Hopes for My Blog

Hari ini adalah hari terakhir di bulan Maret, yang berarti genap sudah tiga bulan berlalu dari 2017. Saya–setelah berpikir cukup lama—memutuskan untuk menyelesaikan blogging challenge yang dimulai di awal tahun.

Seperti yang sudah-sudah terjadi, saya gagal lagi menjalankan semua tantangan yang ada di blogging challenge. Yah, begitulah, kalau mau beralasan, akan ada banyak alasan. Nggak tahu mau nulis apa, ada tema-tema challenge yang nggak pengen diumumin ke dunia luar, lupa buat nulis (ini parah), dan lain-lain.

Nah, supaya kesannya nggak gagal-gagal amat, saya akan menulis tema tantangan terakhir sekaligus penutupan blogging challenge (ihiiy, udah kayak majelis taklim emak-emak aja, ada penutupannya kalau mau puasa, wkwkwk).

Yup, tema terakhir ada hopes for my blog.

hopes-for-my-blog

Saya berharap blog ini bisa bertahan terus, bahkan hingga saya nenek-nenek (kalau ada umur) tetap menampilkan tulisan-tulisan. Mudah-mudahan tulisannya bermanfaat, paling tidak bagi saya sendiri. Daaannn… makin banyak yang mampir ke sini. Saya juga berharap bisa berkenalan dengan blogger-blogger keren lewat blog ini (beberapa udah kenalan, yang biasa komen di blog ini, I talked about you, hehehe).

Nah, menulis harapan untuk blog ini, menghasilkan kegalauan yang lain bagi saya.

Apa itu?

Honestly, saya kadang masih merasa bingung dan terombang-ambing loh, ini blog sebenernya tentang apa, sih?

Jadi, waktu awal membuat blog ini, niat saya adalah ingin memindahkan tulisan-tulisan lama di blogspot yang tidak berhubungan dengan buku. Selain itu, saya ingin blog ini menjadi rumah cerita saya, seperti yang pernah saya ceritakan di sini.

Masalahnya, apakah aneh jika di blog ini ada cerita fiksi sekaligus cerita nyampah pengalaman pribadi saya? Saya sering blogwalking dan melihat kebanyakan blog itu konsisten. Ada yang khusus curhat, ada yang khusus fashion, lifestyle, film, buku, resep, home décor, yah macam-macam pokoknya. Lalu, saya melihat blog sendiri. Ih, ini blog apa, sih? Maunya apa?

Sepertinya, memang harus punya perencanaan yang matang, ya, jika ingin mengelola blog. Yang saya rasakan saat ini hampir sama rasanya dengan pencarian jati diri. Tsaaaah…. Ya, pencarian jati diri untuk blog. Supaya konsisten, supaya punya branding khusus, sehingga baik yang menulis (saya) dan yang membaca (entah siapa), nggak bingung dan lebih nyaman berlama-lama di blog ini.

Untuk saat ini, saya kepikiran fokus ke curhat-curhat nyampah kehidupan sehari-hari, yang mudah-mudahan tetap bermanfaat, menginspirasi, dan memperluas wawasan (kok, tagline-nya jadi berat, yah?).

Oleh karena itu, dengan berat hati, saya putuskan untuk menghapus semua postingan Luluh. Mudah-mudahan, saya segera menemukan rumah baru untuk Luluh dan tulisan-tulisan fiksi saya yang lain. Tapiii, tenang aja, yang saya hapus hanya Luluh, kok. Tulisan fiksi yang lain akan tetap di blog ini, meskipun misalnya nanti saya temukan rumah baru untuk mereka. Siapa tahu, kalian kangen atau penasaran dengan tulisan-tulisan fiksi saya, jadi cukup berlama-lama di blog ini saja.

Saya juga dihantui dengan keinginan melahirkan fitur-fitur mingguan atau bulanan di blog ini. Supaya ada kategori postingan yang konsisten, semisal Things I Love, Friday Inspiration, Listopia, dan sebagainya. Banyak blog yang memiliki fitur-fitur menarik dan menginspirasi saya. Namun, sampai saat ini, saya masih galau mau fokus ke fitur seperti apa. Dan kelamaan galau ternyata nggak menghasilkan apa-apa, ya?

Ya sudah, daripada pembicaraan ini semakin mengalir entah ke mana, saya sudahi dulu postingan kali ini. Mudah-mudahan kamu–yang nggak sengaja (dan mungkin awalnya nggak niat) baca tulisan ini sampai selesai—nggak bosen untuk mampir ke sini lagi, ya!

 

Advertisements

10 Jajanan Favorit (plus Resepnya!)

Musim hujan begini biasanya nafsu makan bertambah. Bawaannya pengen nyemil atau makan terus, hehehe… Entah karena efek dingin yang bikin lapar atau memang suka makan. Nah, kali ini saya mau berbagi 10 jajanan favorit saya.

1. Cilok

Di urutan pertama ada Cilok alias ‘Aci Dicolok’. Saya suka makanan ini sejak kuliah. Jadi, di ujung jalan keluar dari Stasiun UI itu ada tukang cilok yang biasa mangkal. Awalnya saya nggak pernah tertarik beli cilok. Eh, pas nyobain cilok di situ langsung ketagihan. Jadilah, saya sering jajan cilok di situ.

Ciloknya enak, ukurannya nggak terlalu besar, jadi satu bulatan sekali suap bisa masuk. Aci-nya berasa, nggak hambar, tingkat kekenyalannya juga pas. Terus di dalam cilok itu ada isinya, seperti tetelan daging ukuran mini. Nama di gerobaknya sih, Cilok Bryan.

