Give Your Heart a Break

Aku menyerahkan berkas-berkas dokumen yang belum kulengkapi di ruang Tata Usaha. Seorang pemuda berseragam sama sepertiku yang mengurusnya.

Aku sedikit bingung, apakah sekolah ini memperkerjakan murid-murid sendiri untuk magang di kantor TU atau bagaimana. Tapi, murid laki-laki itu cukup mahir dalam mengerjakan tugasnya. Meski ia lebih sering menunduk daripada melihat wajahku.

Aku murid pindahan di sekolah ini. Namaku Adeline. Teman-temanku biasa memanggilku Adel. Aku belum lama pindah meninggalkan tempat tinggalku sebelumnya.

Sejujurnya, aku tidak berharap banyak pada lingkungan baruku, mengingat kota yang sekarang kutinggali bukan kota besar. Aku hanya berharap betah tinggal di sini.

“Halo Adel!” sapa Indra. Teman sekelas yang sejak hari pertama aku menginjakkan kaki di sekolah, sudah mulai curi-curi perhatian.

Aku bukannya menyombongkan diri, tapi setiap orang yang bertemu denganku mengakui kalau aku cantik. Kulitku kuning cerah, bersih, dengan rambut hitam legam yang panjang. Bentuk tubuhku proporsional, tidak terlalu kurus, tidak terlalu gemuk, dengan tinggi badan seukuran gadis remaja pada umumnya. Aku punya dua mata yang besar dan selalu terlihat berbinar jika aku sedang bahagia.

Murid-murid perempuan di kelasku, dan juga di kelas-kelas lainnya, tampak setengah kagum setengah iri saat melihatku untuk pertama kali. Ada juga yang mulai khawatir, takut kalau aku menjadi pesaingnya dalam menggaet cowok idaman. Tapi, tenang saja, aku bukan jenis gadis seperti itu. Aku tidak akan merebut pacar siapapun, idola siapapun, meski aku mati-matian menyukainya.

“Pulang sekolah, lo mau ke mana?” tanya Indra. Aku hanya tersenyum dan mengangkat bahu.

“Pulang ke rumah pastinya,” jawabku singkat. Lalu tidak menatapnya lagi, tidak sabar menunggu guru yang mengajar datang.
________________________________________

Aku memilih pulang melewati koridor yang terdapat ruang Tata Usaha. Entah mengapa, aku ingin melihat tempat itu lagi. Lebih tepatnya, ingin melihat pemuda itu lagi.

Dia masih ada di sana. Tubuhnya kurus dan tinggi, dengan kulit berwarna gelap dan kacamata kotak di wajahnya yang agak tirus. Dia tampak selalu murung jika sedang sendirian. Tapi cukup ramah untuk menyapa orang-orang yang berada di sekitarnya.

“Adel, ngapain? Nggak pulang?” tanya Hana yang melihatku berdiri sendirian. Aku tersenyum kepadanya.

“Itu, siapa ya?” tanyaku sambil menunjuk pemuda yang kulihat sejak tadi. Hana menghampiriku.

“Oh, itu Hady. Dia anak kelas sebelas juga. Anak sebelas IPS, tapi nggak tahu kelas yang mana. Dulu, waktu kelas sepuluh, gue sekelas sama dia. Kenapa?”

“Dia kerja di TU?”

Hana mengangguk. “Dia yatim piatu. Terus, biar bisa tetep sekolah, dia nyambi kerja di TU. Sekolah kita sih memang baik, dia tetep boleh sekolah dan dapet fasilitas yang sama kayak yang lain, dan dia juga tetep dapet gaji.”

Aku mengangguk mengerti. Oh, itu alasanya dia berada di sana. Kenapa ya, aku merasa ingin mengenal dia lebih jauh lagi? Kenapa aku jadi berharap bisa berkenalan dengannya?

“Pulang yuk!” ajak Hana menghentikan lamunanku. Aku mengiyakan ajakannya.
________________________________________

Esoknya, saat waktu istirahat hampir habis, aku malah berkeliaran di daerah kelas IPS. Berharap menemukan Hady di sana. Tapi yang kutemukan malah murid-murid cowok yang berusaha menyapaku dan memperkenalkan diri.

