.

sadar-penuh-hadir-utuh

Apa itu mindfulness? Mindfulness adalah memerhatikan dengan cara tertentu: bertujuan, di sini, saat ini, tanpa melakukan penilaian. Sementara itu, yang saya tangkap tentang mindfulness adalah menyadari keadaan sekitar atau menyadari keadaan diri secara utuh dan penuh kesadaran dan menikmatinya dengan ikhlas.

mindfulness-juliet-adams.jpg

Mindfulness termasuk konsep yang baru saya dengar. Selama ini saya tidak terpikirkan dengan hal semacam itu. Apalagi dengan kebiasaan otak saya yang selalu ada saja yang dipikirkan. Mulai dari khayalan-khayalan nggak jelas (biasanya karena habis nonton film atau baca novel), sampai masalah-masalah yang belum tentu terjadi, tapi saya khawatir terjadi, dan saya merasa harus mempersiapkan diri untuk menghadapi masalah tersebut. Aneh banget, kan?

Yah, begitulah. Makanya saya merasa terdorong banget untuk berlatih mindfulness. Supaya hari-hari nggak habis hanya untuk mengenang masa lalu dan mencemaskan masa depan. Supaya saya bisa lebih relaks menjalani hari, menikmati masa kini.

Di dalam bukunya, Adjie mencantumkan beberapa manfaat berlatih mindfulness.

1. Menentukan tujuan

“Menetapkan tujuan sebelum memulai sesuatu itu penting dan membantu kita dalam perjalanan. Saat menemui tantangan di tengah perjalanan, kita dapat mengingat tujuan kita di awal. Dengan begitu, motivasi terus terjaga untuk melanjutkan perjalanan.”

2. Menentukan prioritas

“Berani memutuskan untuk tidak melakukan hal-hal yang kita anggap tidak penting dapat membebaskan diri kita. Kita menjadi belajar untuk menghargai hidup dan tidak ada lagi beban pikiran di malam hari karena belum menyelesaikan ini dan itu.”

3. Mengubah kesepian menjadi kedamaian

“Kesepian tidak sama dengan kesendirian. Rasa sepi bisa muncul pada siapa saja yang merasa bahwa kebutuhan sosialnya yang paling mendasar akan dukungan dan penerimaan dari lingkungan tidak terpenuhi.”

Mungkin itu kali ya yang disebut Ari Lasso, “Di dalam keramaian aku masih merasa sepi….” Hehehe.

Dengan mindfulness, kita belajar untuk tidak melawan rasa sepi yang kita rasakan. Bisa dibilang, kita malah diajak untuk menikmati rasa sepi tersebut, dan menganggapnya sebagai sesuatu yang tak terhindarkan dari kehidupan manusia.

4. Memperbaiki perasaan bersalah

“Rasa bersalah bisa menimbulkan ketidakberdayaan ketika kita tidak tahu harus berbuat apa untuk memperbaiki aki dari kesalahan kita. Jika dibiarkan berlarut-larut, perasaan ini akan menyebabkan kebencian pada diri sendiri.”

“Dengan mindfulness, kita tidak lagi menggunakan pikiran kita sebagai alat untuk menghukum diri dengan rasa bersalah. Kita jadi lebih bisa menyadari bahwa diri kita yang sekarang tidak sama dengan diri kita di masa lalu.”

5. Menekan Stres

“Apa pun yang kita lakukan dan betapa pun keras kita berusaha, serta betapa keren diri kita, dalam perjalanan hidup, kita akan selalu menemui masalah yang tidak bisa kita sangkal begitu saja.

Melatih diri sadar penuh-hadir utuh (mindfulness)-akan membantu kita meletakkan masalah yang kita hadapi dalam sudut pandang yang bijaksana melalui pemahaman yang lebih baik.”

6. Memunculkan ketenangan

Mungkin sehari-hari kita melalui dengan rutinitas yang sibuk dan seolah selalu berkejaran dengan waktu. Melupakan kebutuhan kita untuk menenangkan diri dan pikiran dari hidup yang ramai.

