Meet Me for The Last Time

photo-1446149623509-b0caf85e83de.jpg

Sore itu, sama seperti sore-sore yang biasa kita nikmati berdua. Kamu menungguku di meja dekat jendela sambil mengaduk secangkir teh tanpa gula.

Sejenak, aku ragu melangkah masuk ke dalam kedai. Untuk pertama kalinya, kakiku terasa berat untuk menemuimu.

Tidak seperti dulu, kini aku tidak tahu apa yang akan kamu katakan padaku. Aku tidak bisa lagi menebak-nebak ceracaumu yang sebenarnya memang tidak bisa ditebak. Namun dulu, segala ketidaktertebakkan dirimu masih bisa kuterima. Sekarang, aku sama sekali tidak tahu.

Sama seperti sore-sore yang pernah kita lalui, kamu menyambutku dengan senyum lebar. Meski aku tahu, seringnya di dalam hatimu gundah gulana.

“Kamu ke mana saja?” tanyamu saat aku mengambil duduk. Aku hanya tersenyum tipis.

“Aku menunggumu hari itu. Kamu bilang, kamu akan datang,” katamu lagi, dan kini aku hanya bisa tertunduk.

Ya, aku ingat. Aku bilang aku akan datang di hari pernikahanmu. Namun kenyataannya aku tidak datang.

“Kamu bahkan tidak memberi kabar,” lanjutmu lagi, lalu menghela napas dan menyesap tehmu perlahan.

“Maafkan aku. Hari itu, tiba-tiba aku ada urusan mendadak, dan aku lupa memberi tahumu,” jawabku dengan sangat menyesal. Menyesal karena aku telah membohongimu. Sebenarnya tidak ada urusan yang mendadak. Hatiku yang mendadak tidak sanggup menerima kenyataan dan memutuskan untuk bersembunyi di kamar saja.

“Tidak apa-apa, tapi lain kabari aku, ya? Aku takut kamu kenapa-kenapa,” katamu lagi sambil tersenyum. Aku ikut tersenyum. Berusaha menyembunyikan ‘kenapa-kenapa’ yang sebenarnya aku miliki.

Tercipta hening sesaat, sampai seorang pelayan tiba membawa segelas susu coklat.
“Aku sudah pesankan susu coklat kesukaanmu, seperti biasa,” katamu sambil tersenyum lebar. Persis seperti sore-sore yang pernah kita lalui bersama.

Aku mengangguk, lalu meminum seteguk susu coklat yang rasanya masih sama seperti yang dulu aku minum saat kamu masih mungkin aku miliki. Lalu aku mengeluarkan buku berwarna hijau pucat dengan tulisan PARIS berwarna merah terang.

“Aku belum mewujudkan mimpimu mengunjungi Kota Cahaya,” kataku pelan.

Kamu tersenyum tipis, “Jangan bilang begitu, kita masih bisa pergi ke sana,” jeda sebentar, kamu menarik napas, lalu dengan berat hati mengatakan lagi, “Berempat.”

Aku tertawa kecil mendengarnya, “Tidak, aku menjanjikanmu berdua, bukan berempat.”

Kali ini kamu yang tertawa miris, “Maafkan aku.”

“Tidak apa-apa, aku senang, akhirnya kamu melupakan dia.”

Aku tahu aku terlambat. Aku tahu seharusnya aku mengatakannya sejak dulu. Aku tahu seharusnya aku mencoba saja, tak peduli jawabanmu nanti apa. Bodohnya aku, terlalu takut kehilanganmu jika aku mengatakan yang sebenarnya. Dan sekarang, aku benar-benar kehilanganmu.

“Jangan pernah berpikir aku melupakanmu. Jangan juga berpikir kamu tidak ada lagi dalam hidupku. Tentu saja itu tidak mungkin. Hanya kamu yang mau menemaniku di sini, di saat-saat tergelap dalam hidupku. Ketika hujan bulan November turun dengan derasnya, dan aku tidak tahu harus bicara dengan siapa. Hanya kamu. Hanya kamu yang mau berlelah-lelah dan berbasah-basah datang menemaniku. Mendengarkan dengan saksama curhatanku yang itu-itu saja. Tentang dia, dia, dan dia.”

