Puasa Facebook

Sejak sekitar dua minggu yang lalu, saya memutuskan untuk melepas (apa sih Indonesia-nya uninstall? Hehehe…) aplikasi Facebook di handphone saya. Saya juga memutuskan untuk tidak membuka Facebook melalui laptop atau PC.

Kenapa? Entahlah, saya merasa waktu saya banyak terbuang saat membuka aplikasi tersebut. Selain itu, berbagai maca isinya membuat saya kadang pusing. Padahal teman saya di FB bisa dibilang sedikit, hanya sekitar 100 orang. Itu benar-benar hanya orang yang pernah saya kenal di sekolah atau di kampus, dan beberapa teman kerja. Nyatanya, memfilter jumlah teman tidak terlalu berpengaruh terhadap isi beranda. Kadang bukan postingan teman saya, tapi postingan temannya si teman yang muncul. Atau ada beberapa yang muncul begitu saja. Saya juga heran kenapa bisa begitu.

Yang jelas, untuk menghapus akun Facebook rasanya masih berat. Karena di pekerjaan saya yang sekarang, saya berhubungan dengan beberapa penulis menggunakan media Facebook. Itulah mengapa saya tidak melepas aplikasi Messenger. Jadi mungkin kalau membuka Facebook, terlihat saya sedang online, bukan berarti saya membuka Facebook, melainkan hanya membuka Messenger saja, untuk komunikasi.

Selain Facebook, saya juga meminimalisasi membuka aplikasi Twitter. Twitter adalah media sosial kedua penghabis waktu bagi saya. Namun, dengan mempertimbangkan isi Twitter yang tidak terlalu membuat saya pusing, akhirnya saya memutuskan untuk mempertahankan aplikasi Twitter di handphone.

Selain Facebook dan Twitter, saya juga sering berkelana di Instagram. Meskipun sama-sama menghabiskan waktu, entah mengapa saya lebih senang berada di aplikasi ini. Mungkin karena saya benar-benar mengikuti akun-akun yang saya gemari atau menarik minat saya. Memang ada beberapa akun teman, itu pun hanya teman dekat, jadi sebagai sarana berbagi kabar.

Saya sendiri tidak segan-segan berhenti mengikuti akun-akun yang bikin sepet mata saya, baik itu di Twitter, Facebook, ataupun Instagram. Saya tidak peduli kata orang yang bilang tentang tidak bisa menerima perbedaan atau apa. Kalau saya nggak suka dengan postingan dia, ya sudah selesai. Toh, dia nggak menggaji saya karena mengikuti dia, kan?

Setelah dua minggu tanpa Facebook, saya merasa tidak ada yang hilang dari kehidupan saya. Saya merasa enjoy saja. Malah saya merasa jauh lebih lega. Paling, sekarang saya tidak bisa lagi menonton video-video resep di Tasty, Tastemade Indonesia, Cookat, atau Dingo, hehehe. Sisanya, sih, yaaa biasa saja.

Setelah dipikir-pikir, media sosial memang seperti pisau di tangan seseorang. Entah dia akan menggunakan pisau itu untuk memotong wortel atau membunuh orang, itu semua berada di tangan dia. Apakah kita menggunakan media sosial untuk menebar manfaat atau malah bikin rusuh, itu semua terserah kita. Ya, tapi baiknya sih menebar manfaat dong, ya, masa bikin rusuh.

Saya sendiri belum tahu kapan akan buka puasa, maksudnya buka Facebook lagi. Saat ini sudah keasyikan nggak buka Facebook. Mungkin kalau ada hal mendesak seperti urusan pekerjaan, baru saya membuka Facebook.

Bagaimana denganmu? Apakah tertarik untuk puasa Facebook atau media sosial lainnya?

Advertisements

One thought on “Puasa Facebook

  1. Pingback: Puasa Twitter – Rumah Cerita Ratih Cahaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s