Meninggalkan Cerita Ini

Telah kau curi satu keping hatiku, kau bawa dalam tiap untai senyumanmu…
Kau juga yang hancurkan semua mimpi ini, kau pugar hanya untuk kau remukkan lagi.

Tak ada yang istimewa dengan gadis itu. Tidak terlalu cantik, tidak terlalu menarik, dan bukan gadis yang terkenal di sekolah. Tapi sebuah senyum singkat yang kulihat di siang terik itu, telah dengan begitu ajaib, mengubah keseluruhan hari-hariku di sekolah. Membuat satu cerita baru dalam bagian kehidupanku.

Namanya Reina Ferdiana. Aku mengetahuinya dari emblem nama yang dipasang di baju seragamnya. Semenjak siang itu, entah kenapa aku jadi sering memperhatikannya. Jadi sering berharap agar aku berpapasan dengannya. Tak peduli di mana.

Reina gadis yang ceria. Aku selalu melihatnya tersenyum, terutama ketika ia sedang berjalan menuju perpustakaan. Setiap hari Reina selalu ke perpustakaan, aku tak tahu dia sedang punya tugas apa. Sebelumnya, tak pernah Reina serajin itu mengunjungi tempat sunyi seperti perpustakaan.

Setiap aku melihatnya berjalan menuju perpustakaan, aku selalu berharap aku bisa ke sana juga. Sayangnya, aku terjebak dalam kantor Tata Usaha ini. Kebetulan, kantor Tata Usaha berada berseberangan dengan perpustakaan sekolah kami.

Oh ya, aku lupa satu hal, aku bukan pegawai TU, asal kalian tahu. Aku juga murid sekolah ini, hanya saja, aku memiliki kerja sampingan di kantor itu. Sebagai anak yatim piatu yang tak jelas keberadaannya ayahnya, aku harus berusaha sendiri untuk bertahan hidup. Salah satunya dengan mengurus beberapa administrasi sekolah, di sela waktu istirahat.

Waktu itu, aku pernah sangat ingin melihat Reina, dan aku sangat berharap, ia ke perpustakaan lagi seperti biasanya. Kebetulan, pelajaran sebelum istirahat kosong. Aku bergegas ke kantor Tata Usaha untuk menyelesaikan tugasku, sehingga ketika waktu istirahat tiba, aku bisa berada di perpustakaan.

Aku berhasil berada di perpustakaan, dan tepat seperti keinginanku, Reina ke perpustakaan juga. Dia berjalan dengan penuh senyuman ke arah mejaku. Aku terkesiap. Tak menyangka kalau aku diberinya senyuman sehangat itu. Tak menyangka kalau dia sesenang itu bertemu denganku. Dan aku hanya bisa memandanginya terus, dengan senyum gugup, dan kata-kata yang tertahan di tenggorokan.

“Hai, udah lama nunggu?” tanya Reina. Tapi bukan untukku. Pertanyaan itu untuk orang yang duduk di meja sebelahku. Meja pojok kanan. Kulihat Kak Hakim sedang duduk manis dengan tumpukan bukunya.

Aku tak berniat mendengarkan pembicaraan mereka lebih jauh lagi. Aku baru tahu kalau selama ini Reina selalu ke perpustakaan untuk bertemu Kak Hakim. Dan senyuman yang tadi, jelas-jelas itu bukan untukku. Seketika, aku merasa ada sesuatu yang tercerabut dari hatiku. Seperti akar pohon yang sudah tertanam begitu dalam kemudian dicabut dengan paksa.

Tiba-tiba perpustakaan terasa pengap dan aku butuh banyak udara untuk bernapas. Aku segera keluar, bersamaan dengan Reina. Ia tersenyum lagi, saat kami sama-sama memakai sepatu. Aku menoleh ke kiri-kanan, memastikan kalau senyum itu bukan untukku.

“Lo cari siapa?” tanya Reina. Kali ini untukku. Aku menggeleng. Dia tersenyum lagi.

“Kayaknya lo salah pakai sepatu, deh,” ujar Reina sambil menunjuk kakiku, masih dengan senyumnya, lalu beranjak pergi. Kali ini aku tahu, senyum itu memang untukku, tapi karena aku memakai dua sepatu yang tidak berpasangan!

Saat pulang sekolah, aku melihat Reina pulang bersama Kak Hakim. Ia terlihat begitu bahagia, sedangkan wajah Kak Hakim tampak agak gugup. Aku kenal Kak Hakim, dia salah satu kakak kelasku yang baik dan pintar. Dia murid yang tidak banyak bicara dan suka menghabiskan waktunya untuk membaca buku di perpustakaan.

Aku menunduk saat melewati mereka. Mungkin mereka akan menghabiskan waktu bersama. Mungkin laki-laki yang disukai Reina adalah Kak Hakim. Mungkin mereka akan berpacaran. Mungkin aku akan selamanya menyimpan perasaan ini dalam hati. Jadi aku berlalu begitu saja, meski ingin rasanya aku menyapa Reina.

