When You Were Mine

jeremy-thomas-8

Unsplash.com

Akhir-akhir ini aku sering minum teh. Kala pagi saat aku malas menyambut matahari. Kala siang ketika tengah beradu dengan tugas-tugas kantor. Kala sore saat aku beristirahat sejenak menikmati senja, dan tengah malam. Ya, tengah malam saat aku terserang insomnia karena merindukanmu.

Aku tahu, kini aku tak boleh lagi merindukanmu. Kau telah menjadi milik orang lain. Semua tentang kita yang tak jelas itu telah berakhir. Namun, betapa cengengnya aku masih merindukanmu. Dan satu-satunya teman yang kuizinkan menemani waktu-waktu sepiku adalah secangkir teh itu. Karena itu satu-satunya yang mengingatkanku padamu.

Ralat. Bukan satu-satunya. Terlalu banyak sebenarnya hal yang mengingatkanku padamu. Namun, secangkir teh membawa perasaan nostalgia yang berbeda. Teh itu minuman kesukaanmu. Minuman yang kau pilih karena membuatmu merasa nyaman. Bukan secangkir kopi yang membuatmu selalu kembung dan sakit perut. Aku jadi ingin tahu, apakah dengan meminum teh, aku dapat merasa nyaman meski merindukanmu?

Sore akhir pekan ini, aku sengaja berjalan-jalan ke toko buku. Bukan, bukan untuk mengenangmu. Aku tidak butuh ritual khusus untuk mengenangmu, meski toko buku adalah salah satu tempat yang paling kau cintai. Aku pergi ke toko buku karena ada beberapa alat tulis kantor yang perlu kubeli.

Maka di sinilah aku. Di toko buku dekat kampus kita yang dulu sering kita kunjungi bersama. Sungguh, aku tahu, aku tak perlu jauh-jauh datang ke toko buku ini. Ada toko alat tulis dan toko buku lain di dekat kantor atau indekosku. Aku juga tak tahu mengapa aku harus ke sini. Ingin mengenang masa lalu kita, mungkin.

Aku tak pernah berkhayal akan bertemu dirimu di toko buku ini. Sejak berangkat, aku sudah memenuhi kepalaku dengan anggapan kau sedang bersama kekasihmu di tempat lain. Mengisi akhir pekan dengan obrolan ringan dan canda tawa. Namun, di sinilah kamu. Berdiri di depanku sambil tersenyum manis seperti dulu.

“Hai, kamu ke mana aja? Ya ampun!” serumu sambil menghampiriku. Aku tersenyum kikuk. Aku berharap kehadiranmu bukan ilusiku semata.

“Nggak ke mana-mana,” jawabku singkat.

“Katanya kamu kerja di luar kota?” tanyamu dengan nada heran.

Ya, aku ingat. Terakhir kali kita bertemu, aku mengatakan kalau aku akan bekerja di luar kota. Waktu itu aku berpikir, lebih mudah melupakan masa lalu saat kita tidak tinggal di tempat yang sama. Sayangnya, aku hanya sanggup bekerja di luar kota sebulan saja. Setelah itu, aku kembali lagi ke kota yang sama dengan dirimu, dan memulai hidupku yang sendu.

“Nggak jadi,” jawabku singkat. “Sekarang aku kerja di sini.”

Wajahmu terlihat sumringah. “Syukurlah, kita nggak jadi berjauhan.”

Kata siapa?
Kita telah resmi berjauhan sejak undangan pernikahanmu ada di ponselku. Seketika itu juga, akan selalu ada jarak yang terbentang bagi kita, seberapapun dekatnya kita berdiri.

Aku hanya tersenyum simpul mendengar ucapanmu. Lalu kusadari kau berjalan sendiri. Di mana kekasihmu?

“Dia nggak ikut, ada acara. Aku ke sini sendirian saja,” katamu.

Bagaimana mungkin kekasihmu membiarkan kamu sendiri ke sini? Seandainya aku yang menjadi kekasihmu, akan kuantar ke mana pun kau mau pergi.

“Ohh,” hanya itu jawabku. Sungguh aku tidak tahu harus berkata apa.

Kita berjalan beriringan berdua. Seperti biasa, matamu berbinar setiap kali melihat buku-buku baru. Menimang-nimangnya lalu meletakkan lagi buku itu dengan berat hati.
“Kamu cari buku apa?” tanyaku.

“Enggak, aku mau cari beberapa alat tulis,” jawabmu.

“Aku juga,” kataku menyahut. Kamu tersenyum dan mengajakku ke tempat alat tulis.

Saat sibuk memilih-milih buku agenda, tiba-tiba saja kau berujar, “Jadi inget masa kuliah ya, kalau kayak gini. Waktu kita sering jalan-jalan ke toko buku ini untuk sekadar lihat-lihat buku baru.”

