Reina (part I)

Bu Ayu memandangiku dengan tatapan tergalaknya sepanjang masa. Hatiku kebat-kebit.

“Reina, jadi kamu belum mengerjakan tugas esai dari saya?” tanya Bu Ayu yang berdiri tepat di depan mejaku.

Aku menatapnya dengan tatapan polos tak berdosa, berharap itu bisa mengurangi kesalahanku.

“Iya Bu, saya lupa…” jawabku jujur. Teman-teman sekelasku hening, tak ada yang bicara sama sekali. Sepertinya ikut berdebar-debar menanti vonis yang akan dijatuhkan Bu Ayu untukku.

Semua murid juga tahu, Bu Ayu adalah guru Bahasa Indonesia paling galak sedunia. Tak ada satu pun murid yang berani melupakan tugas-tugasnya. Kalau sampai lupa, tinggal menyiapkan jari jemari untuk kerja rodi, karena Bu Ayu akan memberikan tugas menulis yang jauh lebih panjang. Yang lebih parah adalah semua tugas itu harus ditulis tangan!

Ugh, aku mengernyit membayangkan seperti apa jenis hukuman yang akan aku terima.

“Reina,” panggil Bu Ayu lagi, “Sekarang silakan kamu ke perpustakaan, tulis esai paling sedikit enam halaman folio tentang sejarah kesusastraan Indonesia. Terserah kamu mau mengambil sub tema apa. Yang jelas, jumlahnya tidak kurang dari enam halaman. Dan jangan temui saya sebelum tugas itu selesai.”

Dengan selesainya titah tersebut, berarti resmi sudah aku terusir dari kelasku sendiri. Bu Ayu kembali ke mejanya dan bersiap mengajar. Aku menyiapkan alat tulisku dengan gerakan lamban dan muka masam. Tia yang duduk di sampingku hanya bisa memandangku dengan penuh iba. Aku tersenyum tipis kepadanya, seolah ingin meyakinkan kalau aku bisa menghadapi hukuman ini. Lalu dengan langkah gontai, aku pun berjalan ke perpustakaan.

Asal kalian tahu saja, aku tidak pernah suka perpustakaan. Aku tidak habis pikir kenapa sih di dunia ini harus ada perpustakaan? Ruangan sempit penuh buku dan berdebu. Di sana-sini rak dan rak, tidak boleh berisik, dan selalu ada kemungkinan untuk tertimpa timbunan buku yang menggunung. Aku tidak mengerti mengapa sampai sekarang orang-orang tidak menyadari perpustakaan menyimpan bahaya sebesar itu.

Sayangnya, walau bagaimanapun, aku tetap harus ke perpustakaan. Bu Ayu akan tahu kalau aku tidak mengerjakan hukumannya di tempat yang ia minta. Lagipula, di mana lagi aku harus mencari referensi esaiku selain di perpustakaan? Aku hanya bisa berharap aku cukup pintar mengerjakan esai itu dalam waktu singkat.

Di dalam perpus, aku terpaksa menahan napas beberapa kali, terutama jika berada di dekat rak koleksi buku-buku tua. Baunya itu lho, khas sekali, dan benar-benar jenis bau yang sangat aku benci. Bu Ayu memang paling tahu cara menghukum muridnya lahir dan batin.

Aku berusaha menemukan buku-buku yang berhubungan dengan kesusastraan Indonesia. Aku sampai memiringkan kepala demi membaca judul di punggung buku. Uh, aku tidak yakin hukuman ini akan berjalan dalam waktu singkat.

***

Dua jam pelajaran berlalu, dan aku baru selesai menulis empat halaman folio. Aku tidak tahu apakah aku sanggup menulis sampai halaman ke enam. Yang jelas, bel istirahat sudah berdering sejak tadi, dan itu amat sangat mengusik konsentrasi menulisku.

Aku masih khusyu menulis di atas meja membaca, saat kurasakan ada seseorang yang mengambil tempat duduk tepat di sebelahku. Mau tak mau aku mendongak, menemukan wajah berkacamata tersenyum manis kepadaku. Aku masih terlalu lelah, sekaligus kaget, sehingga aku hanya memperhatikan wajah itu tanpa mengucapkan apa-apa. Tidak juga balas tersenyum.

