Semuanya Hanya Sementara

seth-doyle-11

unsplash.com

Dua minggu belakangan ini, saya seperti diingatkan lagi tentang kehidupan setelah di dunia. Ya, secara berturut, dalam waktu berdekatan, dua teman seangkatan saya di kampus meninggal dunia.

Teman pertama, saya memang tidak terlalu dekat dengan dia. Saat mendengar namanya saja, saya berusaha mengais-ngais ingatan saya. Barulah setelah saya melihat fotonya, saya teringat kembali. Ya, saya memang tidak terlalu dekat dengan dia. Kami juga beda fakultas. Tapi sepertinya saya pernah satu kepanitiaan dengan dia, dulu di suatu acara kampus. Sedih tentunya, meskipun selama ini kami tidak berteman akrab.

Lalu pagi ini, saya mendapat kabar, teman sejurusan saya di kampus meninggal dunia. Rasanya tidak menyangka sekali. Sepertinya baru sebulan atau dua bulan lalu saya bertemu dengannya, di pernikahan teman kuliah kami. Tiba-tiba, saya mendapat kabar dia telah pergi untuk selamanya.

Semua ini membuat saya tersadar kembali. Bahwa tak pernah ada yang tahu kapan ajal menghampiri. Setiap hari, kita merajut mimpi-mimpi. Yakin sekali bahwa kita punya banyak waktu untuk mewujudkannya. Tahun depan mau begini, tahun depannya lagi mau begitu. Padahal tidak ada yang tahu, apakah besok masih diberi umur.

Saya jadi berpikir-pikir lagi, selama ini, apa yang sudah saya kerjakan? Lebih tepatnya, apa yang sudah saya kerjakan untuk menyambut kematian?

Semua mimpi-mimpi tentang dunia akan berakhir begitu saja saat kita dipanggilNya. Berbeda dengan mimpi-mimpi untuk akhirat. Apa yang kita kerjakan hari ini untuk menyiapkan kehidupan di sana, tidak akan berhenti meskipun kita telah mati.

Ibadah yang kita lakukan, sedekah yang kita berikan, maksiat yang sengaja atau tak sengaja kita kerjakan, semuanya mempengaruhi kehidupan kita di akhirat nanti. Namun, kadang kita lupa, atau mungkin sombong. Merasa punya banyak waktu. Merasa masih panjang kesempatan hidup di dunia. Padahal, lagi-lagi, tidak ada yang tahu kapan ajal menghampiri.

Pasang target hidup tinggi-tinggi, rajut mimpi-mimpi seindah mungkin, tak ada yang salah dengan semua itu. Hanya perlu ingat, semua itu harus menjadi investasi untuk akhirat. Seperti nasihat yang pernah saya dengar, apa pun yang kita lakukan di dunia, haruslah menjadi investasi di akhirat nanti. Tabungan kebaikan yang akan menuntun kita bertemu denganNya.

Apa pun mimpimu hari ini, kerjakanlah. Tak ada yang tahu apa besok masih ada. Hanya saja, pastikan mimpimu adalah tabungan untuk akhirat kelak.

Advertisements

One thought on “Semuanya Hanya Sementara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s