Pada Suatu Pagi Berkabut, Aku Mencintaimu

ciremaiShubuh itu, langit di kaki Gunung Ciremai berkabut. Aku memperhatikan uap tipis mengambang di atas petak-petak sawah yang menghijau. Cuaca pagi ini dingin seperti biasa. Tadi malam, hujan mengguyur desa tanpa jeda. Menguarkan segarnya aroma tanah basah.

Aku duduk di pinggir jendela. Melihat kabut itu perlahan-lahan menghilang seiring sinar matahari yang merayap naik. Dari luar, terdengar pintu kamarku diketuk.

“A’ Arif?” terdengar suara Rini memanggil namaku. Aku menghela napas lalu membuka pintu. Rini tersenyum kepadaku sambil membawa secangkir teh hangat.

“Ini tehnya A’. Rini juga sudah buatkan sarapan. Ada tempe goreng dan urap. Rini juga goreng ubi. Untuk bekal Aa’,” kata Rini sambil menyerahkan cangkir teh kepadaku.

“Makasih Rin, sebentar lagi Aa’ berangkat,” jawabku. Rini mengangguk dan langsung berbalik pergi.

Aku menyesap teh hangat yang dibuatkan Rini untukku. Rini sangat tahu seperti apa teh kesukaanku. Tehnya harus teh melati tanpa gula. Airnya harus suam-suam kuku, aku tidak suka yang terlalu panas. Satu lagi, tehnya harus diseduh di cangkir putih kesayanganku. Aku punya selusin cangkir putih, dan Rini tak pernah membuat teh di cangkir atau gelas lain.

Aku menyeruput tehku lagi sambil memandang keluar. Rini. Nama itu kembali terngiang. Aku mencintai gadis itu lebih lama dari yang aku sadari. Aku bahkan tidak tahu sejak kapan perasaanku kepada Rini menjadi seperti yang kurasakan sekarang. Aku tidak tahu. Yang aku tahu, aku tidak mungkin terus seperti ini. Aku tidak mungkin terus tinggal bersama Rini.

Aku keluar kamar. Melewati meja dapur dan mengambil bekal yang disiapkan Rini untukku.

“Rin, Aa’ berangkat dulu ya!” seruku sambil mengambil caping dan cangkul.

Suara Rini terdengar dari arah kamar mandi, bercampur dengan suara air yang mengalir. Sepertinya dia sedang mencuci baju.

“Iya, A’! Hati-hati!” sahutnya.

—–

Aku melangkah perlahan, tidak terlalu yakin untuk buru-buru meninggalkan rumah. Aku tidak pernah ingin meninggalkan Rini sendirian. Meskipun aku tahu Rini sanggup menjaga dirinya.

Selama ini aku selalu dibayangi kekhawatiran, atau mungkin lebih tepatnya ketakutan. Aku takut Rini jatuh cinta pada lelaki lain. Aku takut ada lelaki lain yang menginginkan Rini. Aku takut sesuatu yang buruk menimpa Rini dan aku tidak berada di sana untuk menyelamatkannya. Aku takut tidak bisa menjaga Rini dengan baik seperti keinginan orang tuaku.

Aku berjalan sambil menatap Gunung Ciremai yang berdiri kokoh di hadapanku. Aku mencintai Ciremai, sama seperti aku mencintai kabut. Keduanya sangat indah ketika berpadu di pagi hari. Sejak pertama kali aku bisa mengingat, aku tak pernah melewatkan pagiku tanpa memandang Ciremai bersama kabut tipis yang menyelubunginya.

Ciremai adalah gunung yang cantik. Ketika pagi cerah, aku bisa melihat dengan jelas hijaunya pohon-pohon yang tumbuh di sana. Seringkali di puncaknya terdapat segumpal awan putih yang mengambang, laksana sebuah topi. Setiap kali melihat Ciremai, aku merasa tenang, dan itulah yang aku lakukan sekarang. Menatap Ciremai, menenangkan hati, berusaha mengabaikan perasaanku pada Rini.

