Kisah Gadis Red Velvet

Halo, perkenalkan. Aku adalah kedai sederhana yang terletak di pinggir jalan raya yang cukup ramai. Untuk alasan sentimental yang sangat rahasia, pemilikku memberiku nama “November Rain”. Sebuah nama yang unik dan kurang cocok disandang oleh kedai sepertiku.

weheartit.jpg

Aku menyediakan berbagai macam minuman dan makanan ringan. Segala jenis teh, kopi, dan minuman hangat lainnya bisa kautemukan di tempatku. Aku juga menyediakan kue-kue manis dan gurih yang cocok sebagai pengganjal perutmu.

Sayang sekali, aku tidak menyediakan makanan berat. Pemilikku menginginkan aku sebagai tempat berkumpul, bercengkrama, mengobrol, atau bahkan merenung. Menurutnya, makanan berat kurang cocok untuk semua kegiatan itu.

Aku buka dari pukul sepuluh pagi hingga pukul sepuluh malam. Namun, biasanya pengunjung baru ramai setelah jam makan siang. Ya, sekitar pukul dua ke atas. Kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa yang mampir untuk untuk mengudap makanan ringan sambil mengerjakan tugas kuliah. Menjelang sore, banyak juga karyawan-karyawan yang mampir ke sini. Sekadar melepas lelah dan penat sambil menyesap kopi.

Aku tidak tahu ini ada hubungannya atau tidak dengan namaku, tetapi tempatku selalu ramai ketika bulan November tiba. Di bulan November, meja-meja selalu penuh. Banyak pelanggan yang rela menunggu pelanggan lainnya selesai hanya untuk menikmati minuman atau makanan sederhana.

Di bulan November juga, aku sering mendapat pelanggan baru. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang terjebak oleh hujan dan tidak bisa ke mana-mana. Kemudian mereka memilih berteduh di tempatku dan merasa nyaman di dalamnya hingga lupa pulang. Esoknya, mereka kembali lagi, dan begitu seterusnya.

Salah satu pelanggan itu adalah seorang gadis yang datang sendirian dengan baju basah. Ia pasti habis kehujanan. Akan tetapi, tidak sedikit pun gadis itu merengut. Ia tersenyum lebar memandangi tubuhku yang menyajikan suasana hangat dan nyaman. Ia tersenyum lebih lebar saat menyadari ada sebuah meja kosong di sudut ruangan. Meja yang tepat berada di samping kaca yang menghadap keluar.

Sejak saat itu, hampir setiap hari ia mampir ke tempatku. Menghabiskan sore dengan secangkir teh hitam dan kue red velvet kesukaannya. Kisah kali ini adalah tentang gadis itu. Aku menjulukinya dengan sebutan Gadis Red Velvet.


 

cherry-red-velvet

Ia percaya hujan selalu memberi kenangan.

Sama seperti hujan-hujan sebelumnya, ia kembali menunggu. Bukan menunggu kekasih seperti yang biasanya orang-orang lakukan. Ia menunggu malaikat. Malaikat yang turun bersama hujan dan akan kembali lagi ke surga dengan membawa doanya.

Ia bersyukur, setelah sekian lama berpindah-pindah tempat demi menikmati hujan, kini ia telah menemukan tempat yang tetap. Sebuah kedai dengan jendela kaca besar di sudut ruangan, dan sepasang mata bening yang terpantul di kaca.

Butuh berbulan-bulan untuk meyakinkan kalau sepasang mata itu menatap wajahnya. Sepasang mata milik pemuda pendiam yang sibuk mondar-mandir di antara meja-meja pelanggan.

Baginya, keterdiaman pemuda itu terdengar seperti kalimat asing yang tak bisa ia terjemahkan. Menjadi misteri yang tak bisa ia pecahkan. Ia selalu menyimpan hasrat untuk dapat berbicara dengan pemuda itu. Akan tetapi, rasa malu dan canggung selalu menyapa dirinya sebelum ia berani membuka mulut. Ia hanya tersenyum setiap kali si pemuda menyerahkan pesanannya.

Kali ini, sambil menunggu pesanannya datang, ia mengamati sepasang muda-mudi yang berbicara dengan serius. Si lelaki tampak putus asa, tetapi tak dapat menyembunyikan binar cinta di matanya. Ia menatap perempuan di depannya dengan penuh harapan, sekaligus patah hati yang aneh.

Sementara itu, ia tak dapat melihat dengan jelas si perempuan karena posisi duduknya membelakanginya. Namun ia ingat, tadi si perempuan datang dengan mimik wajah yang aneh. Si perempuan tampak berusaha kuat-kuat menyembunyikan kebahagiaan dan kesedihan yang dia rasakan.

Gadis itu sebenarnya mengingat mereka. Kedua orang itu adalah pelanggan kedai November Rain juga. Sejak pertama kali gadis itu duduk di sana, kedua orang itu sudah ada. Mereka sering mengobrol lama, entah membicarakan apa. Sering si perempuan membawa buku dan menunjukkannya pada si lelaki. Sering juga si perempuan datang dengan wajah kuyu, lalu si lelaki tampak menghiburnya. Mereka pun pulang dengan wajah jauh lebih gembira.

Kemudian, si gadis red velvet itu tak pernah melihat mereka lagi. Mungkin mereka pindah ke kedai lain. Mereka mungkin saja pindah tempat tinggal. Si gadis red velvet tidak menyangka akan melihat kedua orang itu lagi. Si gadis red velvet mengira akan menemukan akhir yang bahagia. Ia begitu yakin dengan intuisinya.

Pemuda pelayan yang pendiam datang sambil membawa nampan berisi secangkir teh hitam dan sepiring red velvet yang menggoda.

“Kau lihat sepasang kekasih itu? Mereka tampak cocok, ya?”

Akhirnya gadis itu tak dapat menahan dirinya berbicara kepada si pemuda pelayan. Ia menunjuk dua orang yang sejak tadi dipandanginya.

