Give Your Heart a Break

Aku menyerahkan berkas-berkas dokumen yang belum kulengkapi di ruang Tata Usaha. Seorang pemuda berseragam sama sepertiku yang mengurusnya.

Aku sedikit bingung, apakah sekolah ini memperkerjakan murid-murid sendiri untuk magang di kantor TU atau bagaimana. Tapi, murid laki-laki itu cukup mahir dalam mengerjakan tugasnya. Meski ia lebih sering menunduk daripada melihat wajahku.

Aku murid pindahan di sekolah ini. Namaku Adeline. Teman-temanku biasa memanggilku Adel. Aku belum lama pindah meninggalkan tempat tinggalku sebelumnya.

Sejujurnya, aku tidak berharap banyak pada lingkungan baruku, mengingat kota yang sekarang kutinggali bukan kota besar. Aku hanya berharap betah tinggal di sini.

“Halo Adel!” sapa Indra. Teman sekelas yang sejak hari pertama aku menginjakkan kaki di sekolah, sudah mulai curi-curi perhatian.

Aku bukannya menyombongkan diri, tapi setiap orang yang bertemu denganku mengakui kalau aku cantik. Kulitku kuning cerah, bersih, dengan rambut hitam legam yang panjang. Bentuk tubuhku proporsional, tidak terlalu kurus, tidak terlalu gemuk, dengan tinggi badan seukuran gadis remaja pada umumnya. Aku punya dua mata yang besar dan selalu terlihat berbinar jika aku sedang bahagia.

Murid-murid perempuan di kelasku, dan juga di kelas-kelas lainnya, tampak setengah kagum setengah iri saat melihatku untuk pertama kali. Ada juga yang mulai khawatir, takut kalau aku menjadi pesaingnya dalam menggaet cowok idaman. Tapi, tenang saja, aku bukan jenis gadis seperti itu. Aku tidak akan merebut pacar siapapun, idola siapapun, meski aku mati-matian menyukainya.

“Pulang sekolah, lo mau ke mana?” tanya Indra. Aku hanya tersenyum dan mengangkat bahu.

“Pulang ke rumah pastinya,” jawabku singkat. Lalu tidak menatapnya lagi, tidak sabar menunggu guru yang mengajar datang.
________________________________________

Aku memilih pulang melewati koridor yang terdapat ruang Tata Usaha. Entah mengapa, aku ingin melihat tempat itu lagi. Lebih tepatnya, ingin melihat pemuda itu lagi.

Dia masih ada di sana. Tubuhnya kurus dan tinggi, dengan kulit berwarna gelap dan kacamata kotak di wajahnya yang agak tirus. Dia tampak selalu murung jika sedang sendirian. Tapi cukup ramah untuk menyapa orang-orang yang berada di sekitarnya.

“Adel, ngapain? Nggak pulang?” tanya Hana yang melihatku berdiri sendirian. Aku tersenyum kepadanya.

“Itu, siapa ya?” tanyaku sambil menunjuk pemuda yang kulihat sejak tadi. Hana menghampiriku.

“Oh, itu Hady. Dia anak kelas sebelas juga. Anak sebelas IPS, tapi nggak tahu kelas yang mana. Dulu, waktu kelas sepuluh, gue sekelas sama dia. Kenapa?”

“Dia kerja di TU?”

Hana mengangguk. “Dia yatim piatu. Terus, biar bisa tetep sekolah, dia nyambi kerja di TU. Sekolah kita sih memang baik, dia tetep boleh sekolah dan dapet fasilitas yang sama kayak yang lain, dan dia juga tetep dapet gaji.”

Aku mengangguk mengerti. Oh, itu alasanya dia berada di sana. Kenapa ya, aku merasa ingin mengenal dia lebih jauh lagi? Kenapa aku jadi berharap bisa berkenalan dengannya?

“Pulang yuk!” ajak Hana menghentikan lamunanku. Aku mengiyakan ajakannya.
________________________________________

Esoknya, saat waktu istirahat hampir habis, aku malah berkeliaran di daerah kelas IPS. Berharap menemukan Hady di sana. Tapi yang kutemukan malah murid-murid cowok yang berusaha menyapaku dan memperkenalkan diri.

Aku hanya memberi senyumku pada mereka. Itu semua, lebih karena aku terlalu cemas berpapasan dengan Hady. Padahal, mungkin dia sama sekali tidak menyadari kehadiranku. Ah, tapi masa dia tidak tahu mengenai diriku. Aku dengar dari salah seorang murid perempuan di kelasku, namaku sudah terkenal di angkatan, dan bisa jadi akan meluas ke seantereo sekolah. Apalagi kalau bukan karena aku cantik dan kaya.