—–

Saat siang menjelang, aku beristirahat di dangau sambil menyantap masakan Rini. Biasanya aku pulang ke rumah untuk makan siang, sekaligus mengecek apakah Rini baik-baik saja. Kenyataannya, setiap kali aku pulang Rini selalu baik-baik saja. Terkadang dia sibuk membaca majalah yang dipinjamnya dari tetangga, terkadang dia menyeterika baju sambil menonton televisi. Namun apapun kegiatannya, Rini selalu menemaniku makan di meja makan. Sayangnya, sawah yang kugarap kali ini lumayan jauh, sehingga tak cukup waktuku pulang ke rumah untuk makan siang.

Saat makan, aku melihat langit yang tadinya cerah perlahan-lahan berubah menjadi kelabu. Aku melihat ada awan hitam yang berarak mendekati area sawah yang sedang kukerjakan. Mungkin sebentar lagi akan turun hujan.

Seusai makan, embusan angin terasa makin kencang. Perutku yang kenyang membuat kelopak mataku enggan terbuka. Teman-temanku sesama buruh tani kebanyakan sudah kembali ke sawah. Namun aku masih ingin beristirahat. Aku menyelonjorkan kaki di dangau sambil menatap langit. Kembali memikirkan Rini.

Rini gadis yang cantik. Dia memiliki bola mata hitam yang berbinar dan kulit kuning langsat yang sangat halus. Bibirnya tipis berwarna merah muda tanpa pulasan apa-apa. Setiap kali dia tersenyum atau tertawa, aku selalu bertanya-tanya, apakah dia benar-benar manusia atau bidadari yang jatuh dari surga.

Nampaknya Rini memang bidadari yang jatuh dari surga. Hanya saja dia datang untuk menghukumku. Memberiku musibah dengan tumbuhnya perasaan-perasaan yang tak seharusnya kumiliki untuk Rini. Tapi sekarang aku memilikinya dan tidak bisa mengenyahkannya. Seandainya saja dia tahu betapa kerasnya aku berusaha menghilangkan perasaan itu. Ah, tapi tentu saja Rini tidak tahu apa-apa. Aku menjaga perasaanku rapat-rapat, hingga angin saja tak dapat mengetahuinya.

Aku pernah meminta agar aku menjadi kabut saja. Karena aku tak sanggup melihat Rini suatu hari nanti menikah dengan laki-laki lain. Menikah, berumah tangga, melahirkan anak-anak lucu seindah dirinya, dan meninggalkanku. Meninggalkanku yang selama ini menjaganya dengan seluruh jiwa dan raga. Bagaimana mungkin aku sanggup?

Hujan turun perlahan-lahan. Lalu berubah semakin deras, deras, dan deras hingga aku tidak bisa melihat dengan jelas sawah di dekatku. Aku tetap berlindung di dangau, yang kayunya berkeriat-keriut terkena angin. Air hujan tampias, membasahi baju dan rantang makanku. Aku memejamkan mata. Aku berharap Rini baik-baik saja di rumah. Aku berharap aku jadi kabut saja.

—–

Aku terbangun dan menyadari hari telah gelap. Sepertinya hujan telah reda sejak tadi dan aku tertidur begitu lama. Aneh, mengapa tidak ada yang membangunkanku?

Aku mencari-cari rantang makanku, tapi tidak ada. Ah, siapa pula yang ingin mencuri rantang kosong? Aku tidak habis pikir, tapi kuputuskan untuk pulang saja. Rini mungkin cemas menungguku di rumah.

Aku beranjak dan menyadari tubuhku terasa ringan sekali. Rasanya seperti tak memiliki berat badan. Aku berjalan dengan cepat, berharap segera sampai di rumah.

—–

Aku baru sampai di gang menuju rumahku ketika aku melihat orang-orang berkerumun di teras rumah. Perasaanku mulai tidak menentu. Aku takut sesuatu yang buruk terjadi pada Rini.

