Author's Note

Yang Dilepas dan yang Dipertahankan

Kali ini mau cerita tentang diary dan jurnal yang saya miliki. Sebelumnya, saya pernah cerita tentang jurnal-jurnal saya di postingan ini.

Nah, supaya nggak salah paham tentang bedanya diary dan jurnal versi saya, saya mau jelasin sedikit dulu.

Jadi, saya menyebut diary untuk buku yang berisi segala curahan hati, keluh kesah, serta kejadian yang saya alami berikut perasaan saya saat mengalami hal tersebut.

Sedangkan jurnal, lebih ke buku yang berisi target harian, mingguan, bulanan, aktivitas sehari-hari, kutipan-kutipan favorit, evaluasi pribadi, dan sejenisnya. Intinya, no curhat-curhat.

Ini beneran versi saya sendiri dan terjadi dengan alamiah. Pokoknya, tau-tau saya punya dua jenis buku harian. Yang satu saya sebut diary, yang satu lagi jurnal.

Nah, beberapa hari lalu saya mengobrol dengan teman saya tentang diary-diary yang menumpuk. Ini secuplik obrolannya.

Kebetulan, kami berdua memang tipe orang yang rajin menulis diary. Dan kami sempat membicarakan kegalauan kami terkait diary yang semakin menumpuk seiring bertambahnya usia.

Seperti yang saya katakan di chat, saya menghibahkan tumpukan buku diary saya ke tukang loak. Yah, lumayan kan, daripada dibakar hanya jadi abu, lebih baik kertas yang sudah berisi curahan hati saya diolah kembali agar menjadi lembaran baru (yang mungkin nantinya akan jadi tempat curhat orang lain, hehehe).

Awalnya, saya sangat enggan melepaskan diary-diary itu. Rasanya seperti melepaskan sebagian diri saya.

Tetapi, kalau disimpan pun lama-lama menghabiskan tempat. Dibaca-baca ulang malah malu sendiri. Sekalinya saya baca ulang (karena sedang iseng), saya malah takjub dengan perasaan dan pemikiran saya kala itu.

Semenjak membaca beberapa buku tentang minimalisme dan melihat sekilas-sekilas isi diary saya, saya memantapkan hati untuk melepaskan mereka.

Alasannya seperti yang saya sebutkan di chat. Dan masih ada lagi.

Saya melihat hampir seluruh tulisan saya berisi keluh kesah. Benar-benar mengeluh, meratapi nasib, kesel sama orang, kesel dengan kejadian ini-itu.

Yah, memang ada juga sih cerita-cerita hal yang membahagiakan; momen saat saya senang, cerita tentang orang yang saya sukai (part yang bikin malu banget pas baca lagi), but mostly, ya mengeluh.

Saya pikir, mungkin dengan melepaskan diary-diary itu, membiarkan pengepul mengirimnya ke tempat daur ulang, lalu mereka dibawa ke tempat pencacahan kertas, bisa ikut membuyarkan perasaan-perasaan tak menyenangkan yang pernah saya miliki.

Mungkin dengan begitu, saya tak lagi membawa beban dari masa lalu. Mungkin dengan begitu, saya bisa lebih fokus menjalani hari ini dan mempersiapkan hari esok.

Dan setidaknya, saya tidak merasa waswas karena takut diary saya dibaca orang terdekat saya ketika saya sudah tidak ada dan mereka menyadari betapa berbedanya pikiran saya dan penampilan saya.

Well, jika diary dilepaskan, jurnal-jurnal masih saya simpan. Karena mereka berisi harapan, mimpi, inspirasi serta motivasi saya.

Rasanya menyenangkan melihat kembali jurnal beberapa tahun lalu. Melihat target yang tercapai, bahkan yang tidak tercapai sekalipun.

Jika target itu masih relevan dengan kehidupan saya yang sekarang, saya kembali berupaya untuk mewujudkannya. Jika tidak, saya tahu hidup saya telah berubah, diri saya sudah berubah, and it’s fine.

Apakah saya berhenti menulis diary?

Yah, sepertinya begitu. Tetapi kalau memang ada hal-hal yang ingin saya ungkapkan di atas kertas, saya tetap menuliskannya. Saya tulis di selembar kertas, lalu beberapa hari kemudian, ketika tulisan itu sudah tidak terlalu berarti bagi saya, saya akan membuangnya.

Ini bukan berarti saya menghasut kamu untuk tidak menulis diary.

Tulislah apa yang ingin kamu tulis. Jika menulis diary membuatmu lega dan bahagia, lakukanlah. Jika membeli diary supplies menyenangkan hatimu, lakukanlah.

Yang ingin saya tekankan di sini adalah tentang melepaskan sesuatu yang memang harus dilepaskan. Dan mempertahankan apa yang baik dan berarti bagimu.

Bagi saya, salah satunya adalah melepaskan diary dan mempertahankan jurnal.

For you, maybe another things. But, make sure you’re doing that with your consideration only. 🙂

2 thoughts on “Yang Dilepas dan yang Dipertahankan”

  1. Hahaha chat itu ditampilkan juga 😀
    Bener banget Ratih, diary isinya kebanyakan ngeluh. Aku terus jadi mikir, mungkin diary (diary-ku terutama) emang bagusnya cuma buat nulisin curhatan aja, bukan buat dibaca lagi di kemudian hari. Lebih banyak malunya daripada faedahnya pas dibaca lagi tuh T.T

    Like

    1. Iya zii, makanya sekarang aku kalau curhat di lembaran kertas aja. Abis selesai nulis disobek atau diremek, terus dibuang. Jadi, nggak nulis di buku diary yg bagus2 kayak dulu. Biar ga sayang buangnya 😅

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s