The Journey Begin

journey begin

Ketika kau sangat berharap bertemu seseorang, tapi orang itu tidak muncul juga, apa yang akan kau lakukan? Aku menyerah.

Aku tidak tahu dia pergi ke mana. Aku tidak tahu harus mencari dia ke mana. Aku bertanya ke sana ke mari dan hasilnya selalu nihil. Hingga akhirnya, aku menyerah. Aku menyerah dan melupakan pencarianku yang sia-sia.

Bukan berarti aku melupakannya. Tidak, aku tidak melupakannya. Aku hanya melupakan keinginanku untuk bertemu dengannya lagi. Sampai hari itu. Hari di mana tiba-tiba aku merasa sangat ingin pergi ke London.

“Untuk apa?” tanya Mandy. Aku hanya tersenyum sambil membereskan tasku.

“Entahlah. Berjalan-jalan saja mungkin. Aku ingin melihat-lihat beberapa toko buku di sana,” ujarku asal. Mandy teman sekamarku di asrama Pembroke College. Kami mengambil jurusan yang sama, Linguistik. Aku berteman akrab dengannya dari awal kuliah, hingga sekarang memasuki tahun ketiga.

Aku berhenti di sebuah toko buku kecil di pinggiran jalan Charing Cross Road. Tertarik dengan tumpukan Famous Five cetakan pertama yang dipajang di samping kaca jendela. Kulangkahkan kakiku memasuki toko dan kulihat seorang lelakui kurus sedang menunduk merapikan belasan eksemplar buku.

Sungguh, aku tidak berpikir apa-apa, tidak mengkhayal macam-macam, tidak juga sedang berhalusinasi saat kulihat laki-laki itu berbalik badan dan berniat menyambutku, seperti yang mungkin selalu dilakukannya setiap pengunjung datang.

“Selamat datang…”

Apa yang kau lakukan ketika kau sudah menyerah untuk bertemu seseorang, lalu ia muncul begitu saja di depanmu? Aku tercengang.

Aku tercengang ketika kulihat dia berdiri di hadapanku. Dia, yang pergi tanpa pamit. Dia yang kucari selama bertahun-tahun. Dia, yang sangat aku rindukan.

“Trevor???”

Dia tampak sama kagetnya denganku. Sesaat, aku merasa waktu berhenti berdetak. Semua kenanganku bersamanya terputar ulang seperti film. Bercampur dengan masa-masa ketika aku mencarinya, kelelahan dan putus asa.

“Agashi…”

Dia jauh lebih kurus daripada yang pernah kuingat dari masa sekolah kami. Rambutnya masih pirang dan lurus, seperti Trevor yang kukenal dulu. Tapi kedua matanya terlihat begitu cekung, pipinya tirus, dan tangannya, yang terbalut kemeja berwarna biru kotak-kotak terlihat seperti ranting kayu yang rapuh.

Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku. Yang kutahu pandanganku memburam karena air mata, dan kurasakan tanganku diraih olehnya.

“Kita perlu bicara,” kata Trevor. Menarikku meninggalkan toko buku.

Kami berhenti di sebuah café kecil, tidak jauh dari toko buku. Trevor memesankan dua gelas cokelat panas untuk kami.

“Jadi…” kami berbicara bersamaan. Aku tersenyum dan memberi isyarat agar Trevor bercerita lebih dulu.

“Maafkan aku Agashi,” kata Trevor, lalu menunduk. Aku menunggunya berbicara sambil mengingat masa lalu.

Trevor kabur dari sekolah asrama dua bulan setelah kenaikan kelas 10. Aku tidak tahu apa yang ada di kepalanya saat itu. Yang jelas, baik pihak sekolah maupun kedua orangtuanya kelimpungan mencari Trevor. Sebagai satu-satunya orang yang akrab dengan Trevor, aku menjadi murid yang paling sering ditanyai. Mulai dari apa yang terjadi pada Trevor di hari-hari sebelum dia kabur hingga hal apa yang melandasi kepergiannya.

Ketika melihatnya tidak juga bicara, aku mulai bercerita.
“Semua orang mencarimu. Orangtuamu menangis. Mereka pikir, mereka melakukan kesalahan padamu. Semua orang bertanya padaku. Mengira kalau aku pasti tahu apa yang membuatmu kabur. Setelah setahun berlalu tanpa kejelasan, pencarian perlahan-lahan berhenti.”

Aku ingin mengatakan kalau aku masih terus mencarinya. Tapi, entahlah, aku tidak berani.

“Kamu ingat kan kalau aku anak angkat?” tanya Trevor. Aku mengangguk. “Saat liburan sekolah, diam-diam aku mencari tahu dari panti asuhan mana aku diambil, dan mengunjungi panti asuhan itu. Menanyakan bagaimana aku bisa sampai di sana.”

Trevor menghentikan ceritanya. Dia merogoh saku celana dan mengeluarkan dompet. Menarik selembar foto kumal dari dompet itu.
“Aku diberikan ini,” katanya, sambil menjulurkan foto itu padaku.

