Menjadi Penulis (yang Tidak Hanya Sekadar Menulis)

menjadi-penulis

Semalam, saya membaca status teman saya di Facebook. Dia bertanya kepada saya bagaimana caranya jadi penulis. Jujur, saya terharu sekali ditanya begitu. Bukan apa-apa, saya merasa bukan orang yang layak diajukan pertanyaan semacam itu (eeaaaaa). Mungkin pertanyaan itu lebih cocok ditanyakan kepada Tere Liye, Asma Nadia, Dee, atau JK Rowling (kalau dia bisa bahasa Indonesia, hehehe…)

Akan tetapi, sebagai teman yang baik, saya akan berusaha menjawab sesuai dengan kemampuan dan pengalaman saya yang masih cimit-cimit banget dalam dunia tulis menulis.

Apa yang harus dilakukan untuk menjadi penulis? Perlu diingat kembali, penulis berasal dari kata tulis yang artinya menulis (KBBI). Jadi, yang dilakukan untuk menjadi penulis sebenarnya sederhana saja, menulis.

Namun, apakah sesederhana itu?

Jujur saja, saya sering secara sadar maupun tidak sadar menggampangkan profesi penulis. Maksudnya, saya menganggap menulis adalah sesuatu yang mudah dan hampir bisa dilakukan semua orang. Iya, kan? Toh, tinggal menulis. Yang jadi pembeda adalah apakah tulisan itu layak dibaca atau enggak. (Mungkin lain kali, saya bakal ulas tentang tulisan yang layak baca.) Sekarang, balik lagi ke pertanyaan pertama, apa yang harus dilakukan untuk menjadi penulis yang tulisannya layak dibaca?

1. Membaca

Tidak seperti pertanyaan rumit ayam atau telur, untuk menjadi penulis harus dimulai dengan suka membaca. Saya berani jamin, para penulis buku best seller di toko-toko buku itu adalah orang-orang yang suka membaca. Kalau enggak suka membaca? Ya, enggak usah menulis. Sesederhana itu.

Atau mungkin, sebenarnya suka membaca, tetapi tidak dianggap membaca. Maksudnya begini, kadang kita menganggap orang yang suka membaca adalah orang yang suka membaca novel atau buku-buku nonfiksi tebal dan semacamnya. Padahal kan, membaca nggak sesempit itu. Membaca bisa bermacam-macam, membaca majalah, artikel di internet, membaca brosur, leaflet, dan lain-lain juga termasuk membaca. Nah, jenis bacaan inilah yang akan membentuk/memengaruhi tulisan kita nantinya.

2. Mengkhayal

Setelah membaca, mau tidak mau ada sesuatu yang masuk ke otak kita. Nah, saat itulah kita masuk ke tahap “mengkhayal” alias merangkum apa-apa saja yang ingin kita tulis. Proses “mengkhayal” inilah yang akan melahirkan apa yang orang-orang bilang sebagai ide.

Durasi “mengkhayal” tiap orang berbeda, tergantung kepribadian dan jenis tulisan yang ingin dibuat. Saya sendiri menganggap, fase mengkhayal ini nggak usah terlalu lama. Semakin lama sesuatu dipikirkan, akan semakin banyak hal lain yang ditambahkan, yang ujung-ujungnya membuat kepala pening. Lebih baik, jika ada satu ide, langsung tulis saja.

3. Menulis

Ya, benar, langsung tulis saja. Tulis semua yang terpikirkan. Tulis, tulis, tulis, sampai habis ada kata-kata yang ingin dikeluarkan.

4. Istirahat

Iya, dong. Kan capek, habis membaca, mengkhayal, menulis. Makan dulu, minum dulu, tidur dulu, hehehehe. Istirahat ini maksudnya dipendam dulu hasil tulisan kita. Jangan terburu-buru untuk mengedit atau bahkan mempublikasikannya ke dunia luar. Apalagi kalau kita ingin tulisan kita menjadi tulisan yang layak dibaca.

5. Menyunting

Ingat, ya, bukan mempersunting, tetapi menyunting alias mengedit tulisan kita. Proses menyunting ini bisa dianggap sebagai penentu apakah tulisan kita adalah jenis tulisan yang layak dibaca. Beberapa hal yang biasanya menjadi perhatian dalam proses menyunting seperti: ejaan, tata bahasa, gaya bahasa, kebenaran fakta yang dicantumkan dalam tulisan, dan lain-lain (boleh tambah sendiri).

Selama proses menyunting, bisa juga meminta bantuan dari teman, pasangan, anak, siapa pun yang kita percaya, untuk membaca tulisan kita. Kadang, sebagai penulis kita menganggap tulisan kita sudah sempurna tanpa cela. Biasanya orang lain-lah yang menemukan hal-hal mengganjal (yang perlu dibuang atau ditambah) dalam tulisan kita. Setelah itu, kita bisa memperbaiki tulisan awal kita.

