Reina (part II)

baca cerita sebelumnya di sini

Hakim telah menungguku di dekat gerbang sekolah. Dari wajahnya, aku tahu dia merasa agak gugup. Aku menghampirinya dan menyapanya dengan santai.

“Hai! Udah siap dengan petualangan baru?” tanyaku.

Hakim mengangguk. “Kira-kira perjalanan ke Tanah Hijau berapa lama, Rei?”

“Hmm… sekitar sejam lah, kalau jalannya nyantai…” jawabku enteng.

“Kalau jalannya cepet?” tanya Hakim lagi.

“Yaa, sekitar sejam kurang sepuluh menit, hehehe…”
Hakim mendengus mendengar jawabanku.

“Tenang aja, kita nyantai aja, oke? Pokoknya, kalau udah sampe sana, terbayar deh semua capek di jalan!” ujarku meyakinkan. Hakim mengangguk lagi.

Perjalanan kami sore itu diwarnai dengan obrolan berbagai tema. Mulai dari pelajaran, pilihan jurusan, cita-cita, keluarga, hobi, dan tentu saja, buku-buku yang kami baca.

Ternyata Hakim anak bungsu dari tiga bersaudara. Memiliki kakak laki-laki dan perempuan. Dia ingin mengambil jurusan teknik saat kuliah nanti, tapi belum pasti mau teknik apa. Namun, kadang-kadang, dia tergoda untuk mengambil jurusan sastra.

Selain membaca, Hakim sering mengisi waktu luangnya dengan menulis. Dia suka menulis cerpen atau puisi dan mempublikasikan karyanya di internet. Kata Hakim, namanya blog. Hakim berjanji, suatu saat akan mengajariku membuat blog juga. Aku pikir, seru juga jika punya web pribadi, dan aku tidak sabar menunggu Hakim mengajariku.

Seperti yang sering kami bincangkan di perpus, buku-buku favorit Hakim adalah karya sastra Indonesia dari masa lalu. Ia menyukai tulisan-tulisan Taufiq Ismail dan beberapa karya Sutan Takdir Alisyahbana. Entah sudah berapa kali Hakim bercerita tentang Grotta Azzura dan memaksaku untuk membacanya suatu hari nanti.

Cerpen yang paling ia suka adalah Dilarang Mencintai Bunga-Bunga-nya Kuntowijoyo, dan sampai sekarang ia masih tidak bisa menangkap maksud cerita Kunang-Kunang di Manhattan yang terkenal itu. Aku bilang padanya, mungkin karena kita masih SMA, jadi belum bisa benar-benar menangkap makna karya sastra.

Hakim juga bercerita, sewaktu kecil ia sangat menyukai cerita-cerita petualangan, fantasi, dan dongeng. Dongeng favoritnya adalah dongeng-dongeng Enid Blyton dan Dunia Narnia C.S. Lewis. Hakim bilang, sejak kecil dia dan kedua kakaknya sudah dibiasakan suka membaca oleh ibunya, dan Hakim merasa beruntung karena itu.

Hakim juga membeberkan rahasianya kalau ia paling takut ketinggian. Waktu perpisahan SMP di Dufan, Hakim tidak pernah berani menaiki wahana-wahana yang memiliki ketinggian seperti Halilintar, Kora-Kora, Ontang-Anting, bahkan Bianglala yang terbilang aman saja Hakim tak mau.

Hakim bilang, suatu hari nanti ia ingin memiliki perpustakaan sendiri. Perpustakaan yang nyaman dan menyenangkan. Perpustakaan yang tak berdebu dan petugasnya tidak perlu mendesis-desis karena di sana ada ruangan yang diperbolehkan untuk ribut. Aku tanya apa alasannya, Hakim menjawab, agar orang-orang seperti aku jadi suka membaca dan betah di perpustakaan. Aku tertawa saja mendengarnya.

Aku senang berjalan dengan Hakim. Tidak pernah aku merasa segembira ini. Rasanya seperti segala sesuatu yang terjadi di hidupku terlihat masuk akal. Rasanya seperti aku baru menemukan alasan kenapa aku ada di dunia ini. Untuk lupa mengerjakan tugas Bu Ayu. Untuk bertemu Hakim di perpustakaan. Untuk tahu kalau jatuh cinta pada buku-buku adalah hal yang menyenangkan dan aku tidak keberatan sama sekali.

“Jadi Reina, berapa lama lagi kira-kira kita bakal sampai di Tanah Hijau?” tanya Hakim menghentikan lamunanku. Aku melihat peluh membasahi keningnya.

“Bentar lagi, tenang aja. Masa kalah sih sama cewek? Baru jalan segini udah ngos-ngosan,” ledekku.

Hakim mengelap kening dengan punggung tangannya. “Ya, nggak juga sih, cuma penasaran aja, kenapa kita nggak nyampe-nyampe.”

