Pengalaman Menulis Novel di Storial.co

pengalaman-menulis-di-storial.jpg

Assalamualaikum, apa kabar?

Bagaimana bulan November menyambutmu? Di tempat saya sudah masuk musim hujan. Hampir setiap hari, terutama sore dan malam hujan turun.

Bulan November tahun ini saya mencoba mengikuti tantangan menulis dari platform Storial.co. Sebagai awalan, bagi yang belum pernah mendengar Storial.co, itu semacam platform menulis di mana kita bisa menaruh tulisan-tulisan kita untuk dibaca orang lain, diberi komentar, diapresiasi, dan lain-lain. Di sana kita juga bisa membaca karya-karya orang lain yang menaruh tulisannya di Storial.co. Singkatnya, Storial.co itu mirip-mirip dengan Wattpad tetapi dibuat oleh orang Indonesia.

Saya sudah cukup lama mengetahui Storial.co tetapi baru tahun ini memberanikan diri untuk mendaftar menjadi salah satu anggotanya. Dari segi cerita-cerita yang diunggah di sana, lebih rapi dan lebih sedikit dibanding Wattpad. Tentu saja hal ini bisa dipandang sebagai kelebihan atau kekurangan. Kalau bagi saya sih ini jadi sebuah kelebihan, karena kalau masuk Wattpad bisa diibaratkan sebagai pasar yang suaaangat ramai, dengan segala macam hal ditawarkan, dari barang berkualitas bagus hingga tidak berkualitas sama sekali, sedangkan Storial.co ibarat swalayan yang lebih kecil, lebih rapi, dan barang-barangnya kebanyakan cukup berkualitas. Ini menurut pendapat pribadi saya lho, ya.

Balik lagi ke soal mengikuti tantangan dari Storial.co. Jadi, setiap bulan November Storial.co mengadakan Bulan Nulis Novel Storial (BNNS) di mana kita ditantang untuk menulis novel 50.000 kata sepanjang bulan November saja. Saya yang sudah lamaaaa sekali tidak menulis cerita merasa tertarik dan tertantang untuk mengikuti BNNS. Dengan harapan, tahun ini saya bisa menulis sebuah cerita yang utuh. Bukan hanya draft-draft ide yang nggak jelas.

Continue reading

Advertisements

Rahasia Hati

rahasia-hati.jpg

Ia duduk sendirian di meja itu. Meja tempat mereka biasa bertemu. Ia masih mengenang lelaki itu dengan perasaan sayang yang sama dengan yang dulu ia rasakan saat masing-masing dari mereka masih sendiri.

Kadang, ada segenggam sesal di hatinya. Penyesalan yang selalu muncul di belakang. Hatinya kerap bertanya-tanya, jika dulu ia memberanikan diri mengatakan yang sebenarnya pada lelaki itu, apa yang akan terjadi? Kemungkinannya hanya ada dua, lelaki itu memiliki perasaan yang sama dengannya atau tidak sama sekali.

Jika kemungkinan kedua yang terjadi, jelas ia akan sedih. Namun, ia yakin ia pasti bisa menjalaninya dan lama-lama merelakan perasaan tak berbalas itu. Dan mungkin, mungkin saja, jika itu memang benar-benar terjadi, ia akan menjalani hari-harinya sekarang dengan tenang tanpa rasa penasaran yang menghantui.

Jika kemungkinan pertama yang terjadi, tentu saja ia akan senang. Bukan hanya senang, ia juga akan lega dan bahagia. Mungkin mereka akan merencanakan pernikahan, mungkin mereka akan membangun rumah bersama, dan mungkin mereka akan berbulan madu ke Kota Cahaya berdua, seperti janji lelaki itu dulu.

Sayangnya ia tak berani melakukan apa-apa. Ia tak menyatakan apa-apa tiap kali mereka bertemu. Bahkan, tak berani memberi secuil tanda pun tentang perasaannya kepada laki-laki itu.

Ia terlalu takut. Takut apa? Entahlah, mungkin ia takut perasaannya tak berbalas lagi. Mungkin ia terlalu trauma dengan patah hati. Mungkin ia tak mau lagi menanggung rindu yang berat itu. Yang jelas, ia yakin ia tak mau ambil risiko. Ia sungguh takut, jika ia berani mengucapkan perasaannya kepada laki-laki itu, segalanya akan berubah ke arah yang lebih menyedihkan. Ia memang selalu berpikir hal-hal menyedihkan, tanpa sedikit pun berpikir tentang kemungkinan terbaiknya.

Sekarang ia menyesal. Menyesal dengan segala sikap dan keputusannya dulu. Meski kadang-kadang ia terpikir juga, mengapa ia menyesal? Apa yang perlu disesali?

