Luluh (Part 5)

luluh

Malam telah larut. Di luar, angin berhembus kencang, menggoyang dahan-dahan pohon. Menimbulkan suara keriut-keriut yang menggentarkan hati. Udara dingin menelusup lewat celah-celah jendela. Seperti hantu yang diam-diam masuk ke dalam kamar yang telah sepi itu.

Jam dinding menunjukkan pukul satu dini hari. Indra masih terjaga di kasurnya, di saat semua teman sekamarnya telah berada di alam mimpi. Di atas kasurnya, berserakan kertas-kertas surat yang indah dan berbau harum. Berkali-kali tangannya mencoret-coret sebuah notes. Berkali-kali juga ia menengadah, menatap langit-langit kamar, seolah mencari inspirasi.

Indra memang sedang mencari inspirasi. Besok Ila berulang tahun. Dia ingin memberi kejutan istimewa untuk kekasihnya. Indra sudah menyiapkan sesuatu untuk Ila di suatu tempat. Rencananya, dia akan memberi petunjuk-petunjuk misterius dengan kalimat puitis agar Ila bisa sampai di sana.

Saking sibuknya dengan petunjuk-petunjuk itu, Indra tidak sadar kalau Nicky terbangun dari tidur. Nicky, yang terbiasa bangun tengah malam untuk ke kamar mandi, penasaran melihat Indra yang terjaga. Setelah urusannya di kamar mandi selesai, ia pun menghampiri ranjang Indra.

“Lagi ngapain Ndra?” tanya Nicky.

“Eh! Lo bangun Nick?” sahut Indra kaget. Nicky tertawa kecil.

“Iya, gue kan emang suka kebangun malem-malem. Lagi ngapain sih?” tanya Nicky lagi dan langsung duduk di sebelah Indra tanpa meminta izin.

“Ini, besok kan Ila ulang tahun, gue mau ngasih kejutan buat dia. Pengen nulis puisi gitu. tapi, kok kayaknya puisi yang gue buat jelek banget ya?” ungkap Indra. Nicky melihat tulisan-tulisan di notes yang Indra tunjukkan tanpa minat. Namun dibacanya juga barisan kalimat itu.

“Ya udah lah, nggak puitis juga nggak apa-apa kok Ndra. Udah malem nih, lo mendingan tidur deh. Daripada besok kuyu ketemu Ila. Ya?” bujuk Nicky sambil mengusap-usap punggung Indra. Indra yang sebenarnya sejak tadi kelelahan dan mengantuk, tak menolak usul Nicky.

Nicky membantu Indra merapikan kertas-kertasnya, hingga semua rapi dan Indra siap tidur.

“Lo istirahat ya. Inget, besok hari spesialnya Ila,” ujar Nicky lagi, sambil membantu Indra memakai selimut.

Indra mengangguk sambil tersenyum. Lesung pipit di pipi kanannya terbentuk, menjadikan wajah yang mengantuk itu tetap manis seperti biasa.

Di kasurnya, Nicky belum berminat untuk tidur. Ia teringat Ila, gadis pertama yang ia temui di sekolah ini, dan betapa beruntungnya dia memiliki pacar seperti Indra.
________________________________________

Ila menemukan secarik kertas berwarna kuning cerah di kursinya. Pagi itu belum ada siapa-siapa di kelas, kecuali Zilfan yang asyik menggambar. Mungkin membuat komik, seperti yang biasa ia lakukan setiap hari.

Tidak ingin mengganggu, akhirnya Ila tidak bertanya kepada Zilfan tentang kehadiran surat misterius itu. Dia langsung membukanya, dan tersenyum saat membaca isinya.

Ssst… jangan bilang siapa-siapa. Pesan ini hanya untukmu. Temuilah bougenville dan bawa serta mentari senja bersamamu.

Ila tahu surat itu pasti dari Indra. Ila hafal sekali dengan gaya tulisan Indra, yang hurufnya rapat-rapat dan ramping. Dia melipat kembali kertas itu dan menyelipkannya ke dalam binder. Menunggu kelas dimulai dengan perasaan sumringah. Dia tahu maksudnya apa.
________________________________________

Sorenya, Ila berjalan menuju taman bougenville sendirian. Ia tidak memberi tahu siapa-siapa, termasuk Milly, tentang pesan yang diterimanya. Taman yang berada di belakang asrama itu terlihat cukup sepi. Tidak banyak murid yang berkeliaran di sana. Ila mencari-cari sosok Indra. Tapi yang dicari tidak sedikitpun menunjukkan batang hidungnya.

Mungkin Indra belum datang, pikir Ila. Dia menunggu sambil melihat bunga-bunga bougenville. Kelopak mereka yang berwarna oranye, merah muda, dan ungu itu tampak cantik jika tumbuh bergerombol. Tiba-tiba mata Ila tertumbuk pada satu rimbunan bougenville yang terlihat ganjil. Ada kertas kuning cerah yang terselip di antara dedaunannya.

