Siapa Bilang Menikah itu Enak?

101-img-047

Picture from here

Siapa bilang menikah itu enak? Ah, jangan mudah terprovokasi dengan kata-kata motivator dan orang-orang yang suka mengompori kita untuk nikah, deh. Beneran!

Kalau kita membayangkan pernikahan itu enak, karena ke mana-mana ada temennya, karena ada seseorang yang mau mendengarkan keluh-kesah kita, karena kita bisa bebas mengekspresikan kasih sayang, ya itu bener juga, sih. Tapi sejatinya, pernikahan nggak sesederhana itu. Iya, kan?

Ada beberapa hal yang saya garis bawahi setelah memasuki gerbang pernikahan.Hal-hal yang baru saya sadari sekarang, dan mungkin bermanfaat bagi teman-teman yang belum menikah supaya nggak terlalu dilamun khayalan indahnya pernikahan. Saya sama sekali tidak bermaksud menakut-nakuti atau menebar emosi negatif, lho. Beneran, deh. Ini mah sejujurnya curhat, cuma dipoles-poles sedikit biar kelihatan bijak, gitu, hahahaha…

Oke, jadi langsung kita mulai saja, ada beberapa hal yang terjadi dalam hidup saya setelah menikah.

1. Pulang ke Rumah yang Berbeda
Dulu, waktu sebelum menikah, saya sudah biasa tinggal jauh dari orang tua. Sejak SMP saya sudah tinggal di Kuningan. Ketika kuliah, kembali tinggal bersama orang tua. Lalu saat bekerja, meskipun jarak kantor dan rumah cukup dekat, saya memilih tinggal di mess. Jadi, saya pikir, saya akan baik-baik saja kalau nanti menikah tidak tinggal di rumah orang tua saya lagi.

Tapi ternyata tidak, kawan-kawan! Rasanya sedih banget saat harus meninggalkan rumah orang tua, ke rumah baru yang saya belum bisa membayangkan seperti apa. Rasanya hampir sama seperti waktu pertama kali ke pondok pesantren. Rasa cemas, takut, khawatir, homesick, menghantui hati saya, bahkan lebih parah dari pada waktu ke pondok dulu.

Alhasil, baru empat hari tinggal di rumah mertua, saya sudah minta pulang, hahaha… Waktu itu memang sehari setelah menikah, saya langsung diboyong ke rumah mertua, karena kesepakatan sebelum menikah, saya bersedia ikut suami. Huehehehe, waktu itu saya iya-iya saja, karena merasa bisa, ternyata pas sudah mengalami kalang-kabut juga.

Saya dan suami sempat tinggal seminggu di rumah orang tua saya, dan setelah itu kembali ke rumah mertua. Yah, pada akhirnya saya terima kenyataan juga sih, kalau hidup saya sudah berubah. Waktu awal-awal menikah, jujur saja, saya sering terkenang masa-masa indah tinggal di mess, yang jaraknya ‘kepeleset juga nyampe’ dengan kantor. Nggak perlu ribet berangkat pagi-pagi, nggak perlu capek di jalan, dan seabrek hal lainnya.

Ujian yang paling berat, dan sampai saat ini masih saya alami adalah keinginan berhenti di tengah jalan, dan mengambil jalan pulang ke rumah orang tua. Rumah mertua dan rumah orang tua saya memang terbilang cukup dekat. Kalau dari kantor, sebenarnya satu arah, hanya saja rumah mertua lebih jauh sedikit dibanding rumah orang tua. Jadi kalau sudah sampai di pertigaan yang ke arah rumah orang tua tuh, rasanya pengen banget turun dari bis, terus nyambung naik angkot yang mengantarkan saya pulang seperti biasa. Huhuhuhu…

Ngomong-ngomong tentang keinginan pulang ke rumah orang tua, bukan berarti tinggal di rumah mertua nggak enak atau gimana. Bukan sama sekali tentang itu. Tapi apa ya, agak sulit dijelaskan, sih. Intinya, saya memang butuh waktu lama untuk adaptasi, dan memang sulit move on, jadi ya begitu, hehehe…

Intinya sih, sesiap apapun kita untuk berpindah habitat, tetap saja, saat hal itu benar-benar terjadi, akan ada ‘gesekan’ yang membuat kita ingin pulang. Terlebih lagi kalau letak rumahnya nggak terlalu jauh, wah, menahan hasrat untuk pulang ke rumah orang tua lebih besar lagi dibanding yang tinggalnya di luar kota, di luar pulau, atau bahkan luar negeri.

2. Perbedaan Kebiasaan
Selain rumah yang berbeda, ada satu lagi benturan yang juga cukup terasa setelah menikah, yaitu ke-bi-a-sa-an.

Mungkin kedengerannya sepele ya, seperti kebiasaan makan, tidur, mandi, menaruh dan mengatur barang-barang di rumah. Intinya, bukan kebiasaan yang buruk, tapi kebiasaan yang benar-benar biasa, yang biasa kita lakukan setiap hari. Tapi percayalah, ketika dua kebiasaan bertemu dalam satu tempat, kadang menguras hati juga.

Seperti saya yang sering banget minum teh, suami yang makan nggak lengkap kalau nggak pedas atau nggak pakai sambel, cara menaruh baju di lemari, waktu mandi, dan seabrek hal remeh-temeh lainnya, yang sebenernya kalau dipikir-pikir, ya, ya udah sih, begitu doang. Tapi karena kita melihat orang melakukannya berbeda dengan apa yang biasa kita lakukan, pasti ada perasaan, ‘Ih, kok dia begitu, sih? Harusnya kan begini.’

