Words Don’t Come Easy

Love can make you feel so funny
No house, no cars, not even money…*

Aku tidak pernah tahu sejak kapan aku mulai sering memperhatikan Kak Lani. Yang aku tahu, hari ini aku gugup sekali. Sangat gugup.

Hari ini, klub M2M akhirnya mengadakan kemping bersama. Semua anggota klub benar-benar gembira karena keinginan Kak Rangga sejak setahun yang lalu akhirnya terwujud juga.

Omong-omong, kalian mungkin akan bertanya-tanya, apa itu klub M2M? Jadi, klub M2M itu kepanjangan dari Klub Membaca Tuk Menulis, hehehehe… maksa ya?

Klub M2M adalah klub kecil yang dibentuk di komplek perumahanku. Penggagasnya Kak Rangga dan Kak Tammy. Mereka ini sejak SMA sudah perhatian sekali dengan dunia baca dan tulis menulis.

Sekitar tiga tahun lalu, mereka berdua membuat semacam perpustakaan mini di teras rumah Kak Tammy. Buku-bukunya berasal dari koleksi Kak Rangga dan Kak Tammy. Kebanyakan pengunjung perpus mini itu anak-anak seumuran aku. Waktu itu aku masih kelas 5 SD.

Aku dan teman-temanku suka sekali datang ke perpus mini. Di sana banyak buku cerita. Kak Tammy sering mendongeng dan Kak Rangga suka mengajarkan kami menggambar. Lama-kelamaan, perpus mini memiliki pengunjung tetap. Waktu itu ada sekitar tujuh anak, termasuk aku, yang sering berkunjung ke perpus mini untuk sekadar membaca buku atau mendengar dongeng dari Kak Tammy.

Dari para pengunjung tetap itulah, akhirnya Kak Tammy berinisiatif untuk membentuk sebuah klub. Tentu saja dengan kegiatan yang lebih variatif dan terjadwal. Akhirnya lahirlah Klub M2M. Aku juga lupa mengapa nama itu yang dipilih. Walaupun terdengar tidak pas, aku tetap suka dengan namanya. eM-tu-eM. Kak Rangga kerap kali bilang itu karena Kak Tammy suka sekali dengan duo gadis cantik dari Norway yang bernama sama. Aku sih tidak tahu dan tidak terlalu peduli, hehehe…

Waktu berlalu, Kak Tammy dan Kak Rangga yang saat itu masih SMA, kini telah kuliah dan makin sibuk. Beberapa anggota klub juga sudah masuk SMP -seperti aku- dan kegiatan sekolah kami tidak selonggar saat masih SD dulu. Kegiatan di klub pun berkurang. Kami yang biasanya kumpul seminggu sekali, kadang jadi dua minggu sekali, bahkan pernah sebulan sekali.

Kegiatan klub pun jadi monoton, hanya berdiskusi sebentar tentang buku yang telah kami baca atau mengomentari tulisan terbaru kami. Itu pun biasanya berujung dengan membahas PR atau bergosip tentang sekolah masing-masing. Kak Tammy dan Kak Rangga pun kadang malah sibuk sendiri mengerjakan tugas kuliah.

Karena kondisi klub yang makin memprihatinkan, suatu hari Kak Rangga meminta persetujuan kami untuk menambah satu pembimbing di klub. Kami sih setuju saja, soalnya seru juga kalau klub M2M banyak kegiatan seperti dulu. Akhirnya, masuklah Kak Lani ke klub kami.

Katanya sih, Kak Lani itu kakak kelasnya Kak Rangga. Dia sudah selesai kuliah, dan sekarang menjadi penulis dan editor lepas. Masih katanya juga, Kak Lani sangat tertarik dengan klub kami dan sangat ingin bergabung. Lagipula, dia tidak sesibuk Kak Tammy atau Kak Rangga, jadi bisa lebih fokus mengurus klub.

