a Boy with Tiara

Dia pernah mengatakan padaku, suatu hari nanti ia akan memakai tiara di kepalanya. Aku bilang padanya, dia pasti akan terlihat cantik dengan sebuah tiara di kepala. Ia akan secantik ratu peri yang sering kutemui di kerajaan kebun bunga.

Dia pernah mengatakan padaku, suatu hari nanti ia akan menjadi ratu peri tercantik dan aku yang jadi rajanya. Aku bilang padanya, kita pasti akan memimpin kerajaan kebun bunga bersama-sama. Oh, dan aku tak sabar menunggu hari itu tiba.

Sepuluh tahun berlalu, dia bilang padaku, ratu peri tak pernah ada Begitu juga dengan kerajaan kebun bunga. Aku katakan padanya, dia hanya lupa. Kataku, ketika dewasa banyak hal yang kita lupakan, tapi ia tak percaya.

Dia bilang padaku, semua itu hanya khayalan kanak-kanak semata. Dia bilang padaku, kita tak mungkin bersama-sama. Aku tidak mengatakan padanya, aku telah membelikannya sebuah tiara.

Dia bilang padaku, tinggalkan saja semua khayalan tentang ratu peri dan tiara. Tidak pernah ada kerajaan kebun bunga, kita hidup di dunia nyata. Aku tidak mengatakan padanya, aku telah lama meninggalkan realita.

Pada suatu hari yang buruk, dia pergi meninggalkanku.

Pada suatu hari yang baik, aku pergi ke tepi jembatan.
Tempat dulu aku dan dia sering berbincang tentang ratu peri dan kerajaan bunga. Aku memakai tiara di kepalaku, dan ku titipkan pesan pada seorang yang kebetulan berlalu.

Aku bilang, tolong sampaikan pesan ini pada gadis bermata cahaya, aku pergi bersama tiaranya ke kerajaan kebun bunga. Katakan padanya, aku menunggunya di sana. Aku harap dia kembali ingat jalan menuju ke sana, karena ketika dewasa, banyak hal yang kita lupa.

Lalu aku meluncur turun. Bergabung bersama derasnya aliran sungai. Aku memejamkan mata. Di kepalaku, masih terpasang sebuah tiara.

Aku tahu, ketika nanti aku membuka mata, aku akan tiba di kerajaan kebun bunga.

Depok, 9 Februari 2016
kepada siapa saja yang percaya negeri peri itu ada

(picture from Anne Dozie)

Pergi Lagi

Sudah mau pergi lagi, gerutuku dalam hati. Baru saja tiga bulan yang lalu ia pulang. Tiga bulan yang terasa seperti tiga hari saking cepatnya. Sepertinya baru kemarin aku menunggu kepulangannya di bandara. Ia yang tersenyum lebar ke arahku sambil merentangkan tangannya, lalu merangkulku sambil mengangkat tubuhku yang beratnya tiada berarti baginya. Rasanya semua itu baru terjadi kemarin.

Sekarang kulihat ia sudah berkemas lagi. Tas-tas berisi pakaian dan barang-barang yang akan dibawa sudah berjajar rapi di kamarnya. Dia menyadari kehadiranku saat aku mengintipnya dari ambang pintu. Ia menoleh dan tersenyum kepadaku.

“Hai, My Little…” sapanya sambil mengacak rambutku. Dia memanggilku My Little, Kecilku, panggilan kesayangannya untukku. Aku termangu.

“Kapan kamu pulang lagi?” tanyaku. Ini adalah pertanyaan yang kesekian ribu kali kutanya, dan ia seolah tak pernah bosan menjawabnya.

“Awal Mei nanti,” jawabnya selalu sama.

Aku menunduk. Aku sedih setiap kali ia akan pergi. Rasanya seperti sebagian dari diriku ikut dibawanya. Dia selalu mengerti apa yang kurasakan. Dia menuntunku dan mengajakku duduk di kasurnya.

“Kau tidak akan menunggu lama. Hanya tiga bulan. Percayalah, tiga bulan itu cepat. Wusssh! Tahu-tahu saja aku sudah ada di sini lagi!” hiburnya.