“Dari mana kau tahu kalau mereka sepasang kekasih?” suara pemuda itu terdengar ragu. Si gadis memahami keraguan si pemuda.

Dengan mantap, ia pun menjawab, “Oh, aku tahu saja. Dari cara mereka memandang, dari cara mereka saling berbicara. Mereka saling menatap dengan cinta.”

“Aku ragu mereka sepasang kekasih, karena…,” sahut pemuda itu.

Kemudian si gadis melihat pemandangan yang mengecewakan hatinya. Kedua orang itu telah menyelesaikan obrolan mereka dan pergi keluar. Si perempuan ternyata dijemput seorang laki-laki, sedangkan si laki-laki pulang belakangan, seorang diri.

Si gadis mendesah, “Ah, sayang sekali. Seharusnya mereka saling memiliki dan mencintai. Kau harus percaya padaku karena aku melihatnya di mata mereka. Aku yakin sekali.”

Si gadis melihat pemuda itu tersenyum. Senyum yang manis sekali. Lebih manis dari red velvet yang pernah dicicipnya. “Mengapa kau bisa seyakin itu?”

“Entahlah,” jawabnya. “Aku hanya merasa memiliki intuisi yang kuat. Semacam keyakinan bahwa aku dapat menebak perasaan seseorang hanya dengan menatap mata mereka. Aku seringkali dapat menebak dengan benar siapa sedang mencintai siapa. Sayangnya, tidak ada satu pun yang tentang aku. Miris, kan?” kata gadis itu sambil tertawa.

Teman-temannya adalah bukti nyata bahwa intuisinya benar. Sebelum mereka bercerita kepadanya, ia selalu tahu siapa sedang menyukai siapa, siapa ingin mendekati siapa, siapa sedang jatuh cinta dengan siapa. Ah!

pinterest-rain

Ia seringkali menjadi tempat curahan hati bagi sahabat-sahabatnya. Tak peduli laki-laki atau perempuan, ia menjadi pilihan tepat untuk meminta pendapat bagi mereka yang sedang dimabuk cinta. Ia selalu senang setiap kali mengetahui teman-temannya berhasil mendekati bahkan mengungkapkan cinta pada orang yang mereka inginkan.

Namun, kadang ia dilanda rasa iri. Iri karena sampai kini ia tetap sendiri. Dan sama sekali tidak mampu menyadari siapa yang memiliki rasa terhadapnya.

“Mungkin tidak ada,” pikir si gadis red velvet. “Tidak akan pernah ada laki-laki yang jatuh cinta pada gadis aneh sepertiku.” Ia memang seringkali berpikir negatif tentang dirinya sendiri. Mungkin itulah yang membuatnya tak menyadari bahwa ada sepasang mata yang menatapnya dengan binar cinta.

“Hmm…, maaf, saya permisi dulu.”

Perkataan pemuda itu membuyarkan lamunannya. Ia tersenyum lalu mengangguk. Mempersilakan pemuda itu pergi sambil membawa nampan kosong.

Gadis red velvet itu kembali memandangi jendela kaca yang menghadap keluar. Di luar hujan, tentu saja. Ia melihat si perempuan yang tadi masih berdiri di samping laki-laki yang menjemputnya. Tatapan mata perempuan itu sendu. Si gadis red velvet yakin sekali, perempuan itu memiliki rasa sayang kepada laki-laki yang tadi semeja dengannya di kedai. Sebelum perempuan itu pergi, si gadis red velvet melihat perempuan itu terus memandangi punggung si laki-laki yang berjalan semakin menjauh.

“Seharusnya mereka bersama,” pikir gadis red velvet. “Aku yakin mereka saling mencintai.”

Dia terdiam cukup lama sampai akhirnya ia tersadar akan sesuatu. Setelah meneguk habis tehnya, ia mengeluarkan buku catatan dan mulai menulis.

“Setidaknya aku bisa membuat mereka hidup bersama dan saling mencintai di cerita ini,” ujarnya sambil menggores tinta di atas kertas.

Si gadis red velvet mulai menulis dan terus menulis hingga tangannya pegal. Saat ia sadar, suasana di luar sudah begitu gelap. Ia melirik jam tangannya.

“Sedikit lagi,” gumamnya kepada diri sendiri.

“Ehem, maaf mengganggumu. Tetapi tehmu sudah habis. Boleh kuisi lagi?”

Gadis itu mendongak kaget. Si pemuda pelayan berdiri di hadapannya sambil membawa teko dan sepiring kue red velvet.

“Oh, aku…sangat senang kau datang. Ya, tehku boleh diisi lagi,” ujar gadis itu agak gugup. Ia tak menyangka si pemuda akan datang lagi.

“Kau sedang menulis?” tanya si pemuda sambil menuang isi teh.

black-tea

Gadis itu mengangguk. “Ya, aku sedang menulis kisah cinta. Kisah cinta yang berakhir bahagia tentu saja. Aku tidak suka akhir yang sedih.”

“Ehm, maukah kau menulis kisah tentang seorang pemuda biasa-biasa saja yang diam-diam menicntai seorang gadis yang selalu duduk di pinggir jendela. Gadis itu… ia suka sekali menatap hujan.”

Si gadis red velvet terpaku mendengar ujaran pemuda itu. Pemuda itu diam tertunduk. Akan tetapi, dengan malu-malu ia memberanikan diri menatap mata si gadis red velvet dengan lembut namun penuh harapan.

“Tadi katamu, kau bisa mengetahui perasaan seseorang hanya dengan melihat matanya. Iya, kan?” tanya pemuda itu lalu kembali menunduk dan berbalik pergi.

Meninggalkan si gadis red velvet yang masih terperangah karena mendengar pertanyaan si pemuda. Gadis itu tak bisa berkata apa-apa. Otaknya, entah mengapa kali ini tidak begitu baik bekerja. Ia kebingungan mencerna kata-kata si pemuda.

Gadis red velvet itu meletakkan pulpen yang sejak tadi digenggamnya. Ia mengembuskan napas. Kemudian, menyesap pelan-pelan teh hitam yang masih mengepul hangat.

