Tie a Yellow Ribbon Around the Old Oak Tree

Konon, di sebuah masa di negara Amerika, hiduplah seorang laki-laki yang rajin bekerja. Ia tinggal bahagia bersama istri dan anak-anaknya di sebuah rumah sederhana di desa.

Suatu hari, ia pergi ke kota besar untuk mencari peruntungan. Dengan berat hati, ia tinggalkan keluarga kecilnya.

Di kota besar, si lelaki mendapat pekerjaan yang bagus. Karena ia adalah pekerja yang rajin, maka jabatan dan gajinya pun semakin tinggi dari bulan ke bulan.

Bulan berganti tahun, si lelaki semakin sibuk dengan pekerjaannya. Ia lupa dengan keluarga kecilnya yang ia tinggalkan di desa.

Si lelaki mulai terbius gemerlapnya dunia. Setiap malam ia habiskan uangnya untuk berjudi dan mabuk-mabukan.

Diabaikannya surat-surat dari sang istri yang mencemaskannya di desa. Tak pernah sekalipun ia mengirim uang apalagi pulang.

Lama kelamaan uang si lelaki habis untuk berjudi. Ia terpaksa berutang ke sana kemari untuk menutupi kekalahannya.

Terus, terus begitu hingga akhirnya tak ada lagi harta yang tersisa. Ia frustasi, ia terlibat perkelahian dengan orang-orang di bar. Ia ditangkap polisi.

Ia dipenjara tiga tahun lamanya. Selama itu, barulah ia sadar akan kesalahannya.

Surat-surat istrinya baru dia baca, dan betapa menyesalnya ia. Sungguh, pergi jauh-jauh tak dapat apa-apa.

Bahkan ketika hari pembebasannya tiba, hatinya masih merasa terpenjara.

Ia lalu menulis surat kepada istrinya,

Sayangku, ini aku kembali pulang ke rumah. Aku tahu mana yang masih milikku dan mana yang bukan. Jika kamu menerima surat tentang pembebasan diriku, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan.

Jika kamu masih menginginkanku, ikatlah sehelai pita kuning di sebatang pohon ek tua.

Aku tahu ini telah berlalu selama tiga tahun, tetapi… apakah kamu masih menginginkanku?

Jika aku tidak melihat sehelai pita kuning, aku akan tetap berada di bus. Aku akan melanjutkan perjalanan dan melupakan tentang kita. Karena kesalahan sepenuhnya milikku.

Di perjalanan pulang, si lelaki tak sanggup menahan kekhawatiran. Ia tahu kesalahannya begitu besar. Ia bisa memahami jika istrinya tak mau menerimanya kembali.

Meski jauh di dalam hatinya, ia sangat ingin kembali. Kembali pada istrinya. Kembali pada anak-anaknya. Kembali pada keluarga kecilnya di rumah sederhana di desa.

Tetapi ia bisa mengerti.

Jadi, ia meminta sopir bus untuk melihat pohon ek tua yang tumbuh dekat jalan rumahnya. Karena ia tak sanggup menanggung apa yang akan dilihatnya.

Seisi bus bersorak gembira.
Tidak ada sehelai pita kuning di sebatang pohon ek tua.

Karena ada seratus….
Seratus pita kuning yang diikat di sana.

***

“Tie a Yellow Ribbon Around Old Oak Tree” adalah sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Dawn dan Tony Orlando pada tahun 1973.

Lagunya mengangkat sebuah kisah rakyat Amerika tentang seorang narapidana yang meminta kekasihnya untuk mengikat sehelai pita kuning di pohon ek tua. Pita kuning dianggap sebagai simbol bagi para kekasih yang pergi ke medan perang atau pulang dari penjara, bahwa mereka masih diterima pulang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s