“Percayalah, aku tahu suatu hari nanti Kota Cahaya akan menyambut kita. Kita akan mengunjungi tempat-tempat yang kita suka. Kita akan menikmati kehangatan Shakespeare and Co., kemeriahan karosel di pinggir kota, dan germerlapnya air mancur Stravinsky. Semuanya. Kita akan menelusuri tepian sungai Seine, sambil bercengkrama tentang senja-senja yang pernah kita lalui bersama. “

“Aku tahu kedengarannya itu tak mungkin. Aku tahu mungkin kau berpikir aku hanya menghiburmu. Tidak. Tidak sama sekali. Percayakah kau, aku masih ingin itu terjadi?”

Kamu berbicara panjang lebar dan tanpa henti, dan seperti biasa, aku mendengarkanmu dengan setia. Lagi pula, memangnya aku bisa apa?

Aku hanya mengangguk, sembari meneguk susu coklat. Sempat terlintas di benakku, apakah nanti setiap aku meneguk susu coklat, aku akan selalu teringat padamu? Mungkin saja. Aku hanya minum coklat saat bersamamu.

Kamu menatapku, menanti jawaban pertanyaanmu yang sejak tadi kusambut dengan diam.

“Aku tidak tahu, maksudku… Yah, kita pasti bisa ke sana nanti,” kataku labil. Yang sebenarnya ingin aku katakan adalah aku tidak tahu apakah masih sanggup bersamamu sedangkan aku tahu kamu kini benar-benar milik orang lain.

Kamu mengusap-usap permukaan buku yang tadi kuserahkan. “Kamu masih ingat tentang Ezra, kan? Setelah membaca kisahnya, I believe there’s always somebody for someone. Meski mungkin tidak pernah terbayang di benak kita bagaimana, kapan, dan dari mana ia datang.”

Aku mengangguk mendengar ucapanmu. Di luar, langit sore yang tadi biru telah berubah warna menjadi kelabu. Aku tidak menyadari sejak tadi awan-awan hitam telah bergelantungan. Lalu pandanganku teralih ke arahmu yang sedang melirik jam tangan.
“Sepertinya aku tidak bisa lama-lama,” katamu dengan berat hati. Aku mengangguk mengerti.

“Tidak apa-apa, aku juga mau pergi kok,” sahutku. Demi menghindari perpisahan yang canggung, aku segera berdiri dan pamit untuk membayar ke kasir. Kamu hanya mengangguk sambil membereskan tasmu.

Saat aku melangkah keluar, aku melihatmu masih berdiri di depan kedai. Hal yang berulang kali terjadi di sore-sore yang pernah kita lalui. Aku mendesah. Inilah perpisahan yang sesungguhnya, rutukku dalam hati.

“Apakah kamu akan tetap ke sini November nanti?” tanyamu terlihat ragu.
Kali ini aku menggeleng pasti, “Tidak. Aku akan meninggalkan kota ini sebulan lagi,” jawabku.

Aku langsung menyadari kekagetan dan kekecewaan yang tersirat jelas di wajahmu, dan bagaimana kau berusaha menyembunyikan hal itu dariku.

“Oh, kalau begitu sampai jumpa lagi. Sepertinya aku masih akan tetap ke sini,” ujarmu sambil memandang nanar kedai yang selalu kita singgahi.

Kemudian kita terjebak dalam keheningan yang panjang. Keheningan tanpa seorang pun dari kita yang berniat menyudahinya. Sampai tibalah rintik hujan pertama menjumpai bumi. Kamu menatap mataku lekat-lekat, seolah berusaha menyampaikan segala sesuatu yang tak sanggup dilisankan.

Aku sendiri masih menyimpan pertanyaan kepadamu. Pertanyaan yang pada akhirnya tak akan pernah kutahu jawabannya. Pertanyaan tentang kamu dan sore-sore yang pernah kita lalui. Apakah dulu, sebelum semua ini terjadi, aku pernah punya kesempatan untuk memiliki keduanya?

Derasnya hujan memecah keheningan kita. Kamu mengalihkan pandangan dan mengeluarkan payung dari dalam tasmu. Payung itu.

“Kamu masih pakai payung itu?” tanyaku, ada sedikit rasa takjub dan bangga di sana.

Kamu mengangguk, “Iya, ini payung favoritku. Payung kotak-kotak biru,” katamu sambil tersenyum. Sesaat, aku tersenyum juga. Terkenang saat kamu bilang kamu sengaja membeli payung itu karena motifnya mengingatkanmu padaku.

“Kemeja kamu juga masih ada, kan?” tanyamu. Aku mengangguk.