Gadis red velvet mulai bertanya-tanya, jadi, kisah siapa yang seharusnya ia tulis?

Begitulah ceritaku, Kawan. Sebagai kedai yang ramai dikunjungi saat musim hujan, aku melihat banyak kisah cinta terjadi di dalam tubuhku. Cinta yang terucapkan dan yang tak terungkapkan. Cinta yang disimpan diam-diam dan cinta yang ditunjukkan seterang siang.

Kalau kau merasa kesepian atau sekadar ingin menikmati hujan, bolehlah datang ke tempatku kapan-kapan. Aku yakin di sini kau akan menemukan banyak cerita dan inspirasi. Salam hujan.

Sore hujan, 16 November 2017


 

P.S.: Alhamdulillah, akhirnya sampai juga pada cerita terakhir Serial November. Insya Allah, ini benar-benar yang terakhir 🙂 Saya sengaja menulisnya dari sudut pandang si kedai itu sendiri yang cukup sering menjadi tempat pertemuan dua tokoh utama kita. Mudah-mudahan kalian suka dengan kisah si gadis red velvet.

Advertisements

Kau Harus Membuat Cerita Baru, Sayangku

todd-diemer-110882.jpg

“Kau harus membuat cerita baru,” katamu senja ini.

“Untuk apa?” tanyaku.

Kau terdiam sejenak. “Kau harus membuat cerita baru yang tanpa aku di dalamnya,” katamu lagi. Tidak menjawab pertanyaanku sama sekali.

“Aku tidak tahu…,” ujarku menggantung. Sesungguhnya yang ingin kukatakan adalah aku tidak tahu bagaimana caranya membuat cerita baru tanpamu sedangkan segala sesuatu yang aku lakukan tidak mampu membuatku melepaskan bayanganmu.

“Apa aku terlihat menyedihkan?” malah itu yang kutanyakan. Aku juga tidak tahu mengapa aku menanyakan hal bodoh seperti itu yang membuatku semakin terlihat menyedihkan.

Kamu menggeleng pelan, “Bukan begitu…. Aku hanya…. Aku hanya…ingin kau bahagia. Aku ingin kau…jatuh cinta, menikah, punya anak…. Semacam itulah….”

Aku tersenyum singkat, “Maksudmu, sekarang aku tidak tampak bahagia?”

Kamu menggeleng lagi, “Aku…aku…hanya tidak ingin kau sendirian….”

Kali ini aku tertawa. Tertawa miris kurasa. Aku tidak percaya mendengar kalimat itu dari mulutmu. Kalau kau tak ingin aku sendirian, mengapa kau malah memilih laki-laki lain dan bukan aku? Kalau kau ingin aku bahagia, mengapa kau malah menerima pinangan dari orang lain dan bukan menungguku?

Oh, iya, aku ingat, ini semua salahku. Salahku yang tidak mengatakan padamu bahwa kebahagiaanku adalah dirimu. Salahku yang tidak mengatakan padamu bahwa yang telah membuatku jatuh cinta adalah dirimu. Salahku yang tidak mengatakan padamu bahwa aku ingin menikah dan memiliki anak denganmu. Sekarang sudah terlambat dan itu semua salahku.

“Aku baik-baik saja sendirian. Kau lihat sendiri, kan?” kataku akhirnya.

“Kau tidak seperti yang kuingat dulu…,” katamu.

“Aku tak percaya kau masih mengingatku…,” kataku.

“Jangan bodoh, kaupikir aku…,” kata-katamu terputus.

Ada hening beberapa saat. Aku menunggumu mengucapkan kalimat selanjutnya. “Aku tidak mungkin melupakanmu. Kau temanku. Teman tidak mungkin melupakan temannya,” ujarmu akhirnya.

Aku menunduk, menyesap kembali kopi pesananku yang sudah mulai dingin. “Jadi, apa yang membuatmu ingin bertemu denganku?”

Akhirnya kutanyakan hal itu padamu. Sungguh, aku kaget saat menerima surel darimu. Memintaku untuk bertemu denganmu di kedai favorit kita. November Rain. Jujur saja, aku tidak tahu apa yang kurasakan saat itu. Semuanya campur aduk, aku merasa was-was, cemas, senang, gugup, penasaran, putus asa. Entahlah….

“Aku ingin memberimu ini,” katamu sambil mengulurkan sebuah buku. Aku mengernyit bingung.

“Untukku?” tanyaku.

Kamu mengangguk. “Iya, ini novel favoritku. Berkisah tentang cinta sejati, bintang-bintang, galaksi, dan alam semesta. Aku ingin kau membaca dan memilikinya.”

“Tapi… kenapa?” tanyaku heran.

“Tidak ada alasan khusus. Aku hanya ingin kau membaca dan memilikinya. Sudah itu saja. Ehm, maksudku, aku juga ingin kau bahagia.”

Aku melihat judul buku yang kauberikan. Sampulnya bergambar seorang perempuan menatap bulan purnama. Kemudian saat aku membuka, ternyata di balik sampulnya, masih ada satu sampul lagi yang bergambar seorang lelaki sedang menatap purnama yang sama.

“Bacalah,” katamu, “dan buatlah cerita baru tanpa aku….”

Aku tercenung. “Riri…. Aku…merindukanmu, kurasa,” kataku akhirnya.

Ya Tuhan, aku sungguh tidak sanggup lagi menahan semua ini. Aku merindukanmu. Amat sangat merindukanmu. Dulu, beberapa tahun yang lalu, hampir setiap hari kita bertemu. Kau mengoceh macam-macam tentang buku yang kaubaca, film yang kautonton, lagu yang kausukai, dan tempat-tempat yang ingin kaukunjungi. Kau ceritakan padaku tentang laki-laki yang berulang kali membuatmu menangis dan patah hati. Kau bilang padaku kalau kau ingin pergi ke Kota Cahaya berdua denganku.

