Tragedi Kepiting

Sebenarnya, ini hanya sebuah kisah sederhana, tapi cukup membekas dalam ingatan saya (lebay!). Baru saja terjadi kemarin malam, dan sampai hari ini kejadian tersebut masih terngiang-ngiang. Sebelum saya lanjutkan, saya ingatkan sekali lagi, kalau ini hanya kisah sederhana , ya. Yang berekspektasi ini adalah kisah amazing, bombastis, wow, mengharukan, dan lain-lain, mungkin bisa disimpan dulu harapannya.

Jadi, hari Minggu kemarin, saya tiba-tiba kepengen makan seafood, lebih spesifiknya, makan kerang dara. Kebetulan suami juga mau ngajak saya jalan (cieeee) sebagai ganti hari Minggu-nya yang habis dengan pertandingan futsal. Jadilah kami berdua, sesudah shalat Isya pergi mencari tempat makan seafood.

Beberapa waktu lalu, kami pernah makan pecel lele dan pecel ayam di sekitar daerah Pemda Cibinong. Di tempat itu, ada seafoodnya juga. Kami berencana untuk pergi ke sana. Eh, pas ke tempat itu, ternyata tendanya sudah beganti menjadi tenda mie Aceh. Yah, karena maunya makan seafood, bukan mie Aceh, akhirnya kami memutuskan untuk balik lagi.

Nah, sebelumnya kami melewati tempat makan (lebih besar dari warung tenda) yang menyediakan aneka makanan seafood. Tadinya sudah mau mampir ke sana, tapi karena tempatnya sepi pengunjung, saya ragu. Karena tempat incaran kami sudah nggak ada, kami berniat balik ke tempat seafood yang tadi.

Di perjalanan balik, kami melewati deretan café yang salah satunya memasang banner dengan kata-kata seafood. Saya pun tertarik untuk mampir saja ke sana. Eh, tapi suami nggak mau. Akhirnya kita lanjut jalan. Belum sampai ke tempat seafood yang besar tadi, suami bilang baliknya kejauhan dan mending ke café yang tadi.

Akhirnya kami pun ke café seafood tersebut. Di sana tempatnya lumayan nyaman. Bisa duduk di meja atau lesehan di lapak-lapak bambu gitu. Setelah duduk dan membuka buku menu, ternyata makanan seafood yang disediakan tidak seperti yang kami bayangkan. Yang ada hanya cumi dan udang dengan berbagai macam saus siram dan bumbu lain. Selain itu, variasi menu seafood hanya mie dan nasi goreng, yang bisa dipastikan seafoodnya juga nggak jauh-jauh dari cumi dan udang.

Setelah lama memikirkan menu yang ingin dipesan, kami pun memesan makanan. Saya pesan udang saus tiram. Eh, ternyata kata pelayannya semua menu seafood habis. Yah, kecewa banget deh. Saya pikir, ya sudahlah nggak apa-apa, menu yang lain saja. Sedangkan suami, tetep keukeuh mau seafood. Kalau nggak ada, pesan minum saja. Padahal saat itu kondisinya kami sama-sama belum makan malam.

Sempat terjadi drama kecil nih di sini, yah biasa deh, namanya juga pasangan, nggak seru kalau nggak ada drama, kan? Hehehe…. Akhirnya saya memutuskan untuk membatalkan pesanan dan pulang. Eh, tapi suami mau tetep cari seafood. Ya sudahlah, akhirnya kami menuju tempat makan seafood yang besar tadi.

Sesampai di sana, karena pengalaman dengan café tadi, kami langsung menanyakan apa menu seafoodnya ada. Kata mereka ada. Ada kerang dara nggak? Ada. Ada kepiting? Ada.
Fine, kita pun memesan makanan di situ. Saya pesan kerang dara saus tiram, suami pesan kepiting bakar. Sisanya kami pesan nasi dan teh manis dua porsi.

Setelah menunggu sekitar 5 menit, teh manis dan kerang dara saya datang. Kami pun mulai memakan. Rasanya lumayan enak, meskipun agak keasinan. Kami menunggu cukup lama untuk pesanan kepiting bakar. Mungkin sekitar 20 menitan kali, ya. Saya sebenernya udah nggak sabar, karena malam semakin larut.

