Perjalananku di Tahun 2018

Akhir tahun kurang dari sebulan lagi. Rasa-rasanya sudah cocok meluangkan waktu untuk melihat kembali apa yang telah kita lewati selama setahun ini.

Jika disuruh merangkum apa yang terjadi selama setahun ini, saya mungkin tidak bisa memberi sesuatu yang super, amazing, atau wow banget. Bisa dibilang tahun 2018 berlalu dengan biasa-biasa saja. Akan tetapi, dari hal-hal biasa itu banyaaaaak sekali yang harus disyukuri.

Saya tidak membuat target dan resolusi di tahun 2018. Saya ingin tahun 2018 mengalir dengan lembut tanpa tergesa-gesa. Mungkin itu yang membuat tahun 2018 terkesan ‘tidak ada apa-apa’.

Tahun 2018, saya belajar lebih banyak tentang mindfulness. Coba-coba menulis tentang mindfulness di blog ini, di antaranya adalah:

Continue reading

Advertisements
Selamat Datang Desember dan Buku Baru (Dicetak)

Selamat Datang Desember dan Buku Baru (Dicetak)

Assalamualaikum, apa kabar?

Desember sudah mulai dari kemarin-kemarin, tetapi saya baru bisa menulis postingan awal bulan hari ini. Sebenarnya, akhir November itu ada yang mau diposting, tetapi setelah dipikir-pikir, nggak usah diposting, deh. Karena isinya curhat yang personal banget, coba diendapkan dulu. Eh, tahu-tahu Desember sudah berjalan.

Yah, begitulah hari-hari. Mereka terus bergerak tanpa kembali lagi. Kita yang harus bisa-bisain mengisinya dengan sesuatu yang bermanfaat atau bakal terisi dengan hal yang sia-sia.

Tidak terlalu banyak hal yang terjadi di bulan November. Rencana ikutan BNNS dari Storial.co gagal total. Saya bahkan tidak menulis setengahnya dari ide cerita tersebut. Ternyata menulis novel selama sebulan tidak semudah yang saya bayangkan.

Kabar baiknya, saya berhasil menyelesaikan proyek iseng-iseng saya. Kok, proyek iseng-iseng? Ya, soalnya memang beneran iseng saja, sih. Saya kepikiran mencetak Remember Reina dan Kumpulan Cerpen saya menjadi sebuah buku beneran.

Ini dia wujudnya!

Continue reading

Remember Reina: Behind the Story

Baru-baru ini saya menyelesaikan sebuah rangkaian cerita, yang pada awalnya sama sekali tidak diniatkan untuk dirangkai-rangkai, hehehe…

Kisah ini dimulai setelah saya menulis cerita Rainy Day in Oslo. Setelah memposting tulisan itu di wordpress, malamnya saya buka file-file cerpen lama saya, dan membaca tulisan Give Your Heart a Break.

Entah kenapa, saat itu juga, saya merasa menemukan benang merah atau entah apalah namanya, pada dua kisah ini. Saya pikir, seru juga kalau tokoh utama di Rainy Day in Oslo adalah Adeline di kisah Give Your Heart a Break. Saya jadi punya alasan kenapa membuat Adel harus terbang jauh-jauh ke Oslo selain karena nge-fans dengan Christian Ingebrigtsen.

Dari situ, cerita menyebar lagi, bersambung ke kisah Meninggalkan Cerita Ini dan Reina yang dahulu kala pernah saya tulis.

Nah, supaya tidak ribet, saya ceritakan juga awal mula kisah Reina.

Dahulu kala (cieeee…) sekitar tahun 2007, saya nge-fans banget dengan grup band Letto. Banyak dari lagu-lagu mereka menginspirasi kisah fiksi dan kisah cinta saya, kekeke…

Salah satunya adalah lagu Sebenarnya. Saya suka sekali dengan lagu ini, dan setiap kali mendengar lagu tersebut, saya membayangkan tentang seorang kekasih yang tidak bisa menerima kenyataan kalau kekasihnya telah pergi. Dari khayal-mengkhayal itu, lahirlah kisah Reina dan Hakim.
Cerita pertama yang saya tulis, cukup berbeda dengan yang saya posting di wordpress saat ini. namun garis besarnya masih sama.

Lalu, lima tahun berikutnya, saat saya membaca kembali kisah Reina, saya terpikir untuk membuat sekuel singkatnya, dan menghadirkan tokoh baru. Maka, lahirlah Hady di kisah Meninggalkan Cerita Ini. Judul cerita ini diambil dari lagu band favorit saya juga, The Rain. Kebetulan saat itu saya lagi suka-sukanya dengan lagu tersebut, hehehe….

Beberapa bulan kemudian, terpikir lagi untuk menambah sekuel kisah Reina dan Hady. Kembali lagi menghadirkan tokoh baru, Adeline. Saat menulis kisah tersebut, saya lagi suka-sukanya dengan lagu Demi Lovato yang akhirnya saya ambil juga untuk menjadi judul cerita.

