Reina (part II)

baca cerita sebelumnya di sini

Hakim telah menungguku di dekat gerbang sekolah. Dari wajahnya, aku tahu dia merasa agak gugup. Aku menghampirinya dan menyapanya dengan santai.

“Hai! Udah siap dengan petualangan baru?” tanyaku.

Hakim mengangguk. “Kira-kira perjalanan ke Tanah Hijau berapa lama, Rei?”

“Hmm… sekitar sejam lah, kalau jalannya nyantai…” jawabku enteng.

“Kalau jalannya cepet?” tanya Hakim lagi.

“Yaa, sekitar sejam kurang sepuluh menit, hehehe…”
Hakim mendengus mendengar jawabanku.

“Tenang aja, kita nyantai aja, oke? Pokoknya, kalau udah sampe sana, terbayar deh semua capek di jalan!” ujarku meyakinkan. Hakim mengangguk lagi.

Perjalanan kami sore itu diwarnai dengan obrolan berbagai tema. Mulai dari pelajaran, pilihan jurusan, cita-cita, keluarga, hobi, dan tentu saja, buku-buku yang kami baca.

Ternyata Hakim anak bungsu dari tiga bersaudara. Memiliki kakak laki-laki dan perempuan. Dia ingin mengambil jurusan teknik saat kuliah nanti, tapi belum pasti mau teknik apa. Namun, kadang-kadang, dia tergoda untuk mengambil jurusan sastra.

Selain membaca, Hakim sering mengisi waktu luangnya dengan menulis. Dia suka menulis cerpen atau puisi dan mempublikasikan karyanya di internet. Kata Hakim, namanya blog. Hakim berjanji, suatu saat akan mengajariku membuat blog juga. Aku pikir, seru juga jika punya web pribadi, dan aku tidak sabar menunggu Hakim mengajariku.

Seperti yang sering kami bincangkan di perpus, buku-buku favorit Hakim adalah karya sastra Indonesia dari masa lalu. Ia menyukai tulisan-tulisan Taufiq Ismail dan beberapa karya Sutan Takdir Alisyahbana. Entah sudah berapa kali Hakim bercerita tentang Grotta Azzura dan memaksaku untuk membacanya suatu hari nanti.

Cerpen yang paling ia suka adalah Dilarang Mencintai Bunga-Bunga-nya Kuntowijoyo, dan sampai sekarang ia masih tidak bisa menangkap maksud cerita Kunang-Kunang di Manhattan yang terkenal itu. Aku bilang padanya, mungkin karena kita masih SMA, jadi belum bisa benar-benar menangkap makna karya sastra.

Hakim juga bercerita, sewaktu kecil ia sangat menyukai cerita-cerita petualangan, fantasi, dan dongeng. Dongeng favoritnya adalah dongeng-dongeng Enid Blyton dan Dunia Narnia C.S. Lewis. Hakim bilang, sejak kecil dia dan kedua kakaknya sudah dibiasakan suka membaca oleh ibunya, dan Hakim merasa beruntung karena itu.

Hakim juga membeberkan rahasianya kalau ia paling takut ketinggian. Waktu perpisahan SMP di Dufan, Hakim tidak pernah berani menaiki wahana-wahana yang memiliki ketinggian seperti Halilintar, Kora-Kora, Ontang-Anting, bahkan Bianglala yang terbilang aman saja Hakim tak mau.

Hakim bilang, suatu hari nanti ia ingin memiliki perpustakaan sendiri. Perpustakaan yang nyaman dan menyenangkan. Perpustakaan yang tak berdebu dan petugasnya tidak perlu mendesis-desis karena di sana ada ruangan yang diperbolehkan untuk ribut. Aku tanya apa alasannya, Hakim menjawab, agar orang-orang seperti aku jadi suka membaca dan betah di perpustakaan. Aku tertawa saja mendengarnya.

Aku senang berjalan dengan Hakim. Tidak pernah aku merasa segembira ini. Rasanya seperti segala sesuatu yang terjadi di hidupku terlihat masuk akal. Rasanya seperti aku baru menemukan alasan kenapa aku ada di dunia ini. Untuk lupa mengerjakan tugas Bu Ayu. Untuk bertemu Hakim di perpustakaan. Untuk tahu kalau jatuh cinta pada buku-buku adalah hal yang menyenangkan dan aku tidak keberatan sama sekali.

“Jadi Reina, berapa lama lagi kira-kira kita bakal sampai di Tanah Hijau?” tanya Hakim menghentikan lamunanku. Aku melihat peluh membasahi keningnya.

“Bentar lagi, tenang aja. Masa kalah sih sama cewek? Baru jalan segini udah ngos-ngosan,” ledekku.

Hakim mengelap kening dengan punggung tangannya. “Ya, nggak juga sih, cuma penasaran aja, kenapa kita nggak nyampe-nyampe.”

