Kau Harus Membuat Cerita Baru, Sayangku

todd-diemer-110882.jpg

“Kau harus membuat cerita baru,” katamu senja ini.

“Untuk apa?” tanyaku.

Kau terdiam sejenak. “Kau harus membuat cerita baru yang tanpa aku di dalamnya,” katamu lagi. Tidak menjawab pertanyaanku sama sekali.

“Aku tidak tahu…,” ujarku menggantung. Sesungguhnya yang ingin kukatakan adalah aku tidak tahu bagaimana caranya membuat cerita baru tanpamu sedangkan segala sesuatu yang aku lakukan tidak mampu membuatku melepaskan bayanganmu.

“Apa aku terlihat menyedihkan?” malah itu yang kutanyakan. Aku juga tidak tahu mengapa aku menanyakan hal bodoh seperti itu yang membuatku semakin terlihat menyedihkan.

Kamu menggeleng pelan, “Bukan begitu…. Aku hanya…. Aku hanya…ingin kau bahagia. Aku ingin kau…jatuh cinta, menikah, punya anak…. Semacam itulah….”

Aku tersenyum singkat, “Maksudmu, sekarang aku tidak tampak bahagia?”

Kamu menggeleng lagi, “Aku…aku…hanya tidak ingin kau sendirian….”

Kali ini aku tertawa. Tertawa miris kurasa. Aku tidak percaya mendengar kalimat itu dari mulutmu. Kalau kau tak ingin aku sendirian, mengapa kau malah memilih laki-laki lain dan bukan aku? Kalau kau ingin aku bahagia, mengapa kau malah menerima pinangan dari orang lain dan bukan menungguku?

Oh, iya, aku ingat, ini semua salahku. Salahku yang tidak mengatakan padamu bahwa kebahagiaanku adalah dirimu. Salahku yang tidak mengatakan padamu bahwa yang telah membuatku jatuh cinta adalah dirimu. Salahku yang tidak mengatakan padamu bahwa aku ingin menikah dan memiliki anak denganmu. Sekarang sudah terlambat dan itu semua salahku.

“Aku baik-baik saja sendirian. Kau lihat sendiri, kan?” kataku akhirnya.

“Kau tidak seperti yang kuingat dulu…,” katamu.

“Aku tak percaya kau masih mengingatku…,” kataku.

“Jangan bodoh, kaupikir aku…,” kata-katamu terputus.

Ada hening beberapa saat. Aku menunggumu mengucapkan kalimat selanjutnya. “Aku tidak mungkin melupakanmu. Kau temanku. Teman tidak mungkin melupakan temannya,” ujarmu akhirnya.

Aku menunduk, menyesap kembali kopi pesananku yang sudah mulai dingin. “Jadi, apa yang membuatmu ingin bertemu denganku?”

Akhirnya kutanyakan hal itu padamu. Sungguh, aku kaget saat menerima surel darimu. Memintaku untuk bertemu denganmu di kedai favorit kita. November Rain. Jujur saja, aku tidak tahu apa yang kurasakan saat itu. Semuanya campur aduk, aku merasa was-was, cemas, senang, gugup, penasaran, putus asa. Entahlah….

“Aku ingin memberimu ini,” katamu sambil mengulurkan sebuah buku. Aku mengernyit bingung.

“Untukku?” tanyaku.

Kamu mengangguk. “Iya, ini novel favoritku. Berkisah tentang cinta sejati, bintang-bintang, galaksi, dan alam semesta. Aku ingin kau membaca dan memilikinya.”

“Tapi… kenapa?” tanyaku heran.

“Tidak ada alasan khusus. Aku hanya ingin kau membaca dan memilikinya. Sudah itu saja. Ehm, maksudku, aku juga ingin kau bahagia.”

Aku melihat judul buku yang kauberikan. Sampulnya bergambar seorang perempuan menatap bulan purnama. Kemudian saat aku membuka, ternyata di balik sampulnya, masih ada satu sampul lagi yang bergambar seorang lelaki sedang menatap purnama yang sama.