Awalnya sih, aku biasa saja melihat Kak Lani. Maksudku, tampilannya memang biasa saja. Dia tidak terlalu tinggi, tapi juga tidak terlalu pendek. Badannya tidak kurus, tapi juga tidak gemuk. Rambutnya hitam dan panjang, sekitar sepunggung, namun selalu Kak Lani ikat ke belakang. Wajahnya juga biasa saja. Pokoknya benar-benar biasa saja deh.

Kak Lani sangat ramah. Dia selalu menyapa dan menanyakan kabar kami. Dia bahkan suka bertanya tentang kegiatan sekolah atau apa yang sedang tren di kalangan remaja seusia kami. Kak Lani mengaku tak bisa mendongeng seperti Kak Tammy, tapi kalau dia sedang menceritakan buku yang dia suka, rasanya kami seperti bisa menonton langsung kisah yang ia ceritakan.

Balik lagi ke masalah kemping, jadi Kak Rangga ingin sekali klub M2M mengadakan kemping. Kami memang sudah lama tidak melakukan kegiatan di luar ruangan. Dulu sih, dua atau tiga bulan sekali, kami pasti jalan-jalan. Kadang ke perpustakaan kota, kadang ke museum, kadang ke tempat wisata. Enam bulan terakhir, kami tidak pernah ke mana-mana, dan Kak Rangga pikir, kami harus benar-benar melaksanakan kemping yang sempat direncanakan.

Ada sepuluh anggota klub yang ikut kemping, ditambah tiga pembimbing yaitu Kak Rangga, Kak Tammy, dan Kak Lani. Kami mengadakan kemping di bumi perkemahan yang terletak di pinggir kota.

Selama kemping, kami dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok perempuan 1 ada Manda, Risa, dan Esti. Kelompok perempuan 2 ada Bunga, Ninda, dan Fitri. Di kelompok laki-laki, ada aku, Satria, Ary, dan Dira. Setiap kelompok memiliki satu pembimbing dan satu tenda.

Semenjak pertama kali kami diberi tahu akan melaksanakan kemping, aku sudah deg-degan. Maksudku, selama ini aku tidak pernah terlalu lama bersama Kak Lani. Biasanya klub kami kumpul pukul 4 sore dan berakhir pukul 6 sore. Jadi, kemping ini adalah pertama kalinya aku menghabiskan akhir pekanku bersama Kak Lani!

Aku tidak ingat sejak kapan hatiku berdetak tidak karuan setiap kali melihat Kak Lani. Mungkin seminggu yang lalu. Mungkin sebulan yang lalu. Atau mungkin tiga bulan yang lalu. Yang jelas, dulu, waktu Kak Lani pertama kali masuk ke klub kami, aku merasa biasa saja. Aku tidak merasa senyum Kak Lani ternyata sangat manis untuk dikagumi diam-diam, aku tidak merasa Kak Lani sangat menyenangkan ketika dia berbicara dan bercerita, aku tidak merasa jantungku berdegup sangat kencang ketika dekat-dekat Kak Lani. Sekarang, semuanya jadi berbeda!

“Danny! Malah bengong aja. Ayo bantu kakak pasang tenda!” seru Kak Rangga menghentikan khayalanku tentang Kak Lani. Ups! Dengan cengiran lebar, aku bangun dan membantu ketiga temanku mendirikan tenda.

Tidak jauh dari tenda kami, tenda kelompok Kak Tammy dan Kak Lani juga sedang dipasang. Kak Rangga sibuk bolak-balik ke tiap tenda karena tampaknya tidak ada satu pun dari kami yang mahir memasang tenda selain Kak Rangga.

Sesekali, aku melirik ke arah Kak Lani. Memperhatikan bagaimana dia mendengar arahan dari Kak Rangga dan mencoba mengikat sendiri tali tenda ke pasak. Keningnya tampak berkeringat dan ia menggulung lengan kausnya hingga ke siku.

Kadang-kadang aku berharap, aku bisa mengajak bicara Kak Lani berdua saja. Aku ingin tahu lebih banyak tentang Kak Lani. Aku ingin tahu tentang masa remajanya, aku ingin tahu tentang kenangan masa kecilnya yang paling berkesan, aku ingin tahu apakah Kak Lani pernah menyukai seseorang.

