Luluh (Part 9)

luluh

“Hei Mil! Keliatannya sibuk banget!” seru Nicky saat dilihatnya Milly duduk manis di meja perpustakaan dengan beberapa buku di sampingnya.

“Oh, iya nih. Gue mau belajar…” sahut Milly berhenti sebentar dari kegiatannya dan hanya menatap Nicky sampai lelaki itu duduk di sebelahnya.

“Lo rajin banget sih,” puji Nicky. Milly hanya tersenyum.

“Hmm, sebenernya gue mau ikut olimpiade matematika. Makanya belajar,” jawab Milly merendah.

“Wow! Keren banget!” ujar Nicky kagum. “Tapi belajarnya sendirian aja?”

“Iya. Sore ini nggak ada kumpul studi klub. Jadi gue latihan sendiri. Lo mau nemenin?” tanya Milly yang dianggap Nicky sebagai ajakan yang menyenangkan dan tidak mungkin ia tolak.

Nicky pergi sebentar ke rak-rak buku untuk mencari buku yang ingin dia baca. Setelah itu, dia kembali lagi ke meja tempat Milly duduk. Milly menantinya dengan tidak sabar. Penasaran buku apa yang ingin dibaca Nicky.

“Lo, tertarik sama sastra dan puisi?” tanya Milly saat dilihatnya Nicky membawa buku kumpulan puisi Chairil Anwar dan Sejarah Sastra Indonesia.

“Oh… hmm, iya. Iya, gue lagi pengen tahu aja tentang puisi-puisi gitu,” jawab Nicky, terlihat kikuk.

“Kenapa?” tanya Milly penasaran.

“Hmm… yah, Indra sering ngomongin puisi. Gue jadi tertarik deh,” jawab Nicky, berharap bisa berbohong, tapi nyatanya tidak. Milly sedikit terkejut ketika Nicky mendengar nama Indra. Namun tiba-tiba dia teringat sesuatu.

“Oh. Setahu gue, Indra emang suka bikin puisi,” sahut Milly. “Btw, lo di kamar deket sama Indra?” tanya Milly. Kali ini, ada sesuatu yang membuatnya merasa lebih dari sekadar penasaran.

“Iya. Kita suka ngobrol gitu di kasurnya Indra. Dia suka cerita-cerita tentang puisi, dan hal-hal lain yang dia sukai,” jawab Nicky dengan wajah bersinar. Mengingatkan Milly dengan pancaran wajah Ninis yang ia lihat di lapangan waktu itu. Setelah itu, Nicky tenggelam dalam puisi-puisinya. Sedangkan Milly malah tidak berkonsentrasi dengan soal matematikanya.

“Udah belajar matematikanya?” tanya Nicky heran saat melihat Milly merapikan buku-bukunya. Milly mengangguk, terlihat sedikit frustasi.

“Beli es krim yuk!” ajak Milly. Ia merasa benar-benar butuh sesuatu yang bisa mendinginkan pikirannya.

Nicky langsung mengangguk setuju. Sebenarnya ia juga tidak sanggup berlama-lama dengan puisi-puisi itu. Ia hanya ingin bisa lebih lama mengobrol lebih lama dengan Indra, dan karena Indra sangat tertarik pada sastra dan puisi, Nicky pun berusaha lebih mengenal dunia itu.
________________________________________

Kejadian selanjutnya tidak ada dalam bayangan Milly ataupun Nicky. Milly pikir mereka hanya membeli es krim lalu duduk-duduk di taman kelas sambil sedikit berbasa-basi sampai es krim masing-masing habis, lalu pulang. Kenyataannya, Milly baru benar-benar menyadari kalau Nicky adalah teman mengobrol yang menyenangkan. Bukan karena ia tahu segalanya, tapi karena dia mendengarkan.

Milly tidak tahu bagaimana awalnya. Yang ia ingat, ia bercerita banyak hal pada Nicky. terutama tentang masalahnya dengan Mario. Milly bercerita kepada Nicky bagaimana pertama kali ia dan Mario bertemu. Lalu mereka berkenalan, dan setelah dua bulan berlalu, Mario mengungkapkan perasaannya. Kemudian hari-hari yang mereka jalani. Bagaimana sikap Mario terhadap teman-teman sekelas, kesibukan Mario di klub basket, hingga perubahan yang terjadi padanya sejak Nicky datang.

