Di Balik Tembok Tinggi (bag. 4)

di-balik-tembok-tinggi

lanjutan dari kisah sebelumnya….

“Kau tak tahu apa-apa tentang hidupku, wahai pemuda sok tahu. Sekarang lebih baik kau pergi saja dan kembali ke rumahmu. Aku tidak akan mendorongmu seperti tadi. Itu konyol, aku tahu,” ujar si gadis sambil berdiri dan masuk ke ruang tengah. Meninggalkan si pemuda sendirian.

Si pemuda itu terdiam. Tidak berniat mengejar ataupun bersilat lidah dengan si gadis. Ia teringat pertemuannya dengan si gadis pada suatu masa yang lalu. Gadis itu tidak menyadari kehadirannya. Namun, si pemuda dapat mengingat dengan jelas senyum dan tawa si gadis. Gadis itu berjalan dengan seorang laki-laki. Siapa lagi kalau bukan si pengrajin kayu. Mereka sedang berbelanja di pasar. Tampak begitu bahagia meski hanya sedang memilih buah dan sayur.

Kemudian si pemuda mengetahui, si pengrajin kayu meninggalkan desa itu seorang diri. Sosoknya tak pernah terlihat lagi. Begitu juga dengan sang gadis yang pernah berjalan bersamanya. Tak ada yang pernah melihat mereka berdua. Tak ada yang peduli juga. Hanya si pemuda itu. Hanya dia yang penasaran dengan nasib si gadis.

Tak lama, tersiar kabar tentang penyihir kejam di tengah hutan. Sudah sejak lama ia tak mempercayai kabar burung itu. Mana mungkin ada penyihir. Ia yakin itu adalah si gadis yang memilih bersembunyi dari dunia luar.

Si pemuda ingin sekali membuktikan dugaannya tersebut. Namun, ia harus mencari waktu yang tepat. Terlalu cepat datang, mungkin si ‘penyihir’ tak akan mau menerimanya. Sekarang saat sudah mengetahui keadaan si gadis, apa lagi yang harus dia lakukan? Saat ini, memaksa si gadis kembali keluar tampak seperti hal yang paling mustahil di dunia.

“Putri, bagaimana kalau aku tinggal di sini? Apakah kau mengizinkannya?” tanya si pemuda dengan agak lantang. Berharap si gadis masih mau mendengarkannya.

“Sejak tadi kau sudah berada di sini, bodoh!” sahut suara dari dalam kamar.
Si pemuda tertawa, “Ya, aku tahu. Maksudku, bolehkan menetap di sini? Tinggal bersamamu?”

“Di sini tak ada apa-apa. Kau akan kecewa lalu pergi meninggalkanku. Sebaiknya, kau tidak membuang waktumu,” jawab si gadis.

“Mengapa, sih, kau tidak mau mengakui saja. Kalau kau tahu aku tidak akan pergi meninggalkanmu. Kau tahu itu, kan?” ujar si pemuda dengan yakin.

“Aku bosan dengan kalimatmu yang itu-itu saja!” seru si gadis dari balik kamarnya.

“Apa yang bisa kau lakukan untuk membuktikannya?”

“Kau ingin bukti? Kalau begitu, kemarilah! Lihat bagaimana aku melakukannya!” seru si pemuda.

Si gadis penasaran, ia pun keluar kamarnya dan kembali ke ruang tamu tempat si pemuda berada. Di ruang tamu, si pemuda sedang mencari-cari sesuatu.

“Apakah kau memiliki peti kayu yang besar?” tanya si pemuda.

Si gadis mengernyit heran, “Untuk apa?”

“Pinjam saja,” jawab si pemuda.

Si gadis pun menurut dan mengambil sebuah peti kayu yang cukup besar dari gudangnya. Si pemuda mengambil peti itu dan mulai menghampiri rak-rak yang berisi pajangan kayu.

“Mula-mula, kita simpan ini di tempat yang seharusnya. Tempat kau tak bisa melihat benda-benda ini dan perlahan-lahan kau akan lupa kalau kau pernah memiliki benda-benda ini. Tenang saja, kau akan tetap ingat kalau kau memiliki benda-benda ini. Namun, ingatan itu tidak lagi menyakitkanmu,” ujar si pemuda sambil mengambil satu per satu pajangan kayu dan memasukkannya ke dalam peti.