“Lagi ngerjain tugas?” tanya murid itu. Aku mengangguk.

“Bel istirahat udah bunyi, mungkin kamu mau keluar dulu,” katanya lagi.

Aku tidak tahu apakah ini maksudnya dia berbaik hati mengingatkanku untuk istirahat atau menginginkan aku pergi karena ini meja favoritnya? Aku tidak tahu sih, ini meja favoritnya apa bukan, namun dari penampilannya aku yakin dia termasuk golongan murid pencinta perpustakaan.

“Hmm, nanti aja, gue mau ngerjain tugasnya sampai selesai,” kataku lalu kembali menekuri lembar-lembar folioku.

“Oke,” katanya singkat. Lalu tidak terdengar lagi komentarnya.

Aku mengembuskan napas lega. Selain karena aku berhasil menulis hingga halaman lima, teman dudukku pun sepertinya tidak ada niat untuk mengganggu.

Aku menyemangati diri sendiri dalam hati sambil terus menulis baris-baris kalimat. Tulisanku makin lama, makin tak jelas. Yah, mirip-mirip dengan tulisan resep dokter lah. Iseng, aku menengok ke samping, teman dudukku masih asyik dengan bukunya.

“Kok nggak istirahat?” tanyaku heran. Aneh bukan, ada orang yang mau menghabiskan waktu istirahat yang singkat dengan duduk di perpustakaan?

“Ini lagi istirahat,” jawabnya yang makin membingungkanku.

“Maksud gue, istirahat ke kantin, atau ke mana gitu. Ke perpus sih bukan istirahat namanya,” ujarku dengan suara yang agak kencang dan langsung disambut desis peringatan dari Bu Ami, si petugas perpus.

Aku mendengus kesal, murid di sampingku malah tertawa.

“Saya lebih suka istirahat di sini,” katanya santai. Aku melihatnya sambil ternganga. “Kamu sendiri, sedang menulis apa?” tanyanya sambil melirik ke lembar-lembar folioku.

Aku menunduk, melihat dengan pasrah ke esaiku yang tak kunjung usai. “Oh, ini lagi ngerjain tugasnya Bu Ayu. Emang dasar kejam tuh guru! Masa gue disuruh nulis esai enam halaman folio. Gila apa?! Gempor kali tangan gue!” seruku berapi-api. Dan dapat ditebak, desisan itu muncul lagi, menambah kekesalanku. Dasar petugas perpus kembaran ular, kerjanya mendesis-desis terud.

Murid di sampingku tertawa lagi. Aku sedikit terpesona padanya saat memperhatikan dia tertawa. Bukan, bukan karena dia tampan atau apa. Aku hanya masih tak tahu cara tertawa pelan tanpa menimbulkan banyak suara.

“Bu Ayu kadang memang kejam. Tapi pengetahuan sastranya luas sekali. Seru banget kalau kamu diskusi dengan beliau tentang sastra atau buku-buku,” kata murid itu.

Aku terkekeh pahit, “Amit-amit. Hal kayak gitu nggak akan pernah terjadi dalam hidup gue.”

“Kenapa?” tanyanya.

Aku menoleh padanya, menatap matanya dengan sangat yakin, dan berkata, “Karena gue sama sekali nggak tertarik sama sastra atau buku atau perpus atau apapun yang berhubungan dengan itu semua.”

Dia tersenyum. “Kamu yakin?” tanyanya seolah menantangku. Aku mengangguk dengan mantap.

“Kamu suka baca buku apa?” tanyanya lagi.

“Gue nggak suka baca buku,” jawabku pasti.

“Oke, kalau gitu tunggu sebentar,” katanya lalu beranjak pergi ke barisan rak-rak buku. Mataku mengikuti gerakannya. Sebenarnya dalam hatiku, aku ingin sekali mengikutinya. Ingin tahu apa yang dia lakukan. Namun, aku teringat esaiku yang sejenak terbengkalai. Aku pun menulis lagi.