Matahari pukul tiga memang bukan yang paling terik, namun tetap saja membuat kami berkeringat. Baju seragam bagian belakangku basah, begitu juga dengan seragam Hakim. Aku menatapnya sambil tersenyum lalu berjalan mendahuluinya.

“Taraaaa!” seruku senang. Aku berhenti tepat di tepi Tanah Hijau. Hakim menyusul langkahku dengan tergopoh-gopoh. Lalu membalik badan dan melihat hamparan rumput hijau dengan wajah terpukau. Senyum mengembang di wajahnya yang kecoklatan.

“Ini tempatnya Rei? Bagus banget…” puji Hakim.

Aku menyengir lebar, dan secara refleks menarik tangannya untuk mulai menjejak Tanah Hijau. Hakim mengikutiku sambil terus memperhatikan sekelilingnya. Sesekali Hakim membetulkan letak kacamatanya, seperti masih belum percaya dengan penglihatannya.

“Tapi, kenapa tempat sebagus ini sepi, ya?” tanya Hakim.

“Iya, aku juga dari dulu heran. Kenapa nggak ada anak-anak yang main di sini. Paling ada beberapa, itu pun cuma di pinggir-pinggir aja. Malah aku pernah ketemu bapak-bapak yang negur aku. Katanya aku jangan sering-sering main ke tempat ini, bahaya. Terus aku bingung, apanya yang bahaya?” ceritaku panjang lebar. Hakim hanya manggut-manggut.

Kami terus berjalan melintasi padang terbuka. Hakim mengajakku mendekati rimbunan bunga liar yang berwarna putih dan kuning. Lalu duduk di sana dan memetik beberapa tangkai bunga.

“Kamu pernah buat mahkota bunga?” tanya Hakim.

Aku menggeleng, wajahku menatapnya dengan rasa penasaran.
Hakim tersenyum, lalu memetik beberapa tangkai bunga lagi.

Aku memperhatikan Hakim mulai menjalin satu per satu tangkai bunga. Ia terus menjalin tangkai bunga, hingga akhirnya lahirlah sebuah mahkota bunga dengan tangkai-tangkai bunga yang berkelindan dan kelopak-kelopak berwarna putih dan kuning menghias tepinya.

“Kamu belajar dari mana bikin itu?” tanyaku.

“Kakakku. Dulu kami suka bermain-main di padang rumput, dekat rumah nenek. Kakakku dan teman-teman perempuannya suka membuat mahkota bunga. Aku sering bermain bersama mereka dan diajarkan cara membuatnya,” jawab Hakim.

Hakim mendekatiku dan memasang mahkota bunga di kepalaku. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya saat tubuh Hakim hanya berjarak beberapa sentimeter dari tubuhku. Perutku tiba-tiba terasa mulas. Mulas yang aneh.

Mahkota itu agak sempit melingkari kepalaku. Namun masih tetap bisa terpasang dengan baik. Hakim perlu memperbaikinya beberapa kali sebelum akhirnya menjauh dari tubuhku dan melihat hasil karyanya terpasang di kepalaku.

“Cantik,” kata Hakim. Singkat dan sederhana. Aku tidak tahu pujian itu Hakim tujukan kepada siapa. Aku atau mahkota bunganya. Yang jelas, aku merasa begitu gugup saat Hakim menatapku dengan pandangan teduhnya.

Kami berdua terdiam sejenak. Aku, karena terlalu gugup dan tidak tahu harus berbuat atau berkata apa. Hakim, karena masih memandangi aku atau mahkota bunga di kepalaku. Akhirnya aku berdiri dan mulai berjalan-jalan lagi.

“Kamu pernah mengeliling Tanah Hijau ini sampai ujung sana?” tanya Hakim sambil menunjuk bagian paling ujung dari Tanah Hijau. Lebarnya mungkin sekitar 200 meter, dan aku tak pernah berminat sampai ke sana, karena malas berjalan kembali lagi.

“Belum, tapi kalau kamu mau ke sana, ayok aja,” kataku. Hakim setuju, dan akhirnya kami pun berjalan melintasi Tanah Hijau.

Angin berembus sepoi-sepoi. Aku melihat anak-anak rambut Hakim yang jatuh di dahi, bergerak-gerak karena tertiup angin. Aku tersenyum padanya. Dia membalas senyumku. Lalu aku merasa, ada kebahagian yang menjalar di seluruh tubuhku. Awalnya perlahan, lalu bergerak semakin cepat, semakin cepat, hingga rasanya seperti mau meledak.

Aku mengalihkan perasaan asing itu dengan melangkah cepat-cepat menuju tepian Tanah Hijau. Hakim mengikuti kecepatan langkahku. Lama-lama kami berlari. Berlari sambil saling melempar senyum. Rambutku yang dikuncir kuda bergoyang-goyang tanpa henti selama aku berlari.

