Ramadhan Kali Ini

Ramadhan

Assalamualaikum, apa kabar semua?

Tidak terasa, ya, tahu-tahu sudah seminggu menjalani puasa di bulan Ramadhan.

Apa kabar target-target saya selama Ramadhan?

Uggh… rasanya jauh sekali dari target-target yang dicapai, terutama di bagian ‘Trying to live more healthy’. Niat hati di bulan Ramadhan ini ingin berbuka tanpa gorengan, tetapi di hari pertama sudah makan bakwan jagung dan risol. Begitu juga di hari kedua, makan tahu isi, risol, cakwe, dan kerupuk mie. (idih, ini makannya banyak banget, ya? Tapi tenang, setiap varian cuma nyobain satu buah, wakaka). Terus hari ketiga makan risol, bakwan, dan tahu isi. Hari keempat, mencoba untuk menyetop gorengan dan menggantinya dengan makan kurma. Hari kelima makan risol lagi. Hari keenam coba berhenti lagi dan menggantinya dengan makan siomay. Hari ketujuh alias hari ini, belum tahu mau makan apa, hehehe.

Kenapa, ya, susah banget berbuka tanpa gorengan?

1. Gorengan ada di mana-mana

Yup, bener banget. Bahkan sepanjang jalan pulang saya dari kantor ke rumah, entah sudah berapa puluh tukang jualan gorengan berjejer. Apalagi di bulan Ramadhan seperti ini, tukang gorengan dadakan makin menjamur.

2. Gorengan murah meriah

Ini juga jadi salah satu alasan yang tidak bisa dipungkiri, sih. Rata-rata harga gorengan sekarang seribu rupiah per pieces. Ada juga yang menjual 1500 satu buah atau 2000 dapat tiga potong (tapi yang ini udah jarang banget). Lumayan banget, kan, buat orang yang ngirit seperti saya? Ehe ehe ehe. Selain beli gorengan, dengan uang yang ada, kita bisa beli makanan yang lain.

3. Gorengan berbagai macam bentuknya

Kalau nggak suka tempe, bisa pilih tahu. Kalau nggak suka risol, bisa pilih bakwan. Kalau nggak suka singkong, bisa pilih cireng. Intinya, dalam sekali beli, kita bisa menikmati berbagai macam makanan. Biasanya penjual gorengan minimal menjual tiga macam gorengan. Ada juga yang super lengkap sampai ada lontong segala. Kalau yang super lengkap ini, belinya lebih leluasa lagi karena banyak pilihan.

Dari tiga alasan itu saja, sudah kebayang kan betapa beratnya perjuangan berbuka tanpa gorengan di negeri yang amat sangat mencintai gorengan? Tetapi saya nggak putus asa, kok. Pokoknya sebisa mungkin, kurangi jajan gorengan. Kalaupun belum bisa sebulan penuh, paling tidak, lebih banyak hari tanpa gorengan ketimbang yang pakai gorengan.

Selain target No Gorengan, sepertinya sih sudah cukup tercapai. Supaya kebutuhan gizi tetap tercukupi selama Ramadhan, saya menargetkan setiap hari harus makan sayuran hijau, entah itu di saat berbuka atau sahur. Lebih baik lagi di keduanya. Alhamdulillah, sampai hari ini masih terus berjalan. Selain sayuran hijau, saya juga mengonsumsi buah dan kurma. Ini juga untuk menyiasati supaya sistem pencernaan lancar dan nggak sulit BAB.

Bagi saya, Ramadhan kali ini terasa agak berbeda dengan Ramadhan tahun-tahun sebelumnya. Dulu, setiap mau berbuka itu saya selalu lapar mata. Rasanya semua makanan ingin dilahap. Padahal saat sudah ada di hadapan, nggak semuanya saya makan. Sekarang, rasa-rasanya sih sudah bisa menahan hawa nafsu, yah, hehehe…. Nggak lapar mata lagi, berbuka seadanya, yang penting ada makanan bergizi yang dimakan. Jangan sampai makan banyak, tapi nggak bergizi semua.

Untuk target ibadah yaumiyah, masih berusaha juga supaya sesuai dengan yang diharapkan. Walaupun ada hari di mana saya merasa capek banget atau males banget, tetapi saya berusaha nggak berlama-lama di perasaan itu. Dan nggak langsung merasa gagal karena telah ada satu hari yang nggak sesuai target. Soalnya, kalau sudah seperti itu, pasti saya malah lebih males lagi di hari-hari selanjutnya.

Jujur, dari dalam hati ini sering berharap, seandainya semangat Ramadhan selalu ada di 11 bulan lainnya. Mudah-mudahan Ramadhan kali ini, harapan itu tercapai. Dan semoga Ramadhan membawa banyak kebaikan dalam hidup kita.

Selamat berpuasa dan beramal shalih bagi yang menjalankan. Semoga amal ibadah kita diterima Allah Ta’ala. Amiin….

It’s (already) May!

already-may.jpg

Alhamdulillah, sudah masuk bulan Mei, dan tinggal hitungan hari lagi menuju Ramadhan. Mumpung masih awal bulan, ada beberapa hal yang ingin saya bagi di sini.

1. The Art of Letting Go

Yup, seni melepaskan. Pernah saya buat cerita dengan tema melepaskan. Saat ini, maksud “melepaskan” -nya agak berbeda. Bukan melepaskan perasaan, masa lalu, dan sejenisnya, tetapi melepaskan hal-hal yang belum bisa saya lakukan sekarang.

Seperti yang sudah-sudah, saya beberapa kali curhat tentang banyaknya hal yang ingin saya lakukan, banyak rencana, target, dan macam-macam. Sayangnya, banyak rencana dan target yang tidak terlaksana, dan akhirnya membuat saya merasa gagal dan kurang produktif.

