Self-Love: Why It’s Important to You

Assalamualaikum, apa kabar?

Sesuai janji saya di post sebelumnya, bulan Februari ini akan memposting tentang self-love dan self-care. First thing first, kenapa sih saya ambil kedua tema tersebut?

Love is in the air. Yup, tanpa bermaksud mendukung Valentine’s Day, tetapi tetap aja masuk bulan Februari tuh nuansanya kalau nggak cinta-cintaan, ya dodol cina, eh maksudnya perayaan Imlek. Nah, mumpung love is in the air, saya kepikiran buat mengangkat tema self-love dan self-care.

Why self-love sooo important to you?

 

self-love-1.jpg

Berdasarkan pengalaman pribadi, dulu saya termasuk orang yang nggak mencintai diri sendiri. Setiap kali melihat diri sendiri tuh yang ada kurang, kurang, dan kurang. Like I’ll never good enough for anyone include myself.

Masalahnya, perasaan ‘kurang’ ini bukan mendorong saya buat introspeksi diri dan berubah jadi lebih baik, malah bikin saya ingin menyerah. Seperti ada yang bisikin, “Udahlah, nyerah aja. Lo emang nggak bagus, nggak baik, nggak pantes, and so on.”

Jujur saja, rasanya capek sendiri dengan siklus seperti itu. Setiap kali mulai melakukan suatu perubahan, terus terjadi kesalahan (baik kecil maupun besar), langsung ngerasa nggak pantas. Bahkan, pada akhirnya nggak berani memulai sesuatu karena merasa nggak cukup baik untuk itu.

Terus akhirnya kepikiran, kenapa sih kok kayak gini amat? Bukankah Allah menciptakan kita dalam bentuk sebaik-baiknya? Bukankah kita sejak lahir sudah tercipta sebagai pemenang?

Inget kan, kalau lagi training motivasi gitu pasti diingetin tentang waktu kita di dalam kandungan. Bahwa kita terbentuk dari sel telur dan sel sperma yang berhasil mengalahkan jutaan sel sperma lainnya. Well, walaupun sering diingetin tentang hal itu, tetap saja pas lagi momen down, semuanya luntur.

Sampai akhirnya saya menemukan kalimat indah di sebuah novel yang sampai kini selalu terngiang-ngiang di kepala saya, terutama ketika saya sedang down.

“Tersenyumlah, Allah mencintaimu lebih dari yang kau perlu.”

Ya, ini kalimat paling manis yang pernah saya dengar dan akan selalu saya ingat. Kalimat ini membuat saya sadar, bahwa ada yang mencintai kita tanpa pamrih, menyayangi kita sepanjang waktu, melimpahi kita dengan kebaikan dan kasih sayang yang tak mungkin kita hitung, dan meski kita telah melakukan kesalahan paling besar sekalipun, Dia akan memaafkan dan tetap mencintai kita. Allah SWT.

Setelah Allah, siapa yang paling mungkin mencintai diri kita? Ourselves. Diri kita sendiri.

Orang tua kita memiliki kasih sayang yang besar kepada kita, tetapi mereka tak selalu ada di samping kita. Begitu juga dengan pasangan, sahabat, anak, dan kerabat lainnya. Siapa yang selalu ada saat kita sedih, marah, senang, kecewa, frustasi, selain Allah SWT? Ya, diri kita sendiri.

 

Dengan mencintai diri sendiri, kita nggak akan terlarut dalam patah hati berkepanjangan karena merasa nggak cukup baik buat si dia. Kita mengerti mungkin diri kita cuma bukan tipenya, bukan orang yang diinginkannya.

Dengan mencintai diri sendiri, kita nggak akan ikut-ikutan hal nggak bener hanya karena ingin diterima atau dianggap oleh seseorang atau sekelompok orang. Kita mengerti bahwa kita mempunyai batasan yang tidak bisa dilanggar, yang jika melanggar batasan itu berarti kita nggak sayang sama diri kita sendiri.

Dengan mencintai diri kita sendiri, kita melakukan hal-hal yang baik untuk diri kita dan pasti ada efek baik juga ke lingkungan sekitar kita.

self-love-2

Apakah self-love itu selfish?

Menurut saya tidak. Ada beda antara self-love dan selfish. Self-love adalah melakukan hal-hal baik yang menjaga diri kita dari keburukan, dari negative things, dari hal-hal yang tidak disukai Allah. Sedangkan selfish ya egois. Mau menang sendiri dan nggak mikirin orang lain. As simple as that.

Terus, bagaimana caranya memulai self-love?

