Bulan

Yang pertama kali kulihat adalah matanya. Ya, matanya. Bola matanya berwarna biru. Biru yang bukan sekadar biru. Satu-satunya biru yang kuingat, yang kuanggap paling mendekati warna bola matanya, adalah biru pada api.

Kau pernah menyalakan lilin? Kau lihat ada warna biru di dasar api yang menyala? Nah, birunya mirip seperti itu. Hanya saja, biru matanya lebih cemerlang. Lebih indah dari biru apapun yang pernah kulihat.

Lalu rambutnya. Rambutnya lurus dan tersisir rapi. Warnanya hitam. Pekat. Seolah sumber warna hitam yang selama ini ada berasal dari rambutnya. Namun hanya dua hal itu yang mencolok dari penampilannya. Karena sisanya pucat. Iya, pucat.

Wajahnya pucat. Bibirnya pucat. Kancing paling atas kemeja putihnya terbuka, menampakkan leher dan dadanya yang pucat. Lengannya pucat. Aku melihat ke bawah. Dia memakai celana putih dan kakinya yang telanjang juga pucat.

Dia tersenyum padaku.

“Mengapa kau sendirian di sini?” tanyanya.

“Aku sedang menunggu bulan. Biasanya aku bercakap-cakap dengannya di malam hari. Aneh, dia belum juga muncul. Padahal kemarin dia berjanji akan menemuiku malam ini,” kataku sambil menatap langit.

Dia tersenyum lagi kepadaku.

“Mungkin bulan sedang memberi kesempatan kepadamu,” ujarnya.

“Kesempatan apa?” tanyaku.

“Kesempatan untuk berbicara denganku,” jawabnya.

Dia tersenyum lagi lalu mengulurkan tangannya yang kurus seperti ranting kayu ke arahku. “Bagaimana kalau kita berdansa saja?”

Aku tertegun. Merasa tertarik dengan ajakannya namun ragu. “Tapi aku tidak bisa berdansa,” kataku.

“Oh, jangan khawatir. Kau hanya perlu memegang pundak dan tanganku,” katanya meyakinkan.

Lalu aku menyentuh tangannya, perlahan-lahan. Kulitnya dingin, dingin sekali. Aku merasa seperti sedang menyentuh es batu yang disimpan di kulkas berminggu-minggu lamanya.

Ketika tanganku sudah berada di pundak dan sebelah tangannya, dia meraih jemariku dan meletakkan tangan yang satu lagi di pinggangku. Kakinya mulai melangkah, ke kanan, ke kanan, lalu ke kiri. Aku mengikuti gerakannya. Ke kanan, ke kanan, lalu ke kiri.

Mata biru cemerlangnya menatapku. “Bagaimana?” tanyanya.

“Tidak buruk,” jawabku lalu tersenyum.

Dia mengangkat kedua tangan kami yang saling berjalin lalu menggenggamnya dengan erat.

“Mengapa tanganmu dingin sekali?” tanyaku akhirnya.

“Karena aku jauh dari matahari,” jawabnya singkat. Tangan kirinya yang berada di pinggangku bergerak, merapatkan tubuh tubuh kami.

“Mengapa kau memilih bercakap-cakap dengan bulan?” tanyanya.

“Karena bulan indah, dan satu-satunya yang mengerti apa yang kubicarakan. Maksudku, tak pernah ada yang benar-benar memahami diriku, bahkan aku sendiri. Tapi bulan, dia begitu memahamiku.”

Menjawab pertanyaannya membuatku terkenang dengan malam-malam yang kuhabiskan bersama bulan. Seringnya aku bertanya banyak hal pada bulan, tapi bulan tak selalu memiliki jawaban yang kuinginkan. Sebaliknya, bulan membisikiku hal yang tak pernah terpikirkan.

“Seperti?” tanyanya.

“Hmmm…??” sahutku tak mengerti.

“Kau bilang bulan sering membisikimu. Apa yang dia bisikkan?”

Aku tersenyum kepadanya. Lalu mendekatkan mulutku ke telinganya. Dengan lirih aku berkata, “Bintang-bintang telah mati. Yang kau lihat di langit hanyalah masa lalu. Bintang-bintang itu, mereka bersinar sejak ribuan tahun lamanya dan kini telah tiada. Kau jangan sampai tertipu…”

“Karena satu-satunya yang ada bersamamu malam ini adalah aku,” lanjutnya memotong bisikanku.

