Luluh (Part 6)

luluh

Ila berjalan menyusuri pematang sawah di mana Indra pernah mengajakanya beberapa kali ke sana. Di ujung sawah itu, terdapat tanah yang agak melandai dan sungai berair jernih, menjadi pemisah bagi sawah di sebelahnya. Agar para petani mudah mencapai sawah yang satu lagi, dibentangkan dua buah batang pohon sebagai jembatan kecil. Dan tepat di jembatan kayu itu, Indra duduk sambil menanti Ila.

“Aku agak nggak yakin sebenarnya, kamu bisa sampai di sini,” kata Indra sambil membantu Ila menuruni tanah yang landai itu.

“Aku sempet kesel tadi nggak nemuin kamu di taman bougenville ataupun di lapangan. Dan nggak nyangka kalau ternyata kamu nungguinnya di sini,” jawab Ila. Indra tersenyum.

Mereka kini telah duduk di gelondongan kayu itu, dengan kaki terjulur, hampir-hampir menyentuh air sungai. Kadang-kadang mereka memang suka duduk di tempat itu. Tapi tidak sesering yang mungkin dibayangkan orang-orang. Karena Indra sebenarnya menyimpan rasa bersalah pada Adly jika menggunakan kunci itu untuk kesenangannya sendiri.

“Aku punya sesuatu untuk kamu,” kata Indra sambil mengeluarkan kotak kecil dari kantung celananya. Kotak itu berwarna kuning juga, seperti warna kertas surat yang tadi ditemukan Ila. Sebagai pemanis, ada hiasan pita dan bunga kecil di bagian tutupnya.

Indra menyerahkan kotak itu langsung ke genggaman Ila, sambil berujar, “Selamat ulang tahun ya!”

Ila hanya tersenyum, dan membuka kotak itu dengan perlahan. Senyumnya makin melebar saat ia melihat benda berkilau yang ada di dalamnya. Sebuah kalung berbandul hati, berwarna perak.

“Bukan sesuatu yang mahal. Bahkan aku nggak yakin itu perak sungguhan. Tapi aku harap, kamu mau menerimanya,” kata Indra. Ila tidak menjawab dengan kata-kata. Tapi langsung memeluk Indra dengan erat. Pelukan terima kasih dan juga kebahagiaan.

Bagi Ila, harga sebuah benda bukanlah ukuran utama. Bahkan meski kalung itu Indra beli dari tukang jepitan di pinggir jalan, ia tetap menerimanya dengan senang hati. Karena Ila tahu, apa yang diberi Indra, tidak sekedar itu.

“Kamu tahu La, kamu satu-satunya perempuan yang ada di hati aku.”
Dan kalimat itu, meyakinkan Ila kalau apa yang ada di pikirannya memang benar.
________________________________________

Bukan hanya Indra yang memberi kejutan di hari ulang tahun Ila, teman-teman sekamarnya juga. Saat ia pulang dari desa belakang, ia disambut kue ulang tahun ala anak asrama di depan pintu kamar. Ya, kue ulang tahun berupa roti, biskuit, dan wafer yang disusun dan dihias sedemikian rupa, hingga terlihat agak-agak mirip dengan kue sungguhan.

“Lo ke mana aja sih tadi?” tanya Milly penasaran saat pesta kecil itu berakhir.

Ila tidak ingin langsung menjawab. Ia malah menarik Milly ke ranjangnya.

“Lo harus tahu, gue dikasih ini sama Indra,” ujar Ila, agak berbisik, sambil menunjukkan kalung yang terpasang di lehernya. “Dan lo juga harus tahu, gimana cara Indra ngasihnya,” lanjut Ila dengan wajah berbinar.

Lalu Ila mengeluarkan kertas-kertas kuning dari kantong bajunya, dan menceritakan apa yang ia lalui tadi. Milly mendengar kisah itu dengan ekspresi yang berubah-ubah. Senang, terkejut, dan sedikit iri.

“Ya ampun La, lo tuh beruntung banget sih punya pacar kayak Indra…” ujar Milly di penghujung cerita Ila.

Milly sendiri, langsung teringat Mario, yang bahkan lupa hari ulang tahunnya. Mungkin cowok itu tidak akan ingat, jika Ila tidak memberi tahunya diam-diam. Itu Milly ketahui, karena Mario tidak sengaja mengucapkannya, dan membuat Milly merajuk selama beberapa hari.