Kamu menatapku lama, “Hati-hati, ya. Jangan menghilang tanpa kabar lagi. Aku merindukanmu.”

Kemudian kamu melangkah pergi, menembus hujan. Menciptakan kecipak-kecipak air di atas trotoar yang kamu lewati. Sementara aku masih berdiri di sini. Memperhatikan air yang menetes-netes dari ujung payung favoritmu.

Aku harap ini bukan pertemuan kita yang terakhir kalinya. Namun jikalau seperti itu takdirnya, setidaknya kini aku mengetahui sesuatu. Tidak akan ada, tidak akan pernah ada, penggantimu. Dan mungkin, untuk pertama kalinya, pepatah yang mengatakan ‘There’s always somebody for someone’ tidak berlaku untukku.

Depok, 25 April 2016

*Kisah lanjutan dari Meet Me in November Rain dan Tea, Coffee, and Paris

Rainy Day in Oslo

rainy day in oslo16.15
Air hujan mengetuk-ngetuk kaca jendela café yang kusinggahi sejak tadi. Di luar, hujan masih turun dengan derasnya. Membuat keadaan sekeliling terlihat kabur. Berkali-kali aku melirik jam tanganku. Berkali-kali pula aku merasa lebih cemas dan panik dari sebelumnya.

Aku sedang menunggu seseorang di café ini. Dia biasanya datang pada pukul lima sore. Tetapi, karena kekhawatiranku yang terlalu berlebihan, aku sudah duduk manis di sini sejak pukul 4. Aku tidak mau datang terlambat. Lagipula, setidaknya pukul 4 tadi, hujan belum sederas sekarang.

Perlu kau ingat, menunggu tidak pernah menyenangkan. Bahkan meski itu ditemani novel favoritmu, secangkir kopi, dan suara lembut dari biduanita. Yah, setidaknya itulah yang kurasakan saat ini. Aku cemas, sangat cemas. Aku panik, sangat panik. Saking cemasnya, Gadis Jeruk yang kubaca tergeletak begitu saja dan suara penyanyi dari pengeras suara di cafe tidak terdengar olehku.

Bagaimana kalau dia tidak datang? Lebih buruk lagi, bagaimana kalau dia datang dan aku bersikap memalukan? Apakah aku terlihat terlalu gugup? Apakah aku tampak sepergi gadis remaja yang akan bertemu cinta pertamanya? Aku melirik jam tanganku lagi.

16.20
Cuaca di Oslo begitu dingin. Sejak tadi pagi angin berembus kencang, menggigilkan permukaan kulitku. Aku menggosok-gosok telapak tangan agar tanganku tidak kaku. Mataku memandang keluar, ke arah jalanan yang sepi. Sejak tadi hanya ada beberapa orang yang kulihat melintas jalan itu. Hujan seperti ini, siapa yang mau basah-basahan di luar? Lebih baik di dalam rumah, menghangatkan diri.

Pikiran itu membuatku teringat dengan diriku sendiri. Teman-temanku bilang aku gila, karena menempuh perjalanan sejauh ini hanya untuk bertemu dengannya. Bagiku, kenapa tidak? Sudah lama aku ingin bertemu dengannya. Sudah lama aku menyukai lagu-lagunya. Sudah lama suaranya menjadi lagu nina boboku. Kini, ketika kesempatan bertemu dengannya ada di depan mata, kenapa aku harus melewatkannya?

Ah, ada lagi yang perlu kau ingat, perempuan sepertiku sangat mudah jatuh cinta dengan suara dan gaya bicara. Perempuan sepertiku tak terlalu memikirkan tampang. Suara-lah yang paling penting. Mungkin itu juga alasan mengapa seorang atau sekelompok penyanyi laki-laki bisa digilai ribuan wanita. Karena kebanyakan –kubilang kebanyakan, bukan semua– perempuan memang lebih mudah terpesona pada suara.

Aku jadi ingat saat pertama kali aku mendengar suaranya. Saat itu umurku masih belasan tahun. Aku mendengar suaranya dari radio. Aku tidak tahu seperti apa rupanya. Tidak tahu siapa namanya. Tidak tahu apa-apa tentangnya. Namun, mendengar suaranya sudah cukup bagiku untuk tahu, aku benar-benar jatuh cinta pada suaranya.

Apa aku mulai meracau? Apa bicaraku mulai melantur ke mana-mana? Ah, mungkin terlalu lama menunggu seperti ini efeknya. Membuatmu meracau dan pikiranmu bertebaran ke mana-mana. Aku melirik jam tangan lagi.

