When Worries and Anxieties Meets

 

when

“Ada yang pernah bilang, ‘berdoalah pada saat akad nikah karena itu merupakan salah satu peristiwa yang dihadiri banyak malaikat’.”

Saya sebenarnya agak lupa redaksi asli kalimatnya seperti apa, bahkan lupa juga saya pernah dengar dari mana. Tapi kurang lebih begitulah yang pernah saya dengar, lalu saya percaya, dan akhirnya saya praktikkan.

Saya termasuk orang yang cukup jarang menghadiri pernikahan teman-teman, meskipun masa-masa ini bisa dibilang adalah masa di mana undangan pernikahan bisa hadir sebulan sekali. Selain karena teman saya yang memang tidak banyak, saya juga tidak bisa menghadiri pernikahan yang dilangsungkan di luar kota, apalagi kalau dikabarkannya cukup mendadak. (bagi saya H-2 minggu itu mendadak untuk acara di luar kota, hehehe)

Nah, di bulan Oktober 2015, salah satu sahabat dekat saya menikah. Sebut saja namanya Ifa, hehehe… Di pernikahan Ifa, saya sudah menargetkan untuk bisa datang saat akad nikahnya. Selain karena memang sahabat dekat dan saya sudah tahu tanggal menikahnya sejak jauh-jauh hari, saya ingin mempraktikkan kalimat di atas.

Jadilah saya jadi tamu yang datang paling pagi (bahkan kedua mempelai pun belum datang!) saking semangatnya. Alhamdulillah, pernikahan Ifa dan suami berlangsung khusyuk dan lancar. Seperti biasa, ada perasaan bahagia bercampur sedih saat sahabat karib kita menikah. Bahagia karena sekarang dia telah memiliki seseorang yang menjaganya, sedih karena takut setelah menikah kami akan sulit bertemu.

Balik lagi ke doa saat akad nikah, waktu itu, entah kenapa saya tidak berdoa seperti biasanya. Maksudnya, biasanya saya meminta dengan cukup rinci (huehehehe…) tapi kali itu, saya benar-benar merasa pasrah, pokoknya terserah Allah saja, deh. Saya hanya berharap diberi jodoh yang tepat di waktu yang tepat pula. Entah itu satu tahun, lima tahun, atau sepuluh tahun lagi, bagi saya tidak masalah asal dia memang orang yang tepat.

Setelah itu, saya tidak berpikir tentang jodoh sama sekali. Benar-benar tidak berpikir tentang jodoh atau pernikahan sama sekali, dan konon katanya, begitulah jodoh, tidak dicari-cari, malah datang sendiri.

Semua itu bermula di sore yang tenang di hari Selasa. Tiba-tiba Ayah menghubungi saya, meminta saya untuk pulang ke rumah. Saat itu saya sudah kembali tinggal di mess kantor seperti biasa. Saat orang tua tiba-tiba meminta pulang ke rumah, tentu saja hati langsung cemas dan khawatir. Takut ada yang sakit, ada musibah, atau apapun kabar buruk yang bisa saja menimpa. Waktu saya tanya Ayah ada apa, Ayah hanya bilang, sudah pulang saja, nanti dibicarakan di rumah.

Saat Ayah bilang begitu sebenarnya saya sudah mulai curiga. Kenapa? Karena kalau ada masalah genting (seperti ada yang sakit atau kena musibah) pasti tidak harus menunggu saya pulang ke rumah dulu, kan? Pasti langsung dikabari, kan?

Saya berusaha untuk berpikir positif, berharap tidak ada suatu hal yang mengkhawatirkan. Tapi tetap saja, sebagai seorang pencemas, saya tidak bisa begitu saja menepis segala kekhawatiran yang hinggap.

Sampai akhirnya saya mendengar kabar itu. Aduuuuh… beneran deh, rasanya saya mau menangis. Hanya saja saya malu, lho kok menangis? Itu kan bukan kabar buruk? Iya, tapi saya tetap sedih. Saya sudah memiliki khayalan bagaimana saya dan orang saya cintai bertemu, dan bukan yang ini yang saya bayangkan.

Waktu terus berjalan, kecemasan, keraguan, ketidakpastian, datang silih berganti. Sebagai newbie dalam area ‘perkenalan’, saya merasa tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Selama ini saya selalu menganggap hal itu terlalu jauh dari saya, bahkan rasanya hampir tidak mungkin. Ditambah lagi, saya bukan orang yang dengan baik mempersiapkan pernikahan dan hal semacam itu. Saya tidak pernah ikut seminar pra-nikah, tidak pernah menengok buku-buku tentang pernikahan, atau apapun yang sifatnya mempersiapkan diri untuk menikah. Jadi, selama proses itu, perasaan yang paling dominan adalah shock berat, bingung, dan cemas.

Di saat seperti itu, bercerita kepada sahabat saja rasanya berat. Kenapa? Karena saya merasa, ketika saya menceritakan hal itu kepada orang lain, maka hal itu jadi benar-benar nyata. Jujur saja, saya kadang masih menafikan kenyataan kalau saya sedang ‘berproses’ dengan seseorang. Makanya, saya hanya bercerita secara lengkap kepada satu orang saja.