Matahari pukul tiga memang bukan yang paling terik, namun tetap saja membuat kami berkeringat. Baju seragam bagian belakangku basah, begitu juga dengan seragam Hakim. Aku menatapnya sambil tersenyum lalu berjalan mendahuluinya.

“Taraaaa!” seruku senang. Aku berhenti tepat di tepi Tanah Hijau. Hakim menyusul langkahku dengan tergopoh-gopoh. Lalu membalik badan dan melihat hamparan rumput hijau dengan wajah terpukau. Senyum mengembang di wajahnya yang kecoklatan.

“Ini tempatnya Rei? Bagus banget…” puji Hakim.

Aku menyengir lebar, dan secara refleks menarik tangannya untuk mulai menjejak Tanah Hijau. Hakim mengikutiku sambil terus memperhatikan sekelilingnya. Sesekali Hakim membetulkan letak kacamatanya, seperti masih belum percaya dengan penglihatannya.

“Tapi, kenapa tempat sebagus ini sepi, ya?” tanya Hakim.

“Iya, aku juga dari dulu heran. Kenapa nggak ada anak-anak yang main di sini. Paling ada beberapa, itu pun cuma di pinggir-pinggir aja. Malah aku pernah ketemu bapak-bapak yang negur aku. Katanya aku jangan sering-sering main ke tempat ini, bahaya. Terus aku bingung, apanya yang bahaya?” ceritaku panjang lebar. Hakim hanya manggut-manggut.

Kami terus berjalan melintasi padang terbuka. Hakim mengajakku mendekati rimbunan bunga liar yang berwarna putih dan kuning. Lalu duduk di sana dan memetik beberapa tangkai bunga.

“Kamu pernah buat mahkota bunga?” tanya Hakim.

Aku menggeleng, wajahku menatapnya dengan rasa penasaran.
Hakim tersenyum, lalu memetik beberapa tangkai bunga lagi.

Aku memperhatikan Hakim mulai menjalin satu per satu tangkai bunga. Ia terus menjalin tangkai bunga, hingga akhirnya lahirlah sebuah mahkota bunga dengan tangkai-tangkai bunga yang berkelindan dan kelopak-kelopak berwarna putih dan kuning menghias tepinya.

“Kamu belajar dari mana bikin itu?” tanyaku.

“Kakakku. Dulu kami suka bermain-main di padang rumput, dekat rumah nenek. Kakakku dan teman-teman perempuannya suka membuat mahkota bunga. Aku sering bermain bersama mereka dan diajarkan cara membuatnya,” jawab Hakim.

Hakim mendekatiku dan memasang mahkota bunga di kepalaku. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya saat tubuh Hakim hanya berjarak beberapa sentimeter dari tubuhku. Perutku tiba-tiba terasa mulas. Mulas yang aneh.

Mahkota itu agak sempit melingkari kepalaku. Namun masih tetap bisa terpasang dengan baik. Hakim perlu memperbaikinya beberapa kali sebelum akhirnya menjauh dari tubuhku dan melihat hasil karyanya terpasang di kepalaku.

“Cantik,” kata Hakim. Singkat dan sederhana. Aku tidak tahu pujian itu Hakim tujukan kepada siapa. Aku atau mahkota bunganya. Yang jelas, aku merasa begitu gugup saat Hakim menatapku dengan pandangan teduhnya.

Kami berdua terdiam sejenak. Aku, karena terlalu gugup dan tidak tahu harus berbuat atau berkata apa. Hakim, karena masih memandangi aku atau mahkota bunga di kepalaku. Akhirnya aku berdiri dan mulai berjalan-jalan lagi.

“Kamu pernah mengeliling Tanah Hijau ini sampai ujung sana?” tanya Hakim sambil menunjuk bagian paling ujung dari Tanah Hijau. Lebarnya mungkin sekitar 200 meter, dan aku tak pernah berminat sampai ke sana, karena malas berjalan kembali lagi.

“Belum, tapi kalau kamu mau ke sana, ayok aja,” kataku. Hakim setuju, dan akhirnya kami pun berjalan melintasi Tanah Hijau.

Angin berembus sepoi-sepoi. Aku melihat anak-anak rambut Hakim yang jatuh di dahi, bergerak-gerak karena tertiup angin. Aku tersenyum padanya. Dia membalas senyumku. Lalu aku merasa, ada kebahagian yang menjalar di seluruh tubuhku. Awalnya perlahan, lalu bergerak semakin cepat, semakin cepat, hingga rasanya seperti mau meledak.

Aku mengalihkan perasaan asing itu dengan melangkah cepat-cepat menuju tepian Tanah Hijau. Hakim mengikuti kecepatan langkahku. Lama-lama kami berlari. Berlari sambil saling melempar senyum. Rambutku yang dikuncir kuda bergoyang-goyang tanpa henti selama aku berlari.

Kami terus berlari hingga tepi. Lalu aku sadar mengapa seorang bapak mengatakan bermain-main di tanah ini berbahaya. Karena tepat di tepi Tanah Hijau adalah sebuah ngarai yang curam dan tinggi.

