Menjadi (sok) Sibuk atau Produktif?

Assalamualaikum, apa kabar?

Sebelum panjang lebar mempertanyakan apakah selama ini saya (sok) sibuk atau produktif, saya ingin bilang kalau ini adalah draft lama yang belum sempat ditulis dan diposting (karena merasa [sok] sibuk) sehingga baru kesampaian ditulis sekarang.

Pada masa itu, saya merasa tema ini berkaitan sekali dengan kehidupan saya yang sehari-hari merasa (sok) sibuk, merasa nggak punya banyak waktu luang, dan tidak sempat melakukan hal-hal yang saya inginkan.

Sekarang, mengingat saya sudah menjadi ‘pengangguran’, tentu saja tidak merasa (sok) sibuk, ya. Meskipun begitu, mudah-mudahan tulisan ini bisa menjadi pengingat pribadi untuk menjadi orang yang produktif dan tidak berlagak (sok) sibuk.

Saya kepikiran ide tulisan ini dari sebuah blog yang menyatakan kalau ada perbedaan antara menjadi sibuk dan produktif. Jika kita mencari di Google, kita akan menemukan banyak artikel tentang ‘being busy or being productive’.

Tanpa berlama-lama berselancar di dunia maya, saya jadi melihat ke diri saya sendiri. Yang manakah yang termasuk diri saya? Apakah yang (sok) sibuk atau produktif?

Sebelum memutuskan kedua hal tersebut, saya ingin menyegarkan kembali definisi dari sibuk dan produktif dari KBBI.

Produktif: a 1 bersifat atau mampu menghasilkan (dl jumlah besar): perkebunan itu sangat –; 2 mendatangkan (memberi hasil, manfaat, dsb); menguntungkan: tabungan masyarakat dapat dipinjamkan kembali untuk keperluan –; 3 Ling mampu menghasilkan terus dan dipakai secara teratur untuk membentuk unsur-unsur baru: prefiks meng- merupakan prefiks yg –;

Sibuk: a 1 banyak yg dikerjakan: ayah tidak dapat hadir krn beliau sedang — hari ini; 2 giat dan rajin (mengerjakan sesuatu): dia sedang — mengatur perjalanannya; 3 penuh dng kegiatan (msl orang yg lalu-lalang, mobil-mobil bersimpang siur): pasar itu — sekali; jalan raya sedang –;

Meskipun KBBI memiliki pengertian baku tentang arti produktif, dalam kehidupan sehari-hari, saya yakin setiap orang memiliki definisi produktif yang berbeda-beda sesuai apa yang dia suka dan dia inginkan.

Ada yang merasa produktif saat berhasil menjual barang dagangannya, ada yang merasa produktif setelah selesai membuat sesuatu, ada yang merasa produktif saat selesai masak dan beberes rumah, dan masih banyak lagi.

Saya merasa produktif setelah menulis, membaca buku, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan buku, misal: menyampul buku, merapikan ulang buku-buku, jalan-jalan ke toko buku atau perpustakaan. Padahal, kalau dipikir-pikir, dari kegiatan tersebut, hanya sedikit (kalau tidak mau dibilang nihil) hasil yang saya dapatkan, terutama dari sisi materi. Hanya saja, entah mengapa setiap selesai melakukan hal tersebut, saya merasa waktu saya digunakan untuk hal yang bermanfaat sekaligus menyenangkan.

Dulu saat saya masih bekerja penuh waktu, saya merasa hari-hari saya berlalu dengan tidak produktif. Padahal, setiap hari saya bekerja yang dari hasil pekerjaan itu membuahkan hasil, baik dari segi karya (buku yang telah diedit) maupun dari segi materi (gaji yang didapat setiap bulan). Akan tetapi, saya merasa ada yang kurang dari hal tersebut.

Saya merasa tidak produktif karena belum banyak menulis cerita fiksi, belum banyak menulis postingan blog, dan belum banyak membaca buku. Entah kenapa, bagi saya kegiatan-kegiatan tersebutlah yang membuat saya merasa telah melakukan sesuatu yang produktif. Meskipun begitu, saya merasa sibuk luar biasa. Sepertinya, ada saja kegiatan yang harus dilakukan sehingga saya jarang atau tidak sempat meluangkan waktu untuk melakukan hal-hal yang menurut saya produktif.

Sampai saya terpikir, hal-hal yang membuat kita merasa produktif itu sebenarnya bisa dikerjakan meskipun kegiatan kita yang lain juga banyak. Dengan menjadikan kegiatan-kegiatan produktif itu sebagai prioritas dan kita paksakan untuk kita lakukan.

Selain itu, bisa jadi sebenarnya kita tidak sibuk-sibuk amat, tetapi banyak waktu yang terbuang percuma yang kita pun tak sadar telah membuangnya. Seperti saya dulu setiap pulang kerja, karena merasa masih capek dan ingin rebahan, saya biasa tidur-tiduran di kasur sambil scrolling Instagram. Sedangkan Instagram adalah pencuri waktu paling lihai dalam kehidupan saya.

Jika sedang keasyikan, bisa habis sejam-dua jam di Instagram tanpa terasa. Padahal, mungkin yang tubuh saya butuhkan hanya 15 menit istirahat. Akhirnya, banyak pekerjaan yang molor dan harus dikerjakan secara terburu-buru sehingga saya merasa sibuk dan menjadi alasan untuk tidak mengerjakan hal-hal produktif.

Setelah resign, saya amat berhati-hati dengan ‘jebakan’ waktu luang yang lebih banyak dibanding saat masih bekerja dulu. Tentu saja, saya tidak selalu lolos dari ‘jebakan’ tersebut. Adakala saya terjebak dan menyia-nyiakan waktu yang saya miliki. Bahkan, saya melakukan Puasa Instagram karena merasa sudah kecanduan parah dengan media sosial yang satu itu.

Sekarang sih saya nggak akan berani bilang sibuk, wong ‘pengangguran’ 😀 Akan tetapi, saya terus berusaha agar apa yang saya lakukan bernilai produktif di akhirat dan di dunia. Yah, walaupun kalau dilihat-lihat lagi, aduh, saya masih jauh banget dari itu, ya. Tetapi, kan, yang penting niatnya dulu. Semoga Allah memudahkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s