Setelah kepiting datang, lengkap dengan nasi dan lalap, kami pun tertegun. Waah, kepitingnya banyak banget. Mungkin yang dibakar itu sekitar dua kepiting. Tapi entah kenapa, buat kami berdua terlihat banyak banget. Pas dicoba, hmmm…. Enak.

Saat mulai makan, pikiran pun langsung mengelana ke dompet. Duh, tadi nggak nanya dulu harga kepitingnya berapa. Berapa ya harganya, pikir saya dalam hati. Masalahnya kami berdua bawa uang pas-pasan.

Walaupun makanannya lumayan enak, tapi hati kebat-kebit karena nggak tahu uang yang kami bawa cukup atau engga. Teruusssss… setelah kami selesai makan, suami ke kasir, dan takjub lihat harganya. Mau tahu berapa???

Kepiting bakar 200 ribu, kerang dara 25 ribu, teh manis 10 ribu, nasi 10 ribu. Total 245 ribu!!!!

mr krabs 4.png

Bayangkan, saya cuma bawa uang 50 ribu dan beberapa receh. Pun sama dengan suami. Karena tadinya kami makan di warung tenda biasa. Kami benar-benar kaget, harga sepiring kepiting itu 200 ribu?!!! Ya salam, rasanya pengen nggak jadi beli aja. Eh, masalahnya kan udah dimakan, walaupun sisa makan kami berdua masih banyak banget.

Terus… terus… gimana dong?

Ya terpaksa suami keluar dulu cari ATM. Sementara saya jadi sandera di rumah makan, wkwkwk….

mr krabs 2

Setelah membayar dan membawa pulang kepiting mahal tadi (iya, sisanya masih banyak, jadi kami minta bungkus saja), kami berdua masih kepikiran tentang harga kepiting tadi. Duilee… nggak salah nih, harganya segitu. Waktu ditanyain ke kasir, katanya sekilo kepiting mentah aja mahal.

Hmmm… emang sih, waktu itu ibu pernah bilang, kalau kepiting harganya mahal. Saya lupa-lupa inget tuh berapa pastinya. Saya sih waktu itu mikirnya, yah paling mahal 100 ribu lah buat seporsi kepiting bakar. Ehhhhhh… kok ya sampai dua kali lipat begitu.

Di rumah, saya hanya bisa ketawa-tawa aja mengingat kejadian tadi. Sudah muter-muter nyari seafood. Sekalinya dapat, harganya nggak ketulungan. Saya nggak tahu sih, itu harga bener atau kami ditembak. Karena di daftar menu memang tidak ada harganya.

Ada semacam rasa nggak rela mengingat uang 200 ribu melayang begitu saja. Duuh, itu kalau dibeliin buku bisa dapet 3-4 buku. Kalau dibeliin baju bisa dapet 2-3, kalau buat jatah belanja, bisa buat dua mingguan lah. Lha ini, 245 ribu habis dalam semalam!

mr krabs 1

Buat kami uang segitu besar, ya. Entah kalau horang kayah mah, mungkin uang segitu nggak ada apa-apanya. Yang jelas, kejadian itu membawa banyak pelajaran bagi kami.

1. Kalau mau makan di tempat makan, dan kita sudah tahu mau pesan apa, sebaiknya langsung ditanyakan saja, ada atau tidak. Jika tidak, bisa cari tempat makan lain atau ganti menu.

2. Kalau makan di tempat makan yang tidak mencantumkan harga di daftar menunya, langsung tanyakan saja harganya. Bukan hanya menu utamanya saja, tapi juga menu tambahan lainnya, seperti teh manis, kopi, nasi, dll. Ini untuk mengantisipasi harga yang dinaikkan dengan semena-mena oleh pemilik rumah makan.

3. Sebaiknya cari tempat makan yang ramai. Kecuali kalau kita memang sudah mengetahui sepak terjang tempat makan tersebut. Karena menurut saya, tempat makan sepi itu alasannya ada dua, harganya mahal atau rasanya kurang enak.

4. Sebelum berniat pergi makan ke luar, sebaiknya sudah menentukan ingin makan di mana. Ini untuk meminimalisir waktu terbuang karena nyari-nyari tempat makan. Tapi kalau memang sedang ingin jalan-jalan dan cari-cari tempat baru, yah, bolehlah….

