The Chronicle of Narnia dan Mimpi ke UK

Perkenalan saya dengan Pevensie bersaudara dimulai pada tahun 2008. Cukup telat memang, mengingat film The Lion, The Witch, and The Wardrobe pertama kali rilis tahun 2005. Sebenarnya di tahun 2005 itu saya sudah ngeh dengan keberadaan film tersebut, hanya saja, entah mengapa belum tertarik untuk menontonnya.

Di tahun 2008, saat itu saya kelas 2 SMA. Saya dan teman-teman di kelas IPS memiliki kebiasaan yang sebenarnya illegal. Jika ada pelajaran kosong atau sepulang sekolah, kami sering meminjam ruang laboraturium IPA untuk menonton film. Lho, kok, bisa? Ya, di sekolah saya, ruang laboraturiumnya memiliki infocus dan DVD player, dan kami beberapa kali menyalahgunakannya untuk menonton film. Yah, nggak apa-apa lah ya, maklum santri butuh hiburan, hehehe…

Kembali lagi ke Narnia, di tahun itu film Prince Caspian rilis. Kami pun berniat untuk menontonya bersama-sama. Supaya lebih afdhal, kami juga menonton The Lion, The Witch and The Wardrobe. Itulah pertama kalinya saya merasakan keseruan saat menonton film. Saya ingat, kami berteriak-teriak seru saat adegan peperangan, saat Peter atau Edmund mengayunkan pedangnya melawan tentara Raja Mraz. Belum lagi perasaan tegang saat Peter tanding pedang satu lawan satu dengan Raja Mraz. Begitu juga keseruan saat para pohon dan makhluk-makhluk Narnia lainnya membantu jalannya peperangan.

Ah, pokoknya ribut banget deh waktu nonton Narnia. Benar-benar meninggalkan kesan yang mendalam bagi saya. Bahkan beberapa hari setelah menonton Narnia, kami masih suka menyanyikan lagu The Call-nya Regina Spektor. “You’ll come back when it’s over, no need to say goodbye.”

Ada alasan lain yang membuat film Narnia terasa istimewa. Saya melihat Pevensie bersaudara itu seperti representasi Lima Sekawan minus Timmy dengan setting di dunia fantasi. Peter adalah Julian, Susan adalah Dick, Edmund adalah George, dan Lucy adalah Anne. Meskipun untuk Susan dan Dick nggak terlalu mirip. Yah, pokoknya saat melihat William Moseley di Narnia itu saya seperti melihat Julian yang selama ini saya bayangkan mewujud nyata. Bagaimana Peter menyayangi dan melindungi Lucy makin membuat saya merasa Peter itu Julian dan Lucy itu Anne. Dan saya sukaaaa banget dengan hubungan mereka.

Sebagai anak yang pernah kena Big Brother Complex, saya –tentu saja- ngefans banget dengan Peter. Afffh… afffh… (gigit bantal) (apaan sih, nggak jelas, abaikan). Banyak adegan antara Peter dan Lucy yang bikin saya gigit bantal.

1. Saat Peter menyetujui permainan petak umpet yang diajukan Lucy. Padahal saudaranya yang lain nggak mau. Dan karena permainan itulah Lucy menemukan lemari yang mengantarkan mereka pada Narnia.

f0251f68f53bed1d962b865f397000a3

pinterest

2. Saat Peter panik menyadari Lucy tidak berada bersamanya setelah melewati sungai es. Yang terlihat mengambang hanya jubahnya saja. (terus Lucy nongol dengan wajah innocent)

3. Saat Peter memeluk Lucy ketika Lucy hampir saja diserang beruang liar. Ah, ini best moment banget.

a6bab3f1f6f558461e6901dcd8b2023c

pinterest

4. Saat Peter mengikuti Lucy yang diam diam berjalan sendirian mengulang apa yang ia alami di dalam mimpi.

fe5d1966fa5253abe6901912a8b2b414

pinterest

Pokoknya saya ngefans sama Peter, deh. Dia benar-benar mengingatkan saya dengan Julian. Dan kalau sudah berbicara tentang Julian dan saudara-saudaranya, maka tidak akan terlepas dari Enid Blyton dan mimpi terpendam saya mengunjungi UK.

Ya, setelah membaca berbagai serial Enid Blyton (Mallory Towers, St. Clare, Si Badung, Seri Kumbang, beberapa seri Pasukan Mau Tahu dan Sapta Siaga) dan mengoleksi Lima Sekawan (termasuk tergila-gila pada Julian), saya begitu tertarik dan begitu ingin mengunjungi Inggris. Inggris di mata saya tampak seperti negeri penuh keajaiban dan petualangan yang menanti untuk dilalui.