Aku hanya memberi senyumku pada mereka. Itu semua, lebih karena aku terlalu cemas berpapasan dengan Hady. Padahal, mungkin dia sama sekali tidak menyadari kehadiranku. Ah, tapi masa dia tidak tahu mengenai diriku. Aku dengar dari salah seorang murid perempuan di kelasku, namaku sudah terkenal di angkatan, dan bisa jadi akan meluas ke seantereo sekolah. Apalagi kalau bukan karena aku cantik dan kaya.

“Hai Adel! Lagi ngapain di sini? Butuh bantuan?” sapa seorang murid yang tak kukenal. Dia tersenyum sopan ke arahku. Di seragamnya tertulis nama Irfan. Aku menggeleng pelan, lalu perlahan menjauhinya.

Bel masuk berbunyi. Tapi Hady belum juga menunjukkan batang hidungnya. Aku masih belum berniat kembali ke kelasku. Aku benar-benar ingin tahu Hady berada di kelas apa. Jadi aku tetap berdiri, meski teman-temanku sudah masuk ke kelas masing-masing.

Lalu aku melihatnya. Berjalan dengan langkah yang biasa-biasa saja. Menundukkan wajah dengan tatapan sendu. Dia memasuki kelas 11 IPS 2. Aku mencatatnya baik-baik dalam hati. Kemudian kembali ke kelasku.

Di pelajaran terakhir, aku menawarkan diri untuk membantu guruku membawakan buku tugas yang akan diperiksanya. Awalnya, guruku menolak penawaranku. Mungkin karena merasa tidak enak atau bagaimana, sehingga beliau malah menyuruh murid laki-laki yang membantunya. Tapi aku memaksanya dan mengatakan kalau aku tidak apa-apa. Ah, tentu saja aku punya maksud tersembunyi. Aku tahu ruang guru berada sejajar dengan kantor TU. Jika aku ke sana, mungkin saja aku akan bertemu Hady.

Aku memang bertemu dengannya. Dia sedang berjalan ke arahku, lebih tepatnya menuju ruang TU saat aku keluar dari ruang guru. Aku berusaha tersenyum seindah dan setulus mungkin kepadanya, namun dia hanya menatapku sekilas.

“Hei!” seruku, membuatnya menghentikan langkah.

“Hai,” sahutnya singkat dan ragu.

“Hmm… aku murid baru di sekolah ini, namaku Adeline,” ujarku kikuk. Hei, kenapa aku melakukan tindakan seaneh ini? Kenapa aku mengenalkan diriku padanya? Dia pasti bingung tiba-tiba bertemu denganku.

“Hady,” jawabnya masih singkat. Lalu ia masuk ke ruang TU. Tidak menatap wajahku sama sekali. Aku menggeram dalam hati. Sikapnya yang sok dingin itu benar-benar menyebalkan!
________________________________________

Aku tidak tahu cara apa lagi yang bisa kulakukan untuk menarik perhatian Hady selain menyempatkan diri mengunjungi perpustakaan setiap hari, ketika waktu istirahat. Letak perpustakan sekolahku, bersebrangan dengan letak kantor TU. Aku tahu, Hady lebih suka menghabiskan waktu istirahatnya di sana, sambil mencicil pekerjaan, dan aku bisa sedikit-sedikit mengintip ke arah sana.

Aku tidak tahu, sampai kapan usaha kecilku ini akan berhasil. Awalnya, aku hanya mencuri pandang sesekali ke jendela TU. Lama kelamaan, aku memberanikan diri berjalan agak lama jika berada di depan ruangan itu, dan menatap agak lama.

Aku tidak tahu apakah Hady menyadari tingkahku, tapi aku yakin yang lain iya. Pegawai TU yang lain, seorang pemuda berumur 27 tahun dan seorang ibu muda sering memperhatikanku dengan curiga jika aku berada di dekat ruangan mereka. Kalau saja aku bisa mengatakan kepada mereka kalau aku hanya ingin melihat Hady.

“Lo ngapain di sini?” tanya sebuah suara, mengagetkanku. Bukan salah satu dari pegawai TU, melainkan murid juga sepertiku. Aku terhenyak dan menggeleng. Dia melihatku dengan tampang menyelidik dan sedikit sinis. Aku merengut sambil memperhatikan gadis di depanku.

Tampangnya biasa saja, masih lebih cantik aku, dan kulitnya agak gelap, tidak seterang milikku. Rambutnya yang panjang dikuncir kuda, dan bergoyang-goyang jika ia menggerakkan kepala. Tapi bukan itu yang membuat aku terus memperhatikannya. Dia memanggil Hady.