“Bacalah,” katamu, “dan buatlah cerita baru tanpa aku….”

Aku tercenung. “Riri…. Aku…merindukanmu, kurasa,” kataku akhirnya.

Ya Tuhan, aku sungguh tidak sanggup lagi menahan semua ini. Aku merindukanmu. Amat sangat merindukanmu. Dulu, beberapa tahun yang lalu, hampir setiap hari kita bertemu. Kau mengoceh macam-macam tentang buku yang kaubaca, film yang kautonton, lagu yang kausukai, dan tempat-tempat yang ingin kaukunjungi. Kau ceritakan padaku tentang laki-laki yang berulang kali membuatmu menangis dan patah hati. Kau bilang padaku kalau kau ingin pergi ke Kota Cahaya berdua denganku.

Kau lambungkan harapanku, kau tinggikan angan-anganku, lalu pada suatu hari kau hancurkan semuanya dengan sebuah pesan singkat yang mengatakan bahwa kau akan menikah dan foto undangan pernikahanmu. Sekarang, saat aku menikmati betul indahnya kesendirian dan patah hati, kau datang dan memintaku untuk membuat cerita baru tanpamu. Bagaimana mungkin aku bisa melakukannya?

“Ta, ada banyak hal yang tak pernah kita duga dalam hidup ini. Kadang semuanya terjadi dengan begitu cepat tanpa bisa kita cegah sebelumnya. Aku… aku juga merindukanmu. Tetapi sekarang….” kata-katamu terputus. Wajahmu tampak mendung seperti cuaca sore ini. Kau menghabiskan cangkir kedua tehmu.

Sekarang cerita kita berdua sudah selesai. Itulah mengapa kau memintaku membuat cerita baru. Padahal sesungguhnya aku sedang membuat cerita baru. Cerita tentang aku dan kesendirianku, tanpa orang lain lagi di dalamnya. Jika maksudmu membuat cerita baru adalah menghadirkan orang baru untuk menggantikanmu, maaf, aku belum mampu. Aku masih ingin bercengkerama dengan bayang-bayangmu.

“Riri…,” betapa janggal menyebut namamu secara langsung di depanmu, setelah sekian lama tidak pernah kulakukan.

Kau tampak menungguku mengucapkan sesuatu. Akan tetapi, aku juga tidak tahu apa lagi yang harus kuucapkan. Bukankah apa pun yang aku ucapkan tidak akan mengubah apa-apa lagi di antara kita berdua?

“Ta, sepertinya aku harus pulang sekarang.”

Aku mengangguk mengiyakan. Ya, kau harus pulang. Ada seseorang yang menunggumu di rumah.

“Baca dan jaga buku ini baik-baik. Buku ini pernah dan akan selalu menjadi kesayanganku. Dan aku tidak akan memberikannya kecuali kepada orang yang aku percaya,” katamu sambil mengelus bukumu seolah itu yang terakhir kali.

“Terima kasih,” kataku singkat.

Di luar, terdengar suara hujan yang turun dengan deras. “Sebentar lagi bulan November, sudah masuk musim hujan,” katamu sambil tersenyum ke arahku. Senyum yang tak akan pernah kulupakan. Senyum yang tadinya kupikir hanya untukku.

“Iya,” kataku, “Aku selalu suka bulan November.”

Kau tidak membalasnya. Kau sibuk mengeluarkan payung lipat dari dalam ranselmu. Payung warna biru motif kotak-kotak.

“Sudah bertahun-tahun dan payungmu masih yang itu?” tanyaku takjub.

Kamu tersenyum, “Seandainya payung ini rusak, aku akan mencari motif yang sama sebagai penggantinya. Kau tahu, aku tidak mudah mengganti sesuatu dengan yang baru.”

“Begitu juga aku,” sahutku.