Aku melihat wajah Hakim pucat pasi.

“Rei! Ya ampun! Untung kita berhenti tepat waktu!” seru Hakim.

Aku mengangguk setuju sambil bersusah payah mengatur napasku yang masih tersengal-sengal setelah berlari tadi.

“Iya, nggak nyangka juga ya, ternyata pinggirannya adalah ngarai. Dalem banget lagi kayaknya,” sahutku.

“Langsung balik yuk, Rei! Serem!” seru Hakim.

Aku cepat-cepat menggeleng, “Nanti dulu ah, ini bagian serunya tahu. Aku belum pernah lihat ngarai secara langsung.”

Dengan hati-hati, aku berjalan mendekati tepian ngarai sambil berpikir, mengapa tidak ada satu pun penduduk yang memasang pagar di tepian ini.

“Jangan, nanti jatuh,” cegah Hakim sambil menarik lenganku.

“Ah, nggak apa-apa kok,” jawabku santai.

Aku melanjutkan langkah sambil melihat ke bawah. Ngarai ini tingginya mungkin sekitar sepuluh meter. Ada sungai kecil yang mengalir di dasarnya. Namun kebanyakan dihiasi dengan batu-batu besar, sebagian bahkan berujung runcing. Aku bergidik ngeri membayangkan kalau sampai ada orang yang terjatuh ke bawah.

Setelah berpikir seperti itu, kakiku keserimpet. Aku tergelincir di tepi ngarai dan tanganku memegang rumput erat. Berharap rumput itu mampu menahan tubuhku agar tidak jatuh sampai ke dasar. Kedua kakiku yang berjuntai, kuusahakan untuk tetap diam.

“Reina!” pekik Hakim kaget. Dia yang sudah lebih dulu berjalan, berbalik lagi karena aku tergelincir.

Hakim menarik napas dan mengulurkan tangannya padaku. Aku sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Aku takut, cemas, dan bingung. Tanganku mulai basah karena keringat yang membanjir, hingga menyulitkan Hakim menggenggam tanganku.

“Hakim…” kataku lirih. Aku tidak tahu mengapa aku memanggil namanya padahal aku tahu dia ada di depanku. Aku hanya merasa butuh mendengar suaraku sendiri.

Hakim memajukan tubuhnya agar bisa menarik tanganku lebih kuat. Tangan kananku masih berpegangan pada rumput yang mulai tercerabut beberapa, sedangkan tangan kiriku meraih lengan Hakim. Aku menyemangati diriku sendiri untuk bisa bangun. Tidak, aku tidak boleh mati konyol di sini. Tidak, di saat aku baru saja mengenal perasaan bahagia bersama Hakim.

Aku menarik lengan Hakim dan berusaha mengangkat tubuhku. Lengannya juga licin karena berkeringat. Namun aku terus mencoba naik dan akhirnya berhasil! Aku berhasil mengangkat tubuhku ke atas, dan tepat saat itulah, kaki Hakim terperosok.

Terperosok lalu terpental hingga seluruh tubuhnya jatuh dari tepi ngarai. Aku ternganga. Detik itu juga, aku merasa waktu berhenti berputar, jantungku berhenti berdetak, dan aku kehilangan indra pendengaran serta penglihatanku.

***

Aku tidak ingat apa-apa. Saat aku membuka mata, aku berada di sebuah kamar beraroma khas rumah sakit. Aku berusaha mengingat apa yang terjadi sebelumnya, dan mulai mengira-ngira apa yang membuatku terdampar di rumah sakit.

Ingatanku melayang pada perpustakaan, buku-buku, Hakim, Tanah Hijau, ngarai. Ngarai! Aku terlonjak dan langsung bangun, berdiri, dan keluar kamar.

“Hakim!!” teriakku. Seorang perawat yang melewati koridor kamarku langsung menghampiriku dan menuntunku masuk ke kamar.

“Hakim di mana? Hakim di mana?” jeritku panik. Tepat di saat yang sama, kedua orang tuaku muncul dan menghambur memelukku.

“Reina! Kamu baik-baik aja kan, Nak?” tanya ibuku dengan wajah khawatir sambil mengusap-usap punggungku.

“Hakim mana, Bu? Tadi Reina jalan sama Hakim. Terus Hakim… Hakim… Hakim jatuh…”

Aku melihat ayah dan ibuku saling pandang, lalu menatapku dengan wajah cemas.

“Reina… Hakim, teman kamu… tidak bisa diselamatkan,” kata ayahku pelan. Saat itu juga, aku berharap akulah yang jatuh ke dasar ngarai.

***

Aku tidak masuk sekolah selama dua minggu. Aku menghabiskan hari-hariku dengan mengurung diri di kamar dan menenggelamkan diriku bersama air mata. Buku-buku perpustakaan yang waktu itu aku pinjam terbengkalai begitu saja.