5. Ikhlas ternyata tidak semudah mengucapkannya. Walaupun itu buat makan kami sendiri, kalau bisa mengulang lagi, saya nggak akan, deh, maksa beli kepiting. Sayang, beneran, sayang banget uang segitu cuma buat ke perut doang.

Nah, itulah kira-kira secuplik kisah sederhana saya. Mungkin bisa jadi pelajaran buat orang-orang yang kondisinya sama dengan saya. Ingin makan di luar, tapi kondisi keuangan pas-pasan. Hehehehe….

mr krabs 3

The Chronicle of Narnia dan Mimpi ke UK

Perkenalan saya dengan Pevensie bersaudara dimulai pada tahun 2008. Cukup telat memang, mengingat film The Lion, The Witch, and The Wardrobe pertama kali rilis tahun 2005. Sebenarnya di tahun 2005 itu saya sudah ngeh dengan keberadaan film tersebut, hanya saja, entah mengapa belum tertarik untuk menontonnya.

Di tahun 2008, saat itu saya kelas 2 SMA. Saya dan teman-teman di kelas IPS memiliki kebiasaan yang sebenarnya illegal. Jika ada pelajaran kosong atau sepulang sekolah, kami sering meminjam ruang laboraturium IPA untuk menonton film. Lho, kok, bisa? Ya, di sekolah saya, ruang laboraturiumnya memiliki infocus dan DVD player, dan kami beberapa kali menyalahgunakannya untuk menonton film. Yah, nggak apa-apa lah ya, maklum santri butuh hiburan, hehehe…

Kembali lagi ke Narnia, di tahun itu film Prince Caspian rilis. Kami pun berniat untuk menontonya bersama-sama. Supaya lebih afdhal, kami juga menonton The Lion, The Witch and The Wardrobe. Itulah pertama kalinya saya merasakan keseruan saat menonton film. Saya ingat, kami berteriak-teriak seru saat adegan peperangan, saat Peter atau Edmund mengayunkan pedangnya melawan tentara Raja Mraz. Belum lagi perasaan tegang saat Peter tanding pedang satu lawan satu dengan Raja Mraz. Begitu juga keseruan saat para pohon dan makhluk-makhluk Narnia lainnya membantu jalannya peperangan.

Ah, pokoknya ribut banget deh waktu nonton Narnia. Benar-benar meninggalkan kesan yang mendalam bagi saya. Bahkan beberapa hari setelah menonton Narnia, kami masih suka menyanyikan lagu The Call-nya Regina Spektor. “You’ll come back when it’s over, no need to say goodbye.”

Ada alasan lain yang membuat film Narnia terasa istimewa. Saya melihat Pevensie bersaudara itu seperti representasi Lima Sekawan minus Timmy dengan setting di dunia fantasi. Peter adalah Julian, Susan adalah Dick, Edmund adalah George, dan Lucy adalah Anne. Meskipun untuk Susan dan Dick nggak terlalu mirip. Yah, pokoknya saat melihat William Moseley di Narnia itu saya seperti melihat Julian yang selama ini saya bayangkan mewujud nyata. Bagaimana Peter menyayangi dan melindungi Lucy makin membuat saya merasa Peter itu Julian dan Lucy itu Anne. Dan saya sukaaaa banget dengan hubungan mereka.

Sebagai anak yang pernah kena Big Brother Complex, saya –tentu saja- ngefans banget dengan Peter. Afffh… afffh… (gigit bantal) (apaan sih, nggak jelas, abaikan). Banyak adegan antara Peter dan Lucy yang bikin saya gigit bantal.

1. Saat Peter menyetujui permainan petak umpet yang diajukan Lucy. Padahal saudaranya yang lain nggak mau. Dan karena permainan itulah Lucy menemukan lemari yang mengantarkan mereka pada Narnia.

f0251f68f53bed1d962b865f397000a3

pinterest

2. Saat Peter panik menyadari Lucy tidak berada bersamanya setelah melewati sungai es. Yang terlihat mengambang hanya jubahnya saja. (terus Lucy nongol dengan wajah innocent)

3. Saat Peter memeluk Lucy ketika Lucy hampir saja diserang beruang liar. Ah, ini best moment banget.

a6bab3f1f6f558461e6901dcd8b2023c

pinterest

4. Saat Peter mengikuti Lucy yang diam diam berjalan sendirian mengulang apa yang ia alami di dalam mimpi.

fe5d1966fa5253abe6901912a8b2b414

pinterest

Pokoknya saya ngefans sama Peter, deh. Dia benar-benar mengingatkan saya dengan Julian. Dan kalau sudah berbicara tentang Julian dan saudara-saudaranya, maka tidak akan terlepas dari Enid Blyton dan mimpi terpendam saya mengunjungi UK.