“Gue nggak ngerti, kenapa akhir-akhir ini Mario terlihat begitu nyebelin di mata gue. Pertama, karena gue denger cerita kalau dia suka memperlakukan lo dengan semena-mena di asrama. Terus, dia seolah-olah ngerasa takut kehilangan sesuatu gitu. Kalau ngomong sama gue, lebih sering dengan emosi. Nggak ngerti deh!” Milly menutup ceritanya karena tidak tahu lagi harus berkata apa. Nicky hanya mendengarkannya dengan sabar.

“Eh, tapi emang bener dia suka ngehukum lo di kamar?” tanya Milly memastikan. Nicky mengangguk.

“Iya. Tapi cuma sekali kok. Yah, gara-gara waktu di kelas berdua itu Mil. Lo inget nggak?”

“Oh yang itu! Ya ampun, Nicky, maaf ya. Emang tuh anak harus dikasih tahu!” seru Milly gemas.

“Ah, nggak apa-apa kok. Lagian waktu itu ada Indra yang bantuin gue,” jawab Nicky sambil tersenyum. Seolah itu bukan masalah yang berarti baginya. Tapi mendengar nama Indra disebut lagi, malah membuat Milly merasa gelisah.

“Indra tuh bener-bener baik Mil. Dia baik, perhatian, lembut, dewasa. Pokoknya keren banget deh. Beruntung banget Ila punya pacar kayak Indra,” lanjut Nicky dengan mata menerawang. Seakan berharap sesuatu jatuh dari langit.

“Yah, Indra memang baik,” kata Milly, tapi mungkin Ila tidak seberuntung itu, katanya dalam hati. Ada suatu kecurigaan tak mendasar yang muncul dari dalam diri Milly. Sesuatu yang tak bisa ia definisikan. Seperti perasaan ganjil yang tak pernah ia temukan sebelumnya. Ia benar-benar tidak tahu itu apa.

“Eh, Mil, lo kenal sama Alvy nggak? Cheerleader dari kelas X?” tanya Nicky menghentikan lamunan Milly. Hati Milly langsung merasa panas. Ia tidak hanya langsung ingat pada Alvy, tapi juga pada Zizi dan Ninis. Zizi yang sudah lama menyukai Mario dan Ninis yang diam-diam merebut Indra.

“Ya kenal lah! Dia itu bagian dari tiga anak kelas X yang nyebelin. Kenapa emang?” tanya Milly gusar.

“Sewot banget!” sahut Nicky lalu tertawa. “Dia beberapa kali nyapa gue. Berasa aneh aja sih. Maksudnya, gue kan nggak temenan sama dia.”

“Oh, jadi dia naksir elo. Sudah gue duga sebelumnya sih,” sahut Milly. Kepalanya mengangguk dan tangannya terkepal. Seolah sedang merencanakan sesuatu di kepalanya.

“Lo kenapa sih?” tanya Nicky bingung melihat tingkah Milly. Yang ditanya hanya menggeleng santai.

“Nggak. Nggak apa-apa. Eh, gue balik ke asrama ya! Thanks ya buat sore ini,” ujar Milly lalu tersenyum. Nicky membalasnya dengan senyuman lebar.

“Iya, sama-sama.”

Nicky melangkahkan kaki menuju kamarnya dengan perasaan ceria. Buku-buku puisi yang dipinjamnya dari perpustakaan, ia genggam erat-erat. Di ambang pintu, Mario telah menunggu.

Buuk!

Lengan kekar Mario mendarat di perut Nicky tanpa pemberitahuan. Nicky, yang tidak siap menerima serangan, langsung ambruk ke lantai. Mario mengangkat kerah baju Nicky, memaksanya berdiri. Kini giliran wajah Nicky yang menjadi sasaran. Sudut bibirnya mengeluarkan darah. Rahangnya lebam kebiruan.

Kamar mereka sepi. Kebanyakan penghuninya sedang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Beberapa yang lain dikondisikan oleh Mario untuk meninggalkan kamar. Sehingga tidak ada seorang pun yang menolong Nicky, yang memohon-mohon pada Mario untuk menghentikan pukulannya.

“Lo kenapa sih? Masih juga nggak ngerti ya? Kenapa masih deketin Milly?!” seru Mario marah dan frustasi. Ia tadi tak sengaja melihat Nicky dan Milly duduk berdua di taman. Mengobrol dengan serunya sambil menggenggam es krim.

