September and October

photo-1433968097330-0c002102fb79.jpg

Assalamualaikum, apa kabar?

Alhamdulillah, sudah masuk bulan Oktober ya. I won’t say much about September ago because, yah, let bygones be bygones. At least, ada beberapa hal yang menyenangkan yang terjadi di bulan September, yaitu saya berkesempatan jalan-jalan ke Indonesia International Bookfair, bisa sharing tentang Food Combining, mulai ikutan BBI Read and Review Challenge di blog buku, dan setelah sekian abad akhirnya menulis fiksi juga. Alhamdulillah.

Di bulan Oktober ini, saya tidak memiliki banyak rencana. Mau lebih kalem dan tenang menjalani hidup. Selebihnya, tetap konsisten menulis postingan seminggu sekali.

Untuk bulan ini, saya sudah memiliki tema-tema apa saja yang akan diposting di blog ini. Insya Allah, saya akan bercerita tentang makhluk lucu yang sudah menemani kehidupan saya dan suami selama kurang lebih dua bulan dan mudah-mudahan makhluk lucu itu panjang umur ya, hehehe.

Saya juga ingin sekali sharing tentang blog-blog yang sering saya singgahi. Blog-blog yang mengangkat tema wellness, mindfulness, minimalism, dan healthy life style. Ya, tema-tema itu yang saat ini sedang saya gandrungi.

Di blog buku sendiri, Alhamdulillah, jadi lebih semangat membaca dan mereview buku setelah sadar kalau sejak awal 2017 itu BBI ada Read and Review Challenge. Saya ingat sih, di awal tahun sudah berniat untuk ikut challenge ini. Terus lupa, hehehe…. Baru ingat pertengahan September kemarin, setelah membaca review seorang blogger dan ada banner BBI Read and Review Challenge. Huffth….

Terus… apa lagi, ya? Saya juga baru bikin laman baru di blog ini. Mampir, ya!

serial-november

Judulnya Serial November. Serial November ini kumpulan flash fiction dengan tokoh utama yang sama, bernuansa musim hujan dan bulan November. Pas banget, kan, momennya sekarang sudah masuk musim hujan dan sebulan lagi bulan November, hehehe…

Walaupun tahun ini memang tidak merencanakan menulis fiksi, saya senang bisa menulis fiksi lagi. Mudah-mudahan tahun depan bisa bagi-bagi jatah. Menulis postingan, menulis review, dan menulis fiksi. Amiin.

Advertisements

Kau Harus Membuat Cerita Baru, Sayangku

todd-diemer-110882.jpg

“Kau harus membuat cerita baru,” katamu senja ini.

“Untuk apa?” tanyaku.

Kau terdiam sejenak. “Kau harus membuat cerita baru yang tanpa aku di dalamnya,” katamu lagi. Tidak menjawab pertanyaanku sama sekali.

“Aku tidak tahu…,” ujarku menggantung. Sesungguhnya yang ingin kukatakan adalah aku tidak tahu bagaimana caranya membuat cerita baru tanpamu sedangkan segala sesuatu yang aku lakukan tidak mampu membuatku melepaskan bayanganmu.

“Apa aku terlihat menyedihkan?” malah itu yang kutanyakan. Aku juga tidak tahu mengapa aku menanyakan hal bodoh seperti itu yang membuatku semakin terlihat menyedihkan.

Kamu menggeleng pelan, “Bukan begitu…. Aku hanya…. Aku hanya…ingin kau bahagia. Aku ingin kau…jatuh cinta, menikah, punya anak…. Semacam itulah….”

Aku tersenyum singkat, “Maksudmu, sekarang aku tidak tampak bahagia?”

Kamu menggeleng lagi, “Aku…aku…hanya tidak ingin kau sendirian….”

Kali ini aku tertawa. Tertawa miris kurasa. Aku tidak percaya mendengar kalimat itu dari mulutmu. Kalau kau tak ingin aku sendirian, mengapa kau malah memilih laki-laki lain dan bukan aku? Kalau kau ingin aku bahagia, mengapa kau malah menerima pinangan dari orang lain dan bukan menungguku?

Oh, iya, aku ingat, ini semua salahku. Salahku yang tidak mengatakan padamu bahwa kebahagiaanku adalah dirimu. Salahku yang tidak mengatakan padamu bahwa yang telah membuatku jatuh cinta adalah dirimu. Salahku yang tidak mengatakan padamu bahwa aku ingin menikah dan memiliki anak denganmu. Sekarang sudah terlambat dan itu semua salahku.

“Aku baik-baik saja sendirian. Kau lihat sendiri, kan?” kataku akhirnya.

“Kau tidak seperti yang kuingat dulu…,” katamu.

“Aku tak percaya kau masih mengingatku…,” kataku.

“Jangan bodoh, kaupikir aku…,” kata-katamu terputus.

Ada hening beberapa saat. Aku menunggumu mengucapkan kalimat selanjutnya. “Aku tidak mungkin melupakanmu. Kau temanku. Teman tidak mungkin melupakan temannya,” ujarmu akhirnya.

Aku menunduk, menyesap kembali kopi pesananku yang sudah mulai dingin. “Jadi, apa yang membuatmu ingin bertemu denganku?”