“Hai Adel! Lagi ngapain di sini? Butuh bantuan?” sapa seorang murid yang tak kukenal. Dia tersenyum sopan ke arahku. Di seragamnya tertulis nama Irfan. Aku menggeleng pelan, lalu perlahan menjauhinya.

Bel masuk berbunyi. Tapi Hady belum juga menunjukkan batang hidungnya. Aku masih belum berniat kembali ke kelasku. Aku benar-benar ingin tahu Hady berada di kelas apa. Jadi aku tetap berdiri, meski teman-temanku sudah masuk ke kelas masing-masing.

Lalu aku melihatnya. Berjalan dengan langkah yang biasa-biasa saja. Menundukkan wajah dengan tatapan sendu. Dia memasuki kelas 11 IPS 2. Aku mencatatnya baik-baik dalam hati. Kemudian kembali ke kelasku.

Di pelajaran terakhir, aku menawarkan diri untuk membantu guruku membawakan buku tugas yang akan diperiksanya. Awalnya, guruku menolak penawaranku. Mungkin karena merasa tidak enak atau bagaimana, sehingga beliau malah menyuruh murid laki-laki yang membantunya. Tapi aku memaksanya dan mengatakan kalau aku tidak apa-apa. Ah, tentu saja aku punya maksud tersembunyi. Aku tahu ruang guru berada sejajar dengan kantor TU. Jika aku ke sana, mungkin saja aku akan bertemu Hady.

Aku memang bertemu dengannya. Dia sedang berjalan ke arahku, lebih tepatnya menuju ruang TU saat aku keluar dari ruang guru. Aku berusaha tersenyum seindah dan setulus mungkin kepadanya, namun dia hanya menatapku sekilas.

“Hei!” seruku, membuatnya menghentikan langkah.

“Hai,” sahutnya singkat dan ragu.

“Hmm… aku murid baru di sekolah ini, namaku Adeline,” ujarku kikuk. Hei, kenapa aku melakukan tindakan seaneh ini? Kenapa aku mengenalkan diriku padanya? Dia pasti bingung tiba-tiba bertemu denganku.

“Hady,” jawabnya masih singkat. Lalu ia masuk ke ruang TU. Tidak menatap wajahku sama sekali. Aku menggeram dalam hati. Sikapnya yang sok dingin itu benar-benar menyebalkan!
________________________________________

Aku tidak tahu cara apa lagi yang bisa kulakukan untuk menarik perhatian Hady selain menyempatkan diri mengunjungi perpustakaan setiap hari, ketika waktu istirahat. Letak perpustakan sekolahku, bersebrangan dengan letak kantor TU. Aku tahu, Hady lebih suka menghabiskan waktu istirahatnya di sana, sambil mencicil pekerjaan, dan aku bisa sedikit-sedikit mengintip ke arah sana.

Aku tidak tahu, sampai kapan usaha kecilku ini akan berhasil. Awalnya, aku hanya mencuri pandang sesekali ke jendela TU. Lama kelamaan, aku memberanikan diri berjalan agak lama jika berada di depan ruangan itu, dan menatap agak lama.

Aku tidak tahu apakah Hady menyadari tingkahku, tapi aku yakin yang lain iya. Pegawai TU yang lain, seorang pemuda berumur 27 tahun dan seorang ibu muda sering memperhatikanku dengan curiga jika aku berada di dekat ruangan mereka. Kalau saja aku bisa mengatakan kepada mereka kalau aku hanya ingin melihat Hady.

“Lo ngapain di sini?” tanya sebuah suara, mengagetkanku. Bukan salah satu dari pegawai TU, melainkan murid juga sepertiku. Aku terhenyak dan menggeleng. Dia melihatku dengan tampang menyelidik dan sedikit sinis. Aku merengut sambil memperhatikan gadis di depanku.

Tampangnya biasa saja, masih lebih cantik aku, dan kulitnya agak gelap, tidak seterang milikku. Rambutnya yang panjang dikuncir kuda, dan bergoyang-goyang jika ia menggerakkan kepala. Tapi bukan itu yang membuat aku terus memperhatikannya. Dia memanggil Hady.

Hady keluar dari ruang TU dengan wajah sumringah sambil tersenyum lebar. Senyum pertama yang aku lihat di wajah Hady.

“Reina!” seru Hady. Perempuan itu tersenyum sambil menunjukkan kotak kecil yang sejak tadi berada di tangannya.

“Untuk kamu,” ujar gadis itu sambil mengulurkan kotaknya.
“Happy birthday!” serunya dengan suara yang tidak terlalu tinggi. Hady tampak begitu senang sampai terharu. Aku masih berdiri menonton mereka. Jadi hari ini Hady ulang tahun.