16.25
Saat pertama kali aku menginjakkan kaki di Gardermoen, aku disambut oleh hawa dingin yang menusuk. Mungkin benar kata teman-temanku, aku memang gila. Pergi ke Eropa Utara tepat di masa dingin-dinginnya. Dan yang lebih parah, hanya untuk bertemu dengan seseorang yang aku kagumi dari jauh.

“Bagaimana kau akan bertahan di sana? Kau alergi dingin dan selalu bersin-bersin?” tanya temanku suatu kali, sebelum aku berangkat. Aku hanya tersenyum dan bilang padanya, aku akan baik-baik saja.

“Kau pikir kau ini siapa? Apa yang membuatmu yakin dia mau bertemu denganmu?” tanya temanku yang satu lagi. Lagi-lagi aku hanya tersenyum dan bilang padanya, aku tidak akan kecewa kalaupun nanti gagal bertemu dengannya.

“Kau yakin akan pulang lagi? Yakin tidak akan tertahan di sana karena laki-laki itu?” tanya temanku yang lain, dan aku hanya bisa tertawa. Aku bilang padanya, apapun bisa terjadi, so, we’ll wait and see.

Lalu akhirnya, temanku yang terakhir bertanya, “Seriously? Dia pria berumur 40an. Kenapa tidak cari yang… yah, lebih muda, 30an mungkin.” Tanya temanku yang paling optimis. Yang paling tahu siapa lelaki yang kukagumi. Yang pernah mendengar suara lelaki itu dan mengatakan kalau suaranya aurat, khususnya bagi para wanita. Suara yang tidak boleh sering-sering aku dengarkan.

Pernyataan terakhir membuatku senyum-senyum sendiri. Usianya memang lebih tua 15 tahun daripada aku. So why? Aku tidak menemukan kesalahan dari perbedaan usia kami. Lagipula, yah, memangnya aku akan benar-benar menjalin hubungan dengannya? It sounds like a wishful thinking, eh?

Kali ini aku tidak melirik jam tanganku, tapi jam dinding di cafe yang bernuansa retro ini.

16.30
Café yang kutempati sejak setengah jam lalu merupakan salah satu café terkenal di Oslo. Konon katanya, desain ruangannya meniru tren era 60an. Aku sendiri tidak tahu apa-apa soal desain dan furnitur. Jadi aku tidak terlalu memperhatikan. Aku hanya melihat sofa-sofa empuk berwarna coklat dan oranye tua di sudut ruangan. Sedangkan aku sendiri memilih duduk di meja berwarna hitam dengan kursi kayu berwarna coklat. Dinding kafe ramai dipajang lukisan-lukisan bernuansa vintage yang — lagi-lagi — tidak kukenal.

Secara keseluruhan, aku merasa kafe ini cukup nyaman. Di dalam ruangan terasa hangat dan ada aroma kopi menguar. Aku sendiri memesan secangkir espresso yang kuseruput pelan-pelan, agar tidak cepat habis. Aku menghitung mundur waktu yang terus berjalan. Setengah jam lagi. Setengah jam lagi dia akan tiba. Setengah jam lagi aku akan bertemu dengannya. Setengah jam lagi!

16.35
Tingkat kepanikan terus bertambah seiring menit-menit yang berlalu. Lima belas menit lagi. Aku sudah menyiapkan beberapa kalimat pembuka. Aku juga sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan yang mungkin ia tanyakan. Aku bahkan menghafal beberapa di antaranya.

Aku tahu aku sering dilanda panik berlebihan. Terutama untuk hal-hal yang tak bisa aku prediksi. Sayangnya, ada begitu banyak hal yang tak bisa kuprediksi.

Aku mengatur napas. Oke, mungkin ini saatnya aku ke kamar mandi dan melihat apakah ada noda kopi di wajahku atau mungkin bajuku. Maka aku beranjak meninggalkan meja yang sejak tadi kutempati. Aku tak peduli jika saat aku kembali, meja itu sudah ada yang menempati. Mungkin aku akan mencoba sofa berwarna oranye yang terlihat menggoda itu.

16.50
Aku tidak tahu apa yang aku pikirkan saat aku berangkat ke Oslo. Aku yakin, saat itu aku tidak berpikir apa-apa. Ya, kalau aku berpikir, pasti aku tidak akan berada di sini. Aku tidak akan senekat ini. Aku tidak akan sebodoh ini. Memangnya siapa aku, sampai merasa begitu yakin kalau lelaki yang kukagumi mau repot-repot berbicara denganku?

