Luluh (Part 7)

luluh

Oktober telah tiba, dan itu berarti pekan olahraga bagi murid-murid Permata Bangsa. Pekan olahraga adalah acara tahunan yang menggelar pertandingan dari berbagai cabang olahraga yang biasa dimainkan di sekolah asrama itu. Setiap tim yang bermain mewakili tiap angkatan. Oleh karena itu, pekan olahraga ini juga dianggap sebagai salah satu cara memupuk kekompakan tiap angkatan.

Salah satu olahraga yang dilombakan adalah bola basket. Seperti tahun lalu, Mario ditunjuk menjadi kapten bagi tim angkatannya. Milly, yang masih marah pada Mario, tidak mau menonton pertandingan pacarnya itu. Entah kenapa, dia malah memilih menonton pertandingan lari di mana Nicky menjadi salah satu pesertanya.

“La, nonton tanding lari yuk?” ajak Milly pada Ila. Ila terkejut mendengarnya.

“Bukannya hari ini juga ada tanding basket ya? Kok lo malah mau nonton lari? Emang nggak mau lihat Mario?” tanya Ila.

“Ogah!” sahut Milly dengan ketus. “Yuk, lihat lari aja yuk! Kemarin Nicky bilang, kalau dia ikut lomba lari, ikut jadi perwakilan angkatan kita. Yuk!” ajak Milly, dengan merajuk dan setengah memaksa.

Ila mengangguk setuju. Dia merasa tidak memiliki kepentingan pada pertandingan apapun, jadi bisa menonton yang mana saja. Ia hanya heran pada Milly yang biasanya antusias dan bersemangat jika Mario bertanding.

Garis mulai untuk pertandingan lari berada di depan gerbang sekolah Permata Bangsa. Sedangkan untuk jalurnya memakai jalan desa yang biasa murid-murid lalui ketika olahraga pagi setiap hari Minggu. Selain ke lapangan basket, banyak juga murid-murid yang datang ke gerbang depan untuk melihat pertandingan lari dimulai dan berakhir.

“Hei, Ila, Milly, mau lihat tanding lari juga?” tanya Indra saat berpapasan dengan dua gadis itu. Indra bersama beberapa teman-teman laki-lakinya tampak hendak ke gerbang depan juga.

“Eh Indra! Iya nih, kita mau ngasih dukungan buat Nicky soalnya,” jawab Milly dengan nada yang ceria. Indra menyambutnya dengan senyuman yang terlihat penuh semangat juga. Tinggal Ila sendiri yang kebingungan melihat tingkah kedua temannya.

“Kamu nggak nonton basket?” tanya Ila pelan sambil mensejajarkan langkahnya dengan Indra yang berjalan di belakangnya. Sama seperti Milly, Indra adalah salah satu pendukung sejati Mario, yang selalu menonton pertandingan basket, jika kelompok Paskibra tidak ada kegiatan.

“Bosen, ah nonton basket mulu. Sekali-kali lihat pertandingan yang lain. Apalagi Nicky ini anak baru, aku penasaran pengen liat kemampuan dia,” jawab Indra. Ila masih menatap wajah Indra, berharap mendapat keterangan lain.

“Kamu lagi berantem sama Mario?” tanya Ila lagi.

Indra menggeleng, “Enggak. Aku baik-baik aja kok sama Mario,” jawabnya sambil menepuk pundak Ila. Seolah meyakinkan kalau apa yang dia katakan memang benar.
________________________________________

Di lapangan basket, Mario masih bersiap-siap bersama anggota timnya. para siswa yang ingin menyaksikan pertandingan sudah duduk rapi di kursi penonton. Namun Mario tidak menemukan wajah Milly ataupun Indra di sana. Biasanya mereka selalu ada di kursi paling depan, bertiga bersama Ila, mendukung dirinya. Tapi sekarang, bahkan ketiganya tidak ada sama sekali.

Berbagai prasangka mulai berkecamuk di pikiran Mario. Setahu dia, anak Paskibra tidak memiliki kegiatan sore ini. Begitu juga dengan studi klub matematika, yang diikuti oleh Milly. Jadi, ia yakin sekali kalau pacar dan temannya itu seharusnya berada di kursi penonton.

“Lo kenapa Yo? Kok wajahnya kelihatan cemas gitu? Udah, tenang aja, cuma ngelawan anak kelas X ini…” ujar Andri menenangkan. Mario tidak menjawab apa-apa. Bukan itu yang ia cemaskan.

