5 Pelajaran dari Buku Awe-Inspiring-Me

Sekitar tiga hari lalu, saya baru saja menyelesaikan buku Awe-Inspiring-Me karya Dewi Nur Aisyah. Pada awalnya saya merasa kurang tertarik membaca buku tersebut karena mengira buku tersebut untuk perempuan-perempuan usia SMA atau kuliah. Tetapi saya juga penasaran karena banyak yang bilang buku tersebut bagus, ditambah dengan sosok Mbak Dewi yang cukup terkenal dengan tulisan-tulisannya di blog. Akhirnya saya memutuskan membaca buku Awe-Inspiring-Me milik perpustakaan kantor.

awe-inspiring-me-dewi (1).jpg

Secara keseluruhan, buku ini membahas tentang bagaimana seorang muslimah menjadi sosok yang shalihah dan menginspirasi. Awe-Inspiring-Me membahas beberapa hal, mulai dari pemakaian hijab yang tidak menjadi penghalang muslimah berprestasi hingga bagaimana seorang muslimah mengelola perasaan cintanya.

Dari buku setebal 231 halaman ini, saya menggarisbawahi lima hal yang menurut saya penting untuk diingat.

1. Niat: Apa pun yang kita lakukan, niatkan semua untuk Allah. Hanya untuk Allah.

Jangan lupa untuk selalu memperbarui niat, karena dalam perjalanan, akan ada saja hal-hal yang membuat niat kita bergeser. Jika itu terjadi, kembali luruskan niat.

Membahas soal niat, ternyata niat sangat mempengaruhi apa yang kita rencanakan dan kita perbuat. Misalnya, jika kita merencanakan untuk menghafal Al-Qur’an, tetapi di tengah jalan, kita belum juga tergerak untuk menghafal Al-Qur’an, atau ada saja hal yang membuat kita menunda menghafal Al-Qur’an, bisa jadi ada yang keliru dengan niat kita menghafal Al-Qur’an.

Jika kita melakukan sesuatu, apa pun itu, karena Allah, kita tidak akan merasa lelah, kecewa, malas, dan perasaan-perasaan buruk lainnya.

Bagi saya, ini sebuah pengingat yang sangat menusuk hati. Jujur saja, saya sering merasa lelah memasak, lelah membereskan rumah dll, malas bekerja, malas ini-itu. Ternyata setelah diingat-ingat, mungkin selama ini saya melakukan itu bukan karena Allah. Bukan karena ingin mendapat keridhaan Allah, bukan diniatkan sebagai amal ibadah untuk Allah.

Jadi, jangan lupa untuk selalu memperbarui niat kita, ya.

2. Fokus: Pilihlah satu bidang/keahlian untuk didalami. Boleh tertarik mempelajari banyak hal, tetapi tetap harus ada satu hal yang menjadi fokus kita.

Ini juga nasihat yang cukup menyindir saya. Saya ini termasuk orang yang nggak fokus. Ingin begini, ingin begitu, ingin ini, ingin itu. Ingin menulis cerpen, tetapi juga ingin bisa menggambar. Ingin pandai memasak, tetapi juga ingin bisa berkebun. Banyak keinginan malah membuat saya bingung, ditambah waktu yang terbatas, yang malah membuat saya tidak melakukan satu pun.

Jadi, fokuslah pada satu bidang ilmu atau keahlian. Hal ini juga akan memudahkan kita dalam merancang target hidup dan sebagainya.

3. Lifeplan: Membuat lifeplan atau rancangan hidup yang detil. Di buku, Mbak Dewi menjelaskan dengan urut disertai form yang bisa kita isi untuk membuat lifeplan.

Saya sendiri sebetulnya sudah mencoba membuat lifeplan sejak masa SMA. Alhamdulillah, ada beberapa yang terkabul. Namun, seiring berjalannya waktu, lifeplan saat SMA itu tidak terlalu sesuai lagi bagi saya. Saya lalu membuat ulang lifeplan di tahun 2015. Memang tidak sedetil yang diarahkan Mbak Dewi, tapi lumayanlah untuk pegangan saya.