Selain di jalan Stasiun UI, gerobak Cilok Bryan juga pernah saya lihat di belakang Depok Town Square. Kalau sekarang, saya kurang tahu apakah penjualnya masih ada karena sudah jarang pergi ke sana. Sampai saat ini saya sering beli cilok di berbagai tempat, tapi belum ada yang rasanya seenak cilok di ujung jalan kampus itu.

2. Cakwe

Kalau yang ini sih jajanan favorit sejak kecil. Nggak tahu pastinya sejak kapan, mengingat ibu saya suka banget sama cakwe. Saya dan adik-adik jadi ikutan suka juga. Walaupun enggak terlalu sering beli cakwe, sih. Biasanya beli cakwe kalau ada momen tertentu seperti baru gajian, wkwkwk. Karena satu keluarga suka cakwe, jadi beli cakwe nggak bisa sedikit, dan berpengaruh ke kondisi dompet juga, hahahaha. Jadi, kalau pas beli cakwe itu terasa istimewa banget.

Setelah nikah, saya mengenalkan jajanan cakwe ke suami. Ternyata dia belum pernah makan cakwe, dan pas nyobain nggak terlalu suka. Saya sampai heran sendiri, kok, bisa sih ada yang nggak suka cakwe.

3. Otak-Otak Bakar

Ini juga salah satu jajanan istimewa. Yang suka beliin ini budhe saya, belinya di Stasiun Jakarta Kota atau di Depok Lama. Entah tepatnya di mana saya kurang tahu. Yang jelas, kalau saya suka beli di Stasiun Pondok Cina atau dekat jembatan penyebrangan di Terminal Depok.

Otak-otak bakar juga salah satu jajanan yang suami saya baru cobain, lho (Duh, ke mana aja nih si bapak -___- )

Saya sih udah suka jajanan ini dari jaman baheula. Nikmat banget otak-otak dicocol ke sambel kacang. Apalagi kalau masih hangat.

4. Batagor

Dulu saya suka beli batagor saat masa sekolah. Enak, kenyang, dan murah. Saya suka banget sama kulit batagor yang garing kriuk itu. Namun, entah kenapa, sekarang jarang beli. Padahal banyak tukang batagor berkeliaran.

5. Siomay

 

 

Sebenernya siomay bukan makanan yang favorit banget sih (terus kenapa dimasukin ke list ini woiii!), Cuma di depan kantor ada tukang siomay yang rasa siomaynya enak banget. Dan karena nggak ada tukang jualan lagi selain dia, mau nggak mau saya sering beli siomay enak tapi mahal ini. Tukang siomaynya jualan pakai motor dan pajang banner bertulis ‘Siomay Gondrong’.

6. Kue Pancong

Kue pancong biasanya dijual di pasar atau di dekat pasar. Saya suka karena adonan kelapanya terasa gurih di lidah. Apalagi dimakan pagi-pagi pas masih hangat. Duh, enak banget!

7. Kue Ape

Ini juga biasanya ada di dekat pasar. Kue ape itu enak dimakan kalau nggak laper-laper banget tapi pengen nyemil makanan, karena nggak terlalu bikin kenyang. Saya sih suka banget sama pinggirannya yang garing. Kue ape harus dimakan cepet-cepet. Kalau kelamaan, biasanya pinggirannya jadi nggak garing lagi.

8. Lumpia Basah

Saya baru tahu jajanan ini pas kuliah. Pas iseng-iseng main ke Bogor, melihat gerobak bertuliskan Lumpia Basah. Saya hanya tahu lumpia biasa yang digoreng. Nah, bedanya lumpia basah dengan lumpia yang lain adalah kulit lumpianya nggak digoreng. Jadi, masih empuk-empuk gitu. Isiannya sih hampir sama dengan lumpia biasa.

Sejak pertama kali nyobain lumpia basah, saya jadi naksir dengan makanan ini. Sayang, di tempat saya jarang ada penjualnya. Oya, cara makan lumpia basah juga unik, yaitu dengan sumpit.

9. Kue Rangi

Ini jajanan masa kanak-kanak, sih. Dulu waktu tinggal di Depok sering ada tukang kue rangi lewat, dan Mbah saya suka beliin. Sekilas kue rangi mirip dengan kue pancong, tapi kue rangi lebih kasar teksturnya. Terus yang bikin makin mantap adalah taburang gula merah cair di atasnya. Enaaaak banget. Kue rangi juga lebih enak dimakan selagi hangat.

10. Pastel

Makanan ini biasanya muncul di arisan, pengajian, atau di tukang nasi uduk, hehehe. Saya senang banget kalau nemuin pastel di antara gorengan-gorengan lainnya. Apalagi kalau sambalnya sambal kacang. Lezaaat banget. Apalagi kalau isi pastelnya telur. Makin lezaaat….

Walaupun saya suka pastel, tapi saya nggak terlalu suka dengan pinggiran pastel yang garing dan meliuk-liuk itu, lho.

Nah, itulah 10 jajanan favorit saya. Sebenarnya masih banyak, sih. Saya suka martabak telur, risol, sate padang (eh, ini masuk jajanan nggak sih? Atau lauk?), bubur ayam, dll. Tapi kalau semua dicantumin takut bikin tambah laper. Jadi, 10 aja, deh.

Oiya, di setiap source pic yang saya cantumkan, itu menuju web pemilik foto sekaligus resep makanannya. Jadi, bisa sekalian dilihat, siapa tahu tertarik untuk bikin. Saya sendiri belum pernah mencoba membuat satu pun, hahahaha….

*postingan ini untuk blogging challenge ’10 favorite foods’ *