Dengan penasaran, Ila pun membuka lipatan kertas itu.

Jika satu mentari senja saja sudah begitu indah, maka kamu adalah ribuan mentari senja bagi hatiku. Pergilah ke tempat pertama kali kita bertemu.

Ila tersenyum lagi membacanya. Seperti saat ia mendapat pesan pertama. Dasar Indra, bagaimana dia bisa yakin kalau hanya aku yang menemukannya. Bagaimana jika ada orang iseng yang tak sengaja membaca surat itu, pikir Ila. Tapi Ila tak menunda sedetik saja. Ia berjalan setengah berlari menuju tempat yang dimaksud Indra. Tempat pertama kali mereka bertemu.

Tempat bersejarah itu adalah sebuah lapangan luas yang juga berada di belakang asrama. Lapangan itu sering dipakai murid-murid Permata Bangsa untuk kegiatan mereka. biasanya, yang paling sering memakai lapangan tanah itu adalah klub sepakbola serta klub kepanduan, yang berisi kelompok Paskibra, Palang Merah Remaja (PMR), dan Pramuka.

Ila berjalan sambil mengenang masa lalunya. Waktu itu, dia dan Indra masih kelas X. Mereka bertemu di lapangan itu, karena sama-sama memilih klub kepanduan sebagai ekstrakurikuler yang mereka ikuti. Namun, Indra memilih menjadi anggota Paskibra dan Ila anggota PMR.

Ila ingat betapa sosok Indra begitu menarik perhatiannya. Sosok yang terlalu jangkung bagi anak yang baru lulus SMP. Tapi sepertinya Indra juga sadar akan kehadiran Ila. Berkali-kali Ila menangkap tubuh kurus tinggi itu memperhatikan dirinya.

Ila tersenyum sendiri mengingat kenangan itu. Tapi senyumnya pudar tatkala ia melihat bahwa lapangan itu juga sepi. Tidak ada Indra, atau murid-murid lainnya. Awalnya ia merasa heran dengan suasana sepi itu, lalu ia teringat kalau minggu ini ujian tengah semester sudah dimulai, dan beberapa kegiatan ekskul dihentikan sampai ujian selesai.

Meskipun sepi, Ila tetap melintasi lapangan itu. Berharap Indra tiba-tiba muncul di hadapannya. Sayangnya, ia hanya menemukan kertas berwarna kuning lagi, yang ditimpa batu kecil agar tidak terbang.

Ada sebuah pintu rahasia di hatiku. dan kau satu-satunya yang memegang kunci. Masuklah dengan senang hati.

Ila mendongakkan kepala dan baru sadar kalau pintu itu ada di depannya. Itu pintu sungguhan. Sebuah pintu besi bobrok di sudut lapangan yang dari jauh tidak terlihat seperti pintu sama sekali. Lebih mirip besi tua rongsok yang disandarkan begitu saja di tembok yang membatasi sekolah Permata Bangsa dengan desa di sekitarnya.

Pintu itu adalah salah satu rahasia Indra yang dibaginya kepada Ila. Pintu yang jika dibuka, membawa mereka keluar dari lingkungan asrama yang membosankan ke kehidupan pedesaan yang meneduhkan. Di mana sawah terbentang dan gemericik air terdengar dari sungai-sungai kecil yang jernih dan bersih. Tidak banyak yang tahu kalau pintu itu memiliki kunci. Hampir semua murid mengira pintu itu terkunci selamanya.

Tapi sebenarnya tidak. Setahun lalu, kunci pintu itu dimiliki oleh seorang murid bernama Adly. Dia adalah Ketua Paskibra, yang juga sering mengajar anak-anak di desa sebelah. Pintu itu ia jadikan jalan pintas menuju tempatnya mengajar. Sesuatu yang didukung oleh guru-guru Permata Bangsa.

Saat Adly lulus, dia menyerahkan kunci itu kepada Indra. Pintu itu memang tidak ada hubungannya sedikitpun dengan Paskibra, tapi Adly tidak ingin kunci itu dipegang oleh guru. Indra, yang terlalu gugup jika harus menghadapi anak-anak, merasa tidak mungkin mengajar seperti yang Adly lakukan. Maka ia menceritakan hal itu pada Ila, dan kini, Ila yang menjadi penerus Adly.

Kunci itu dipegang Ila pada akhirnya. Tapi tadi pagi, Indra meminjamnya. Katanya ada sesuatu yang harus ia lakukan di desa. Jadi ketika Ila membuka pintu besi yang tidak terkunci itu, ia tahu Indra pasti ada di sana. Di tempat rahasia mereka.
________________________________________

… bersambung …

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s