“Selain pertandingan basket, ada kegiatan apa lagi sih?” tanya Mario akhirnya. Andri berusaha mengingat-ingat.

“Ohh, itu, pertandingan lari. Waktunya emang berdekatan sama pertandingan basket,” jawab Andri.

Lari? pikir Mario dalam hati. Sepertinya mereka tidak tertarik pada olahraga itu.
“Eh, katanya, si anak baru itu, ikut tanding lari lho!” celetuk Andri tiba-tiba. Mendengar itu, Mario langsung curiga di mana Indra dan Milly sekarang. Membuatnya mengawali pertandingan dengan prasangka-prasangka buruk yang merusak konsentrasinya.
________________________________________

“Ya ampun, seneng banget deh akhirnya, bisa tampil lagi di depan Mario!” seru Zizi senang sambil menguncir rambut panjangnya. Alvy dan Zizi sedang bersiap-siap untuk tampil menjadi cheerleaders di pertandingan basket antara kelas X dan kelas XI.

“Hush, jangan lupa, kalian itu tampil untuk mendukung angkatan kita. Bukan angkatannya Mario!” tegur Ninis yang memperhatikan saja kedua sahabatnya bersiap-siap.

“Ih, Ninis… Kita memang tetap mendukung angkatan kita. Tapi mata, boleh dong, menatap yang lain,” sahut Alvy. “Eh, kira-kira, Nicky jadi penonton nggak ya? Atau bahkan mungkin jadi pemain? Seinget gue, badan dia lumayan atletis. Pasti sering olahraga,” lanjut Alvy sambil menebak-nebak.

“Iya, iya! Siapa tahu Nicky jadi pemain basket juga Vy! Terus dia lihat lo deh, jadi cheerleaders!” sahut Zizi dengan gembira. Alvy kegirangan mendengarnya. Ninis hanya menghela nafas melihat tingkah mereka.

“Heh, cepetan! Nanti keburu mulai lho pertandingannya,” ujar Ninis mengingatkan. Alvy dan Zizi mengangguk sambil mengambil pom-pom mereka. Lalu melakukan gerakan-gerakan cheers mereka sambil berjalan meninggalkan kamar.

Sebenarnya bukan hanya Alvy dan Zizi yang berharap bertemu pujaan hati mereka pada pertandingan basket sore ini. Diam-diam, Ninis juga berharap Indra ada di sana. Karena biasanya dia ada di sana, mendukung sahabatnya. Ninis tahu, Indra memang telah memiliki Ila sebagai pacarnya. Tapi menurutnya, bukan kesalahan jika ia mencintai Indra diam-diam dan tidak mengganggu hubungannya dengan Ila.

Ninis harus memendam kecewa saat dilihatnya Indra tak ada di sana. Aneh, pikir Ninis, biasanya Indra selalu ada jika Mario bertanding. Tapi, dari awal sampai akhir pertandingan, Indra tidak juga muncul. Ninis juga memperhatikan kalau permainan Mario tidak sebagus biasanya. Membuat Ninis merasa ganjil dan penasaran. Namun setelah dipikir-pikir, itu sama sekali bukan urusannya. Pertandingan basket itu pun berakhir dengan kemenangan di pihak kelas X.
________________________________________

Malam itu, Mario pergi ke ruang makan sendirian. Pikirannya masih kacau balau karena kejadian sore tadi. Indra dan Milly ternyata memang lebih memilih menonton pertandingan lari dibanding dirinya. Tapi yang membuatnya semakin kesal adalah Nicky menang dan dia kalah, serta Indra yang bersikap seolah tidak terjadi apa-apa di antara mereka.

Indra tadi menyapa Mario, dan menanyakan kabar pertandingan basket. Dengan senyum manis seperti biasa, seolah ketidakhadirannya di pertandingan tadi adalah hal yang wajar. Namun, Mario terlalu enggan untuk memberi balasan apapun dan hanya melengos pergi. Meninggalkan Indra yang hanya terdiam.

Sebenarnya Mario tidak suka keadaan seperti ini. Milly membencinya dan Indra menjauhi dirinya. Dia tahu, teman di sekolah ini bukan mereka berdua saja. Tapi mereka-lah yang selama ini Mario percaya. Dia mulai berpikir tentang mengajak Indra bicara empat mata.

Saat Mario melihat Indra berjalan sendiri sambil membawa piring berisi nasi, ia pikir ini adalah waktu yang tepat. Ia pun buru-buru mengantri mengambil nasi sebelum Indra selesai mengambil lauk-pauk. Sayang, ia terpaksa kecewa saat dilihatnya Indra berjalan menghampiri meja makan di mana Nicky sudah menunggunya di sana.