Hady keluar dari ruang TU dengan wajah sumringah sambil tersenyum lebar. Senyum pertama yang aku lihat di wajah Hady.

“Reina!” seru Hady. Perempuan itu tersenyum sambil menunjukkan kotak kecil yang sejak tadi berada di tangannya.

“Untuk kamu,” ujar gadis itu sambil mengulurkan kotaknya.
“Happy birthday!” serunya dengan suara yang tidak terlalu tinggi. Hady tampak begitu senang sampai terharu. Aku masih berdiri menonton mereka. Jadi hari ini Hady ulang tahun.

Hady hanya berucap terima kasih pelan. Aku menangkap sesuatu yang tak tersampaikan di wajahnya. Tapi lagi-lagi, Hady hanya menunduk dan kembali masuk ke dalam ruangan.

Meninggalkan aku, meninggalkan gadis itu yang tersenyum manis. Aku penasaran siapa dia sebenarnya. Apakah dia pacarnya Hady? Tapi sikap mereka tidak seperti sepasang kekasih. Bahkan sahabat dekatpun rasanya tidak. Tapi, kenapa perempuan itu sampai datang ke ruang TU hanya untuk memberikan hadiah?
________________________________________

“Itu siapa Han?” tanyaku pada Hana saat kami berjalan menuju laboraturium IPA. Aku menunjuk pada gadis berkuncir kuda yang kutemui kemarin, memberi hadiah ulang tahun kepada Hady.

“Oh, itu Reina. Agak tomboy dia. Waktu kelas sepuluh, dia pernah jatuh ke jurang sama kakak kelasnya. Kakak kelasnya bahkan sampai meninggal, lho!” ujar Hana memberikan keterangan tambahan.

Aku terperangah. Mengerikan sekali. Lalu bagaimana gadis itu bisa berteman dengan Hady? Jangan-jangan, nanti Hady diajaknya juga main ke jurang.

“Dia punya pacar sekarang?” tanyaku. Berharap jawabannya tidak, atau kalaupun iya, nama pacarnya bukan Hady yang kerja di TU.

“Hmm… gue nggak terlalu kenal dia Del. Tapi, kayaknya nggak punya. Tapi, mungkin juga punya. Bukan urusan gue. Bukan urusan kita.” Hana terus berjalan sambil mengunyah makanannya. Tidak terlalu tertarik dengan pertanyaan kulemparkan.

“Urusan gue!” sahutku cepat.

“Apa?” tanya Hana terkejut.

“Ehh… iya. Gue kemarin lihat dia sama Hady. Mereka pacaran?”

“Oh, itu! Dulu mereka sempet deket. Katanya sih Reina begitu kehilangan Kak Hakim, kakak kelasnya yang meninggal itu. Dan katanya, Hady mirip sama Kak Hakim. Terus gue nggak tahu kelanjutannya gimana. Kenapa lo? Kok, tiba-tiba peduli sama Hady dan Reina? Jangan bilang lo suka sama Hady?” tebak Hana. Aku menunduk.

“Aduh Adel, please, lo tuh punya segalanya buat dapetin orang yang jauh lebih baik daripada Hady. Lo tahu nggak, Reina aja cuma manfaatin dia, untuk nyembuhin kesedihannya karena ditinggal mati. Dan lo? Cewek cantik, kaya, dan disukai banyak cowok keren di sekolah ini, kenapa harus milih Hady?”

Baru kali ini, aku mendengar Hana berbicara sejujur itu. Di sekolah yang aku baru aku jalani selama dua bulan ini, aku memilih Hana sebagai teman terdekatku dibanding yang lain.

Aku memilihnya karena dia baik dan aku merasa nyaman dengannya. Dia tidak terlalu peduli dengan kecantikan atau kekayaan yang aku miliki. Mungkin, karena dia juga mempunyainya. Jadi, aneh sekali mendengar ucapannya.

“Kenapa? Kenapa memangnya Han? Itu salah?” protesku. Hana mengangguk.

“Lupain Hady. Kalau lo mau cari pacar, biar gue bantuin. Tapi jangan Hady,” pesan Hana. Aku menunduk. Menimbang kata-katanya.
________________________________________

Kali ini aku memberanikan diri untuk melakukan satu langkah baru. Aku tidak ke perpustakaan saat istirahat. Tapi ke sana setelah selesai kegiatan ekskul tari yang kuikuti.