Si gadis diam saja memperhatikan si pemuda memasukkan semua pajangannya. Setelah semua pajangan kayu dimasukkan ke dalam peti, si pemuda berkata lagi. “Sekarang aku butuh tas. Tas yang besar!”

Si gadis mengambil tas paling besar yang dia miliki.

Si pemuda tersenyum lalu mengulurkan kembali tas itu kepada si gadis. “Isilah tas ini dengan pakaian dan perlengkapanmu,” pinta si pemuda.

“Apa yang ingin kau lakukan? Kau mengajakku pergi?” tanya si gadis dengan bingung.

“Tentu saja, kita akan pergi menjelajahi dunia. Ketika kau lelah atau sekadar ingin menepi sebentar dari keriuhan dunia, kau bisa kembali ke rumah ini. Ke tempat yang paling aman dan nyaman milikmu. Tetapi, saat kau pulang nanti, kau tak akan sendiri. Aku akan berada di sisimu.”

Si gadis hanya bisa menatap si pemuda dengan pandangan ragu.

“Kau percaya padaku, kan?” tanya si pemuda sambil balik menatap mata si gadis.

Si gadis tak bicara apa-apa. Ia hanya berbalik pergi ke kamarnya. Mengambil baju dan barang-barang yang sekiranya penting untuk dibawa. Meskipun ia tak pernah mengatakannya, jauh di lubuk hatinya, si gadis percaya kepada pemuda itu. Ia tahu sudah saatnya ia berjalan kembali ke dunia luar. Sejenak meninggalkan tembok tinggi yang telah membuat dirinya aman selama beberapa waktu.

Setelah semuanya siap, si gadis kembali menemui si pemuda yang masih menunggu di ruang tamu. Si pemuda tersenyum lebar melihat si gadis. Akhirnya, inilah yang telah lama dinanti-nantikannya. Si gadis bersedia meninggalkan tembok tingginya. Dan yang lebih istimewa, si gadis mau berjalan bersamanya.

“Kau janji tidak akan meninggalkanku, kan?” tanya si gadis saat mereka berjalan meninggalkan hutan.

Si pemuda menjawab, “Tentu saja. Lagi pula, kau sudah mengetahuinya sejak awal. Besok pagi, kita akan berangkat.”

***

Siang hari, mereka telah sampai di desa terdekat. Si pemuda membawa gadis itu ke pasar, tempat ia dan temannya biasa berjualan. Sang teman, yang sudah cemas menantikannya sejak kemarin dan berpikir kalau ia benar-benar dimakan nenek sihir, terperangah saat melihat si pemuda berdiri di hadapannya.

“Kau berhasil selamat dari nenek sihir itu? Bagaimana caranya? Dan siapa gadis yang kau bawa ini? Apakah selama ini dia disekap oleh nenek sihir itu?” tanya sang teman dengan bertubi-tubi.

Si pemuda hanya tertawa dan dengan gembira ia mengabarkan ke seluruh penduduk desa. “Tidak ada nenek sihir di tengah hutan. Hutan kita aman-aman saja. Aku telah membuktikannya.”

Pasar pun menjadi riuh rendah. Orang-orang berkerumun saling bertanya. Mereka sungguh tak percaya dengan perkataan si pemuda. Si pemuda hanya tersenyum geli sambil menarik tangan si gadis ke tepi jalan yang agak sepi.

Di tempat itu, sambil menatap wajah si gadis, si pemuda berbisik perlahan ke telinga si gadis, “Tidak ada nenek sihir. Hanya ada seorang gadis yang terlalu patah hati dan ingin ditinggalkan sendiri. Tetapi kini ia berada di tangan yang tepat. Di tangan seseorang yang akan menjaganya dan tak akan pernah meninggalkannya.”

***

luo-ping-547035-unsplash

Apakah cerita ini sudah tamat? Mungkin kau berpikir begitu. Tetapi bagi si gadis dan si pemuda, kisah mereka baru bermula dan masih panjang jalannya.

