Luluh (Part 2)

luluh

Pelajaran pertama berlangsung lancar. Setelah Bu Lydia keluar, cowok berwajah angkuh itu langsung berdiri dan mendekati meja Nicky.

“Heh, lo anak baru! Gue Mario, dan lo, jangan berharap bisa berulah di sini. Gue ketua kelas sekaligus ketua kamar, jadi jangan macem-macem. Dan satu hal, gue nggak suka cowok cengeng. Jadi, jangan nangis karena kangen rumah ya!” seru cowok itu disambut derai tawa oleh seisi kelas.

Nicky mendengus dalam hati. ‘Dih, ni orang sok banget sih! Cuma jadi ketua kelas aja gayanya udah belagu kayak gitu! Lagian siapa juga yang cengeng!’ gumam Nicky tak terima. Sedangkan teman sekelasnya bersiap-siap meninggalkan kelas.

“Hei, gue Danar,” kata murid cowok yang duduk tepat di depan Nicky.

Nicky yang tadi merengut, mencoba tersenyum menerima perkenalan itu. “Mario emang kayak gitu. Suka bercanda. Dia aslinya baik, kok!” lanjut Danar. “Asal, jangan gangguin dia tuh!” tunjuk Danar ke arah murid perempuan yang tadi duduk di sebelah Laila.

“Memangnya kenapa?” tanya Nicky polos.

“Itu pacarnya. Nggak ada cowok di sini yang berani deketin Milly,” jawab Danar.

Nicky mengangguk mengerti. “Terus, kita mau ke mana sekarang?” tanya Nicky melihat Danar yang beranjak pergi juga.

“Sekarang pelajaran kesenian, di aula kecil. Yuk!” ajak Danar.
________________________________________

“Oke, anak-anak, pelajaran hari ini selesai. Silakan istirahat. Oya, jangan lupa angklung ini dikembalikan ke perpustakaan, ya,” ujar Pak Galih mengusaikan kelasnya.

Murid-murid kelas XI IPA 1 serempak menjawab, “Ya, Pak!”

Beberapa langsung ikut keluar, sedangkan yang lain bersiap-siap menggotong angklung.

“Eh, eh, jangan ada yang ngangkat. Biarin anak baru ini yang angkat. Yaa, sebagai anak baru, itung-itung ini ospek lah buat dia. Dia kan enggak diospek kayak kita!” kata Mario enteng sambil memandang wajah Nicky dengan gaya meremehkan.

Murid-murid yang tadi sudah bersiap-siap membawa angklung langsung menurut. Mereka buru-buru menjauhi alat musik dari bambu itu. Sedangkan Nicky sendiri terbengong-bengong memikirkan cara membawa angklung besar ke perpustakaan sendirian.

“Udah, udah! Ayo! Ngapain ngeliatin dia? Biarin aja!” perintah Mario sambil mengusir teman-temannya yang masih berada di dekat Nicky. Tangannya dikibas-kibaskan ke arah teman-temannya seperti orang sedang menghalau kawanan bebek yang –parahnya- menurut saja diperlakukan seperti itu.

Mario menyempatkan diri melemparkan senyum mengejeknya ke arah Nicky, dan ikut pergi. Tapi masih ada satu yang tersisa. Murid yang duduk di sebelah Mario.

“Udah nggak usah khawatir, gue bakal bantuin lo, kok. Oya, kita belum kenalan. Nama gue Indra,” ujar cowok itu sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya.

Indra bertubuh sangat jangkung, dengan bahu yang bidang. Postur tubuhnya agak mirip dengan Mario, namun Indra jauh lebih tinggi, mungkin sekitar 180 cm, dan badannya lebih kurus dibanding Mario yang berisi.

Nicky ragu-ragu menerima uluran tangan itu. Tapi karena wajah bermata sempit di depannya itu tersenyum ramah dan terlihat manis dengan lesung pipit di pipi kanan, Nicky pun dengan kikuk menyambutnya.

Mereka berdua mulai merapikan angklung agar lebih mudah dibawa. Hingga akhirnya alat musik itu sampai dengan selamat di perpustakaan. Angklung itu mereka letakkan di sebuah ruang di dalam perpustakaan, yang khusus menyimpan barang-barang pendukung kegiatan belajar mengajar.

“Eh Nick, lo anak baru pindahan dari mana?” tanya Indra saat mereka berjalan di antara rak buku.

“Sebelumnya, gue tinggal Pontianak. Tapi sekarang gue tinggal di Bogor,” jawab Nicky. Ia senang karena masih ada orang yang peduli dan perhatian kepadanya.

“Oh…” sahut Indra sambil mengangguk. “Eh tadi itu, tentang Mario, nggak usah diambil hati. Dia emang kadang-kadang kayak gitu. Tapi nanti lama-lama baik, kok. Malah sebenernya baik banget. Yah, tapi kadang emang suka semena-mena, sih.”