Perpustakaan tetap buka sampai sekolah ditutup, itu sekitar pukul tujuh atau delapan malam. Ekskulku selesai pukul enam, begitu juga dengan pekerjaan Hady di ruang TU. Mungkin aku bisa menemuinya dan berbicara padanya di saat itu.

“Hai,” sapaku pada Hady saat kulihat ia keluar dari ruang TU. Ia menoleh padaku, memperhatikan wajahku, lalu membetulkan letak ransel hitam di punggungnya.

“Kita udah pernah kenalan, bukan?” katanya sambil berjalan meninggalkanku. Aku berusaha menjajari langkahnya yang cukup lebar.

“Iya. Sori kalau aku ganggu,” kataku. Dia berhenti dan menengok ke belakang. Aku pikir dia ingin mengatakan sesuatu. Tapi dia tidak mengatakan apa-apa.

“Kamu pulang ke arah mana?” tanyaku lagi.

“Bukan urusanmu,” jawabnya sambil berlalu. Meninggalkanku tanpa menoleh lagi.

Aku terdiam. Apakah ini termasuk salah satu permainannya? Apakah dia sudah tahu kalau aku menyukainya? Apakah ternyata selama ini dia sadar kalau selama ini aku sudah seperti setrika di koridor TU itu? Apakah dia ingin aku mengejarnya, hingga ia yakin aku memang menyukainya? Lalu merasa bangga karena dia berhasil membuat murid cantik ini jatuh cinta padanya?

Aku jadi memikirkan lagi kata-kata Hana. Mungkin ucapan Hana benar. Aku seharusnya tidak menyukai Hady. Tapi sisi hatiku yang lain mengatakan hal sebaliknya. Aku menangkap sesuatu dari wajahnya. Dan jika aku kaitkan dengan cerita Hana tentang Hady dan Reina, aku yakin laki-laki itu pasti sedang patah hati.
________________________________________

Aku melakukan hal yang sama seperti sore kemarin. Menunggu Hady hingga selesai kerja di ruang TU meskipun aku tidak ada ekskul. Dia tampak kaget saat melihatku lagi. Tapi hari ini, wajahnya tidak semurung yang biasa aku lihat.

“Kamu lagi,” katanya. Aku tersenyum.

“Aku hanya ingin berteman denganmu.”

“Apakah harus melalui upacara khusus? Maksudku, kalau mau berteman, ya berteman saja. Tidak perlu mengatakan apa-apa.”

“Iya, tapi kalau aku tidak mengatakan apa-apa, aku pasti disangka gadis aneh yang menguntitmu ke mana saja.”
“Apakah kau menguntitku?”

Aku menggeleng. “Tapi aku suka sama kamu,” ujarku jujur. Dia terhenyak.

“Kamu? Kenapa? Apa yang istimewa denganku?”

“Kamu beda. Kamu nggak seperti murid-murid lain, yang mengejar-ngejarku karena aku cantik.”

“Yah, darimana kamu yakin kalau aku beda? Bahkan kita belum pernah berbicara sebelumnya.”

“Aku hanya tahu.”

“Kalau begitu, boleh aku tambahin satu pengetahuan lagi untukmu? Aku tidak akan jatuh cinta lagi.”

Lalu dia berjalan. Meninggalkanku seperti kemarin.
Aku masih terheran-heran kenapa aku bisa senekat itu bicara padanya. Namun aku memang sudah lama ingin mengatakannya. Harusnya dia merasa mendapat anugrah karena telah disukai olehku. Aku yakin semua laki-laki menginginkan kalimat ku tadi. Hanya dia yang tidak.
________________________________________

“Jadi, boleh aku tahu kenapa kamu nggak mau jatuh cinta lagi?” tanyaku saat Hady –akhirnya- bersedia meluangkan waktunya di taman, tidak jauh dari sekolah kami. Saat itu langit sudah gelap, pertanda malam akan segera datang.

“Apa kamu selalu seperti ini, kepada setiap lelaki yang kamu sukai?” tanya Hady. Aku menggeleng.

“Nggak, ini pertama kalinya aku seperti ini. Sebelumnya, aku nggak pernah seperti ini kalau suka dengan seseorang. Yang perlu aku lakukan hanya memilih,” jawabku.