Lalu, di tahun 2013, saya rindu Reina dan ingin mempertemukan Reina dengan seseorang yang lain. Seseorang yang ia cintai dan mencintainya. Lahirlah tulisan Alone Apart. Sama seperti judul-judul cerita sebelumnya, Alone Apart diambil dari judul lagu bernama sama yang dinyanyikan oleh Mark Hansard dan Marketa Iglova di film musikal Once.

Kembali lagi ke 2015, setelah menulis Rainy Day in Oslo dan puisi pengiringnya, Runaway, saya terpikir untuk menulis kisah dari sudut pandangnya Hady. Lahirlah Cracked.

Judul awal yang saya rancang adalah It’s Over. Sama dengan judul lagu Jesse McCartney yang menginspirasi saya menulis cerita tersebut. Namun akhirnya saya pilih Cracked, yang artinya terbelah atau retak. Dan Cracked adalah satu-satunya kisah bernuansa absurd di rangkaian kisah Reina ini.

Setelah menulis Cracked, saya terpikir untuk kembali lagi pada kisah Reina dan Darren. Saya terpikir untuk menulis sekuel mereka berdua, dan akhirnya lahirlah Biarkan Ia Pergi.

Sebagai sentuhan akhir, saya menambahkan satu cerita lagi yang berjudul Walking in the Rain. Cerita ini kembali lagi pada sudut pandang Adeline dan kisahnya bersama Hady, serta secuil kisah Reina dan Darren.

Saya tidak akan bilang kalau rangkaian kisah Reina adalah cerita bersambung. Karena meskipun masih saling berkait, namun masing-masing ceritanya bisa dibaca secara terpisah. Meskipun pada akhirnya, ada beberapa cerita yang sengaja saya buat agak kabur atau misterius latar belakangnya.

Saya sendiri lebih suka menyebut rangkaian kisah Reina dan kawan-kawannya ini sebagai puzzle stories. Seperti puzzle, pembaca bebas membacanya dari cerita yang ia inginkan. Ketika satu per satu telah dibaca, baru akan terlihat gambaran utuh dari seluruh cerita tersebut. Mudah-mudahan… hehehe…

Di bawah ini adalah daftar link dari seluruh rangkaian kisah Reina. Semoga kamu suka ya, selamat membaca!

  1. Rainy Day in Oslo
  2. Runaway
  3. Cracked
  4. Alone Apart (I)
  5. Alone Apart (II)
  6. Biarkan Ia Pergi
  7. Reina (I)
  8. Reina (II)
  9. Meninggalkan Cerita Ini
  10. Give Your Heart a Break
  11. Walking in the Rain

Meninggalkan Cerita Ini

Telah kau curi satu keping hatiku, kau bawa dalam tiap untai senyumanmu…
Kau juga yang hancurkan semua mimpi ini, kau pugar hanya untuk kau remukkan lagi.

Tak ada yang istimewa dengan gadis itu. Tidak terlalu cantik, tidak terlalu menarik, dan bukan gadis yang terkenal di sekolah. Tapi sebuah senyum singkat yang kulihat di siang terik itu, telah dengan begitu ajaib, mengubah keseluruhan hari-hariku di sekolah. Membuat satu cerita baru dalam bagian kehidupanku.

Namanya Reina Ferdiana. Aku mengetahuinya dari emblem nama yang dipasang di baju seragamnya. Semenjak siang itu, entah kenapa aku jadi sering memperhatikannya. Jadi sering berharap agar aku berpapasan dengannya. Tak peduli di mana.

Reina gadis yang ceria. Aku selalu melihatnya tersenyum, terutama ketika ia sedang berjalan menuju perpustakaan. Setiap hari Reina selalu ke perpustakaan, aku tak tahu dia sedang punya tugas apa. Sebelumnya, tak pernah Reina serajin itu mengunjungi tempat sunyi seperti perpustakaan.

Setiap aku melihatnya berjalan menuju perpustakaan, aku selalu berharap aku bisa ke sana juga. Sayangnya, aku terjebak dalam kantor Tata Usaha ini. Kebetulan, kantor Tata Usaha berada berseberangan dengan perpustakaan sekolah kami.

Oh ya, aku lupa satu hal, aku bukan pegawai TU, asal kalian tahu. Aku juga murid sekolah ini, hanya saja, aku memiliki kerja sampingan di kantor itu. Sebagai anak yatim piatu yang tak jelas keberadaannya ayahnya, aku harus berusaha sendiri untuk bertahan hidup. Salah satunya dengan mengurus beberapa administrasi sekolah, di sela waktu istirahat.

Waktu itu, aku pernah sangat ingin melihat Reina, dan aku sangat berharap, ia ke perpustakaan lagi seperti biasanya. Kebetulan, pelajaran sebelum istirahat kosong. Aku bergegas ke kantor Tata Usaha untuk menyelesaikan tugasku, sehingga ketika waktu istirahat tiba, aku bisa berada di perpustakaan.

Aku berhasil berada di perpustakaan, dan tepat seperti keinginanku, Reina ke perpustakaan juga. Dia berjalan dengan penuh senyuman ke arah mejaku. Aku terkesiap. Tak menyangka kalau aku diberinya senyuman sehangat itu. Tak menyangka kalau dia sesenang itu bertemu denganku. Dan aku hanya bisa memandanginya terus, dengan senyum gugup, dan kata-kata yang tertahan di tenggorokan.

