Biarkan Ia Pergi

we leave behind

“Pulang gih! Reina udah nungguin tuh!” seru Gagah yang baru saja datang dari ruang depan perpustakaan. Aku melihat jam tangan. Pukul lima. Benar-benar tepat waktu anak itu, komentarku dalam hati.

“Oke, gue duluan ya!” kataku sambil membereskan buku-buku yang baru saja kulabeli. Gagah mengangguk sambil melanjutkan pekerjaannya, melabeli koleksi buku yang baru datang tadi pagi.

Di depan perpustakaan, Reina sudah berdiri anggun dengan rok bunga-bunga bernuansa hijau muda dan kemeja putih polos. Aku tersenyum melihatnya. Dia memang berjanji hari ini akan menemuiku, tapi tidak mengatakan untuk apa.

“Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat,” kata Reina saat aku menghampirinya. Kami berjalan bersama meninggalkan gedung perpustakaan.

“Kejutan?” tebakku senang.

Reina menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. Wajahnya terlihat tidak terlalu bahagia tapi tidak sedih juga. Deep in thought. Semacam itulah.

“Baiklah, ke mana kita akan pergi?” tanyaku dengan nada masih ceria.

Reina mengajakku berjalan ke halte bus yang letaknya cukup jauh dari perpustakaan. Sepanjang perjalanan kami hanya diam. Seperti kubilang, Reina seolah tenggelam dalam pikirannya sendiri.

“Akhir-akhir ini aku sering memikirkan sesuatu,” kata Reina saat kami tiba di halte. Reina belum bilang ke mana tepatnya kami akan pergi dan naik bus jurusan apa, tapi kubiarkan saja.

“Oh ya? Apa itu?” tanyaku penasaran.

“Darren, bagaimana jika saat ini aku masih mencintai seseorang? Seseorang dari masa laluku?” tanya Reina.

Aku tersentak. Lalu mencoba mengecek pendengaranku. Aku menunggu Reina berseru, ‘Tapi bohong! Aku cuma bercanda kok!’ seperti yang kadang-kadang ia lakukan untuk menjailiku. Tapi Reina tidak mengatakan apa-apa. Dia diam menatapku. Menunggu jawabannya.

Aku juga diam. Butuh waktu tidak sebentar untuk mencerna pertanyaan itu. Terlebih memberikan jawabannya.

Sebulan lagi, aku dan Reina akan melangsungkan pernikahan. Tepatnya di bulan November nanti. Reina bersikeras untuk melangsungkan pernikahan di bulan November. Entah apa alasannya. Padahal aku sudah siap sejak sebulan lalu.

Aku jadi berpikir, apakah tiba-tiba Reina bertemu dengan mantan kekasihnya, lalu berubah pikiran. Sudah dua tahun aku mengenal Reina, tapi dia jarang bercerita tentang masa lalunya, khususnya yang berhubungan dengan kekasih dan kisah cinta. Aku pun jarang bertanya hal itu karena Reina jarang mengungkit-ungkitnya.

Sekarang, sebulan sebelum pernikahan kami, tanpa angin tanpa hujan, dia mengatakan kalau dia masih mencintai seseorang dari masa lalunya. Aku tidak tahu apakah itu berarti dia ingin membatalkan rencana kami atau bagaimana. Entahlah.

Aku menengok dan kulihat Reina masih memandang wajahku. Menunggu jawabannya. Berbagai kendaraan berlalu-lalang melewati kami. Aku menghela napas.

“Aku tidak tahu, Reina. Aku….” Aku kehilangan kata-kata, lalu diam.

Tentu saja aku tidak ingin melepaskan Reina. Aku tahu kadang-kadang dia aneh, tidak bisa diprediksi, dan agak labil. Dia juga suka seenaknya, ceroboh, dan menyebalkan. Namun, dia satu-satunya perempuan yang aku inginkan untuk menjadi teman hidupku. Bahkan membayangkan mengganti Reina dengan orang lain saja terasa begitu mencekam, apalagi jika itu benar-benar terjadi. Namun, bagaimana kalau dia tidak benar-benar menginginkanku?

“Aku ingin kamu bertemu dia,” kata Reina lagi, tanpa menunggu kelanjutan kalimatku.

Aku tercengang. Oh, baiklah. Mungkin di sana aku bisa meyakinkan Reina kalau aku lebih baik dari lelaki itu, siapapun dia, dan pernikahan kami akan berjalan sesuai rencana. Aku masih membayangkan seperti apa lelaki itu saat Reina menarik tanganku untuk segera menaiki bus yang berhenti di depan kami.