Hady hanya berucap terima kasih pelan. Aku menangkap sesuatu yang tak tersampaikan di wajahnya. Tapi lagi-lagi, Hady hanya menunduk dan kembali masuk ke dalam ruangan.

Meninggalkan aku, meninggalkan gadis itu yang tersenyum manis. Aku penasaran siapa dia sebenarnya. Apakah dia pacarnya Hady? Tapi sikap mereka tidak seperti sepasang kekasih. Bahkan sahabat dekatpun rasanya tidak. Tapi, kenapa perempuan itu sampai datang ke ruang TU hanya untuk memberikan hadiah?
________________________________________

“Itu siapa Han?” tanyaku pada Hana saat kami berjalan menuju laboraturium IPA. Aku menunjuk pada gadis berkuncir kuda yang kutemui kemarin, memberi hadiah ulang tahun kepada Hady.

“Oh, itu Reina. Agak tomboy dia. Waktu kelas sepuluh, dia pernah jatuh ke jurang sama kakak kelasnya. Kakak kelasnya bahkan sampai meninggal, lho!” ujar Hana memberikan keterangan tambahan.

Aku terperangah. Mengerikan sekali. Lalu bagaimana gadis itu bisa berteman dengan Hady? Jangan-jangan, nanti Hady diajaknya juga main ke jurang.

“Dia punya pacar sekarang?” tanyaku. Berharap jawabannya tidak, atau kalaupun iya, nama pacarnya bukan Hady yang kerja di TU.

“Hmm… gue nggak terlalu kenal dia Del. Tapi, kayaknya nggak punya. Tapi, mungkin juga punya. Bukan urusan gue. Bukan urusan kita.” Hana terus berjalan sambil mengunyah makanannya. Tidak terlalu tertarik dengan pertanyaan kulemparkan.

“Urusan gue!” sahutku cepat.

“Apa?” tanya Hana terkejut.

“Ehh… iya. Gue kemarin lihat dia sama Hady. Mereka pacaran?”

“Oh, itu! Dulu mereka sempet deket. Katanya sih Reina begitu kehilangan Kak Hakim, kakak kelasnya yang meninggal itu. Dan katanya, Hady mirip sama Kak Hakim. Terus gue nggak tahu kelanjutannya gimana. Kenapa lo? Kok, tiba-tiba peduli sama Hady dan Reina? Jangan bilang lo suka sama Hady?” tebak Hana. Aku menunduk.

“Aduh Adel, please, lo tuh punya segalanya buat dapetin orang yang jauh lebih baik daripada Hady. Lo tahu nggak, Reina aja cuma manfaatin dia, untuk nyembuhin kesedihannya karena ditinggal mati. Dan lo? Cewek cantik, kaya, dan disukai banyak cowok keren di sekolah ini, kenapa harus milih Hady?”

Baru kali ini, aku mendengar Hana berbicara sejujur itu. Di sekolah yang aku baru aku jalani selama dua bulan ini, aku memilih Hana sebagai teman terdekatku dibanding yang lain.

Aku memilihnya karena dia baik dan aku merasa nyaman dengannya. Dia tidak terlalu peduli dengan kecantikan atau kekayaan yang aku miliki. Mungkin, karena dia juga mempunyainya. Jadi, aneh sekali mendengar ucapannya.

“Kenapa? Kenapa memangnya Han? Itu salah?” protesku. Hana mengangguk.

“Lupain Hady. Kalau lo mau cari pacar, biar gue bantuin. Tapi jangan Hady,” pesan Hana. Aku menunduk. Menimbang kata-katanya.
________________________________________

Kali ini aku memberanikan diri untuk melakukan satu langkah baru. Aku tidak ke perpustakaan saat istirahat. Tapi ke sana setelah selesai kegiatan ekskul tari yang kuikuti.

Perpustakaan tetap buka sampai sekolah ditutup, itu sekitar pukul tujuh atau delapan malam. Ekskulku selesai pukul enam, begitu juga dengan pekerjaan Hady di ruang TU. Mungkin aku bisa menemuinya dan berbicara padanya di saat itu.

“Hai,” sapaku pada Hady saat kulihat ia keluar dari ruang TU. Ia menoleh padaku, memperhatikan wajahku, lalu membetulkan letak ransel hitam di punggungnya.

“Kita udah pernah kenalan, bukan?” katanya sambil berjalan meninggalkanku. Aku berusaha menjajari langkahnya yang cukup lebar.

“Iya. Sori kalau aku ganggu,” kataku. Dia berhenti dan menengok ke belakang. Aku pikir dia ingin mengatakan sesuatu. Tapi dia tidak mengatakan apa-apa.

