The Art of Letting Go: Tentang Melepaskan Masa Lalu

letting-go

picture from here

“Setiap orang punya masa lalu, dan setiap masa lalu memiliki kesannya masing-masing.”

Tulisan ini adalah tulisan pertama tentang hidup baru yang saya jalani saat ini, tulisan yang pernah saya janjikan di postingan sebelumnya. Setelah melalui pertimbangan panjang (cieelah) dan perumusan isi tulisan agar tidak melenceng ke mana-mana, akhirnya saya putuskan untuk mempostingnya di blog ini. Mudah-mudahan bermanfaat yaa…

Omong-omong tentang hidup baru, kenapa kok masih membicarakan masa lalu?
Ya, karena menurut saya, segalanya pasti ada awalnya, pasti ada yang pertama, dan ketika menulis kisah ini, rasanya ganjil jika saya tidak lebih dulu bercerita tentang masa lalu.

Saya bingung memulai kisahnya dari mana, yang jelas, semuanya berawal dari tahun 2006. Tahun pertama kalinya saya tahu seperti apa rasanya menyukai seseorang.

Tahun itu usia saya masih 13 tahun, tergolong masih sangat muda untuk mengetahui perasaan suka. Yang saya tahu, dulu semua itu rasanya menyenangkan. Perasaan berdebar-debar, kupu-kupu yang terbang di dalam perut, hingga rasa penasaran tentang si ‘dia’ yang tak kunjung usai. Benar, semuanya terasa menyenangkan.

Setahun berlalu, entah apa yang saya lakukan. Perasaan itu bukannya menghilang malah semakin kuat. Waktu itu saya dihinggapi kesedihan berkepanjangan lantaran orang yang saya sukai akhirnya lulus dan meninggalkan sekolah.

Lalu tahun-tahun berjalan. Kadang terasa cepat, kadang terasa lambat. Tapi perasaan itu enggan menghilang. Bahkan meski saya memasuki fase baru sebagai mahasiswa, perasaan itu tetap mengendap. Aman bersama kenangan-kenangan masa sekolah lainnya.

Tahu-tahu masa kuliah yang singkat itu pun berlalu dan perasaan itu masih ada saja. Kadang terkikis sedikit, tapi sisanya masih terlalu banyak. Entah sudah berapa banyak teman saya yang mengetahui kisah tersebut. Kisah tentang perasaan yang terlalu lama tinggal.

Entah, saya sudah kehabisan hitungan berapa kali saya menangis karena semua itu. Karena perasaan yang tak kunjung hilang, karena rindu yang begitu sulit dikelola, karena hati yang terlalu sering patah sampai tidak jelas bentuknya.

Hingga akhirnya, saya sampai pada turning point. Titik di mana saya benar-benar merasa harus berhenti. Berhenti membiarkan perasaan itu mengendalikan hati dan pikiran saya. Saya tidak pernah menyangka, ternyata caranya cukup sederhana. Hanya butuh keteguhan hati yang ekstra.

Tebak apa yang saya lakukan?

Saya memutus segala sesuatu yang berhubungan dengan ‘dia’, khususnya di media sosial. Sebelumnya, saya merasa enggan melakukan ini karena takut seolah-olah saya memutuskan tali silaturahmi. Padahal hubungan kami cukup baik sebagai teman, hanya saja saya yang masih tidak sanggup mengakui kalau kami memang hanya teman.

Tapi setelah saya pikir-pikir lagi, kalau saya tidak melakukannya sekarang juga, entah sampai tahun ke berapa saya akan terus seperti ini. Waktu itu, saya hanya berharap, mudah-mudahan nanti, ketika saya sudah berhasil menghilangkan perasaan ini, kami dapat berteman lagi. Jadi, ya, saya memutus semua hubungan media sosial dengannya. Saya juga menghapus chat history dan segala sesuatu yang masih bersangkutan dengan ‘dia’ di setiap media yang saya miliki.

Ada kelegaan tersendiri ketika saya berhasil melakukan itu. Walaupun tetap ada sedikit kesedihan dan kekhawatiran. Takut dikira saya benar-benar memutus silaturahmi dan pertemanan. Tapi , segala sesuatunya memang butuh pengorbanan, bukan?