Eh, lifeplan itu buyar seketika di tahun 2016. Banyak hal berubah, banyak hal terjadi. Sampai saat ini saya belum punya lifeplan terbaru yang rinci tertulis di atas kertas. Mungkin saya harus berpikir untuk membuat lifeplan lagi, dengan tambahan plan A, plan B, mungkin sampai C. Bagaimanapun saya termasuk orang yang suka berpikir terlalu jauh dan sering memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi.

4. Jangan Menuhankan Ikhtiar: Berusaha adalah sebuah keharusan, tetapi hasilnya tetap di tangan Allah. Selama ini kita sering menganggap, kita sudah berusaha keras, seharusnya kita mendapatkan apa yang kita inginkan. Dan jika kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, kita merasa tidak terima. Padahal, segalanya yang terbaik untuk kita hanya Allah yang tahu. Meskipun mungkin apa yang kita inginkan belum tentu yang terbaik bagi Allah, Insya Allah segala usaha yang pernah kita lakukan tidak akan sia-sia.

5. Cinta-Takut-Harap: Mencintai Allah dengan mematuhi semua perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya. Merasa takut dengan adzab Allah. Merasa selalu diawasi Allah. Hanya berharap kepada Allah. Hanya bergantung kepada Allah.

Saat sampai di bagian terakhir, saya sempat merasa ingin melewatinya saja, karena berbicara tentang perasaan. Saya pikir, ‘Ah, sudahlah, sudah lewat masa itu, mah.’
Eh, tetapi tetap saya baca juga, karena tanggung sudah mau selesai. Ternyata meskipun bagi saya sudah lewat, nasihat yang diberikan tetap membuat saya terenyuh. Baper kalau kata ABG sekarang.

Nasihat itu mengingatkan para muslimah untuk menjaga perasaannya. Jika memiliki perasaan suka kepada lawan jenis, janganlah mengumbarnya ke mana-mana. Cukup diri ini dan Allah yang tahu. Ini karena betapa mulianya izzah (harga diri) seorang muslimah.

awe-inspiring-me-dewi (3).jpg

Mungkin itu saja yang bisa saya sampaikan. Awalnya saya agak bingung ingin meletakkan tulisan ini di sini atau di blog buku. Tetapi karena saya pikir ini tidak bisa disebut sebagai resensi, ditambah adanya sedikit curhatan dari saya, saya meletakkan tulisan ini di sini.

Saya merasa beruntung dan bersyukur karena akhirnya memberi kesempatan pada diri saya untuk membaca Awe-Inspiring-Me. Meskipun mengangkat tema-tema umum, yang banyak dibahas di berbagai artikel atau buku lainnya, membaca tulisan-tulisan Mbak Dewi seperti diingatkan kembali oleh seorang sahabat karib.

awe-inspiring-me-dewi (2)

Selamat membaca. Semoga bermanfaat.

Ramadhan Kali Ini

Ramadhan

Assalamualaikum, apa kabar semua?

Tidak terasa, ya, tahu-tahu sudah seminggu menjalani puasa di bulan Ramadhan.

Apa kabar target-target saya selama Ramadhan?

Uggh… rasanya jauh sekali dari target-target yang dicapai, terutama di bagian ‘Trying to live more healthy’. Niat hati di bulan Ramadhan ini ingin berbuka tanpa gorengan, tetapi di hari pertama sudah makan bakwan jagung dan risol. Begitu juga di hari kedua, makan tahu isi, risol, cakwe, dan kerupuk mie. (idih, ini makannya banyak banget, ya? Tapi tenang, setiap varian cuma nyobain satu buah, wakaka). Terus hari ketiga makan risol, bakwan, dan tahu isi. Hari keempat, mencoba untuk menyetop gorengan dan menggantinya dengan makan kurma. Hari kelima makan risol lagi. Hari keenam coba berhenti lagi dan menggantinya dengan makan siomay. Hari ketujuh alias hari ini, belum tahu mau makan apa, hehehe.