“Semua orang memang memilih. Kamu pikir, hanya dirimu saja yang memilih. Atau, kamu pikir, pilihan hanya sesempit itu artinya. Aku duduk di sini bersamamu pun adalah pilihan.”

Aku mengangguk. Pemikiranku tentang Hady yang berbeda memang benar adanya. Selain karena ia tidak mengejar-ngejarku seperti lelaki yang lain, ia juga berani berkata apa adanya. Sesuatu yang sangat jarang kutemukan.

“Apakah kamu mengharapkan sesuatu dariku?” tanya Hady lagi, melihat aku yang diam saja.

“Nggak tahu. Aku cuma ingin berteman denganmu,” jawabku. Mungkin, jika kita bisa saling mengenal, kamu mungkin akan menyukaiku juga, tambahku dalam hati.

Hei, jujur saja aku sangat ingin dia menyukaiku. Ini pertama kalinya aku tahu seperti apa rasanya menyukai secara sepihak. Rasanya sangat tidak enak.

“Aku senang bisa berteman denganmu. Sekarang kita teman!” serunya sok riang. Tapi aku tahu, dia hanya bermaksud menyenangkanku saja. Wajahnya tidak seriang suaranya.

“Maafkan aku. Aku hanya ingin memberi tahu satu hal. Selalu berikan kesempatan kepada hati kita untuk mencintai lagi. Sesakit apapun rasanya, tidak adil jika kita tidak mengizinkan hati kita untuk mencintai sekali lagi. Karena, kita kan tidak pernah tahu, di bagian yang mana, yang ternyata tepat untuk kita.”

Hady termenung mendengar ucapanku yang cukup panjang tadi. Dia tampak sedang mencerna kalimat-kalimat tersebut. Aku berharap, dia paham yang aku maksud. Aku berdiri, hendak beranjak pergi. Hady masih bergeming.

“Terima kasih untuk petang yang telah kau berikan untukku,” ujarku menutup pembicaraan. Lalu aku pergi.

Hady tidak mengatakan apa-apa. Hanya mengangguk sambil tersenyum sebentar. Mungkin ia masih ingin duduk-duduk di taman itu. Mungkin ia memikirkan kata-kataku tadi. Mudah-mudahan saja.

Dia bisa saja sebenarnya menyukaiku, hanya saja masih terlalu patah hati untuk mencoba memulai lagi. Aku hanya perlu memberi hatinya waktu untuk beristirahat.
________________________________________

17 February 2013

Meninggalkan Cerita Ini

Telah kau curi satu keping hatiku, kau bawa dalam tiap untai senyumanmu…
Kau juga yang hancurkan semua mimpi ini, kau pugar hanya untuk kau remukkan lagi.

Tak ada yang istimewa dengan gadis itu. Tidak terlalu cantik, tidak terlalu menarik, dan bukan gadis yang terkenal di sekolah. Tapi sebuah senyum singkat yang kulihat di siang terik itu, telah dengan begitu ajaib, mengubah keseluruhan hari-hariku di sekolah. Membuat satu cerita baru dalam bagian kehidupanku.

Namanya Reina Ferdiana. Aku mengetahuinya dari emblem nama yang dipasang di baju seragamnya. Semenjak siang itu, entah kenapa aku jadi sering memperhatikannya. Jadi sering berharap agar aku berpapasan dengannya. Tak peduli di mana.

Reina gadis yang ceria. Aku selalu melihatnya tersenyum, terutama ketika ia sedang berjalan menuju perpustakaan. Setiap hari Reina selalu ke perpustakaan, aku tak tahu dia sedang punya tugas apa. Sebelumnya, tak pernah Reina serajin itu mengunjungi tempat sunyi seperti perpustakaan.

Setiap aku melihatnya berjalan menuju perpustakaan, aku selalu berharap aku bisa ke sana juga. Sayangnya, aku terjebak dalam kantor Tata Usaha ini. Kebetulan, kantor Tata Usaha berada berseberangan dengan perpustakaan sekolah kami.

Oh ya, aku lupa satu hal, aku bukan pegawai TU, asal kalian tahu. Aku juga murid sekolah ini, hanya saja, aku memiliki kerja sampingan di kantor itu. Sebagai anak yatim piatu yang tak jelas keberadaannya ayahnya, aku harus berusaha sendiri untuk bertahan hidup. Salah satunya dengan mengurus beberapa administrasi sekolah, di sela waktu istirahat.