Ya, setelah membaca berbagai serial Enid Blyton (Mallory Towers, St. Clare, Si Badung, Seri Kumbang, beberapa seri Pasukan Mau Tahu dan Sapta Siaga) dan mengoleksi Lima Sekawan (termasuk tergila-gila pada Julian), saya begitu tertarik dan begitu ingin mengunjungi Inggris. Inggris di mata saya tampak seperti negeri penuh keajaiban dan petualangan yang menanti untuk dilalui.

Pada akhirnya, menonton Narnia membuat saya teringat dengan Julian, dan secara tidak langsung mengingatkan saya dengan mimpi UK saya. Setelah menonton Narnia, saya benar-benar bertekad suatu hari nanti saya bisa menginjakkan kaki di UK. Saya bermimpi melanjutkan studi saya di sana.

Ketika kelas 3 SMA, saya sibuk mencari tahu tentang kuliah S1 dan S2 di UK. Berbagai macam situs beasiswa, situs universitas, buku-buku yang membahas beasiswa ke luar negeri, semua saya lahap dengan senang hati. Saat itu saya merasa yakin sekali bahwa saya benar-benar bisa mewujudkan mimpi saya.

Lalu, segalanya berubah saat saya memasuki jenjang kuliah. Saat itulah saya merasa saya tidak ada apa-apanya dibanding teman-teman kuliah saya yang keren dan punya segudang prestasi. Tiba-tiba saya merasa begitu minder dan akhirnya saya mengubur mimpi UK saya dalam-dalam.

Suatu hari, saya menonton film Narnia di televisi. Saya menonton film itu hingga selesai, tak peduli dengan iklan-iklan yang memotong keseruan film. Setelah itu, saya menangis. Saya menangis karena ingat dengan mimpi saya saat SMA. Mimpi saya menginjakkan kaki dan menuntut ilmu di UK.

Saya sedih mengingat perasaan ketidakberdayaan saya saat itu. Saya ingin sekali tetap memperjuangkan mimpi itu, tetapi di sisi lain, sebagian dari diri saya mengatakan itu hil yang mustahal alias nggak mungkin. Dan saya kembali menangis.

Setelah kejadian itu, setiap kali saya menonton film Narnia, saya ingat mimpi saya yang saya kubur dalam-dalam. Meski setelah itu, saya tidak lagi menangis setiap selesai menonton Narnia. Hanya merasa tersentil, kadang sentilannya terasa sakit, kadang saya menikmati sentilan itu.

Ketika memasuki masa bekerja, saya teringat dengan mimpi itu lagi. Mimpi UK saya. Saat itu saya merasa sudah lebih baik dalam menghadapi momen-momen menyusun mimpi. Saya tidak lagi menggebu-gebu dan ambisius mengejar mimpi. Yang saya lakukan adalah mengizinkan hati dan pikiran saya untuk menyusun dan memiliki mimpi tersebut. Lalu berdoa kepada Allah agar Allah mengizinkan saya memiliki dan memperjuangkan mimpi tersebut, dan semoga itu adalah yang terbaik bagi saya.

Setelah itu, saya tidak lagi merasa tertekan, sedih, atau minder setiap kali mengingat mimpi UK saya. Bahkan meski sampai sekarang mimpi itu tertunda, saya tidak merasa tertekan sama sekali. Suatu hari nanti, saya pasti akan menginjakkan kaki dan menuntut ilmu di UK. Dan Insya Allah itu adalah yang terbaik bagi Allah. Karena seperti yang Allah firmankan dalam hadits qudsi yang sudah terkenal itu, “Aku seperti persangkaan hamba-Ku.”

Sampai sekarang, The Chronicle of Narnia adalah film favorit saya dan setiap kali film Narnia diputar di televisi, saya akan menontonnya hingga selesai.

*postingan ini untuk blogging challenge – favorite movie*