Luluh (Part 3)

luluh

Wajah Ninis terlihat cemas ketika ia keluar kamar mandi. Ia berpakaian dan bersiap dengan tergesa-gesa. Sebenarnya, setiap murid Permata Bangsa pagi ini memang agak terburu-buru. Sebabnya, ini adalah hari Senin minggu pertama, waktu diadakannya upacara yang jadwalnya jauh lebih pagi dibanding jam masuk kelas di hari biasa.

“Nis, nggak sarapan dulu?” tanya Zizi saat melihat Ninis langsung memakai sepatunya. Zizi tahu, sejak tadi Ninis belum ke ruang makan untuk makan pagi.

“Enggak, gue jadi pasukan upacara soalnya,” jawab Ninis dan langsung meninggalkan kamar.
________________________________________

Matahari pagi ini bersinar begitu terik. Ninis yang berdiri paling depan di barisannya tak sanggup menatap langit. Sejak tadi ia menunduk terus, berharap pusing yang dirasakannya berkurang. Namun, lama kelamaan kakinya terasa makin lemah dan tatapannya mengabur. Ia baru saja hendak minta izin ke belakang ketika dirasakannya suara-suara di sekitarnya menghilang, lalu semua menjadi gelap.

________________________________________

Kehebohan terjadi saat salah seorang murid pingsan pada saat upacara. Indra yang berjaga di belakang barisan langsung berlari ke depan. “Ninis!” serunya tertahan, lalu langsung menghampiri gadis yang kini terbaring lemah di lapangan.

Tanpa menunggu lama, Indra langsung membopong tubuh Ninis dan membawanya ke tempat yang cukup teduh. Beberapa petugas PMR datang membawa kotak obat-obatan.

“Gimana kondisinya La?” tanya Indra kepada Ila yang memeriksa Ninis. Ia mencoba mendekatkan minyak kayu putih ke hidung Ninis, namun tidak ada respon apa-apa.

“Sepertinya harus dibawa ke UKS,” ujar Ila memutuskan. Yang lain mengangguk. Tandu yang disiapkan juga telah datang. Mereka membawa tubuh Ninis ke ruang UKS.

“Dia cuma kecapekan kayaknya. Mungkin tadi pagi belum sarapan,” kata Ila, menjawab pertanyaan yang Indra ajukan tadi. Wajah Indra menyiratkan kekhawatiran yang besar. Sedikit membuat Ila merasa cemburu.

“Ninis pasti kelelahan karena kemarin latihan baris berbarisnya sampai malam,” ujar Indra terdengar menyesal.

“Kalian sampai malam terus latihannya?” tanya Ila.

“Iya, baru tiga hari ini sebenernya. Kita mau ada lomba baris berbaris lagi.”

“Hmm, ya sudah, nanti juga dia bangun kok,” kata Ila sambil beranjak meninggalkan ranjang UKS. “Kamu masih mau di sini?” tanyanya melihat Indra yang tetap duduk di dekat ranjang.

“Iya, aku mau nungguin Ninis sampai dia sadar,” jawab Indra. Matanya menatap Ila, dan meskipun tanpa kata-kata, Ila tahu, Indra meminta pengertian darinya. Kalau saja Indra bukan kekasih yang baik terhadap Ila, mungkin dia tidak akan membiarkan laki-laki itu berdua saja di ruang UKS dengan adik kelas perempuannya.

“Yaudah, aku duluan kalau gitu. Ini ada teh manis, kalau dia udah bangun, kasih aja ya.”

Indra mengangguk. Tepat saat itu, Milly, sahabat Ila, masuk ke ruang UKS.

“Gimana keadaannya La?” tanya Milly kepada Ila. “Eh, ada Indra…” ujar Milly lagi.

“Belum sadar. Paling sebentar lagi. Ada Indra kok yang nungguin. Yuk!” ajak Ila sambil menarik lengan Milly meninggalkan ruang UKS. Milly terlihat enggan dipaksa Ila seperti itu. Matanya masih memandang Ninis yang terbaring di ranjang dan Indra yang duduk di dekatnya.
________________________________________

Di jalan, Milly marah-marah kepada Ila.

“Ila, lo tuh bego apa gimana sih? Masa ninggalin Indra berduaan sama Ninis di ruang UKS? Kalau mereka ngapa-ngapain gimana?” protes Milly.

“Ya ampun Milly, jelas-jelas Ninis pingsan,” jawab Ila.

“Iya tahu! Tapi siapa tahu aja, dia pura-pura pingsan La. Terus dia manfaatin kondisi tadi buat deketin Indra. Ya kan?” sahut Milly tidak mau kalah.

“Udah ah Mil! Lo jangan suka mikir yang aneh-aneh!” seru Ila akhirnya. Malas berdebat dengan sahabatnya. Milly mendengus. Ia kesal bukan main dengan sikap Ila. Bukan apa-apa, Milly sangat tahu siapa Ninis dan dua teman centilnya itu, Alvy dan Zizi.