Berharap Kak Lani belum pernah menyukai seseorang rasanya tidak mungkin. Apalagi berharap Kak Lani balik menyukaiku. Usia Kak Lani lebih tua sepuluh tahun dariku. Tentu saja sudah banyak orang yang pernah dikenal Kak Lani dan mungkin salah satu dari mereka pernah membawa perasaan khusus baginya.

“Danny! Ayo dong bantuin kita! Liatin siapa sih? Ninda, ya?” tanya Ary yang tiba-tiba berdiri di sampingku. Aku terkesiap.

“Nggak kok! Bukan! Dih, siapa juga yang ngeliatin Ninda,” sahutku. Ary hanya manggut-manggut.

“Ya sudah, kalau gitu cepet bantuin. Kalau Kak Rangga tahu tenda kita belum kelar, bisa-bisa dimarahin kita,” kata Ary. Aku mengangguk, menahan diri untuk tidak melihat Kak Lani sekali lagi.

Selesai mendirikan tenda, kami makan siang bersama-sama. Dilanjutkan dengan pengarahan singkat dari Kak Rangga untuk kegiatan kami selanjutnya, yaitu hiking! Yeay! Aku senang sekali. Kami akan berjalan bersama kelompok masing-masing sesuai dengan rute yang telah ditentukan. Kak Tammy dan Kak Lani sudah pergi lebih dulu untuk berjaga di pos mereka, sedangkan Kak Rangga akan jadi yang paling terakhir berangkat untuk memastikan tidak ada yang tersesat.

Sepanjang perjalanan, Satria dan Dira sibuk membicarakan tugas fisika mereka tentang aliran listrik. Ary tampak penasaran, ingin tahu apakah aku sedang menyukai seseorang. Berulang kali dia bertanya, aku memperhatikan siapa dan kenapa aku sering melamun. Aku hanya menjawabnya dengan gelengan dan senyuman. Jangan sampai ada yang tahu kalau aku menyukai Kak Lani!

Pos pertama adalah pos milik Kak Tammy. Kami harus menebak judul buku dari deskripsi singkat yang Kak Tammy bacakan untuk bisa lolos dari pos. Setelah pos Kak Tammy, kami berjalan lagi menuju pos berikutnya. Pos Kak Lani.

Duh, aku sungguh deg-degan. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan saat berada di depan Kak Lani. Tadi sih, waktu di pos Kak Tammy, aku biasa-biasa saja menjawab pertanyaan. Tapi sekarang? Aku malu! Apakah Kak Lani sadar kalau diam-diam aku suka memperhatikannya? Apakah Kak Lani akan menertawakanku?

“Hai Danny, Satria, Dira, Ary! Bagaimana hikingnya?” sapa Kak Lani.

“Seruu!” sahut mereka bertiga kompak. Hanya aku yang diam karena masih memikirkan Kak Lani.

“Danny? Kalau kamu gimana?” tanya Kak Lani sambil tersenyum kepadaku.

Hatiku kembali berdegup tidak karuan. Tiba-tiba aku merasa telapak tanganku basah.

“Hmmm…. Iya Kak, seru…” jawabku sambil senyum malu-malu. Duh, bagaimana ini, pasti Kak Lani mulai mencium keanehan dari sikapku deh.

“Oke deh, di pos ini, kalian Kakak minta untuk menulis. Tulisannya boleh berbentuk apa saja, sepanjang dan sependek apapun, tapi temanya telah Kakak tentukan. Ini, ayo ambil kertasnya,” kata Kak Lani sambil mengulurkan kedua telapak tanganya yang telah terisi empat gulungan kertas kecil-kecil.

Ary mendapat kertas bertuliskan hutan, Satria mendapat kata pergi, Dira mendapat kata sahabat, dan aku… oh my, aku dapat kata cinta! Kenapa harus aku yang dapat kata cinta? Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku tulis?

