Walking in the Rain

15.45

Aku memandang cermin di meja riasku lalu melihat jam dinding. Menimbang-nimbang rencana yang ingin aku lakukan hari ini.

Dua hari lalu, aku baru saja pulang dari Oslo. Perjalanan sunyi yang cukup menyenangkan. Tidak, mungkin menyenangkan bukan kata yang cukup tepat. Perjalanan di Oslo membuatku lebih banyak merenungi berbagai hal yang terjadi di kehidupanku.

Aku melihat selembar foto yang kutempel di pinggiran cermin. Itu fotoku bersama Hana, sahabatku kala SMA. Kami berdiri berdua di depan kelas, memakai seragam putih abu-abu dan tersenyum sangat bahagia. Dulu, delapan tahun yang lalu. Perjalananku ke Oslo mengingatkanku akan masa-masa itu.

Delapan tahun sudah masa SMA-ku berlalu, tapi ada satu hal yang masih terus menghantuiku. Hady. Seringkali aku bertanya-tanya, dari sekian banyak murid laki-laki yang ada, mengapa harus dia? Dan yang lebih parah lagi, mengapa sampai begitu lama?

Dulu kupikir, setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah, aku akan melupakan perasaanku terhadap Hady. Aku akan bertemu dengan banyak orang baru, memiliki banyak kegiatan baru, dan hal-hal baru lainnya yang akan memupus ingatanku tentang Hady.

Nyatanya aku salah. Kehidupan baru tidak menjamin kau bisa melupakan seseorang yang pernah begitu kau sukai. Kehadiran orang-orang baru tidak serta merta menggantikan seseorang yang memasuki tempat istimewa dalam hidupmu. Atau setidaknya, begitulah yang terjadi dengan Hady dalam hidupku.

Mungkin awalnya aku hanya menyukainya. Mondar-mandir di depan ruang Tata Usaha demi melihatnya sebentar saja. Lalu aku mulai berani menyapanya. Dia tidak mengacuhkanku. Aku tidak habis akal. Aku terus menyapanya dan akhirnya dia mau bicara padaku.

Aku tahu, Hady menyukai Reina, gadis tomboy anak pecinta alam itu. Aku tahu, Reina tidak menyukai Hady. Aku tahu, Reina tahu aku menyukai Hady. Aku tahu, Reina tahu Hady tidak menyukaiku. Belum. Aku tahu, suatu hari nanti Hady akan menyukaiku. Aku tahu, suatu hari nanti Hady akan melihatku. Benar-benar melihatku. Yang aku tidak tahu, kapan itu semua akan terjadi.

15.55

Aku melihat selembar foto lainnya yang juga kupajang di pinggiran cermin. Itu salah satu foto dari sesi pemotretan untuk sampul majalah remaja di mana aku menjadi modelnya. Di foto itu, aku sedang duduk bersama teman-teman modelku di studio bersama properti-properti pemotretan. Saat itu temanya ulang tahun, studio foto kami penuh dengan tiruan kue-kue, permen, dan makanan-makanan manis lainnya.

Bukan tema ulang tahunnya yang istimewa bagiku, tapi peristiwa setelah pemotretan itu, yang hingga kini masih terekam jelas dalam benakku. Sore itu, selesai pemotretan, aku duduk-duduk santai bersama teman-temanku. Tidak lama, Mikha memberi tahu kalau ada yang menungguku di ruang tamu redaksi.

Aku terkejut melihat sosok yang diam membisu menungguku. Hady. Aku tidak tahu apa yang membuatnya berpikir untuk datang ke situ.

“Hady?” tanyaku heran.

“Hai, Adel! Hmm… aku dengar dari Hana, hari ini kamu pemotretan,” katanya terdengar kikuk. Aku mengangguk sambil tersenyum, meski masih tidak bisa menyembunyikan keherananku. “Hmm… aku tidak tahu, apakah aku ganggu. Tapi aku ingin bicara denganmu. Jadi… kupikir… aku… hmmm… yah, datang ke sini untuk bertanya….” Lanjutnya terbata-bata.

“Oh, iya, boleh kok. Ya sudah, sekalian aku pulang aja, deh. Tunggu, ya!” ujarku yang langsung berlari ke studio. Buru-buru mengambil tas dan pamit pada teman-temanku yang lain.