6. Biarkan Dunia Tahu

Iya, dong, kan sayang, sudah capek-capek membaca, mengkhayal, menulis, merevisi, terus tulisannya dipendam begitu saja. Di zaman serba canggih ini, banyak cara yang bisa dilakukan agar dunia membaca tulisan kita. Bisa kirim ke penerbit, kirim ke majalah/koran, unggah di blog, atau kita cetak sendiri dan bagi-bagi ke orang-orang yang kita temui. Yah, kecuali kalau orangnya pemalu seperti saya (eaaaaa) yang kebanyakan tulisannya berakhir jadi file di laptop, hehehe.

Dengan membiarkan orang-orang membaca tulisan kita, kita akan mendapat banyak feedback yang boleh jadi meningkatkan kualitas tulisan kita. Kritik dan saran yang positif dapat kita ambil dan kelola, sehingga tulisan berikutnya lebih baik dari sebelumnya.

Nah, seperti itulah jawaban saya jika ada yang bertanya bagaimana caranya menjadi penulis. Yang perlu diingat, saya sama sekali bukan penulis professional, bukan penulis buku-buku best seller, bahkan menulis di blog saja masih jarang. Jadi, enam cara di atas boleh dipraktikkan, boleh juga tidak. Boleh ditambahkan, boleh juga dikurangi.

Boleh juga baca tulisan saya yang lain tentang mencari sumber ide, langkah menulis cerpen, dan mengirim naskah ke penerbit. Mudah-mudahan bermanfaat. Yang penting adalah tetap semangat menulis!

Bagaimana dengan kamu? Menurutmu, apa sih yang perlu dilakukan untuk menjadi penulis?

Tips Agar Naskahmu Diterima Penerbit

photo-1461218821725-ec98ac649fab

Salah satu tugas editor selain menyunting naskah adalah menyeleksi naskah masuk. Menyeleksi naskah masuk ini adalah pekerjaan yang seru-seru gimanaaaa gitu. Ada berbagai jenis naskah yang masuk dan harus kita cek satu per satu. Ada naskah yang ditulis dengan baik, ada juga yang tidak. Ada yang temanya sesuai dengan penerbit, ada yang jauh sekali.

Nah, dalam tulisan kali ini, saya ingin berbagi tips agar tulisan disukai, bahkan diterima penerbit. Sebelum membaca lebih jauh, saya ingin mengingatkan bahwa tips yang saya bagi ini tidak menjamin naskah kamu diterima penerbit. Saya hanya ingin berbagi pengalaman saja, pengalaman yang masih sangat sedikit dibanding rekan-rekan editor lainnya yang sudah ahli.

Kita mulai, ya…

1. Perhatikan Penerbit Incaranmu
Kamu sudah punya naskah siap kirim? Atau kamu sudah punya niat menulis tetapi masih tidak tahu tulisanmu mau dikirim ke mana?

Hal pertama yang perlu diperhatikan dalam kirim-mengirim naskah adalah menentukan penerbit yang ingin kamu tuju. Ya, iya dong, kalau nggak tahu mau dikirim ke mana, nantinya salah alamat, hehehehe.

Kalau kamu sudah punya naskah siap kirim, tetapi tidak tahu mau kirim ke mana, coba perhatikan lagi naskahmu. Tema-nya apa, genre-nya apa, diperuntukkan untuk siapa, lalu kamu perhatikan penerbit apa yang biasanya menerbitkan buku-buku yang setipe dengan tulisanmu. Biasanya, setiap penerbit memiliki karakteristik masing-masing, tergantung ideologi dan misi yang dibawa.

Sementara itu, bagi kamu yang masih blank mau menulis apa, tetapi memiliki keinginan untuk menulis dan mengirimkannya ke penerbit, coba lihat-lihat lagi, deh, penerbit apa yang paling menarik hatimu. Akan lebih mudah kalau kita mengirim tulisan ke penerbit yang buku-bukunya sering kita baca, atau paling tidak, kita cukup tahu buku seperti apa yang mereka terbitkan. Dari sini, kita bisa tahu jenis naskah apa yang mereka cari, dan mulai mencari ide untuk bahan tulisan kita.

Oiya, saat ini hampir setiap penerbit memiliki website atau media sosial yang bisa kamu kunjungi. Di sana biasanya mereka melampirkan buku-buku yang telah terbit dan ketentuan kirim naskah. Jadi, kita bisa lebih mudah dalam menentukan penerbit yang akan dituju.

Pokoknya, jangan sampai salah kirim tulisan, ya! Misalnya, kamu mengirim tulisanmu yang bertema kuliner atau resep masakan ke penerbit yang khusus menerbitkan novel atau pengetahuan teknologi. Wah, itu sih fatal banget, hehehe.

2. Kirim Naskah Sesuai Ketentuan
Setelah memiliki naskah siap kirim dan sudah tahu penerbit yang dituju, pastikan teknis pengiriman naskahmu sesuai dengan ketentuan yang diberikan penerbit. Ketentuan pengiriman naskah biasanya seperti naskah dikirim via surel, file naskah harus Words atau PDF, naskah ditulis dengan font dan ukuruan tertentu, dan lain-lain.