Ya, Milly memang menganggap Alvy dan Zizi centil. Milly akui, keduanya memiliki paras yang cantik. Alvy dengan wajah oriental dan kulit putihnya dan Zizi dengan hidung mancung dan tubuh sangat proposionalnya. Dua-duanya anak cheerleaders dan memiliki selera pakaian yang sangat modis. Yah, kecuali Ninis, gadis yang pingsan tadi. Ia satu-satunya dari ketiga serangkai tersebut yang paling biasa-biasa saja. Tidak tinggi dan manis seperti Zizi, atau cantik dan langsing seperti Alvy. Ah, tapi tentu saja bukan itu, hal utama yang membuat Milly kesal dengan mereka.

Milly tahu, Zizi diam-diam menyukai Mario, pacarnya. Mario, kapten basket yang terkenal keren dan ganteng seangkatan. Entah ada berapa banyak murid perempuan dari segala tingkatan, yang tergila-gila pada Mario. Tapi Milly paling khawatir dengan keberadaan Zizi, yang selalu menjadi penyemangat resmi setiap Mario tanding. Apalagi dengan kecantikan dan keramahan yang dimiliki Zizi, Milly takut sekali, tiba-tiba Mario berpaling darinya.

Lalu Ninis, Milly juga tahu kalau gadis itu diam-diam menyukai Indra. Bahkan dari gossip yang ia dengar, Ninis sengaja masuk Paskibra karena ada Indra di sana. Meski Ninis terlihat kalem dan pendiam, sepertinya dia nekat mendekati Indra, yang jelas-jelas sudah dimiliki Laila, alias Ila, sahabat dekatnya. Jelas sudah mengapa Milly tidak menyukai ketiga gadis itu. Meski sampai sekarang ia tidak tahu, siapa cowok yang disukai Alvy.

________________________________________

Milly tidak berniat beranjak dari kursinya saat waktu istirahat tiba. Diabaikannya ajakan Ila dan teman-temannya yang lain untuk pergi ke kantin. Ia lebih memilih tetap di kelas, dan mengerjakan soal matematika yang membuatnya nyaris mati penasaran.

Tanpa disadari Milly, ternyata ia tidak sendirian di kelas. Ada Nicky yang juga enggan keluar karena tidak ada yang mengajaknya. Ia memperhatikan Milly yang serius dengan soal-soalnya tanpa suara. Lalu tiba-tiba terbersitlah satu ide di kepalanya.

“Eh, Milly, kamu ngerti nggak soal ini?” tanya Nicky sambil menghampiri meja Milly. Tangannya menunjuk pada soal di buku tulis yang sengaja dia bawa.

“Yang mana?” tanya Milly sambil menatap wajah Nicky. Nicky tersenyum. Tangannya menunjuk deretan angka-angka.

“Oh… Itu. Hmm, kalau itu sih, gini caranya,” jawab Milly sambil mencoret-coret angka di buku tulis khusus coret-coretan.

Milly mengajarkan satu per satu langkah yang harus dikerjakan Nicky untuk mendapat jawaban sesuai dengan rumus yang digunakan. Nicky hanya mengangguk-angguk. Pura-pura paham. Padahal sebenarnya hanya sedikit yang ia tangkap dari ucapan Milly.

“Lo pinter banget ya? Gue aja susah banget ngerti pelajaran ini,” ujar Nicky akhirnya. Menyudahi kursus singkat dari Milly.

Milly tersipu. Bibirnya yang mungil dan kemerahan mengulas sebuah senyum.

“Ah, biasa aja kok,” ujar Milly merendah. “Eh, lo gimana? Seminggu tinggal di sini, udah betah belum?”

Nicky tertawa. “Hahaha… ya gitu deh,” sahut Nicky sambil duduk di kursi Ila.

Selanjutnya, obrolan berkembang meninggalkan tema matematika ke topik-topik yang umum dibicarakan saat pertama kali orang berkenalan. Beberapa kali terdengar Nicky dan Milly tertawa bersama, menanggapi cerita satu sama lain. Saking serunya, mereka bahkan tidak sadar kalau salah satu teman sekelas mereka, Andri, masuk ke kelas sebentar untuk mengambil botol minum.
________________________________________

Di lapangan basket, Andri tergopoh-gopoh menghampiri Mario yang sedang asyik men-dribble bola.

“Yo! Si Nicky sama Milly lagi berduaan tuh di kelas!” seru Andri.

“Hah?!”

Bukan hanya Mario yang kaget. Tapi hampir semua anak yang berada di lapangan basket dan mendengar ucapan Andri. Setahu mereka, selama ini, sejak Milly resmi menjadi pacar Mario, tidak ada cowok manapun yang berani mendekati Milly lagi. Semuanya ogah bermasalah dengan Mario, yang kadang bisa berubah menjadi sangat galak dan kejam.

“Iya, tadi pas gue ngambil minum. Mereka berdua bercanda-canda gitu di mejanya Milly dan Ila,” ujar Andri menjelaskan.

Mario langsung melempar bolanya. Wajahnya langsung berubah, terlihat penuh amarah. Tanpa berkata-kata lagi, Mario langsung meninggalkan lapangan basket. Kedua tangannya terkepal. Siap meninju wajah anak baru yang tak tahu diri itu.

Sayang, saat Mario sampai di kelasnya, guru mereka sudah datang. Dia terpaksa mengurungkan niatnya dan tak sabar untuk menghakimi Nicky di kamar sepulang sekolah nanti.

… bersambung …
________________________________________

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s