Author's Note

Diary Juni-Juli 2022


Aku baru ngeh kalau post diary bulanan terhenti di bulan Maret saat menulis kesanku menonton ulang Hanakimi.

Yah, kuakui 3 bulan ke belakang aku memang nggak ngeblog sama sekali. Baik di blog ini maupun di blog buku.

Gara-gara itu, aku jadi ingat untuk menulis diary bulanan. Niatku membuat post khusus tentang rekapan kehidupan selama sebulan sebenarnya agar aku tetap tergerak untuk ngeblog meskipun nggak tahu mau menulis apa.

Selain itu, aku juga ingin tetap mengingat hari-hariku (yang biasa-biasa saja) dan menjadikan catatan tersebut sebagai bahan evaluasi.

Nah, sudah cukup pemberitahuannya. Lanjut ke poin utama. Walaupun judulnya diary Juni-Juli, aku tetap menyertakan sedikit tentang kehidupanku selama bulan April-Mei 2022.

Diary April 2022

Bulan April tahun ini adalah bulan Ramadhan full. Ramadhan kedua yang aku jalani setelah menjadi ibu.

Ramadhan tahun lalu, anakku masih 2 bulan, dan aku masih begadang hampir setiap hari. Jadi rasanya berat banget.

Tahun ini, alhamdulillah dia sudah setahun. Sedang aktif dan eksploratif. Tapi sudah bisa diajak bekerja sama dalam hal tidur, jadi aku nggak perlu ngerasain tidur beberapa menit sebelum sahur.

Oiya, Ramadhan tahun ini lumayan sepi karena ada peraturan baru tentang membangunkan sahur. Yah, buatku sih itu lumayan menolong, karena aku memang nggak terlalu suka dengan segala sesuatu yang terlalu ribut.

Btw, sebenarnya hal ini pernah ingin aku bahas di blog. Tapi akhirnya aku urungkan karena aku merasa, ah yasudahlah. Pokoknya nggak jadi aja, hehehe.

Bulan April aku nggak baca buku fisik atau ebook di Ipusnas, melainkan membaca buku di aplikasi Cabaca. Lumayan okelah, aku berhasil menamatkan 4 buku dan beberapa bagian awal buku yg menurutku cukup menarik.

Diary Mei 2022

Akhir April, H-2 sebelum Lebaran, aku dan keluarga suamiku ke Lampung. Kebetulan ibu mertua berasal dari Lampung Barat, dan masih ada nenek suamiku di sana.

Aku menghabiskan seminggu penuh di kampung orang. Lalu dengan penuh sukacita kembali lagi ke rumahku. Tepat di saat baterai interaksi sosialku sudah mau habis. Bisa dibilang tinggal 5% lagi.

Seminggu berikutnya aku lalui dengan cukup berat karena anakku diare plus susah makan. Sebenernya selama di kampung orang pun dia susah makan dan ngiler terus.

Setelah tiba di rumah dan datang ke posyandu, menurut ibu-ibu posyandu, anakku susah makan karena sedang tumbuh gigi. Yah, memang ada beberapa gigi baru di mulutnya. Dan itu juga yang menyebabkan dia ngiler terus.

Oiya, seminggu sebelum Lebaran pun anakku sakit. Jadi, awalnya jidat dia benjol karena kejedot, terus luka. Lama-lama luka itu malah bertambah ke mana-mana, mirip seperti cacar.

Awalnya, aku dan suamiku masih memberi perawatan rumah seperti bedak dan sering-sering dibersihkan. Tapi karena nggak kunjung membaik, akhirnya kami ke dokter anak dan ternyata luka di jidat itu sudah terinfeksi bakteri.

Huft, punya anak itu memang benar-benar sesuatu banget yah. Intinya, selama seminggu sebelum Lebaran dan seminggu setelah Lebaran, fokusku cuma ngurus anak sakit aja.

Barulah setelah pertengahan Mei, kehidupanku kembali normal. Aku bisa membaca buku dengan tenang dan menamatkan trilogi yang kusukai, yaitu Gideon Trilogy karya Linda Buckley Archer. Mudah-mudahan bisa segera menulis dan memublikasikannya di blog buku.

Diary Juni 2022

Bulan Juni adalah bulan terbanyak aku membaca buku sejauh ini. Total buku yang kubaca sebanyak 22. Benar-benar angka yang sangat kontras dibandingkan bulan-bulan sebelumnya, hanya berkisar 4-6 buku sebulan. Salah satunya mungkin karena ponselku rusak.

