Rahasia Hati

rahasia-hati.jpg

Ia duduk sendirian di meja itu. Meja tempat mereka biasa bertemu. Ia masih mengenang lelaki itu dengan perasaan sayang yang sama dengan yang dulu ia rasakan saat masing-masing dari mereka masih sendiri.

Kadang, ada segenggam sesal di hatinya. Penyesalan yang selalu muncul di belakang. Hatinya kerap bertanya-tanya, jika dulu ia memberanikan diri mengatakan yang sebenarnya pada lelaki itu, apa yang akan terjadi? Kemungkinannya hanya ada dua, lelaki itu memiliki perasaan yang sama dengannya atau tidak sama sekali.

Jika kemungkinan kedua yang terjadi, jelas ia akan sedih. Namun, ia yakin ia pasti bisa menjalaninya dan lama-lama merelakan perasaan tak berbalas itu. Dan mungkin, mungkin saja, jika itu memang benar-benar terjadi, ia akan menjalani hari-harinya sekarang dengan tenang tanpa rasa penasaran yang menghantui.

Jika kemungkinan pertama yang terjadi, tentu saja ia akan senang. Bukan hanya senang, ia juga akan lega dan bahagia. Mungkin mereka akan merencanakan pernikahan, mungkin mereka akan membangun rumah bersama, dan mungkin mereka akan berbulan madu ke Kota Cahaya berdua, seperti janji lelaki itu dulu.

Sayangnya ia tak berani melakukan apa-apa. Ia tak menyatakan apa-apa tiap kali mereka bertemu. Bahkan, tak berani memberi secuil tanda pun tentang perasaannya kepada laki-laki itu.

Ia terlalu takut. Takut apa? Entahlah, mungkin ia takut perasaannya tak berbalas lagi. Mungkin ia terlalu trauma dengan patah hati. Mungkin ia tak mau lagi menanggung rindu yang berat itu. Yang jelas, ia yakin ia tak mau ambil risiko. Ia sungguh takut, jika ia berani mengucapkan perasaannya kepada laki-laki itu, segalanya akan berubah ke arah yang lebih menyedihkan. Ia memang selalu berpikir hal-hal menyedihkan, tanpa sedikit pun berpikir tentang kemungkinan terbaiknya.

Sekarang ia menyesal. Menyesal dengan segala sikap dan keputusannya dulu. Meski kadang-kadang ia terpikir juga, mengapa ia menyesal? Apa yang perlu disesali?

Ia memiliki pasangan yang bukan hanya indah rupa, tetapi juga sabar dan penuh pengertian. Mirip dengan lelaki itu. Yah, mungkin tipe laki-laki yang dia sukai itu-itu saja. Tak jauh beda. Tetapi mengapa ia masih saja memikirkan laki-laki itu?

Mungkin ia hanya mengangankan kenangan masa lalu. Saat mereka masih sering bertemu dan mengobrol di tepi danau ini. Di meja ini. Membicarakan banyak hal. Hal-hal kecil dan hal-hal besar. Hal-hal sepele dan hal-hal penting. Rasanya kebiasaan itu sudah berada jauh sekali di belakangnya.

Mungkin ia hanya masih penasaran, apa sebenarnya yang ada di dalam hati laki-laki tiap bertemu dengannya. Adakah secuil rasa sayang di hatinya? Adakah segenggam rindu yang tersimpan di benaknya?

Laki-laki itu tak pernah mengatakan apa-apa padanya. Namun, kadang gesturnya membuat ia curiga, membuat ia penasaran, bahwa mungkin saja mereka memiliki perasaan yang sama. Sayangnya, ia tak mau terlalu jauh mengambil kesimpulan. Bisa saja semua itu hanya ada di pikirannya sendiri. Bisa saja laki-laki itu tak pernah merasakan apa-apa terhadapnya.

Buktinya, saat ia memberitahukan pernikahannya kepada laki-laki itu, dia santai saja. Dia tenang saja. Meski ia tak mengerti mengapa laki-laki itu tak hadir di hari pentingnya padahal sehari sebelumnya sudah berjanji akan datang.

Ia berharap ia tak memikirkan laki-laki itu lagi. Ia berharap semua perasaannya kepada laki-laki terkubur mati, tanpa pusara, tanpa peringatan apa-apa. Biar saja tenggelam bersama waktu yang terus berputar.

Ia memberikan laki-laki itu buku kesayangannya dengan harapan ia bisa sama relanya melepas perasaannya seperti ia melepas buku itu. Ternyata tidak semudah itu. Kadang ia masih merindukannya. Kadang ia berharap mereka bisa bertemu dengan mudah seperti dulu. Ia sungguh berharap kadang-kadang itu tidak pernah ada.

Sekarang ia tak sendiri lagi. Kekasihnya telah datang menjemputnya.

“Kok, bengong, Ri? Katanya mau nulis,” tanya pasangannya.

Ia hanya tersenyum tipis, “Sudah selesai, kok. Cuma lagi inget masa lalu aja. Dulu aku sering ke sini bareng sahabatku.”