Seharusnya aku dijemput oleh Pak Kirman, supir pribadiku. Kenyataannya aku bilang padanya kalau aku pulang bersama teman dan beliau tak perlu menjemputku. Hady tidak mengendarai apa-apa saat mengajakku pergi. Kami berjalan kaki. Aku tidak peduli.

Aku masih ingat sore itu. Cuacanya mendung, berkali-kali angin bertiup kencang. Saat itu akhir bulan Januari. Hujan masih setia datang menghampiri hari-hari kami.

Sepanjang jalan, aku menebak-nebak dengan gembira. Aku yakin hari ini Hady akan menyatakan cintanya padaku. Aku tahu itu.

“Adel, ada yang ingin aku bilang ke kamu,” kata Hady. Aku mengangguk dan tersenyum, seolah memberinya persetujuan. Kulihat wajah Hady tampak tidak tenang.

“Maaf, kalau ini menyinggungmu… Tapi… aku pikir… sepertinya… kamu nggak perlu lagi mendekatiku…. Maksudku, sebaiknya kita berteman seperti biasa saja… kau tahu kan… aku tidak bisa menyukaimu… setidaknya…”

“Cukup!” selaku dengan marah. Rasa-rasanya aku ingin menendang Hady hingga ia tak terlihat lagi di depan mataku. Rasa-rasanya aku ingin meninju mukanya berkali-kali. Rasa-rasanya aku ingin melemparinya dengan batu. Agar ia tahu seperti apa sakitnya dibilang seperti itu.

“Dasar bodoh!!” teriakku akhirnya. “Kamu tahu nggak sih, kalau Reina itu nggak pernah suka sama kamu! Kamu tahu nggak sih, kalau selama ini Reina cuma manfaatin kamu?!”

“Aku tahu,” sahut Hady, cepat dan tegas, “Reina sendiri yang bilang begitu padaku. Lalu kenapa? Apa dengan begitu kamu merasa berhak untuk aku sukai?!”

“Nggak! Nggak perlu! Aku nggak butuh orang yang bodoh dan buta untuk menyukaiku!!!” seruku kesal. Lalu aku berlari. Berlari meninggalkan Hady. Berlari meninggalkan perasaanku. Yang ternyata tak pernah mau pergi.

Tidak lama, hujan turun dengan derasnya. Rinai-rinainya menyembunyikan air mata yang mengalir di wajahku.

16.10

Aku memain-mainkan miniatur troll dan gantungan kunci berhias cetakan kecil kaki beruang. Meja riasku berantakan, foto-foto jepretanku di Oslo dan beberapa kartu pos bergambar lukisan Munch berserakan di atasnya.

Sejak tadi aku memperhatikan barang-barang itu. Tidak banyak oleh-oleh yang kubeli di Oslo. Segala-gala yang dijual di kota itu bisa dibilang berharga mahal. Lagipula, tidak banyak juga yang ingin kubeli di sana, dan tidak banyak pula orang yang harus kubelikan oleh-oleh. Bahkan sangat sedikit yang mengetahui kepergianku ke Oslo, kecuali orang tua dan empat teman-teman terdekatku. Namun saat di kota itu, tepatnya setelah aku berbincang singkat dengan Christian, aku didera keinginan untuk membeli sesuatu untuk Hady.

Ah ya, aku lupa menceritakanmu tentang Christian. Dia itu lelaki penyanyiku. Lelaki bersuara auratku. Lelaki yang fotonya ada di wallpaper smartphoneku. Lelaki yang suaranya mengisi playlistku. Lelaki yang –yah, berat untuk kukatakan- merupakan pelarianku. Pelarianku dari Hady. Pelarianku dari patah hati yang tak berkesudahan ini.

Pertanyaannya di café sore itu yang menyadarkanku. Aku tahu, jauh di dalam hatiku, bukan keinginan bertemu Christian yang ingin aku dapatkan di Oslo. Jauh di dalam hatiku, yang aku inginkan hanyalah seseorang yang baru, yang benar-benar membuatku melupakan Hady. Benar-benar melupakan Hady.

Hanya saja, bodohnya, aku tidak belajar dari kegagalanku di masa kuliah. Ada berapa orang baru yang aku kenal di kampus? Banyak. Tapi tidak ada satu pun yang mampu menggantikan Hady di pikiranku.