Aku mengangguk. Pikiranku melayang ke masa lalu. Saat aku dan kamu masih….
Ah, sudahlah…

Lalu kamu berdiri tepat di depanku, menatap lurus mataku.
“Kenapa? Kenapa kamu nggak ada kabar? Kenapa kamu seolah seperti menghilang?” tanyamu.

Aku menunduk, tak bisa melawan tatap matamu.

“Semua media sosialmu nggak aktif. Kamu juga nggak pernah bersuara di grup apa pun. Apa yang terjadi?” tanyamu lagi. Sepertinya insting jurnalismu sedang keluar saat ini.

“Kamu baik-baik saja, kan?” tanyamu yang kuakhiri dengan anggukan.

“Aku baik-baik saja. Aku…”

“Kamu sehat?” cecarmu lagi

Aku mengangguk.

“Terus kenapa? Kamu bikin aku khawatir tahu!” serumu akhirnya, terdengar frustasi.
Aku tertohok. Jadi, selama ini kamu masih mengkhawatirkanku? Masih memikirkanku?

“Aku takut kamu kenapa-kenapa…”

“Aku baik-baik saja, kok,” ujarku menipu diri sendiri.

Sesungguhnya aku tidak baik-baik saja. Aku kacau. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku telah menyusun mimpi-mimpi dalam hidupku, dan semuanya berisi kamu. Menikahimu. Menempati rumah bersamamu. Melihatmu mengandung anak kita. Membantumu mengurus anak-anak kita. Mencari nafkah untukmu dan anak-anak kita. Lalu semuanya buyar, dan yang tersisa untukku hanya sesal yang memang selalu datang terlambat.

Aku mungkin terlihat baik-baik saja di luar. Aku bekerja di sebuah perusahaan yang memberiku gaji besar. Aku tetap berteman baik dengan rekan-rekan kerjaku meski hanya sekadar basa-basi. Namun, aku sengaja meninggalkan masa laluku.

Aku menghilang dari peredaran teman-teman kuliah, menghilang dari grup-grup yang ada kamu di situ. Aku juga menonaktifkan semua media sosialku, karena merasa tak sanggup jika suatu hari melihat fotomu dan kekasihmu di berandaku.

Sejak saat itu, kehidupanku terasa lebih nyaman. Sepi memang, tapi aku tak terusik dengan kegelisahan dan keirian yang bisa saja muncul dari postingan teman-temanku. Aku merasa aman, dan yah, sedikit kecewa sebenarnya. Ternyata tak ada yang menyadari ‘kepergianku’.

Lalu kamu muncul dan berkata seperti itu. Kenapa harus kamu?

“Aku senang kalau kamu baik-baik saja. Tapi, kalau ada apa-apa, kamu bilang ya?” ujarmu menghentikan lamunanku. Aku mengangguk lalu tersenyum.

Seandainya…

Seandainya…

Seandainya…

Aku tahu, kita manusia tak boleh berandai-andai. Aku juga tahu, tak baik selalu menengok ke belakang. Aku juga sudah sangat tahu, perempuan tak hanya kamu. Tapi itu semua hanya kata-kata, yang siapa pun bisa mengatakannya.

Aku melihat kamu telah selesai mengambil barang-barang yang kamu butuhkan. Sementara aku belum memilih satu pun.

“Hmm… kamu masih lama?” tanyamu. Aku mengangguk.

“Kalau begitu, aku duluan ya? Nggak apa-apa, kan?”

Bukankah kau memang sudah meninggalkanku?

Aku hanya tersenyum singkat dan mengangguk lagi.

“Hati-hati,” katamu dengan tatap penuh arti.

Aku terpaku. Tak percaya dengan pendengaranku.

Teringat masa lalu, saat kamu masih milikku.

Kamu pernah berkata, “Tahu nggak, kenapa kita mengucap hati-hati? Karena saat orang yang diucapkan kata hati-hati itu pergi, dia nggak hanya bawa satu hati. Dia bawa hati orang yang satunya lagi.”

Aku mengernyit saat mendengar perkataanmu waktu itu. Lalu kusimpulkan, “Jadi, kalau kamu bilang hati-hati ke aku, berarti kamu ngasih hati kamu ke aku. Begitu?”

Kamu mengangguk lalu tersenyum. Momen yang tak akan kulupakan selamanya.

Sepertinya, setelah dari toko buku ini, aku harus ditemani secangkir teh lagi.

Depok, 19 Oktober 2016
*Untuk kamu dan November yang akan datang sebentar lagi. Semoga baik-baik saja…

**Ini adalah rangkaian kisah dari Tea, Coffee, and Paris, Meet Me in November Rain, Meet Me for The Last Time. Sepertinya mau dibuat serial, kira-kira judulnya apa ya? Saya kepikiran “Serial November” 🙂

Advertisements

3 thoughts on “When You Were Mine

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s