Tidak lama, mungkin sekitar lima menit, dia kembali duduk di sampingku. Ada dua buku yang dibawanya.

“Baca ini deh, saya yakin, cerita ini cocok sekali dengan kepribadian kamu,” katanya yakin. Aku menatapnya dengan pandangan mengejek. Wah, sok tahu sekali orang ini! pikirku dalam hati. Namun, baiklah, Reina adalah orang yang menyukai tantangan dan dengan senang hati akan menanggapi tantangan dari siapapun, tentang apapun.

“Oke, gue akan baca dua buku ini,” kataku menanggapi tantangannya. “Kalau gue udah selesai baca, terus apa?” tanyaku sambil melirik judul buku yang dibawanya. The Adventure of Tom Sawyer dan The Adventure of Huckleberry Finn.

“Kasih tahu saya kamu suka buku ini atau enggak…”

“Udah? Cuma itu?” tanyaku tak percaya.

“Kalau kamu suka, saya akan kasih tahu buku-buku menarik lainnya. Kalau enggak, ya saya doakan semoga kamu nggak lupa ngerjain tugas Bu Ayu lagi,” katanya lalu tersenyum.

Aku mengangguk. “Oke, deal! Gue terima tantangan ini! Kita ketemu lagi minggu depan!” usulku.

Dia mengangguk setuju. “Oya, ngomong-ngomong nama kamu siapa? Kelas berapa?” tanyanya sambil membetulkan letak kacamatanya yang merosot.

“Reina, kelas X2.”

“Hakim, XII IPA 1.”
________________________________________

Hari ini, tepat seminggu setelah Hakim menantangku membaca karya Mark Twain. Sebenarnya, aku kurang rela menyia-nyiakan waktu istirahatku yang amat berharga itu di perpustakaan. Tia saja sampai tidak percaya kalau aku mau ke perpustakaan, dan harus kuyakinkan seribu kali agar membiarkanku sendiri. Yah, janji tetaplah janji, dan aku harus menepatinya, kan?

Jadi, di sinilah aku sekarang, berjalan dengan langkah pelan-pelan menuju perpustakaan. Aku tidak yakin Hakim masih mengingat tantangan konyol ini, tapi aku harap ia tidak lupa. Kalaupun lupa, ya sudahlah. Aku cukup mengembalikan dua buku perpus itu dan bisa cepat-cepat kabur ke kantin.

Saat aku masuk, ternyata Hakim sudah duduk manis di tempat duduk favoritnya. Meja tempat kami bertemu kemarin. Sepertinya dia sudah menungguku dari tadi, karena baru saja aku muncul, dia sudah menemukanku dan menggerak-gerakkan tangannya. Mengajakku untuk segera mendekat.

Aku duduk di sampingnya. Dia menatapku.
“Gimana?” tanyanya. Aku melihat rasa penasaran tersirat dari balik kacamatanya.

“Seru,” kataku dengan berat hati. Siapa yang tahu kalau petualangan si Tom dan Huck Finn itu ternyata seru dan lumayan menegangkan.

“Seru aja?” tanyanya lagi.

“Seru-seru bandel! Gue lebih suka sama kisahnya Huck Finn sih ketimbang Tom Sawyer. Paling suka banget tuh, pas dia kabur dari ayahnya, terus berperahu gitu. Terus pura-pura jadi anak perempuan, hehehe…”

Dan tanpa aku sangka, aku terus bercerita, bercerita, dan bercerita. Tentang betapa lucunya kenakalan yang dilakukan Tom Sawyer, betapa menegangkan sekaligus romantis saat ia terperangkap di gua bersama Becky. Lalu Tom patah hati dan akhirnya kabur. Dan di sanalah ia bertemu dengan Huck Finn yang selanjutnya memiliki kisah petualangannya sendiri.

Aku tidak sadar kalau aku terus berbicara dan Hakim hanya mendengarkanku dengan saksama. Saat aku sadar, aku hanya bisa terdiam sambil menahan malu. Hakim tersenyum kepadaku.

“Jadi, baca buku itu seru, kan?” tanyanya.

