Luluh (Part 8)

“Aku mau ngomong sama kamu!” seru Mario tiba-tiba sambil menarik tangan Milly yang sedang berjalan bersama Ila.

“Kamu kenapa sih? Nggak perlu tarik-tarik juga kali!” sahut Milly gusar. Sudah beberapa hari ini dia mogok bicara dengan Mario.

“Milly, aku butuh bicara sama kamu,” pinta Mario lagi. Kali ini agak memelas. Milly melirik Ila.

“Hmm, nggak apa-apa Mil, gue istirahat sama yang lain aja. Lo mending ngobrol dulu sama Mario,” ujar Ila pengertian. Menurutnya, memang lebih baik kalau kedua orang itu saling bicara saja, agar perang dingin yang dilancarkan Milly bisa berhenti.

Milly mengerucutkan bibirnya, tanda tidak setuju. Tapi Ila menatapnya dengan pandangan memohon. Seolah pembicaraan antara dia dan Mario juga berarti bagi Ila. Kalau bukan karena permintaan Ila, mungkin Milly tidak akan mau melakukannya.

“Kamu kemarin ke mana?” tanya Mario saat mereka berdua duduk di taman.

“Kemarin?” ulang Milly tidak paham.

“Iya, pas aku lagi tanding basket. Kamu ke mana?” tanya Mario dengan tidak sabar.

“Oh, aku lihat tanding lari,” jawab Milly enteng.

“Oh, jadi kamu sekarang lebih milih anak baru itu dibanding aku?”

“Kalau iya memang kenapa?” tantang Milly.

“Oke, jadi sekarang lo sama Indra bersengkongkol ya, ngedeketin Nicky buat ngejatuhin gue?” Pertanyaan Mario dan perubahan gaya bicaranya membuat Milly semakin kesal.

“Gue nggak pernah berniat buat ngejatuhin siapapun. Lo aja tuh yang terlalu mikirin diri sendiri!” sahut Milly dengan nada suara yang meninggi.

“Oya? Terus yang selama ini lo lakuin ke gue tuh apa? Tiba-tiba ngambek tanpa alasan yang jelas, persis kayak anak kecil!” kata Mario tak mau kalah.

“Yo, denger ya, lo tuh egois tahu nggak? Lo takut kan sama Nicky? Lo takut Nicky mengambil semua status yang tersandang di diri lo. Cowok terkeren, terpopuler, dan apalah itu. Lo takut, semua itu beralih ke Nicky, karena sebenernya lo tahu, dia jauh lebih keren dari lo. Dia cakep, dia baik, dia ramah sama semua orang, dia juga hebat di bidang olahraga. Lo takut kan sama Nicky?” Milly berbicara panjang lebar. Menembak dengan tepat apa yang sebenarnya Mario rasakan dan sembunyikan.

“Lo naksir Nicky kan?” tuduh Mario, karena ia tidak sanggup menanggapi semua kalimat Milly tadi.

“Nggak. Tapi karena lo udah nuduh gue begitu, mending sekarang kita putus!” ujar Milly dengan tegas. Lalu berdiri dan langsung meninggalkan Mario tanpa basa-basi. Ini kedua kalinya Mario diperlakukan seperti itu.

“Mil! Milly!” panggil Mario. Tapi Milly tidak menghiraukannya sama sekali.

“Argghh!!” seru Mario sambil menendang kerikil di sekitar kakinya untuk melampiaskan rasa kesal.
________________________________________

Langit sore di penghujung Oktober itu masih terang seperti siang. Ninis bersama teman-teman Paskibra-nya membopong potongan-potongan bambu ke lapangan belakang. Bilah-bilah bambu setinggi satu setengah meter itu rencananya akan menjadi properti gerakan baris-berbaris mereka yang akan dilombakan bulan depan. Sebelum dipakai, bambu itu akan dicat terlebih dahulu dengan warna biru dongker.

“Nis, jumlah bambunya udah kamu hitung? Pas kan dengan jumlah anggota kita?” tanya Indra sambil memperhatikan anggota Paskibra yang sedang mengatur bambu di lapangan. Ninis yang berdiri di sebelahnya mengangguk. Sebagai sekretaris klub Paskibra, Indra mempercayakan banyak hal kepada Ninis. Termasuk urusan bambu-bambu ini.

“Struk pembelian cat udah dipegang Rifa?” tanya Indra lagi.

“Iya Kak, tenang aja, semuanya beres. Sekarang tugas kita tinggal ngecat aja,” jawab Ninis. Indra mengangguk setuju.

“Oke!” seru Indra lalu berpaling ke arah anggota Paskibra lainnya. Memberi isyarat dengan gerakan tangan agar mereka memperhatikan Indra sebentar.