“Hai, udah lama nunggu?” tanya Reina. Tapi bukan untukku. Pertanyaan itu untuk orang yang duduk di meja sebelahku. Meja pojok kanan. Kulihat Kak Hakim sedang duduk manis dengan tumpukan bukunya.

Aku tak berniat mendengarkan pembicaraan mereka lebih jauh lagi. Aku baru tahu kalau selama ini Reina selalu ke perpustakaan untuk bertemu Kak Hakim. Dan senyuman yang tadi, jelas-jelas itu bukan untukku. Seketika, aku merasa ada sesuatu yang tercerabut dari hatiku. Seperti akar pohon yang sudah tertanam begitu dalam kemudian dicabut dengan paksa.

Tiba-tiba perpustakaan terasa pengap dan aku butuh banyak udara untuk bernapas. Aku segera keluar, bersamaan dengan Reina. Ia tersenyum lagi, saat kami sama-sama memakai sepatu. Aku menoleh ke kiri-kanan, memastikan kalau senyum itu bukan untukku.

“Lo cari siapa?” tanya Reina. Kali ini untukku. Aku menggeleng. Dia tersenyum lagi.

“Kayaknya lo salah pakai sepatu, deh,” ujar Reina sambil menunjuk kakiku, masih dengan senyumnya, lalu beranjak pergi. Kali ini aku tahu, senyum itu memang untukku, tapi karena aku memakai dua sepatu yang tidak berpasangan!

Saat pulang sekolah, aku melihat Reina pulang bersama Kak Hakim. Ia terlihat begitu bahagia, sedangkan wajah Kak Hakim tampak agak gugup. Aku kenal Kak Hakim, dia salah satu kakak kelasku yang baik dan pintar. Dia murid yang tidak banyak bicara dan suka menghabiskan waktunya untuk membaca buku di perpustakaan.

Aku menunduk saat melewati mereka. Mungkin mereka akan menghabiskan waktu bersama. Mungkin laki-laki yang disukai Reina adalah Kak Hakim. Mungkin mereka akan berpacaran. Mungkin aku akan selamanya menyimpan perasaan ini dalam hati. Jadi aku berlalu begitu saja, meski ingin rasanya aku menyapa Reina.

Esoknya aku mendengar kabar buruk. Dua murid sekolahku jatuh di ngarai yang berada di desa belakang sekolah. Aku tahu ngarai itu. Tempatnya memang agak aneh. Sebuah padang rumput yang hijau, luas, dan indah, namun memiliki ujung yang begitu seram. Seperti tepi jurang.

Dua murid itu adalah Reina dan Kak Hakim!

Kak Hakim meninggal, sedangkan Reina hanya terluka sedikit, tapi dia baik-baik saja. Aku mendengar desas-desusnya dari para murid, guru, dan pegawai di kantor TU. Aku tak mengetahui secara pasti seperti apa kejadiannya. Yang aku tahu, Reina tidak masuk berhari-hari setelah peristiwa itu. Setelah masuk pun, ia tak pernah menyambangi perpustakaan lagi. Aku sadar, aku telah kehilangan senyum manis Reina.

Aku tak lagi berharap melihat Reina berjalan menuju ke perpustakaan lagi sejak saat itu. Aku hanya bisa berharap bertemu Reina di tempat-tempat lain seperti kantin atau koridor kelas. Namun entahlah, meski kabarnya ia telah kembali bersekolah, Reina seperti hilang dari peredaran. Mungkin ia diam saja di kelasnya. Mungkin.

Sekali waktu, aku ke perpustakaan saat istirahat. Ketika itu, aku hendak meminjam buku untuk mengerjakan tugas. Aku tak berlama-lama di dalamnya. Setelah selesai mengurus peminjaman buku, aku berjalan ke kantor TU. Saat itulah, aku kembali melihat Reina.

Aku terkesima, hingga tanpa sadar aku tersenyum kepadanya. Reina menghentikan langkahnya. Jarak kami mungkin hanya sekitar lima meter. Reina membalas senyumku, dan menatap wajahku lamat-lamat. Kali ini, aku yakin sekali hanya ada aku di situ. Untuk beberapa detik kami hanya saling tersenyum. Untuk kemudian aku terkejut karena tiba-tiba Reina lari meninggalkanku.

Aku panik, menoleh ke belakang, dan tidak ada siapa-siapa. Oh, mengapa Reina harus bertingkah seaneh itu? Atau akukah yang bersikap aneh kepadanya? Pikiranku diliputi berbagai pertanyaan. Tapi kakiku refleks mengikuti ke mana Reina berlari.

Ternyata ia menghampiri teman perempuannya.
“Tia! Tahu nggak sih? Tadi gue ketemu sama Hakim di depan perpus!”

Reina bersuara cukup nyaring, sehingga aku bisa mendengar ucapannya dengan jelas. Kulihat, teman yang dipanggilnya Tia tersedak begitu Reina menyelesaikan kalimatnya. Aku termangu. Reina melihat Hakim di depan perpustakaan? Bukankah yang ia lihat aku?