“Kamu pulang ke arah mana?” tanyaku lagi.

“Bukan urusanmu,” jawabnya sambil berlalu. Meninggalkanku tanpa menoleh lagi.

Aku terdiam. Apakah ini termasuk salah satu permainannya? Apakah dia sudah tahu kalau aku menyukainya? Apakah ternyata selama ini dia sadar kalau selama ini aku sudah seperti setrika di koridor TU itu? Apakah dia ingin aku mengejarnya, hingga ia yakin aku memang menyukainya? Lalu merasa bangga karena dia berhasil membuat murid cantik ini jatuh cinta padanya?

Aku jadi memikirkan lagi kata-kata Hana. Mungkin ucapan Hana benar. Aku seharusnya tidak menyukai Hady. Tapi sisi hatiku yang lain mengatakan hal sebaliknya. Aku menangkap sesuatu dari wajahnya. Dan jika aku kaitkan dengan cerita Hana tentang Hady dan Reina, aku yakin laki-laki itu pasti sedang patah hati.
________________________________________

Aku melakukan hal yang sama seperti sore kemarin. Menunggu Hady hingga selesai kerja di ruang TU meskipun aku tidak ada ekskul. Dia tampak kaget saat melihatku lagi. Tapi hari ini, wajahnya tidak semurung yang biasa aku lihat.

“Kamu lagi,” katanya. Aku tersenyum.

“Aku hanya ingin berteman denganmu.”

“Apakah harus melalui upacara khusus? Maksudku, kalau mau berteman, ya berteman saja. Tidak perlu mengatakan apa-apa.”

“Iya, tapi kalau aku tidak mengatakan apa-apa, aku pasti disangka gadis aneh yang menguntitmu ke mana saja.”
“Apakah kau menguntitku?”

Aku menggeleng. “Tapi aku suka sama kamu,” ujarku jujur. Dia terhenyak.

“Kamu? Kenapa? Apa yang istimewa denganku?”

“Kamu beda. Kamu nggak seperti murid-murid lain, yang mengejar-ngejarku karena aku cantik.”

“Yah, darimana kamu yakin kalau aku beda? Bahkan kita belum pernah berbicara sebelumnya.”

“Aku hanya tahu.”

“Kalau begitu, boleh aku tambahin satu pengetahuan lagi untukmu? Aku tidak akan jatuh cinta lagi.”

Lalu dia berjalan. Meninggalkanku seperti kemarin.
Aku masih terheran-heran kenapa aku bisa senekat itu bicara padanya. Namun aku memang sudah lama ingin mengatakannya. Harusnya dia merasa mendapat anugrah karena telah disukai olehku. Aku yakin semua laki-laki menginginkan kalimat ku tadi. Hanya dia yang tidak.
________________________________________

“Jadi, boleh aku tahu kenapa kamu nggak mau jatuh cinta lagi?” tanyaku saat Hady –akhirnya- bersedia meluangkan waktunya di taman, tidak jauh dari sekolah kami. Saat itu langit sudah gelap, pertanda malam akan segera datang.

“Apa kamu selalu seperti ini, kepada setiap lelaki yang kamu sukai?” tanya Hady. Aku menggeleng.

“Nggak, ini pertama kalinya aku seperti ini. Sebelumnya, aku nggak pernah seperti ini kalau suka dengan seseorang. Yang perlu aku lakukan hanya memilih,” jawabku.

“Semua orang memang memilih. Kamu pikir, hanya dirimu saja yang memilih. Atau, kamu pikir, pilihan hanya sesempit itu artinya. Aku duduk di sini bersamamu pun adalah pilihan.”

Aku mengangguk. Pemikiranku tentang Hady yang berbeda memang benar adanya. Selain karena ia tidak mengejar-ngejarku seperti lelaki yang lain, ia juga berani berkata apa adanya. Sesuatu yang sangat jarang kutemukan.

“Apakah kamu mengharapkan sesuatu dariku?” tanya Hady lagi, melihat aku yang diam saja.

“Nggak tahu. Aku cuma ingin berteman denganmu,” jawabku. Mungkin, jika kita bisa saling mengenal, kamu mungkin akan menyukaiku juga, tambahku dalam hati.

Hei, jujur saja aku sangat ingin dia menyukaiku. Ini pertama kalinya aku tahu seperti apa rasanya menyukai secara sepihak. Rasanya sangat tidak enak.

“Aku senang bisa berteman denganmu. Sekarang kita teman!” serunya sok riang. Tapi aku tahu, dia hanya bermaksud menyenangkanku saja. Wajahnya tidak seriang suaranya.