Ia memiliki pasangan yang bukan hanya indah rupa, tetapi juga sabar dan penuh pengertian. Mirip dengan lelaki itu. Yah, mungkin tipe laki-laki yang dia sukai itu-itu saja. Tak jauh beda. Tetapi mengapa ia masih saja memikirkan laki-laki itu?

Mungkin ia hanya mengangankan kenangan masa lalu. Saat mereka masih sering bertemu dan mengobrol di tepi danau ini. Di meja ini. Membicarakan banyak hal. Hal-hal kecil dan hal-hal besar. Hal-hal sepele dan hal-hal penting. Rasanya kebiasaan itu sudah berada jauh sekali di belakangnya.

Mungkin ia hanya masih penasaran, apa sebenarnya yang ada di dalam hati laki-laki tiap bertemu dengannya. Adakah secuil rasa sayang di hatinya? Adakah segenggam rindu yang tersimpan di benaknya?

Laki-laki itu tak pernah mengatakan apa-apa padanya. Namun, kadang gesturnya membuat ia curiga, membuat ia penasaran, bahwa mungkin saja mereka memiliki perasaan yang sama. Sayangnya, ia tak mau terlalu jauh mengambil kesimpulan. Bisa saja semua itu hanya ada di pikirannya sendiri. Bisa saja laki-laki itu tak pernah merasakan apa-apa terhadapnya.

Buktinya, saat ia memberitahukan pernikahannya kepada laki-laki itu, dia santai saja. Dia tenang saja. Meski ia tak mengerti mengapa laki-laki itu tak hadir di hari pentingnya padahal sehari sebelumnya sudah berjanji akan datang.

Ia berharap ia tak memikirkan laki-laki itu lagi. Ia berharap semua perasaannya kepada laki-laki terkubur mati, tanpa pusara, tanpa peringatan apa-apa. Biar saja tenggelam bersama waktu yang terus berputar.

Ia memberikan laki-laki itu buku kesayangannya dengan harapan ia bisa sama relanya melepas perasaannya seperti ia melepas buku itu. Ternyata tidak semudah itu. Kadang ia masih merindukannya. Kadang ia berharap mereka bisa bertemu dengan mudah seperti dulu. Ia sungguh berharap kadang-kadang itu tidak pernah ada.

Sekarang ia tak sendiri lagi. Kekasihnya telah datang menjemputnya.

“Kok, bengong, Ri? Katanya mau nulis,” tanya pasangannya.

Ia hanya tersenyum tipis, “Sudah selesai, kok. Cuma lagi inget masa lalu aja. Dulu aku sering ke sini bareng sahabatku.”

“Oiya? Memang enak, sih, di sini. Adem, tenang, pantas kamu merasa terinpirasi menulis di sini,” sahut pasangannya lagi.

Ia tersenyum sambil merapikan buku catatan dan alat tulisnya. Kemudian pulang bersama kekasihnya ke rumah mereka.

Di perjalanan, sejenak ia melihat media sosial lewat ponselnya. Lelaki itu sudah muncul lagi di dunia maya setelah selama ini menghilang entah ke mana. Ia memperbarui statusnya dengan sebuah foto buku dan komentar, “Buku yang bagus. Mengajarkan tentang cinta sejati yang setia. Terima kasih kepadamu yang telah menghadiahkanku buku ini. Akan kujaga dengan sebaik-baiknya.”

Ia tersenyum lega sekarang. Ia percaya, mereka bisa melanjutkan kisah mereka masing-masing. Meski tak berada dalam akhir cerita yang sama, ia bersyukur mereka pernah bersisian jalan dan memberi pelajaran yang berharga.

 

Depok, 7 Februari 2018

 

Cerita ini masih berhubungan dengan Serial November. Meski aku sudah berjanji akan mengakhiri kisah Serial November, tetapi setiap hujan, adaaa saja ide cerita yang muncul. Cerita ini disampaikan dari sudut pandang Riri alias Sabrina Putri. Silakan baca Selamat Ulang Tahun atau Kau Harus Membuat Cerita Baru, Sayangku untuk lebih jelasnya. Atau kalau mau lebih jelas lagi, baca semua Serial November, hehehe…

Dari kemarin hujan terus, membuat tangan gatal ingin menulis. Semoga suka 🙂

Kisah Gadis Red Velvet

Halo, perkenalkan. Aku adalah kedai sederhana yang terletak di pinggir jalan raya yang cukup ramai. Untuk alasan sentimental yang sangat rahasia, pemilikku memberiku nama “November Rain”. Sebuah nama yang unik dan kurang cocok disandang oleh kedai sepertiku.

weheartit.jpg

Aku menyediakan berbagai macam minuman dan makanan ringan. Segala jenis teh, kopi, dan minuman hangat lainnya bisa kautemukan di tempatku. Aku juga menyediakan kue-kue manis dan gurih yang cocok sebagai pengganjal perutmu.

