September Wish

september-wish (1).jpg

Assalamualaikum, apa kabar semua…

Alhamdulillah, sudah masuk bulan September, ya… Bulan yang cukup istimewa karena saya lahir di bulan September…

Memasuki bulan di mana usia berganti rasanya campur aduk. Antara nggak mau tambah tua, tapi punya banyak harapan, sekaligus merenungi sisa usia yang semakin menipis. Saya selalu berharap diberi umur yang berkah dan bisa memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Meskipun kenyataannya kadang tidak sesuai harapan.

Di bulan September ini, saya memiliki beberapa harapan dan rencana. Semoga bukan sesuatu yang muluk-muluk dan bisa saya tepati.

1. Menerapkan Food Combining

Jadi, saya baru saja membaca buku Food Combining. Buku ini sangat menginspirasi saya untuk semakin konsisten menerapkan pola makan sehat. Food Combining bukan diet, tetapi lebih kepada mengatur makanan yang masuk ke tubuh sesuai jenisnya. Untuk penjelasan lebih lengkapnya, Insya Allah, saya akan membuat postingan tentang Food Combining sesuai buku yang dibaca.

Nah, sebagai Food Combiner pemula, saya merasa nggak bisa langsung menerapkan seluruh aturan Food Combining. Untungnya, di buku tersebut dijelaskan langkah-langkah awal untuk Food Combiner pemula, yaitu minum air jeruk nipis peras setiap bangun tidur dan sarapan buah. Selain itu, mulai dari sekarang mengurangi konsumsi makanan nggak sehat seperti junk food, instant food, dan segala macam makanan yang mengandung pengawet, pemanis, pewarna, dan zat-zat kimia lainnya.

Sebenarnya, saya sudah berusaha menggalakkan pola makan ini sejak berbulan lalu. Tetapi kadang masih sering ‘cheating’ alias tetap mengonsumsi makanan nggak sehat dengan berbagai alasan. Mudah-mudahan, setelah membaca buku ini dan tahu manfaat Food Combining untuk kesehatan, saya semakin konsisten menjalankan pola makan sehat.

2. Organizing Digital File

Saya sudah menyebut-nyebut tentang Organizing Digital File di postingan Agustus lalu. Insya Allah, bulan ini masih berlanjut prosesnya, dan harapannya, selesai tepat waktu. Mengenai postingan tentang Organizing Digital File, coming soon, ya… Sudah ada draftnya, tinggal dipoles sedikit lagi.

september-wish (2).jpg

3. More Mindfulness

Sama seperti pola makan sehat yang semangat di awal-awal saja, mempraktikkan mindfulness juga sempat bolong. Terutama ketika long weekend kemarin, di mana kebanyakan orang bersantai dan berlibur, saya malah ‘gedebak gedebuk’ di rumah, sibuk menyelesaikan PR (sebenar-benarnya pekerjaan rumah) yang menumpuk.

Saya bahkan sampai hilang fokus dan konsentrasi. Padahal segitu sudah banyak dibantu oleh suami, lho. Tetapi tetap saja pikiran nggak pernah berhenti berpikir, ‘selesai ini, melakukan itu, selesai itu, melakukan ini.’ Terus begitu sampai menangis karena saking lelahnya.

Mungkin saya juga yang salah mengelola waktu atau mungkin juga tertekan untuk melakukan segalanya seefektif dan seefisien mungkin. Saya sering sekali memaksakan diri untuk mengerjakan dua atau lebih pekerjaan dalam satu waktu, yang sebenarnya bertentangan banget dengan prinsip mindfulness yang menyarankan mengerjakan satu pekerjaan dalam satu waktu. Efeknya, ya itu tadi. Lebih cepat lelah dan merasa pekerjaan nggak selesai-selesai. Saat itu, semua teori mindfulness yang pernah masuk ke kepala seolah nggak pernah ada.

Saya berharap, bulan ini dan seterusnya, nggak bolong lagi menerapkan mindfulness. Minimal, setiap kali merasa pikiran sudah mengebut ke sana kemari, saya ingat untuk menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya pelan-pelan, dan mengerjakan pekerjaan satu per satu tanpa diburu-buru. Dan yang terpenting, belajar mengelola waktu dengan lebih baik lagi.

4. Share More

Lebih banyak berbagi di sini memiliki beberapa arti buat saya. Berbagi berarti lebih banyak berinfak dan bersedekah, juga berbagi hal-hal yang bermanfaat lewat media sosial.

