7 Hal yang Harus Dilakukan oleh Pekerja Lepas (Freelancer)

7-hal-yang-harus-dilakukan-oleh-pekerja-lepas

Saat ini profesi pekerja lepas alias freelancer mungkin lebih banyak diminati ketimbang pekerja penuh waktu di kantor. Selain karena memang sudah passion di bidang tersebut, juga karena lebih leluasa mengatur waktu dan pekerjaan. Tidak terikat harus bekerja dari jam 9-5, tidak harus berangkat ke kantor setiap hari, dan bisa diselingi dengan pekerjaan sambilan lainnya.

Meskipun tidak ada bos yang mengawasi, tidak ada aturan kantor yang harus dipatuhi, menjadi pekerja lepas juga tidak bisa seenaknya sesuka hati. Tetap ada hal-hal yang harus dilakukan supaya menjadi freelancer yang terus banjir tawaran, dihargai klien, tetapi tetap bisa menikmati hidup. Apa saja hal-hal tersebut

  • Jujur dan Terus Terang

Jujur kepada diri sendiri dan klien mengenai kesanggupan diri atas pekerjaan yang kita ambil. Kalau merasa yakin bisa mengerjakan pekerjaan/proyek yang ditawarkan, ya ambil tawaran tersebut. Jika masih kurang yakin (karena satu atau lain hal) sebaiknya mengatakan hal yang sebenarnya kepada klien sehingga klien tidak merasa diberi harapan palsu.

  • Menyampaikan Keinginannya dengan Cara yang Sopan dan Jelas

Hal ini semata-mata agar tidak terjadi kesalahpahaman atau setidaknya meminimalisasi hal tersebut. Apa saja yang perlu disampaikan dengan sopan dan jelas? Apa pun yang berhubungan dengan pekerjaan kita, termasuk fee, teknis pekerjaan, dan hal-hal lain. Pokoknya, apa pun yang bersangkutan dengan pekerjaan tersebut, coba diskusikan dengan klien. Supaya kedua belah pihak sama-sama tahu, sama-sama mengerti, dan sama-sama menjalankan hak dan kewajibannya, tanpa ada pihak yang merasa berat sebelah.

  • Bertanggung jawab

Dalam hal ini berarti tidak mangkir dari pekerjaan yang sudah diambil. Jika pun ada hal-hal yang terjadi di luar dugaan dan di luar kuasa kita sebagai freelancer dan hal itu berpengaruh kepada pekerjaan yang sedang kita kerjakan, sebaiknya langsung mengabari klien untuk mendiskusikan dan mencari jalan tengahnya.

Jangan sampai kita kabur dan menghilang tanpa alasan yang jelas. Tahu-tahu muncul hanya untuk bilang, “Maaf Pak/Bu, sepertinya saya tidak bisa mengerjakan pekerjaan ini karena bla bla bla,” terus pergi begitu saja. Big no no!

  • Disiplin

Alias mengerjakan pekerjaan sesuai tenggat waktu. Hal ini sepertinya masih sering diabaikan oleh para freelancer. Padahal, seperti kata Mbak Puty, kumpulkan saja pekerjaanmu sesuai waktu yang telah ditentukan, toh nanti bakal direvisi juga.

Intinya sih, jika klien memberi tenggat waktu pada pekerjaan tersebut, berarti pekerjaan kita itu ‘bersentuhan’ dengan pekerjaan lain yang juga memiliki tenggat waktu. Jika terjadi keterlambatan, pasti akan mempengaruhi pekerjaan yang lain. Nggak mau kan, kesembronoan dan ketidakmampuan kita mengatur waktu ‘merusak’ proses kerja orang lain?

Oleh karena itu, usahakanlah sekeras mungkin untuk mengerjakan pekerjaan kita tepat waktu. Kalaupun memang ada alasan yang dapat diterima akal sehat (bukan dibuat-buat) yang membuat kita tidak bisa mengumpulkan pekerjaan kita tepat waktu, segeralah memberi kabar kepada klien sebagai bentuk tanggung jawab kita.

  • Tak Bosan Menuntut Ilmu

Teruslah memperdalam atau mempeluas ilmu yang berhubungan dengan pekerjaan kita. Bekerja dengan berbagai macam klien bisa jadi salah satu pintu pembelajaran. Pengalaman kita pun jadi semakin banyak, kemampuan kita juga semakin terlatih. Jangan mudah putus asa ketika belum bisa melakukan sesuatu. Terus belajar, tidak apa-apa pelan-pelan, yang penting sungguh-sungguh. Semakin ahli atau semakin banyak hal yang bisa kita lakukan, semakin banyak juga tawaran yang bisa kita ambil. Iya, kan?