Nicky mengangguk sambil berpikir. Teringat dengan komentar yang hampir sama, yang dilontarkan Danar. “Iya, nggak apa-apa. Tapi, memang temen-temen sekelas pada nurut sama dia, ya?” tanya Nicky heran sekaligus penasaran, yang disambut Indra dengan tawa renyah. Matanya jadi semakin sipit, dan dekik di pipinya terlihat lebih dalam.

“Yah, lo bisa lihat sendiri kalau itu, sih,” jawab Indra lalu tersenyum. Sesaat, Nicky begitu terkesima dengan senyuman itu. Senyuman yang bahkan ia tidak bisa deskripsikan sebaik perasaan yang ia rasakan saat melihatnya. Ketersimaan itu berakhir saat Nicky mendengar keramaian kecil memasuki perpustakaan.

Tiga orang murid perempuan masuk kelas sambil berceloteh. Salah satu gadis, yang bertubuh paling tinggi, menyikut lengan teman di sebelahnya.

“Nis, ada Kak Indra, tuh!” bisik gadis itu. Berbisik, namun cukup jelas terdengar oleh telinga Nicky.

“Ninis, itu siapa yang lagi ngobrol bareng Kak Indra? Perasaan baru liat,” celetuk gadis yang satu lagi. Sedangkan yang diajak bicara malah melengos.

“Nggak tahu,” jawab gadis yang dipanggil Ninis itu dengan cuek.

“Ih, tanyain dong ke Kak Indra. Lo kan kenal dia,” pinta temannya setengah memaksa. Matanya tidak berhenti menatap Nicky yang pura-pura tidak peduli dengan kehadiran tiga siswi tersebut.

“Hei Nis, lagi pinjem buku?” tanya Indra tiba-tiba. Gadis yang disapa Ninis itu terlihat terkejut.

“Iya, Kak Indra sendiri abis ngapain?” sahut Ninis ramah sambil melirik ke cowok di sebelah Indra. ‘Lumayan sih’ komentarnya pada diri sendiri.

“Oh, ini aku tadi abis ngembaliin angklung. Biasa, kelas seni,” jawab Indra lalu bingung harus mengatakan apa lagi karena tiga gadis itu masih berdiri di depannya.

“Oya, kenalin. Ada murid baru di sekolah kita. Masuk kelas XI IPA 1. Namanya Nicky,” kata Indra sambil menepuk pundak Nicky. Nicky tersenyum sopan ke tiga murid di depannya.

“Nick, ini adik kelas gue, murid kelas X. Namanya Nisrina, biasa dipanngil Ninis, dan…” kalimat Indra terhenti karena tidak tahu dua yang lain.

“Alvy, Kak.” sela yang agak tinggi cepat.

“Zizi,” ujar yang paling tinggi mengikuti.

“Ya, Nisrina, Alvy, dan Zizi,” ujar Indra mengulang.

Nicky mengangguk lalu menyalami mereka satu persatu. Keadaan perpustakaan masih sepi. Jadi, sesi perkenalan itu berlangsung tanpa menarik perhatian siapa-siapa kecuali penjaga perpustakaan yang sejak tadi memperhatikan mereka.

“Oke, kalau gitu kita duluan, ya,” kata Indra mengakhiri perkenalan singkat yang mendadak itu. Nisrina mengangguk, sedangkan Alvy masih curi-curi pandang ke arah Nicky.

“Iya, Kak,” kata ketiga gadis itu bersamaan. Lalu saling melempar senyum setelah Indra dan Nicky keluar perpustakaan.
________________________________________

Setelah perkenalan mendadak tadi, ketiga gadis tadi melanjutkan kembali niat mereka meminjam buku di perpustakaan.

“Cieee… yang ketemu sama Kak Indra!” goda Zizi kepada Ninis yang sibuk mencari-cari judul buku.

“Ih, biasanya juga suka ketemu kok,” sahut Ninis, berusaha tidak peduli pada godaan sahabatnya. Padahal, dalam hati, dia memang senang bertemu Indra.

“Tapi seneng, kaan?” Zizi masih lanjut menggoda.

“Udah ih, orang dia udah punya pacar juga!” seru Ninis pelan, berharap Zizi berhenti meledeknya.

“Tahu nih, jelas-jelas udah punya pacar, masih aja disukain,” kali ini giliran Alvy yang bersuara.

“Biarin!” balas Ninis tak peduli.

“Eh, tapi cowok tadi boleh juga tuh! Anak baru, ya? Pantes baru lihat. Kalau dia, kira-kira udah punya pacar belum ya?” tanya Alvy dengan mata menerawang.

“Maksud lo, Nicky?” Zizi memastikan. Alvy mengangguk dengan semangat.

“Nis, nanti kalau ketemu Kak Indra lagi, tanya-tanyain tentang Nicky dong! Siapa tahu dia belum ada yang punya,” pinta Alvy memohon sambil mengedip-ngedip centil. Ninis melengos melihat tingkah sahabatnya, lalu kembali sibuk menelusuri rak buku.
________________________________________

… bersambung …

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s