“Luangkanlah waktu meski sejenak untuk melatih ketenangan diri. Mungkin kamu tidak sontak meraih impianmu, tetapi berjalan menuju ke sana dengan penuh rasa syukur dan kegembiraan.”

manfaat-mindfulness.jpg

Salah satu cara menenangkan diri dari Adjie yakni berlatih “menghitung napas”. Setiap kali merasa lelah, resah, stress, atau lainnya, cobalah untuk menghitung setiap kali kita menarik dan mengembuskan napas.

Saya akhirnya mencoba menerapkan latihan menghitung napas ini. Lumayan sih, memang cukup berpengaruh untuk mengurangi tingkat keresahan atau rasa stress. Tapi bukan berarti masalahnya selesai begitu saja. Masalahnya mungkin masih ada, tapi ada sedikit ketenangan yang timbul di hati, dan membuat saya merasa nggak terburu-buru memutuskan sesuatu.

latihan-mindfulness.jpg

Well, buku Sadar Penuh Hadir Utuh menurut saya sangat bagus. Meskipun tema bahasannya agak meloncat-loncat, tetapi membaca buku ini, saya merasa seperti diingatkan untuk tetap tenang, tetap tenang, jangan terburu-buru melakukan atau memutuskan sesuatu. Saya seperti diingatkan untuk menikmati setiap detik yang saya lewati. Karena kita hidup di masa ini, di masa kini, maka nikmatilah.

Kalau penasaran dengan isi bukunya, bisa lho mampir ke situs http://www.adjiesilarus.com Di situsnya, Adjie memberikan ebook gratis dengan hanya berlangganan email list-nya. Saya sendiri sudah berniat akan membaca dua bukunya yang lain, yaitu Love Out Loud dan Happy Breathing to You.

Selamat berlatih mindfulness. Selama menikmati masa kini.

5 Pelajaran dari Buku Awe-Inspiring-Me

Sekitar tiga hari lalu, saya baru saja menyelesaikan buku Awe-Inspiring-Me karya Dewi Nur Aisyah. Pada awalnya saya merasa kurang tertarik membaca buku tersebut karena mengira buku tersebut untuk perempuan-perempuan usia SMA atau kuliah. Tetapi saya juga penasaran karena banyak yang bilang buku tersebut bagus, ditambah dengan sosok Mbak Dewi yang cukup terkenal dengan tulisan-tulisannya di blog. Akhirnya saya memutuskan membaca buku Awe-Inspiring-Me milik perpustakaan kantor.

awe-inspiring-me-dewi (1).jpg

Secara keseluruhan, buku ini membahas tentang bagaimana seorang muslimah menjadi sosok yang shalihah dan menginspirasi. Awe-Inspiring-Me membahas beberapa hal, mulai dari pemakaian hijab yang tidak menjadi penghalang muslimah berprestasi hingga bagaimana seorang muslimah mengelola perasaan cintanya.

Dari buku setebal 231 halaman ini, saya menggarisbawahi lima hal yang menurut saya penting untuk diingat.

1. Niat: Apa pun yang kita lakukan, niatkan semua untuk Allah. Hanya untuk Allah.

Jangan lupa untuk selalu memperbarui niat, karena dalam perjalanan, akan ada saja hal-hal yang membuat niat kita bergeser. Jika itu terjadi, kembali luruskan niat.

Membahas soal niat, ternyata niat sangat mempengaruhi apa yang kita rencanakan dan kita perbuat. Misalnya, jika kita merencanakan untuk menghafal Al-Qur’an, tetapi di tengah jalan, kita belum juga tergerak untuk menghafal Al-Qur’an, atau ada saja hal yang membuat kita menunda menghafal Al-Qur’an, bisa jadi ada yang keliru dengan niat kita menghafal Al-Qur’an.

Jika kita melakukan sesuatu, apa pun itu, karena Allah, kita tidak akan merasa lelah, kecewa, malas, dan perasaan-perasaan buruk lainnya.

Bagi saya, ini sebuah pengingat yang sangat menusuk hati. Jujur saja, saya sering merasa lelah memasak, lelah membereskan rumah dll, malas bekerja, malas ini-itu. Ternyata setelah diingat-ingat, mungkin selama ini saya melakukan itu bukan karena Allah. Bukan karena ingin mendapat keridhaan Allah, bukan diniatkan sebagai amal ibadah untuk Allah.

Jadi, jangan lupa untuk selalu memperbarui niat kita, ya.