Sayang sekali, aku tidak menyediakan makanan berat. Pemilikku menginginkan aku sebagai tempat berkumpul, bercengkrama, mengobrol, atau bahkan merenung. Menurutnya, makanan berat kurang cocok untuk semua kegiatan itu.

Aku buka dari pukul sepuluh pagi hingga pukul sepuluh malam. Namun, biasanya pengunjung baru ramai setelah jam makan siang. Ya, sekitar pukul dua ke atas. Kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa yang mampir untuk untuk mengudap makanan ringan sambil mengerjakan tugas kuliah. Menjelang sore, banyak juga karyawan-karyawan yang mampir ke sini. Sekadar melepas lelah dan penat sambil menyesap kopi.

Aku tidak tahu ini ada hubungannya atau tidak dengan namaku, tetapi tempatku selalu ramai ketika bulan November tiba. Di bulan November, meja-meja selalu penuh. Banyak pelanggan yang rela menunggu pelanggan lainnya selesai hanya untuk menikmati minuman atau makanan sederhana.

Di bulan November juga, aku sering mendapat pelanggan baru. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang terjebak oleh hujan dan tidak bisa ke mana-mana. Kemudian mereka memilih berteduh di tempatku dan merasa nyaman di dalamnya hingga lupa pulang. Esoknya, mereka kembali lagi, dan begitu seterusnya.

Salah satu pelanggan itu adalah seorang gadis yang datang sendirian dengan baju basah. Ia pasti habis kehujanan. Akan tetapi, tidak sedikit pun gadis itu merengut. Ia tersenyum lebar memandangi tubuhku yang menyajikan suasana hangat dan nyaman. Ia tersenyum lebih lebar saat menyadari ada sebuah meja kosong di sudut ruangan. Meja yang tepat berada di samping kaca yang menghadap keluar.

Sejak saat itu, hampir setiap hari ia mampir ke tempatku. Menghabiskan sore dengan secangkir teh hitam dan kue red velvet kesukaannya. Kisah kali ini adalah tentang gadis itu. Aku menjulukinya dengan sebutan Gadis Red Velvet.


 

cherry-red-velvet

Ia percaya hujan selalu memberi kenangan.

Sama seperti hujan-hujan sebelumnya, ia kembali menunggu. Bukan menunggu kekasih seperti yang biasanya orang-orang lakukan. Ia menunggu malaikat. Malaikat yang turun bersama hujan dan akan kembali lagi ke surga dengan membawa doanya.

Ia bersyukur, setelah sekian lama berpindah-pindah tempat demi menikmati hujan, kini ia telah menemukan tempat yang tetap. Sebuah kedai dengan jendela kaca besar di sudut ruangan, dan sepasang mata bening yang terpantul di kaca.

Butuh berbulan-bulan untuk meyakinkan kalau sepasang mata itu menatap wajahnya. Sepasang mata milik pemuda pendiam yang sibuk mondar-mandir di antara meja-meja pelanggan.

Baginya, keterdiaman pemuda itu terdengar seperti kalimat asing yang tak bisa ia terjemahkan. Menjadi misteri yang tak bisa ia pecahkan. Ia selalu menyimpan hasrat untuk dapat berbicara dengan pemuda itu. Akan tetapi, rasa malu dan canggung selalu menyapa dirinya sebelum ia berani membuka mulut. Ia hanya tersenyum setiap kali si pemuda menyerahkan pesanannya.

Kali ini, sambil menunggu pesanannya datang, ia mengamati sepasang muda-mudi yang berbicara dengan serius. Si lelaki tampak putus asa, tetapi tak dapat menyembunyikan binar cinta di matanya. Ia menatap perempuan di depannya dengan penuh harapan, sekaligus patah hati yang aneh.

Sementara itu, ia tak dapat melihat dengan jelas si perempuan karena posisi duduknya membelakanginya. Namun ia ingat, tadi si perempuan datang dengan mimik wajah yang aneh. Si perempuan tampak berusaha kuat-kuat menyembunyikan kebahagiaan dan kesedihan yang dia rasakan.

Gadis itu sebenarnya mengingat mereka. Kedua orang itu adalah pelanggan kedai November Rain juga. Sejak pertama kali gadis itu duduk di sana, kedua orang itu sudah ada. Mereka sering mengobrol lama, entah membicarakan apa. Sering si perempuan membawa buku dan menunjukkannya pada si lelaki. Sering juga si perempuan datang dengan wajah kuyu, lalu si lelaki tampak menghiburnya. Mereka pun pulang dengan wajah jauh lebih gembira.