  • Professional

Berusahalah untuk selalu bersikap professional meskipun bekerja dari rumah atau dari kafe. Saat bekerja, tinggalkan sejenak urusan-urusan yang bersifat pribadi untuk fokus melakukan pekerjaan. Berusahalah untuk tidak drama dan baper jika ada kritik atau saran dari klien. Kalau memang ada tanggapan atau permintaan dari klien yang terlalu ‘melenceng’ dari bidang pekerjaaan kita, sampaikan dengan jelas kepada pihak yang bersangkutan supaya klien pun tahu dan mengerti kekeliruannya.

  • Pamer Karya

Zaman sekarang sudah begitu mudah untuk ‘memamerkan’ keahlian kita. Tinggal pilih mau ‘pamer’ di Facebook, Instagram, Blog, Youtube, atau situs-situs yang khusus menyajikan keahlian tertentu. Jangan ragu untuk memamerkan karya atau keahlian kita di sana. Mengapa? Ya, supaya lebih banyak lagi orang yang tahu kemampuan kita dan akhirnya banyak juga yang mau bekerja sama dengan kita. Iya, kan?

Jangan lupa juga untuk bergabung dengan komunitas yang berhubungan dengan pekerjaan kita sebagai freelancer. Biasanya di komunitas tersebut banyak info-info, sharing pengalaman, ilmu, keterampilan, dan bisa menambah teman yang senasib sepenanggungan.

Itulah tujuh hal yang seharusnya dilakukan oleh pekerja lepas alias freelancer yang menginginkan masa depan yang lebih baik. 🙂

Memang saat saya menulis ini, saya bukan di posisi freelancer, melainkan sebagai klien yang cukup banyak berhubungan dengan freelancer. Namun, saya merasa butuh menulis tujuh hal ini untuk mengingatkan diri saya sendiri (ya, siapa tahu nanti jadi freelancer juga, kan?) dan untuk teman-teman yang ingin atau sudah menjadi freelancer. Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat. Terima kasih telah mampir membaca.

P.S. Jika penasaran ingin membaca hal serupa tulisan ini tapi dari sisi freelancer-nya, mungkin bisa intip postingan Mbak Puty yang tadi saya kutip.

Advertisements

7 Macam Isi Jurnal Harian yang Praktis

7-macam-isi-jurnal-praktis (8)

Assalamualaikum, apa kabar?

Apakah kamu termasuk orang yang suka menulis jurnal harian? Kalau saya, iya. Tetapi jurnal harian ala saya, hehehe.

Zaman sekarang, pasti banyak artikel atau blog yang mengulas jurnal khususnya bullet journal, termasuk cara membuatnya, manfaatnya, sampai bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat bullet journal.

Di postingan ini saya tidak akan membahas bullet journal secara spesifik, tetapi jurnal harian secara umum saja. Mengapa? Karena jujur saja, saya pun tidak memiliki bullet journal dan sampai sekarang masih merasa ribet dengan segala macam model bullet journal yang tersebar di dunia maya.

Prinsip utama dalam journaling adalah tidak ada ketentuan baku yang harus diikuti. Meskipun banyak sekali pilihan model bullet journal, itu semua cuma pilihan yang boleh kita pilih atau tidak. Termasuk hal-hal yang akan saya sampaikan di sini juga boleh dipakai atau tidak, itu terserah masing-masing. Saya yakin, setiap orang yang berbagi tentang model jurnal hanya ingin menginspirasi teman-teman lain yang masih clueless mau melakukan apa dengan jurnalnya.

Saya sendiri termasuk orang yang tidak terlalu mahir dalam handlettering, tidak bisa bikin doodling, dan selalu nggak kepikiran untuk membuat hiasan-hiasan lucu di dalam jurnal.

Jurnal saya adalah jurnal yang amat sederhana, biasa saja, apa adanya, sangat jauh dibanding dengan jurnal-jurnal lucu, cantik, dan artsy yang terpampang di Tumblr, Pinterest, Instagram, dan blog.

Bagi teman-teman yang mungkin sejenis dengan saya ((sejenis)), yang nggak suka ribet tetapi tetap ingin punya jurnal dan rajin mengisinya, mungkin bisa mencoba isi jurnal ala saya.

1. Monthly Plan

Di awal tahun, saya biasa membuat Monthly Plan alias rencana bulanan. Dalam satu lembar/halaman saya buat 12 kotak yang diberi nama tiap bulan. Sengaja kotaknya tidak terlalu besar, karena saya biasanya hanya mencantumkan target besar/utama di bulan tersebut.

7-macam-isi-jurnal-praktis (6).jpg

2. Books I Bought

Karena saya suka banget beli buku, daftar ini wajib ada di jurnal saya. Saya merasa harus punya data buku-buku apa saja yang sudah saya beli dalam setahun. Saya membuat daftar pembelian buku per bulan, jadi saya dapat dengan mudah melihat, rata-rata belanja buku saya per bulan berapa.

Untuk list ini sengaja saya tidak membuat tabel, tapi hanya list menurun ke bawah, karena saya tidak pernah bisa memprediksi jumlah buku yang saya beli setiap bulan. (Ketahuan banget deh suka kalap beli buku, hehehe).