2. Fokus: Pilihlah satu bidang/keahlian untuk didalami. Boleh tertarik mempelajari banyak hal, tetapi tetap harus ada satu hal yang menjadi fokus kita.

Ini juga nasihat yang cukup menyindir saya. Saya ini termasuk orang yang nggak fokus. Ingin begini, ingin begitu, ingin ini, ingin itu. Ingin menulis cerpen, tetapi juga ingin bisa menggambar. Ingin pandai memasak, tetapi juga ingin bisa berkebun. Banyak keinginan malah membuat saya bingung, ditambah waktu yang terbatas, yang malah membuat saya tidak melakukan satu pun.

Jadi, fokuslah pada satu bidang ilmu atau keahlian. Hal ini juga akan memudahkan kita dalam merancang target hidup dan sebagainya.

3. Lifeplan: Membuat lifeplan atau rancangan hidup yang detil. Di buku, Mbak Dewi menjelaskan dengan urut disertai form yang bisa kita isi untuk membuat lifeplan.

Saya sendiri sebetulnya sudah mencoba membuat lifeplan sejak masa SMA. Alhamdulillah, ada beberapa yang terkabul. Namun, seiring berjalannya waktu, lifeplan saat SMA itu tidak terlalu sesuai lagi bagi saya. Saya lalu membuat ulang lifeplan di tahun 2015. Memang tidak sedetil yang diarahkan Mbak Dewi, tapi lumayanlah untuk pegangan saya.

Eh, lifeplan itu buyar seketika di tahun 2016. Banyak hal berubah, banyak hal terjadi. Sampai saat ini saya belum punya lifeplan terbaru yang rinci tertulis di atas kertas. Mungkin saya harus berpikir untuk membuat lifeplan lagi, dengan tambahan plan A, plan B, mungkin sampai C. Bagaimanapun saya termasuk orang yang suka berpikir terlalu jauh dan sering memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi.

4. Jangan Menuhankan Ikhtiar: Berusaha adalah sebuah keharusan, tetapi hasilnya tetap di tangan Allah. Selama ini kita sering menganggap, kita sudah berusaha keras, seharusnya kita mendapatkan apa yang kita inginkan. Dan jika kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, kita merasa tidak terima. Padahal, segalanya yang terbaik untuk kita hanya Allah yang tahu. Meskipun mungkin apa yang kita inginkan belum tentu yang terbaik bagi Allah, Insya Allah segala usaha yang pernah kita lakukan tidak akan sia-sia.

5. Cinta-Takut-Harap: Mencintai Allah dengan mematuhi semua perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya. Merasa takut dengan adzab Allah. Merasa selalu diawasi Allah. Hanya berharap kepada Allah. Hanya bergantung kepada Allah.

Saat sampai di bagian terakhir, saya sempat merasa ingin melewatinya saja, karena berbicara tentang perasaan. Saya pikir, ‘Ah, sudahlah, sudah lewat masa itu, mah.’
Eh, tetapi tetap saya baca juga, karena tanggung sudah mau selesai. Ternyata meskipun bagi saya sudah lewat, nasihat yang diberikan tetap membuat saya terenyuh. Baper kalau kata ABG sekarang.

Nasihat itu mengingatkan para muslimah untuk menjaga perasaannya. Jika memiliki perasaan suka kepada lawan jenis, janganlah mengumbarnya ke mana-mana. Cukup diri ini dan Allah yang tahu. Ini karena betapa mulianya izzah (harga diri) seorang muslimah.

awe-inspiring-me-dewi (3).jpg

Mungkin itu saja yang bisa saya sampaikan. Awalnya saya agak bingung ingin meletakkan tulisan ini di sini atau di blog buku. Tetapi karena saya pikir ini tidak bisa disebut sebagai resensi, ditambah adanya sedikit curhatan dari saya, saya meletakkan tulisan ini di sini.

Saya merasa beruntung dan bersyukur karena akhirnya memberi kesempatan pada diri saya untuk membaca Awe-Inspiring-Me. Meskipun mengangkat tema-tema umum, yang banyak dibahas di berbagai artikel atau buku lainnya, membaca tulisan-tulisan Mbak Dewi seperti diingatkan kembali oleh seorang sahabat karib.

awe-inspiring-me-dewi (2)

Selamat membaca. Semoga bermanfaat.