Foto itu menampilkan dua pasangan muda yang tersenyum bahagia. Sang istri berdiri bersebelahan dengan suaminya yang menggendong bayi mungil berambut pirang. Di belakangnya terdapat tulisan tangan yang tampak kabur, tapi masih bisa kubaca, Celine, Trevor, dan aku.

“Mereka bilang ayahku sakit keras ketika mengantarku ke panti asuhan. Tidak lama kemudian beliau meninggal.”

“Lalu?”

“Aku tidak tahu apa yang terjadi pada ibuku. Ayahku tidak cerita apa-apa tentangnya. Ia hanya meninggalkan foto ini dan sebuah alamat di London. Aku begitu gelisah karena itu. Aku berpikir alamat itu mungkin saja menunjukkan di mana ibuku berada. Jadi tanpa pikir panjang, aku kabur ke London.”

Trevor berhenti bercerita. Pandangan matanya menerawang.
“Aku tahu, waktu itu aku bodoh sekali Shi, pergi begitu saja. Tapi waktu itu aku terlalu marah dengan hidupku. Aku benci menjadi anak yang disisihkan. Seandainya aku hidup dengan orangtua kandungku, mungkin akan berbeda ceritanya. Itulah kenapa, aku bersikeras mencari ibuku.”

Aku ingin segera tahu, apakah Trevor menemukan ibunya. Tapi aku masih diam.

“Dia tidak ada di sini,” ujar Trevor, seakan tahu apa yang aku tanyakan.

“Di mana?” tanyaku penasaran.

“Tidak penting untukmu. Aku melanjutkan hidupku di sini. Maaf aku tidak pernah kembali lagi ke Westerdale. Walaupun kadang aku sangat rindu pada tempat itu, rindu pada orangtua angkatku, juga kamu.”

Aku melihat Trevor tersenyum tipis. Banyak pertanyaan berdesakan di kepalaku. Aku bingung memilih mana yang kukeluarkan terlebih dahulu.

“Apa kabarmu sekarang? Tinggal di London juga?” tanya Trevor.

Aku menggeleng, “sebenarnya aku tinggal di Cambridge, kuliah di Pembroke.Tapi entah kenapa, hari ini aku ingin sekali ke London. Aku tidak menyangka kita akan bertemu di sini.”

Lalu hening. Aku tidak tahu harus bicara apalagi. Padahal tadi rasanya banyak sekali yang ingin aku ungkapkan. Trevor juga diam. Tangannya sibuk mengaduk-aduk cokelat yang tinggal setengah.

“Agashi, apakah waktu itu kamu mencariku juga?” tanya Trevor dengan suara lirih.

Aku tertawa kecil, “Dasar bodoh! Tentu saja aku mencarimu!” seruku. Aku menatap Trevor, dan air mata yang tadi sempat mengambang, akhirnya jatuh juga.

“Aku terus mencarimu, bahkan ketika mereka berhenti mencari. Aku tidak tahu ke mana kau pergi dan kenapa. Seringkali aku mengira, aku lah yang berbuat salah, sehingga kau pergi.” Aku terisak ketika mengatakan itu. Teringat pada masa-masa yang kulalui penuh kecemasan dan kesedihan.

“Maafkan aku,” kata Trevor lagi. Aku menggeleng sambil mengusap mata.

“Tidak apa-apa. Aku senang kau baik-baik saja. Walaupun kau terlihat lebih kurus sekarang,” ujarku sambil tersenyum. Trevor juga tersenyum.

Seperti yang tadi kubilang, ada banyak hal yang ingin aku tanyakan dan ceritakan pada Trevor. Tapi aku memilih untuk tidak terburu-buru. Setidaknya, sekarang aku tahu di mana Trevor berada.

“Setelah ini, kau mau ke mana?” tanya Trevor.

“Aku tidak punya banyak rencana. Kenapa?” sahutku.

“Bagaimana kalau kutemani kau menikmati London?” usul Trevor.

Aku mengerenyit. “Bukannya kau…” aku melirik ke arah toko buku.

“Oh itu, biar aku lihat apakah ada penjaga lain. Mungkin hari ini aku akan izin,” ujarnya sambil tersenyum. Aku ikut tersenyum. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain bertemu dengan sahabatmu lagi, bukan?

Catatan:

Kisah Agashi adalah cerita yang kutulis sepanjang kelas 1 SMA. Bercerita tentang gadis bernama Agashi dan kehidupan sekolah asramanya di daerah Durham, Inggris. Trevor adalah salah satu teman Agashi di sekolah asrama yang terkenal sebagai murid pembangkang, mudah marah, dan tertutup. Meski begitu, Agashi dan Trevor berteman baik. Cerita Agashi sendiri berakhir di masa kelas 9.

Sudah lama, aku mengkhayalkan kisah lanjutannya, masa setelah Agashi lulus sekolah. Dan lebih ingin berfokus pada kehidupan Trevor, tapi tetap diceritakan dari sudut pandang Agashi. Hanya saja sampai sekarang masih gamang dan ragu dengan plot sementara yang ada di kepala.