Kulihat Ary sudah mengambil tempat duduk ternyamannya, bersandar di sebatang pohon rindang. Dira berjalan bolak-balik, katanya mencari inspirasi. Satria duduk tidak jauh dari Ary dan sudah mulai menulis. Aku masih berdiri sambil menatap kertas itu tanpa tahu harus menulis apa.

“Danny?” panggil Kak Lani. Aku tersentak.

“I…i… iya Kak,” jawabku.

“Belum dapat inspirasi ya?” tanya Kak Lani lagi. Aku hanya mengangguk. Duh, aku gugup sekali, bagaimana ini?

“Memangnya dapat kata apa?”

“Cinta…” Duh, bahkan menyebut kata ‘cinta’ saja aku bergetar.

Kak Lani tertawa, “Kerjaannya Tammy tuh! Ya sudah, kamu tulis apa saja yang muncul di pikiran kamu saat mendengar kata cinta.”

Kak Lani. Kupu-kupu yang terbang dan menggelitik di dalam perut. Memandangi dari kejauhan. Berharap bisa lebih akrab. Berharap lebih sering bertemu. Selalu memikirkan. Senang melihat senyumnya. Selalu gugup setiap kali bersamanya.

Hanya itu yang aku tulis. Aku tahu itu jenis tulisan yang tidak mungkin masuk ke dalam kategori puisi, prosa, apalagi cerpen. Ah, tapi kan tadi kami boleh menulis apapun, sepanjang dan sependek apapun.

Aku tidak tahu harus menulis apa lagi. Jadi kuserahkan kertasku kepada Kak Lani. Ary, Satria, dan Dira masih khusyuk menunduk untuk menulis. Kak Lani membaca kertasku sebentar, lalu tersenyum.

“Kamu sudah pernah jatuh cinta, ya?” tanya Kak Lani dengan wajah menggoda. Duh, aku malu nih…

“Hehehe… nggak tahu, Kak…” jawabku sambil menunduk. Aku merasa pipiku memanas.

“Tapi dari tulisan kamu, rasa-rasanya kamu tahu banget seperti apa rasanya jatuh cinta,” ujar Kak Lani lagi.

Aku tersenyum malu. Duh, bagaimana kalau Kak Lani sudah tahu kalau dia yang aku sukai? Apa yang harus aku katakan? Apa yang akan Kak Lani lakukan? Apakah Kak Lani akan menjauhiku?

Aku melihat Kak Lani tersenyum ke arahku, lalu mengacak-acak rambutku.

“Danny, umur kamu berapa sekarang?” tanya Kak Lani.

“Tiga belas tahun, Kak…”

“Aku juga berumur tiga belas tahun waktu pertama kali menyukai seseorang,” ujar Kak Lani sambil memandangiku.

Aku terkejut. Bukan, bukan terkejut karena Kak Lani bilang kalau dia pernah menyukai seseorang. Aku terkejut karena Kak Lani mengatakannya padaku. Dan bukankah ini adalah apa yang selama ini aku inginkan? Berbicara berdua saja dengan Kak Lani. Mengetahui lebih banyak tentang dirinya.

Aku mengatur napasku, berusaha untuk tidak terlihat gugup saat bertanya, “Waktu Kak Lani suka sama orang itu, apa orang itu tahu kalau Kak Lani menyukainya?”

Kak Lani terdiam. Tampak berpikir. “Rasanya tidak…”

“Apa waktu itu Kak Lani ingin dia tahu kalau Kakak menyukainya?”

“Hmm… sebagian menginginkan ya, sebagian lagi tidak….”

“Kak Lani masih suka sama orang yang dulu Kakak sukai?”
Kak Lani terdiam lagi, lalu menggeleng, “Sepertinya tidak…”
Aku tersenyum. Kak Lani menatapku lagi.