Kau lambungkan harapanku, kau tinggikan angan-anganku, lalu pada suatu hari kau hancurkan semuanya dengan sebuah pesan singkat yang mengatakan bahwa kau akan menikah dan foto undangan pernikahanmu. Sekarang, saat aku menikmati betul indahnya kesendirian dan patah hati, kau datang dan memintaku untuk membuat cerita baru tanpamu. Bagaimana mungkin aku bisa melakukannya?

“Ta, ada banyak hal yang tak pernah kita duga dalam hidup ini. Kadang semuanya terjadi dengan begitu cepat tanpa bisa kita cegah sebelumnya. Aku… aku juga merindukanmu. Tetapi sekarang….” kata-katamu terputus. Wajahmu tampak mendung seperti cuaca sore ini. Kau menghabiskan cangkir kedua tehmu.

Sekarang cerita kita berdua sudah selesai. Itulah mengapa kau memintaku membuat cerita baru. Padahal sesungguhnya aku sedang membuat cerita baru. Cerita tentang aku dan kesendirianku, tanpa orang lain lagi di dalamnya. Jika maksudmu membuat cerita baru adalah menghadirkan orang baru untuk menggantikanmu, maaf, aku belum mampu. Aku masih ingin bercengkerama dengan bayang-bayangmu.

“Riri…,” betapa janggal menyebut namamu secara langsung di depanmu, setelah sekian lama tidak pernah kulakukan.

Kau tampak menungguku mengucapkan sesuatu. Akan tetapi, aku juga tidak tahu apa lagi yang harus kuucapkan. Bukankah apa pun yang aku ucapkan tidak akan mengubah apa-apa lagi di antara kita berdua?

“Ta, sepertinya aku harus pulang sekarang.”

Aku mengangguk mengiyakan. Ya, kau harus pulang. Ada seseorang yang menunggumu di rumah.

“Baca dan jaga buku ini baik-baik. Buku ini pernah dan akan selalu menjadi kesayanganku. Dan aku tidak akan memberikannya kecuali kepada orang yang aku percaya,” katamu sambil mengelus bukumu seolah itu yang terakhir kali.

“Terima kasih,” kataku singkat.

Di luar, terdengar suara hujan yang turun dengan deras. “Sebentar lagi bulan November, sudah masuk musim hujan,” katamu sambil tersenyum ke arahku. Senyum yang tak akan pernah kulupakan. Senyum yang tadinya kupikir hanya untukku.

“Iya,” kataku, “Aku selalu suka bulan November.”

Kau tidak membalasnya. Kau sibuk mengeluarkan payung lipat dari dalam ranselmu. Payung warna biru motif kotak-kotak.

“Sudah bertahun-tahun dan payungmu masih yang itu?” tanyaku takjub.

Kamu tersenyum, “Seandainya payung ini rusak, aku akan mencari motif yang sama sebagai penggantinya. Kau tahu, aku tidak mudah mengganti sesuatu dengan yang baru.”

“Begitu juga aku,” sahutku.

“Tetapi kali ini, kau benar-benar harus membuat cerita baru, Sayangku…” katamu sambil berjalan keluar kedai. Di sana aku melihat sesosok laki-laki telah menunggumu. Kamu tersenyum menyambutnya. Senyum yang kupikir hanya untukku. Mungkin memang benar, aku harus membuat cerita baru tanpamu.

Sore mendung, 29 September 2017

***

It’s been so long since I wrote flash fiction from the last time. Cerita ini masih bagian dari Serial November yang pernah kutulis sebelumnya.

Selamat Ulang Tahun

rain-2

Dari: Sabrina Putri <sabrina.92@gmail.com>
kepada: Rangga Pratama <rakyatjelata@gmail.com>
tanggal: 15 November 2016 23.10
perihal: Selamat Ulang Tahun

Dear Ta,

Selamat ulang tahun. Maaf aku telat mengucapkannya tepat di hari ulang tahunmu. Kau tahu, kan, kau lahir di musim penghujan.

Aku kehujanan hari itu. Hujan turun dengan derasnya di sore hari. Padahal aku sudah memikirkan sebuah surat untukmu. Sebuah surat tentang kita.

Dulu, aku suka musim hujan. Entah mengapa, hujan memberi efek sendu tersendiri kepadaku. Lalu kau datang. Kita berjalan beriringan di tengah gerimis itu. Aku tidak tahu apakah kau masih mengingatnya. Yang pasti, aku masih mengingatnya sejelas aku mengingat hujan dan matahari.

Aku ingat apa yang kita bicarakan sore itu, di tengah rinai hujan senja hari. Kita berbicara tentang masa depan. Mau kuliah di mana, di luar negeri atau di dalam negeri. Apa yang akan kita lakukan selanjutnya. Obrolan yang menyenangkan di masa itu.

Aku ingat senja-senja yang kita lalui bersama. Rasanya seperti baru kemarin sekaligus seperti sudah lama sekali. Apakah kita bisa merasakan hal seperti itu? Aku tidak tahu. Yang jelas, mengingatmu rasanya seperti itu. Seperti baru kemarin, tapi juga terasa seperti sudah lamaaa sekali.

Selamat ulang tahun. Ingatkah kamu dengan ucapan selamat yang dulu pernah aku ucapkan. Satu-satunya doa yang aku berikan untukmu? Hanya untukmu. Selalu untukmu.

“I wish you the best in life, not because you’ll surely find it, but because you deserve it.”

Bukan kalimat buatanku memang. Itu milik penyanyi favoritku. Dan kali ini, aku ingin memberi kalimat lengkapnya kepadamu.

“I still care about you. I think about you all the time. I’m praying for you constantly. I want so badly to know you’re being taken care of. I wish you the best in life, not because you’ll surely find it, but because you deserve it. You deserve so much.

I just wish you knew how much I miss you.”

Aku merindukanmu dan senja dengan rinai hujan yang pernah kita lalui bersama. Tetapi, hidup terus berjalan, meninggalkan kenangan-kenangan lama yang kemudian usang oleh usia. Selamat ulang tahun.