Waktu itu, aku pernah sangat ingin melihat Reina, dan aku sangat berharap, ia ke perpustakaan lagi seperti biasanya. Kebetulan, pelajaran sebelum istirahat kosong. Aku bergegas ke kantor Tata Usaha untuk menyelesaikan tugasku, sehingga ketika waktu istirahat tiba, aku bisa berada di perpustakaan.

Aku berhasil berada di perpustakaan, dan tepat seperti keinginanku, Reina ke perpustakaan juga. Dia berjalan dengan penuh senyuman ke arah mejaku. Aku terkesiap. Tak menyangka kalau aku diberinya senyuman sehangat itu. Tak menyangka kalau dia sesenang itu bertemu denganku. Dan aku hanya bisa memandanginya terus, dengan senyum gugup, dan kata-kata yang tertahan di tenggorokan.

“Hai, udah lama nunggu?” tanya Reina. Tapi bukan untukku. Pertanyaan itu untuk orang yang duduk di meja sebelahku. Meja pojok kanan. Kulihat Kak Hakim sedang duduk manis dengan tumpukan bukunya.

Aku tak berniat mendengarkan pembicaraan mereka lebih jauh lagi. Aku baru tahu kalau selama ini Reina selalu ke perpustakaan untuk bertemu Kak Hakim. Dan senyuman yang tadi, jelas-jelas itu bukan untukku. Seketika, aku merasa ada sesuatu yang tercerabut dari hatiku. Seperti akar pohon yang sudah tertanam begitu dalam kemudian dicabut dengan paksa.

Tiba-tiba perpustakaan terasa pengap dan aku butuh banyak udara untuk bernapas. Aku segera keluar, bersamaan dengan Reina. Ia tersenyum lagi, saat kami sama-sama memakai sepatu. Aku menoleh ke kiri-kanan, memastikan kalau senyum itu bukan untukku.

“Lo cari siapa?” tanya Reina. Kali ini untukku. Aku menggeleng. Dia tersenyum lagi.

“Kayaknya lo salah pakai sepatu, deh,” ujar Reina sambil menunjuk kakiku, masih dengan senyumnya, lalu beranjak pergi. Kali ini aku tahu, senyum itu memang untukku, tapi karena aku memakai dua sepatu yang tidak berpasangan!

Saat pulang sekolah, aku melihat Reina pulang bersama Kak Hakim. Ia terlihat begitu bahagia, sedangkan wajah Kak Hakim tampak agak gugup. Aku kenal Kak Hakim, dia salah satu kakak kelasku yang baik dan pintar. Dia murid yang tidak banyak bicara dan suka menghabiskan waktunya untuk membaca buku di perpustakaan.

Aku menunduk saat melewati mereka. Mungkin mereka akan menghabiskan waktu bersama. Mungkin laki-laki yang disukai Reina adalah Kak Hakim. Mungkin mereka akan berpacaran. Mungkin aku akan selamanya menyimpan perasaan ini dalam hati. Jadi aku berlalu begitu saja, meski ingin rasanya aku menyapa Reina.

Esoknya aku mendengar kabar buruk. Dua murid sekolahku jatuh di ngarai yang berada di desa belakang sekolah. Aku tahu ngarai itu. Tempatnya memang agak aneh. Sebuah padang rumput yang hijau, luas, dan indah, namun memiliki ujung yang begitu seram. Seperti tepi jurang.

Dua murid itu adalah Reina dan Kak Hakim!

Kak Hakim meninggal, sedangkan Reina hanya terluka sedikit, tapi dia baik-baik saja. Aku mendengar desas-desusnya dari para murid, guru, dan pegawai di kantor TU. Aku tak mengetahui secara pasti seperti apa kejadiannya. Yang aku tahu, Reina tidak masuk berhari-hari setelah peristiwa itu. Setelah masuk pun, ia tak pernah menyambangi perpustakaan lagi. Aku sadar, aku telah kehilangan senyum manis Reina.

Aku tak lagi berharap melihat Reina berjalan menuju ke perpustakaan lagi sejak saat itu. Aku hanya bisa berharap bertemu Reina di tempat-tempat lain seperti kantin atau koridor kelas. Namun entahlah, meski kabarnya ia telah kembali bersekolah, Reina seperti hilang dari peredaran. Mungkin ia diam saja di kelasnya. Mungkin.