Aku hanya tersenyum kecil. Dia tidak tahu seperti apa rasanya menunggu. Terlebih menunggu dengan cemas, menunggu dengan waswas. Aku rasa dia memang tidak tahu apa-apa tentang menunggu.

“Aku akan membelikan oleh-oleh dari berbagai negara yang aku singgahi,” hiburnya lagi.

Tidak, aku tidak butuh oleh-oleh. Aku hanya butuh dirinya di sini, di rumah.

“Lala akan menjagamu,” hiburnya lagi.

Tidak, Lala sibuk sendiri bersama teman-temannya, melakukan apa yang mereka ingin lakukan.

“Aku ingin kau yang menjagaku,” kataku lirih. Dia tersenyum penuh arti kepadaku.

“Tentu saja aku juga menjagamu, My Little. Tapi aku harus pergi,” ujarnya dengan lembut.

Kadang aku benci dengan semua perubahan yang terjadi padanya. Dulu, dia selalu ada di sampingku. Aku mengikutinya ke mana ia pergi. Ia menemaniku ke mana aku pergi. Hanya aku dan dia, dan yah, kadang-kadang Lala ikut juga.

Sekarang? Setiap kali kami pergi, selalu ada gadis-gadis yang mengikuti. Dari yang malu-malu hingga tak tahu malu. Dari yang pura-pura bersikap baik kepadaku hingga menganggapku tak ada sama sekali. Belum lagi waktu yang ia habiskan bersama tiga teman seperjuangannya. Rasanya hampir setiap hari ada saja hal yang mengharuskan mereka berkumpul. Uh, aku benci!

Kadang-kadang ia mengajakku mengikuti aktivitasnya. Berkenalan dengan teman-temannya. Tapi, ya kadang-kadang saja. Karena dia tak mungkin mengajakku terus menerus. Sekarang dia akan pergi lagi, dan aku benci. Kenapa dia harus pergi lagi?

“Kau tahu kan, My Little, aku melakukan ini demi cita-citaku?” tanyanya. Aku mengangguk. Aku ingat petuahnya tentang mengejar mimpi dan cita-cita.

“Suatu hari nanti, ketika kau telah menemukan apa yang kau inginkan, apa yang kau impikan, kau akan berjuang sekeras aku, bahkan mungkin lebih dari itu. Dan kau tahu, itu semua butuh pengorbanan. Mungkin nanti kamu yang akan meninggalkanku,” katanya yang langsung kusahut cepat-cepat dengan gelengan kepala.

“Tidak, aku tidak akan meninggalkanmu,” kataku. Dia hanya tersenyum.

“Kau hanya belum tahu,” ujarnya lagi sambil mengacak rambutku.

Aku menarik napas, “Ketika sudah dewasa nanti, apakah kita akan selalu bersama-sama?” tanyaku.

Dia mengangguk, lalu tersenyum. Lesung di kedua pipinya timbul. Lesung yang juga ada di kedua pipiku.

“Tentu saja kita akan selalu bersama-sama,” jawabnya.

“Kau pasti akan pulang, kan?” tanyaku lagi.

“Ya, aku pasti pulang. Ke mana pun aku pergi, aku akan selalu pulang lagi,” jawabnya pasti.

Aku tersenyum. Meski begitu berat rasanya melepas kakakku pergi tur bersama teman-teman band-nya, aku tahu dia pasti menepati janji. Dia pasti akan pulang lagi.

***

Cerita ini terinspirasi dari………
(ah, aku malu mengatakannya, tapi…. baiklah)
Ashton Irwin and his little brother, Harry. Hehehehe…

Walaupun nggak terlalu tahu, sedekat apa mereka, tapi kalau dari foto-foto di IG-nya Ash, kayaknya dia sayang banget dengan adik kecilnya ini. Ash juga pernah bilang kalau dia sedih banget ketika harus meninggalkan kedua adiknya saat tur.

ash & harry

@ashtonirwin

They look so cute together, aren’t they? :3