“Perhatian untuk semuanya. Setiap orang bertanggungjawab terhadap bambunya masing-masing. Termasuk mengecat dan menjaganya sampai lomba selesai. Oya, hati-hati saat mengecat. Jangan sampai ada cat yang tumpah atau terbuang sia-sia, karena kita nggak beli banyak. Oke?” Semuanya mengerti.

“Nis, kamu pegangin bambu aku dulu ya? Nanti gantian aku yang ngecat bambu kamu,” kata Indra.

Ninis mengangguk setuju. Hatinya melonjak kegirangan karena mendapat kesempatan berdekatan kembali dengan sang pujaan hati.
________________________________________

Di kamar, Milly masih duduk termenung di atas kasurnya ditemani Ila. Milly baru saja selesai menceritakan pertengkarannya dengan Mario di jam istirahat tadi. Ila akhirnya mengerti apa yang terjadi antara Mario dan Milly. Hanya saja permintaan putus dari Milly mengagetkan hatinya.

“Lo serius Mil, mau putus sama Mario?” tanya Ila memastikan.

“Hmm…. Sebenernya sih nggak seserius itu La. Tapi gue keseeell, kesel banget sama Mario! Kenapa sih dia begitu banget!” seru Milly dengan nada tinggi. Ila mengusap punggung Milly untuk menenangkannya.

“Dan lo nggak beneran naksir Nicky kan?” tanya Ila hati-hati.
Milly terkesiap mendengar pertanyaan terakhir Ila.

“Ya enggak lah,” jawab Milly terdengar enggan.”Eh, bukannya sekarang anak Paskibra lagi ngumpul ya di lapangan? Tadi kata si Rifa, mereka mau ngecat bambu atau apa gitu. Lo kenapa nggak ke sana juga?” tanya Milly mengalihkan pembicaraan.

“Memang gue anak Paskibra?”

“Iyaa, gue tahu. Tapi lo nggak khawatir sama Ninis? Kalau dia diem-diem merebut Indra gimana?”

“Ih, lo kok pikirannya buruk terus sih?”

“Bukan begitu maksudnya La. Gue pengen lo lebih waspada aja. Anak itu bisa aja nekat lho!”

“Hmm, ya sudah, gue ke sana bentar deh. Lo ikut yuk, biar nggak ngelamun di kamar aja,” ajak Ila. Milly setuju.
________________________________________

Sebenarnya Ila tidak terlalu ingin ke lapangan. Selain memang tidak ada kepentingan, dia juga tidak ingin terlihat terlalu ikut campur urusan Indra dan Paskibra-nya. Namun, perkataan Milly -entah kenapa- mengusik hatinya. Sudah lama ia membiarkan Ninis dekat dengan Indra, tentu saja sebagai sesama anak Paskibra. Toh, selama ini Indra juga tidak pernah menunjukkan tanda-tanda ia menyukai Ninis. Tapi mungkin tidak ada salahnya jika ia sedikit berhati-hati.

Ila terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri sampai-sampai Milly harus menyenggol lengannya untuk mengingatkan kalau mereka sudah sampai di tepi lapangan. Tidak terlalu dekat dari tempat anak-anak Paskibra mengecat tongkat bambu, tapi juga tidak cukup jauh sehingga Milly dan Ila dapat melihat dengan jelas keakraban yang terjalin antara Indra dan Ninis.

Ninis tampak berjongkok memegangi sebilah bambu yang sedang dicat Indra. Baik Milly dan Ila, tidak dapat melihat wajah Indra karena lelaki itu berjongkok membelakangi mereka. Namun mereka dapat melihat dengan jelas wajah Ninis yang berbinar. Mereka sepertinya sedang membicarakan suatu hal yang sangat menyenangkan, sehingga keduanya sama-sama tertawa.

Ila merenung melihatnya. Sebuah pemandangan yang sebenarnya sudah sering ia temui dan selalu ia biarkan terjadi. Indra mengobrol dengan Ninis dan mereka tampak begitu bahagia. Ila bahkan tidak ingat, kapan Indra tertawa begitu lepas saat mengobrol dengannya. Hari ini, pemandangan itu membuatnya sangat gusar. Tapi Ila tidak tahu harus melakukan apa.

“La, kok lo diem aja sih? Pura-pura nyamperin Indra atau apa kek…” protes Milly.

“Nggak perlu,” jawab Ila cepat. “Kita balik aja,” ujar Ila dingin sambil meraih tangan Milly. Mengajaknya meninggalkan lapangan itu. Sedangkan Milly, meskipun tidak sepenuhnya menerima, terpaksa menurut.

… bersambung …

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s