Aku tercengang. “Bagaimana kau tahu? Kupikir bulan hanya membagi rahasianya kepadaku,” tanyaku heran dan agak sedikit kecewa.

“Ya, tentu saja.” Hanya itu yang dia katakan, lalu melanjutkan langkah-langkah pelan kaki kami yang berdansa.

“Pernahkah kau berpikir, ingin meninggalkan tempat ini?” tanyanya lagi.

“Hmm… aku sempat berpikir seperti itu. Tapi aku tidak tahu harus pergi ke mana,” jawabku.

“Maukah kau ikut denganku?” ajaknya.

Aku tersenyum kepadanya. Alih-alih menjawab pertanyaan, aku malah membelai pipinya yang dingin dengan ujung jemariku.

“Oh, ya? Kau ingin membawaku ke mana?” tanyaku.

Dia tersenyum, “Aku akan membawamu ke tempat bintang-bintang baru dilahirkan dan bersiap meledak. Aku akan membawamu ke tempat komet-komet bersembunyi sebelum akhirnya melintas bumi. Aku akan membawamu ke tempat meteor-meteor menari sebelum akhirnya turun menjadi hujan meteor. Aku akan membawa ke tempat di mana hanya kamu menjadi satu-satunya orang yang aku cintai.”

Aku tertawa mendengar jawabannya. “Kau tak mungkin mencintaiku. Kita baru saja bertemu,” sanggahku.

Dia menghentikan langkah kaki kami, lalu menatapku lamat-lamat. “Apakah kau masih ingat apa yang bulan katakan kemarin malam?” tanyanya.

Aku mengangguk. “Bulan bilang, besok ia akan menemuiku lagi.”

“Apakah kau tidak penasaran mengapa tidak ada bulan malam ini, padahal tidak ada awan yang menutupinya sama sekali?”

Aku mendongak ke atas. Melihat langit. Benar juga katanya. Lalu di mana bulan sekarang, gumamku dalam hati.

“Di sini. Di depanmu,” katanya.

Aku ternganga. Mataku terbuka selebar-lebarnya menatap dia.

“Bulan??” Hanya itu yang bisa keluar dari mulutku.

Dia tersenyum, “Kau mau kan ikut denganku? Karena aku telah menggadaikan tugasku untuk bumi untuk mencintaimu.”

Aku masih menatapnya tak percaya.

“Tak pernahkah kau sadari betapa istimewanya dirimu? Hanya kau yang bisa melihat peri-peri di balik bunga dan mengajak bernyanyi pohon cemara. Hanya kau yang mengetahui bahwa pelangi benar-benar tangga dan hujan adalah doa. Orang-orang yang bersamamu, mereka orang-orang bodoh. Mereka tidak pernah mengerti. Mereka tidak akan pernah memahamimu. Hanya aku. Hanya aku yang mengerti. Karena hanya aku yang mencintaimu sepenuh hati. Jadi, maukah kau ikut aku pergi?”

Aku terpana. Kalimat bulan cukup panjang dan butuh waktu bagiku untuk mencerna semuanya. Setelah yakin, aku mengangguk. “Ya, aku mau ikut denganmu,” kataku mantap.

Bulan tersenyum, “Kalau begitu,” katanya sambil merapatkan jemarinya pada jemariku, “Pejamkan matamu dan jangan lepaskan tanganku.”

Aku patuh. Tidak lama, aku merasa kakiku tidak lagi menginjak bumi. Aku berhasil pergi.

Ribuan hari berlalu sejak aku pergi bersama bulan. Kami hidup bahagia dan saling jatuh cinta. Suatu hari, sebuah komet menghampiri kami.

“Kau tahu tidak, di bumi, manusia mulai bertanya-tanya mengapa bulan tidak pernah muncul lagi. Pasang surut air laut mulai tak terkendali dan perhitungan waktu mereka menjadi kacau,” kata komet.

Aku hanya bisa terperangah. Tak menyangka kalau kepergian bulan dapat meninggalkan kerusakan yang begitu parah.

“Oh komet, katakan pada manusia di bumi sana, mereka harus segera mencari penggantiku. Karena aku telah menukar seluruh hidupku untuk mencintainya,” kata bulan pada komet. Lalu bulan menatapku sambil tersenyum.

Aku membalas senyumnya, lalu berbisik di telinganya. “Kau tahu, dari segalanya yang teristimewa, kaulah yang paling istimewa bagiku.” Dan komet pun pergi, melintasi bumi.

17 Oktober 2015

Advertisements

2 thoughts on “Bulan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s