Pada akhirnya, menonton Narnia membuat saya teringat dengan Julian, dan secara tidak langsung mengingatkan saya dengan mimpi UK saya. Setelah menonton Narnia, saya benar-benar bertekad suatu hari nanti saya bisa menginjakkan kaki di UK. Saya bermimpi melanjutkan studi saya di sana.

Ketika kelas 3 SMA, saya sibuk mencari tahu tentang kuliah S1 dan S2 di UK. Berbagai macam situs beasiswa, situs universitas, buku-buku yang membahas beasiswa ke luar negeri, semua saya lahap dengan senang hati. Saat itu saya merasa yakin sekali bahwa saya benar-benar bisa mewujudkan mimpi saya.

Lalu, segalanya berubah saat saya memasuki jenjang kuliah. Saat itulah saya merasa saya tidak ada apa-apanya dibanding teman-teman kuliah saya yang keren dan punya segudang prestasi. Tiba-tiba saya merasa begitu minder dan akhirnya saya mengubur mimpi UK saya dalam-dalam.

Suatu hari, saya menonton film Narnia di televisi. Saya menonton film itu hingga selesai, tak peduli dengan iklan-iklan yang memotong keseruan film. Setelah itu, saya menangis. Saya menangis karena ingat dengan mimpi saya saat SMA. Mimpi saya menginjakkan kaki dan menuntut ilmu di UK.

Saya sedih mengingat perasaan ketidakberdayaan saya saat itu. Saya ingin sekali tetap memperjuangkan mimpi itu, tetapi di sisi lain, sebagian dari diri saya mengatakan itu hil yang mustahal alias nggak mungkin. Dan saya kembali menangis.

Setelah kejadian itu, setiap kali saya menonton film Narnia, saya ingat mimpi saya yang saya kubur dalam-dalam. Meski setelah itu, saya tidak lagi menangis setiap selesai menonton Narnia. Hanya merasa tersentil, kadang sentilannya terasa sakit, kadang saya menikmati sentilan itu.

Ketika memasuki masa bekerja, saya teringat dengan mimpi itu lagi. Mimpi UK saya. Saat itu saya merasa sudah lebih baik dalam menghadapi momen-momen menyusun mimpi. Saya tidak lagi menggebu-gebu dan ambisius mengejar mimpi. Yang saya lakukan adalah mengizinkan hati dan pikiran saya untuk menyusun dan memiliki mimpi tersebut. Lalu berdoa kepada Allah agar Allah mengizinkan saya memiliki dan memperjuangkan mimpi tersebut, dan semoga itu adalah yang terbaik bagi saya.

Setelah itu, saya tidak lagi merasa tertekan, sedih, atau minder setiap kali mengingat mimpi UK saya. Bahkan meski sampai sekarang mimpi itu tertunda, saya tidak merasa tertekan sama sekali. Suatu hari nanti, saya pasti akan menginjakkan kaki dan menuntut ilmu di UK. Dan Insya Allah itu adalah yang terbaik bagi Allah. Karena seperti yang Allah firmankan dalam hadits qudsi yang sudah terkenal itu, “Aku seperti persangkaan hamba-Ku.”

Sampai sekarang, The Chronicle of Narnia adalah film favorit saya dan setiap kali film Narnia diputar di televisi, saya akan menontonnya hingga selesai.

*postingan ini untuk blogging challenge – favorite movie*

Advertisements

3 thoughts on “The Chronicle of Narnia dan Mimpi ke UK

  1. Wah, ceritanya terharu deh :’) saya juga pgn banget kuliah ke US, sekarang siap” untuk beasiswa dan belajar lebih disiplin biar bisa ke sana… ada tips ga yah buat persiapan gini? Mudah”an kita berdua bisa ke tempat impian kita yaa…

    Like

    • Amiiin ya Allah…

      Mengenai tips, sebenarnya saya bukan orang yang tepat buat ngasih tips, soalnya ini juga baru harapan dan impian, tapi kalau melihat beberapa teman yang berhasil studi ke luar negeri, yang paling pertama itu banyakin informasi tentang negara dan universitas tujuan. Selain itu, menetapkan alasan dan tujuan kita mengambil jurusan atau pendidikan tersebut. karena biasanya pihak pemberi beasiswa itu ingin tahu niat dan tujuan kita melanjutkan pendidikan itu apa. dan sebenarnya niat dan tujuan itu juga bisa mendorong kita untuk disiplin. menurutku sih seperti itu.

      Good luck ya, semoga tercapai impian ke US nya 🙂

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s