Pertama, coba kenali diri sendiri dulu. Sekarang kan banyak ya, tes-tes kepribadian gitu. Ada tes MBTI dan lain-lain. Saat kita mengenal diri sendiri, mengetahui kurang lebih diri kita, kita jadi tahu mana yang perlu diupgrade, mana yang perlu dikurangi.

Menurut saya, kekurangan diri itu nggak akan pernah benar-benar hilang 100%, pasti masih ada yang ketempel. Seakrang tergantung kita mengelolanya saja. Tonjolkan kelebihan-kelebihan yang kita miliki, sehingga kekurangan kita dengan sendirinya terpendam.

Mengenal dengan baik diri kita sendiri juga membuat kita lebih menerima kepribadian kita, dan itu adalah langkah awal menuju self-love. Saat kita menerima diri sendiri dengan segala kekurangan dan kelebihan kita, kita akan lebih mudah mencintai diri sendiri juga.

Kedua, maybe it’s not so easy, but I promise this is worth it. Terus belajar mengenal Pencipta kita, Allah SWT.

self-love-3

Sejujurnya, saya juga baru-baru ini mengulik Asma’ul Husna. Itu juga karena punya naskah tentang Asma’ul Husna yang mesti saya edit. Ternyata, efeknya sungguh mengejutkan. Saat kita mendalami ilmu tentang Allah, rasanya tuh campur aduk. Ada perasaan haru karena selama ini kok nggak pernah kepikiran kalau ada yang sayaaaaang banget sama kita. Ada perasaan malu karena ibadah masih segini-gini aja. Ada semangat juga buat menjadikan hari-hari kita lebih baik dari sebelumnya.

Dengan mengingat kasih sayang dan karunia Allah yang begitu luas, rasanya apa pun yang dinilai orang lain itu nggak penting. Yang penting itu bagaimana kita di mata Allah. Dan dari situ sebenernya kelihatan kalau jika hubungan kita ke Allah bener-bener baik bakalan berbanding lurus dengan hubungan kita dengan makhluk-Nya. Kalaupun ada yang nyinyirin kita, menghina kita, mengejek kita, ya itu sih udah terserah dia.

Begitulah kira-kira menurut pandangan saya yang masih sangat awam ini. I always open for your opinion. Silakan share di komentar self-love menurut kalian tuh seperti apa, sih…

Di postingan selanjutnya (kalau nggak kesela sama cerpen, hehehe) kita bakal bahas self-care, ya…

Sampai jumpa di postingan selanjutnya 🙂

Advertisements

Rahasia Hati

rahasia-hati.jpg

Ia duduk sendirian di meja itu. Meja tempat mereka biasa bertemu. Ia masih mengenang lelaki itu dengan perasaan sayang yang sama dengan yang dulu ia rasakan saat masing-masing dari mereka masih sendiri.

Kadang, ada segenggam sesal di hatinya. Penyesalan yang selalu muncul di belakang. Hatinya kerap bertanya-tanya, jika dulu ia memberanikan diri mengatakan yang sebenarnya pada lelaki itu, apa yang akan terjadi? Kemungkinannya hanya ada dua, lelaki itu memiliki perasaan yang sama dengannya atau tidak sama sekali.

Jika kemungkinan kedua yang terjadi, jelas ia akan sedih. Namun, ia yakin ia pasti bisa menjalaninya dan lama-lama merelakan perasaan tak berbalas itu. Dan mungkin, mungkin saja, jika itu memang benar-benar terjadi, ia akan menjalani hari-harinya sekarang dengan tenang tanpa rasa penasaran yang menghantui.

Jika kemungkinan pertama yang terjadi, tentu saja ia akan senang. Bukan hanya senang, ia juga akan lega dan bahagia. Mungkin mereka akan merencanakan pernikahan, mungkin mereka akan membangun rumah bersama, dan mungkin mereka akan berbulan madu ke Kota Cahaya berdua, seperti janji lelaki itu dulu.

Sayangnya ia tak berani melakukan apa-apa. Ia tak menyatakan apa-apa tiap kali mereka bertemu. Bahkan, tak berani memberi secuil tanda pun tentang perasaannya kepada laki-laki itu.

Ia terlalu takut. Takut apa? Entahlah, mungkin ia takut perasaannya tak berbalas lagi. Mungkin ia terlalu trauma dengan patah hati. Mungkin ia tak mau lagi menanggung rindu yang berat itu. Yang jelas, ia yakin ia tak mau ambil risiko. Ia sungguh takut, jika ia berani mengucapkan perasaannya kepada laki-laki itu, segalanya akan berubah ke arah yang lebih menyedihkan. Ia memang selalu berpikir hal-hal menyedihkan, tanpa sedikit pun berpikir tentang kemungkinan terbaiknya.