“Tapi gue sama Milly cuma ngobrol,” jawab Nicky di antara rintihan kesakitannya. Mario sudah berhenti memukulinya. “Lo tuh terlalu cemburu Yo! Denger ya, gue sama sekali nggak suka sama Milly! Sama sekali nggak tertarik sama cewek itu! Jadi lo nggak perlu takut kehilangan dia!” seru Nicky marah, dan dengan tertatih berusaha bangkit, menuju ranjangnya.

Mario hanya terdiam. Tidak mengatakan apa-apa. Tidak melakukan apa-apa. Dia sadar, kemarahannya telah kelewat batas. Dan ia juga tahu, kalau tidak semuanya karena Nicky. Kekesalannya sore ini adalah puncak dari segala yang meresahkan hatinya seminggu terakhir. Milly, Nicky, Indra, klub basket, pelajaran di kelas, bagi Mario semua seolah berlomba-lomba ingin menghancurkan dirinya.

Mario mengepalkan tangannya. “Arrggh!!” erangnya, lalu pergi meninggalkan kamar.

Di kasurnya, Nicky hanya bisa tiduran dengan badan telungkup. Dia tidak mampu melakukan sesuatu selain itu, dan ia tidak mau teman-temannya tahu kalau wajahnya lebam. Saat malam mulai merangkak, satu per satu penghuni kamar kembali pulang. Tidak ada yang peduli pada Nicky yang terlihat sedang tidur. Tidak ada yang peduli kecuali Indra.

“Nick, tumben lo udah tidur!” sapa Indra sambil menepuk pundak Nicky. Nicky kaget dan menoleh.

“Ya ampun! Muka lo kenapa?” tanya Indra terkejut. Nicky kembali berbalik.
“Gue nggak apa-apa kok.”

Indra tidak percaya. “Lo abis berantem? Atau jatuh?” tanya Indra, yang tidak terlalu yakin kalau Nicky bertengkar.

Nicky berbalik lagi, menghadap Indra. Dia melihat wajah khawatir Indra dan merasa sedikit lega karenanya. Ternyata masih ada seseorang yang perhatian kepadanya.

“Tanya aja sama sahabat lo,” jawab Nicky pelan sambil mengarahkan matanya ke arah Mario. Indra langsung berbalik, memandang Mario, dan berdiri.

“Lo kenapa sih? Ada masalah apa lo sama Nicky?” tanya Indra sambil mendekati Mario. Wajahnya menyiratkan rasa kekesalan yang terpendam. Mario tidak langsung bicara, hanya menatap Indra dengan mata tajamnya. Mengira akan terjadi perang besar, penghuni kamar yang lain spontan menghentikan aktivitas mereka dan menonton perdebatan antara Mario dan Indra.

“Kenapa lo ikut campur? Mau jadi pahlawan? Dan bilang ke orang-orang kalau lo berhasil membela orang lemah kayak banci itu!” seru Mario.

Buuk!

Indra, yang sebelumnya tak pernah terlibat pertengkaran, apalagi berbuat kekerasan, memukul perut Mario tepat di ulu hatinya. Mario membalas dengan pukulan di tempat yang sama. Lalu kembali meninju dada Indra berkali-kali. Pukulan terakhir ia sarangkan ke wajah Indra, yang langsung ambruk ke lantai.

Semua terjadi begitu cepat. Tidak ada seorang pun yang sempat melerai, kecuali Nicky yang segera menghampiri Indra dengan tergopoh-gopoh. Begitu juga dengan Zilfan yang langsung menarik tubuh Mario dari belakang, mencegahnya memukuli Indra lagi.

“Indra! Lo nggak apa-apa kan?” tanya Nicky khawatir sambil meletakkan kepala Indra di pahanya. Indra, dengan mata terpejam, hanya menjawab dengan rintihan sambil memegangi dadanya. Lalu tanpa mengatakan apa-apa lagi, lelaki jangkung itu tak sadarkan diri.

“Indra!” seru Mario, yang baru benar-benar sadar atas apa yang telah dilakukannya.
________________________________________

… bersambung …

Angkot oh… Angkot

angkot_1.jpg

Baiklah, hari ini saya cerita lagi, ya. Kali ini tentang angkot, transportasi umum yang sangat mudah ditemukan di daerah perkotaan atau pinggir kota seperti di tempat tinggal saya.

Hari ini, seperti biasa, saya berangkat kerja pukul setengah tujuh pagi. Karena suami masuk pagi, saya pun hanya ikut sampai pertigaan jalan raya untuk melanjutkan perjalanan dengan bus jurusan Depok-Bogor. Sambil menunggu, saya iseng buka Facebook dan melihat status terbaru teman saya yang sama-sama tinggal di Cibinong.

