Luluh (Part 4)

luluh

Kondisi kamar nomor 2 di penghujung siang tampak ramai dengan murid putra yang baru saja pulang sekolah. Banyak dari mereka yang melepas sepatu dan kaus kaki begitu saja, hingga terlempar ke mana-mana.

Ada yang langsung mendarat di kasur tanpa mengganti baju seragam. Ada juga yang langsung berlari ke kamar mandi. Namun, sang ketua kamar masih berdiri di depan pintu. Memastikan semua penghuni kamar telah berada di dalam. Lalu dengan semena-mena, menggedor-gedor pintu kayu tersebut, seperti yang biasa ia lakukan jika ingin memberi pengumuman.

“Guys, gue punya pengumuman penting nih!” seru Mario memecah perhatian. “Mulai siang ini sampai besok pagi, kita nggak perlu ngelaksanain tugas piket.”

“Woooo…!!” seisi kamar langsung ribut.

Ada yang langsung joget-joget dan loncat-loncat saking senangnya. Tapi penghuni kamar paling kritis langsung angkat bicara.

“Kenapa Yo?” tanya Indra penasaran.

“Kenapa? Karena akan ada yang ngerjain itu semua, yaitu penghuni kamar kita yang manis ini!” seru Mario sambil menunjuk ke arah Nicky yang saat itu sedang melepas kemejanya. Nicky mendengak tidak percaya.

“Yo, lo kenapa sih? Kenapa lo tiba-tiba nyuruh Nicky untuk ngerjain semua tugas piket?” tanya Indra belum puas.

“Karena dia udah berani ngedeketin Milly,” jawab Mario singkat. Indra menghela napas mendengar ucapan temannya.

“Gue nggak ngedeketin Milly. Kapan?” tanya Nicky membela diri.

“Tadi pas istirahat di kelas itu apa?” tanya Mario sambil mendekati Nicky yang berdiri di pinggir ranjangnya. “Lo tuh harusnya bersyukur, gue masih punya akal sehat untuk nggak nonjokin muka lo sampe bonyok. Padahal tangan gue udah gatel banget rasanya!”

“Ya ampun, itu cuma nanya soal matematika. Nggak ada maksud buat ngedeketin Milly,” sahut Nicky. Ia tidak mau begitu saja menerima hukuman yang diberikan Mario. Tahu sendiri kamar putra hancurnya seperti apa.

“Mana gue peduli! Yang penting lo harus ngerjain tugas piket itu! Lo kan bisa aja bohong, bilangnya cuma nanya soal, tapi sebenernya emang ngedeketin dia.”

“Enggak Yo, beneran!”

“Yo, lo nggak bisa semena-mena gitu dong! Masa cuma karena nanyain soal aja, langsung dihukum seperti itu!” kali ini Indra bersuara kembali.

“Heh, Ndra, kalau yang dideketin si Nicky itu Ila, lo juga bakal nggak terima kayak gue! Udah deh, nggak usah belain anak baru itu!” seru Mario kesal melihat sahabatnya sama sekali tidak mendukung tindakannya.

“Dia bukan anak baru lagi Yo, dia temen kita!” sahut Indra berusaha membela Nicky.

“Udah deh Ndra, gue nggak mau berantem sama lo!” seru Mario, langkah kakinya menunjukkan dia hendak meninggalkan kamar, tapi langsung berbalik lagi, “dan buat lo semua, jangan ada satupun yang berani-berani bantuin Nicky, atau ngerjain tugas piketnya. Awas!”

Ultimatum Mario itu disambut meriah oleh seluruh penghuni kamar, kecuali Nicky dan Indra.
________________________________________

Sore hari, kamar nomor 2 sepi. Hampir semua penghuninya keluar melakukan aktivitas masing-masing. Hanya tersisa dua orang, Nicky dan Indra, yang sibuk dengan gagang sapu dan pel mereka.

“Lo nggak latihan paskib?” tanya Nicky. Sejujurnya, ia merasa tidak enak karena Indra menolongnya menjalani hukuman dari Mario. Tapi, ia juga merasa senang, karena masih ada yang mau menemaninya.

“Gue kan latihan paskibnya malem,” jawab Indra. Nicky mengangguk-angguk. Bingung mau membuka obrolan dengan apa.

“Sorry ya, karena Mario, lo jadi harus kayak gini,” ujar Indra.

“Yah, gue emang kesel, sih. Tapi gimana lagi. Dia memang otoriter, ya? Gue heran aja, kenapa cowok sebaik lo, bisa temenan sama dia, dan bilang dia baik,” komentar Nicky jujur.

Indra tertawa mendengarnya. Namun, ia tidak buru-buru menanggapi. Setelah selesai mengepel, Nicky dan Indra duduk di pelataran belakang kamar mereka, yaitu sepetak lantai peluran di dekat kamar mandi yang dibiarkan kering oleh para siswa.

“Dulu, waktu kelas X, gue akrab banget sama Mario. Bisa dibilang, dia itu temen deket pertama gue di sekolah ini. Walaupun minat kita beda, Mario basket, gue Paskibra, tapi gue ngerasa nyambung banget kalo ngobrol sama dia. Setelah lama, gue juga ngerasa, gue yang paling bisa mengimbangi sikap dominan tapi kekanak-kanakannya Mario, dibanding temen-temen dia yang lain. Bahkan ya, gue sama dia jatuh cinta barengan. Ngejar dua cewek yang sahabatan juga. Yaa, Milly dan Ila itu.” Indra menceritakan panjang lebar, diselingi senyuman.

“Sebenernya dia baik, kok, Nick. Lo hanya belum dapet momennya aja.”

Nicky mengangguk lagi. “Tapi lo percaya kan, kalau gue sama sekali nggak berniat deketin Milly?” tanya Nicky. Indra menatap wajahnya.

“Yah, kalau itu sih gue nggak tahu. Semoga aja bener,” jawab Indra sambil terkekeh.

“Ih, lo kok gitu sih?” protes Nicky sambil menyikut lengan Indra. Indra tidak terima dan balas menyikut Nicky. Obrolan berubah menjadi acara sikut-sikutan dan berakhir dengan gelitik-gelitikan. Nicky dan Indra sama-sama tertawa geli.

“Ndra, Ila beruntung banget ya, punya pacar sebaik lo,” ujar Nicky di sela canda mereka. Indra mengernyit heran mendengarnya. Tidak mengerti mengapa tiba-tiba Nicky berbicara seperti itu.
________________________________________

… bersambung …

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s