Pergi Lagi

Sudah mau pergi lagi, gerutuku dalam hati. Baru saja tiga bulan yang lalu ia pulang. Tiga bulan yang terasa seperti tiga hari saking cepatnya. Sepertinya baru kemarin aku menunggu kepulangannya di bandara. Ia yang tersenyum lebar ke arahku sambil merentangkan tangannya, lalu merangkulku sambil mengangkat tubuhku yang beratnya tiada berarti baginya. Rasanya semua itu baru terjadi kemarin.

Sekarang kulihat ia sudah berkemas lagi. Tas-tas berisi pakaian dan barang-barang yang akan dibawa sudah berjajar rapi di kamarnya. Dia menyadari kehadiranku saat aku mengintipnya dari ambang pintu. Ia menoleh dan tersenyum kepadaku.

“Hai, My Little…” sapanya sambil mengacak rambutku. Dia memanggilku My Little, Kecilku, panggilan kesayangannya untukku. Aku termangu.

“Kapan kamu pulang lagi?” tanyaku. Ini adalah pertanyaan yang kesekian ribu kali kutanya, dan ia seolah tak pernah bosan menjawabnya.

“Awal Mei nanti,” jawabnya selalu sama.

Aku menunduk. Aku sedih setiap kali ia akan pergi. Rasanya seperti sebagian dari diriku ikut dibawanya. Dia selalu mengerti apa yang kurasakan. Dia menuntunku dan mengajakku duduk di kasurnya.

“Kau tidak akan menunggu lama. Hanya tiga bulan. Percayalah, tiga bulan itu cepat. Wusssh! Tahu-tahu saja aku sudah ada di sini lagi!” hiburnya.

Aku hanya tersenyum kecil. Dia tidak tahu seperti apa rasanya menunggu. Terlebih menunggu dengan cemas, menunggu dengan waswas. Aku rasa dia memang tidak tahu apa-apa tentang menunggu.

“Aku akan membelikan oleh-oleh dari berbagai negara yang aku singgahi,” hiburnya lagi.

Tidak, aku tidak butuh oleh-oleh. Aku hanya butuh dirinya di sini, di rumah.

“Lala akan menjagamu,” hiburnya lagi.

Tidak, Lala sibuk sendiri bersama teman-temannya, melakukan apa yang mereka ingin lakukan.

“Aku ingin kau yang menjagaku,” kataku lirih. Dia tersenyum penuh arti kepadaku.

“Tentu saja aku juga menjagamu, My Little. Tapi aku harus pergi,” ujarnya dengan lembut.

Kadang aku benci dengan semua perubahan yang terjadi padanya. Dulu, dia selalu ada di sampingku. Aku mengikutinya ke mana ia pergi. Ia menemaniku ke mana aku pergi. Hanya aku dan dia, dan yah, kadang-kadang Lala ikut juga.

Sekarang? Setiap kali kami pergi, selalu ada gadis-gadis yang mengikuti. Dari yang malu-malu hingga tak tahu malu. Dari yang pura-pura bersikap baik kepadaku hingga menganggapku tak ada sama sekali. Belum lagi waktu yang ia habiskan bersama tiga teman seperjuangannya. Rasanya hampir setiap hari ada saja hal yang mengharuskan mereka berkumpul. Uh, aku benci!

Kadang-kadang ia mengajakku mengikuti aktivitasnya. Berkenalan dengan teman-temannya. Tapi, ya kadang-kadang saja. Karena dia tak mungkin mengajakku terus menerus. Sekarang dia akan pergi lagi, dan aku benci. Kenapa dia harus pergi lagi?

“Kau tahu kan, My Little, aku melakukan ini demi cita-citaku?” tanyanya. Aku mengangguk. Aku ingat petuahnya tentang mengejar mimpi dan cita-cita.

“Suatu hari nanti, ketika kau telah menemukan apa yang kau inginkan, apa yang kau impikan, kau akan berjuang sekeras aku, bahkan mungkin lebih dari itu. Dan kau tahu, itu semua butuh pengorbanan. Mungkin nanti kamu yang akan meninggalkanku,” katanya yang langsung kusahut cepat-cepat dengan gelengan kepala.

“Tidak, aku tidak akan meninggalkanmu,” kataku. Dia hanya tersenyum.

“Kau hanya belum tahu,” ujarnya lagi sambil mengacak rambutku.

Aku menarik napas, “Ketika sudah dewasa nanti, apakah kita akan selalu bersama-sama?” tanyaku.

Dia mengangguk, lalu tersenyum. Lesung di kedua pipinya timbul. Lesung yang juga ada di kedua pipiku.

“Tentu saja kita akan selalu bersama-sama,” jawabnya.

“Kau pasti akan pulang, kan?” tanyaku lagi.

“Ya, aku pasti pulang. Ke mana pun aku pergi, aku akan selalu pulang lagi,” jawabnya pasti.

Aku tersenyum. Meski begitu berat rasanya melepas kakakku pergi tur bersama teman-teman band-nya, aku tahu dia pasti menepati janji. Dia pasti akan pulang lagi.

***

Cerita ini terinspirasi dari………
(ah, aku malu mengatakannya, tapi…. baiklah)
Ashton Irwin and his little brother, Harry. Hehehehe…

Walaupun nggak terlalu tahu, sedekat apa mereka, tapi kalau dari foto-foto di IG-nya Ash, kayaknya dia sayang banget dengan adik kecilnya ini. Ash juga pernah bilang kalau dia sedih banget ketika harus meninggalkan kedua adiknya saat tur.

ash & harry

@ashtonirwin

They look so cute together, aren’t they? :3

Advertisements

2 thoughts on “Pergi Lagi

  1. Ratiiih is back… Haha… suka seru baca tulisannya… keren keren… ayu tadi pas awal mereka-reka itu hubungan keduanya apa ya? Yeay ternyata adik kaka… wkwkw…. Bikin baper euy. Kangen sama abang…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s