***

Aku menutup surel yang baru saja masuk. Dari kamu. Aku sempat berpikir, kau melupakan hari ulang tahunku. Aku salah, kau masih mengingatnya. Dan entah mengapa, itu malah membuatku terluka semakin dalam.

 

 

* Kalimat yang berhuruf miring dari Owl City, bisa dilihat di sini

** Akhirnya tokoh Serial November kita ketahuan juga, ya siapa namanya. Tadinya, aku ingin merahasiakan identitas tokoh ‘aku’ dan ‘kamu’, tapi ternyata susah juga, ya. Dan sepertinya lebih asik kalau mereka punya nama. Serial November lainnya bisa kamu baca di sini. Aku sengaja memilih tema ini juga karena wordpress-ku berulang tahun yang kedua di tanggal 12 November kemarin.

*** Terutama untuk yang berulang tahun di bulan November, sekali lagi, Selamat Ulang Tahun

Tea, Coffee, and Paris

tea meringue

Aku baru saja membuka mata saat kurasakan handphone di sebelahku bergetar. Aku ingin seperti Ezra. Dari kamu. Aku melirik jam dinding. Masih setengah enam pagi dan ini hari Minggu. Aku menyibak selimut sambil membaca pesanmu sekali lagi. Ezra? Lelaki mana lagi itu?

Buka emailmu ya, aku kirim sesuatu. Handphoneku bergetar sekali lagi dan segera kubuka emailku. Ternyata kau mengirim sebuah cerita. Masih mengantuk, kupaksakan mataku membaca kalimat-kalimat yang tertera di sana. Reminiscence – Ezra by Prisca Primasari. Walau otakku masih belum tersambung dengan semua ini, aku mulai membaca cerita yang kamu kirimkan.

Lalu, perlahan, otakku mulai mengingat lagi. Paris, Prisca Primasari. Kau pernah bercerita tentang novel itu, yang ditulis oleh penulis favoritmu. Dan karena ceritamu itulah, aku jadi ikut membacanya. Meminjam buku milikmu, tentu saja.

Semakin aku membaca, semakin pikiranku mulai menemukan titik terang. Aku ingat jalan ceritanya. Tentang seorang gadis bernama Aline yang bertemu dengan seorang laki-laki bernama Sena. Dan Ezra? Dia tetangga apartemen Aline, yang diam-diam menyukai gadis itu. Lalu, kenapa tiba-tiba kamu ingin menjadi Ezra?

Aku baru tahu jawabannya saat membaca baris kalimat yang kamu tandai.

“Dia selalu bahagia untuk Aline dan Sena, dan seperti yang sudah dia katakan pada Sena tempo hari—saat Sena menyusul Aline di Charles de Gaulle*—hatinya masih utuh. Tidak patah, apalagi retak. Meskipun kehilangan Aline, dia tidak kehilangan harapan untuk mencintai lagi. Dia yakin, suatu saat nanti, akan ada orang yang dia cintai dan mencintainya dengan sama tulusnya.”

Hatinya masih utuh. Tidak patah, apalagi retak. Kamu juga menggarisbawahi kalimat itu, seolah ingin memastikan kalau aku menangkap maksudmu. Ya, aku paham.
Bacaanku belum selesai, tapi aku langsung membalas pesanmu.

Aku sudah agak lupa ceritanya. Bisa pinjam bukumu lagi?

Tanpa menunggu lama, kamu pun membalas, Oke, aku tunggu di taman setengah jam lagi, dan aku pun langsung berdiri.

Kamu menemuiku dengan celana training, kaos lengan panjang, dan sepatu keds berwarna putih pink. Wajahmu tampak ceria saat berlari menghampiriku yang tampil sangat tidak sporty pagi ini. Celana jeans dan kemeja biru bekas kemarin sore.

“Kamu udah baca ceritanya?” tanyamu.

Aku tersenyum, “Belum semua, baru sampai bagian yang kamu tandai.”

Kamu mengangguk, terlihat senang. “Aku baca itu di tumblr-nya Mbak Prisca tadi malam. Terus, aku pengen kamu juga baca, hehehe. Nggak apa-apa kan?”

Aku tertawa. Sudah biasa dengan keanehanmu.

“Oya, ini bukunya,” katamu sambil mengulurkan buku yang aku pinta. Sebuah novel berwarna hijau pucat, dengan kata Paris berwarna merah tertera besar di tengahnya. Novelnya tidak terlalu tebal. Tidak butuh waktu lama untuk membacanya sampai selesai.

Kamu duduk di sebelahku sambil memandang sekitar. Aku malah asyik sendiri menekuri halaman yang secara acak kubuka. Sampai-sampai aku tidak sadar kalau aku keterusan membaca.

“Hei! Mau langsung baca di sini?” katamu menegurku. Wajahmu masih ceria seperti tadi, tidak terlihat keberatan.

Aku hanya menyeringai, lalu menutup buku itu.”Kamu lebih cocok jadi Aline,” kataku. Sedangkan aku jadi Ezra, dan dia jadi Sena, lanjutku dalam hati.

“Oh ya? Terus dia jadi siapa? Ubur-ubur?” tanyamu.

Aku mengerut, “Ubur-ubur?” ulangku.

“Iya, cowok pertama yang disukai Aline. Yah, aku pikir dia lebih pantas jadi Ubur-ubur sih ketimbang Sena. Walaupun aku nggak terlalu suka Sena, tapi aku pikir Sena terlalu keren untuk disamakan dengan dia.”

Aku tertawa kecil mendengar perkataanmu. Aku tetap jadi Ezra, kan?
Hening. Aku memandangmu yang sedang menatap langit mendung di atas sana. Pasti ada sesuatu, pikirku.

“Aku tahu siapa orang yang dia sukai,” katamu tiba-tiba.

“Tahu dari mana?” tanyaku.

“Hanya menebak, berdasarkan ceritanya, dan feelingku. Kamu tahu kan, feelingku sering benar. Dan aku yakin, kali ini feelingku pasti benar. Pasti gadis itu.”