Nah, hal ini juga butuh hati seluas samudra untuk menerima segala kebiasaan-kebiasaan yang tak biasa bagi kita. Kan kita juga nggak mungkin menuntut seseorang untuk tiba-tiba mengubah kebiasaannya. Lagi pula, kalau bukan kebiasaan buruk sih, sepertinya nggak terlalu masalah, ya. Artinya, nggak mesti diubah atau ditinggalkan. Hanya perlu pembiasaan saja untuk menerimanya, hehehe.

Mungkin apa yang selama ini kita lakukan, terasa sangat biasa dan wajar bagi kita, tapi kan belum tentu buat pasangan. Begitu juga sebaliknya. Jadi, ya, kalau sudah menikah, siap-siap saja melihat dan menerima kebiasaan-kebiasaan baru.

Saya sendiri, tentu saja di awal-awal merasa kaget dengan perihal kebiasaan ini. Salah satu contohnya adalah kebiasaan minum teh. Di rumah saya, teh itu pasti terhidang di pagi hari. Kadang malam juga kalau cuaca dingin dan hujan.

Saya sendiri termasuk orang yang sering minum teh. Kalau lagi iseng, bikin teh, lagi sedih bikin teh, lagi stres bikin teh, lagi ngerjain tugas bikin teh, bahkan cuma leyeh-leyeh sambil nonton tv atau baca buku, bikin teh. Sementara itu, di rumah mertua jarang banget bikin teh dan rasanya aneh kalau ngeteh sendirian. Jadilah saya memutuskan untuk ngetehnya di kantor aja, hehehe….

Ya begitulah, kita harus pintar-pintar mencari jalan tengah atas perbedaan kebiasaan yang kita miliki. Menurut saya, selama itu bukan kebiasaan buruk, nggak perlu dihilangkan, kok.

3. Lost in Translation
Sewaktu pertama kali saya ke rumah mertua, di mana saat itu saudara-saudara dari pihak ibu mertua masih menginap di sana, saya merasa seperti Scarlett Johansson di film Lost in Translation. Beneran!

Kebetulan ibu mertua berasal dari Lampung, saudara-saudaranya pun berasal dari Lampung, dan mereka semua berbahasa Lampung, dan saya sama sekali belum pernah mendengar bahasa Lampung! Apa jadinya? Saya pusing, beneran, pusing banget. Bahasa yang tidak saya mengerti sama sekali, dicampur gaya bicara yang cukup cepat, membuat saya seperti terlempar ke planet asing. (Lebay!)

Memang sih, mereka mengajak saya bicara dengan bahasa Indonesia, tapi tetap saja berada di tengah percakapan orang dengan bahasa yang sama sekali saya nggak tahu, bikin saya merasa terasing. Saya benar-benar nggak bisa menangkap apa yang sedang mereka bicarakan.

Jujur saja, saya memang bukan orang yang bisa bahasa daerah. Ayah saya orang Jawa, tapi saya nggak bisa Bahasa Jawa. Saya bahkan tidak selalu paham apa yang Ayah saya bicarakan, ketika beliau mengobrol dengan kakak atau keluarganya. Ibu saya campuran Jawa Betawi, tapi sejak kecil tinggal di Jakarta.

Jadilah, sejak kecil, di rumah kami menggunakan bahasa nasional, bahasa Indonesia. Satu-satunya bahasa daerah yang cukup saya pahami adalah bahasa Sunda. Mungkin, karena saya tinggal di Bogor dan pernah tinggal di Kuningan. Itu pun saya tidak bisa membalas percakapan dengan bahasa Sunda.

Jadi, saat mendengar satu lagi bahasa baru, kepala saya langsung pusing tujuh keliling. Beneran, deh! Padahal saya sudah diberi tahu, kalau keluarga suami berasal dari Lampung. Tapi saya nggak kepikiran kalau bakal sekaget itu saya dengar bahasa Lampung, hehehe…

Makanya saya sarankan, bagi siapapun yang mau dan akan menikah, terutama jika calonnya beda suku bahkan bangsa dan negara, pelajarilah dengan baik-baik bahasa mereka. Serius! Coba mulai membiasakan diri untuk mendengar bahasa tersebut dan pelajari beberapa kosakata atau kalimat penting. Kecuali kalau calon kamu orang Korea, dan kamu sudah biasa banget nonton drama Korea, bahkan hafal banyak kalimat Korea. Begitu juga kalau calon kamu orang UK, dan kamu sudah biasa mendengar orang British ngomong. Kalau enggak, beneran, saya saranin kamu belajar dari sekarang.

 

Begitulah, tiga highlight dari saya mengenai awal-awal kehidupan pernikahan. Seperti yang pernah saya bilang, sejak awal saya tahu, pernikahan itu bukan dongeng Cinderella yang apa-apa mudah dan indah. Banyak tantangan, pelajaran, bahkan mungkin ujian yang harus dihadapi. Tapi, ya itulah indahnya pernikahan, apa-apa yang terjadi, dihadapi berdua, swiiit swiiiww….. (Tolong dong konsisten, jadi sebenernya nikah itu enak atau enggak? Yah, itu sih terserah masing-masing, huehehehehehe)

Mudah-mudahan, tulisan yang sebenernya curhatan ini, bisa memberi sedikit manfaat ya… Kalau ada salah-salah kata dan ke-lebay-an, mohon dimaklumi dan dimaafkan. Semoga, saya terus diberi kesempatan untuk menulis dan berbagi hal bermanfaat di blog ini.

Related Posts:

  1. Perjalanan Sebelum Menikah bag I
  2. Perjalanan Sebelum Menikah bag II
Advertisements

2 thoughts on “Siapa Bilang Menikah itu Enak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s