Luluh (Part 1)

***Basa-basi sebelum mulai***

Jadi, saya pernah menulis sebuah cerita. Lalu, sama seperti nasib cerita-cerita saya yang lain, hanya bertengger di dalam laptop saja. Entah mengapa, saya berpikir untuk membagi cerita itu di sini. Mudah-mudahan sih bisa memancing saya untuk menulis lagi.

Omong-omong, cerita ini saya buat tahun 2014. Idenya pertama kali muncul di tahun 2007 atau 2008. Ide keroyokan bersama teman SMA. Saya tidak banyak mengedit ulang cerita ini. Mudah-mudahan bisa posting cerita ini sampai selesai.

***

luluh

Nicky menoleh ke sana ke mari. Mencari-cari siapapun yang bisa ia tanyai. Area kelas sekolah itu sepi sekali. Ia maklum, jam pelajaran pertama sudah mulai dari tadi. Ia memperhatikan setiap penanda yang tergantung di depan pintu kelas yang ia lewati. Berharap segera menemukan kelas XI IPA 1. Tapi sepertinya ia masih perlu berjalan lagi.

Nicky jadi sedikit menyesal karena terlambat datang ke sekolah asrama Permata Bangsa, sekolah barunya. Jika ia datang kemarin, hari Minggu, mungkin ia masih sempat ke kamar, berkenalan dengan teman-temannya, dan tidak repot mencari kelas baru sendirian. Tidak ada guru yang mengantarnya pula.

BUKKK!

Sebuah bola basket oranye secara tiba-tiba menimpa wajah Nicky dari arah samping. Dilihatnya seorang cowok berbadan kekar dengan rambut cepak ala tentara berjalan di belakangnya sambil terkekeh.

“Ngapain lo di sini?” tanya cowok itu dengan wajah angkuh. Bagian atas kemeja seragamnya sengaja tidak dikancing. Sedangkan bagian tangannya digulung, memamerkan lengan yang berotot dan pundak yang kekar. Dengan lihai ia menangkap bola yang dikembalikan Nicky. Alis hitamnya yang tebal naik dan bertaut ketika meneliti Nicky dari ujung kepala sampai ujung kaki. Nicky memandang balik sosok di depannya.

“Maaf, saya mau cari kelas XI IPA 1, di mana ya?” sahut Nicky berusaha ramah meski telah dilempar bola basket. Wajah cowok di hadapannya mengernyit. Bukannya memberi jawaban, ia malah berlalu begitu saja sambil menabrak Nicky dengan sengaja. Gantian ransel hitam cowok itu yang menubruk bahu Nicky. Nicky menghela nafas. Membiarkan cowok angkuh nan aneh itu lewat. Ia memutuskan untuk kembali mencari kelas barunya.

Nicky adalah murid pindahan dari Pontianak. Setelah dinas orangtuanya di sana selesai, mereka kembali ke Bogor, daerah asal kedua orangtuanya. Bagi Nicky, adalah sebuah kebahagiaan bisa kembali ke kota hujan itu. Ia tidak terlalu menyukai kehidupannya di daerah yang dilalui garis khatulistiwa tersebut. Selain kedua orangtua yang sama-sama sibuk, udara panas juga menjadi salah satu faktor ketidakbetahannya.

Oleh karena itu, Nicky antusias sekali saat kembali ke Bogor. Terakhir kali dia menghirup udara Bogor adalah saat kelas 3 SD. Dan entah kenapa, seolah kota Bogor tak cukup meneduhkan, ia memilih untuk melanjutkan SMA-nya di sekolah asrama Permata Bangsa yang terletak di Bogor. Apalagi, Nicky merasa tinggal di asrama kedengarannya menarik untuk dicoba. Jadilah dia hari ini berada di sekolah keinginannya tersebut.

Nicky sampai di sebuah persimpangan lorong. Dia malas jika harus memeriksa satu per satu lorong tersebut. Nicky memilih untuk berdiri sejenak sambil mengingat-ingat petunjuk guru piket yang memberitahu arah kelasnya. Tapi dia sudah lupa. Mungkin karena efek dipukul dengan bola basket tadi. Saat sedang kebingungan, Nicky melihat seorang murid perempuan berjalan ke arahnya. Ia pun bersiap-siap.

“Maaf, kelas XI IPA 1 di mana, ya?” tanya Nicky kepada murid itu. Ia gadis yang manis menurut Nicky. Rambutnya yang hitam, lurus, dan panjang sepunggung, digerai begitu saja tanpa pemanis apa-apa. Dengan penampilannya yang sederhana itu saja, Nicky merasa kalau gadis itu sangat manis.