Aku berjalan cepat sekali. Tetangga-tetangga yang berkumpul mengabaikan kedatanganku. Aku tidak peduli dan langsung menerobos masuk. Aku melihat Rini sedang menangis tergugu. Di sampingnya ada Bi Uun, tetangga samping rumah kami, dan Pak Wawan si Ketua RT. Mereka berdua tampak berusaha menenangkan Rini.

“Neng Rini, tadi bapak-bapak di sini sudah berusaha mencari A’Arif, tapi nggak ketemu. Terakhir kali mereka melihat kakak kamu duduk di dangau. Tapi setelah hujan turun, kakakmu sudah nggak ada di sana. Insya Allah, masih ada bapak-bapak lain yang terus mencari Arif. Sampai besok, kalau Arif belum ketemu, kita lapor polisi, ya?”

Perkataan panjang lebar Pak Wawan membuatku segera berteriak, mengatakan kalau aku ada di sini. Namun tenggorokanku tercekat, tidak ada suara yang keluar. Aku menarik tangan Rini yang masih terus menangis, dan aku terkesiap. Aku tidak ada.

Aku tidak ada. Aku tidak bisa menyentuh Rini. Aku tidak bisa bicara pada Rini. Aku tidak bisa menenangkannya saat dia menangis seperti yang sejak dulu aku lakukan sewaktu kami masih kecil. Aku kehilangan Rini. Aku kehilangan Rini. Aku kehilangan Rini.

—–

Tuhan mungkin benar-benar menghukumku karena telah jatuh cinta pada adik kandungku sendiri. Tapi Dia berbaik hati mengabulkan keinginanku. Setidaknya, sampai saat ini aku masih bisa terus menjaga Rini.

Seperti pagi ini, bertahun-tahun setelah aku pergi. Aku berdiri di depan teras rumah kami, yang sekarang ditinggali Rini dan suaminya. Semenjak aku pergi, Rini sering sekali berdiam di depan teras, menatap kabut di depannya. Aku mendengar suaminya berbicara.

“Rin, kamu ngerasa aneh nggak, sih? Kok rumah kita selalu dinaungi kabut, ya? Pagi, siang, sore, malam, musim kemarau, musim hujan, selalu ada kabut. Tapi di tempat lain nggak ada,” tanya suaminya heran. Suami Rini adalah seorang laki-laki tampan yang garis wajahnya tak berbeda jauh dariku.

Rini termenung. Matanya menerawang memandang kabut yang mengambang tipis di depan rumahnya. “Nggak aneh, sejak dulu kabut itu ada di sini. Dan kadang-kadang, aku melihat wajah A’ Arif di tengah kabut itu,” kata Rini.

—–

Depok, 5 November 2015
Untuk Ciremai dan kabutnya yang selalu aku rindukan

Tulisan ini terinspirasi dari puisi Seperti Kabut milik Sapardi Djoko Damono, yang ditulis untuk tantangan #SatuSeminggu #PuisiYangBercerita

Seperti Kabut
aku akan menyayangimu
seperti kabut yang raib di cahaya matahari
:
aku akan menjelma awan
hati-hati mendaki bukit
agar bisa menghujanimu
:
pada suatu hari baik nanti

(Sumber foto: Dokumen Pribadi)

Bulan

Yang pertama kali kulihat adalah matanya. Ya, matanya. Bola matanya berwarna biru. Biru yang bukan sekadar biru. Satu-satunya biru yang kuingat, yang kuanggap paling mendekati warna bola matanya, adalah biru pada api.

Kau pernah menyalakan lilin? Kau lihat ada warna biru di dasar api yang menyala? Nah, birunya mirip seperti itu. Hanya saja, biru matanya lebih cemerlang. Lebih indah dari biru apapun yang pernah kulihat.

Lalu rambutnya. Rambutnya lurus dan tersisir rapi. Warnanya hitam. Pekat. Seolah sumber warna hitam yang selama ini ada berasal dari rambutnya. Namun hanya dua hal itu yang mencolok dari penampilannya. Karena sisanya pucat. Iya, pucat.