“Maafkan aku. Aku hanya ingin memberi tahu satu hal. Selalu berikan kesempatan kepada hati kita untuk mencintai lagi. Sesakit apapun rasanya, tidak adil jika kita tidak mengizinkan hati kita untuk mencintai sekali lagi. Karena, kita kan tidak pernah tahu, di bagian yang mana, yang ternyata tepat untuk kita.”

Hady termenung mendengar ucapanku yang cukup panjang tadi. Dia tampak sedang mencerna kalimat-kalimat tersebut. Aku berharap, dia paham yang aku maksud. Aku berdiri, hendak beranjak pergi. Hady masih bergeming.

“Terima kasih untuk petang yang telah kau berikan untukku,” ujarku menutup pembicaraan. Lalu aku pergi.

Hady tidak mengatakan apa-apa. Hanya mengangguk sambil tersenyum sebentar. Mungkin ia masih ingin duduk-duduk di taman itu. Mungkin ia memikirkan kata-kataku tadi. Mudah-mudahan saja.

Dia bisa saja sebenarnya menyukaiku, hanya saja masih terlalu patah hati untuk mencoba memulai lagi. Aku hanya perlu memberi hatinya waktu untuk beristirahat.
________________________________________

17 February 2013

Advertisements

Walking in the Rain

15.45

Aku memandang cermin di meja riasku lalu melihat jam dinding. Menimbang-nimbang rencana yang ingin aku lakukan hari ini.

Dua hari lalu, aku baru saja pulang dari Oslo. Perjalanan sunyi yang cukup menyenangkan. Tidak, mungkin menyenangkan bukan kata yang cukup tepat. Perjalanan di Oslo membuatku lebih banyak merenungi berbagai hal yang terjadi di kehidupanku.

Aku melihat selembar foto yang kutempel di pinggiran cermin. Itu fotoku bersama Hana, sahabatku kala SMA. Kami berdiri berdua di depan kelas, memakai seragam putih abu-abu dan tersenyum sangat bahagia. Dulu, delapan tahun yang lalu. Perjalananku ke Oslo mengingatkanku akan masa-masa itu.

Delapan tahun sudah masa SMA-ku berlalu, tapi ada satu hal yang masih terus menghantuiku. Hady. Seringkali aku bertanya-tanya, dari sekian banyak murid laki-laki yang ada, mengapa harus dia? Dan yang lebih parah lagi, mengapa sampai begitu lama?

Dulu kupikir, setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah, aku akan melupakan perasaanku terhadap Hady. Aku akan bertemu dengan banyak orang baru, memiliki banyak kegiatan baru, dan hal-hal baru lainnya yang akan memupus ingatanku tentang Hady.

Nyatanya aku salah. Kehidupan baru tidak menjamin kau bisa melupakan seseorang yang pernah begitu kau sukai. Kehadiran orang-orang baru tidak serta merta menggantikan seseorang yang memasuki tempat istimewa dalam hidupmu. Atau setidaknya, begitulah yang terjadi dengan Hady dalam hidupku.

Mungkin awalnya aku hanya menyukainya. Mondar-mandir di depan ruang Tata Usaha demi melihatnya sebentar saja. Lalu aku mulai berani menyapanya. Dia tidak mengacuhkanku. Aku tidak habis akal. Aku terus menyapanya dan akhirnya dia mau bicara padaku.

Aku tahu, Hady menyukai Reina, gadis tomboy anak pecinta alam itu. Aku tahu, Reina tidak menyukai Hady. Aku tahu, Reina tahu aku menyukai Hady. Aku tahu, Reina tahu Hady tidak menyukaiku. Belum. Aku tahu, suatu hari nanti Hady akan menyukaiku. Aku tahu, suatu hari nanti Hady akan melihatku. Benar-benar melihatku. Yang aku tidak tahu, kapan itu semua akan terjadi.

15.55

Aku melihat selembar foto lainnya yang juga kupajang di pinggiran cermin. Itu salah satu foto dari sesi pemotretan untuk sampul majalah remaja di mana aku menjadi modelnya. Di foto itu, aku sedang duduk bersama teman-teman modelku di studio bersama properti-properti pemotretan. Saat itu temanya ulang tahun, studio foto kami penuh dengan tiruan kue-kue, permen, dan makanan-makanan manis lainnya.

Bukan tema ulang tahunnya yang istimewa bagiku, tapi peristiwa setelah pemotretan itu, yang hingga kini masih terekam jelas dalam benakku. Sore itu, selesai pemotretan, aku duduk-duduk santai bersama teman-temanku. Tidak lama, Mikha memberi tahu kalau ada yang menungguku di ruang tamu redaksi.