Christian bilang kepadaku, pada akhirnya kita tidak bisa terus-menerus melarikan diri. Pada akhirnya, kita harus benar-benar merelakannya pergi. Pada akhirnya, aku tahu inilah saatnya aku melepaskan harapan-harapanku tentang Hady.

16.20

Aku melirik jam dinding sekali lagi. Cukup lama aku termenung-menung di depan cermin tanpa melakukan apa-apa. Tadi pagi aku berencana untuk mengunjungi Hady. Memberinya oleh-oleh Oslo-ku. Mengatakan padanya kalau aku berharap kami bisa berteman lagi. Karena kali ini, aku telah melepaskan mimpi-mimpi masa remajaku tentangnya.

Namun aku masih ragu. Bagaimana jika Hady masih tidak mau menemuiku? Bagaimana jika Hady masih tidak ingin berbicara denganku? Setelah kejadian sore itu, aku dan Hady tak pernah bertegur sapa, meskipun kami satu sekolah. Lalu saat kuliah, aku tak banyak berkomunikasi dengannya.

Hady pernah beberapa kali menghubungiku di tahun terakhir kuliah. Hanya bertanya singkat tentang kabarku, dan tidak ada lagi obrolan-obrolan lanjutan. Saat itu, aku pun sudah putus asa dan tidak melakukan apa-apa. Aku tidak kabar Hady setelah itu, karena ia benar-benar tidak pernah muncul lagi.

16.25

Ada ketukan di pintu kamarku. “Adel!” Itu suara Mama.

Aku beranjak membukanya, “Ada apa, Ma?” tanyaku tak bersemangat.

“Ada tamu di depan, cari kamu,” kata Mama sambil tersenyum. Aku mengernyit heran. Sejak kapan ada tamu mencariku?

Aku mengangguk dan kembali ke meja rias. Menyisir rambut dan merapikan baju yang kukenakan. Aku bersyukur, setidaknya aku sudah mengenakan pakaian yang layak untuk menyambut tamu.

16.30

Aku berjalan dengan gontai menuju teras. Jangan bilang, tamu itu adalah agensi yang menawariku untuk mejadi model atau bintang iklan. Aku sudah pensiun dari profesiku yang satu itu.

Awalnya, aku tidak terlalu mengenali lelaki yang duduk di kursi kayu di depan rumahku. Dia memakai kaca mata. Wajahnya agak tirus. Kulitnya berwarna gelap. Dia menoleh ke arahku.

“Hady?” tanyaku, tak mempercayai mataku karena melihatnya. Tak mempecayai suaraku karena masih mampu menyebut namanya.

“Adel, apa kabar?” balas Hady. Wajahnya tidak menampakan raut bahagia, tapi juga tidak menampakkan wajah sedih. Ia tampak gugup. Segugup saat ia menemuiku seusai pemotretan dulu. Pikiranku mulai mengira sesuatu yang buruk akan terjadi.

“Baik,” jawabku singkat. Tadinya aku ingin bertanya kenapa ke sini, tapi kedengarannya tidak terlalu sopan. Jadi aku diam saja, menunggu dia bicara.

“Hmm… aku ke sini mau memberikan undangan,” kata Hady lagi.

“Oh.” Hanya itu yang keluar dari mulutku. Harusnya aku sudah mengira, jika Hady jauh-jauh menemuiku, berarti ada kabar buruk yang ingin ia sampaikan. Harusnya aku sudah tidak kaget lagi. Tapi tetap saja, aku kaget.

Hady mengangsurkan undangan berwarna hijau kepadaku. Dengan berat hati aku menerimanya, tanpa sedikit pun keinginan untuk membacanya. Tanganku yang memegang undangan, langsung kutaruh di belakang punggung.

“Kok nggak dibuka?” tanya Hady bingung.

Oh, apakah dia harus melakukan ini juga terhadapku? Memaksaku mengakui kekalahanku? Baiklah, jika itu memang keinginannya, akan aku kabulkan.

Aku membuka amplop hijau yang berhias sulur-sulur cantik dan terhenyak melihat kepada siapa undangan itu ditujukan.

Kepada saudara/i: Muhammad Hady dan Adeline Camilla.

Apa maksudnya ini? Aku menatap undangan itu dengan penuh kebingungan.

“Itu undangan dari Reina. Dia akan menikah dua minggu lagi. Aku disuruh menyampaikannya padamu,” kata Hady akhirnya.