Aku tidak mau tahu siapa gadis itu. Yang aku ingin tahu, bagaimana kamu sampai bisa menebaknya. “Dia bilang ke kamu?” tanyaku penasaran.

“Iya, nggak secara gamblang sih. Tapi aku yakin aja. Dan, yah, aku bisa apa? Aku cuma berharap bisa seperti Ezra. Yang bisa mencintai lagi.”

Aku hanya mengangguk. Sambil berharap kalau orang yang kamu cintai adalah aku.

“Kamu masih ingin ke Paris?” tanyaku mengalihkan perhatian. Aku tidak mau kamu terus-terusan mengingat dia.

“Iyalah!” katamu dengan yakin. “Kamu tahu nggak, kalau nanti aku ke Paris, tempat pertama yang aku kunjungi bukan Eiffel, tapi Shakespeare and Co.”

“Kenapa?” tanyaku, sambil berpikir keras Shakespeare and Co itu apa.

“Hmm… karena di sana tempat pertama Jesse dan Celine bertemu, setelah sembilan tahun berpisah,” jawabmu, yang bukannya menerangkan Shakespeare and Co itu apa, malah menambah kebingunganku dengan dua nama baru. Jesse dan Celine. Siapa mereka?

“Jesse dan Celine?” ulangku, sok memastikan. Padahal aku sama sekali lupa mereka siapa. Aku melihat kamu tersenyum geli ke arahku.

“Before Sunset. Inget nggak?”

Oh, film itu. Wajah samar Ethan Hawke dan Julie Delpy mulai muncul di benakku. Lalu aku pun teringat adegan saat kamu menyuruhku menonton Before Trilogy, film favoritmu. Film itu agak aneh menurutku, karena isinya obrolan semua, antara Jesse dan Celine. Tapi kamu suka, dan aku dengan senang hati mempelajari apapun yang kamu suka.

“Aku suka banget waktu mereka ketemu lagi di toko buku itu. Setelah sekian lama. sembilan tahun, coba bayangin!” katamu dengan nada bersemangat.

Mendengar itu, seolah lampu bohlam di atas kepalaku menyala terang benderang. Shakespeare and Co itu toko buku! Tapi perlahan meredup kembali, saat aku sadar sesuatu. Jesse dan Celine bertemu lagi di sana setelah sembilan tahun berpisah. Apakah kamu berharap kamu dan dia seperti mereka? Ini sudah tahun kedelapanmu kan? Berarti tinggal setahun lagi…

“Inget Midnight in Paris nggak? Owen Wilson dan Marion Cotillard. Di film itu juga ada Shakespeare and Co,” katamu lagi, seolah tak menghiraukan kerisaukanku.

Otakku kembali berputar lagi, mengingat-ingat judul film yang kamu sebutkan. Ah ya, satu lagi film aneh yang kamu suka. Tentang laki-laki yang kembali ke masa lalu, di tengah malam, di Paris. Di sana dia bertemu dengan para penulis terkenal, yang bahkan aku tidak ingat siapa saja nama mereka.

“Di film itu, Owen Wilson putus sama tunangannya, Rachel McAdams, gara-gara kegilaannya, yang bilang kalau dia ketemu penulis yang udah pada almarhum. Ditambah lagi, kesukaannya dengan Paris saat hujan. Sedangkan Rachel lebih suka hari-hari cerah di Malibu. Inget kan akhirnya? Wilson bertemu dengan seorang gadis yang juga sama-sama mencintai Paris saat hujan. Aku juga berharap akan seperti itu nantinya. Bertemu dengan seseorang, yang menyukai hal yang sama sepertiku.”

Buku, menulis cerita, film dan lagu romantis, segala sesuatu yang bersifat seni. Segala sesuatu yang sama sekali bukan aku. Aku menunduk, menyadari kalau tidak ada lagi harapan perasaanmu kembali padaku.

Aku sama sekali tidak seperti yang kamu inginkan. Aku tidak terlalu banyak membaca buku, kecuali yang berhubungan dengan pekerjaanku yang berkutat dengan angka-angka. Aku juga jarang menonton film atau mendengarkan lagu, kecuali kamu menyebutkannya. Benar-benar tidak ada harapan lagi untuk kamu menyukai aku. Iya kan?

“Omong-omong, apakah Ezra akhirnya menemukan pengganti Aline?” tanyaku kembali ke topik awal. Penasaran dengan kisah lanjutan lelaki pendiam itu.

Kamu mengangguk, “Iya,” jawabmu singkat.

“Siapa?” tanyaku penasaran.

“Baca aja sendiri. Orang itu tidak jauh dari kehidupan Ezra kok,” sahutmu sambil tersenyum.

Jadi, jika kamu Ezra, masih ada kesempatan bagiku untuk menjadi orang yang kamu temukan? aku bertanya-tanya dalam hati. Tiba-tiba, tanganku kejatuhan sesuatu yang basah.

“Gerimis,” katamu. Aku menengadah, melihat langit yang sejak tadi mendung, kini gelap dan mulai menjatuhkan rintik-rintik hujan. Semakin lama semakin deras. Aku dan kamu buru-buru berlari meninggalkan taman dan mencari tempat berteduh.

Kita berhenti di kedai makanan favorit. Kamu mengajakku duduk di sana sambil menunggu hujan reda. Aku setuju karena punya waktu lebih lama untuk menghabiskannya denganmu.

“Tumben pesannya teh, biasanya kopi,” ujarku saat kita sudah duduk. Kamu hanya tersenyum.

“Sebenernya kopi selalu bikin aku sakit perut. Tapi aku terus memilihnya karena membuatku bersemangat. Sedangkan teh, dia selalu berhasil membuatku nyaman. Jadi, kenapa aku terus-terusan minum sesuatu yang bikin aku sakit perut, jika ada yang bisa membuatku bersemangat tanpa efek samping?” jawabmu dengan lugas. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum.

Obrolan kita terhenti sebentar saat minuman masing-masing datang. Kamu teh dan aku susu. Aku belum makan apapun sejak bangun tidur tadi, dan aku berharap susu bisa membuatku kenyang.