Sontak, kini aku yang berlari. Menuju kamar mandi terdekat. Bercermin. Kulihat di sana, pantulan seseorang yang sedikit banyak memang mirip Kak Hakim. Bertubuh tinggi, berkulit coklat, dan berkacamata. Itu aku.

***

Aku tidak pernah berniat menjadi penguntit. Tapi, aku tidak dapat menahan keinginanku untuk mencari tahu ke mana Reina biasa pergi setelah sekolah usai. Jadi, hari ini aku memberanikan diri untuk mengikutinya.

Reina berjalan terus, ke jalan menanjak, tempat lapangan hijau bertepi jurang itu berada. Wajahnya masih murung, seolah masih begitu kehilangan Kak Hakim.

Dia duduk diam saja di hamparan rumput itu. Tercenung memandang langit. Aku tidak berani melakukan apa-apa. Aku hanya berharap kehadiranku tidak disadari olehnya. Tapi ternyata harapanku tidak terkabul. Ia menemukanku. Sama seperti waktu di depan perpustakaan, ia menatapku lama sekali. Seperti memastikan kalau aku benar-benar ada di hadapannya.

Aku berdeham.

“Hakim?” Nama itu yang terucap dari bibir Reina.

“Bukan, namaku Hady,” jawabku pelan, berharap tidak mengecewakannya.

Lalu Reina menghampiriku. Memelukku erat sekali. Aku begitu kaget sekaligus gugup. Tak pernah aku dipeluk seorang perempuan, sambil menangis pula. Reina menangis tersedu-sedu. Aku berharap kalimatku barusan di dengar olehnya.

“Sorry, aku tahu kamu bukan Hakim. Tapi kamu mirip banget sama dia. Dan aku… aku kangen banget sama dia. Aku ngerasa bersalah sama dia. Aku nggak sanggup… aku nggak sanggup nerima kalau dia udah pergi…” ujar Reina setelah melepas pelukannya. Aku menunduk.

“Maaf.” Hanya itu yang bisa aku ucapkan. Reina menghapus air matanya. Lalu memelukku lagi. Aku masih belum berani membalas pelukannya. Tapi setidaknya, dia sudah tidak menangis lagi.

“Apa aku boleh minta tolong sesuatu sama kamu?” tanya Reina. Aku menggangguk. Meskipun Reina masih memelukku, aku tahu ia tahu aku mengangguk.

“Tolong, jadi Hakim buat aku…”

Kalimat itu sepertinya terdengar begitu jahat. Reina memintaku agar menjadi Hakim-nya. Hakim-nya yang telah pergi.

Kalau orang yang berpikir waras, mungkin tak akan mau. Itu sama saja membiarkan Reina mencintai orang lain yang ia lihat di dalam diriku. Tapi aku tak peduli. Aku hanya ingin melihat Reina tersenyum lagi. Dan itu sudah lebih dari cukup.

***

Sejak sore itu, senyum Reina kembali lagi. Dia tak bertanya banyak tentangku. Hanya satu hal yang pernah diungkitnya, ia sering melihatku saat berjalan menuju perpustakaan. Dulu, saat Hakim masih ada.

Reina begitu baik padaku. Setiap istirahat, ia tidak ke perpustakaan lagi, tapi ke kantor TU. Membawakan sekotak bekal untukku. Kami juga sering menghabiskan waktu bersama. Tidak lama memang. Hanya sepanjang perjalanan sepulang sekolah. Reina mau menungguku menyelesaikan pekerjaan di kantor TU hanya agar kami bisa pulang bersama.

Aku bahagia. Tapi kadang, ada suatu perasaan yang menyiksa, yaitu saat Reina memanggilku Hakim, bukan Hady. Aku tahu, Reina tidak benar-benar menyukaiku, meski sering aku berharap, lama kelamaan ia menyukaiku sebagai aku yang sesungguhnya, bukan sebagai Hakim.

Jadi, pada suatu hari, setelah menceritakan masalahku pada seorang ibu pegawai TU yang amat kupercaya, aku berniat mengutarakan perasaanku pada Reina.

Kata ibu itu, aku harus mengatakannya, karena selama ini Reina tidak mengetahui perasaanku. Yang Reina tahu, aku melakukannya karena hanya ingin membantunya. Mungkin, jika aku memberi tahu hal sebenarnya, itu akan menggugah hatinya, dan ia akan berhenti berharap Hakim hidup lagi. Lalu mulai menerima aku apa adanya.

Istirahat itu, aku mengajak Reina duduk di bangku di bawah rindangnya pohon taman sekolah. Aku bilang padanya kalau ada sesuatu yang ingin aku sampaikan. Ia tersenyum, dan mengatakan, kalau ia juga punya sesuatu yang ingin ia sampaikan.

“Hady, maaf, aku tahu selama ini aku jahat banget sama kamu. Deket dan akrab sama kamu karena kamu mirip Hakim. Aku memang merasa begitu kehilangan, tapi sekarang aku sadar, aku jahat banget melakukan ini sama kamu. Dan kamu, kamu baik banget Hady. Aku nggak tahu lagi harus berterima kasih seperti apa.