“Kau tahu Danny, kadang-kadang aku berpikir, kalau dulu aku memberitahunya, mungkin segalanya akan berbeda. Dan sekarang aku bersyukur tidak pernah melakukan hal itu. Kadang-kadang, tidak semua hal harus diungkapkan dengan lantang.”

Hatiku langsung mencelus. Rasanya seperti jatuh ke dalam kubangan lumpur isap dan tidak bisa keluar lagi.

“Yah, walau bagaimanapun, rasanya menyenangkan juga jika kita mengetahui ada seseorang yang menyukai kita secara spesial,” lanjut Kak Lani lagi sambil mengusap-usap kepalaku. Aku termenung mencerna kata-katanya.

Sepanjang sore, aku memikirkan obrolan singkatku dengan Kak Lani tadi siang. Sore hari adalah waktunya kami beristirahat dan bersih-bersih. Kak Lani, Kak Tammy, dan anak-anak perempuan sibuk memasak untuk makan malam kami. Sementara itu, Kak Rangga dan para anak laki-laki sibuk menyiapkan kayu bakar untuk membuat api unggun.

Yes, nanti malam kami akan menyalakan api unggun dan mengisi acara dengan menampilkan berbagai macam hiburan. Kak Tammy dan Kak Rangga katanya akan duet bernyanyi. Satria, Dira, dan para anak perempuan akan menampilkan drama pendek. Ary dan Fitri akan mendeklamasikan puisi berdua. Tinggal aku dan Kak Lani yang belum tahu mau menampilkan apa.

“Ayo Danny, setiap orang harus tampil malam ini,” kata Kak Tammy.

“Tapi aku malu Kak, lagian aku nggak tahu harus menampilkan apa,” sahutku. Aku rasa aku terlalu banyak melamun, sampai-sampai ketiga teman lelakiku sudah menyiapkan penampilan mereka, sedangkan aku tidak diajak sama sekali.

“Kak Lani juga harus tampil lho!” seru Kak Rangga mengingatkan.

“Dih, aku sih tugasnya mendokumentasikan kegiatan kalian!” sahut Kak Lani.

Aku mulai gugup lagi. Jangan-jangan Kak Rangga menyuruhku dan Kak Lani untuk tampil berdua. Duh, bagaimana ini? Aku pasti akan tampil memalukan. Pasti mereka akan tahu kalau aku sangat deg-degan, lalu mereka akan curiga, kenapa aku begitu.

Aku merasa telapak tanganku basah, dan aku tidak pernah benar memasang kayu bakar. Pada akhirnya Kak Rangga menyerah, dan menyuruh aku dan Ary –yang tidak becus membantunya- untuk duduk saja di dekat tenda.

Selesai makan malam, kami berpencar sebentar sesuai grup tampil masing-masing. Itu berarti menyisakan aku dan Kak Lani yang belum tentu tampil. Tapi sepertinya Kak Lani sibuk membantu anak-anak perempuan yang akan pentas drama. Sedangkan Kak Rangga dan Kak Tammy sibuk memasang sound system.

Aku sempat berpikir untuk menunjukkan perasaanku pada Kak Lani lewat acara ini. Tapi aku tidak tahu apa yang harus aku tampilkan.

Aku tidak mau membacakan puisi cinta. Aku buruk dalam mendeklamasikan puisi. Menyatakan secara terang-terangan, jelas bukan pilihan. Menampilkan drama, aku tidak punya teman. Menyanyi, hanya itu yang bisa kulakukan. Suaraku juga tidak terlalu buruk. Tapi apakah aku berani? Lagipula, lagu apa yang harus aku nyanyikan?

“Sudah tahu mau menampilkan apa malam ini, Danny?” tanya Kak Rangga mengagetkanku.

“Eh… oh… iya… baru dipikir-pikir sih, Kak. Tapi aku giliran terakhir aja deh…” kataku.

Kak Rangga mengangguk setuju, “Oke, tapi nanti langsung bilang ke Kakak ya, biar Kakak siapin. Kira-kira kamu mau pake pengeras suara juga nggak?”

“Hmm… boleh deh, Kak…” jawabku.