Sekali waktu, aku ke perpustakaan saat istirahat. Ketika itu, aku hendak meminjam buku untuk mengerjakan tugas. Aku tak berlama-lama di dalamnya. Setelah selesai mengurus peminjaman buku, aku berjalan ke kantor TU. Saat itulah, aku kembali melihat Reina.

Aku terkesima, hingga tanpa sadar aku tersenyum kepadanya. Reina menghentikan langkahnya. Jarak kami mungkin hanya sekitar lima meter. Reina membalas senyumku, dan menatap wajahku lamat-lamat. Kali ini, aku yakin sekali hanya ada aku di situ. Untuk beberapa detik kami hanya saling tersenyum. Untuk kemudian aku terkejut karena tiba-tiba Reina lari meninggalkanku.

Aku panik, menoleh ke belakang, dan tidak ada siapa-siapa. Oh, mengapa Reina harus bertingkah seaneh itu? Atau akukah yang bersikap aneh kepadanya? Pikiranku diliputi berbagai pertanyaan. Tapi kakiku refleks mengikuti ke mana Reina berlari.

Ternyata ia menghampiri teman perempuannya.
“Tia! Tahu nggak sih? Tadi gue ketemu sama Hakim di depan perpus!”

Reina bersuara cukup nyaring, sehingga aku bisa mendengar ucapannya dengan jelas. Kulihat, teman yang dipanggilnya Tia tersedak begitu Reina menyelesaikan kalimatnya. Aku termangu. Reina melihat Hakim di depan perpustakaan? Bukankah yang ia lihat aku?

Sontak, kini aku yang berlari. Menuju kamar mandi terdekat. Bercermin. Kulihat di sana, pantulan seseorang yang sedikit banyak memang mirip Kak Hakim. Bertubuh tinggi, berkulit coklat, dan berkacamata. Itu aku.

***

Aku tidak pernah berniat menjadi penguntit. Tapi, aku tidak dapat menahan keinginanku untuk mencari tahu ke mana Reina biasa pergi setelah sekolah usai. Jadi, hari ini aku memberanikan diri untuk mengikutinya.

Reina berjalan terus, ke jalan menanjak, tempat lapangan hijau bertepi jurang itu berada. Wajahnya masih murung, seolah masih begitu kehilangan Kak Hakim.

Dia duduk diam saja di hamparan rumput itu. Tercenung memandang langit. Aku tidak berani melakukan apa-apa. Aku hanya berharap kehadiranku tidak disadari olehnya. Tapi ternyata harapanku tidak terkabul. Ia menemukanku. Sama seperti waktu di depan perpustakaan, ia menatapku lama sekali. Seperti memastikan kalau aku benar-benar ada di hadapannya.

Aku berdeham.

“Hakim?” Nama itu yang terucap dari bibir Reina.

“Bukan, namaku Hady,” jawabku pelan, berharap tidak mengecewakannya.

Lalu Reina menghampiriku. Memelukku erat sekali. Aku begitu kaget sekaligus gugup. Tak pernah aku dipeluk seorang perempuan, sambil menangis pula. Reina menangis tersedu-sedu. Aku berharap kalimatku barusan di dengar olehnya.

“Sorry, aku tahu kamu bukan Hakim. Tapi kamu mirip banget sama dia. Dan aku… aku kangen banget sama dia. Aku ngerasa bersalah sama dia. Aku nggak sanggup… aku nggak sanggup nerima kalau dia udah pergi…” ujar Reina setelah melepas pelukannya. Aku menunduk.

“Maaf.” Hanya itu yang bisa aku ucapkan. Reina menghapus air matanya. Lalu memelukku lagi. Aku masih belum berani membalas pelukannya. Tapi setidaknya, dia sudah tidak menangis lagi.

“Apa aku boleh minta tolong sesuatu sama kamu?” tanya Reina. Aku menggangguk. Meskipun Reina masih memelukku, aku tahu ia tahu aku mengangguk.

“Tolong, jadi Hakim buat aku…”

Kalimat itu sepertinya terdengar begitu jahat. Reina memintaku agar menjadi Hakim-nya. Hakim-nya yang telah pergi.