7-macam-isi-jurnal-praktis (2).jpg

 

3. Books I Read

Memang sudah ada Goodreads yang menyimpan data buku yang telah saya baca, tetapi rasanya kurang lengkap gitu kalau nggak ada list tertulis di atas kertas, hahaha. Lagi pula, kadang saya baca buku yang belum terdaftar di Goodreads. Jadi, biasanya daftar inilah yang lebih lengkap dan lebih akurat menunjukkan buku-buku yang telah saya baca. Bentuk daftar ini sama dengan daftar Books I Bought, karena lagi-lagi, saya tidak bisa memprediksi berapa buku yang saya tiap bulan.

Exif_JPEG_420

4. Movies I Watched

Selain membaca buku, saya juga gemar menonton film. Entah kenapa, saya ingin memiliki daftar yang berisi film-film yang saya tonton. Saya juga membuat daftarnya seperti Books I Bought dan Books I Read. Khusus film, saya juga memberi rating bintang di samping judul film yang saya tonton untuk mengingat film tersebut saya sukai atau tidak.

7-macam-isi-jurnal-praktis (3).jpg

5. Weekly Plan

Di awal bulan, saya biasa membuat weekly plan. Ini seperti turunan atau rincian dari Monthly Plan. Bentuknya agak berbeda dengan Monthly Plan. Biasanya saya membuat seperti kalender bulanan gitu, lalu menulis rencana per minggu di tiap barisnya. Kurang lebih seperti ini bentuknya.

7-macam-isi-jurnal-praktis (5).jpg

6. Mutabaah Yaumiyah

Mutabaah Yaumiyah itu semacam tabel amalan harian yang membuat kita tetap ingat untuk melakukan amalan-amalan tersebut. Isinya boleh macam-macam, tergantung kita masing-masing, yang penting berhubungan dengan amal ibadah sehari-hari, seperti membaca Al-Qur’an, shalat sunnah, sedekah, shaum sunnah, shalat malam, infaq, dzikir, dsb. Dengan memiliki mutabaah yaumiyah (dan mengisinya setiap hari) kita jadi tahu apa saja yang sudah kita kerjakan di hari itu dan apa yang perlu diperbaiki/ditambah lagi untuk hari esok.

7-macam-isi-jurnal-praktis (7).jpg

7. Tabel Harian

Berbeda sedikit dengan Mutabaah Yaumiyah dan tabel-tabel plan lainnya, Tabel Harian berisi aktivitas sehari-hari yang telah terjadi, bukan rencana atau target. Saya membuat tabel ini supaya ingat apa saja yang sudah saya lakukan, apakah hari itu produktif atau tidak. Tabel ini juga berguna saat saya lupa kapan saya pergi ke suatu tempat atau kapan saya melakukan sesuatu, saya bisa langsung mengeceknya di tabel ini.

Tidak semua aktivitas seharian ditulis di tabel ini. Saya mengisinya dengan aktivitas yang menguras waktu atau jarang terjadi. Misalnya begini, saya tidak menulis ‘kerja’ di Tabel Harian karena hampir setiap hari saya kerja. Saya juga tidak menulis apa saja yang saya lakukan di kantor karena blok waktu dari jam 8 pagi hingga jam 5 sore di hari kerja adalah untuk kerjaan dan tidak masuk ke jurnal harian saya.

Jadi, biasanya saya menulis apa yang saya lakukan selepas kerja, misalnya memasak, mencuci, atau pergi ke toko buku, dsb. Berbeda di hari Sabtu atau Minggu, biasanya aktivitas yang saya isi lebih banyak karena kegiatan akhir pekan yang satu dengan yang lain kadang berbeda.

Kurang lebih seperti ini bentuknya. Di setiap pojok kanan kotak ada tanggal, di samping kanan tabel ada bulan dan tahun.

7-macam-isi-jurnal-praktis (4).jpg

Jadi, itulah tujuh macam isi jurnal sederhana ala saya. Selain tujuh hal tersebut, saya juga suka menulis kutipan yang baru temukan di dalam jurnal, menempel gambar atau kalimat inspiratif di dalam jurnal, atau menulis ulang tips, kiat, atau info yang baru saya baca dan saya anggap bagus saya baca ulang suatu waktu nanti.

Tentu saja saya selalu suka dan ingin punya jurnal-cantik nan artsy seperti yang banyak beredar di internet. Tetapi lagi-lagi, saya sering malas atau bingung mau melakukan apa untuk jurnal saya agar bisa secantik milik orang lain. Ujung-ujungnya, balik lagi ke mode awal, jurnal yang sangat sederhana. Meskipun begitu, saya tetap suka dengan jurnal saya dan sampai saat ini masih terus menulis jurnal dan mengambil manfaat darinya.

Bagaimana dengan kamu, apakah menulis jurnal juga? Menurutmu, apa yang seru dari kegiatan journaling?