Hady, sekarang aku berusaha untuk ngerelain Hakim. Aku harus ngerelain Hakim. Dan selama kamu masih deket sama aku, aku nggak akan pernah bisa ngelakuin itu semua. Kamu terlalu mengingatkanku dengan Hakim.”

Penuturan panjang lebar itu berarti satu hal. Hubunganku dan Reina sudah selesai. Aku hanya bisa mengangguk. Tanpa bicara apa-apa. Hilang sudah semua kata-kata yang sudah kupersiapkan tadi.

“Hady, maafkan aku,” ujar Reina, dan ia memelukku sekali lagi.

Aku hanya tersenyum. Reina membalas senyumanku. Ia mengenalku dengan baik. Ia tahu aku tak banyak bicara, sehingga membuatnya tak banyak bertanya. Meski kadang aku berharap, amat sangat berharap, ia menanyakanku. Apa aku memang selalu terlihat baik-baik saja dengan senyuman ini?

Satu hal yang aku ingin kalian tahu. Terkadang, orang pendiam itu ingin sekali ditanya lebih jauh tentang perasaannya, meski ia selalu mampu menampilkan senyum ‘baik-baik saja’. Tapi sudahlah, mungkin aku bukan pendiam, tapi pecundang. Karena sejak hari itu, sampai Reina lulus, tak pernah aku berani mengungkapkan perasaanku padanya. Aku lebih memilih pergi, meninggalkan cerita ini.

Jadi biarlah aku pergi, meninggalkan cerita ini
Perih memang perih, tapi ku mengerti, kusebutkan doa di tiap langkahmu
Jadi biarlah lagu ini, indah bersembunyi di hati
Percayalah ku takkan kembali, walau aku tak tahu lagi ke mana akan menuju

Sore berhujan, 25 Desember 2012

Reina (part II)

baca cerita sebelumnya di sini

Hakim telah menungguku di dekat gerbang sekolah. Dari wajahnya, aku tahu dia merasa agak gugup. Aku menghampirinya dan menyapanya dengan santai.

“Hai! Udah siap dengan petualangan baru?” tanyaku.

Hakim mengangguk. “Kira-kira perjalanan ke Tanah Hijau berapa lama, Rei?”

“Hmm… sekitar sejam lah, kalau jalannya nyantai…” jawabku enteng.

“Kalau jalannya cepet?” tanya Hakim lagi.

“Yaa, sekitar sejam kurang sepuluh menit, hehehe….”

Hakim mendengus mendengar jawabanku.

“Tenang aja, kita nyantai aja, oke? Pokoknya, kalau udah sampe sana, terbayar deh semua capek di jalan!” ujarku meyakinkan. Hakim mengangguk lagi.

Perjalanan kami sore itu diwarnai dengan obrolan berbagai tema. Mulai dari pelajaran, pilihan jurusan, cita-cita, keluarga, hobi, dan tentu saja, buku-buku yang kami baca.

Ternyata Hakim anak bungsu dari tiga bersaudara. Memiliki kakak laki-laki dan perempuan. Dia ingin mengambil jurusan teknik saat kuliah nanti, tapi belum pasti mau teknik apa. Namun, kadang-kadang, dia tergoda untuk mengambil jurusan sastra.

Selain membaca, Hakim sering mengisi waktu luangnya dengan menulis. Dia suka menulis cerpen atau puisi dan mempublikasikan karyanya di internet. Kata Hakim, namanya blog. Hakim berjanji, suatu saat akan mengajariku membuat blog juga. Aku pikir, seru juga jika punya blog, dan aku tidak sabar menunggu Hakim mengajariku.

Seperti yang sering kami bincangkan di perpus, buku-buku favorit Hakim adalah karya sastra Indonesia dari masa lalu. Ia menyukai tulisan-tulisan Taufiq Ismail dan beberapa karya Sutan Takdir Alisyahbana. Entah sudah berapa kali Hakim bercerita tentang Grotta Azzura dan memaksaku untuk membacanya suatu hari nanti.

Cerpen yang paling ia suka adalah Dilarang Mencintai Bunga-Bunga-nya Kuntowijoyo, dan sampai sekarang ia masih tidak bisa menangkap maksud cerita Kunang-Kunang di Manhattan yang terkenal itu. Aku bilang padanya, mungkin karena kita masih SMA, jadi belum bisa benar-benar menangkap makna karya sastra.

Hakim juga bercerita, sewaktu kecil ia sangat menyukai cerita-cerita petualangan, fantasi, dan dongeng. Dongeng favoritnya adalah dongeng-dongeng Enid Blyton dan Dunia Narnia C.S. Lewis. Hakim bilang, sejak kecil dia dan kedua kakaknya sudah dibiasakan suka membaca oleh ibunya, dan Hakim merasa beruntung karena itu.

Hakim juga membeberkan rahasianya kalau ia paling takut ketinggian. Waktu perpisahan SMP di Dufan, Hakim tidak pernah berani menaiki wahana-wahana yang memiliki ketinggian seperti Halilintar, Kora-Kora, Ontang-Anting, bahkan Bianglala yang terbilang aman saja Hakim tak mau.