“Oiya? Memang enak, sih, di sini. Adem, tenang, pantas kamu merasa terinpirasi menulis di sini,” sahut pasangannya lagi.

Ia tersenyum sambil merapikan buku catatan dan alat tulisnya. Kemudian pulang bersama kekasihnya ke rumah mereka.

Di perjalanan, sejenak ia melihat media sosial lewat ponselnya. Lelaki itu sudah muncul lagi di dunia maya setelah selama ini menghilang entah ke mana. Ia memperbarui statusnya dengan sebuah foto buku dan komentar, “Buku yang bagus. Mengajarkan tentang cinta sejati yang setia. Terima kasih kepadamu yang telah menghadiahkanku buku ini. Akan kujaga dengan sebaik-baiknya.”

Ia tersenyum lega sekarang. Ia percaya, mereka bisa melanjutkan kisah mereka masing-masing. Meski tak berada dalam akhir cerita yang sama, ia bersyukur mereka pernah bersisian jalan dan memberi pelajaran yang berharga.

 

Depok, 7 Februari 2018

 

Cerita ini masih berhubungan dengan Serial November. Meski aku sudah berjanji akan mengakhiri kisah Serial November, tetapi setiap hujan, adaaa saja ide cerita yang muncul. Cerita ini disampaikan dari sudut pandang Riri alias Sabrina Putri. Silakan baca Selamat Ulang Tahun atau Kau Harus Membuat Cerita Baru, Sayangku untuk lebih jelasnya. Atau kalau mau lebih jelas lagi, baca semua Serial November, hehehe…

Dari kemarin hujan terus, membuat tangan gatal ingin menulis. Semoga suka 🙂

Advertisements

Kau Harus Membuat Cerita Baru, Sayangku

todd-diemer-110882.jpg

“Kau harus membuat cerita baru,” katamu senja ini.

“Untuk apa?” tanyaku.

Kau terdiam sejenak. “Kau harus membuat cerita baru yang tanpa aku di dalamnya,” katamu lagi. Tidak menjawab pertanyaanku sama sekali.

“Aku tidak tahu…,” ujarku menggantung. Sesungguhnya yang ingin kukatakan adalah aku tidak tahu bagaimana caranya membuat cerita baru tanpamu sedangkan segala sesuatu yang aku lakukan tidak mampu membuatku melepaskan bayanganmu.

“Apa aku terlihat menyedihkan?” malah itu yang kutanyakan. Aku juga tidak tahu mengapa aku menanyakan hal bodoh seperti itu yang membuatku semakin terlihat menyedihkan.

Kamu menggeleng pelan, “Bukan begitu…. Aku hanya…. Aku hanya…ingin kau bahagia. Aku ingin kau…jatuh cinta, menikah, punya anak…. Semacam itulah….”

Aku tersenyum singkat, “Maksudmu, sekarang aku tidak tampak bahagia?”

Kamu menggeleng lagi, “Aku…aku…hanya tidak ingin kau sendirian….”

Kali ini aku tertawa. Tertawa miris kurasa. Aku tidak percaya mendengar kalimat itu dari mulutmu. Kalau kau tak ingin aku sendirian, mengapa kau malah memilih laki-laki lain dan bukan aku? Kalau kau ingin aku bahagia, mengapa kau malah menerima pinangan dari orang lain dan bukan menungguku?

Oh, iya, aku ingat, ini semua salahku. Salahku yang tidak mengatakan padamu bahwa kebahagiaanku adalah dirimu. Salahku yang tidak mengatakan padamu bahwa yang telah membuatku jatuh cinta adalah dirimu. Salahku yang tidak mengatakan padamu bahwa aku ingin menikah dan memiliki anak denganmu. Sekarang sudah terlambat dan itu semua salahku.

“Aku baik-baik saja sendirian. Kau lihat sendiri, kan?” kataku akhirnya.

“Kau tidak seperti yang kuingat dulu…,” katamu.

“Aku tak percaya kau masih mengingatku…,” kataku.

“Jangan bodoh, kaupikir aku…,” kata-katamu terputus.

Ada hening beberapa saat. Aku menunggumu mengucapkan kalimat selanjutnya. “Aku tidak mungkin melupakanmu. Kau temanku. Teman tidak mungkin melupakan temannya,” ujarmu akhirnya.

Aku menunduk, menyesap kembali kopi pesananku yang sudah mulai dingin. “Jadi, apa yang membuatmu ingin bertemu denganku?”

Akhirnya kutanyakan hal itu padamu. Sungguh, aku kaget saat menerima surel darimu. Memintaku untuk bertemu denganmu di kedai favorit kita. November Rain. Jujur saja, aku tidak tahu apa yang kurasakan saat itu. Semuanya campur aduk, aku merasa was-was, cemas, senang, gugup, penasaran, putus asa. Entahlah….

“Aku ingin memberimu ini,” katamu sambil mengulurkan sebuah buku. Aku mengernyit bingung.

“Untukku?” tanyaku.