Kami sudah duduk berkumpul di depan api unggun. Malam ini udaranya cukup dingin. Beberapa kali angin berembus, membuat beberapa dari kami merapatkan jaket. Tapi kehadiran api unggun yang kami nyalakan membuat suasana menjadi hangat. Kak Tammy membagikan kami masing-masing segelas coklat hangat dan dua ranting yang telah ditusuk marshmallow.

Penampilan pertama dibuka oleh Kak Tammy dan Kak Rangga. Kak Rangga bermain gitar dan Kak Tammy bernyanyi. Mereka menyanyikan lagu I Have a Dream. Saat sampai di bagian refrain, kami diajak bernyanyi bersama-sama.

Penampilan kedua adalah drama pendek dari para anak perempuan beserta Dira dan Satria. Ceritanya terinspirasi dari kisah Robinson Crusoe digabung dengan Treasure Island. Lucu sekali melihat para anak perempuan berpakaian ala bajak laut. Sepertinya mereka memang sungguh-sungguh menyiapkan drama kali ini.

Penampilan selanjutnya adalah deklamasi puisi dari Ary dan Fitri. Seperti biasa, mereka berdua adalah jagoannya puisi di klub kami. Keduanya membacakan puisi dengan sangat bagus.

Sepanjang pementasan, mataku tak lepas dari Kak Lani yang sibuk merekam semua penampilan dengan handycam di tangannya. Setiap satu penampilan selesai, jantungku berdetak lebih cepat dari sebelumnya, karena aku tahu itu berarti makin mendekatkanku dengan waktu penampilanku.

Setelah Ary dan Fitri selesai, Kak Rangga memanggilku. “Danny, mau menampilkan apa?” tanyanya.

Teman-temanku langsung menatapku dengan penasaran. Perasaan gugupku bertambah berkali-kali lipat. Aku menelan ludah. Aku melihat Kak Lani tersenyum ke arahku.

“Aku mau nyanyi, Kak,” jawabku.

“Oke, mau pakai mic? Gitar?” tanya Kak Rangga memberi pilihan.

“Mic aja,” jawabku. Kak Tammy lalu menyerahkan mic kepadaku. Ia juga tersenyum.

“Nggak usah deg-degan gitu Danny, kayak sama siapa aja,” kata Kak Tammy menenangkan. Aku berusaha tersenyum untuk membalas kalimatnya.

Aku mengetes suara microphone sebentar, lalu melihat sekelilingku. Teman-temanku menunggu penampilanku dengan wajah penasaran. Kak Rangga masih mengecek volume suara agar tidak terlalu besar atau terlalu pelan. Kak Tammy mengangguk ke arahku, seolah mengatakan kalau aku sudah bisa mulai. Kak Lani tersenyum ke arahku, handycam masih berada di tangannya.

Aku mengecek mic sekali lagi dan mulai bernyanyi….

Words, don’t come easy to me
How can I find a way to make you see I Love You
Words don’t come easy
Words, don’t come easy to me
This is the only way for me to say I Love You
Words don’t come easy
Well I’m just a music man
Melody’s so far my best friend
But my words are coming out wrong and I
I reveal my heart to you and
Hope that you believe it’s true cause
Words, don’t come easy to me
How can I find a way to make you see I love You
Words don’t come easy
This is just a simple song
That I’ve made for you on my own
There’s no hidden meaning you know when I
When I say I love you honey
Please believe I really do cause
Words, don’t come easy to me
How can I find a way to make you see I Love You
Words don’t come easy
It isn’t easy
Words don’t come easy
Words, don’t come easy to me
How can I find a way to make you see I Love You
Words don’t come easy
Don’t come easy to me
This is the only way for me to say I Love You
Words don’t come easy
Words don’t come easy

23 Oktober 2015
#SongChallenge untuk #SatuSeminggu
Terinspirasi dari tiga lagu
*Without You, Same-Same ft Audy
**Terpesona, Glenn Fredly ft Audy
***Words, F.R. David

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s