Kalau orang yang berpikir waras, mungkin tak akan mau. Itu sama saja membiarkan Reina mencintai orang lain yang ia lihat di dalam diriku. Tapi aku tak peduli. Aku hanya ingin melihat Reina tersenyum lagi. Dan itu sudah lebih dari cukup.

***

Sejak sore itu, senyum Reina kembali lagi. Dia tak bertanya banyak tentangku. Hanya satu hal yang pernah diungkitnya, ia sering melihatku saat berjalan menuju perpustakaan. Dulu, saat Hakim masih ada.

Reina begitu baik padaku. Setiap istirahat, ia tidak ke perpustakaan lagi, tapi ke kantor TU. Membawakan sekotak bekal untukku. Kami juga sering menghabiskan waktu bersama. Tidak lama memang. Hanya sepanjang perjalanan sepulang sekolah. Reina mau menungguku menyelesaikan pekerjaan di kantor TU hanya agar kami bisa pulang bersama.

Aku bahagia. Tapi kadang, ada suatu perasaan yang menyiksa, yaitu saat Reina memanggilku Hakim, bukan Hady. Aku tahu, Reina tidak benar-benar menyukaiku, meski sering aku berharap, lama kelamaan ia menyukaiku sebagai aku yang sesungguhnya, bukan sebagai Hakim.

Jadi, pada suatu hari, setelah menceritakan masalahku pada seorang ibu pegawai TU yang amat kupercaya, aku berniat mengutarakan perasaanku pada Reina.

Kata ibu itu, aku harus mengatakannya, karena selama ini Reina tidak mengetahui perasaanku. Yang Reina tahu, aku melakukannya karena hanya ingin membantunya. Mungkin, jika aku memberi tahu hal sebenarnya, itu akan menggugah hatinya, dan ia akan berhenti berharap Hakim hidup lagi. Lalu mulai menerima aku apa adanya.

Istirahat itu, aku mengajak Reina duduk di bangku di bawah rindangnya pohon taman sekolah. Aku bilang padanya kalau ada sesuatu yang ingin aku sampaikan. Ia tersenyum, dan mengatakan, kalau ia juga punya sesuatu yang ingin ia sampaikan.

“Hady, maaf, aku tahu selama ini aku jahat banget sama kamu. Deket dan akrab sama kamu karena kamu mirip Hakim. Aku memang merasa begitu kehilangan, tapi sekarang aku sadar, aku jahat banget melakukan ini sama kamu. Dan kamu, kamu baik banget Hady. Aku nggak tahu lagi harus berterima kasih seperti apa.

Hady, sekarang aku berusaha untuk ngerelain Hakim. Aku harus ngerelain Hakim. Dan selama kamu masih deket sama aku, aku nggak akan pernah bisa ngelakuin itu semua. Kamu terlalu mengingatkanku dengan Hakim.”

Penuturan panjang lebar itu berarti satu hal. Hubunganku dan Reina sudah selesai. Aku hanya bisa mengangguk. Tanpa bicara apa-apa. Hilang sudah semua kata-kata yang sudah kupersiapkan tadi.

“Hady, maafkan aku,” ujar Reina, dan ia memelukku sekali lagi.

Aku hanya tersenyum. Reina membalas senyumanku. Ia mengenalku dengan baik. Ia tahu aku tak banyak bicara, sehingga membuatnya tak banyak bertanya. Meski kadang aku berharap, amat sangat berharap, ia menanyakanku. Apa aku memang selalu terlihat baik-baik saja dengan senyuman ini?

Satu hal yang aku ingin kalian tahu. Terkadang, orang pendiam itu ingin sekali ditanya lebih jauh tentang perasaannya, meski ia selalu mampu menampilkan senyum ‘baik-baik saja’. Tapi sudahlah, mungkin aku bukan pendiam, tapi pecundang. Karena sejak hari itu, sampai Reina lulus, tak pernah aku berani mengungkapkan perasaanku padanya. Aku lebih memilih pergi, meninggalkan cerita ini.

Jadi biarlah aku pergi, meninggalkan cerita ini
Perih memang perih, tapi ku mengerti, kusebutkan doa di tiap langkahmu
Jadi biarlah lagu ini, indah bersembunyi di hati
Percayalah ku takkan kembali, walau aku tak tahu lagi ke mana akan menuju

Sore berhujan, 25 Desember 2012