Aku mengangguk. “Yah, nggak terlalu ngebosenin seperti yang selama ini gue bayangin sih.”

“Kamu cuma belum ketemu buku yang cocok untuk kamu,” kata Hakim.

“Sekarang, buku apa lagi yang seru untuk gue baca?” tanyaku menantang Hakim.

Hakim menatapku lalu berdiri, “Ayo!” serunya mengajakku berdiri juga.

Sepanjang istirahat itu, aku dan Hakim menelusuri rak demi rak untuk menemukan buku-buku yang akan aku baca. Hakim menawariku beberapa pilihan buku yang cukup menarik seperti Treasure Island, Gulliver di Negeri Liliput, Alice in Wonderland atau Robinson Crusoe. Aku sendiri malah lebih tertarik dengan Serial Lima Sekawan atau Pasukan Mau Tahu.

“Yah, itu juga seru sih. Aku suka baca Lima Sekawan waktu SD. Tapi pola ceritanya hampir sama. Kalau sudah membaca beberapa bukunya, kamu mungkin sudah bisa menebak kelanjutannya,” kata Hakim saat aku meminta pendapatnya tentang buku-buku Enid Blyton yang kupegang.

“Tapi,” lanjutnya lagi, “Menurutku, seseorang harus membaca tulisan Enid Blyton, minimal sekali dalam seumur hidup.”

“Kalau enggak?” tanyaku.

“Kalau enggak? Wah, dia bakal menyesal sekali karena nggak pernah melakukannya,” jawab Hakim lalu tertawa. Tawa pelan khas dirinya yang sampai kini masih membuatku iri.

Diam-diam, aku mulai memperhatikan Hakim. Jika sekilas melihat dirinya, Hakim tampak seperti golongan murid pendiam, kikuk, dan kutu buku. Tipe murid yang lebih suka belajar daripada bersosialisasi, tipe murid yang dicintai guru-guru dan dibenci teman-temannya. Namun, setelah mengenalnya, aku yakin Hakim bukan tipe murid yang seperti itu.

Hakim memang tidak banyak bicara, tapi ia tidak kikuk sama sekali. Hakim memang suka membaca buku, tapi ia juga bergaul dengan teman-temannya. Buktinya, beberapa kali kulihat, ia menyapa dan disapa teman-temannya sesama murid kelas dua belas. Tinggal satu hal yang membuatku masih digelitik rasa penasaran. Apakah ada lagi tempat favorit Hakim selain perpustakaan? Tapi aku tidak tahu waktu yang tepat untuk menanyakannya.
________________________________________

Hari demi hari berlalu. Buku-buku yang kupinjam dari perpustakaan semakin bervariasi. Aku semakin sering menghabiskan waktu istirahatku di perpus bersama Hakim, dan membiarkan sahabatku, Tia, istirahat dengan teman-temanku yang lain.

Seperti hari ini, aku dan Hakim sedang duduk di meja favorit kami, membahas petualangan Lima Sekawan yang paling seru.

“Aku paling suka dengan kisah Jo si Anak Gelandangan, atau Misteri Kereta Api Berhantu. Atau petualangan pertama mereka di Pulau Kirrin. Ah, itu seru banget!” kataku dengan volume suara yang sudah bisa aku atur. Aku bahkan tidak sadar kapan aku mulai ber- aku-kamu dengan Hakim.

“Iya ya, beruntung banget jadi George. Aku juga mau punya pulau sendiri. Seru kali ya, kalau kita punya suatu tempat rahasia, yang cuma kita aja yang tahu,” kata Hakim sambil menerawang.

Aku tersentak mendengar penuturannya. “Hakim! Aku punya!” seruku senang.

“Punya apa?” tanya Hakim bingung.

“Punya tempat rahasia. Yang cuma aku yang tahu. Oke, nggak terlalu rahasia sih. Maksudku, tempat itu mungkin diketahui penduduk sekitar. Tapi aku jamin, nggak ada murid sekolah ini yang tahu tempat itu kecuali aku!” seruku dengan semangat.

“Oh ya?? Di mana? Kita bisa ke sana?” tanya Hakim antusias.

