Berkunjung ke Islamic Book Fair, Jakarta

Alhamdulillah, akhirnya bisa nge-blog lagi, setelah menjalani minggu yang padat kemarin.

Kali ini saya mau cerita tentang pengalaman berkunjung ke Islamic Book Fair di Jakarta Convention Center, 5 Mei silam.

Setahun sekali, Islamic Book Fair diadakan di Jakarta, dan tahun 2017 ini adalah ke-16 kalinya. Itu berarti kali kedua saya mendatangi Islamic Book Fair, setelah yang terakhir (atau yang pertama?) di tahun 2002 atau 2003 (saya lupa saking lamanya.) Ya, setiap kali IBF diadakan, selalu saja ada halangan yang membuat saya tidak bisa datang. Alhamdulillah, tahun ini ternyata diberi kesempatan untuk datang.

Kesan saya? Hmm… gimana, ya? Selama ini, saya selalu datang ke book fair yang diselenggarakan di Istora Senayan. Nah, baru tahun ini, saya mendatangi book fair yang diadakan di JCC. Awalnya saya sempat malas datang. Jujur saja, saya agak malas datang ke JCC karena aksesnya yang nggak semudah ke Istora (atau saya yang belum tahu, ya?)

Kali ini, saya datang bukan hanya sekadar pengunjung, tetapi juga jadi kasir, hehehe. Kok bisa? Ya, saya membantu penerbit tempat saya bekerja untuk menjaga meja kasir di jam shalat Jum’at. Katanya juga, supaya para redaksi yang biasa berkutat dengan naskah bisa merasakan seperti apa rasanya berjualan dan bertemu langsung dengan konsumen.

Jadilah, ketika pertama kali datang, saya dan teman-teman langsung ke stand Gema Insani dan menjadi kasir di sana. Ternyata nggak mudah, ya jadi kasir. Apalagi menjadi kasir yang gercep alias gerak cepet. Jujur saja, saya kadang suka enggak sabaran sama kasir yang lelet. Kalau kebetulan dapat kasir yang gercep tuh, pasti dalam hati bilang, “Nah, gitu dong, kalau kerja!” Sok banget, ya? Sendirinya pas jadi kasir, malah lelet. Ya, mungkin karena belum terbiasa aja, sih.

Yang jelas, rasanya terharu banget saat melihat pengunjung membeli buku-buku yang saya edit, yang kami (redaksi) proses bersama-sama sehingga akhirnya menjadi sebuah buku. Pokoknya terharu banget, deh. Senang juga pastinya. Karena pengalaman bertemu langsung dengan pembeli, kami juga jadi tahu apa yang mereka suka, apa yang mereka cari sehingga kami bisa menerbitkan buku-buku yang dibutuhkan atau disukai pembaca.

Salah satu kendala terberat yang saya rasakan saat itu adalah masalah harga. Duh, walaupun saya mengedit buku tersebut, saya nggak menghafal harganya. Pokoknya urusan saya beres ketika file naskah sudah turun ke percetakan. Nah, saat menjadi kasir sekaligus sales di stand IBF, seringkali pengunjung bertanya harga buku yang tidak ada label harganya. Kami harus menge-scan barcode atau cek di katalog untuk mengetahui harganya. Pokoknya, menjadi kasir yang hanya sekitar satu setengah jam lebih rasanya seperti berhari-hari.

Ketika shalat Jum’at selesai, berakhirlah segala kericuhan menjadi kasir jadi-jadian bagi saya, hehehe. Saya dan Mbak Dwi pun shalat dan makan, lalu langsung dilanjut dengan berkeliling area pameran.

Bagaimana kondisi pameran? Padat sekali! Benar-benar padat sampai kami membutuhkan waktu sekitar setengah jam untuk keluar dari gedung. Saya perhatikan banyak pengunjung yang berasal dari rombongan sekolah, baik SMP atau SMA.

Mengenai peserta pameran, saya tidak bisa terlalu banyak memperhatikan. Entah kenapa, saya merasa tata letak stand book fair kali ini tidak seperti yang di Istora. Mungkin karena perbedaan luas dan bentuk gedung juga, ya? Namun, bagi saya tata letaknya agak membingungkan (atau mungkin saya yang pusing karena kebanyakan orang). Berkali-kali kami melewati stand yang sama, sedangkan saya yakin masih ada beberapa stand yang belum kami kunjungi sama sekali.

Dari sekian banyak buku yang dijual di IBF, saya hanya membawa pulang dua buku. Bukannya tidak ada yang menarik, tetapi memang sejak awal tahun ini, budget untuk membeli buku lebih ketat dari tahun sebelumnya. Jadilah dua buku ini dulu yang saya bawa pulang. Mudah-mudahan ada rezeki untuk memiliki buku-buku bagus lainnya di lain kesempatan.

super-diary-dan-komik-pahlawan-islam

Saking penuhnya, saya tidak terpikir untuk memfoto suasana pameran atau stand-stand yang kami kunjungi. Saya hanya sempat berfoto dengan Nuri, si burung ikon lini anak Gema Insani.

foto-bareng-nurii

Semoga tahun depan Islamic Book Fair diselenggarakan di Istora Senayan lagi supaya aksesnya lebih mudah, lebih lama durasi waktunya (tahun ini hanya 5 hari, 3-7 Mei 2017), lebih banyak lagi peserta pameran (supaya pilihan buku makin banyak), dan lebih besar diskon-diskon bukunya. Amiiin….

Advertisements

4 thoughts on “Berkunjung ke Islamic Book Fair, Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s