Mudah-mudahan saja aku bisa merealisasikannya menjadi tulisan ya…

Matahari Tak Pernah Ingkar Janji (1)

Saat Wildan mengatakan kalau ia akan mengunjungi pamannya di Dieng, tanpa sadar aku memohon padanya agar diizinkan ikut.

“Za, kamu lagi sakit. Mending di rumah istirahat. Bukannya aku keberatan kalau kamu ikut, tapi kamu lagi sakit,” kata Wildan menolak permintaanku. Sekaligus mengingatkanku kalau aku mungkin tak mampu menempuh perjalanan jauh.

“Wil, mungkin dinginnya Dieng bisa mengobati penyakit ini. Please, izinin aku ikut ke sana,” pintaku. Wildan memandang wajahku yang memasang tampang memelas. Bukan hanya Tya, Wildan pun sepertinya tak pernah tega jika aku sudah memasang wajah seperti ini.

“Oke, kalau kamu tetap maksa. Aku berangkat empat hari lagi,” jawab Wildan akhirnya. Aku mengangguk sambil tersenyum.

Tya, aku akan pergi, seperti pintamu malam itu. Aku akan pergi Tya. Meski aku tak benar-benar menginginkannya. Tapi mungkin aku memang harus pergi, untuk membereskan hatiku yang carut marut karena perkataanmu. Mungkin memang sebaiknya aku mengasingkan diri ke tempat yang sunyi, agar aku bisa berpikir dengan jernih. Mungkin benar kata-katamu waktu itu. Aku gila. Aku gila karena terlalu menginginkanmu. Dan apakah yang menyebabkan semua kegilaan ini Tya? Tolong katakan padaku…

Aku memejamkan mata. Saat ini aku sudah berada di Dieng. Tepatnya di Gardu Pandang, tempat di mana kau bisa menyaksikan matahari terbit dari balik gunung dan bukit-bukit. Wildan yang membawaku ke sini. Katanya cuaca Dieng terlalu dingin untukku, dan mungkin matahari bisa membuatku berpikir lebih jernih, seperti yang kuharapkan.

Tapi matahari Tya, akan selalu mengingatkanku padamu. Kau tak terlalu suka bola panas itu bukan? Kau lebih suka hujan, atau mendung. Kau tak terlalu suka matahari karena teriknya sering membuat kepalamu pening. Tapi aku suka. Matahari adalah makhluk yang tak pernah ingkar janji. Dan aku ingin seperti dirinya.

Image1170

Tya, saat aku berdiri sendiri di sini, hal pertama yang muncul di kepalaku adalah senyummu. Lalu tawamu. Aku suka saat kau tertawa Tya, seolah dunia sengaja diciptakan untukmu dengan begitu indah dan sempurna.

Sayangnya, jarang sekali aku melihatnya. Kau lebih banyak terdiam, melamun, dan menyimpan sendu di matamu. Aku melihatnya Tya, dan ingin sekali menghancurkannya. Merobohkan dinding pembatas yang menghalangiku masuk ke dalam hatimu. Apa yang kau sembunyikan Tya? Mengapa kau selalu bersikap seolah tak peduli padaku? Padahal jelas sekali aku melihat binar di wajahmu saat aku datang dan menyapamu. Mengajakmu bicara dan berbicara hal-hal sepele dalam hidup yang terkadang terasa lucu.

Angin dingin berhembus kencang menerpa kulitku. Pagi di Dieng begitu dingin, sunyi, dan kelabu. Warna-warna hijau tumbuhan belum terlalu jelas terlihat. Jika menatap ke bawah, lampu-lampu rumah masih menyala, pertanda hari masihlah sangat gelap. Mataku terus menerus menatap gunung yang diselimuti kabut tipis. Yang lama kelamaan memudar digantikan semburat keemasan. Sebentar lagi matahari terbit Tya. Menunaikan janjinya.

Aku mengeluarkan secarik kertas dan sebuah pulpen yang sudah kusiapkan saat berangkat dari rumah. Aku akan menulis surat untukmu. Ditemani gunung, angin, dan matahari, aku ingin kau tahu, betapa sulit rasanya berada jauh darimu. Betapa dingin dan sepinya memendam kesedihan ini. Betapa ingin sekali kukatakan padamu Tya, berhentilah membohongi hati.

Tapi sepintas sinar mentari yang jatuh Tya, seolah ingin mengingatkanku, kalau mungkin saja selama ini aku yang membohongi hati. Terjebak dalam ilusi buatanku sendiri. yang berpikir kalau kau juga mencintaiku selama ini. Ini hal yang selalu memusingkanku Tya.

Dan inilah cara terakhir yang terlintas di kepalaku.

Setelah ini aku akan pergi Tya. Untuk kau cari. Atau untuk mati. Mungkin ini terdengar terlalu berlebihan. Tapi aku tak peduli. Aku akan meninggalkan jejakku di sini. Kalau kau merasakan apa yang kurasakan saat berdiri di sini, aku yakin kau akan bisa menemukanku. Cahaya matahari yang akan menuntunmu.

Catatan: Cerita ini adalah cuplikan dari ‘novel’ku yang berjudul Senja Vanilla.