Kamu mengangguk. “Iya, ini novel favoritku. Berkisah tentang cinta sejati, bintang-bintang, galaksi, dan alam semesta. Aku ingin kau membaca dan memilikinya.”

“Tapi… kenapa?” tanyaku heran.

“Tidak ada alasan khusus. Aku hanya ingin kau membaca dan memilikinya. Sudah itu saja. Ehm, maksudku, aku juga ingin kau bahagia.”

Aku melihat judul buku yang kauberikan. Sampulnya bergambar seorang perempuan menatap bulan purnama. Kemudian saat aku membuka, ternyata di balik sampulnya, masih ada satu sampul lagi yang bergambar seorang lelaki sedang menatap purnama yang sama.

“Bacalah,” katamu, “dan buatlah cerita baru tanpa aku….”

Aku tercenung. “Riri…. Aku…merindukanmu, kurasa,” kataku akhirnya.

Ya Tuhan, aku sungguh tidak sanggup lagi menahan semua ini. Aku merindukanmu. Amat sangat merindukanmu. Dulu, beberapa tahun yang lalu, hampir setiap hari kita bertemu. Kau mengoceh macam-macam tentang buku yang kaubaca, film yang kautonton, lagu yang kausukai, dan tempat-tempat yang ingin kaukunjungi. Kau ceritakan padaku tentang laki-laki yang berulang kali membuatmu menangis dan patah hati. Kau bilang padaku kalau kau ingin pergi ke Kota Cahaya berdua denganku.

Kau lambungkan harapanku, kau tinggikan angan-anganku, lalu pada suatu hari kau hancurkan semuanya dengan sebuah pesan singkat yang mengatakan bahwa kau akan menikah dan foto undangan pernikahanmu. Sekarang, saat aku menikmati betul indahnya kesendirian dan patah hati, kau datang dan memintaku untuk membuat cerita baru tanpamu. Bagaimana mungkin aku bisa melakukannya?

“Ta, ada banyak hal yang tak pernah kita duga dalam hidup ini. Kadang semuanya terjadi dengan begitu cepat tanpa bisa kita cegah sebelumnya. Aku… aku juga merindukanmu. Tetapi sekarang….” kata-katamu terputus. Wajahmu tampak mendung seperti cuaca sore ini. Kau menghabiskan cangkir kedua tehmu.

Sekarang cerita kita berdua sudah selesai. Itulah mengapa kau memintaku membuat cerita baru. Padahal sesungguhnya aku sedang membuat cerita baru. Cerita tentang aku dan kesendirianku, tanpa orang lain lagi di dalamnya. Jika maksudmu membuat cerita baru adalah menghadirkan orang baru untuk menggantikanmu, maaf, aku belum mampu. Aku masih ingin bercengkerama dengan bayang-bayangmu.

“Riri…,” betapa janggal menyebut namamu secara langsung di depanmu, setelah sekian lama tidak pernah kulakukan.

Kau tampak menungguku mengucapkan sesuatu. Akan tetapi, aku juga tidak tahu apa lagi yang harus kuucapkan. Bukankah apa pun yang aku ucapkan tidak akan mengubah apa-apa lagi di antara kita berdua?

“Ta, sepertinya aku harus pulang sekarang.”

Aku mengangguk mengiyakan. Ya, kau harus pulang. Ada seseorang yang menunggumu di rumah.

“Baca dan jaga buku ini baik-baik. Buku ini pernah dan akan selalu menjadi kesayanganku. Dan aku tidak akan memberikannya kecuali kepada orang yang aku percaya,” katamu sambil mengelus bukumu seolah itu yang terakhir kali.

“Terima kasih,” kataku singkat.

Di luar, terdengar suara hujan yang turun dengan deras. “Sebentar lagi bulan November, sudah masuk musim hujan,” katamu sambil tersenyum ke arahku. Senyum yang tak akan pernah kulupakan. Senyum yang tadinya kupikir hanya untukku.

“Iya,” kataku, “Aku selalu suka bulan November.”

Kau tidak membalasnya. Kau sibuk mengeluarkan payung lipat dari dalam ranselmu. Payung warna biru motif kotak-kotak.

“Sudah bertahun-tahun dan payungmu masih yang itu?” tanyaku takjub.

Kamu tersenyum, “Seandainya payung ini rusak, aku akan mencari motif yang sama sebagai penggantinya. Kau tahu, aku tidak mudah mengganti sesuatu dengan yang baru.”

“Begitu juga aku,” sahutku.

“Tetapi kali ini, kau benar-benar harus membuat cerita baru, Sayangku…” katamu sambil berjalan keluar kedai. Di sana aku melihat sesosok laki-laki telah menunggumu. Kamu tersenyum menyambutnya. Senyum yang kupikir hanya untukku. Mungkin memang benar, aku harus membuat cerita baru tanpamu.

Sore mendung, 29 September 2017

***

It’s been so long since I wrote flash fiction from the last time. Cerita ini masih bagian dari Serial November yang pernah kutulis sebelumnya.