Aku terkejut melihat sosok yang diam membisu menungguku. Hady. Aku tidak tahu apa yang membuatnya berpikir untuk datang ke situ.

“Hady?” tanyaku heran.

“Hai, Adel! Hmm… aku dengar dari Hana, hari ini kamu pemotretan,” katanya terdengar kikuk. Aku mengangguk sambil tersenyum, meski masih tidak bisa menyembunyikan keherananku. “Hmm… aku tidak tahu, apakah aku ganggu. Tapi aku ingin bicara denganmu. Jadi… kupikir… aku… hmmm… yah, datang ke sini untuk bertanya….” Lanjutnya terbata-bata.

“Oh, iya, boleh kok. Ya sudah, sekalian aku pulang aja, deh. Tunggu, ya!” ujarku yang langsung berlari ke studio. Buru-buru mengambil tas dan pamit pada teman-temanku yang lain.

Seharusnya aku dijemput oleh Pak Kirman, supir pribadiku. Kenyataannya aku bilang padanya kalau aku pulang bersama teman dan beliau tak perlu menjemputku. Hady tidak mengendarai apa-apa saat mengajakku pergi. Kami berjalan kaki. Aku tidak peduli.

Aku masih ingat sore itu. Cuacanya mendung, berkali-kali angin bertiup kencang. Saat itu akhir bulan Januari. Hujan masih setia datang menghampiri hari-hari kami.

Sepanjang jalan, aku menebak-nebak dengan gembira. Aku yakin hari ini Hady akan menyatakan cintanya padaku. Aku tahu itu.

“Adel, ada yang ingin aku bilang ke kamu,” kata Hady. Aku mengangguk dan tersenyum, seolah memberinya persetujuan. Kulihat wajah Hady tampak tidak tenang.

“Maaf, kalau ini menyinggungmu… Tapi… aku pikir… sepertinya… kamu nggak perlu lagi mendekatiku…. Maksudku, sebaiknya kita berteman seperti biasa saja… kau tahu kan… aku tidak bisa menyukaimu… setidaknya…”

“Cukup!” selaku dengan marah. Rasa-rasanya aku ingin menendang Hady hingga ia tak terlihat lagi di depan mataku. Rasa-rasanya aku ingin meninju mukanya berkali-kali. Rasa-rasanya aku ingin melemparinya dengan batu. Agar ia tahu seperti apa sakitnya dibilang seperti itu.

“Dasar bodoh!!” teriakku akhirnya. “Kamu tahu nggak sih, kalau Reina itu nggak pernah suka sama kamu! Kamu tahu nggak sih, kalau selama ini Reina cuma manfaatin kamu?!”

“Aku tahu,” sahut Hady, cepat dan tegas, “Reina sendiri yang bilang begitu padaku. Lalu kenapa? Apa dengan begitu kamu merasa berhak untuk aku sukai?!”

“Nggak! Nggak perlu! Aku nggak butuh orang yang bodoh dan buta untuk menyukaiku!!!” seruku kesal. Lalu aku berlari. Berlari meninggalkan Hady. Berlari meninggalkan perasaanku. Yang ternyata tak pernah mau pergi.

Tidak lama, hujan turun dengan derasnya. Rinai-rinainya menyembunyikan air mata yang mengalir di wajahku.

16.10

Aku memain-mainkan miniatur troll dan gantungan kunci berhias cetakan kecil kaki beruang. Meja riasku berantakan, foto-foto jepretanku di Oslo dan beberapa kartu pos bergambar lukisan Munch berserakan di atasnya.

Sejak tadi aku memperhatikan barang-barang itu. Tidak banyak oleh-oleh yang kubeli di Oslo. Segala-gala yang dijual di kota itu bisa dibilang berharga mahal. Lagipula, tidak banyak juga yang ingin kubeli di sana, dan tidak banyak pula orang yang harus kubelikan oleh-oleh. Bahkan sangat sedikit yang mengetahui kepergianku ke Oslo, kecuali orang tua dan empat teman-teman terdekatku. Namun saat di kota itu, tepatnya setelah aku berbincang singkat dengan Christian, aku didera keinginan untuk membeli sesuatu untuk Hady.

Ah ya, aku lupa menceritakanmu tentang Christian. Dia itu lelaki penyanyiku. Lelaki bersuara auratku. Lelaki yang fotonya ada di wallpaper smartphoneku. Lelaki yang suaranya mengisi playlistku. Lelaki yang –yah, berat untuk kukatakan- merupakan pelarianku. Pelarianku dari Hady. Pelarianku dari patah hati yang tak berkesudahan ini.