Sekarang ia menyesal. Menyesal dengan segala sikap dan keputusannya dulu. Meski kadang-kadang ia terpikir juga, mengapa ia menyesal? Apa yang perlu disesali?

Ia memiliki pasangan yang bukan hanya indah rupa, tetapi juga sabar dan penuh pengertian. Mirip dengan lelaki itu. Yah, mungkin tipe laki-laki yang dia sukai itu-itu saja. Tak jauh beda. Tetapi mengapa ia masih saja memikirkan laki-laki itu?

Mungkin ia hanya mengangankan kenangan masa lalu. Saat mereka masih sering bertemu dan mengobrol di tepi danau ini. Di meja ini. Membicarakan banyak hal. Hal-hal kecil dan hal-hal besar. Hal-hal sepele dan hal-hal penting. Rasanya kebiasaan itu sudah berada jauh sekali di belakangnya.

Mungkin ia hanya masih penasaran, apa sebenarnya yang ada di dalam hati laki-laki tiap bertemu dengannya. Adakah secuil rasa sayang di hatinya? Adakah segenggam rindu yang tersimpan di benaknya?

Laki-laki itu tak pernah mengatakan apa-apa padanya. Namun, kadang gesturnya membuat ia curiga, membuat ia penasaran, bahwa mungkin saja mereka memiliki perasaan yang sama. Sayangnya, ia tak mau terlalu jauh mengambil kesimpulan. Bisa saja semua itu hanya ada di pikirannya sendiri. Bisa saja laki-laki itu tak pernah merasakan apa-apa terhadapnya.

Buktinya, saat ia memberitahukan pernikahannya kepada laki-laki itu, dia santai saja. Dia tenang saja. Meski ia tak mengerti mengapa laki-laki itu tak hadir di hari pentingnya padahal sehari sebelumnya sudah berjanji akan datang.

Ia berharap ia tak memikirkan laki-laki itu lagi. Ia berharap semua perasaannya kepada laki-laki terkubur mati, tanpa pusara, tanpa peringatan apa-apa. Biar saja tenggelam bersama waktu yang terus berputar.

Ia memberikan laki-laki itu buku kesayangannya dengan harapan ia bisa sama relanya melepas perasaannya seperti ia melepas buku itu. Ternyata tidak semudah itu. Kadang ia masih merindukannya. Kadang ia berharap mereka bisa bertemu dengan mudah seperti dulu. Ia sungguh berharap kadang-kadang itu tidak pernah ada.

Sekarang ia tak sendiri lagi. Kekasihnya telah datang menjemputnya.

“Kok, bengong, Ri? Katanya mau nulis,” tanya pasangannya.

Ia hanya tersenyum tipis, “Sudah selesai, kok. Cuma lagi inget masa lalu aja. Dulu aku sering ke sini bareng sahabatku.”

“Oiya? Memang enak, sih, di sini. Adem, tenang, pantas kamu merasa terinpirasi menulis di sini,” sahut pasangannya lagi.

Ia tersenyum sambil merapikan buku catatan dan alat tulisnya. Kemudian pulang bersama kekasihnya ke rumah mereka.

Di perjalanan, sejenak ia melihat media sosial lewat ponselnya. Lelaki itu sudah muncul lagi di dunia maya setelah selama ini menghilang entah ke mana. Ia memperbarui statusnya dengan sebuah foto buku dan komentar, “Buku yang bagus. Mengajarkan tentang cinta sejati yang setia. Terima kasih kepadamu yang telah menghadiahkanku buku ini. Akan kujaga dengan sebaik-baiknya.”

Ia tersenyum lega sekarang. Ia percaya, mereka bisa melanjutkan kisah mereka masing-masing. Meski tak berada dalam akhir cerita yang sama, ia bersyukur mereka pernah bersisian jalan dan memberi pelajaran yang berharga.

 

Depok, 7 Februari 2018

 

Cerita ini masih berhubungan dengan Serial November. Meski aku sudah berjanji akan mengakhiri kisah Serial November, tetapi setiap hujan, adaaa saja ide cerita yang muncul. Cerita ini disampaikan dari sudut pandang Riri alias Sabrina Putri. Silakan baca Selamat Ulang Tahun atau Kau Harus Membuat Cerita Baru, Sayangku untuk lebih jelasnya. Atau kalau mau lebih jelas lagi, baca semua Serial November, hehehe…

Dari kemarin hujan terus, membuat tangan gatal ingin menulis. Semoga suka 🙂