Puasa Instagram

Assalamualaikum, apa kabar?

Dua tahun lalu saya pernah menjalani puasa Facebook dan puasa Twitter karena waktu itu saya merasa kecanduan parah dengan media sosial tersebut. Setiap kali ada waktu luang, saya langsung buka Facebook dan menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk ‘mindless scrolling’ tanpa mendapat sesuatu yang benar-benar bermanfaat. Akhir-akhir ini, itu juga terjadi pada Instagram.

Sekarang Instagram adalah media sosial favorit saya. Saya mengikuti banyak akun-akun dengan tema dan postingan yang saya suka. Bookstagram, akun flatlay, akun resep masakan, akun penerbit buku, dan akun kucing yang selama ini sukses bikin saya sering buka Instagram dan menghabiskan waktu berjam-jam di sana. Iya, akun para catlover, entah itu kucing rescue atau kucing peliharaan, pokoknya yang foto-fotonya kucing, deh.

Semua ini berawal sejak saya kehilangan Qittun, kucing kedua peliharaan saya setelah Kuro. Saya sayang sekali dengan Qittun, tetapi karena keteledoran saya sendiri, Qittun meninggalkan saya (bukan mati, tetapi kabur). Setelah kehilangan Qittun, saya sempat merasa kesepian sekali karena tidak ada kucing yang saya ajak main. Akhirnya, saya melarikan perasaan kesepian itu kepada kucing-kucing di Instagram.

Saya jadi senang melihat foto atau video kucing di Instagram, terutama yang jenis dan warnanya mirip dengan Qittun atau Kuro. Lama-lama, saya jadi follow beberapa akun catlover dan catrescuer. Laman explore saya di Instagram didominasi oleh postingan kucing. Setiap buka Instagram yang pertama dilihat foto kucing. Pokoknya, semuaaaa tentang kucing.

Sejak tidak terlalu aktif di Facebook dan meninggalkan Twitter, saya memang lebih banyak menghabiskan waktu di Instagram. Namun, hal ini semakin parah setelah saya mengenal dunia per-kucing-an di Instagram. Benar-benar seperti orang kecanduan, deh.

Ada nggak sih orang kecanduan foto kucing? Hahaha.

Saya sempat berusaha menyetop kecanduan tersebut dengan mengurangi intensitas membuka Instagram. Jadi, hanya buka Instagram lewat komputer kantor. Biasanya saya buka Instagram saat istirahat siang dan terus berlanjut sampai sore, hehehe. Ketika sudah jam kerja, browser Instagram masih dibuka, tetapi dilirik-lirik aja kalau lagi stuck banget dengan kerjaan.

Di rumah, kadang saya berhasil menahan diri untuk tidak terlalu lama di Instagram. Sering gagal juga, sih. Nah, setelah resign, godaan buka Instagram lebih berat karena waktu luang semakin banyak. Yang tadinya hanya ingin lihat satu akun kucing, berlanjut jadi lihat foto-foto akun kucing lainnya atau lihat foto-foto lama akun kucing tersebut. Ah, pokoknya nggak pernah berhasil deh kalau bilang, “Lihat sebentar, doang, kok.” Pasti ujung-ujungnya lama dan menghabiskan kuota.

Masih mending scrolling akun yang diikuti karena saya merasa cukup selektif memilih akun yang saya ikuti di Instagram, jadi masih merasa mendapat manfaat dari akun tersebut. Nah, kalau sudah buka laman explore, wah susah banget deh berhentinya, karena suka nyambung ke sana kemari. Akhirnya, lagi-lagi saya gagal ‘main Instagram hanya sebentar’.

Walaupun logo Instagram sudah saya sembunyikan dan nggak langsung terlihat di Home handphone, tetap saja saya membukanya. Saya merasa sudah harus memberlakukan Puasa Instagram seperti halnya Puasa Facebook dan Puasa Twitter. Saya ingin membuktikan kepada diri saya sendiri kalau saya bisa menjalani hari tanpa Instagram, tanpa lihat foto kucing orang lain.

Saya melepas aplikasi Instagram sejak tanggal 21 Januari dan berhasil menahan diri dari godaan memasang kembali aplikasi tersebut sampai tanggal 31 Januari. Saya memang tidak berencana untuk melepas Instagram selamanya karena saya juga ingin membangun personal branding di Instagram, hahaha. Toko daring yang sedang saya rancang juga akan menggunakan Instagram. Jadi, sepertinya untuk saat ini tidak bisa benar-benar melepas akun Instagram seperti Twitter yang benar-benar sudah saya tinggalkan (meskipun belum dinonaktifkan).

Mudah-mudahan dengan Puasa Instagram atau bahasa kerennya Digital Detox, saya bisa lebih bijak dalam menggunakan media sosial yang ada. Bukan hanya ‘mindless scrolling’ tanpa arti, tanpa tujuan, tanpa makna yang berujung menyia-nyiakan waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk hal lain yang lebih bermanfaat.

Apakah kamu pernah puasa dari media sosial juga seperti saya? Puasa Facebook, Twitter, Instagram, atau semuanya secara bersamaan like a really Digital Detox? Tell me!

Advertisements

4 thoughts on “Puasa Instagram

  1. Aku juga sudah puasa, entah sudah beberapa bulan gak pakai facebook, twitter, instagram di smartphone.
    Tapi saya tetep gunakan di destop, namun frekuensinya sehari paling cuma sekali, dan itupun kalau lagi nganggur.
    Media sosial saya cuma terintegrasi secara otomatis untuk publish artikel dari.blogku saja sekarang, hahaha

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s