Ya Tuhan, aku memang sudah gila. Baru kali ini aku merasa jadi penguntit sungguhan. Penguntit yang menyebalkan.

Asal kau tahu saja, saking sukanya aku pada lelaki itu, aku mengikuti semua akun sosial media yang dia punya. Aku tahu – bahkan hafal – kegiatan apa saja yang sering ia lakukan, ke mana saja ia pergi, dengan siapa dia sering bertemu, dan aku menemukan kafe ini sering menjadi subjek fotonya.

Dia pengunjung tetap café ini. Beberapa kali ada penggemarnya yang sengaja datang ke sini untuk bertemu dengannya. Aku tahu itu dari foto yang dia unggah di akun Instagram-nya. Lalu tercetuslah ide gila ini. Ide tentang aku datang ke café favoritnya dan berharap bertemu dengannya lalu bisa mengobrol sebentar.

Oh, tapi sekarang aku berpikir. Benar-benar berpikir. Aku tidak tahu apakah aku masih seberani saat ide gila itu muncul. Apakah aku berani menanggung kecewa jika ia tidak datang hari ini? Apakah aku berani memandang matanya jika dia memang datang? Apakah aku masih berani berbicara setelah mendengar suaranya secara langsung???

Pikiranku semakin kacau. Tanpa sadar, jemariku mengetuk permukaan meja. Tuk, tuk, tuk, tuk. Kulihat, hujan di luar mulai reda.

17.00
Pukul lima tepat dan tidak ada tanda-tanda akan kedatangannya. Ada beberapa pengunjung yang baru masuk, tapi bukan dia. Aku mulai menyusun serangkaian alasan yang sekiranya menahan dia untuk datang ke café sore ini. Mungkin dia harus latihan vokal, mungkin dia harus rekaman, mungkin dia sedang sibuk menulis lirik lagu baru, mungkin dia ada wawancara dengan majalah atau radio, mungkin dia sedang ada syuting, mungkin dia…. Ah, tentu saja akan ada banyak alasan untuk penyanyi seperti dia. Memiliki kebiasaan mengunjungi café seminggu sekali bukan berarti harus selalu begitu setiap minggu. Iya, kan?

Aku melirik jam tanganku.

17.01
Masih pukul lima lewat satu. Aku memberi batas waktu untuk menunggunya sampai jam enam. Atau paling buruk, setengah tujuh malam. Setelah itu akan kembali ke hotel dan mencoba peruntunganku di hari esok.

Aku berusaha membesarkan hatiku. Tidak apa-apa kalau memang aku tidak bisa bertemu dengannya hari ini, di café ini. Masih ada hari esok dan lusa. Setidaknya aku sudah mencoba.

Aku mencoba tersenyum, walaupun rasanya pahit. Aku berusaha keras agar tidak melirik jam tanganku. Tapi pada akhirnya kulihat juga.

17.05
Dari arah jalan raya kulihat seorang laki-laki berjalan menuju café. Dia memakai mantel berwarna coklat dan celana panjang berwarna hitam. Rambutnya yang pirang terlihat sedikit basah, mungkin terkena sisa-sisa rintik hujan. Dia berjalan dengan langkah tegap dan pasti. Wajahnya, meskipun terlihat tirus, namun tampak seperti orang yang selalu tersenyum dengan lembut. Ada guratan-guratan halus di keningnya yang agak lebar.

Lelaki itu membuka pintu café. Aku tersenyum. Dia datang.

21 September 2015
menanti hujan tiba

#SekilasCurcol
Well, ide cerita ini muncul saat saya melihat postingan gambar di Instagram-nya Ben Adams. Di situ dia mengunggah foto area depan café yang dihiasi rintik-rintik hujan gitu. Anehnya, meskipun yang mengunggah Ben, tapi kok ya yang nongol di kepala langsung Christian Ingebrigtsen *fangirl mode on* :P. Langsung kepikiran bagaimana rasanya menunggu ketemuan dengan Christian, hahahahaha….

Kebetulan juga, minggu ini, lagu a1 cukup sering muncul di playlist. Jadi, yah, yah, gitu deh….Btw, bagi yang melewati awal tahun 2000an sebagai ABG labil pasti tahu a1 deh, atau paling enggak, pernah denger namanya 🙂