Jadi, pada akhir Mei, ponselku jatuh dan membuatnya nggak bisa menerima daya walaupun dicharger. Aku bawa ke tempat servis dengan harapan umur ponselku masih bisa diperpanjang alih-alih beli ponsel baru.

Aku cukup optimis ponselku bisa bener lagi karena merasa masalahnya nggak terlalu berat. Dan awalnya si mas tukang servis pun bilang begitu. Cukup diganti IC apa gitu.

Eh, setelah aku balik lagi ke sana, dia malah bilang LCD ponselku rusak dan nggak bisa nyala. Padahal, sebelumnya LCD nggak kenapa-kenapa. Memang agak gremet-gremet dikit, tapi bukan yang parah banget. Karena kesal merasa diakal-akalin sama tukang servis, akhirnya kurelakan saja ponsel itu dengan harga 100ribu.

Pelajaran (pahit) yang kudapat tentang ponsel rusak. Daripada diperbaiki, lebih baik langsung jual saja. Kecuali kamu kenal baik dengan orang yang memperbaiki. Tapi, beneran deh, lebih baik lem biru aja 😅

Nah, efek ponsel rusak itu jadi ke mana-mana. Aku merasa hidupku lebih tenang sih, di beberapa sisi. Tapi di sisi lain, ada ribetnya juga, terutama komunikasi dengan suami & orang tua. Urusan titip beli barang/makanan sebelum pulang kerja dan semacamnya.

Jadi lebih tenang karena aku nggak buka media sosial termasuk Whatsapp. Aku juga nggak buka blog. Aku jadi bisa fokus membaca buku-buku fisik yang ada di rumah.

Pertengahan Juni, akhirnya dibelikan ponsel baru oleh suami. Alhamdulillah. Yah, walau bagaimanapun, ponsel sudah menjadi kebutuhan sekunder pada masa sekarang.

Bagiku pribadi, selain untuk komunikasi dan media sosial, ponsel itu sudah seperti mini laptop. Sekarang aku membaca dan menulis di ponsel. Karena semakin susah menggunakan laptop ketika punya balita. Yang ada baru nyalain sebentar, sudah pengen dipencet-pencet sama bocil.

Kalau ponsel lebih fleksibel. Menulis dan membaca bisa dikerjakan di sela-sela rutinitas sehari-hari tanpa waktu booting yang lama dan bisa dilakukan dalam posisi apa saja.

Setelah punya ponsel baru, aku pasang kembali aplikasi ipusnas, dan itu jadi salah satu sebab aku bisa membaca banyak buku bulan ini. Sepanjang Januari-Mei aku memang nggak pasang Ipusnas, karena mau fokus membabat timbunan buku fisik di rumah.

Diary Juli 2022

Masih pertengahan Juli sih, tapi nggak apa-apa deh ditulis duluan. Nanti kalau ada hal menarik yang terjadi setelah tulisan ini dipost, akan ditulis di diary bulanan berikutnya.

Memasuki bulan Juli, aku merasa bosan membaca buku. Rasanya benar-benar nggak ingin membaca buku apa pun, bahkan buku yang tadinya pengen banget aku baca.

Aku pikir, mungkin itu karena bulan Juni aku benar-benar tergila-gila membaca sehingga aku mencapai titik burn out. Dan aku merasa nggak masalah juga sih, toh nanti juga aku bakal baca lagi.

Jadilah aku mencari selingan dengan menonton ulang Hanakimi dan Power Rangers di Youtube. Selain itu, aku juga menonton beberapa video di Youtube. Salah satunya yang sedang aku gemari adalah channel Nebokgom. Channel tersebut berisi video pembuatan kue dan kegiatan menyiapkan makanan dan minuman di kafe Nebokgom.

Aku juga menonton potongan-potongan film di Facebook dari akun Netflix Indonesia dan akun-akun ringkasan film. You know-lah 😄

Pada bulan Juni-Juli juga aku mengunjungi beberapa tempat baru yang Insya Allah akan kuceritakan di postingan terpisah.

Baiklah, sudah sepanjang ini. Aku penasaran adakah yang membaca sampai kalimat ini. Jika ada, terima kasih ya. Mudah-mudahan mendapat sedikit manfaat dari cerita ngalor-ngidulku ini. Sampai jumpa di post berikutnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s