Kalau penerbit incaranmu memiliki ketentuan khusus dalam pengiriman naskah, patuhi saja. Ketentuan seperti itu dibuat untuk memudahkan penerbit dalam menyeleksi dan merekap naskah masuk. Kalau tidak ada ketentuan khusus, pakailah ketentuan yang sudah umum dipakai dalam mengirimkan naskah. Apa itu? Lanjut ke bagian selanjutnya, ya.

3. Perhatikan Kelengkapan Pengiriman Naskah
Jika penerbit incaranmu tidak memiliki ketentuan khusus, misalnya hanya disuruh mengirim naskah ke alamat surel atau alamat wilayah tertentu (jika pakai pos), paling tidak ada tiga hal yang perlu kamu sertakan dalam pengiriman naskah.

Pertama adalah lembar/surat pengantar. Pengantar ini isinya sederhana saja, yang menyampaikan bahwa kamu, atas nama ‘….’, mengirimkan naskah berjudul ‘…..’, dan keterangan lain yang kamu rasa perlu disampaikan, seperti keunggulan naskah, produk kompetitor (kalau ada), dan jangan lupa, sinopsis naskahmu. Sinopsis sangat penting dicantumkan, terutama jika naskahmu tergolong naskah tebal seperti novel atau buku teks.

Kedua, naskah itu sendiri.

Ketiga, biodata penulis alias biodata kamu. Biodata tidak perlu panjang-panjang (tidak perlu makanan favorit, minuman favorit, hehehehe….), yang penting nama (nama asli, kalau ada nama pena boleh juga disertakan), alamat domisili, nomor telepon yang bisa dihubungi, alamat surel (jika ada), nomor rekening (jika ada).
Kalau kamu sudah punya buku atau tulisan yang diterbitkan, bisa juga kamu cantumkan. Kalau kamu aktif di dunia maya, bisa juga kamu sertakan link blog atau websitemu. Kamu juga bisa mencantumkan foto dan status pekerjaanmu jika dirasa perlu.

4. Perhatikan Tulisanmu Sekali Lagi
Setelah semuanya siap, coba perhatikan lagi naskahmu. Apakah tulisanmu sudah patuh pada Ejaan Bahasa Indonesia (EBI), apakah sudah menggunakan tata bahasa yang baik dan benar, dan apakah tulisanmu sudah sesuai kriteria penerbit incaranmu. Jika sudah semua, yes, kamu bisa segera kirim naskahmu.

Bagaimana jika belum?

Pertama adalah tentang ejaan. Tulisan yang patuh pada ejaan jauh lebih disukai editor. Editor jadi lebih nyaman membaca dan menilai naskahmu. Jika ejaannya berantakan, duuuuh … jangan tanya, deh. Saya masih menemukan tulisan dengan ejaan yang kacau. Kalau sudah begitu, biasanya saya menyiapkan energi lebih besar untuk membaca naskah tersebut, hehehe…. Jadi, kalau kamu merasa ejaan tulisanmu masih berantakan, tolong dirapikan, ya!

(Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia bisa kamu lihat di sini, lho )

Kedua adalah tata dan gaya bahasa. Ada penerbit yang membolehkan menggunakan bahasa gaul atau bahasa daerah. Ada juga yang wajib menggunakan bahasa baku. Intinya, kamu cek lagi apakah tulisanmu sudah sesuai dengan gaya tulisan yang biasa diterbitkan di penerbit incaranmu. Oh iya, perhatikan juga sasaran pembaca naskahmu. Kalau untuk anak, pastikan tulisanmu mudah dimengerti anak, kalau untuk remaja, pastikan tulisanmu dekat dengan bahasa remaja, dan lain sebagainya.

Ketiga adalah kesesuaian naskahmu dengan ketentuan dari penerbit. Mulai dari tema, kriteria penulisan, dan kelengkapan lainnya yang harus kamu patuhi. Pokoknya jangan sampai nggak nyambung, ya, antara naskah yang kamu kirim dengan penerbit incaranmu.

5. Tunggu dengan Sabar
Setelah mengirim naskah, saatnya kamu menunggu dengan sabar, hehehe…. Yang mengirim naskah tidak kamu saja, ada banyak naskah masuk lainnya yang juga harus dicek penerbit. Tentu saja hal itu butuh waktu. Jadi, saat ini, kamu tinggal berdoa agar naskahmu dibaca dan dianggap layak diterbitkan. Biasanya waktu paling lama penilaian naskah adalah tiga bulan. Lebih dari itu, jika tidak ada kabar dari penerbit incaranmu, kamu boleh bertanya kepada mereka tentang nasib naskahmu.

Itulah sedikit tips yang bisa saya bagikan. Mudah, kan?

Selamat menulis!