September 2015, di usia 23, saya merasa lega telah melepas perasaan masa lalu saya.

Tidak hanya itu, saya juga merancang ulang kehidupan saya. Memetakan kembali mimpi-mimpi dan harapan saya. Terus menanamkan pemikiran ini ke dalam hati dan kepala saya, bahwa setelah ini, segalanya harus jauh lebih baik.

Bagaimana dengan perasaan dan harapan tentang teman hidup? Saat itu, saya merasa butuh lebih banyak waktu jeda dari segala ke-patah hati-an yang pernah saya rasakan. Jadi, saya tidak sedikit pun berpikir tentang pernikahan dan sejenisnya.

Bagi saya, pernikahan adalah sesuatu yang jauh. Sama seperti bulan. Bisa dicapai, tapi bagi saya rasanya tak sampai.

Ya, hingga seperti itu cara berpikir saya, saking sulitnya percaya bahwa pernikahan juga untuk saya.

Kembali lagi ke seni melepaskan, ada banyak hal yang saya pelajari dari seni tersebut.

Yang pertama adalah, setiap orang membutuhkan waktu yang berbeda-beda. Ada yang cukup 1-2 tahun, ada yang butuh 5 tahun, bahkan mungkin ada yang butuh 10 hingga belasan tahun.

Saat masih hitungan 1-3, saya masih tenang-tenang saja. Masih merasa wajar-wajar saja. Terlebih saya sekolah di tempat yang sama dengan ‘dia’. Saya masih tinggal di tempat yang terus mengingatkan saya dengan ‘dia’. Sehingga itu saya jadikan sebagai pembenaran bagi perasaan yang tak kunjung hilang.

Menginjak tahun kelima, saya mulai cemas. Saya sudah tinggal di tempat baru, bertemu dengan banyak orang baru, tapi mengapa kenangan tentang ‘dia’ yang selalu muncul?

Di tahun ketujuh dan kedelapan, saya mulai pasrah. Saya mulai merasa kehabisan cara untuk move on, saya mulai putus asa karena selalu gagal move on, saya mulai menganggap segala yang saya usahakan untuk ‘melepaskannya’ akan sia-sia belaka.

Satu hal lagi dari seni melepaskan, ia tidak bisa dipaksakan. Semakin keras kamu memaksa, malah semakin sulit untuk terlepas. Saya sudah mengalaminya berkali-kali.
Saya sering merasa saya sudah melepaskan, tapi nyatanya hanya sanggup bertahan pada hitungan bulan. Lalu perasaan itu kembali lagi dengan cengkraman yang lebih kuat.

Saya takut membicarakan tentang keikhlasan, karena rasanya diri ini terlalu hina untuk berbicara tentang ikhlas. Tapi katanya, ikhlas adalah salah satu cara untuk melepaskan.

Saya pribadi, merasa lebih ke kondisi pasrah. Terserahlah. Yasudahlah. Maybe, we are really never mean to be. Kata-kata itu yang saya tanamkan ke dalam benak saya. Lama-lama akhirnya saya terima. Lama-lama akhirnya, perasaan itu lepas juga.

Satu hal lagi yang saya lakukan di dalam seni melepaskan adalah menulis cerita. Dan untuk itu, saya berhutang banyak pada Reina.

Reina adalah tokoh favorit dalam cerita saya, yang mengajarkan pada saya tentang melepaskan. Ketika saya mempertemukannya dengan Darren, tidak terbersit sedikit pun rasa iri kepada Reina karena telah menemukan kekasih hatinya. Saya malah merasa lega, setidaknya nasib tokoh saya tidak semiris nasib penciptanya.

(jika kamu penasaran dengan kisah reina, bisa baca ini.)

Last but not least, melepaskan adalah seni yang unik. Setiap orang memiliki cara yang berbeda-beda dalam melakukannya. Tidak ada ketentuan yang baku, tidak ada peraturan yang kaku. Yang dibutuhkan hanya hati yang tegar dan sejumput rasa percaya, bahwa setelah melepas apa yang seharusnya kita lepaskan, akan datang sesuatu yang baik. Bahkan bisa jadi, jauh lebih baik. Itu saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s