Ayah dan Ibu berulangkali menghiburku, namun aku tak bisa dihibur sama sekali. Tia bolak-balik mengunjungi rumahku, namum aku tidak mau berbicara sama sekali. Guru-guru datang menjengukku, namun aku hanya diam terpaku. Aku tidak mau bicara, tidak selera makan, tidak ingin hidup lagi. Aku ingin mati saja.

“Rei, sampai kapan lo mau terus begini? Lo nggak bisa terus-terusan mendem di kamar lo dan ngayal Hakim balik lagi,” kata Tia suatu hari.

Aku menunduk dan menyembunyikan wajahku di antara kedua lutut. Air mata berlelehan di pipiku. Masih terbayang dengan jelas saat Hakim tersenyum padaku, membuatkan mahkota bunga untukku, dan berkata cantik, yang entah ditujukan untuk aku atau mahkota bunga.

Seandainya aku menuruti apa kata Hakim waktu itu, agar tidak mendekati tepi ngarai, mungkin Hakim masih ada di sini. Seandainya aku tidak pernah mengajak Hakim ke Tanah Hijau, mungkin kami masih bisa membicarakan buku-buku lagi. Seandainya aku tak pernah menemukan Tanah Hijau, mungkin Hakim masih terus mengunjungi perpustakaan, dan duduk dengan aman dan nyaman di dalamnya.

Seandainya…

“Please Rei, lo nggak boleh kayak gini terus. Please, masuk sekolah lagi. Hidup gue hampa tanpa lo, Rei. Balik ke sekolah lagi, ya?” pinta Tia dengan wajah memelas. Dia menarik kedua ujung bibirku dengan ujung jarinya, memaksaku tersenyum.

“Apapun yang terjadi, Rei, jalan hidup lo masih panjang. Gue yakin Hakim nggak akan marah sama lo. Dia pasti maafin lo. Oke?” bujuk Tia lagi. Kali ini, dengan susah payah, aku menyunggingkan sebuah senyum. Aku tahu, setelah ini, hidupku tidak akan pernah sama lagi.

***

Istirahat siang ini, entah mengapa kakiku rindu berjalan ke perpustakaan lagi. Sejak kepergian Hakim, aku kembali membenci perpustakaan. Benci tapi rindu.

Aku bilang pada Tia, kalau aku ingin ke perpustakaan sebentar saja. Wajah Tia langsung cemas mendengar penuturanku. Dia bahkan berniat menemaniku ke sana. Namun aku menolaknya, dan mengatakan padanya kalau aku akan baik-baik saja.

Aku melangkahkan kakiku perlahan. Memori saat aku sering mengunjungi perpustakaan untuk bertemu Hakim kembali berkelebat. Sesaat, aku begitu berharap agar Hakim kembali di sini, sebentar saja. Aku hanya ingin melihat wajahnya, sekali saja.

Langkahku terhenti. Tepat di lorong menuju perpustakaan, aku melihat sosok murid laki-laki. Dia berkacamata dan tersenyum padaku.

Aku menatapnya lamat-lamat, dan melihat wajah Hakim di sana. Aku tersenyum. Tuhan telah mengabulkan harapanku. Aku menatapnya sekali lagi, lalu langsung berlari. Aku harus segera memberi tahu Tia.

“Tia!” panggilku. Dia belum jauh meninggalkanku. Tia menoleh dan menatapku.

“Apa?” katanya.

Aku tersenyum lebar, “Tahu nggak sih? Tadi gue lihat Hakim di depan perpus!” seruku riang.

Tia terpaku, lalu menghampiriku. Dengan lembut, dia merangkulku dan berkata, “Reina, Hakim udah pergi. Nggak mungkin ada di sini lagi.”

Aku terhenyak, “Tapi tadi gue lihat Hakim,” sanggahku dengan lirih.

Harusnya Hakim masih ada di sini, bukan? Laki-laki yang aku lihat tadi, itu Hakim sungguhan, kan?

Namun, tidak ada yang menjawab pertanyaan yang kugumamkan dalam hati itu.

Dan bangunkanlah aku dari mimpi-mimpiku
Sesak aku di sudut maya
Dan tersingkir dari dunia nyata

(Letto – Sebenarnya)

Advertisements

Reina (part I)

Bu Ayu memandangiku dengan tatapan tergalaknya sepanjang masa. Hatiku kebat-kebit.

“Reina, jadi kamu belum mengerjakan tugas esai dari saya?” tanya Bu Ayu yang berdiri tepat di depan mejaku.

Aku menatapnya dengan tatapan polos tak berdosa, berharap itu bisa mengurangi kesalahanku.

“Iya Bu, saya lupa…” jawabku jujur. Teman-teman sekelasku hening, tak ada yang bicara sama sekali. Sepertinya ikut berdebar-debar menanti vonis yang akan dijatuhkan Bu Ayu untukku.

