Tips Agar Naskahmu Diterima Penerbit

photo-1461218821725-ec98ac649fab

Salah satu tugas editor selain menyunting naskah adalah menyeleksi naskah masuk. Menyeleksi naskah masuk ini adalah pekerjaan yang seru-seru gimanaaaa gitu. Ada berbagai jenis naskah yang masuk dan harus kita cek satu per satu. Ada naskah yang ditulis dengan baik, ada juga yang tidak. Ada yang temanya sesuai dengan penerbit, ada yang jauh sekali.

Nah, dalam tulisan kali ini, saya ingin berbagi tips agar tulisan disukai, bahkan diterima penerbit. Sebelum membaca lebih jauh, saya ingin mengingatkan bahwa tips yang saya bagi ini tidak menjamin naskah kamu diterima penerbit. Saya hanya ingin berbagi pengalaman saja, pengalaman yang masih sangat sedikit dibanding rekan-rekan editor lainnya yang sudah ahli.

Kita mulai, ya…

1. Perhatikan Penerbit Incaranmu
Kamu sudah punya naskah siap kirim? Atau kamu sudah punya niat menulis tetapi masih tidak tahu tulisanmu mau dikirim ke mana?

Hal pertama yang perlu diperhatikan dalam kirim-mengirim naskah adalah menentukan penerbit yang ingin kamu tuju. Ya, iya dong, kalau nggak tahu mau dikirim ke mana, nantinya salah alamat, hehehehe.

Kalau kamu sudah punya naskah siap kirim, tetapi tidak tahu mau kirim ke mana, coba perhatikan lagi naskahmu. Tema-nya apa, genre-nya apa, diperuntukkan untuk siapa, lalu kamu perhatikan penerbit apa yang biasanya menerbitkan buku-buku yang setipe dengan tulisanmu. Biasanya, setiap penerbit memiliki karakteristik masing-masing, tergantung ideologi dan misi yang dibawa.

Sementara itu, bagi kamu yang masih blank mau menulis apa, tetapi memiliki keinginan untuk menulis dan mengirimkannya ke penerbit, coba lihat-lihat lagi, deh, penerbit apa yang paling menarik hatimu. Akan lebih mudah kalau kita mengirim tulisan ke penerbit yang buku-bukunya sering kita baca, atau paling tidak, kita cukup tahu buku seperti apa yang mereka terbitkan. Dari sini, kita bisa tahu jenis naskah apa yang mereka cari, dan mulai mencari ide untuk bahan tulisan kita.

Oiya, saat ini hampir setiap penerbit memiliki website atau media sosial yang bisa kamu kunjungi. Di sana biasanya mereka melampirkan buku-buku yang telah terbit dan ketentuan kirim naskah. Jadi, kita bisa lebih mudah dalam menentukan penerbit yang akan dituju.

Pokoknya, jangan sampai salah kirim tulisan, ya! Misalnya, kamu mengirim tulisanmu yang bertema kuliner atau resep masakan ke penerbit yang khusus menerbitkan novel atau pengetahuan teknologi. Wah, itu sih fatal banget, hehehe.

2. Kirim Naskah Sesuai Ketentuan
Setelah memiliki naskah siap kirim dan sudah tahu penerbit yang dituju, pastikan teknis pengiriman naskahmu sesuai dengan ketentuan yang diberikan penerbit. Ketentuan pengiriman naskah biasanya seperti naskah dikirim via surel, file naskah harus Words atau PDF, naskah ditulis dengan font dan ukuruan tertentu, dan lain-lain.

Kalau penerbit incaranmu memiliki ketentuan khusus dalam pengiriman naskah, patuhi saja. Ketentuan seperti itu dibuat untuk memudahkan penerbit dalam menyeleksi dan merekap naskah masuk. Kalau tidak ada ketentuan khusus, pakailah ketentuan yang sudah umum dipakai dalam mengirimkan naskah. Apa itu? Lanjut ke bagian selanjutnya, ya.

3. Perhatikan Kelengkapan Pengiriman Naskah
Jika penerbit incaranmu tidak memiliki ketentuan khusus, misalnya hanya disuruh mengirim naskah ke alamat surel atau alamat wilayah tertentu (jika pakai pos), paling tidak ada tiga hal yang perlu kamu sertakan dalam pengiriman naskah.