Sahabat saya (yang karenanya saya sangat bersyukur kepada Allah karena telah menganugerahi sahabat seperti dia) menasihati saya untuk banyak-banyak berdoa, beristigfar, dan juga bersyukur kepada Allah. Dia juga mengingatkan saya, bahwa tidak semuanya yang kita bayangkan akan jadi kenyataan. Allah punya cara lain untuk menunjukkan mana yang terbaik untuk kita.

‘Perjalanan panjang’ itu pun berakhir di penghujung Desember 2015. Setelah berdoa, meminta kemantapan hati dari Yang Maha Kuasa, plus curhat-curhat ke sahabat saya, akhirnya saya menerima pinangan dari seseorang.

Duh, kalau ditanya rasanya seperti apa, saya bingung. Yang saya rasa, flat aja gitu. Datar. Tapi ternyata perasaan datar itu hanya sementara, karena setelah itu ujian yang sebenarnya baru saja tiba.

Mulailah apa yang orang bilang sebagai wedding syndrome. Saya sih kurang tahu menahu mengenai hal itu. Yang saya tahu, saya mulai mempertanyakan lagi keputusan saya untuk menikah dan menjalani sisa hidup saya bersama ‘dia’. Saya mulai mencemaskan mimpi-mimpi saya yang sudah saya rancang. Akankah mimpi-mimpi saya terwujud meskipun saya menikah? Akankah saya sanggup hidup bersama dengan ‘dia’? Akankah pernikahan ini selamanya atau berhenti di tengah jalan? Dan masih ada ribuan pertanyaan lain yang menyesaki hati dan pikiran saya.

Hampir setiap malam saya menangis. Saya merasa cemas dan takut sekali. Terkadang terselip rasa sesal di dalam hati. Duh, kenapa kok jadi begini? Apakah ini benar-benar tepat bagi saya? Kadang-kadang rasanya ingin melarikan diri saja.

Mendekati akhir Februari, saya mulai lelah menangis dan bertanya-tanya. Saya mulai berpikir bahwa mungkin ini memang yang terbaik bagi saya. Saya berusaha menanamkan pikiran ini ke dalam diri saya, ‘apapun yang terjadi nanti, Insya Allah saya bisa menghadapinya.’

Ya, hari-hari menjelang pernikahan itu banyaaaaaaak sekali cemasnya. Mulai dari mencemaskan hal remeh-temeh seperti ‘gangguan teknis’ saat akad dan resepsi, hingga pemikiran aneh seperti, ‘bagaimana kalau tiba-tiba mempelai pria membatalkan rencana menikahnya? Siapa tahu dia berpikir ulang, dan ternyata menyesal telah memilih saya.’

Iya, sampai sebegitunya!

Mengenai hal ini, saya jadi teringat sebuah kalimat, “Kekurangan orang yang memiliki imajinasi tinggi adalah kemampuannya membayangkan hal paling buruk.” Dan saya adalah orang paling jago dalam membayangkan hal-hal paling buruk!

Kata favorit saya selama menjalani masa itu hanya satu, ‘Wayahna!’ (Kamu yang orang Sunda pasti paham kata ini, yang bukan orang Sunda, coba tanya ke temanmu yang orang Sunda yaa…)

Oh, dan pada akhirnya, tanggal 6 Maret 2016 itu pun tibalah. Rasanya seperti mimpi (bukan mimpi indah tapi). Saya benar-benar tidak tahu harus berbuat apa, berpikir apa, dan satu-satunya hal yang ada di kepala saya adalah saya ingin lari! (Sejujurnya, salah satu hobi favorit saya adalah melarikan diri dari kenyataan, huehehehe….)

Tapi saya tidak bisa lari, dan tidak boleh lari. Saya harus menghadapinya, kan? Saya harus menghadapi apapun yang terjadi di depan saya. (Sejujurnya, saya sempat lari, sih ke teman-teman saya pada saat resepsi, karena benar-benar nggak tahu mau ngapain, hahaha…)

Sampai sekarang saya masih merasa, this is too good to be true. Saya selalu berpikir, pernikahan adalah hal yang jauh, hal yang tidak mungkin saya miliki. Bukannya tidak mau menikah, tapi self-esteem yang rendah membuat saya merasa, pernikahan layaknya mimpi yang tak akan jadi nyata.

Namun, Allah berkehendak lain. Allah menunjukkan kuasaNya dengan cara yang tidak saya sangka-sangka. Benar sebenar-benarnya benar, manusia hanya merencanakan, Allah yang menentukan. Rencana menikah di usia 27 pun gagal total, hehehe…

Jujur saja, sampai saat ini saya kadang masih merasa cemas dan takut. Kekhawatiran yang dulu mengusik masih kadang-kadang mampir. Saya tahu pernikahan bukan dongeng Cinderella yang jalannya indah bertabur bunga-bunga. Tapi saya selalu mengingatkan diri saya (dan sekarang ada seseorang yang juga mengingatkan saya, hehehe) kalau kita punya Allah. Apapun yang terjadi, kita punya Allah.

So, when all your worries and anxieties meets, remember we have Allah all along.

Advertisements

One thought on “When Worries and Anxieties Meets

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s