 

Depok, 3 Maret 2018

 

Advertisements

Di Balik Tembok Tinggi (bag. 3)

di-balik-tembok-tinggi

lanjutan dari kisah sebelumnya

Si makhluk bertudung itu pun perlahan-lahan membuka tudung yang sejak tadi menutup hampir seluruh wajah dan kepalanya. Saat tudung itu terbuka, tampaklah wajah seorang gadis yang amat sangat normal. Memiliki dua mata, dua alis, satu hidung (dengan dua lubang, tentu saja), sebuah mulut, bibir yang agak merah, kulit yang berwarna sawo matang, dan rambut hitam yang ikal bergelombang sepanjang leher. Sungguh jauh dari gambaran sosok nenek sihir tua, jelek, dan berhidung bengkok.

“Ini yang sejak tadi kau cari?” tanya gadis itu dengan wajah galak dan mata memelotot.

Si pemuda tersenyum. “Ya. Sejak awal aku yakin kau bukanlah nenek-nenek yang diceritakan para penduduk. Dan aku ke sini datang untuk menyelamatkanmu.”

“Sungguh tak masuk akal!” seru si gadis. “Kau? Ke sini untuk menyelamatkanku? Sebenarnya, siapa sih, dirimu? Kau pemuda kurang kerjaan, ya?”

Si gadis menjatuhkan badannya ke kursi kayu yang untungnya dilapisi bantalan empuk. Ia lalu duduk sambil menyilangkan kaki dan memperhatikan si pemuda yang duduk di hadapannya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Diperhatikan seperti itu, si pemuda menjadi kikuk dan malah menyeruput tehnya cepat-cepat lalu memakan potongan biskuit yang telah disediakan.

“Jadi, sekali lagi kutanyakan padamu, apa yang kau inginkan dariku? Kau pikir aku menyimpan harta karun, begitu? Atau mungkin ramuan ajaib yang membuat orang hidup abadi, kebal terhadap penyakit dan benda tajam? Atau mungkin kau pikir aku ini sosok aneh bin ajaib yang bisa kau kandangkan lalu kau pamerkan di sirkus keliling, begitu?”

Si pemuda itu menggeleng, “Tidak, tentu saja, tidak. Untuk apa aku memamerkanmu di sirkus keliling. Aku juga tidak berminat mencari ramuan hidup abadi. Hidup abadi itu tidak enak, tahu. Dan menyimpan harta karun, hmm… aku yakin kau tidak memilikinya, jadi, untuk apa? Kubilang dari tadi, aku ingin menyelamatkanmu.”

Si gadis tertawa sinis. “Menyelamatkanku dari apa? Kau pikir aku orang yang tampak perlu diselamatkan? Kau lihat, meski aku berada di tengah hutan, aku aman-aman saja.”

Bukannya menjawab, si pemuda malah berdiri sambil mendekati deretan rak-rak pajangan. “Aku ingin menyelamatkanmu dari ini,” katanya sambil menunjuk sebuah pajangan kayu berbentuk seorang gadis yang sedang duduk.

“Aku ingin menyelamatkanmu dari ini,” kata si pemuda sambil menunjuk sebuah pajangan kayu berbentuk seorang gadis sedang bermain ayunan, di belakangnya ada seorang laki-laki yang mendorong ayunan tersebut.

“Aku ingin menyelamatkanmu dari ini, ini, ini, dan ini!” seru si pemuda sambil menunjukkan seluruh pajangan dan perabot kayu yang dilihatnya di rumah.

Si gadis memandang wajah si pemuda dengan tajam, “Apa yang sebenarnya kau inginkan? Aku sudah berbaik hati mengizinkanmu masuk ke rumahku dan kau menunjuk barang-barangku dengan sembarangan seperti itu. Sebaiknya, sekarang juga kau keluar dari rumahku dan melupakan tempat ini!”

Si pemuda tersenyum kepada si gadis, “Aku tahu banyak tentangmu, Putri. Aku tahu lebih banyak daripada yang kau pikir aku tahu tentangmu.”

Si gadis tampak tak suka mendengar ucapan pemuda itu. Serta merta ia berdiri lalu mendorong tubuh si pemuda agar keluar dari ruang tamunya. “Keluar! Keluar sekarang!”