Hakim bilang, suatu hari nanti ia ingin memiliki perpustakaan sendiri. Perpustakaan yang nyaman dan menyenangkan. Perpustakaan yang tak berdebu dan petugasnya tidak perlu mendesis-desis karena di sana ada ruangan yang diperbolehkan untuk ribut. Aku tanya apa alasannya, Hakim menjawab, agar orang-orang seperti aku jadi suka membaca dan betah di perpustakaan. Aku tertawa saja mendengarnya.

Aku senang berjalan dengan Hakim. Tidak pernah aku merasa segembira ini. Rasanya seperti segala sesuatu yang terjadi di hidupku terlihat masuk akal. Rasanya seperti aku baru menemukan alasan kenapa aku ada di dunia ini. Untuk lupa mengerjakan tugas Bu Ayu. Untuk bertemu Hakim di perpustakaan. Untuk tahu kalau jatuh cinta pada buku-buku adalah hal yang menyenangkan dan aku tidak keberatan sama sekali.

“Jadi Reina, berapa lama lagi kira-kira kita bakal sampai di Tanah Hijau?” tanya Hakim menghentikan lamunanku. Aku melihat peluh membasahi keningnya.

“Bentar lagi, tenang aja. Masa kalah sih sama cewek? Baru jalan segini udah ngos-ngosan,” ledekku.

Hakim mengelap kening dengan punggung tangannya. “Ya, nggak juga sih, cuma penasaran aja, kenapa kita nggak nyampe-nyampe.”

Matahari pukul tiga memang bukan yang paling terik, namun tetap saja membuat kami berkeringat. Baju seragam bagian belakangku basah, begitu juga dengan seragam Hakim. Aku menatapnya sambil tersenyum lalu berjalan mendahuluinya.

“Taraaaa!” seruku senang. Aku berhenti tepat di tepi Tanah Hijau. Hakim menyusul langkahku dengan tergopoh-gopoh. Lalu membalik badan dan melihat hamparan rumput hijau dengan wajah terpukau. Senyum mengembang di wajahnya yang kecoklatan.

“Ini tempatnya Rei? Bagus banget…” puji Hakim.

Aku menyengir lebar, dan secara refleks menarik tangannya untuk mulai menjejak Tanah Hijau. Hakim mengikutiku sambil terus memperhatikan sekelilingnya. Sesekali Hakim membetulkan letak kacamatanya, seperti masih belum percaya dengan penglihatannya.

“Tapi, kenapa tempat sebagus ini sepi, ya?” tanya Hakim.

“Iya, aku juga dari dulu heran. Kenapa nggak ada anak-anak yang main di sini. Paling ada beberapa, itu pun cuma di pinggir-pinggir aja. Malah aku pernah ketemu bapak-bapak yang negur aku. Katanya aku jangan sering-sering main ke tempat ini, bahaya. Terus aku bingung, apanya yang bahaya?” ceritaku panjang lebar. Hakim hanya manggut-manggut.

Kami terus berjalan melintasi padang terbuka. Hakim mengajakku mendekati rimbunan bunga liar yang berwarna putih dan kuning. Lalu duduk di sana dan memetik beberapa tangkai bunga.

“Kamu pernah buat mahkota bunga?” tanya Hakim.

Aku menggeleng, wajahku menatapnya dengan rasa penasaran.
Hakim tersenyum, lalu memetik beberapa tangkai bunga lagi.

Aku memperhatikan Hakim mulai menjalin satu per satu tangkai bunga. Ia terus menjalin tangkai bunga, hingga akhirnya lahirlah sebuah mahkota bunga dengan tangkai-tangkai bunga yang berkelindan dan kelopak-kelopak berwarna putih dan kuning menghias tepinya.

“Kamu belajar dari mana bikin itu?” tanyaku.

“Kakakku. Dulu kami suka bermain-main di padang rumput, dekat rumah nenek. Kakakku dan teman-teman perempuannya suka membuat mahkota bunga. Aku sering bermain bersama mereka dan diajarkan cara membuatnya,” jawab Hakim.

Hakim mendekatiku dan memasang mahkota bunga di kepalaku. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya saat tubuh Hakim hanya berjarak beberapa sentimeter dari tubuhku. Perutku tiba-tiba terasa mulas. Mulas yang aneh.

Mahkota itu agak sempit melingkari kepalaku. Namun masih tetap bisa terpasang dengan baik. Hakim perlu memperbaikinya beberapa kali sebelum akhirnya menjauh dari tubuhku dan melihat hasil karyanya terpasang di kepalaku.

Cantik,” kata Hakim. Singkat dan sederhana.

Aku tidak tahu pujian itu Hakim tujukan kepada siapa. Aku atau mahkota bunganya. Yang jelas, aku merasa begitu gugup saat Hakim menatapku dengan pandangan teduhnya.

Kami berdua terdiam sejenak. Aku, karena terlalu gugup dan tidak tahu harus berbuat atau berkata apa. Hakim, karena masih memandangi aku atau mahkota bunga di kepalaku. Akhirnya aku berdiri dan mulai berjalan-jalan lagi.

“Kamu pernah mengeliling Tanah Hijau ini sampai ujung sana?” tanya Hakim sambil menunjuk bagian paling ujung dari Tanah Hijau.