“Kamu tahu nggak,” katamu sambil menunduk, tanganmu sibuk mengaduk-aduk teh di dalam gelas. Aku menatap wajahmu, tapi kamu tetap menunduk, seolah menghindari tatapanku. “Kalau dia ibarat kopi, maka tehnya adalah kamu,” ujarmu dengan amat sangat lirih. Tapi aku masih bisa mendengarnya, meski harus bersaing dengan deru hujan.

Aku masih menatap wajahmu, lalu mengeluarkan novel Prisca Primasari yang tadi kusembunyikan di balik kemejaku agar tidak basah.

“Kamu tahu nggak, nanti kita ke tempat ini. Berdua,” kataku sambil menunjuk lima huruf berwarna merah yang ada di sampul novel milikmu.

Lalu aku melihat, wajah bahagiamu yang kulihat setahun lalu, terbit lagi. Aku tersenyum. Ezra telah menemukan pengganti Aline. Benar, kan?

Image1619
16 November 2014, malam tanpa hujan.

***
Thanks to Mbak Prisca for writing a beautiful story, Paris: Aline.

Meet Me in November Rain

alone in darkness

Aku membaca pesan yang tertera di layar ponselku. Meet me in November Rain. Dari kamu, dan aku langsung tahu apa maksudnya. Tanpa banyak pertimbangan, kulangkahkan kakiku menuju tempat di mana kita biasa bertemu.

Kamu sedang duduk di sana. Tempat favoritmu. Persis di samping jendela kaca yang basah terkena tetesan air hujan. Sore itu, sama seperti sore-sore di bulan November sebelumnya, hujan turun dengan derasnya. Membuat sebagian rambutku basah, juga kemeja dan celana panjangku.

“Maaf ya aku merepotkanmu,” ujarmu saat melihatku tiba. Aku tersenyum.

“Nggak apa-apa, kok,” jawabku jujur.

“Aku butuh seseorang yang bisa aku ajak bicara,” lanjutmu lagi. Aku hanya mengangguk.

“Ada apa?” tanyaku.

Kamu tidak langsung menjawab. Tanganmu malah sibuk mengaduk-aduk kopi yang tinggal setengah gelas.

“Aku capek,” sahutmu singkat.

“Karena?” tanyaku.

“Kamu masih ingat dia?” kamu malah balik bertanya. Matamu menatap mataku. Seolah ingin mendapat jawaban langsung dari sana.

Aku mengangguk. Aku langsung tahu maksudnya siapa. Caramu menyebut kata ‘dia’ sudah menunjukkan segalanya.

“Aku cuma ingin berhenti suka sama dia. Karena setiap hari, rasanya seperti mati dengan cara yang berbeda-beda. Lalu hidup lagi keesokan harinya. Berharap, lalu mati. Berharap, lalu mati lagi.”

Aku tak akan lupa satu fakta terpenting dalam hidupmu. Kamu pernah jatuh cinta pada seseorang. Dan sejak jatuh cinta dengan orang itu, kamu tidak pernah jatuh cinta pada orang lain, seperti kamu jatuh cinta padanya.

“Dia di mana sekarang?” tanyaku.

“Di Kota Cahaya.”

Kota Cahaya. Itu jauh sekali dari sini, pikirku.

“Aku capek,” katamu lagi. “Seandainya dia nggak pernah menelpon aku pagi itu, mungkin nggak akan seperti ini kejadiannya. Aku hampir saja berhasil…”

Kamu hampir saja berhasil menyukaiku. Aku yang berada di sampingmu. Menemanimu menjalani hari-hari. Aku yang peduli padamu. Mengucapkan hati-hati tiap kau pergi sendiri.

“Itu telepon pertamanya, setelah lima tahun dia pergi. Aku nggak pernah menyangka dia masih ingat aku. Aku pikir dia sudah lupa sama aku, karena sebelumnya nggak pernah menghubungi aku. Waktu itu dia bilang, ada yang penting. Jadi aku kasih nomor teleponku. Kalau saja aku menolaknya…”

Kalau saja kamu menolaknya, maka kamu tidak akan perlu sakit berhari-hari seperti waktu itu. Dua minggu kamu terkapar tak berdaya, tidak kuliah, tidak ke mana-mana. Tubuhmu terserang penyakit, yang mungkin tak akan datang kalau saja kamu tidak patah hati. Semuanya karena dia pergi lagi. Iya, bukan?

“Aku tahu, aku salah waktu itu. Aku memaksa dia agar datang ke sini. Aku hanya ingin tahu. Ya Tuhan, apa sih salahnya ingin ketemu setelah bertahun-tahun pisah? Aku tahu, aku mungkin bukan siapa-siapanya. Tapi masa teman juga bukan, sih?”

Kenyataannya, dia tidak pernah mau menemuimu bukan? Bahkan meskipun kau memintanya dengan memohon-mohon lewat telepon. Saat itu, ingin sekali aku berteriak padamu, mengingatkan kalau aku ada di sampingmu. Seseorang yang akan dengan senang hati datang tanpa kau minta sekalipun. Tapi saat itu, kau sudah tidak peduli padaku lagi, kan?

“Semuanya terasa sempurna Januari tahun itu. Aku yakin banget kalau aku sudah nggak suka lagi sama dia. Rasanya seperti ada beban berat yang diangkat dari pundak aku. Atau mungkin dari hati aku juga.”

Ya, aku ingat Januari tahun itu. Saat kita pergi ke Tanah Tinggi bersama dengan teman-teman lainnya. Kau tersenyum dengan cara yang paling membahagiakan yang pernah aku lihat. Kau tertawa, seolah hidup sengaja diciptakan untukmu dengan begitu indah dan sempurna.

Kau tak pernah tahu, betapa aku bahagia menyadari itu semua. Aku tak pernah punya Januari yang lebih indah selain Januari tahun itu. Sampai saat ini, kadang aku masih berharap tiga hari perjalanan kita tak pernah berakhir.