Semua murid juga tahu, Bu Ayu adalah guru Bahasa Indonesia paling galak sedunia. Tak ada satu pun murid yang berani melupakan tugas-tugasnya. Kalau sampai lupa, tinggal menyiapkan jari jemari untuk kerja rodi, karena Bu Ayu akan memberikan tugas menulis yang jauh lebih panjang. Yang lebih parah adalah semua tugas itu harus ditulis tangan!

Ugh, aku mengernyit membayangkan seperti apa jenis hukuman yang akan aku terima.

“Reina,” panggil Bu Ayu lagi, “Sekarang silakan kamu ke perpustakaan, tulis esai paling sedikit enam halaman folio tentang sejarah kesusastraan Indonesia. Terserah kamu mau mengambil sub tema apa. Yang jelas, jumlahnya tidak kurang dari enam halaman. Dan jangan temui saya sebelum tugas itu selesai.”

Dengan selesainya titah tersebut, berarti resmi sudah aku terusir dari kelasku sendiri. Bu Ayu kembali ke mejanya dan bersiap mengajar. Aku menyiapkan alat tulisku dengan gerakan lamban dan muka masam. Tia yang duduk di sampingku hanya bisa memandangku dengan penuh iba. Aku tersenyum tipis kepadanya, seolah ingin meyakinkan kalau aku bisa menghadapi hukuman ini. Lalu dengan langkah gontai, aku pun berjalan ke perpustakaan.

Asal kalian tahu saja, aku tidak pernah suka perpustakaan. Aku tidak habis pikir kenapa sih di dunia ini harus ada perpustakaan? Ruangan sempit penuh buku dan berdebu. Di sana-sini rak dan rak, tidak boleh berisik, dan selalu ada kemungkinan untuk tertimpa timbunan buku yang menggunung. Aku tidak mengerti mengapa sampai sekarang orang-orang tidak menyadari perpustakaan menyimpan bahaya sebesar itu.

Sayangnya, walau bagaimanapun, aku tetap harus ke perpustakaan. Bu Ayu akan tahu kalau aku tidak mengerjakan hukumannya di tempat yang ia minta. Lagipula, di mana lagi aku harus mencari referensi esaiku selain di perpustakaan? Aku hanya bisa berharap aku cukup pintar mengerjakan esai itu dalam waktu singkat.

Di dalam perpus, aku terpaksa menahan napas beberapa kali, terutama jika berada di dekat rak koleksi buku-buku tua. Baunya itu lho, khas sekali, dan benar-benar jenis bau yang sangat aku benci. Bu Ayu memang paling tahu cara menghukum muridnya lahir dan batin.

Aku berusaha menemukan buku-buku yang berhubungan dengan kesusastraan Indonesia. Aku sampai memiringkan kepala demi membaca judul di punggung buku. Uh, aku tidak yakin hukuman ini akan berjalan dalam waktu singkat.

***

Dua jam pelajaran berlalu, dan aku baru selesai menulis empat halaman folio. Aku tidak tahu apakah aku sanggup menulis sampai halaman ke enam. Yang jelas, bel istirahat sudah berdering sejak tadi, dan itu amat sangat mengusik konsentrasi menulisku.

Aku masih khusyu menulis di atas meja membaca, saat kurasakan ada seseorang yang mengambil tempat duduk tepat di sebelahku. Mau tak mau aku mendongak, menemukan wajah berkacamata tersenyum manis kepadaku. Aku masih terlalu lelah, sekaligus kaget, sehingga aku hanya memperhatikan wajah itu tanpa mengucapkan apa-apa. Tidak juga balas tersenyum.

“Lagi ngerjain tugas?” tanya murid itu. Aku mengangguk.

“Bel istirahat udah bunyi, mungkin kamu mau keluar dulu,” katanya lagi.

Aku tidak tahu apakah ini maksudnya dia berbaik hati mengingatkanku untuk istirahat atau menginginkan aku pergi karena ini meja favoritnya? Aku tidak tahu sih, ini meja favoritnya apa bukan, namun dari penampilannya aku yakin dia termasuk golongan murid pencinta perpustakaan.

“Hmm, nanti aja, gue mau ngerjain tugasnya sampai selesai,” kataku lalu kembali menekuri lembar-lembar folioku.

“Oke,” katanya singkat. Lalu tidak terdengar lagi komentarnya.

Aku mengembuskan napas lega. Selain karena aku berhasil menulis hingga halaman lima, teman dudukku pun sepertinya tidak ada niat untuk mengganggu.

Aku menyemangati diri sendiri dalam hati sambil terus menulis baris-baris kalimat. Tulisanku makin lama, makin tak jelas. Yah, mirip-mirip dengan tulisan resep dokter lah. Iseng, aku menengok ke samping, teman dudukku masih asyik dengan bukunya.

“Kok nggak istirahat?” tanyaku heran. Aneh bukan, ada orang yang mau menghabiskan waktu istirahat yang singkat dengan duduk di perpustakaan?

“Ini lagi istirahat,” jawabnya yang makin membingungkanku.