Lebarnya mungkin sekitar 200 meter, dan aku tak pernah berminat sampai ke sana, karena malas berjalan kembali lagi.

“Belum, tapi kalau kamu mau ke sana, ayok aja,” kataku. Hakim setuju, dan akhirnya kami pun berjalan melintasi Tanah Hijau.

Angin berembus sepoi-sepoi. Aku melihat anak-anak rambut Hakim yang jatuh di dahi, bergerak-gerak karena tertiup angin. Aku tersenyum padanya. Dia membalas senyumku. Lalu aku merasa, ada kebahagian yang menjalar di seluruh tubuhku. Awalnya perlahan, lalu bergerak semakin cepat, semakin cepat, hingga rasanya seperti mau meledak.

Aku mengalihkan perasaan asing itu dengan melangkah cepat-cepat menuju tepian Tanah Hijau. Hakim mengikuti kecepatan langkahku. Lama-lama kami berlari. Berlari sambil saling melempar senyum. Rambutku yang dikuncir kuda bergoyang-goyang tanpa henti selama aku berlari.

Kami terus berlari hingga tepi. Lalu aku sadar mengapa seorang bapak mengatakan bermain-main di tanah ini berbahaya. Karena tepat di tepi Tanah Hijau adalah sebuah ngarai yang curam dan tinggi.

Aku melihat wajah Hakim pucat pasi.

“Rei! Ya ampun! Untung kita berhenti tepat waktu!” seru Hakim.

Aku mengangguk setuju sambil bersusah payah mengatur napasku yang masih tersengal-sengal setelah berlari tadi.

“Iya, nggak nyangka juga ya, ternyata pinggirannya adalah ngarai. Dalem banget lagi kayaknya,” sahutku.

“Langsung balik yuk, Rei! Serem!” seru Hakim.

Aku cepat-cepat menggeleng, “Nanti dulu ah, ini bagian serunya tahu. Aku belum pernah lihat ngarai secara langsung.”

Dengan hati-hati, aku berjalan mendekati tepian ngarai sambil berpikir, mengapa tidak ada satu pun penduduk yang memasang pagar di tepian ini.

“Jangan, nanti jatuh,” cegah Hakim sambil menarik lenganku.

“Ah, nggak apa-apa kok,” jawabku santai.

Aku melanjutkan langkah sambil melihat ke bawah. Ngarai ini tingginya mungkin sekitar sepuluh meter. Ada sungai kecil yang mengalir di dasarnya. Namun, kebanyakan dihiasi dengan batu-batu besar, sebagian bahkan berujung runcing. Aku bergidik ngeri membayangkan kalau sampai ada orang yang terjatuh ke bawah.

Setelah berpikir seperti itu, kakiku keserimpet. Aku tergelincir di tepi ngarai dan tanganku memegang rumput erat. Berharap rumput itu mampu menahan tubuhku agar tidak jatuh sampai ke dasar. Kedua kakiku yang berjuntai, kuusahakan untuk tetap diam.

“Reina!” pekik Hakim kaget. Dia yang sudah lebih dulu berjalan, berbalik lagi karena aku tergelincir.

Hakim menarik napas dan mengulurkan tangannya padaku. Aku sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Aku takut, cemas, dan bingung. Tanganku mulai basah karena keringat yang membanjir, hingga menyulitkan Hakim menggenggam tanganku.

“Hakim…” kataku lirih. Aku tidak tahu mengapa aku memanggil namanya padahal aku tahu dia ada di depanku. Aku hanya merasa butuh mendengar suaraku sendiri.

Hakim memajukan tubuhnya agar bisa menarik tanganku lebih kuat. Tangan kananku masih berpegangan pada rumput yang mulai tercerabut beberapa, sedangkan tangan kiriku meraih lengan Hakim.

Aku menyemangati diriku sendiri untuk bisa bangun. Tidak, aku tidak boleh mati konyol di sini. Tidak, di saat aku baru saja mengenal perasaan bahagia bersama Hakim.

Aku menarik lengan Hakim dan berusaha mengangkat tubuhku. Lengannya juga licin karena berkeringat. Namun aku terus mencoba naik dan akhirnya berhasil! Aku berhasil mengangkat tubuhku ke atas, dan tepat saat itulah, kaki Hakim terperosok.

Terperosok lalu terpental hingga seluruh tubuhnya jatuh dari tepi ngarai. Aku ternganga. Detik itu juga, aku merasa waktu berhenti berputar, jantungku berhenti berdetak, dan aku kehilangan indra pendengaran serta penglihatanku.

***

Aku tidak ingat apa-apa. Saat aku membuka mata, aku berada di sebuah kamar beraroma khas rumah sakit. Aku berusaha mengingat apa yang terjadi sebelumnya, dan mulai mengira-ngira apa yang membuatku terdampar di rumah sakit.

Ingatanku melayang pada perpustakaan, buku-buku, Hakim, Tanah Hijau, ngarai. Ngarai! Aku terlonjak dan langsung bangun, berdiri, dan keluar kamar.

“Hakim!!” teriakku. Seorang perawat yang melewati koridor kamarku langsung menghampiriku dan menuntunku masuk ke kamar.