“Itu, di situ,” jawabnya sambil memperhatikan wajah Nicky. “Lo anak baru?” tanyanya.
Nicky mengangguk sambil tersenyum.

“Gue juga di kelas itu. Bareng aja,” ujarnya.

Nicky mengangguk mengiyakan. Ia sempat membaca nama yang terbordir di seragam gadis itu, Laila Hanifa.
________________________________________

Nicky mengikuti langkah kaki gadis itu dari belakang. Ia merasa sedikit gugup membayangkan seperti apa suasana kelas barunya. Saat gadis itu memasuki ruang kelas yang ditunjuknya, Nicky berhenti sejenak untuk merapikan kembali seragam dan rambutnya.

Dari ambang pintu, ia dapat melihat seisi kelas. Nicky menaksir ada sekitar 30-an murid yang berada di dalam. Duduk rapi berdua-dua di barisan meja-kursi kayu yang bersih tanpa sedikit pun coretan. Seorang guru wanita berusia sekitar 30 tahun berdiri di dekat papan tulis, menjelaskan pelajaran Biologi. Ia melambaikan tangannya ke arah Nicky dan menyuruhnya masuk.

“Kamu yang murid baru itu, ya?” tanya guru itu. Penampilannya rapi dan formal dengan blazer dan rok berwarna biru tua.

Nicky mengangguk. “Iya, Bu.”

“Saya Bu Lydia, mengajar Biologi. Kamu boleh memperkenalkan diri sebentar, setelah itu bisa langsung cari tempat duduk.”

Kelas yang tadinya hening, kini mulai ribut dengan suara bisik-bisik. Kebanyakan murid tidak tahu kalau mereka akan mendapatkan teman baru. Terutama di kalangan murid perempuan yang terlihat senang karena mendapat tambahan cowok ganteng di kelas mereka.

Nicky memang memiliki wajah yang enak dipandang. Banyak yang bilang, wajahnya baby face. Kulitnya berwarna terang, dengan mata hitam yang terlihat terus berbinar, seolah-olah ia selalu bahagia. Meskipun wajahnya bulat dengan pipi yang sedikit chubby, tidak mengurangi sedikitpun pesona Nicky.

Nicky menatap satu per satu wajah teman barunya. Tak disangka, wajah angkuh itu duduk di meja paling depan baris tengah. Matanya terus menatap wajah Nicky dengan sinis. Sedangkan murid yang lainnya, memandang Nicky dengan penuh rasa ingin tahu. Terutama murid perempuan yang duduk di sebelah Laila. Beberapa kali, Nicky sempat memergoki murid itu memperhatikannya diam-diam.

“Selamat pagi teman-teman, nama saya Nicky Aria Permana,” ujar Nicky lalu tersenyum sopan. Kemudian terdengar riuh rendah berbagai pertanyaan untuknya, mulai dari alamat, tanggal lahir, hingga makanan kesukaan. Syukurlah Bu Lydia menghentikan keributan itu.

“Sudah, sudah. Kalian bisa kenalan lagi nanti. Sekarang kita lanjut belajar lagi,” sela Bu Lydia. Murid-murid mendesah kecewa. Nicky tersenyum kecil. Dia tahu mereka tidak benar-benar ingin mengenalnya lebih dekat, namun hanya ingin mengulur waktu agar tidak segera belajar.

Nicky agak kecewa saat dilihatnya kursi di sebelah cowok angkuh itu masih kosong. Ia tidak mau duduk di sebelah orang itu. Tapi Bu Lydia menunjuk meja paling belakang, di barisan paling pojok dekat tembok, yang ternyata masih kosong juga.

“Kamu duduk di sana, ya, Nicky,” kata Bu Lydia. Nicky mengembuskan napas lega.
Nicky mengangguk lalu berjalan ke tempat yang ditunjuk Bu Lydia. Murid perempuan yang duduk di sebelah Laila terus memandanginya sampai Nicky tiba di mejanya. Nicky membalas pandangan gadis yang duduk di baris ketiga sebelah barisannya itu sambil tersenyum. Gadis itu membalas senyumnya dengan wajah ramah.

Tidak lama berselang, muncul seorang murid yang tergopoh-gopoh masuk kelas. Nicky pikir, ada anak baru lagi selain dia. Ternyata perkiraannya salah. Sepertinya dia murid yang terlambat dan memiliki izin khusus karena boleh langsung duduk. Murid cowok itu duduk di sebelah si cowok berwajah angkuh. Sayang, Nicky tak sempat melihat wajahnya karena ia langsung duduk dan membelakangi Nicky.

… bersambung …

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s