Kami terus berlari hingga tepi. Lalu aku sadar mengapa seorang bapak mengatakan bermain-main di tanah ini berbahaya. Karena tepat di tepi Tanah Hijau adalah sebuah ngarai yang curam dan tinggi.

Aku melihat wajah Hakim pucat pasi.

“Rei! Ya ampun! Untung kita berhenti tepat waktu!” seru Hakim.

Aku mengangguk setuju sambil bersusah payah mengatur napasku yang masih tersengal-sengal setelah berlari tadi.

“Iya, nggak nyangka juga ya, ternyata pinggirannya adalah ngarai. Dalem banget lagi kayaknya,” sahutku.

“Langsung balik yuk, Rei! Serem!” seru Hakim.

Aku cepat-cepat menggeleng, “Nanti dulu ah, ini bagian serunya tahu. Aku belum pernah lihat ngarai secara langsung.”

Dengan hati-hati, aku berjalan mendekati tepian ngarai sambil berpikir, mengapa tidak ada satu pun penduduk yang memasang pagar di tepian ini.

“Jangan, nanti jatuh,” cegah Hakim sambil menarik lenganku.

“Ah, nggak apa-apa kok,” jawabku santai.

Aku melanjutkan langkah sambil melihat ke bawah. Ngarai ini tingginya mungkin sekitar sepuluh meter. Ada sungai kecil yang mengalir di dasarnya. Namun kebanyakan dihiasi dengan batu-batu besar, sebagian bahkan berujung runcing. Aku bergidik ngeri membayangkan kalau sampai ada orang yang terjatuh ke bawah.

Setelah berpikir seperti itu, kakiku keserimpet. Aku tergelincir di tepi ngarai dan tanganku memegang rumput erat. Berharap rumput itu mampu menahan tubuhku agar tidak jatuh sampai ke dasar. Kedua kakiku yang berjuntai, kuusahakan untuk tetap diam.

“Reina!” pekik Hakim kaget. Dia yang sudah lebih dulu berjalan, berbalik lagi karena aku tergelincir.

Hakim menarik napas dan mengulurkan tangannya padaku. Aku sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Aku takut, cemas, dan bingung. Tanganku mulai basah karena keringat yang membanjir, hingga menyulitkan Hakim menggenggam tanganku.

“Hakim…” kataku lirih. Aku tidak tahu mengapa aku memanggil namanya padahal aku tahu dia ada di depanku. Aku hanya merasa butuh mendengar suaraku sendiri.

Hakim memajukan tubuhnya agar bisa menarik tanganku lebih kuat. Tangan kananku masih berpegangan pada rumput yang mulai tercerabut beberapa, sedangkan tangan kiriku meraih lengan Hakim. Aku menyemangati diriku sendiri untuk bisa bangun. Tidak, aku tidak boleh mati konyol di sini. Tidak, di saat aku baru saja mengenal perasaan bahagia bersama Hakim.

Aku menarik lengan Hakim dan berusaha mengangkat tubuhku. Lengannya juga licin karena berkeringat. Namun aku terus mencoba naik dan akhirnya berhasil! Aku berhasil mengangkat tubuhku ke atas, dan tepat saat itulah, kaki Hakim terperosok.

Terperosok lalu terpental hingga seluruh tubuhnya jatuh dari tepi ngarai. Aku ternganga. Detik itu juga, aku merasa waktu berhenti berputar, jantungku berhenti berdetak, dan aku kehilangan indra pendengaran serta penglihatanku.

***

Aku tidak ingat apa-apa. Saat aku membuka mata, aku berada di sebuah kamar beraroma khas rumah sakit. Aku berusaha mengingat apa yang terjadi sebelumnya, dan mulai mengira-ngira apa yang membuatku terdampar di rumah sakit.

Ingatanku melayang pada perpustakaan, buku-buku, Hakim, Tanah Hijau, ngarai. Ngarai! Aku terlonjak dan langsung bangun, berdiri, dan keluar kamar.

“Hakim!!” teriakku. Seorang perawat yang melewati koridor kamarku langsung menghampiriku dan menuntunku masuk ke kamar.

“Hakim di mana? Hakim di mana?” jeritku panik. Tepat di saat yang sama, kedua orang tuaku muncul dan menghambur memelukku.

“Reina! Kamu baik-baik aja kan, Nak?” tanya ibuku dengan wajah khawatir sambil mengusap-usap punggungku.

“Hakim mana, Bu? Tadi Reina jalan sama Hakim. Terus Hakim… Hakim… Hakim jatuh…”

Aku melihat ayah dan ibuku saling pandang, lalu menatapku dengan wajah cemas.