Pertama adalah lembar/surat pengantar. Pengantar ini isinya sederhana saja, yang menyampaikan bahwa kamu, atas nama ‘….’, mengirimkan naskah berjudul ‘…..’, dan keterangan lain yang kamu rasa perlu disampaikan, seperti keunggulan naskah, produk kompetitor (kalau ada), dan jangan lupa, sinopsis naskahmu. Sinopsis sangat penting dicantumkan, terutama jika naskahmu tergolong naskah tebal seperti novel atau buku teks.

Kedua, naskah itu sendiri.

Ketiga, biodata penulis alias biodata kamu. Biodata tidak perlu panjang-panjang (tidak perlu makanan favorit, minuman favorit, hehehehe….), yang penting nama (nama asli, kalau ada nama pena boleh juga disertakan), alamat domisili, nomor telepon yang bisa dihubungi, alamat surel (jika ada), nomor rekening (jika ada).
Kalau kamu sudah punya buku atau tulisan yang diterbitkan, bisa juga kamu cantumkan. Kalau kamu aktif di dunia maya, bisa juga kamu sertakan link blog atau websitemu. Kamu juga bisa mencantumkan foto dan status pekerjaanmu jika dirasa perlu.

4. Perhatikan Tulisanmu Sekali Lagi
Setelah semuanya siap, coba perhatikan lagi naskahmu. Apakah tulisanmu sudah patuh pada Ejaan Bahasa Indonesia (EBI), apakah sudah menggunakan tata bahasa yang baik dan benar, dan apakah tulisanmu sudah sesuai kriteria penerbit incaranmu. Jika sudah semua, yes, kamu bisa segera kirim naskahmu.

Bagaimana jika belum?

Pertama adalah tentang ejaan. Tulisan yang patuh pada ejaan jauh lebih disukai editor. Editor jadi lebih nyaman membaca dan menilai naskahmu. Jika ejaannya berantakan, duuuuh … jangan tanya, deh. Saya masih menemukan tulisan dengan ejaan yang kacau. Kalau sudah begitu, biasanya saya menyiapkan energi lebih besar untuk membaca naskah tersebut, hehehe…. Jadi, kalau kamu merasa ejaan tulisanmu masih berantakan, tolong dirapikan, ya!

(Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia bisa kamu lihat di sini, lho )

Kedua adalah tata dan gaya bahasa. Ada penerbit yang membolehkan menggunakan bahasa gaul atau bahasa daerah. Ada juga yang wajib menggunakan bahasa baku. Intinya, kamu cek lagi apakah tulisanmu sudah sesuai dengan gaya tulisan yang biasa diterbitkan di penerbit incaranmu. Oh iya, perhatikan juga sasaran pembaca naskahmu. Kalau untuk anak, pastikan tulisanmu mudah dimengerti anak, kalau untuk remaja, pastikan tulisanmu dekat dengan bahasa remaja, dan lain sebagainya.

Ketiga adalah kesesuaian naskahmu dengan ketentuan dari penerbit. Mulai dari tema, kriteria penulisan, dan kelengkapan lainnya yang harus kamu patuhi. Pokoknya jangan sampai nggak nyambung, ya, antara naskah yang kamu kirim dengan penerbit incaranmu.

5. Tunggu dengan Sabar
Setelah mengirim naskah, saatnya kamu menunggu dengan sabar, hehehe…. Yang mengirim naskah tidak kamu saja, ada banyak naskah masuk lainnya yang juga harus dicek penerbit. Tentu saja hal itu butuh waktu. Jadi, saat ini, kamu tinggal berdoa agar naskahmu dibaca dan dianggap layak diterbitkan. Biasanya waktu paling lama penilaian naskah adalah tiga bulan. Lebih dari itu, jika tidak ada kabar dari penerbit incaranmu, kamu boleh bertanya kepada mereka tentang nasib naskahmu.

Itulah sedikit tips yang bisa saya bagikan. Mudah, kan?

Selamat menulis!

5 Langkah Menulis Cerpen

books-690219_1280 (2)

Setelah menulis 5 Sumber Ide Menulis Cerita, saya sudah berniat untuk berbagi writing tips lagi, tapi belum kepikiran tentang apa. Nah, kemarin ada teman yang bertanya tentang menulis cerpen. Saya pikir, bagus juga kalau berbagi pengalaman menulis cerpen.

Perlu diketahui, saya bukan cerpenis ulung atau penulis profesional. Langkah-langkah yang saya tulis di bawah ini, berdasarkan pengalaman pribadi saja. Boleh dipercaya, boleh tidak. Boleh dipraktikkan, boleh diabaikan. It’s up to you. Baiklah, kita mulai saja:

1. Membaca Cerpen

Baca dulu baru menulis. Tidak ada tulisan tanpa membaca. Bagi saya itu mutlak hukumnya. Jika ingin menulis cerpen, bacalah cerpen. Jika ingin menulis novel, bacalah novel. Jika ingin menulis esai, bacalah esai. Jika ingin menulis artikel, bacalah artikel. Intinya, jika ingin menulis apapun, bacalah sesuatu.