Wajahnya pucat. Bibirnya pucat. Kancing paling atas kemeja putihnya terbuka, menampakkan leher dan dadanya yang pucat. Lengannya pucat. Aku melihat ke bawah. Dia memakai celana putih dan kakinya yang telanjang juga pucat.

Dia tersenyum padaku.

“Mengapa kau sendirian di sini?” tanyanya.

“Aku sedang menunggu bulan. Biasanya aku bercakap-cakap dengannya di malam hari. Aneh, dia belum juga muncul. Padahal kemarin dia berjanji akan menemuiku malam ini,” kataku sambil menatap langit.

Dia tersenyum lagi kepadaku.

“Mungkin bulan sedang memberi kesempatan kepadamu,” ujarnya.

“Kesempatan apa?” tanyaku.

“Kesempatan untuk berbicara denganku,” jawabnya.

Dia tersenyum lagi lalu mengulurkan tangannya yang kurus seperti ranting kayu ke arahku. “Bagaimana kalau kita berdansa saja?”

Aku tertegun. Merasa tertarik dengan ajakannya namun ragu. “Tapi aku tidak bisa berdansa,” kataku.

“Oh, jangan khawatir. Kau hanya perlu memegang pundak dan tanganku,” katanya meyakinkan.

Lalu aku menyentuh tangannya, perlahan-lahan. Kulitnya dingin, dingin sekali. Aku merasa seperti sedang menyentuh es batu yang disimpan di kulkas berminggu-minggu lamanya.

Ketika tanganku sudah berada di pundak dan sebelah tangannya, dia meraih jemariku dan meletakkan tangan yang satu lagi di pinggangku. Kakinya mulai melangkah, ke kanan, ke kanan, lalu ke kiri. Aku mengikuti gerakannya. Ke kanan, ke kanan, lalu ke kiri.

Mata biru cemerlangnya menatapku. “Bagaimana?” tanyanya.

“Tidak buruk,” jawabku lalu tersenyum.

Dia mengangkat kedua tangan kami yang saling berjalin lalu menggenggamnya dengan erat.

“Mengapa tanganmu dingin sekali?” tanyaku akhirnya.

“Karena aku jauh dari matahari,” jawabnya singkat. Tangan kirinya yang berada di pinggangku bergerak, merapatkan tubuh tubuh kami.

“Mengapa kau memilih bercakap-cakap dengan bulan?” tanyanya.

“Karena bulan indah, dan satu-satunya yang mengerti apa yang kubicarakan. Maksudku, tak pernah ada yang benar-benar memahami diriku, bahkan aku sendiri. Tapi bulan, dia begitu memahamiku.”

Menjawab pertanyaannya membuatku terkenang dengan malam-malam yang kuhabiskan bersama bulan. Seringnya aku bertanya banyak hal pada bulan, tapi bulan tak selalu memiliki jawaban yang kuinginkan. Sebaliknya, bulan membisikiku hal yang tak pernah terpikirkan.

“Seperti?” tanyanya.

“Hmmm…??” sahutku tak mengerti.

“Kau bilang bulan sering membisikimu. Apa yang dia bisikkan?”

Aku tersenyum kepadanya. Lalu mendekatkan mulutku ke telinganya. Dengan lirih aku berkata, “Bintang-bintang telah mati. Yang kau lihat di langit hanyalah masa lalu. Bintang-bintang itu, mereka bersinar sejak ribuan tahun lamanya dan kini telah tiada. Kau jangan sampai tertipu…”

“Karena satu-satunya yang ada bersamamu malam ini adalah aku,” lanjutnya memotong bisikanku.

Aku tercengang. “Bagaimana kau tahu? Kupikir bulan hanya membagi rahasianya kepadaku,” tanyaku heran dan agak sedikit kecewa.

“Ya, tentu saja.” Hanya itu yang dia katakan, lalu melanjutkan langkah-langkah pelan kaki kami yang berdansa.

“Pernahkah kau berpikir, ingin meninggalkan tempat ini?” tanyanya lagi.