“Maksud gue, istirahat ke kantin, atau ke mana gitu. Ke perpus sih bukan istirahat namanya,” ujarku dengan suara yang agak kencang dan langsung disambut desis peringatan dari Bu Ami, si petugas perpus.

Aku mendengus kesal, murid di sampingku malah tertawa.

“Saya lebih suka istirahat di sini,” katanya santai. Aku melihatnya sambil ternganga. “Kamu sendiri, sedang menulis apa?” tanyanya sambil melirik ke lembar-lembar folioku.

Aku menunduk, melihat dengan pasrah ke esaiku yang tak kunjung usai. “Oh, ini lagi ngerjain tugasnya Bu Ayu. Emang dasar kejam tuh guru! Masa gue disuruh nulis esai enam halaman folio. Gila apa?! Gempor kali tangan gue!” seruku berapi-api. Dan dapat ditebak, desisan itu muncul lagi, menambah kekesalanku. Dasar petugas perpus kembaran ular, kerjanya mendesis-desis terud.

Murid di sampingku tertawa lagi. Aku sedikit terpesona padanya saat memperhatikan dia tertawa. Bukan, bukan karena dia tampan atau apa. Aku hanya masih tak tahu cara tertawa pelan tanpa menimbulkan banyak suara.

“Bu Ayu kadang memang kejam. Tapi pengetahuan sastranya luas sekali. Seru banget kalau kamu diskusi dengan beliau tentang sastra atau buku-buku,” kata murid itu.

Aku terkekeh pahit, “Amit-amit. Hal kayak gitu nggak akan pernah terjadi dalam hidup gue.”

“Kenapa?” tanyanya.

Aku menoleh padanya, menatap matanya dengan sangat yakin, dan berkata, “Karena gue sama sekali nggak tertarik sama sastra atau buku atau perpus atau apapun yang berhubungan dengan itu semua.”

Dia tersenyum. “Kamu yakin?” tanyanya seolah menantangku. Aku mengangguk dengan mantap.

“Kamu suka baca buku apa?” tanyanya lagi.

“Gue nggak suka baca buku,” jawabku pasti.

“Oke, kalau gitu tunggu sebentar,” katanya lalu beranjak pergi ke barisan rak-rak buku. Mataku mengikuti gerakannya. Sebenarnya dalam hatiku, aku ingin sekali mengikutinya. Ingin tahu apa yang dia lakukan. Namun, aku teringat esaiku yang sejenak terbengkalai. Aku pun menulis lagi.

Tidak lama, mungkin sekitar lima menit, dia kembali duduk di sampingku. Ada dua buku yang dibawanya.

“Baca ini deh, saya yakin, cerita ini cocok sekali dengan kepribadian kamu,” katanya yakin. Aku menatapnya dengan pandangan mengejek. Wah, sok tahu sekali orang ini! pikirku dalam hati. Namun, baiklah, Reina adalah orang yang menyukai tantangan dan dengan senang hati akan menanggapi tantangan dari siapapun, tentang apapun.

“Oke, gue akan baca dua buku ini,” kataku menanggapi tantangannya. “Kalau gue udah selesai baca, terus apa?” tanyaku sambil melirik judul buku yang dibawanya. The Adventure of Tom Sawyer dan The Adventure of Huckleberry Finn.

“Kasih tahu saya kamu suka buku ini atau enggak…”

“Udah? Cuma itu?” tanyaku tak percaya.

“Kalau kamu suka, saya akan kasih tahu buku-buku menarik lainnya. Kalau enggak, ya saya doakan semoga kamu nggak lupa ngerjain tugas Bu Ayu lagi,” katanya lalu tersenyum.

Aku mengangguk. “Oke, deal! Gue terima tantangan ini! Kita ketemu lagi minggu depan!” usulku.

Dia mengangguk setuju. “Oya, ngomong-ngomong nama kamu siapa? Kelas berapa?” tanyanya sambil membetulkan letak kacamatanya yang merosot.

“Reina, kelas X2.”

“Hakim, XII IPA 1.”
________________________________________

Hari ini, tepat seminggu setelah Hakim menantangku membaca karya Mark Twain. Sebenarnya, aku kurang rela menyia-nyiakan waktu istirahatku yang amat berharga itu di perpustakaan. Tia saja sampai tidak percaya kalau aku mau ke perpustakaan, dan harus kuyakinkan seribu kali agar membiarkanku sendiri. Yah, janji tetaplah janji, dan aku harus menepatinya, kan?

Jadi, di sinilah aku sekarang, berjalan dengan langkah pelan-pelan menuju perpustakaan. Aku tidak yakin Hakim masih mengingat tantangan konyol ini, tapi aku harap ia tidak lupa. Kalaupun lupa, ya sudahlah. Aku cukup mengembalikan dua buku perpus itu dan bisa cepat-cepat kabur ke kantin.