Kemudian, si gadis red velvet itu tak pernah melihat mereka lagi. Mungkin mereka pindah ke kedai lain. Mereka mungkin saja pindah tempat tinggal. Si gadis red velvet tidak menyangka akan melihat kedua orang itu lagi. Si gadis red velvet mengira akan menemukan akhir yang bahagia. Ia begitu yakin dengan intuisinya.

Pemuda pelayan yang pendiam datang sambil membawa nampan berisi secangkir teh hitam dan sepiring red velvet yang menggoda.

“Kau lihat sepasang kekasih itu? Mereka tampak cocok, ya?”

Akhirnya gadis itu tak dapat menahan dirinya berbicara kepada si pemuda pelayan. Ia menunjuk dua orang yang sejak tadi dipandanginya.

“Dari mana kau tahu kalau mereka sepasang kekasih?” suara pemuda itu terdengar ragu. Si gadis memahami keraguan si pemuda.

Dengan mantap, ia pun menjawab, “Oh, aku tahu saja. Dari cara mereka memandang, dari cara mereka saling berbicara. Mereka saling menatap dengan cinta.”

“Aku ragu mereka sepasang kekasih, karena…,” sahut pemuda itu.

Kemudian si gadis melihat pemandangan yang mengecewakan hatinya. Kedua orang itu telah menyelesaikan obrolan mereka dan pergi keluar. Si perempuan ternyata dijemput seorang laki-laki, sedangkan si laki-laki pulang belakangan, seorang diri.

Si gadis mendesah, “Ah, sayang sekali. Seharusnya mereka saling memiliki dan mencintai. Kau harus percaya padaku karena aku melihatnya di mata mereka. Aku yakin sekali.”

Si gadis melihat pemuda itu tersenyum. Senyum yang manis sekali. Lebih manis dari red velvet yang pernah dicicipnya. “Mengapa kau bisa seyakin itu?”

“Entahlah,” jawabnya. “Aku hanya merasa memiliki intuisi yang kuat. Semacam keyakinan bahwa aku dapat menebak perasaan seseorang hanya dengan menatap mata mereka. Aku seringkali dapat menebak dengan benar siapa sedang mencintai siapa. Sayangnya, tidak ada satu pun yang tentang aku. Miris, kan?” kata gadis itu sambil tertawa.

Teman-temannya adalah bukti nyata bahwa intuisinya benar. Sebelum mereka bercerita kepadanya, ia selalu tahu siapa sedang menyukai siapa, siapa ingin mendekati siapa, siapa sedang jatuh cinta dengan siapa. Ah!

pinterest-rain

Ia seringkali menjadi tempat curahan hati bagi sahabat-sahabatnya. Tak peduli laki-laki atau perempuan, ia menjadi pilihan tepat untuk meminta pendapat bagi mereka yang sedang dimabuk cinta. Ia selalu senang setiap kali mengetahui teman-temannya berhasil mendekati bahkan mengungkapkan cinta pada orang yang mereka inginkan.

Namun, kadang ia dilanda rasa iri. Iri karena sampai kini ia tetap sendiri. Dan sama sekali tidak mampu menyadari siapa yang memiliki rasa terhadapnya.

“Mungkin tidak ada,” pikir si gadis red velvet. “Tidak akan pernah ada laki-laki yang jatuh cinta pada gadis aneh sepertiku.” Ia memang seringkali berpikir negatif tentang dirinya sendiri. Mungkin itulah yang membuatnya tak menyadari bahwa ada sepasang mata yang menatapnya dengan binar cinta.

“Hmm…, maaf, saya permisi dulu.”

Perkataan pemuda itu membuyarkan lamunannya. Ia tersenyum lalu mengangguk. Mempersilakan pemuda itu pergi sambil membawa nampan kosong.

Gadis red velvet itu kembali memandangi jendela kaca yang menghadap keluar. Di luar hujan, tentu saja. Ia melihat si perempuan yang tadi masih berdiri di samping laki-laki yang menjemputnya. Tatapan mata perempuan itu sendu. Si gadis red velvet yakin sekali, perempuan itu memiliki rasa sayang kepada laki-laki yang tadi semeja dengannya di kedai. Sebelum perempuan itu pergi, si gadis red velvet melihat perempuan itu terus memandangi punggung si laki-laki yang berjalan semakin menjauh.

“Seharusnya mereka bersama,” pikir gadis red velvet. “Aku yakin mereka saling mencintai.”

Dia terdiam cukup lama sampai akhirnya ia tersadar akan sesuatu. Setelah meneguk habis tehnya, ia mengeluarkan buku catatan dan mulai menulis.

“Setidaknya aku bisa membuat mereka hidup bersama dan saling mencintai di cerita ini,” ujarnya sambil menggores tinta di atas kertas.

Si gadis red velvet mulai menulis dan terus menulis hingga tangannya pegal. Saat ia sadar, suasana di luar sudah begitu gelap. Ia melirik jam tangannya.