Si pemuda berhasil menahan tubuhnya dan mereka berada di ambang pintu. “Aku ingin kau keluar dari balik tembok ini dan kembali melihat dunia luar, Putri. Aku ingin kau melupakan si pengrajin kayu yang telah meninggalkanmu bertahun-tahun lalu. Ia telah pergi, Putri. Tak ada gunanya kau bersembunyi di sini dan menyebar rumor menakutkan tentang penyihir tua jahat yang meminum darah manusia.”

Si gadis terhenyak. Tak menyangka akan mendengar perkataan seperti itu dari si pemuda. Ia terdiam dan untuk sesaat mulutnya membisu. Kemudian ia mundur ke belakang dan kembali duduk di kursinya dengan langkah lunglai.

“Pulanglah ke rumahmu. Kau tak tahu apa-apa tentang perasaanku,” ujar si gadis dengan wajah menunduk.

Si pemuda, merasa yakin dirinya tak benar-benar diusir, kembali masuk dan duduk di tempatnya semula. Ia memandang wajah si gadis lekat-lekat. “Aku memang tak benar-benar mengetahuinya. Akan tetapi, aku datang ke sini untuk membantumu, Putri. Aku ingin menyelamatkanmu dari tembok tinggi yang kau bangun sendiri. Dunia luar terlalu indah untuk kau tinggalkan dan bersembunyi di tempat tertutup seperti ini. Sayang sekali, Putri.”

Si gadis mendesah dengan berat, “Aku rasa aku telah ceroboh untuk kedua kalinya, membiarkanmu masuk ke dalam rumahku.”

Si pemuda tertawa kecil. Merasa apa yang dikatakan si gadis benar. “Tetapi aku tidak akan melakukan apa yang si pengrajin kayu itu lakukan. Aku tidak akan meninggalkanmu. Kau sendiri lihat, kan? Aku datang jauh-jauh ke sini untuk menyelamatkanmu. Ayolah, Putri, lupakan semua kayu-kayu ini. Kau berhak menjalani kehidupan yang lebih baik dari ini!”

Si pemuda berdiri dan mencoba meraih tangan si gadis. Si gadis menepisnya dan memalingkan wajah. “Begitu juga yang dulu dikatakan si pengrajin kayu. Toh, dia tetap meninggalkanku. Bagaimana aku tahu kalau kau tidak sama dengannya?” tanya si gadis dengan pesimis.

Si pemuda tersenyum lagi, “Oh, kau sudah mengetahuinya. Hanya kau tidak mau mengakuinya, iya, kan? Kau sudah tahu aku tidak akan meninggalkanmu.”

Si gadis mengernyit heran, “Aku heran mengapa ada orang yang begitu percaya diri seperti kamu.”

“Kau telah mengetahuinya, aku yakin itu. Kalau tidak, mengapa kau mengizinkanku masuk?” sahut si pemuda.

Si gadis tertawa sinis, “Sudah kubilang tadi, itu adalah kecerobohanku. Membiarkanmu masuk ke dalam rumahku. Seharusnya aku tidak melanggar janjiku sendiri. Kebanyakan orang-orang yang tersesat itu, mereka akan langsung pergi setelah aku beri tahu jalan keluar dari hutan atau telaga kecil untuk mereka minum.”

“Sayangnya, aku berbeda dari mereka. Iya, kan?” tanya pemuda itu dengan bangga.
Si gadis hanya terpekur. “Biarkan aku sendiri. Sendirian lebih aman dan nyaman bagiku.”

“Tetapi itu hanya kenyamanan palsu. Selama ini kau membohongi diri sendiri dengan mengatakan kalau kau baik-baik saja dan berharap dia akan kembali kepadamu. Itulah sebabnya kau masih memajang segala pajangan kayu itu. Mengapa kau tidak jujur pada dirimu sendiri, bahwa ceritamu dengan si pengrajin kayu itu telah berakhir?” tanya si pemuda.

“Kau tak tahu apa-apa tentang hidupku, wahai pemuda sok tahu. Sekarang lebih baik kau pergi saja dan kembali ke rumahmu. Aku tidak akan mendorongmu seperti tadi. Itu konyol, aku tahu,” ujar si gadis sambil berdiri dan masuk ke ruang tengah. Meninggalkan si pemuda sendirian.

bersambung…