Saat aku masuk, ternyata Hakim sudah duduk manis di tempat duduk favoritnya. Meja tempat kami bertemu kemarin. Sepertinya dia sudah menungguku dari tadi, karena baru saja aku muncul, dia sudah menemukanku dan menggerak-gerakkan tangannya. Mengajakku untuk segera mendekat.

Aku duduk di sampingnya. Dia menatapku.
“Gimana?” tanyanya. Aku melihat rasa penasaran tersirat dari balik kacamatanya.

“Seru,” kataku dengan berat hati. Siapa yang tahu kalau petualangan si Tom dan Huck Finn itu ternyata seru dan lumayan menegangkan.

“Seru aja?” tanyanya lagi.

“Seru-seru bandel! Gue lebih suka sama kisahnya Huck Finn sih ketimbang Tom Sawyer. Paling suka banget tuh, pas dia kabur dari ayahnya, terus berperahu gitu. Terus pura-pura jadi anak perempuan, hehehe…”

Dan tanpa aku sangka, aku terus bercerita, bercerita, dan bercerita. Tentang betapa lucunya kenakalan yang dilakukan Tom Sawyer, betapa menegangkan sekaligus romantis saat ia terperangkap di gua bersama Becky. Lalu Tom patah hati dan akhirnya kabur. Dan di sanalah ia bertemu dengan Huck Finn yang selanjutnya memiliki kisah petualangannya sendiri.

Aku tidak sadar kalau aku terus berbicara dan Hakim hanya mendengarkanku dengan saksama. Saat aku sadar, aku hanya bisa terdiam sambil menahan malu. Hakim tersenyum kepadaku.

“Jadi, baca buku itu seru, kan?” tanyanya.

Aku mengangguk. “Yah, nggak terlalu ngebosenin seperti yang selama ini gue bayangin sih.”

“Kamu cuma belum ketemu buku yang cocok untuk kamu,” kata Hakim.

“Sekarang, buku apa lagi yang seru untuk gue baca?” tanyaku menantang Hakim.

Hakim menatapku lalu berdiri, “Ayo!” serunya mengajakku berdiri juga.

Sepanjang istirahat itu, aku dan Hakim menelusuri rak demi rak untuk menemukan buku-buku yang akan aku baca. Hakim menawariku beberapa pilihan buku yang cukup menarik seperti Treasure Island, Gulliver di Negeri Liliput, Alice in Wonderland atau Robinson Crusoe. Aku sendiri malah lebih tertarik dengan Serial Lima Sekawan atau Pasukan Mau Tahu.

“Yah, itu juga seru sih. Aku suka baca Lima Sekawan waktu SD. Tapi pola ceritanya hampir sama. Kalau sudah membaca beberapa bukunya, kamu mungkin sudah bisa menebak kelanjutannya,” kata Hakim saat aku meminta pendapatnya tentang buku-buku Enid Blyton yang kupegang.

“Tapi,” lanjutnya lagi, “Menurutku, seseorang harus membaca tulisan Enid Blyton, minimal sekali dalam seumur hidup.”

“Kalau enggak?” tanyaku.

“Kalau enggak? Wah, dia bakal menyesal sekali karena nggak pernah melakukannya,” jawab Hakim lalu tertawa. Tawa pelan khas dirinya yang sampai kini masih membuatku iri.

Diam-diam, aku mulai memperhatikan Hakim. Jika sekilas melihat dirinya, Hakim tampak seperti golongan murid pendiam, kikuk, dan kutu buku. Tipe murid yang lebih suka belajar daripada bersosialisasi, tipe murid yang dicintai guru-guru dan dibenci teman-temannya. Namun, setelah mengenalnya, aku yakin Hakim bukan tipe murid yang seperti itu.

Hakim memang tidak banyak bicara, tapi ia tidak kikuk sama sekali. Hakim memang suka membaca buku, tapi ia juga bergaul dengan teman-temannya. Buktinya, beberapa kali kulihat, ia menyapa dan disapa teman-temannya sesama murid kelas dua belas. Tinggal satu hal yang membuatku masih digelitik rasa penasaran. Apakah ada lagi tempat favorit Hakim selain perpustakaan? Tapi aku tidak tahu waktu yang tepat untuk menanyakannya.
________________________________________

Hari demi hari berlalu. Buku-buku yang kupinjam dari perpustakaan semakin bervariasi. Aku semakin sering menghabiskan waktu istirahatku di perpus bersama Hakim, dan membiarkan sahabatku, Tia, istirahat dengan teman-temanku yang lain.

Seperti hari ini, aku dan Hakim sedang duduk di meja favorit kami, membahas petualangan Lima Sekawan yang paling seru.

“Aku paling suka dengan kisah Jo si Anak Gelandangan, atau Misteri Kereta Api Berhantu. Atau petualangan pertama mereka di Pulau Kirrin. Ah, itu seru banget!” kataku dengan volume suara yang sudah bisa aku atur. Aku bahkan tidak sadar kapan aku mulai ber- aku-kamu dengan Hakim.