“Saat mendengar suaranya lagi, rasanya seperti mimpi. Seperti sudah lama sekali aku nggak pernah mendengar suaranya lagi. Bahkan aku nggak berani berharap bisa mendengar suaranya lagi. Aku benar-benar yakin dia sudah melupakanku. Tapi saat aku mendengar suaranya lagi…”

Semua perasaanmu padaku hilang begitu saja. Menguap tanpa sisa. Bahkan meskipun kau berusaha mengembalikannya. Bahkan meskipun aku berusaha mengembalikannya. Aku tidak pernah menyangka suaranya memiliki efek yang begitu besar bagi hatimu. Seolah menghapus segalanya yang pernah terjadi pada hatimu dan hatiku.

Ingatkah kau saat senja di mana kita duduk bersama? Saat aku tak sengaja mengatakan padamu kalau kita sudah bertemu, dan kau tak mengerti apa maksudku. Tentu saja karena kita memang tak benar-benar bertemu. Aku hanya melihatmu, dan aku berpikir kau melihatku juga.

“Waktu aku tahu dia sudah pulang, aku juga nggak berharap apa-apa. Tahu-tahu dia muncul, telepon aku lagi. Kejadian yang sama berulang lagi. Kali ini aku sudah pasrah. Aku pikir, mungkin aku nggak akan pernah berhasil suka sama orang lain, sama persis seperti aku suka sama dia.”

Tapi kamu menyukaiku jauh lebih baik daripada semua orang yang pernah kau sukai, bukan? Iya, aku tahu, kecuali dia. Aku tahu, entah sudah berapa kali kau mencoba melupakannya dengan cara menyukai orang-orang yang kau temui. Tapi semua itu hanya berhasil sesaat. Aku sudah berbangga diri menyadari kalau akulah yang paling bertahan lama. Aku bahkan yakin jadi selamanya. Ya, sebelum suaranya mengganggu hidupmu lagi.

“Aku capek sebenernya. Siklusnya berulang dengan pola yang sama. Dia pergi, aku berpikir dia lupa aku, dia pulang, telepon aku, dan aku suka lagi. Selalu seperti itu. Waktu tahu dia bakal pergi lagi dalam jangka waktu yang lama, aku sudah seneng banget. Aku jadikan itu sebagai momen untuk benar-benar melangkah pergi. Kamu tahu, aku bahkan nggak ngomong apa-apa, walaupun aku ingat hari itu dia berangkat. Dan saat aku tahu kalau dia juga nggak berusaha menghubungi aku, aku pikir, mungkin memang inilah saatnya, aku benar-benar berhenti suka sama dia. Kota Cahaya jauh, kan? Mana mungkin dia bisa telepon aku.”

Kenyataannya kau salah, bukan? Dia menghubungimu lagi setelah hampir sebulan dia tinggal di Kota Cahaya. Dan kau pun kalang kabut. Tidak tahu harus melakukan apa.

“Aku bingung, kalau aku nggak balas, nanti dikiranya aku sombong. Lagipula, aku pasti penasaran setengah mati. Tapi kalau aku kasih, aku nggak akan pernah bisa move on dari dia.”

Faktanya, kau memilih pilihan yang kedua. Kau memutuskan memberinya kesempatan untuk menghubungimu lagi. Kau memberinya kesempatan untuk menyakitimu lagi, berkali-kali lagi.

Dan kini, kau duduk di sini, memikirkan dia yang nun jauh di sana, di saat yang sama, aku tepat berada di hadapanmu. Berharap kau melihatku sedikit saja. Mengingat sedikit saja perasaanmu tentangku yang pernah begitu istimewa.

“Aku tahu dia nggak pernah suka aku. Aku tahu dia suka orang lain. Dia menghubungi aku karena dia memang begitu. Dia menghubungi aku karena dia memang suka menjaga pertemanan dengan siapapun. Sedangkan aku di sini, seringkali berharap itu lebih.”

Kau membaca tulisan-tulisannya di dunia maya. Lalu kau sadar itu bukan tentangmu sama sekali. Sama seperti saat aku membaca tulisan-tulisanmu, dan tahu itu bukan tentangku lagi. Bukan lagi seperti tulisan di blogmu dulu yang hanya untuk aku.

“Aku sering berharap, aku bisa balik lagi…”

Menyukaiku. Iya aku tahu, kau sering berharap agar hatimu bisa kembali padaku. Seperti yang selama ini juga aku inginkan. Sayangnya, aku dan kamu sama-sama hanya bisa berharap kali ini. Apalah artinya tiga tahun dibanding delapan tahun. Meskipun aku yakin, lebih banyak hal yang kita lalui bersama dibanding dengan yang kalian lalui. Tapi tetap saja, aku tak bisa mengalahkannya. Kau tak bisa mengalahkannya.

Aku memberimu kebahagiaan tanpa rasa sakit. Dia memberimu kebahagiaan dengan rasa sakit. Kau pilih yang kedua.

Aku berada di sampingmu. Dia berada beribu-ribu mil jauhnya darimu. Kau pilih yang kedua.

Aku menemuimu dengan senang hati. Dia tak sedikit pun menyempatkan waktunya untuk itu. Kau tetap pilih yang kedua.

Mungkin memang benar,

“Cinta itu nggak adil. Dan aku nggak tahu, aku bakal separah apa tanpa kamu. Makasih ya, kamu sudah mau datang ke sini. Dengerin curhat aku yang nggak penting ini. Aku tahu, harusnya aku tegas sama diri aku sendiri. Berhenti melakukan hal-hal bodoh yang bisa membunuh aku pelan-pelan.”

“Nggak apa-apa. Aku senang kamu cerita sama aku. Aku harap, dia baik-baik aja di sana, dan suatu hari nanti…”

Kita bisa duduk berdua lagi di sini, di tengah derasnya hujan bulan November, tanpa satu kalipun menyebut kata ‘dia’. Karena percakapan kita, semuanya hanya tentang aku dan kamu. Semoga.

10 November 2014

November always reminds me of you