Pertanyaannya di café sore itu yang menyadarkanku. Aku tahu, jauh di dalam hatiku, bukan keinginan bertemu Christian yang ingin aku dapatkan di Oslo. Jauh di dalam hatiku, yang aku inginkan hanyalah seseorang yang baru, yang benar-benar membuatku melupakan Hady. Benar-benar melupakan Hady.

Hanya saja, bodohnya, aku tidak belajar dari kegagalanku di masa kuliah. Ada berapa orang baru yang aku kenal di kampus? Banyak. Tapi tidak ada satu pun yang mampu menggantikan Hady di pikiranku.

Christian bilang kepadaku, pada akhirnya kita tidak bisa terus-menerus melarikan diri. Pada akhirnya, kita harus benar-benar merelakannya pergi. Pada akhirnya, aku tahu inilah saatnya aku melepaskan harapan-harapanku tentang Hady.

16.20

Aku melirik jam dinding sekali lagi. Cukup lama aku termenung-menung di depan cermin tanpa melakukan apa-apa. Tadi pagi aku berencana untuk mengunjungi Hady. Memberinya oleh-oleh Oslo-ku. Mengatakan padanya kalau aku berharap kami bisa berteman lagi. Karena kali ini, aku telah melepaskan mimpi-mimpi masa remajaku tentangnya.

Namun aku masih ragu. Bagaimana jika Hady masih tidak mau menemuiku? Bagaimana jika Hady masih tidak ingin berbicara denganku? Setelah kejadian sore itu, aku dan Hady tak pernah bertegur sapa, meskipun kami satu sekolah. Lalu saat kuliah, aku tak banyak berkomunikasi dengannya.

Hady pernah beberapa kali menghubungiku di tahun terakhir kuliah. Hanya bertanya singkat tentang kabarku, dan tidak ada lagi obrolan-obrolan lanjutan. Saat itu, aku pun sudah putus asa dan tidak melakukan apa-apa. Aku tidak kabar Hady setelah itu, karena ia benar-benar tidak pernah muncul lagi.

16.25

Ada ketukan di pintu kamarku. “Adel!” Itu suara Mama.

Aku beranjak membukanya, “Ada apa, Ma?” tanyaku tak bersemangat.

“Ada tamu di depan, cari kamu,” kata Mama sambil tersenyum. Aku mengernyit heran. Sejak kapan ada tamu mencariku?

Aku mengangguk dan kembali ke meja rias. Menyisir rambut dan merapikan baju yang kukenakan. Aku bersyukur, setidaknya aku sudah mengenakan pakaian yang layak untuk menyambut tamu.

16.30

Aku berjalan dengan gontai menuju teras. Jangan bilang, tamu itu adalah agensi yang menawariku untuk mejadi model atau bintang iklan. Aku sudah pensiun dari profesiku yang satu itu.

Awalnya, aku tidak terlalu mengenali lelaki yang duduk di kursi kayu di depan rumahku. Dia memakai kaca mata. Wajahnya agak tirus. Kulitnya berwarna gelap. Dia menoleh ke arahku.

“Hady?” tanyaku, tak mempercayai mataku karena melihatnya. Tak mempecayai suaraku karena masih mampu menyebut namanya.

“Adel, apa kabar?” balas Hady. Wajahnya tidak menampakan raut bahagia, tapi juga tidak menampakkan wajah sedih. Ia tampak gugup. Segugup saat ia menemuiku seusai pemotretan dulu. Pikiranku mulai mengira sesuatu yang buruk akan terjadi.

“Baik,” jawabku singkat. Tadinya aku ingin bertanya kenapa ke sini, tapi kedengarannya tidak terlalu sopan. Jadi aku diam saja, menunggu dia bicara.

“Hmm… aku ke sini mau memberikan undangan,” kata Hady lagi.

“Oh.” Hanya itu yang keluar dari mulutku. Harusnya aku sudah mengira, jika Hady jauh-jauh menemuiku, berarti ada kabar buruk yang ingin ia sampaikan. Harusnya aku sudah tidak kaget lagi. Tapi tetap saja, aku kaget.

Hady mengangsurkan undangan berwarna hijau kepadaku. Dengan berat hati aku menerimanya, tanpa sedikit pun keinginan untuk membacanya. Tanganku yang memegang undangan, langsung kutaruh di belakang punggung.

“Kok nggak dibuka?” tanya Hady bingung.

Oh, apakah dia harus melakukan ini juga terhadapku? Memaksaku mengakui kekalahanku? Baiklah, jika itu memang keinginannya, akan aku kabulkan.

Aku membuka amplop hijau yang berhias sulur-sulur cantik dan terhenyak melihat kepada siapa undangan itu ditujukan.