“Sedikit lagi,” gumamnya kepada diri sendiri.

“Ehem, maaf mengganggumu. Tetapi tehmu sudah habis. Boleh kuisi lagi?”

Gadis itu mendongak kaget. Si pemuda pelayan berdiri di hadapannya sambil membawa teko dan sepiring kue red velvet.

“Oh, aku…sangat senang kau datang. Ya, tehku boleh diisi lagi,” ujar gadis itu agak gugup. Ia tak menyangka si pemuda akan datang lagi.

“Kau sedang menulis?” tanya si pemuda sambil menuang isi teh.

black-tea

Gadis itu mengangguk. “Ya, aku sedang menulis kisah cinta. Kisah cinta yang berakhir bahagia tentu saja. Aku tidak suka akhir yang sedih.”

“Ehm, maukah kau menulis kisah tentang seorang pemuda biasa-biasa saja yang diam-diam menicntai seorang gadis yang selalu duduk di pinggir jendela. Gadis itu… ia suka sekali menatap hujan.”

Si gadis red velvet terpaku mendengar ujaran pemuda itu. Pemuda itu diam tertunduk. Akan tetapi, dengan malu-malu ia memberanikan diri menatap mata si gadis red velvet dengan lembut namun penuh harapan.

“Tadi katamu, kau bisa mengetahui perasaan seseorang hanya dengan melihat matanya. Iya, kan?” tanya pemuda itu lalu kembali menunduk dan berbalik pergi.

Meninggalkan si gadis red velvet yang masih terperangah karena mendengar pertanyaan si pemuda. Gadis itu tak bisa berkata apa-apa. Otaknya, entah mengapa kali ini tidak begitu baik bekerja. Ia kebingungan mencerna kata-kata si pemuda.

Gadis red velvet itu meletakkan pulpen yang sejak tadi digenggamnya. Ia mengembuskan napas. Kemudian, menyesap pelan-pelan teh hitam yang masih mengepul hangat.

Gadis red velvet mulai bertanya-tanya, jadi, kisah siapa yang seharusnya ia tulis?

Begitulah ceritaku, Kawan. Sebagai kedai yang ramai dikunjungi saat musim hujan, aku melihat banyak kisah cinta terjadi di dalam tubuhku. Cinta yang terucapkan dan yang tak terungkapkan. Cinta yang disimpan diam-diam dan cinta yang ditunjukkan seterang siang.

Kalau kau merasa kesepian atau sekadar ingin menikmati hujan, bolehlah datang ke tempatku kapan-kapan. Aku yakin di sini kau akan menemukan banyak cerita dan inspirasi. Salam hujan.

Sore hujan, 16 November 2017


 

P.S.: Alhamdulillah, akhirnya sampai juga pada cerita terakhir Serial November. Insya Allah, ini benar-benar yang terakhir 🙂 Saya sengaja menulisnya dari sudut pandang si kedai itu sendiri yang cukup sering menjadi tempat pertemuan dua tokoh utama kita. Mudah-mudahan kalian suka dengan kisah si gadis red velvet.

November; Month for Move On

Assalamualaikum, apa kabar?

Rasanya seperti sudah lama sekali tidak menulis blog, setelah postingan tentang Kuro kemarin. Jujur saja, saya masih sedih sekali kehilangan kucing saya. Ingat sekali, di postingan September lalu, saya berjanji akan bercerita tentang dia. Niatnya, mau menceritakan awal mula kami memelihara Kuro dan kelucuan-kelucuannya sehari-hari. Saya menunda menulis tentang itu karena merasa belum ada mood-nya. Tidak disangka, akhirnya saya menulis tentang Kuro dengan perasaan yang berbeda. Perasaan sedih dan berduka.

Aneh sekali rasanya sekarang, setiap pulang kerja atau dari tempat lain, tidak ada Kuro yang berlari-lari mengikuti kami. Kuro selalu tampak senang ketika kami pulang, dan dia selalu berada paling depan menunggu pintu dibuka. Biasanya juga, setiap saya atau suami sedang sendirian di rumah, kami saling mengirim foto Kuro. Bahkan kami lebih sering menanyakan apakah Kuro sudah makan atau belum, dibanding menanyakan pasangan kami sendiri, hehehe.

IMG20171018002505

Beberapa orang menghibur kami dengan mengatakan, “Ya sudah, masih banyak kucing lain yang bisa dipelihara,” dan kalimat semacam itu. Ya, memang masih ada banyaaaaak sekali kucing yang bisa dipelihara, tetapi Kuro berbeda.