Setelah beberapa waktu mengikuti pelatihan digital marketing, banyak banget hal yang ingin saya lakukan lewat media sosial, salah satunya lewat blog dan Instagram. Sayangnya, sampai saat ini selalu terbentur dengan masalah waktu. Mungkin saya juga yang belum menempatkannya sebagai prioritas utama sehingga masih sering dikalahkan dengan hal-hal lain yang menurut saya lebih penting.

Untuk hal ini, saya nggak memasang target terlalu tinggi. Sama seperti rencana sebelumnya, saya berusaha menepati target memposting tulisan minimal seminggu sekali, di blog ini dan di blog buku. Mudah-mudahan bisa merambah ke dunia Facebook dan Instagram juga. Kalaupun belum bisa memposting tulisan sendiri, paling tidak berbagi tulisan/hal bermanfaat dan bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Baiklah, mudah-mudahan empat hal ini bisa saya tepati di bulan September dan seterusnya, ya…

Bagaimana denganmu? Apa harapanmu di bulan September ini?

Advertisements

Menikmati Masa Kini dengan Mindfulness

Sehari-hari, pernahkah kita terbayang-bayang masa lalu? Misalnya berpikir begini, “Enak ya, dulu, waktu masih sekolah. Nggak mikir ini, nggak mikir itu. Persoalan paling berat mungkin cuma soal Matematika atau Fisika.” Atau mungkin juga terbayang masa kuliah, yang bebas ke sana kemari. Lalu merasa semakin ke sini, hidup semakin rumit saja.

Saya sering merasa begitu. Ketika sedang stress atau merasa nggak nyaman dengan kondisi sekarang, saya sering terbayang masa lalu. Masa yang nggak akan pernah kembali meskipun kita mengenangnya ribuan kali.

Saya juga termasuk orang yang cukup sering mengkhawatirkan masa depan. Nanti kalau begini, gimana. Nanti kalau begitu, gimana. Rasanya hidup nggak tenang banget. Melakukan ini-itu karena ingin esok hari terjamin. Padahal tidak ada yang bisa menjamin kita masih hidup di hari esok kecuali atas kehendak-Nya.

Sebenarnya mempersiapkan hari esok atau masa depan tidak ada salahnya juga, sih. Hanya saja, kalau terlalu mengkhawatirkan hingga tidak bisa menikmati masa kini, rasanya sayang juga. Hari-hari berlalu untuk merindukan hal yang tak mungkin terulang dan meresahkan hari-hari yang belum pasti terjadi.

Lalu saya membaca buku karya Adjie Silarus berjudul Sadar Penuh Hadir Utuh. Dari buku tersebutlah saya tergerak untuk menikmati masa kini. Adjie sendiri menggunakan istilah mindfulness di dalam bukunya.

sadar-penuh-hadir-utuh

Apa itu mindfulness? Mindfulness adalah memerhatikan dengan cara tertentu: bertujuan, di sini, saat ini, tanpa melakukan penilaian. Sementara itu, yang saya tangkap tentang mindfulness adalah menyadari keadaan sekitar atau menyadari keadaan diri secara utuh dan penuh kesadaran dan menikmatinya dengan ikhlas.

mindfulness-juliet-adams.jpg

Mindfulness termasuk konsep yang baru saya dengar. Selama ini saya tidak terpikirkan dengan hal semacam itu. Apalagi dengan kebiasaan otak saya yang selalu ada saja yang dipikirkan. Mulai dari khayalan-khayalan nggak jelas (biasanya karena habis nonton film atau baca novel), sampai masalah-masalah yang belum tentu terjadi, tapi saya khawatir terjadi, dan saya merasa harus mempersiapkan diri untuk menghadapi masalah tersebut. Aneh banget, kan?

Yah, begitulah. Makanya saya merasa terdorong banget untuk berlatih mindfulness. Supaya hari-hari nggak habis hanya untuk mengenang masa lalu dan mencemaskan masa depan. Supaya saya bisa lebih relaks menjalani hari, menikmati masa kini.

Di dalam bukunya, Adjie mencantumkan beberapa manfaat berlatih mindfulness.