Esoknya aku mendengar kabar buruk. Dua murid sekolahku jatuh di ngarai yang berada di desa belakang sekolah. Aku tahu ngarai itu. Tempatnya memang agak aneh. Sebuah padang rumput yang hijau, luas, dan indah, namun memiliki ujung yang begitu seram. Seperti tepi jurang.

Dua murid itu adalah Reina dan Kak Hakim!

Kak Hakim meninggal, sedangkan Reina hanya terluka sedikit, tapi dia baik-baik saja. Aku mendengar desas-desusnya dari para murid, guru, dan pegawai di kantor TU. Aku tak mengetahui secara pasti seperti apa kejadiannya. Yang aku tahu, Reina tidak masuk berhari-hari setelah peristiwa itu. Setelah masuk pun, ia tak pernah menyambangi perpustakaan lagi. Aku sadar, aku telah kehilangan senyum manis Reina.

Aku tak lagi berharap melihat Reina berjalan menuju ke perpustakaan lagi sejak saat itu. Aku hanya bisa berharap bertemu Reina di tempat-tempat lain seperti kantin atau koridor kelas. Namun entahlah, meski kabarnya ia telah kembali bersekolah, Reina seperti hilang dari peredaran. Mungkin ia diam saja di kelasnya. Mungkin.

Sekali waktu, aku ke perpustakaan saat istirahat. Ketika itu, aku hendak meminjam buku untuk mengerjakan tugas. Aku tak berlama-lama di dalamnya. Setelah selesai mengurus peminjaman buku, aku berjalan ke kantor TU. Saat itulah, aku kembali melihat Reina.

Aku terkesima, hingga tanpa sadar aku tersenyum kepadanya. Reina menghentikan langkahnya. Jarak kami mungkin hanya sekitar lima meter. Reina membalas senyumku, dan menatap wajahku lamat-lamat. Kali ini, aku yakin sekali hanya ada aku di situ. Untuk beberapa detik kami hanya saling tersenyum. Untuk kemudian aku terkejut karena tiba-tiba Reina lari meninggalkanku.

Aku panik, menoleh ke belakang, dan tidak ada siapa-siapa. Oh, mengapa Reina harus bertingkah seaneh itu? Atau akukah yang bersikap aneh kepadanya? Pikiranku diliputi berbagai pertanyaan. Tapi kakiku refleks mengikuti ke mana Reina berlari.

Ternyata ia menghampiri teman perempuannya.
“Tia! Tahu nggak sih? Tadi gue ketemu sama Hakim di depan perpus!”

Reina bersuara cukup nyaring, sehingga aku bisa mendengar ucapannya dengan jelas. Kulihat, teman yang dipanggilnya Tia tersedak begitu Reina menyelesaikan kalimatnya. Aku termangu. Reina melihat Hakim di depan perpustakaan? Bukankah yang ia lihat aku?

Sontak, kini aku yang berlari. Menuju kamar mandi terdekat. Bercermin. Kulihat di sana, pantulan seseorang yang sedikit banyak memang mirip Kak Hakim. Bertubuh tinggi, berkulit coklat, dan berkacamata. Itu aku.

***

Aku tidak pernah berniat menjadi penguntit. Tapi, aku tidak dapat menahan keinginanku untuk mencari tahu ke mana Reina biasa pergi setelah sekolah usai. Jadi, hari ini aku memberanikan diri untuk mengikutinya.

Reina berjalan terus, ke jalan menanjak, tempat lapangan hijau bertepi jurang itu berada. Wajahnya masih murung, seolah masih begitu kehilangan Kak Hakim.

Dia duduk diam saja di hamparan rumput itu. Tercenung memandang langit. Aku tidak berani melakukan apa-apa. Aku hanya berharap kehadiranku tidak disadari olehnya. Tapi ternyata harapanku tidak terkabul. Ia menemukanku. Sama seperti waktu di depan perpustakaan, ia menatapku lama sekali. Seperti memastikan kalau aku benar-benar ada di hadapannya.

Aku berdeham.

“Hakim?” Nama itu yang terucap dari bibir Reina.

“Bukan, namaku Hady,” jawabku pelan, berharap tidak mengecewakannya.

Lalu Reina menghampiriku. Memelukku erat sekali. Aku begitu kaget sekaligus gugup. Tak pernah aku dipeluk seorang perempuan, sambil menangis pula. Reina menangis tersedu-sedu. Aku berharap kalimatku barusan di dengar olehnya.

“Sorry, aku tahu kamu bukan Hakim. Tapi kamu mirip banget sama dia. Dan aku… aku kangen banget sama dia. Aku ngerasa bersalah sama dia. Aku nggak sanggup… aku nggak sanggup nerima kalau dia udah pergi…” ujar Reina setelah melepas pelukannya. Aku menunduk.