“Rei, kenapa kamu nggak pernah cerita sama aku tentang dia sebelumnya?” tanyaku saat kami duduk di kursi bus. Kusadari kami menaiki bus dengan jurusan yang tak terlalu favorit, sehingga banyak kursi kosong di depan dan belakang kami.

“Aku berusaha melupakannya. Tapi akhir-akhir ini aku kembali memikirkannya. Dan setelah kutimbang-timbang, kau harus tahu tentang dia juga. Aku tidak ingin menyembunyikan sesuatu yang penting bagi hidupku dari dirimu.” Reina mengatakan itu dengan pandangan menerawang. Sama sekali tidak melihat aku. Aku mengangguk. Dari kalimatnya, aku menangkap Reina masih ingin menikah denganku. Semoga saja.

Setelah melalui perjalanan sekitar setengah jam, kami berhenti di depan sebuah jalan yang tidak pernah kukunjungi sebelumnya. Aku tidak terlalu kenal dengan daerah yang kami datangi sore ini. Letaknya jauh lebih terpencil dari pinggir kota kami, dan di sini tidak banyak pemukiman penduduk.

Kami berjalan melewati jalanan beraspal selama sekitar sepuluh menit. Langkah Reina berhenti di depan gerbang pemakaman umum. Aku kaget, tentu saja. Dari sekian banyak bayangan seperti apa tempat tinggal lelaki itu, aku sama sekali tidak berpikir tentang pemakaman umum.

Reina tidak bicara apa-apa saat kami memasuki area pemakaman. Aku juga tidak berniat mengganggunya dengan bertanya macam-macam. Aku yakin Reina akan menjelaskannya nanti.

Setelah berjalan cukup jauh dan melewati berbagai blok pemakaman, akhinya kami berhenti pada satu makam. Makam itu terlihat rapi, dengan rumput hijau yang dipangkas di atas gundukannya dan taburan kelopak bunga. Di depan nisannya ada sebuket bunga yang sepertinya baru diletakkan kemarin, atau kemarinnya lagi. Aku membaca tulisan di nisan itu.

Hakim Pratama bin Wijaya Pratama
Lahir: 14 April 1988
Wafat: 24 Februari 2006

Aku menoleh ke arah Reina, ingin tahu reaksinya. Wajahnya sendu, dan matanya terus tertuju pada nisan itu.

“Aku mengunjunginya dua hari yang lalu. Selama ini aku jarang berkunjung karena itu selalu membuatku sedih. Tapi kupikir, pernikahan kita adalah berita besar yang harus dia tahu,” kata Reina kepadaku. Seolah-olah aku mengenalnya. Seolah-olah dia masih ada.

“Darren, dulu aku pernah membuat kesalahan. Akulah yang menyebabkan dia pergi. Akulah yang menyebabkan dia tidak berada di sini lagi. Seringkali, tak peduli itu nyata atau mimpi, aku merasa dia masih ada. Aku berharap dia masih ada. Aku berusaha merelakannya, Darren. Aku berusaha. Tapi kadang-kadang, rasanya itu tak pernah cukup. Kadang-kadang aku merasa aku masih mencintainya, atau apapun-lah namanya,” kata Reina panjang lebar.

Kuperhatikan tubuhnya tampak gemetar saat mengatakan hal itu. Matanya berkaca-kaca. Aku masih diam. Aku tahu, masih banyak yang ingin Reina ceritakan tentang dia.

“Aku masih selalu mengingatnya Darren. Masih merindukannya. Dia yang mengenalkanku pada buku dan perpustakaan. Dia yang membuatku menyadari bahwa perpustakaan adalah gudang petualangan dan buku-buku adalah pintunya. Dia yang mengenalkanku pada indahnya aksara dan kata-kata. Tapi apa yang aku lakukan padanya? Aku membuatnya pergi!”

Pertahanan Reina bobol sudah. Dia menangis tersedu-sedu di sampingku. Di depan makam itu. Aku mengulurkan tangan dan merengkuh pundaknya, berusaha menenangkannya.

Jujur saja, selama ini aku belum pernah kehilangan sahabat atau kekasih. Satu-satunya kehilanganku adalah ayahku. Dan setelah melihat Reina, aku menyadari ada perbedaan antara kehilangan orangtua dan kehilangan sahabat atau kekasih.

Kepergian ayahku memaksaku untuk lebih tabah dan kuat. Kepergian ayahku membuat aku semakin bertanggung jawab dan visioner dalam bertindak. Kepergian ayahku membuat aku rela bekerja siang malam demi menafkahi ibu dan adik perempuanku. Tapi kehilangan sahabat? Kekasih? Kalau aku boleh membayangkan, mungkin aku akan memiliki ruang hampa. Sesuatu yang kosong. Sebuah lubang. Sesuatu yang hilang begitu saja dan kau tak pernah berpikir untuk mengisinya dengan yang lain. Karena memang tidak bisa.