“Hakim di mana? Hakim di mana?” jeritku panik. Tepat di saat yang sama, kedua orang tuaku muncul dan menghambur memelukku.

“Reina! Kamu baik-baik aja kan, Nak?” tanya ibuku dengan wajah khawatir sambil mengusap-usap punggungku.

“Hakim mana, Bu? Tadi Reina jalan sama Hakim. Terus Hakim… Hakim… Hakim jatuh…”

Aku melihat ayah dan ibuku saling pandang, lalu menatapku dengan wajah cemas.

“Reina… Hakim, teman kamu… tidak bisa diselamatkan,” kata ayahku pelan. Saat itu juga, aku berharap akulah yang jatuh ke dasar ngarai.

***

Aku tidak masuk sekolah selama dua minggu. Aku menghabiskan hari-hariku dengan mengurung diri di kamar dan menenggelamkan diriku bersama air mata. Buku-buku perpustakaan yang waktu itu aku pinjam terbengkalai begitu saja.

Ayah dan Ibu berulangkali menghiburku, namun aku tak bisa dihibur sama sekali. Tia bolak-balik mengunjungi rumahku, namum aku tidak mau berbicara sama sekali. Guru-guru datang menjengukku, namun aku hanya diam terpaku. Aku tidak mau bicara, tidak selera makan, tidak ingin hidup lagi. Aku ingin mati saja.

“Rei, sampai kapan lo mau terus begini? Lo nggak bisa terus-terusan mendem di kamar lo dan ngayal Hakim balik lagi,” kata Tia suatu hari.

Aku menunduk dan menyembunyikan wajahku di antara kedua lutut. Air mata berlelehan di pipiku. Masih terbayang dengan jelas saat Hakim tersenyum padaku, membuatkan mahkota bunga untukku, dan berkata cantik, yang entah ditujukan untuk aku atau mahkota bunga.

Seandainya aku menuruti apa kata Hakim waktu itu, agar tidak mendekati tepi ngarai, mungkin Hakim masih ada di sini. Seandainya aku tidak pernah mengajak Hakim ke Tanah Hijau, mungkin kami masih bisa membicarakan buku-buku lagi. Seandainya aku tak pernah menemukan Tanah Hijau, mungkin Hakim masih terus mengunjungi perpustakaan, dan duduk dengan aman dan nyaman di dalamnya.

Seandainya…

“Please Rei, lo nggak boleh kayak gini terus. Please, masuk sekolah lagi. Hidup gue hampa tanpa lo, Rei. Balik ke sekolah lagi, ya?” pinta Tia dengan wajah memelas. Dia menarik kedua ujung bibirku dengan ujung jarinya, memaksaku tersenyum.

“Apapun yang terjadi, Rei, jalan hidup lo masih panjang. Gue yakin Hakim nggak akan marah sama lo. Dia pasti maafin lo. Oke?” bujuk Tia lagi. Kali ini, dengan susah payah, aku menyunggingkan sebuah senyum. Aku tahu, setelah ini, hidupku tidak akan pernah sama lagi.

***

Istirahat siang ini, entah mengapa kakiku rindu berjalan ke perpustakaan lagi. Sejak kepergian Hakim, aku kembali membenci perpustakaan. Benci tapi rindu.

Aku bilang pada Tia, kalau aku ingin ke perpustakaan sebentar saja. Wajah Tia langsung cemas mendengar penuturanku. Dia bahkan berniat menemaniku ke sana. Namun aku menolaknya, dan mengatakan padanya kalau aku akan baik-baik saja.

Aku melangkahkan kakiku perlahan. Memori saat aku sering mengunjungi perpustakaan untuk bertemu Hakim kembali berkelebat. Sesaat, aku begitu berharap agar Hakim kembali di sini, sebentar saja. Aku hanya ingin melihat wajahnya, sekali saja.

Langkahku terhenti. Tepat di lorong menuju perpustakaan, aku melihat sosok murid laki-laki. Dia berkacamata dan tersenyum padaku.

Aku menatapnya lamat-lamat, dan melihat wajah Hakim di sana. Aku tersenyum. Tuhan telah mengabulkan harapanku. Aku menatapnya sekali lagi, lalu langsung berlari. Aku harus segera memberi tahu Tia.

“Tia!” panggilku. Dia belum jauh meninggalkanku. Tia menoleh dan menatapku.

“Apa?” katanya.

Aku tersenyum lebar, “Tahu nggak sih? Tadi gue lihat Hakim di depan perpus!” seruku riang.

Tia terpaku, lalu menghampiriku. Dengan lembut, dia merangkulku dan berkata, “Reina, Hakim udah pergi. Nggak mungkin ada di sini lagi.”

Aku terhenyak, “Tapi tadi gue lihat Hakim,” sanggahku dengan lirih.

Harusnya Hakim masih ada di sini, bukan? Laki-laki yang aku lihat tadi, itu Hakim sungguhan, kan?

Namun, tidak ada yang menjawab pertanyaan yang kugumamkan dalam hati itu.

Dan bangunkanlah aku dari mimpi-mimpiku
Sesak aku di sudut maya
Dan tersingkir dari dunia nyata

(Letto – Sebenarnya)