“Tetapi kali ini, kau benar-benar harus membuat cerita baru, Sayangku…” katamu sambil berjalan keluar kedai. Di sana aku melihat sesosok laki-laki telah menunggumu. Kamu tersenyum menyambutnya. Senyum yang kupikir hanya untukku. Mungkin memang benar, aku harus membuat cerita baru tanpamu.

Sore mendung, 29 September 2017

***

It’s been so long since I wrote flash fiction from the last time. Cerita ini masih bagian dari Serial November yang pernah kutulis sebelumnya.

Advertisements

Selamat Ulang Tahun

rain-2

Dari: Sabrina Putri <sabrina.92@gmail.com>
kepada: Rangga Pratama <rakyatjelata@gmail.com>
tanggal: 15 November 2016 23.10
perihal: Selamat Ulang Tahun

Dear Ta,

Selamat ulang tahun. Maaf aku telat mengucapkannya tepat di hari ulang tahunmu. Kau tahu, kan, kau lahir di musim penghujan.

Aku kehujanan hari itu. Hujan turun dengan derasnya di sore hari. Padahal aku sudah memikirkan sebuah surat untukmu. Sebuah surat tentang kita.

Dulu, aku suka musim hujan. Entah mengapa, hujan memberi efek sendu tersendiri kepadaku. Lalu kau datang. Kita berjalan beriringan di tengah gerimis itu. Aku tidak tahu apakah kau masih mengingatnya. Yang pasti, aku masih mengingatnya sejelas aku mengingat hujan dan matahari.

Aku ingat apa yang kita bicarakan sore itu, di tengah rinai hujan senja hari. Kita berbicara tentang masa depan. Mau kuliah di mana, di luar negeri atau di dalam negeri. Apa yang akan kita lakukan selanjutnya. Obrolan yang menyenangkan di masa itu.

Aku ingat senja-senja yang kita lalui bersama. Rasanya seperti baru kemarin sekaligus seperti sudah lama sekali. Apakah kita bisa merasakan hal seperti itu? Aku tidak tahu. Yang jelas, mengingatmu rasanya seperti itu. Seperti baru kemarin, tapi juga terasa seperti sudah lamaaa sekali.

Selamat ulang tahun. Ingatkah kamu dengan ucapan selamat yang dulu pernah aku ucapkan. Satu-satunya doa yang aku berikan untukmu? Hanya untukmu. Selalu untukmu.

“I wish you the best in life, not because you’ll surely find it, but because you deserve it.”

Bukan kalimat buatanku memang. Itu milik penyanyi favoritku. Dan kali ini, aku ingin memberi kalimat lengkapnya kepadamu.

“I still care about you. I think about you all the time. I’m praying for you constantly. I want so badly to know you’re being taken care of. I wish you the best in life, not because you’ll surely find it, but because you deserve it. You deserve so much.

I just wish you knew how much I miss you.”

Aku merindukanmu dan senja dengan rinai hujan yang pernah kita lalui bersama. Tetapi, hidup terus berjalan, meninggalkan kenangan-kenangan lama yang kemudian usang oleh usia. Selamat ulang tahun.

***

Aku menutup surel yang baru saja masuk. Dari kamu. Aku sempat berpikir, kau melupakan hari ulang tahunku. Aku salah, kau masih mengingatnya. Dan entah mengapa, itu malah membuatku terluka semakin dalam.

 

 

* Kalimat yang berhuruf miring dari Owl City, bisa dilihat di sini

** Akhirnya tokoh Serial November kita ketahuan juga, ya siapa namanya. Tadinya, aku ingin merahasiakan identitas tokoh ‘aku’ dan ‘kamu’, tapi ternyata susah juga, ya. Dan sepertinya lebih asik kalau mereka punya nama. Serial November lainnya bisa kamu baca di sini. Aku sengaja memilih tema ini juga karena wordpress-ku berulang tahun yang kedua di tanggal 12 November kemarin.

*** Terutama untuk yang berulang tahun di bulan November, sekali lagi, Selamat Ulang Tahun