Perjalananku di Tahun 2018

Akhir tahun kurang dari sebulan lagi. Rasa-rasanya sudah cocok meluangkan waktu untuk melihat kembali apa yang telah kita lewati selama setahun ini.

Jika disuruh merangkum apa yang terjadi selama setahun ini, saya mungkin tidak bisa memberi sesuatu yang super, amazing, atau wow banget. Bisa dibilang tahun 2018 berlalu dengan biasa-biasa saja. Akan tetapi, dari hal-hal biasa itu banyaaaaak sekali yang harus disyukuri.

Saya tidak membuat target dan resolusi di tahun 2018. Saya ingin tahun 2018 mengalir dengan lembut tanpa tergesa-gesa. Mungkin itu yang membuat tahun 2018 terkesan ‘tidak ada apa-apa’.

Tahun 2018, saya belajar lebih banyak tentang mindfulness. Coba-coba menulis tentang mindfulness di blog ini, di antaranya adalah:

Continue reading

Selamat Datang Desember dan Buku Baru (Dicetak)

Selamat Datang Desember dan Buku Baru (Dicetak)

Assalamualaikum, apa kabar?

Desember sudah mulai dari kemarin-kemarin, tetapi saya baru bisa menulis postingan awal bulan hari ini. Sebenarnya, akhir November itu ada yang mau diposting, tetapi setelah dipikir-pikir, nggak usah diposting, deh. Karena isinya curhat yang personal banget, coba diendapkan dulu. Eh, tahu-tahu Desember sudah berjalan.

Yah, begitulah hari-hari. Mereka terus bergerak tanpa kembali lagi. Kita yang harus bisa-bisain mengisinya dengan sesuatu yang bermanfaat atau bakal terisi dengan hal yang sia-sia.

Tidak terlalu banyak hal yang terjadi di bulan November. Rencana ikutan BNNS dari Storial.co gagal total. Saya bahkan tidak menulis setengahnya dari ide cerita tersebut. Ternyata menulis novel selama sebulan tidak semudah yang saya bayangkan.

Kabar baiknya, saya berhasil menyelesaikan proyek iseng-iseng saya. Kok, proyek iseng-iseng? Ya, soalnya memang beneran iseng saja, sih. Saya kepikiran mencetak Remember Reina dan Kumpulan Cerpen saya menjadi sebuah buku beneran.

Ini dia wujudnya!

Continue reading

Remember Reina: Behind the Story

Baru-baru ini saya menyelesaikan sebuah rangkaian cerita, yang pada awalnya sama sekali tidak diniatkan untuk dirangkai-rangkai, hehehe…

Kisah ini dimulai setelah saya menulis cerita Rainy Day in Oslo. Setelah memposting tulisan itu di wordpress, malamnya saya buka file-file cerpen lama saya, dan membaca tulisan Give Your Heart a Break.

Entah kenapa, saat itu juga, saya merasa menemukan benang merah atau entah apalah namanya, pada dua kisah ini. Saya pikir, seru juga kalau tokoh utama di Rainy Day in Oslo adalah Adeline di kisah Give Your Heart a Break. Saya jadi punya alasan kenapa membuat Adel harus terbang jauh-jauh ke Oslo selain karena nge-fans dengan Christian Ingebrigtsen.

Dari situ, cerita menyebar lagi, bersambung ke kisah Meninggalkan Cerita Ini dan Reina yang dahulu kala pernah saya tulis.

Nah, supaya tidak ribet, saya ceritakan juga awal mula kisah Reina.

Dahulu kala (cieeee…) sekitar tahun 2007, saya nge-fans banget dengan grup band Letto. Banyak dari lagu-lagu mereka menginspirasi kisah fiksi dan kisah cinta saya, kekeke…

Salah satunya adalah lagu Sebenarnya. Saya suka sekali dengan lagu ini, dan setiap kali mendengar lagu tersebut, saya membayangkan tentang seorang kekasih yang tidak bisa menerima kenyataan kalau kekasihnya telah pergi. Dari khayal-mengkhayal itu, lahirlah kisah Reina dan Hakim.
Cerita pertama yang saya tulis, cukup berbeda dengan yang saya posting di wordpress saat ini. namun garis besarnya masih sama.

Lalu, lima tahun berikutnya, saat saya membaca kembali kisah Reina, saya terpikir untuk membuat sekuel singkatnya, dan menghadirkan tokoh baru. Maka, lahirlah Hady di kisah Meninggalkan Cerita Ini. Judul cerita ini diambil dari lagu band favorit saya juga, The Rain. Kebetulan saat itu saya lagi suka-sukanya dengan lagu tersebut, hehehe….

Beberapa bulan kemudian, terpikir lagi untuk menambah sekuel kisah Reina dan Hady. Kembali lagi menghadirkan tokoh baru, Adeline. Saat menulis kisah tersebut, saya lagi suka-sukanya dengan lagu Demi Lovato yang akhirnya saya ambil juga untuk menjadi judul cerita.

Lalu, di tahun 2013, saya rindu Reina dan ingin mempertemukan Reina dengan seseorang yang lain. Seseorang yang ia cintai dan mencintainya. Lahirlah tulisan Alone Apart. Sama seperti judul-judul cerita sebelumnya, Alone Apart diambil dari judul lagu bernama sama yang dinyanyikan oleh Mark Hansard dan Marketa Iglova di film musikal Once.

Kembali lagi ke 2015, setelah menulis Rainy Day in Oslo dan puisi pengiringnya, Runaway, saya terpikir untuk menulis kisah dari sudut pandangnya Hady. Lahirlah Cracked.

Judul awal yang saya rancang adalah It’s Over. Sama dengan judul lagu Jesse McCartney yang menginspirasi saya menulis cerita tersebut. Namun akhirnya saya pilih Cracked, yang artinya terbelah atau retak. Dan Cracked adalah satu-satunya kisah bernuansa absurd di rangkaian kisah Reina ini.

Setelah menulis Cracked, saya terpikir untuk kembali lagi pada kisah Reina dan Darren. Saya terpikir untuk menulis sekuel mereka berdua, dan akhirnya lahirlah Biarkan Ia Pergi.

Sebagai sentuhan akhir, saya menambahkan satu cerita lagi yang berjudul Walking in the Rain. Cerita ini kembali lagi pada sudut pandang Adeline dan kisahnya bersama Hady, serta secuil kisah Reina dan Darren.

Saya tidak akan bilang kalau rangkaian kisah Reina adalah cerita bersambung. Karena meskipun masih saling berkait, namun masing-masing ceritanya bisa dibaca secara terpisah. Meskipun pada akhirnya, ada beberapa cerita yang sengaja saya buat agak kabur atau misterius latar belakangnya.

Saya sendiri lebih suka menyebut rangkaian kisah Reina dan kawan-kawannya ini sebagai puzzle stories. Seperti puzzle, pembaca bebas membacanya dari cerita yang ia inginkan. Ketika satu per satu telah dibaca, baru akan terlihat gambaran utuh dari seluruh cerita tersebut. Mudah-mudahan… hehehe…

Di bawah ini adalah daftar link dari seluruh rangkaian kisah Reina. Semoga kamu suka ya, selamat membaca!

  1. Rainy Day in Oslo
  2. Runaway
  3. Cracked
  4. Alone Apart (I)
  5. Alone Apart (II)
  6. Biarkan Ia Pergi
  7. Reina (I)
  8. Reina (II)
  9. Meninggalkan Cerita Ini
  10. Give Your Heart a Break
  11. Walking in the Rain