Kuro datang ke rumah di saat kami bahkan tidak menyadari kalau kami membutuhkan Kuro. Membutuhkan makhluk kecil yang lucu dan selalu menantikan kepulangan kami. Membutuhkan makhluk kecil yang menguras waktu-waktu senggang kami untuk bermain bersamanya, memberinya makan, memandikannya. Membutuhkan makhluk kecil yang membuat kami tertawa dan sejenak melupakan masalah-masalah yang ada. Kemudian Kuro pergi, meninggalkan lubang yang besaaaaar sekali di hati kami.

Saya yang sebelumnya tidak terlalu peduli dengan kucing, tidak pernah menyangka akan sesayang ini dengan seekor kucing. Sejak kepergian Kuro, saya jadi lebih aware dengan kucing-kucing kecil. Setiap melihat kucing liar di pinggir jalan atau tempat-tempat umum, saya selalu jatuh kasihan dan rasanya ingin memungut saja.

Saya terbayang terus dengan Kuro. Takut dia kelaparan dan kedinginan di kehidupan liar yang jahat ini. Bagaimanapun, kami selalu berdoa dan percaya, saat ini Kuro sudah dirawat dan dijaga oleh orang yang jauh lebih baik dari kami. Yang bisa menemani dan menjaga Kuro sepanjang hari. Tidak melulu ditinggal-tinggal sendirian.

Hari setelah kami kehilangan Kuro, saya mengizinkan hati saya berharap Kuro akan kembali ke rumah selama seminggu. Namun, seminggu telah berlalu, hati ini masih saja terus berharap. Saya berharap ada keajaiban -entah dari mana- yang membawa Kuro kembali ke rumah kami lagi.

Saya tahu, kadang yang kita sukai mungkin tidak baik bagi kita. Sebaliknya, kadang yang kita benci mungkin baik bagi kita. Hanya Allah yang tahu apa yang terbaik untuk kita. Namun, entah mengapa, saya masih berharap, kembalinya Kuro adalah yang terbaik bagi kami. Saya tidak tahu apakah ini salah atau benar, tetapi saya masih benar-benar mengharapkan Kuro kembali.

Saya hanya bisa berdoa, jika memang Kuro lebih baik tinggal di tempat lain, kami diberi kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi itu. Dan semoga tempat tinggal Kuro yang baru, jauuuuh lebih baik.

Apakah kami akan memelihara kucing baru? Awalnya, kami pikir kami nggak sanggup memelihara kucing lagi untuk sementara waktu. Pikiran kami waktu itu hanya ke Kuro, Kuro, dan Kuro. Namun, setelah beberapa hari berlalu, saya dan suami setuju untuk memelihara anak kucing lagi. Kami ingin yang jenisnya sama seperti Kuro, kucing belang tiga atau disebut juga Calico.

Di dekat rumah kami, sebenarnya ada seekor anak kucing calico liar. Sayangnya, sepertinya dia takut sekali dengan manusia. Setiap kali kami mendekat, dia langsung lari menjauh. Meskipun pada akhirnya, -setelah suami saya ‘menjebak’nya dengan memberi makanan kucing punya Kuro-, kucing ini masuk rumah. Tetapi ketika di dalam rumah, dia mengeong-ngeong ketakutan. Saya jadi kasihan dan meminta si kucing dikeluarkan lagi. Menurut pengamatan kami, sepertinya kucing ini pernah dipotong buntutnya, karena buntutnya pendek sekali dengan bentuk yang tidak wajar. Entah benar atau tidak, yang jelas, sudah pasti dia punya trauma terhadap manusia.

Setelah kejadian ini, saya jadi mengerti perasaan para pencinta kucing. Mengapa mereka rela mengeluarkan uang banyak demi seekor kucing. Mengapa mereka sampai menangis-nangis, nggak nafsu makan, bahkan sakit saat kucing mereka mati atau hilang. Sekarang saya tahu semua perasaan itu. Perasaan yang mungkin tidak akan dirasakan oleh orang yang tidak pernah memelihara kucing, atau memelihara kucing sekadarnya saja, bukan menganggap kucing tersebut sebagai bagian dari anggota keluarga juga.

Kuro-2

Kini saya harus move on dari kesedihan dan kedukaan saya tentang Kuro. Saya harus melakukan sesuatu yang meminta seluruh pikiran dan perhatian saya, agar tidak selalu mengenang-ngenang Kuro dan berharap dia kembali. Apakah sesuatu itu? Saya juga belum tahu. Apakah mungkin aktif nge-blog lagi, atau ngejar target baca buku, atau nulis cerita, masak, bikin prakarya. Saya masih galau, hehehe.

Akan tetapi, mengingat sekarang sudah masuk bulan November, dan itu berarti tinggal 61 hari lagi sebelum tahun 2017 berakhir, sepertinya saya akan mengecek dulu target-target apa yang belum terpenuhi di tahun 2017 ini. Saya juga ingin mendaftar hal-hal yang ingin saya lakukan sebelum 2017 berakhir, dan hal-hal yang akan saya lakukan di tahun 2018.