“Reina… Hakim, teman kamu… tidak bisa diselamatkan,” kata ayahku pelan. Saat itu juga, aku berharap akulah yang jatuh ke dasar ngarai.

***

Aku tidak masuk sekolah selama dua minggu. Aku menghabiskan hari-hariku dengan mengurung diri di kamar dan menenggelamkan diriku bersama air mata. Buku-buku perpustakaan yang waktu itu aku pinjam terbengkalai begitu saja.

Ayah dan Ibu berulangkali menghiburku, namun aku tak bisa dihibur sama sekali. Tia bolak-balik mengunjungi rumahku, namum aku tidak mau berbicara sama sekali. Guru-guru datang menjengukku, namun aku hanya diam terpaku. Aku tidak mau bicara, tidak selera makan, tidak ingin hidup lagi. Aku ingin mati saja.

“Rei, sampai kapan lo mau terus begini? Lo nggak bisa terus-terusan mendem di kamar lo dan ngayal Hakim balik lagi,” kata Tia suatu hari.

Aku menunduk dan menyembunyikan wajahku di antara kedua lutut. Air mata berlelehan di pipiku. Masih terbayang dengan jelas saat Hakim tersenyum padaku, membuatkan mahkota bunga untukku, dan berkata cantik, yang entah ditujukan untuk aku atau mahkota bunga.

Seandainya aku menuruti apa kata Hakim waktu itu, agar tidak mendekati tepi ngarai, mungkin Hakim masih ada di sini. Seandainya aku tidak pernah mengajak Hakim ke Tanah Hijau, mungkin kami masih bisa membicarakan buku-buku lagi. Seandainya aku tak pernah menemukan Tanah Hijau, mungkin Hakim masih terus mengunjungi perpustakaan, dan duduk dengan aman dan nyaman di dalamnya.

Seandainya…

“Please Rei, lo nggak boleh kayak gini terus. Please, masuk sekolah lagi. Hidup gue hampa tanpa lo, Rei. Balik ke sekolah lagi, ya?” pinta Tia dengan wajah memelas. Dia menarik kedua ujung bibirku dengan ujung jarinya, memaksaku tersenyum.

“Apapun yang terjadi, Rei, jalan hidup lo masih panjang. Gue yakin Hakim nggak akan marah sama lo. Dia pasti maafin lo. Oke?” bujuk Tia lagi. Kali ini, dengan susah payah, aku menyunggingkan sebuah senyum. Aku tahu, setelah ini, hidupku tidak akan pernah sama lagi.

***

Istirahat siang ini, entah mengapa kakiku rindu berjalan ke perpustakaan lagi. Sejak kepergian Hakim, aku kembali membenci perpustakaan. Benci tapi rindu.

Aku bilang pada Tia, kalau aku ingin ke perpustakaan sebentar saja. Wajah Tia langsung cemas mendengar penuturanku. Dia bahkan berniat menemaniku ke sana. Namun aku menolaknya, dan mengatakan padanya kalau aku akan baik-baik saja.

Aku melangkahkan kakiku perlahan. Memori saat aku sering mengunjungi perpustakaan untuk bertemu Hakim kembali berkelebat. Sesaat, aku begitu berharap agar Hakim kembali di sini, sebentar saja. Aku hanya ingin melihat wajahnya, sekali saja.

Langkahku terhenti. Tepat di lorong menuju perpustakaan, aku melihat sosok murid laki-laki. Dia berkacamata dan tersenyum padaku.

Aku menatapnya lamat-lamat, dan melihat wajah Hakim di sana. Aku tersenyum. Tuhan telah mengabulkan harapanku. Aku menatapnya sekali lagi, lalu langsung berlari. Aku harus segera memberi tahu Tia.

“Tia!” panggilku. Dia belum jauh meninggalkanku. Tia menoleh dan menatapku.

“Apa?” katanya.

Aku tersenyum lebar, “Tahu nggak sih? Tadi gue lihat Hakim di depan perpus!” seruku riang.

Tia terpaku, lalu menghampiriku. Dengan lembut, dia merangkulku dan berkata, “Reina, Hakim udah pergi. Nggak mungkin ada di sini lagi.”

Aku terhenyak, “Tapi tadi gue lihat Hakim,” sanggahku dengan lirih.

Harusnya Hakim masih ada di sini, bukan? Laki-laki yang aku lihat tadi, itu Hakim sungguhan, kan?

Namun, tidak ada yang menjawab pertanyaan yang kugumamkan dalam hati itu.

Dan bangunkanlah aku dari mimpi-mimpiku
Sesak aku di sudut maya
Dan tersingkir dari dunia nyata

(Letto – Sebenarnya)

Advertisements

One thought on “Reina (part II)

  1. Pingback: Reina (part I) – Rumah Cerita Ratih Cahaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s