Milly bukannya tidak suka melihat sahabatnya bahagia. Ia hanya iri, dan menjadi agak sebal pada Mario karena tidak pernah melakukan hal-hal romantis, seperti yang Indra lakukan kepada Ila. Andai saja Mario sedikit lebih perhatian kepadanya, keluh Milly dalam hati.

________________________________________

Setelah ulang tahun Ila berlalu, Milly berubah menjadi lebih pendiam. Tidak ada komentar-komentar isengnya di kelas atau gangguan-gangguan kecil yang biasanya ia lakukan pada teman di kelas atau di kamar.

Ila yang pertama kali menyadari perubahan itu, menanyakan langsung pada Milly. Dengan baik dan lemah lembut khas Ila, tentu saja. Tapi Milly hanya tersenyum tipis dan menjawab kalau ia baik-baik saja. Kalau dia memang terlihat berubah, itu tidak sangkut pautnya dengan Ila, dan Ila tidak berbuat apa-apa yang menyakiti hatinya.

Namun, bukan hanya Ila, Mario pun sadar akan keanehan Milly. Namun itu baru terjadi setelah Milly ‘membisu’ beberapa hari. Dan kenyataan itu, semakin membuat Milly kesal pada Mario, yang sebenarnya adalah alasan utama mengapa ia berubah jadi pendiam.

“Kamu kenapa sih? Kok jadi pendiam gini? Sakit gigi ya?” tanya Mario setengah bercanda. Milly hanya mendengus. Tidak tergugah sama sekali dengan candaan Mario.

Saat itu mereka ada di kelas. Milly tidak merasa tertarik sedikit pun untuk meninggalkan kursinya, dan Mario melihat ini adalah kesempatan emas untuk menanyakan kondisi Milly secara personal.

“Kamu kenapa sih? Lagi kesel?” tanya Mario lagi. Kali ini dengan serius.
“Iya!” jawab Milly ketus.

“Kesel kenapa?”

“Sama kamu!”

“Aku? Emang aku ngapain?” tanya Mario heran.

“Kamu nyebelin! Aku ngerasa kamu nggak sedikitpun perhatian sama aku. Nggak kayak Indra!”

Mendengar nama temannya disebut Milly, membuat Mario langsung naik darah. “Jadi kamu ngebanding-bandingin aku sama Indra?” tanya Mario dengan suara tinggi.

“Iya! Indra tuh baik, perhatian, romantis. Nggak kayak kamu. Bisanya cuma marah-marah dan ngerjain anak orang!” sahut Milly tanpa rasa takut sedikitpun. Setelah mengatakan itu, Milly langsung keluar kelas. Meninggalkan Mario bersama rasa marahnya.
________________________________________

Milly berjalan cepat-cepat menjauhi kelas, dan pergi ke arah kantin. Berharap bertemu Ila atau siapapun yang bisa ia ajak istirahat bersama.

“Hai Mil!” sapa Nicky yang tidak sengaja berpapasan dengan Milly.

“Hai Nick,” jawab Milly tanpa gairah. Wajahnya benar-benar terlihat lesu.

“Lo kenapa? Kelihatannya suntuk banget,” tanya Nicky.

“Nggak apa-apa kok. Cuma agak bête aja,” jawab Milly, sedikit melirik pada es krim cone rasa coklat yang ada di kedua tangan Nicky.

Nicky, yang menangkap lirikan tersebut, dan melihat wajah suntuk Milly, akhirnya mengulurkan salah satu es krimnya kepada Milly. Tadinya, es krim itu sengaja ia beli untuk diberikan pada Indra, yang pada jam istirahat seperti ini, malah berkumpul dengan teman-teman Paskibra-nya. Tapi melihat Milly seperti itu, ia jadi tidak tega.

“Nih, buat lo. Supaya betenya hilang. Katanya, mengkonsumsi coklat bisa menenangkan hati,” ujar Nicky lalu tersenyum. Milly tidak kuasa menolak. Es krim itu memang terlihat menggiurkan di matanya.

Mereka berakhir di bangku semen yang melingkari sebuah pohon yang berdiri di depan kelas. Ada banyak bangku seperti itu di area kelas. Dan ada lebih banyak murid yang menghabiskan waktu istirahat mereka di sana. Entah untuk menyantap jajanan atau sekedar duduk-duduk sambil mengobrol. Nicky dan Milly melakukan keduanya. Dari jauh, Mario memperhatikan semua itu dengan kemarahan dan kecemburuan yang meluap-luap di hati.

… bersambung …

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s