Aku melihat lagi undangan tersebut. Memastikan bahwa aku tidak salah lihat. Selama ini, aku belum pernah mendengar ada gadis yang bernama Adeline Camilla juga. Jadi kemungkinan besar, undangan itu memang untukku.

“Tapi kenapa? Kenapa Reina mengundang kita berdua dalam satu undangan? Apakah dia ingin irit?” tanyaku agak sinis. Berhasil menahan diriku untuk tidak mengatakan pelit.

“Dia ingin kita datang berdua,” jawab Hady singkat. “Tapi, itu pun kalau kamu tidak keberatan. Maksudku… aku sama sekali tidak keberatan…”

Aku menghela nafas. Aku tidak tahu apa yang ada di kepala gadis menyebalkan itu saat merencanakan hal ini. Aku membayangkan dia tertawa-tawa saat mengatakan rencananya pada calon suaminya. Ugh!

“Aku nggak tahu apa aku bisa datang, tapi, yah baiklah, akan aku usahakan. Oya, tunggu sebentar, aku ada sesuatu untukmu,” kataku teringat troll kecil yang sejak tadi bertengger manis di meja riasku.

16.45

Aku kembali ke teras dengan membawa troll kecil, beberapa lembar foto dan kartu pos. Aku memasukkan semua benda-benda itu ke dalam satu kantong kertas berpita cantik. Aku tahu, rasanya tidak cocok memberi laki-laki oleh-oleh dengan bungkus seperti itu. Tapi apa boleh buat, aku belum sempat membungkusnya, dan satu-satunya yang kupunya hanya kantong kertas itu.

“Ini sedikit oleh-oleh dari Oslo,” kataku sambil menyerahkan kantong kertas itu kepada Hady. Hady menatapku dengan wajah penuh tanda tanya.

“Kamu habis dari Oslo?” tanyanya. Aku mengangguk.

“Hanya berjalan-jalan. Tidak lama,” jawabku singkat. Kali ini, gantian Hady yang mengangguk.

“Hmmm… kalau begitu, aku pamit dulu, Adel… Maaf kalau ganggu,” ujar Hady.

Aku tersenyum tipis. “Nggak kok. Sejujurnya aku senang, tadinya aku pikir, kita nggak akan pernah ketemu lagi.”

Hady berdiri dan menatap mataku. “Kamu tahu Adel, akhir-akhir ini aku sering memikirkan kata-kata yang pernah kamu bilang dulu.”

“Yang mana?” tanyaku penasaran. Jadi, ada kalimatku yang masih diingat Hady sampai sekarang?

“Selalu berikan kesempatan pada hatimu untuk mencintai lagi. Karena kita tidak tahu, bagian mana yang ternyata tepat untuk kita,” jawab Hady mantap.

Aku tercenung. Aku tidak ingat kalau aku pernah mengatakan hal sebijak itu. Mungkin Hady hanya berhalusinasi. Atau mungkin, saat aku mengucapkannya, aku sedang berhalusinasi. Yang jelas, aku tidak tahu apakah aku benar-benar mengucapkan kalimat itu. Tapi aku tidak ingin mematahkan hati Hady, seperti dia pernah mematahkan hatiku. Jadi kukatakan padanya, “Yah, itu benar. Tapi itu tidak berarti kau harus mencintai orang yang sama, yang pernah menyakitimu.”

Hady mengangguk, lalu beranjak dan pamit pulang seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang amat menjunjung sopan santun. Aku mengantarnya sampai gerbang depan. Kami tidak berbicara apa-apa sepanjang perjalanan singkat itu.

Di balik pagar, motor Hady telah menunggu. Sebelum pergi, dia sempat berbalik padaku, “Kamu tahu Adel, kamu benar sore itu. Aku bodoh, dan juga buta. Aku hanya berharap kamu mau memaafkanku.”

Aku menunduk, tidak menjawab apa-apa. Berbalik pergi meninggalkan Hady seperti yang kulakukan padanya delapan tahun yang lalu. Dari langit, gerimis rintik-rintik mulai turun. Sepertinya ingin kembali menyembunyikan air mataku. Sayangnya, kali ini mereka gagal.

Depok, 3 November 2015

(Cerita ini adalah kelanjutan dari Rainy Day in Oslo dan puisi Runaway)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s