Khusus untuk blog ini, bulan November adalah bulan yang istimewa. Karena tiga tahun lalu, saya membuat blog ini tepat di bulan November. Ternyata sudah cukup lama juga ya, saya berkawan dengan blog ini. Untuk memperingati blog anniversary yang ketiga, saya berencana akan memposting behind the scene dan seluk beluk blog Rumah Cerita Ratih Cahaya dan harapan saya untuk blog ini ke depannya.

hopes-for-my-blog

Oiya, mumpung bulan November juga, mampir-mampir, ya, ke laman saya Serial November. Saya kepikiran dua cerita baru untuk ditambahkan ke dalam serial ini. Meskipun selama ini selalu berniat cerita yang sedang ditulis adalah cerita terakhir di Serial November, tetaaap saja ada ide baru bermunculan yang sayang sekali kalau tidak ditulis.

serial-november

Aah, semoga bulan November dan hujan-hujan yang turun di dalamnya membawa kebaikan bagi kita semua, ya!

Bagaimana denganmu? Apa yang kamu harapkan dan ingin lakukan di bulan November ini?

Kau Harus Membuat Cerita Baru, Sayangku

todd-diemer-110882.jpg

“Kau harus membuat cerita baru,” katamu senja ini.

“Untuk apa?” tanyaku.

Kau terdiam sejenak. “Kau harus membuat cerita baru yang tanpa aku di dalamnya,” katamu lagi. Tidak menjawab pertanyaanku sama sekali.

“Aku tidak tahu…,” ujarku menggantung. Sesungguhnya yang ingin kukatakan adalah aku tidak tahu bagaimana caranya membuat cerita baru tanpamu sedangkan segala sesuatu yang aku lakukan tidak mampu membuatku melepaskan bayanganmu.

“Apa aku terlihat menyedihkan?” malah itu yang kutanyakan. Aku juga tidak tahu mengapa aku menanyakan hal bodoh seperti itu yang membuatku semakin terlihat menyedihkan.

Kamu menggeleng pelan, “Bukan begitu…. Aku hanya…. Aku hanya…ingin kau bahagia. Aku ingin kau…jatuh cinta, menikah, punya anak…. Semacam itulah….”

Aku tersenyum singkat, “Maksudmu, sekarang aku tidak tampak bahagia?”

Kamu menggeleng lagi, “Aku…aku…hanya tidak ingin kau sendirian….”

Kali ini aku tertawa. Tertawa miris kurasa. Aku tidak percaya mendengar kalimat itu dari mulutmu. Kalau kau tak ingin aku sendirian, mengapa kau malah memilih laki-laki lain dan bukan aku? Kalau kau ingin aku bahagia, mengapa kau malah menerima pinangan dari orang lain dan bukan menungguku?

Oh, iya, aku ingat, ini semua salahku. Salahku yang tidak mengatakan padamu bahwa kebahagiaanku adalah dirimu. Salahku yang tidak mengatakan padamu bahwa yang telah membuatku jatuh cinta adalah dirimu. Salahku yang tidak mengatakan padamu bahwa aku ingin menikah dan memiliki anak denganmu. Sekarang sudah terlambat dan itu semua salahku.

“Aku baik-baik saja sendirian. Kau lihat sendiri, kan?” kataku akhirnya.

“Kau tidak seperti yang kuingat dulu…,” katamu.

“Aku tak percaya kau masih mengingatku…,” kataku.

“Jangan bodoh, kaupikir aku…,” kata-katamu terputus.

Ada hening beberapa saat. Aku menunggumu mengucapkan kalimat selanjutnya. “Aku tidak mungkin melupakanmu. Kau temanku. Teman tidak mungkin melupakan temannya,” ujarmu akhirnya.

Aku menunduk, menyesap kembali kopi pesananku yang sudah mulai dingin. “Jadi, apa yang membuatmu ingin bertemu denganku?”

Akhirnya kutanyakan hal itu padamu. Sungguh, aku kaget saat menerima surel darimu. Memintaku untuk bertemu denganmu di kedai favorit kita. November Rain. Jujur saja, aku tidak tahu apa yang kurasakan saat itu. Semuanya campur aduk, aku merasa was-was, cemas, senang, gugup, penasaran, putus asa. Entahlah….

“Aku ingin memberimu ini,” katamu sambil mengulurkan sebuah buku. Aku mengernyit bingung.

“Untukku?” tanyaku.

Kamu mengangguk. “Iya, ini novel favoritku. Berkisah tentang cinta sejati, bintang-bintang, galaksi, dan alam semesta. Aku ingin kau membaca dan memilikinya.”

“Tapi… kenapa?” tanyaku heran.