“Kamu tahu jalan menanjak di belakang area sekolah ini? Jalan yang ke arah kampung gitu? Nah, kalau ditelusuri jalan itu, terus terus nanjak, di sana ada sebuah tempat lapang yang indaaaah banget. Aku menamainya Tanah Hijau. Karena rumputnya hijau dan banyak bunga-bunga liar tumbuh di sana. Pokoknya kayak di negeri dongeng!”

“Kita bisa ke sana, Rei?” tanya Hakim lagi. Matanya berbinar-binar. Aku mengangguk pasti.

“Pulang sekolah kita ke sana? Gimana?” usulku.

Hakim mengangguk. Wajahnya tidak bisa menyembunyikan gairah petualangan yang selama ini mungkin terpendam. Aku tersenyum menatapnya, membayangkan rencana brilian kami sepulang sekolah nanti. Ah, betapa aku tidak sabar menanti bel pulang sekolah tiba!
________________________________________

Akan kuceritakan sedikit tentang Tanah Hijau yang akan aku kunjungi bersama Hakim. Aku tak sengaja menemukan tempat itu sebenarnya. Pada suatu hari, aku sedang kesal dengan Tia, sahabat dekatku sejak SMP. Hari itu aku tidak mau pulang bersamanya. Jadi, aku malah kabur, berjalan terus ke belakang sekolahku, berharap dia tidak menemukanku. Entah mengapa, aku terus melanjutkan perjalananku.

Semakin ke atas, suasana perkampungan yang kutemui terlihat makin indah. Dan ketika hampir di puncak, aku menemukan tanah lapang itu. Begitu hijau, dengan rumput-rumput pendek yang tumbuh dengan rapi seolah permadani.

Di beberapa bagian, tumbuh bunga-bunga liar dengan kelopak berwarna putih dan kuning. Saat pertama kali ke sana, tidak ada orang sama sekali di Tanah Hijau. Setelah beberapa kali kembali lagi ke tempat itu, aku simpulkan memang tidak ada orang yang datang ke Tanah Hijau. Itulah yang membuatku merasa Tanah Hijau itu milikku. Milikku seorang.

Aku tidak pernah bercerita tentang Tanah Hijau kepada siapapun. Bahkan kepada Tia. Tanah Hijau adalah rahasiaku. Tanah Hijau adalah pelarianku. Hakim adalah orang pertama yang tahu tentang Tanah Hijau-ku, dan aku berharap, hanya dia saja orang lain yang tahu.
________________________________________

Setelah menunggu yang terasa seperti berabad-abad, akhirnya bel pulang sekolah berbunyi juga. Dengan serampangan, aku memasukkan buku dan alat tulis ke dalam tas ranselku. Tia mulai memperhatikanku dengan curiga.
“Mau ngapain Rei?” tanya Tia penuh selidik.

Aku menyengir, “Mau jalan,” jawabku singkat.

“Sama siapa?” tanya Tia lagi.

“Sama Hakim.”

“Hakim? Anak kelas dua belas yang kamu temuin di perpus itu? Kalian mau ke toko buku?” tebak Tia.

Aku hampir saja menyanggahnya. Namun setelah kupikir-pikir, lebih baik Tia mengira aku pergi ke toko buku dibanding aku harus membeberkan cerita tentang Tanah Hijau. Jadi aku memberi jawaban kepada Tia dengan mengangguk.

Tia menatapku tak percaya. “Reina… Reina… Sejak kapan sih lo berubah jadi nerd gitu? Oh iya, gue tahu. Pasti sejak lo PDKT sama Hakim deh! Ckckck…”

“Idiih! Siapa juga yang PDKT sih? Orang cuma mau jalan kok,” sahutku.

Tia tertawa kecil mendengar tanggapanku. “Iya, itu namanya PDKT, Reina! Ya udahlah, moga sukses ya sama Hakim. Pokoknya, lo janji harus cerita sama gue besok!” pinta Tia.

Aku hanya bisa menyengir lagi sambil mencatat dalam hati untuk mengarang cerita nanti malam tentang perjalanan sore ini.

(baca cerita selanjutnya di sini)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s