Teman saya bilang, angkot 08 (angkot yang beroperasi di daerah Cibinong-Bogor) mogok. Saya pikir, ah paling hanya angkot saja. Saya, kan, naik bus. Jadilah saya masih dengan sabar menunggu kedatangan bus. Oiya, tepat hari kemarin, saya mendengar kabar, angkot di daerah Bogor Kota juga melakukan aksi mogok.

Setelah cukup lama menunggu, saya baru sadar, kalau tak ada satu pun bus yang lewat. Baik dari arah Depok/Jakarta atau dari arah Bogor. Saya juga menyadari kalau ternyata tidak jauh dari tempat saya berdiri, banyak orang-orang yang sedang menunggu angkutan. Akhirnya saya pun bertanya ke bapak-bapak yang biasa menyetop angkot dan membantu orang menyebrang.

“Wah, bis juga nggak boleh lewat, Neng. Terakhir saya lihat tadi habis shubuh ada yang lewat. Habis itu nggak ada lagi,” ujar si bapak.

Waduh, saya langsung pusing. Saya coba cek aplikasi ojek online. Ternyata nggak bisa. Nggak ada driver. Saya langsung putar otak, mencari cara agar bisa tetap berangkat ke kantor. Sempet kepikiran mau pulang lagi, sih, tapi kok ya ngerasa culun amat. Lagian kayaknya Depok nggak kenapa-kenapa, deh. Jadi, yang penting harus sampai daerah Depok dulu, nih, begitu pikir saya.

Sedang mikir begitu, ada tukang ojek menghampiri kerumunan orang. “Yuk, yang mau ojek, yuk!”

Akhirnya saya putuskan untuk naik ojek sampai fly over Cibinong. Niatnya, saya mau lanjut naik angkot 41 jurusan Depok.

Ketika sampai di fly over, jalanan ramai dengan bus-bus dan angkot yang dipaksa berhenti. Para penumpang (kebanyakan anak sekolah) bertumpuk di pinggir jalan. Mungkin bingung harus naik apa.

Tidak lama turun dari ojek, ada angkot 41 yang menawari saya naik. Naiklah saya bersama seorang perempuan muda (sepertinya hendak bekerja juga). Lalu disusul dengan gerombolan ibu-ibu dari pasar. Baru sebentar jalan, angkot kami diberhentikan oleh sekumpulan orang. Katanya si pak sopir harus berpartisipasi dengan gerakan mogok ini sehingga tidak boleh membawa penumpang. Terpaksa kami pun turun.

Saya yang bingung harus bagaimana, memutuskan untuk lanjut berjalan kaki. Sampai tiba-tiba ada sopir angkot yang menawari saya naik lagi.

“Ayo, Mbak, naik!”

“Nggak mau, ah! Nanti disuruh turun lagi,” jawab saya.

“Enggak Mbak, ayo cepet naik!” seru sopir itu sedikit memaksa. Saya pun akhirnya naik angkot itu karena berpikir, yah, daripada jalan kaki ke Depok. Gila aja kali!

Baru sebentar berjalan, sudah ada orang-orang yang menyetop lagi. Tapi, si sopir dengan berani melajukan angkotnya, tak peduli dengan teriakan-teriakan orang. Bahkan dia mengajak beberapa penumpang naik, hingga angkot tersebut penuh.

“Cepet Bang, jalannya! Itu ada yang ngejar-ngejar tuh pakai kayu!” seru seorang penumpang.

“Tadi gue diikutin orang gara-gara bawa sewa,” ujar seorang sopir 41 yang lain, saat angkot kami berhenti sebentar menaikkan penumpang.

Setelah semua naik, angkot pun melaju kencang di jalan. Jalanan mulai cukup aman ketika berada di daerah Simpangan Depok. Jadi, tadi dari Cibinong, Cilangkap, Cilodong, semua angkutan umum yang masih membawa penumpang diberhentikan dan penumpangnya disuruh turun.

Baiklah, itu saja drama pagi ini. Selebihnya, saya, Alhamdulillah, selamat sampai kantor. Namun, kepala ini isinya masih tentang angkot, angkot, dan angkot.

Sejak kembali lagi dari Kuningan sekitar tujuh tahun silam, hampir ke mana-mana saya menggunakan angkot sebagai transportasi andalan. Dulu, kuliah PP Cibinong-Depok, sehari-hari saya ngangkot hingga tiga kali ganti jurusan angkot. Lumayan jauh soalnya.