Mario, sungguh sangat tidak sudi melihat Nicky. Apalagi berbicara padanya. Entah mengapa, ia menyimpan rasa kesal dan benci tanpa alasan terhadap laki-laki itu. Tapi ia merasa tetap harus bicara pada Indra.

“Ndra, gue pengen ngomong sesuatu sama lo. Gue tunggu lo di tempat biasa, abis makan malem,” ujar Mario singkat. Wajahnya sedingin nada suaranya ketika Mario mengucapkan kalimat itu kepada Indra. Indra sedikit terkejut tadi, tapi ia langsung mengangguk sambil tersenyum. Lalu Mario pergi, tanpa melihat Nicky sama sekali.

Tempat biasa yang dimaksud Mario adalah bagian atas asrama yang biasa dipakai murid-murid untuk menjemur pakaian mereka. Tempat terbuka itu tidak cukup luas dan lantai semennya dipelur kasar agar tidak mudah licin. Sejak kelas X, Indra dan Mario suka mengobrol di tempat itu. Tempat yang sepi dan aman untuk membicarakan apa saja.

“Hai Yo!” seru Indra kepada Mario yang sudah menunggu sejak tadi. Mereka duduk di tembok pembatas yang rendah.

“Akhir-akhir ini lo kenapa sih?” tanya Mario langsung ke inti pembicaraan. Indra mengernyit heran, tidak mengerti maksud Mario.

“Memangnya gue kenapa?” tanya Indra.

“Gue ngerasa aneh aja. Selama ini, lo selalu ngedukung gue. Tapi, sejak ada anak baru itu, lo tiba-tiba jadi….” Mario menghentikan ucapannya, terlihat bingung memilih kata. “Jadi asing…”

“Gue ngerasa lo lebih asing lagi. Maksud gue, selama ini lo selalu menjadi pemimpin yang baik. Jadi ketua kelas yang baik, ketua kamar yang baik. Tapi sejak ada Nicky, lo jadi suka bersikap semena-mena. Gue pikir, harusnya gue yang bertanya sama lo. Lo kenapa sih?”

“Gue ngerasa, ada sesuatu yang buruk setiap kali inget atau lihat anak baru itu!” seru Mario akhirnya. Mengutarakan apa yang selama ini mengganjal di hati.

“Sesuatu yang buruk apa sih? Lo kayak cewek deh! Udah ah, gue nggak mau ngebahas masalah ini. Dan lo harus inget, anak baru itu namanya Nicky. dia anak baik kok!” sahut Indra, lalu berbalik dan segera menuruni tangga.
________________________________________

Di kamar, Nicky telah menunggu Indra dengan segelas susu hangat yang uapnya masih mengepul. Ada sedikit rasa ingin tahu tentang apa yang ingin dibicarakan oleh Mario, di tempat ‘biasa’ mereka yang entah di mana. Tapi untuk menanyakannya secara langsung kepada Indra, Nicky merasa tidak enak.

“Ndra, gue buatin susu nih buat lo,” ujar Nicky dengan ramah kepada Indra yang berjalan gontai ke ranjangnya.

“Wah, lo rajin banget Nick!” sahut Indra sambil melirik gelas di tangan Nicky. Nicky tersenyum.

“Iya, tadi gue barusan bikin susu. Eh, ngambil air panasnya kebanyakan. Jadi, mending gue bikin buat lo juga. Lo minum ya?” pinta Nicky. Mata hitamnya yang berbinar menatap langsung mata Indra. Indra agak jengah ditatap seperti itu. Tapi ia tetap tersenyum dan menerima gelas berisi susu dari tangan Nicky.

“Sebenernya gue nggak terlalu suka minum susu sebelum tidur. Nanti gue tambah tinggi lagi,” ujar Indra lalu tertawa. Nicky ikut tertawa mendengar gurauan Indra.

“Eh, ada itu sisa susu,” kata Nicky seraya mengelap tepi bibir Indra yang terkena susu dengan punggung jemarinya. Indra terkesiap menyadari apa yang baru saja dilakukan Nicky. Belum pernah ada yang melakukan hal itu kepadanya. Dan aneh sekali rasanya, saat Nicky yang melakukannya. Tapi Indra tidak mengatakan apa-apa. Hanya ucapan terima kasih saat Nicky mengambil gelasnya kembali dan meninggalkan ranjang Indra.

… bersambung …

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s