“Tidak ada alasan khusus. Aku hanya ingin kau membaca dan memilikinya. Sudah itu saja. Ehm, maksudku, aku juga ingin kau bahagia.”

Aku melihat judul buku yang kauberikan. Sampulnya bergambar seorang perempuan menatap bulan purnama. Kemudian saat aku membuka, ternyata di balik sampulnya, masih ada satu sampul lagi yang bergambar seorang lelaki sedang menatap purnama yang sama.

“Bacalah,” katamu, “dan buatlah cerita baru tanpa aku….”

Aku tercenung. “Riri…. Aku…merindukanmu, kurasa,” kataku akhirnya.

Ya Tuhan, aku sungguh tidak sanggup lagi menahan semua ini. Aku merindukanmu. Amat sangat merindukanmu. Dulu, beberapa tahun yang lalu, hampir setiap hari kita bertemu. Kau mengoceh macam-macam tentang buku yang kaubaca, film yang kautonton, lagu yang kausukai, dan tempat-tempat yang ingin kaukunjungi. Kau ceritakan padaku tentang laki-laki yang berulang kali membuatmu menangis dan patah hati. Kau bilang padaku kalau kau ingin pergi ke Kota Cahaya berdua denganku.

Kau lambungkan harapanku, kau tinggikan angan-anganku, lalu pada suatu hari kau hancurkan semuanya dengan sebuah pesan singkat yang mengatakan bahwa kau akan menikah dan foto undangan pernikahanmu. Sekarang, saat aku menikmati betul indahnya kesendirian dan patah hati, kau datang dan memintaku untuk membuat cerita baru tanpamu. Bagaimana mungkin aku bisa melakukannya?

“Ta, ada banyak hal yang tak pernah kita duga dalam hidup ini. Kadang semuanya terjadi dengan begitu cepat tanpa bisa kita cegah sebelumnya. Aku… aku juga merindukanmu. Tetapi sekarang….” kata-katamu terputus. Wajahmu tampak mendung seperti cuaca sore ini. Kau menghabiskan cangkir kedua tehmu.

Sekarang cerita kita berdua sudah selesai. Itulah mengapa kau memintaku membuat cerita baru. Padahal sesungguhnya aku sedang membuat cerita baru. Cerita tentang aku dan kesendirianku, tanpa orang lain lagi di dalamnya. Jika maksudmu membuat cerita baru adalah menghadirkan orang baru untuk menggantikanmu, maaf, aku belum mampu. Aku masih ingin bercengkerama dengan bayang-bayangmu.

“Riri…,” betapa janggal menyebut namamu secara langsung di depanmu, setelah sekian lama tidak pernah kulakukan.

Kau tampak menungguku mengucapkan sesuatu. Akan tetapi, aku juga tidak tahu apa lagi yang harus kuucapkan. Bukankah apa pun yang aku ucapkan tidak akan mengubah apa-apa lagi di antara kita berdua?

“Ta, sepertinya aku harus pulang sekarang.”

Aku mengangguk mengiyakan. Ya, kau harus pulang. Ada seseorang yang menunggumu di rumah.

“Baca dan jaga buku ini baik-baik. Buku ini pernah dan akan selalu menjadi kesayanganku. Dan aku tidak akan memberikannya kecuali kepada orang yang aku percaya,” katamu sambil mengelus bukumu seolah itu yang terakhir kali.

“Terima kasih,” kataku singkat.

Di luar, terdengar suara hujan yang turun dengan deras. “Sebentar lagi bulan November, sudah masuk musim hujan,” katamu sambil tersenyum ke arahku. Senyum yang tak akan pernah kulupakan. Senyum yang tadinya kupikir hanya untukku.

“Iya,” kataku, “Aku selalu suka bulan November.”

Kau tidak membalasnya. Kau sibuk mengeluarkan payung lipat dari dalam ranselmu. Payung warna biru motif kotak-kotak.

“Sudah bertahun-tahun dan payungmu masih yang itu?” tanyaku takjub.

Kamu tersenyum, “Seandainya payung ini rusak, aku akan mencari motif yang sama sebagai penggantinya. Kau tahu, aku tidak mudah mengganti sesuatu dengan yang baru.”

“Begitu juga aku,” sahutku.

“Tetapi kali ini, kau benar-benar harus membuat cerita baru, Sayangku…” katamu sambil berjalan keluar kedai. Di sana aku melihat sesosok laki-laki telah menunggumu. Kamu tersenyum menyambutnya. Senyum yang kupikir hanya untukku. Mungkin memang benar, aku harus membuat cerita baru tanpamu.

Sore mendung, 29 September 2017

***

It’s been so long since I wrote flash fiction from the last time. Cerita ini masih bagian dari Serial November yang pernah kutulis sebelumnya.