Baca cerpen-cerpen yang kira-kira menarik hatimu. Bisa cerpen klasik luar negeri, cerpen dari penulis lokal, cerpen di majalah, cerpen di koran, cerpen di internet atau di mana pun. Buku kumpulan cerita juga banyak beredar di toko-toko buku, tinggal kamu pilih.

Catat hal yang kamu sukai dari cerpen-cerpen yang kamu baca. Catat hal yang menurutmu bagus dan kurang bagus. Catat tokoh-tokoh yang tak bisa kamu lupakan, ide cerita yang menggugah pikiranmu, diksi dan kosakata yang baru kamu temui. Semua ini, nantinya bisa menjadi sumber inspirasi sekaligus sumber pembelajaran.

2. Tentukan Tokoh Utama

Setiap kali menulis, saya hampir selalu beranjak dari tokoh. Tokoh seperti apa yang ingin kamu angkat dalam cerpenmu. Siapa dia? Seperti apa rupanya? Apakah dia manusia, hewan, tumbuhan, benda-benda, malaikat? Seperti apa kehidupannya? Menentukan tokoh juga akan membantumu dalam menentukan latar waktu dan tempat dalam cerpenmu.

Salah satu cerpen Dee di bukunya Filosofi Kopi, memiliki tokoh seekor kecoak yang jatuh cinta pada anak perempuan yang tinggal di rumah tempat si kecoak bernaung. Bernard Batubara pernah menulis cerpen dengan tokoh Kuntilanak. Ya, dalam membuat cerpen, kamu bebas menentukan tokohmu.

3. Rancang Konflik

Setelah menemukan tokoh, rancanglah konflik atau masalah yang terjadi pada si tokoh. Karena ini cerpen, konflik yang dibuat tak perlu terlalu rumit apalagi sampai beranak-pinak. Cukup satu masalah, atau paling tidak dua.

Apa yang diinginkan oleh tokohmu? Apa yang terjadi kemudian? Bagaimana dia menghadapi peristiwa tersebut? Apakah ada sesuatu yang menghalangi dia untuk mendapatkan keinginannya?

Itu sedikit rumus umum dalam merancang konflik. Kamu bisa mengeksplorasinya lagi, tapi tetap ingat, ini cerita pendek.

4. Tulis Cerpenmu

Iya, tulis cerpenmu. Sebagus dan sekeren apapun ide yang kamu miliki, tidak akan pernah disebut cerpen jika hanya bertengger di kepala. Tulis saja semuanya. Tulis dan tulis. Abaikan menyunting dan merevisi. Itu soal belakangan. Tulis sampai kamu yakin kalau kamu sudah tiba di baris tempat ceritamu berakhir.

Tulis dan tulis. Tulis saja semuanya. Jangan berhenti sampai kamu tiba di akhir cerita.

5. Pilih Judul yang Menarik

Jangan lupa memberi judul pada cerpen yang baru saja kamu tulis. Pilihlah judul yang menarik dan berkait dengan ceritamu. Biasanya, judul diambil dari benang merah cerita. Kalau kamu stuck dengan judul, tak perlu risau. Nanti setelah kamu baca-baca lagi, pasti ketemu juga.

Nah, itulah sedikit yang bisa saya bagi dalam hal tulis menulis cerpen. Bagi saya, cerpen itu tulisan yang bergerak cepat, jadi tak perlu berlama-lama dalam mendeskripsikan sesuatu. Beri porsi yang sesuai antara narasi dan dialog. Juga, jangan anggap menulis sebagai suatu beban.

Menulislah karena bagimu menulis sama menyenangkannya dengan makan, tidur, atau jalan-jalan. Menulislah karena kamu menyukainya. Menulislah karena menulis membuatmu bahagia atau lega.

Beberapa cerpen yang saya sukai dan mungkin kamu tertarik untuk membacanya;

1. Ketika Mas Gagah Pergi karya Helvy Tiana Rosa
2. Sepotong Senja untuk Pacarku karya Seno Gumira Ajidarma
3. Pangeran Bahagia (The Happy Prince) dan Raksasa Egois (The Selfish Giant) karya Oscar Wilde

Selamat Menulis 🙂

just get it written