Setelah saya pikir-pikir lagi, mungkin rencana saya terlalu banyak, target saya terlalu tinggi, tanpa melihat kondisi nyata saat ini. Mungkin juga saya kurang tegas dengan diri sendiri, kurang bersemangat, masih suka menunda-nunda, dan masih banyak kekurangan lainnya.

Saya sampai pada satu kesimpulan bahwa sebelum menuliskan banyak target dan rencana, ada baiknya melepaskan dulu hal-hal yang sekarang tampak ambisius dan tak realistis dan berfokus pada hal yang saya kuasai dan bisa melakukannya dengan konsisten.

Setelah empat bulan berlalu, saya menyadari bahwa kemampuan saya membaca buku terbatas pada 4-5 buku per bulan. Maka, saya tidak terlalu ngoyo mengejar target bacaan per bulan sampai 7-9 buku.

Begitu juga dengan menulis cerita fiksi. Setelah menikah, entah kenapa kok, ya, muse saya tuh terbang entah ke mana. Mungkin karena sudah nggak galau lagi, ya? Hehehe….

Dulu, kan, saya sering banget buat cerita patah hati, kisah cinta yang tak sampai, dan semacamnya. Rasanya tangan gatel kalau cerita itu belum ditulis. Sekarang, boro-boro menulis, menemukan ide saja susah.

Oleh karena itu, sekarang saya nggak terlalu maksain untuk menulis cerita fiksi. Sekarang lebih fokus ke baca buku yang saya ingin baca, dan menulis apa pun yang terbersit untuk menulis. Seremeh temeh apa pun. Kalaupun nggak saya posting di blog, saya tetap menuliskannya di buku catatan atau diary. Intinya, tetap menulis. Begitu juga dengan review buku. Saya coba konsisten untuk langsung update review di Goodreads.

Mudah-mudahan, dengan secara sadar dan ikhlas melepaskan hal-hal yang belum bisa saya kerjakan sekarang, membuat saya fokus dan konsisten, sehingga bisa mencapai semua target dan harapan saya. Amiin….

2. Trying to Live More Healthy

Kalau sebelumnya saya pernah menulis tentang mengurangi konsumsi makanan instan di postingan ini, sekarang saya malah sama sekali nggak boleh mengonsumsinya. Setelah berkunjung ke dokter untuk mengecek beberapa hal, saya dianjurkan untuk benar-benar menerapkan pola hidup sehat.

It’s really hard for me to say goodbye to Indomie and friends. Tapi, demi kehadiran buah hati yang entah kapan hadirnya, saya akan coba laksanakan. Walaupun di bulan April kecolongan juga, sih, makan Indomie, abis laper berat dan di rumah nggak ada makanan lain (alasan klise).

No Gorengan

Bulan ini, saya ingin mencoba hal yang lebih menantang lagi, yaitu tantangan tujuh hari tanpa gorengan. Saya terinspirasi dari blog-nya Mbak Dila. Sepertinya seru juga mencoba meninggalkan gorengan dari makanan sehari-hari. Soalnya, saya hampir setiap hari memakan sesuatu yang digoreng. Entah itu tahu, tempe, bakwan, telur, dll.

Memang sih, saya memasak sendiri, bukan jajan di luar yang tidak terjamin minyak dan bahan-bahannya. Tetapi tetap saja namanya mengonsumsi gorengan. Nah, mulai bulan ini, saya coba mengurangi goreng-menggoreng. Lumayan juga buat penghematan, kan? Hehehe…

Less Sugar, Wheat Flour, and MSG

Selain no gorengan, saya juga mau mencoba mengurangi pemakaian gula, tepung terigu, dan MSG yang bersumber dari bumbu-bumbu penyedap instan. Hufft, again, it’s really really hard for me.

Saya suka yang manis-manis (hampa rasanya hidup kalau nggak makan yang manis-manis dalam sehari), saya kurang bisa masak dan masih lupa-lupa inget sama berbagai macam bumbu dapur (alhasil sering beli bumbu jadi yang ada di minimarket), dan saya suka banget bikin bakwan (soalnya suka kelaperan dan pengen nyemil yang agak berat).

Jadi, mengurangi konsumsi gula, tepung terigu, dan MSG pasti akan jadi tantangan tersendiri buat saya. Salah satu cara mengganti kebiasaan nggak sehat itu adalah dengan nyetok buah (untuk mengganti keinginan saya nyemil dan makan yang manis-manis), dan menghafal bumbu-bumbu dapur (tapi yang ini agak berat, bo!). Ya, mungkin nyetok buah dulu, deh, dan masak dengan bumbu standar alias gula, garam, dan lada, hehehe….

Drink Infused Water

Saya juga ingin konsisten bikin infused water sendiri. Pakai bahan yang murah meriah aja seperti timun dan jeruk nipis yang banyak ada di tukang sayur. Dari beberapa artikel yang saya baca sih, katanya dua buah itu bagus untuk detoksifikasi.

3. Clean Up My Home

Beres-beres rumah adalah salah satu cara saya menyambut tamu istimewa. Eh, bukan berarti beres-beres rumah cuma pas mau Ramadhan aja, tapi biar lebih semangat aja gitu beberesnya. Kan, enak kalau bulan Ramadahan, rumah rapi, bersih, dan dikasih sedikit hiasan-hiasan bernuansa Ramadhan. Biar beribadahnya makin semangat juga.

Well, mudah-mudahan saya bisa melaksanakan tiga hal ini dengan baik, ya. Kalau kamu gimana, apa yang ingin kamu lakukan di bulan Mei ini?