“Iya ya, beruntung banget jadi George. Aku juga mau punya pulau sendiri. Seru kali ya, kalau kita punya suatu tempat rahasia, yang cuma kita aja yang tahu,” kata Hakim sambil menerawang.

Aku tersentak mendengar penuturannya. “Hakim! Aku punya!” seruku senang.

“Punya apa?” tanya Hakim bingung.

“Punya tempat rahasia. Yang cuma aku yang tahu. Oke, nggak terlalu rahasia sih. Maksudku, tempat itu mungkin diketahui penduduk sekitar. Tapi aku jamin, nggak ada murid sekolah ini yang tahu tempat itu kecuali aku!” seruku dengan semangat.

“Oh ya?? Di mana? Kita bisa ke sana?” tanya Hakim antusias.

“Kamu tahu jalan menanjak di belakang area sekolah ini? Jalan yang ke arah kampung gitu? Nah, kalau ditelusuri jalan itu, terus terus nanjak, di sana ada sebuah tempat lapang yang indaaaah banget. Aku menamainya Tanah Hijau. Karena rumputnya hijau dan banyak bunga-bunga liar tumbuh di sana. Pokoknya kayak di negeri dongeng!”

“Kita bisa ke sana, Rei?” tanya Hakim lagi. Matanya berbinar-binar. Aku mengangguk pasti.

“Pulang sekolah kita ke sana? Gimana?” usulku.

Hakim mengangguk. Wajahnya tidak bisa menyembunyikan gairah petualangan yang selama ini mungkin terpendam. Aku tersenyum menatapnya, membayangkan rencana brilian kami sepulang sekolah nanti. Ah, betapa aku tidak sabar menanti bel pulang sekolah tiba!
________________________________________

Akan kuceritakan sedikit tentang Tanah Hijau yang akan aku kunjungi bersama Hakim. Aku tak sengaja menemukan tempat itu sebenarnya. Pada suatu hari, aku sedang kesal dengan Tia, sahabat dekatku sejak SMP. Hari itu aku tidak mau pulang bersamanya. Jadi, aku malah kabur, berjalan terus ke belakang sekolahku, berharap dia tidak menemukanku. Entah mengapa, aku terus melanjutkan perjalananku.

Semakin ke atas, suasana perkampungan yang kutemui terlihat makin indah. Dan ketika hampir di puncak, aku menemukan tanah lapang itu. Begitu hijau, dengan rumput-rumput pendek yang tumbuh dengan rapi seolah permadani.

Di beberapa bagian, tumbuh bunga-bunga liar dengan kelopak berwarna putih dan kuning. Saat pertama kali ke sana, tidak ada orang sama sekali di Tanah Hijau. Setelah beberapa kali kembali lagi ke tempat itu, aku simpulkan memang tidak ada orang yang datang ke Tanah Hijau. Itulah yang membuatku merasa Tanah Hijau itu milikku. Milikku seorang.

Aku tidak pernah bercerita tentang Tanah Hijau kepada siapapun. Bahkan kepada Tia. Tanah Hijau adalah rahasiaku. Tanah Hijau adalah pelarianku. Hakim adalah orang pertama yang tahu tentang Tanah Hijau-ku, dan aku berharap, hanya dia saja orang lain yang tahu.
________________________________________

Setelah menunggu yang terasa seperti berabad-abad, akhirnya bel pulang sekolah berbunyi juga. Dengan serampangan, aku memasukkan buku dan alat tulis ke dalam tas ranselku. Tia mulai memperhatikanku dengan curiga.
“Mau ngapain Rei?” tanya Tia penuh selidik.

Aku menyengir, “Mau jalan,” jawabku singkat.

“Sama siapa?” tanya Tia lagi.

“Sama Hakim.”

“Hakim? Anak kelas dua belas yang kamu temuin di perpus itu? Kalian mau ke toko buku?” tebak Tia.

Aku hampir saja menyanggahnya. Namun setelah kupikir-pikir, lebih baik Tia mengira aku pergi ke toko buku dibanding aku harus membeberkan cerita tentang Tanah Hijau. Jadi aku memberi jawaban kepada Tia dengan mengangguk.

Tia menatapku tak percaya. “Reina… Reina… Sejak kapan sih lo berubah jadi nerd gitu? Oh iya, gue tahu. Pasti sejak lo PDKT sama Hakim deh! Ckckck…”

“Idiih! Siapa juga yang PDKT sih? Orang cuma mau jalan kok,” sahutku.

Tia tertawa kecil mendengar tanggapanku. “Iya, itu namanya PDKT, Reina! Ya udahlah, moga sukses ya sama Hakim. Pokoknya, lo janji harus cerita sama gue besok!” pinta Tia.

Aku hanya bisa menyengir lagi sambil mencatat dalam hati untuk mengarang cerita nanti malam tentang perjalanan sore ini.

(baca cerita selanjutnya di sini)