Kenapa, ya, susah banget berbuka tanpa gorengan?

1. Gorengan ada di mana-mana

Yup, bener banget. Bahkan sepanjang jalan pulang saya dari kantor ke rumah, entah sudah berapa puluh tukang jualan gorengan berjejer. Apalagi di bulan Ramadhan seperti ini, tukang gorengan dadakan makin menjamur.

2. Gorengan murah meriah

Ini juga jadi salah satu alasan yang tidak bisa dipungkiri, sih. Rata-rata harga gorengan sekarang seribu rupiah per pieces. Ada juga yang menjual 1500 satu buah atau 2000 dapat tiga potong (tapi yang ini udah jarang banget). Lumayan banget, kan, buat orang yang ngirit seperti saya? Ehe ehe ehe. Selain beli gorengan, dengan uang yang ada, kita bisa beli makanan yang lain.

3. Gorengan berbagai macam bentuknya

Kalau nggak suka tempe, bisa pilih tahu. Kalau nggak suka risol, bisa pilih bakwan. Kalau nggak suka singkong, bisa pilih cireng. Intinya, dalam sekali beli, kita bisa menikmati berbagai macam makanan. Biasanya penjual gorengan minimal menjual tiga macam gorengan. Ada juga yang super lengkap sampai ada lontong segala. Kalau yang super lengkap ini, belinya lebih leluasa lagi karena banyak pilihan.

Dari tiga alasan itu saja, sudah kebayang kan betapa beratnya perjuangan berbuka tanpa gorengan di negeri yang amat sangat mencintai gorengan? Tetapi saya nggak putus asa, kok. Pokoknya sebisa mungkin, kurangi jajan gorengan. Kalaupun belum bisa sebulan penuh, paling tidak, lebih banyak hari tanpa gorengan ketimbang yang pakai gorengan.

Selain target No Gorengan, sepertinya sih sudah cukup tercapai. Supaya kebutuhan gizi tetap tercukupi selama Ramadhan, saya menargetkan setiap hari harus makan sayuran hijau, entah itu di saat berbuka atau sahur. Lebih baik lagi di keduanya. Alhamdulillah, sampai hari ini masih terus berjalan. Selain sayuran hijau, saya juga mengonsumsi buah dan kurma. Ini juga untuk menyiasati supaya sistem pencernaan lancar dan nggak sulit BAB.

Bagi saya, Ramadhan kali ini terasa agak berbeda dengan Ramadhan tahun-tahun sebelumnya. Dulu, setiap mau berbuka itu saya selalu lapar mata. Rasanya semua makanan ingin dilahap. Padahal saat sudah ada di hadapan, nggak semuanya saya makan. Sekarang, rasa-rasanya sih sudah bisa menahan hawa nafsu, yah, hehehe…. Nggak lapar mata lagi, berbuka seadanya, yang penting ada makanan bergizi yang dimakan. Jangan sampai makan banyak, tapi nggak bergizi semua.

Untuk target ibadah yaumiyah, masih berusaha juga supaya sesuai dengan yang diharapkan. Walaupun ada hari di mana saya merasa capek banget atau males banget, tetapi saya berusaha nggak berlama-lama di perasaan itu. Dan nggak langsung merasa gagal karena telah ada satu hari yang nggak sesuai target. Soalnya, kalau sudah seperti itu, pasti saya malah lebih males lagi di hari-hari selanjutnya.

Jujur, dari dalam hati ini sering berharap, seandainya semangat Ramadhan selalu ada di 11 bulan lainnya. Mudah-mudahan Ramadhan kali ini, harapan itu tercapai. Dan semoga Ramadhan membawa banyak kebaikan dalam hidup kita.

Selamat berpuasa dan beramal shalih bagi yang menjalankan. Semoga amal ibadah kita diterima Allah Ta’ala. Amiin….