“Maaf.” Hanya itu yang bisa aku ucapkan. Reina menghapus air matanya. Lalu memelukku lagi. Aku masih belum berani membalas pelukannya. Tapi setidaknya, dia sudah tidak menangis lagi.

“Apa aku boleh minta tolong sesuatu sama kamu?” tanya Reina. Aku menggangguk. Meskipun Reina masih memelukku, aku tahu ia tahu aku mengangguk.

“Tolong, jadi Hakim buat aku…”

Kalimat itu sepertinya terdengar begitu jahat. Reina memintaku agar menjadi Hakim-nya. Hakim-nya yang telah pergi.

Kalau orang yang berpikir waras, mungkin tak akan mau. Itu sama saja membiarkan Reina mencintai orang lain yang ia lihat di dalam diriku. Tapi aku tak peduli. Aku hanya ingin melihat Reina tersenyum lagi. Dan itu sudah lebih dari cukup.

***

Sejak sore itu, senyum Reina kembali lagi. Dia tak bertanya banyak tentangku. Hanya satu hal yang pernah diungkitnya, ia sering melihatku saat berjalan menuju perpustakaan. Dulu, saat Hakim masih ada.

Reina begitu baik padaku. Setiap istirahat, ia tidak ke perpustakaan lagi, tapi ke kantor TU. Membawakan sekotak bekal untukku. Kami juga sering menghabiskan waktu bersama. Tidak lama memang. Hanya sepanjang perjalanan sepulang sekolah. Reina mau menungguku menyelesaikan pekerjaan di kantor TU hanya agar kami bisa pulang bersama.

Aku bahagia. Tapi kadang, ada suatu perasaan yang menyiksa, yaitu saat Reina memanggilku Hakim, bukan Hady. Aku tahu, Reina tidak benar-benar menyukaiku, meski sering aku berharap, lama kelamaan ia menyukaiku sebagai aku yang sesungguhnya, bukan sebagai Hakim.

Jadi, pada suatu hari, setelah menceritakan masalahku pada seorang ibu pegawai TU yang amat kupercaya, aku berniat mengutarakan perasaanku pada Reina.

Kata ibu itu, aku harus mengatakannya, karena selama ini Reina tidak mengetahui perasaanku. Yang Reina tahu, aku melakukannya karena hanya ingin membantunya. Mungkin, jika aku memberi tahu hal sebenarnya, itu akan menggugah hatinya, dan ia akan berhenti berharap Hakim hidup lagi. Lalu mulai menerima aku apa adanya.

Istirahat itu, aku mengajak Reina duduk di bangku di bawah rindangnya pohon taman sekolah. Aku bilang padanya kalau ada sesuatu yang ingin aku sampaikan. Ia tersenyum, dan mengatakan, kalau ia juga punya sesuatu yang ingin ia sampaikan.

“Hady, maaf, aku tahu selama ini aku jahat banget sama kamu. Deket dan akrab sama kamu karena kamu mirip Hakim. Aku memang merasa begitu kehilangan, tapi sekarang aku sadar, aku jahat banget melakukan ini sama kamu. Dan kamu, kamu baik banget Hady. Aku nggak tahu lagi harus berterima kasih seperti apa.

Hady, sekarang aku berusaha untuk ngerelain Hakim. Aku harus ngerelain Hakim. Dan selama kamu masih deket sama aku, aku nggak akan pernah bisa ngelakuin itu semua. Kamu terlalu mengingatkanku dengan Hakim.”

Penuturan panjang lebar itu berarti satu hal. Hubunganku dan Reina sudah selesai. Aku hanya bisa mengangguk. Tanpa bicara apa-apa. Hilang sudah semua kata-kata yang sudah kupersiapkan tadi.

“Hady, maafkan aku,” ujar Reina, dan ia memelukku sekali lagi.

Aku hanya tersenyum. Reina membalas senyumanku. Ia mengenalku dengan baik. Ia tahu aku tak banyak bicara, sehingga membuatnya tak banyak bertanya. Meski kadang aku berharap, amat sangat berharap, ia menanyakanku. Apa aku memang selalu terlihat baik-baik saja dengan senyuman ini?

Satu hal yang aku ingin kalian tahu. Terkadang, orang pendiam itu ingin sekali ditanya lebih jauh tentang perasaannya, meski ia selalu mampu menampilkan senyum ‘baik-baik saja’. Tapi sudahlah, mungkin aku bukan pendiam, tapi pecundang. Karena sejak hari itu, sampai Reina lulus, tak pernah aku berani mengungkapkan perasaanku padanya. Aku lebih memilih pergi, meninggalkan cerita ini.

Jadi biarlah aku pergi, meninggalkan cerita ini
Perih memang perih, tapi ku mengerti, kusebutkan doa di tiap langkahmu
Jadi biarlah lagu ini, indah bersembunyi di hati
Percayalah ku takkan kembali, walau aku tak tahu lagi ke mana akan menuju

Sore berhujan, 25 Desember 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s