“Hmm… aku sempat berpikir seperti itu. Tapi aku tidak tahu harus pergi ke mana,” jawabku.

“Maukah kau ikut denganku?” ajaknya.

Aku tersenyum kepadanya. Alih-alih menjawab pertanyaan, aku malah membelai pipinya yang dingin dengan ujung jemariku.

“Oh, ya? Kau ingin membawaku ke mana?” tanyaku.

Dia tersenyum, “Aku akan membawamu ke tempat bintang-bintang baru dilahirkan dan bersiap meledak. Aku akan membawamu ke tempat komet-komet bersembunyi sebelum akhirnya melintas bumi. Aku akan membawamu ke tempat meteor-meteor menari sebelum akhirnya turun menjadi hujan meteor. Aku akan membawa ke tempat di mana hanya kamu menjadi satu-satunya orang yang aku cintai.”

Aku tertawa mendengar jawabannya. “Kau tak mungkin mencintaiku. Kita baru saja bertemu,” sanggahku.

Dia menghentikan langkah kaki kami, lalu menatapku lamat-lamat. “Apakah kau masih ingat apa yang bulan katakan kemarin malam?” tanyanya.

Aku mengangguk. “Bulan bilang, besok ia akan menemuiku lagi.”

“Apakah kau tidak penasaran mengapa tidak ada bulan malam ini, padahal tidak ada awan yang menutupinya sama sekali?”

Aku mendongak ke atas. Melihat langit. Benar juga katanya. Lalu di mana bulan sekarang, gumamku dalam hati.

“Di sini. Di depanmu,” katanya.

Aku ternganga. Mataku terbuka selebar-lebarnya menatap dia.

“Bulan??” Hanya itu yang bisa keluar dari mulutku.

Dia tersenyum, “Kau mau kan ikut denganku? Karena aku telah menggadaikan tugasku untuk bumi untuk mencintaimu.”

Aku masih menatapnya tak percaya.

“Tak pernahkah kau sadari betapa istimewanya dirimu? Hanya kau yang bisa melihat peri-peri di balik bunga dan mengajak bernyanyi pohon cemara. Hanya kau yang mengetahui bahwa pelangi benar-benar tangga dan hujan adalah doa. Orang-orang yang bersamamu, mereka orang-orang bodoh. Mereka tidak pernah mengerti. Mereka tidak akan pernah memahamimu. Hanya aku. Hanya aku yang mengerti. Karena hanya aku yang mencintaimu sepenuh hati. Jadi, maukah kau ikut aku pergi?”

Aku terpana. Kalimat bulan cukup panjang dan butuh waktu bagiku untuk mencerna semuanya. Setelah yakin, aku mengangguk. “Ya, aku mau ikut denganmu,” kataku mantap.

Bulan tersenyum, “Kalau begitu,” katanya sambil merapatkan jemarinya pada jemariku, “Pejamkan matamu dan jangan lepaskan tanganku.”

Aku patuh. Tidak lama, aku merasa kakiku tidak lagi menginjak bumi. Aku berhasil pergi.

Ribuan hari berlalu sejak aku pergi bersama bulan. Kami hidup bahagia dan saling jatuh cinta. Suatu hari, sebuah komet menghampiri kami.

“Kau tahu tidak, di bumi, manusia mulai bertanya-tanya mengapa bulan tidak pernah muncul lagi. Pasang surut air laut mulai tak terkendali dan perhitungan waktu mereka menjadi kacau,” kata komet.

Aku hanya bisa terperangah. Tak menyangka kalau kepergian bulan dapat meninggalkan kerusakan yang begitu parah.

“Oh komet, katakan pada manusia di bumi sana, mereka harus segera mencari penggantiku. Karena aku telah menukar seluruh hidupku untuk mencintainya,” kata bulan pada komet. Lalu bulan menatapku sambil tersenyum.

Aku membalas senyumnya, lalu berbisik di telinganya. “Kau tahu, dari segalanya yang teristimewa, kaulah yang paling istimewa bagiku.” Dan komet pun pergi, melintasi bumi.

17 Oktober 2015