Saya sudah kenyang dengan pengalaman berangkot ria, dan percayalah, itu bukan pengalaman yang menyenangkan.

Tidak jarang, sopir angkot mengemudikan mobilnya dengan ugal-ugalan. Ngebut nggak kira-kira terus ngerem mendadak. Sering juga berjalan leletnya seperti siput, padahal di dalam, penumpang nggak sepi-sepi amat. Belum lagi kalau ngetem, aduh, habis waktu buat kegiatan yang satu itu. Intinya, naik angkot itu ngeselin.

Waktu saya kecil, angkot nggak gitu-gitu amat. Mengingat waktu SD saya juga PP naik angkot setiap hari. Nah, tahu-tahu ketika saya balik lagi, tingkah angkot kok makin menyebalkan, ya?

Menurut pengamatan saya, tingkah angkot yang menyebalkan seperti itu karena semakin berkurangnya penumpang. Kenapa bisa berkurang? Karena sekarang, hampir setiap rumah punya motor. Bahkan tidak jarang lebih dari satu motor. Orang-orang jadi lebih senang ke mana-mana menggunakan motor pribadi. Lebih irit dan lebih cepat. Apalagi di tempat saya itu, jarak dekat saja bisa sampai ganti angkot 2-3 kali karena beda trayek. Gimana orang nggak males, coba? Ditambah dengan adanya kenaikan BBM yang membuat ongkos semakin mahal. Ya, mendingan uangnya buat nyicil motor, kan? Iya, enggak?

Nah, sekarang, angkot yang sudah sepi tapi menyebalkan itu, nambah saingan, yakni ojek/transportasi online. Orang-orang yang (mungkin) belum mampu beli motor pribadi, atau nggak berani mengendarai motor jarak jauh, lebih memilih angkutan online.
Kenapa? Yah, itu sih nggak usah tanya lah, ya. Selain mudah, murah, harganya pasti, dan pelayanannya cukup bagus. Menurut saya, wajar saja angkot semakin hari semakin tersingkir.

Nah, yang menyebalkan adalah, sudahlah tahu nambah saingan, sepertinya tidak ada perbaikan kualitas dari angkot-angkot itu. Sopir-sopir makin seenaknya ngetem, bahkan bisa setengah jam lebih. Bawa mobil ugal-ugalan, dan seabrek hal kurang menyenangkan lainnya, yang akhirnya makin membuat penumpang ogah naik angkot.

Sekarang, angkot mengadakan mogok masal. Saya sebenarnya kurang tahu apakah karena keberadaan angkutan online atau ada alasan lain. Saya sempat cari-cari di situs berita, tetapi tidak lengkap. Mendengar percakapan para penumpang dan sopir angkot pun rasanya kurang meyakinkan.

Yang jelas, menurut saya pribadi, keberadaan angkot sudah pada tahap harus segera dibenahi. Terutama kalau mereka tidak mau kalah saing dengan para lawan. Baik pemilik motor pribadi maupun angkutan online.

Jujur, ya, saya sih nggak masalah naik angkot, asal nggak ngetem, nggak ugal-ugalan, atau malah lelet kayak siput. Selain itu, mungkin harus ada perbaikan rute (kalau di Bogor Kota sudah ada rerouting) untuk meminimalisasi penumpang jarak dekat yang harus gonta-ganti angkot karena trayek. Bahkan mungkin, kalau pemerintah sanggup, ada baiknya angkot-angkot itu diganti dengan bus atau angkutan lain yang lebih besar dan sanggup mengangkut penumpang lebih banyak. Sehingga di jalan itu nggak banyak angkot-angkot ngetem dan berseliweran.

Beneran, deh, bukannya saya nggak ada empati dengan para sopir angkot yang juga sama-sama mencari nafkah. Saya hanya berpikir, bahwa dunia ini memang penuh persaingan. Kalau mau bertahan, kalau mau berada di atas, ya harus terus memperbaiki kualitas. Kalau enggak, kalau cuma mogok-mogok doang, ya nggak terlalu berpengaruh.

Setelah kejadian tadi pagi, apakah saya merasa kehilangan angkot? Apakah saya merasa kehilangan ojek online? Tidak. Sama sekali tidak. Saya malah berpikir, oke, mungkin memang sudah waktunya saya berani belajar mengendarai motor. Karena angkutan umum di daerah saya sudah tidak bisa lagi diharapkan.

Tertanda
Saya yang pernah ngangkot setiap hari Cibinong-Depok