1. Menentukan tujuan

“Menetapkan tujuan sebelum memulai sesuatu itu penting dan membantu kita dalam perjalanan. Saat menemui tantangan di tengah perjalanan, kita dapat mengingat tujuan kita di awal. Dengan begitu, motivasi terus terjaga untuk melanjutkan perjalanan.”

2. Menentukan prioritas

“Berani memutuskan untuk tidak melakukan hal-hal yang kita anggap tidak penting dapat membebaskan diri kita. Kita menjadi belajar untuk menghargai hidup dan tidak ada lagi beban pikiran di malam hari karena belum menyelesaikan ini dan itu.”

3. Mengubah kesepian menjadi kedamaian

“Kesepian tidak sama dengan kesendirian. Rasa sepi bisa muncul pada siapa saja yang merasa bahwa kebutuhan sosialnya yang paling mendasar akan dukungan dan penerimaan dari lingkungan tidak terpenuhi.”

Mungkin itu kali ya yang disebut Ari Lasso, “Di dalam keramaian aku masih merasa sepi….” Hehehe.

Dengan mindfulness, kita belajar untuk tidak melawan rasa sepi yang kita rasakan. Bisa dibilang, kita malah diajak untuk menikmati rasa sepi tersebut, dan menganggapnya sebagai sesuatu yang tak terhindarkan dari kehidupan manusia.

4. Memperbaiki perasaan bersalah

“Rasa bersalah bisa menimbulkan ketidakberdayaan ketika kita tidak tahu harus berbuat apa untuk memperbaiki aki dari kesalahan kita. Jika dibiarkan berlarut-larut, perasaan ini akan menyebabkan kebencian pada diri sendiri.”

“Dengan mindfulness, kita tidak lagi menggunakan pikiran kita sebagai alat untuk menghukum diri dengan rasa bersalah. Kita jadi lebih bisa menyadari bahwa diri kita yang sekarang tidak sama dengan diri kita di masa lalu.”

5. Menekan Stres

“Apa pun yang kita lakukan dan betapa pun keras kita berusaha, serta betapa keren diri kita, dalam perjalanan hidup, kita akan selalu menemui masalah yang tidak bisa kita sangkal begitu saja.

Melatih diri sadar penuh-hadir utuh (mindfulness)-akan membantu kita meletakkan masalah yang kita hadapi dalam sudut pandang yang bijaksana melalui pemahaman yang lebih baik.”

6. Memunculkan ketenangan

Mungkin sehari-hari kita melalui dengan rutinitas yang sibuk dan seolah selalu berkejaran dengan waktu. Melupakan kebutuhan kita untuk menenangkan diri dan pikiran dari hidup yang ramai.

“Luangkanlah waktu meski sejenak untuk melatih ketenangan diri. Mungkin kamu tidak sontak meraih impianmu, tetapi berjalan menuju ke sana dengan penuh rasa syukur dan kegembiraan.”

manfaat-mindfulness.jpg

Salah satu cara menenangkan diri dari Adjie yakni berlatih “menghitung napas”. Setiap kali merasa lelah, resah, stress, atau lainnya, cobalah untuk menghitung setiap kali kita menarik dan mengembuskan napas.

Saya akhirnya mencoba menerapkan latihan menghitung napas ini. Lumayan sih, memang cukup berpengaruh untuk mengurangi tingkat keresahan atau rasa stress. Tapi bukan berarti masalahnya selesai begitu saja. Masalahnya mungkin masih ada, tapi ada sedikit ketenangan yang timbul di hati, dan membuat saya merasa nggak terburu-buru memutuskan sesuatu.

latihan-mindfulness.jpg

Well, buku Sadar Penuh Hadir Utuh menurut saya sangat bagus. Meskipun tema bahasannya agak meloncat-loncat, tetapi membaca buku ini, saya merasa seperti diingatkan untuk tetap tenang, tetap tenang, jangan terburu-buru melakukan atau memutuskan sesuatu. Saya seperti diingatkan untuk menikmati setiap detik yang saya lewati. Karena kita hidup di masa ini, di masa kini, maka nikmatilah.

Kalau penasaran dengan isi bukunya, bisa lho mampir ke situs http://www.adjiesilarus.com Di situsnya, Adjie memberikan ebook gratis dengan hanya berlangganan email list-nya. Saya sendiri sudah berniat akan membaca dua bukunya yang lain, yaitu Love Out Loud dan Happy Breathing to You.

Selamat berlatih mindfulness. Selama menikmati masa kini.