Akhirnya kutanyakan hal itu padamu. Sungguh, aku kaget saat menerima surel darimu. Memintaku untuk bertemu denganmu di kedai favorit kita. November Rain. Jujur saja, aku tidak tahu apa yang kurasakan saat itu. Semuanya campur aduk, aku merasa was-was, cemas, senang, gugup, penasaran, putus asa. Entahlah….

“Aku ingin memberimu ini,” katamu sambil mengulurkan sebuah buku. Aku mengernyit bingung.

“Untukku?” tanyaku.

Kamu mengangguk. “Iya, ini novel favoritku. Berkisah tentang cinta sejati, bintang-bintang, galaksi, dan alam semesta. Aku ingin kau membaca dan memilikinya.”

“Tapi… kenapa?” tanyaku heran.

“Tidak ada alasan khusus. Aku hanya ingin kau membaca dan memilikinya. Sudah itu saja. Ehm, maksudku, aku juga ingin kau bahagia.”

Aku melihat judul buku yang kauberikan. Sampulnya bergambar seorang perempuan menatap bulan purnama. Kemudian saat aku membuka, ternyata di balik sampulnya, masih ada satu sampul lagi yang bergambar seorang lelaki sedang menatap purnama yang sama.

“Bacalah,” katamu, “dan buatlah cerita baru tanpa aku….”

Aku tercenung. “Riri…. Aku…merindukanmu, kurasa,” kataku akhirnya.

Ya Tuhan, aku sungguh tidak sanggup lagi menahan semua ini. Aku merindukanmu. Amat sangat merindukanmu. Dulu, beberapa tahun yang lalu, hampir setiap hari kita bertemu. Kau mengoceh macam-macam tentang buku yang kaubaca, film yang kautonton, lagu yang kausukai, dan tempat-tempat yang ingin kaukunjungi. Kau ceritakan padaku tentang laki-laki yang berulang kali membuatmu menangis dan patah hati. Kau bilang padaku kalau kau ingin pergi ke Kota Cahaya berdua denganku.

Kau lambungkan harapanku, kau tinggikan angan-anganku, lalu pada suatu hari kau hancurkan semuanya dengan sebuah pesan singkat yang mengatakan bahwa kau akan menikah dan foto undangan pernikahanmu. Sekarang, saat aku menikmati betul indahnya kesendirian dan patah hati, kau datang dan memintaku untuk membuat cerita baru tanpamu. Bagaimana mungkin aku bisa melakukannya?

“Ta, ada banyak hal yang tak pernah kita duga dalam hidup ini. Kadang semuanya terjadi dengan begitu cepat tanpa bisa kita cegah sebelumnya. Aku… aku juga merindukanmu. Tetapi sekarang….” kata-katamu terputus. Wajahmu tampak mendung seperti cuaca sore ini. Kau menghabiskan cangkir kedua tehmu.

Sekarang cerita kita berdua sudah selesai. Itulah mengapa kau memintaku membuat cerita baru. Padahal sesungguhnya aku sedang membuat cerita baru. Cerita tentang aku dan kesendirianku, tanpa orang lain lagi di dalamnya. Jika maksudmu membuat cerita baru adalah menghadirkan orang baru untuk menggantikanmu, maaf, aku belum mampu. Aku masih ingin bercengkerama dengan bayang-bayangmu.

“Riri…,” betapa janggal menyebut namamu secara langsung di depanmu, setelah sekian lama tidak pernah kulakukan.

Kau tampak menungguku mengucapkan sesuatu. Akan tetapi, aku juga tidak tahu apa lagi yang harus kuucapkan. Bukankah apa pun yang aku ucapkan tidak akan mengubah apa-apa lagi di antara kita berdua?

“Ta, sepertinya aku harus pulang sekarang.”

Aku mengangguk mengiyakan. Ya, kau harus pulang. Ada seseorang yang menunggumu di rumah.

“Baca dan jaga buku ini baik-baik. Buku ini pernah dan akan selalu menjadi kesayanganku. Dan aku tidak akan memberikannya kecuali kepada orang yang aku percaya,” katamu sambil mengelus bukumu seolah itu yang terakhir kali.

“Terima kasih,” kataku singkat.

Di luar, terdengar suara hujan yang turun dengan deras. “Sebentar lagi bulan November, sudah masuk musim hujan,” katamu sambil tersenyum ke arahku. Senyum yang tak akan pernah kulupakan. Senyum yang tadinya kupikir hanya untukku.

“Iya,” kataku, “Aku selalu suka bulan November.”

Kau tidak membalasnya. Kau sibuk mengeluarkan payung lipat dari dalam ranselmu. Payung warna biru motif kotak-kotak.

“Sudah bertahun-tahun dan payungmu masih yang itu?” tanyaku takjub.

Kamu tersenyum, “Seandainya payung ini rusak, aku akan mencari motif yang sama sebagai penggantinya. Kau tahu, aku tidak mudah mengganti sesuatu dengan yang baru.”

“Begitu juga aku,” sahutku.

“Tetapi kali ini, kau benar-benar harus membuat cerita baru, Sayangku…” katamu sambil berjalan keluar kedai. Di sana aku melihat sesosok laki-laki telah menunggumu. Kamu tersenyum menyambutnya. Senyum yang kupikir hanya untukku. Mungkin memang benar, aku harus membuat cerita baru tanpamu.

Sore mendung, 29 September 2017

***

It’s been so long since I wrote flash fiction from the last time. Cerita ini masih bagian dari Serial November yang pernah kutulis sebelumnya.