Kepada saudara/i: Muhammad Hady dan Adeline Camilla.

Apa maksudnya ini? Aku menatap undangan itu dengan penuh kebingungan.

“Itu undangan dari Reina. Dia akan menikah dua minggu lagi. Aku disuruh menyampaikannya padamu,” kata Hady akhirnya.

Aku melihat lagi undangan tersebut. Memastikan bahwa aku tidak salah lihat. Selama ini, aku belum pernah mendengar ada gadis yang bernama Adeline Camilla juga. Jadi kemungkinan besar, undangan itu memang untukku.

“Tapi kenapa? Kenapa Reina mengundang kita berdua dalam satu undangan? Apakah dia ingin irit?” tanyaku agak sinis. Berhasil menahan diriku untuk tidak mengatakan pelit.

“Dia ingin kita datang berdua,” jawab Hady singkat. “Tapi, itu pun kalau kamu tidak keberatan. Maksudku… aku sama sekali tidak keberatan…”

Aku menghela nafas. Aku tidak tahu apa yang ada di kepala gadis menyebalkan itu saat merencanakan hal ini. Aku membayangkan dia tertawa-tawa saat mengatakan rencananya pada calon suaminya. Ugh!

“Aku nggak tahu apa aku bisa datang, tapi, yah baiklah, akan aku usahakan. Oya, tunggu sebentar, aku ada sesuatu untukmu,” kataku teringat troll kecil yang sejak tadi bertengger manis di meja riasku.

16.45

Aku kembali ke teras dengan membawa troll kecil, beberapa lembar foto dan kartu pos. Aku memasukkan semua benda-benda itu ke dalam satu kantong kertas berpita cantik. Aku tahu, rasanya tidak cocok memberi laki-laki oleh-oleh dengan bungkus seperti itu. Tapi apa boleh buat, aku belum sempat membungkusnya, dan satu-satunya yang kupunya hanya kantong kertas itu.

“Ini sedikit oleh-oleh dari Oslo,” kataku sambil menyerahkan kantong kertas itu kepada Hady. Hady menatapku dengan wajah penuh tanda tanya.

“Kamu habis dari Oslo?” tanyanya. Aku mengangguk.

“Hanya berjalan-jalan. Tidak lama,” jawabku singkat. Kali ini, gantian Hady yang mengangguk.

“Hmmm… kalau begitu, aku pamit dulu, Adel… Maaf kalau ganggu,” ujar Hady.

Aku tersenyum tipis. “Nggak kok. Sejujurnya aku senang, tadinya aku pikir, kita nggak akan pernah ketemu lagi.”

Hady berdiri dan menatap mataku. “Kamu tahu Adel, akhir-akhir ini aku sering memikirkan kata-kata yang pernah kamu bilang dulu.”

“Yang mana?” tanyaku penasaran. Jadi, ada kalimatku yang masih diingat Hady sampai sekarang?

“Selalu berikan kesempatan pada hatimu untuk mencintai lagi. Karena kita tidak tahu, bagian mana yang ternyata tepat untuk kita,” jawab Hady mantap.

Aku tercenung. Aku tidak ingat kalau aku pernah mengatakan hal sebijak itu. Mungkin Hady hanya berhalusinasi. Atau mungkin, saat aku mengucapkannya, aku sedang berhalusinasi. Yang jelas, aku tidak tahu apakah aku benar-benar mengucapkan kalimat itu. Tapi aku tidak ingin mematahkan hati Hady, seperti dia pernah mematahkan hatiku. Jadi kukatakan padanya, “Yah, itu benar. Tapi itu tidak berarti kau harus mencintai orang yang sama, yang pernah menyakitimu.”

Hady mengangguk, lalu beranjak dan pamit pulang seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang amat menjunjung sopan santun. Aku mengantarnya sampai gerbang depan. Kami tidak berbicara apa-apa sepanjang perjalanan singkat itu.

Di balik pagar, motor Hady telah menunggu. Sebelum pergi, dia sempat berbalik padaku, “Kamu tahu Adel, kamu benar sore itu. Aku bodoh, dan juga buta. Aku hanya berharap kamu mau memaafkanku.”

Aku menunduk, tidak menjawab apa-apa. Berbalik pergi meninggalkan Hady seperti yang kulakukan padanya delapan tahun yang lalu. Dari langit, gerimis rintik-rintik mulai turun. Sepertinya ingin kembali menyembunyikan air mataku. Sayangnya, kali ini mereka gagal.

Depok, 3 November 2015

(Cerita ini adalah kelanjutan dari Rainy Day in Oslo dan puisi Runaway)