Reina masih terisak. Aku berkata dengan suara pelan kepadanya, “Kau hanya perlu memaafkan dirimu sendiri, Reina. Karena aku yakin, dia pasti sudah memaafkanmu.”

“Ada saat di mana aku kerap bertanya-tanya, jika aku tidak melakukan kesalahan itu, mungkinkah dia tetap ada di sini bersamaku? Mungkinkah aku akan betemu denganmu, Darren? Ataukah dia tetap pergi, dengan cara yang lain? Dan apakah aku bersalah, karena masih mencintainya, namun di saat yang sama, aku mencintaimu juga?” tanya Reina sambil menatapku.

Aku tidak langsung menjawab rentetan pertanyaannya. Aku malah menuntunnya meninggalkan makam. Sudah hampir Maghrib, tidak baik rasanya berlama-lama di pemakaman di waktu seperti sekarang. Reina menurut saja mengikuti langkahku.

“Reina, seseorang tidak bisa begitu saja berhenti mencintai orang yang pernah mereka cintai. Akan selalu ada bekas yang tertinggal,” kataku saat kami sudah tiba di pinggir jalan, tempat kami tadi turun dari bus. “Dan bekasnya tidak selalu berarti buruk.”

“Reina, menurutku ada perbedaan antara orang yang kau cintai dan orang yang ingin kau nikahi. Kau beruntung jika menemukannya pada satu orang. Tapi bagi yang menemukannya pada dua orang bukan berarti mereka rugi ataupun bersalah,” kataku lagi sambil menatap matanya.

“Aku mencintaimu dan ingin menikah denganmu,” sahut Reina cepat.

Aku tersenyum, “Aku tahu. Itulah kenapa yang pertama kali kukatakan adalah kau hanya perlu memaafkan dirimu sendiri. Aku tidak tahu apa kesalahan yang telah kau buat. Tapi setiap orang pernah melakukan kesalahan. Dan kesalahannya-lah yang mengajarkan dia banyak hal.”

Reina mendongak, memperhatikan satu persatu kalimatku. Dia belum berkata apa-apa, jadi kulanjutkan ujaranku, “Aku tidak keberatan kalau kadang-kadang kau masih mengingatnya. Aku bahkan berharap kau masih terus mendoakannya. Tapi kau harus mengikhlaskannya. Tidak baik berandai-andai seperti itu. Jangan memberatkannya di alam sana.”

Aku menyunggingkan senyum kepadanya. Dia menatapku dan tidak lama tersenyum juga. Meski tidak selebar senyumnya yang biasa, aku harap kini Reina telah memaafkan dirinya sendiri dan mengikhlaskan kepergian temannya itu. Aku juga menepuk-nepuk pundaknya, berusaha memberi semangat dan keyakinan. Tidak lama, bus yang kami tunggu datang.

“Sejujurnya, aku juga ingin menunjukkan sesuatu padamu,” kataku saat kami sudah duduk manis di bangku bus.

Reina menatapku, “Apa?” tanyanya.

Aku membuka restleting ranselku dan mengeluarkan selembar undangan. “Semalam suntuk aku mendesainnya bersama Gagah. Menurutmu bagaimana?” tanyaku sambil mengulurkan undangan pernikahan kami.

Kartu undangan kami sebenarnya cukup sederhana. Hanya terdapat dua halaman yang didominasi warna hijau muda, warna kesukaan Reina. Seperti Reina yang mengotot ingin menikah di bulan November, aku pun bersikeras mendesain sendiri undangan pernikahan kami. Tentu saja lengkap dengan potongan lirik lagu favorit kami di bagian belakang kartu.

Aku berdebar-debar menunggu komentar Reina. Aku berharap dia suka desainnya. Reina pernah bilang kalau dia menginginkan undangan pernikahan yang sederhana tapi tidak biasa. Aku tidak tahu seperti apa undangan yang dimaksud Reina. Tapi aku berusaha keras membuatnya sebagus dan seindah mungkin.

Reina melihat undangan itu dengan saksama. “Bagus!” katanya sambil tersenyum. “Aku suka dua nama yang tertera di dalamnya,” lanjutnya lagi sambil mengerling kepadaku.

Ah, dasar Reina! Sudah kubilang kan, kadang-kadang dia memang menyebalkan, tapi aku tetap ingin menikah dengannya.

Depok, 3 Oktober 2015

Jika kamu ingin tahu bagaimana Reina dan Darren pertama kali bertemu, kamu bisa membaca cerita ini

Dan tentu saja, kisah ini juga masih kelanjutan dari Rainy Day in Oslo dan Cracked. Hope you enjoy! 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s